<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-10916372</id><updated>2011-04-22T06:08:48.209+07:00</updated><title type='text'>..tera di sesela gegas-gesa</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>sujud ilalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>82</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10916372.post-5389058073700209866</id><published>2008-07-31T19:03:00.002+07:00</published><updated>2008-07-31T19:09:00.195+07:00</updated><title type='text'>Pasar di Indonesian Idol</title><content type='html'>Aris dan Gisel bertempur di grandfinal "Indonesian Idol". Yang menang modal dan pasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_pC3DvoRWlMg/SJGq_Idr0sI/AAAAAAAAAIw/L8oxHjf32yI/s1600-h/gisel+idol.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_pC3DvoRWlMg/SJGq_Idr0sI/AAAAAAAAAIw/L8oxHjf32yI/s400/gisel+idol.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5229148643934327490" /&gt;&lt;/a&gt;Patudu, wakil Jawa Tengah itu, gugur dalam sebuah pertarungan yang tak adil. Pertarungan yang dipersiapkan dengan skema bahwa dia harus jadi pecundang. Ketidakadilan yang lahir dari analisa Indra Lesmana, satu hari sebelum kontes dimulai. "Terlepas dari kualitasnya, saya ragu kalau Patudu bisa lolos dua besar. Dia &lt;I&gt;nggak&lt;/I&gt; punya pasar yang jelas seperti Gisel dan Aris."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Indonesian Idol" adalah kontes suara, dan Indra, juri utama, justru menilai Patudu "terlepas dari kualitasnya". Indra berubah jadi pedagang, dan memasukkan pertimbangan pasar. Indra hanya melihat Patudu sebagai komoditas, satuan barang dengan nilai nominalnya, yang dapat berharga atau pantas dibuang.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab Aris, di mata Indra, cocok menjadi ikon anak jalanan. Sebab Gisel, telah cocok jadi ikon gadis zaman sekarang. "Kalau Patudu, saya bingung. Dia itu mewakili siapa, dan condong ke mana, saya tidak tahu. Jadi dia itu belum jelas mempunyai pasar kalau jadi Idol," tambah Indra. Dan sebelum Patudu diadu, Indra telah berbisik ragu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;I&gt;RCTI&lt;/I&gt; menangkap keraguan pasar seperti yang dibisikkan Indra itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, dalam sebuah tayangan &lt;I&gt;reality show&lt;/I&gt;, keraguan, prediksi, tak selalu bergulir jadi kenyataan. Telah beberapa kali Patudu diramalkan juri akan terbuang. Anang dan juga Titi, telah dua kali menyatakan Patudu pantas pulang. Tapi kenyataan bicara lain, Patudu selalu kembali, bahkan ketika berada dalam penampilan terburuk. SMS untuk pria Batak ini selalu cukup, dia punya pendukung yang luas, dari Jawa Tengah, dan Medan, asal puaknya. Lebih dari itu, Patudu adalah "kontestan lelaki yang paling stabil penampilannya," puji Indra. Dalam diri Patudu tersedia dua hal, kualitas suara dan dukungan pemirsa. Keduanya akan dapat mengalahkan keraguan pasar Indra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;I&gt;RCTI&lt;/I&gt; pun merasa takut. Pertarungan yang adil seperti sebelumnya tak bisa dilakukan lagi. Harus ada skema, cara, yang bisa "mengacaukan" perebutan suara pemirsa. RCTI ingat satu nama, Titiek Puspa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, dalam pertarungan tiga besar itu, tiba-tiba Titiek Puspa hadir. Sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum Titiek Puspa, telah pernah hadir Audi, juga Rossa. Mereka acap menjadi suara alternatif di luar juri, yang mengomentari penampilan kontestan. Sebagai suara alternatif, mereka menilai semua, berada di antara penonton dalam "sudut netral". Terkadang membenarkan penilaian juri, meski lebih sering membantah. Tapi Titiek Puspa hadir bukan sebagai suara alternatif. Titiek Puspa datang untuk memilihkan pemenang. Itulah sebabnya, dia tidak berada di zona netral bersama penonton, tapi duduk dalam apitan Ibu dan istri Aris. Di zona terlibat itu, kamera berkali-kali menampakkan Titiek yang ikut berdendang dan mengacungkan jari atas penampilan Aris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, di pusaran pendukung Patudu, tak ada satu artis pun. Tak ada kamera yang betah menayangkannya, hanya sekelebatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan apa kata Titiek Puspa? "Wes, sing baju kuning itu pasti masuk grandfinal." Aris memang memakai jas kuning.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Merinding &lt;I&gt;awakku&lt;/I&gt; mendengar suaranya," tambah Titiek Puspa. Cukup? Belum. "Sudah lama saya suka sama yang baju kuning itu. Banyak orang yang punya suara seperti kamu. Tapi cuma kamu yang punya &lt;I&gt;soul&lt;/I&gt;, karakter. &lt;I&gt;Pokoke&lt;/I&gt;, komplet!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Titiek tak mengomentari yang lain, tak menilai yang lain. Kehadirannya hanya punya satu tujuan, menciptakan panggung grandfinal untuk Aris. Titiek dihadirkan untuk menjadi pemulung suara (&lt;I&gt;vote getter&lt;/I&gt;) bagi Aris. Di panggung itu, Titiek memainkan perannya seperti artis di dunia politik, mengajak orang untuk memilih seperti pilihannya. Hasilnya? Efektif. Aris meraih suara terbanyak. Patudu, yang tak "punya pasar" itu, terbuang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku bangga sama kamu," bisik Titiek ketika Aris merangkulnya, usai perhelatan yang tak menarik itu. Barangkali, Titiek bangga pada dirinya sendiri, yang kembali mampu menaikkan "pamor" Aris, seperti pada Inul, yang pernah dia lakukan dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, dalam pertarungan yang tak adil itu, Ariskah yang menang? Titiek Puspa atau Indra Lesmana, dengan prediksi saudagarnya? Tidak. Yang menang adalah modal dan pasar. Dalam ajang itu, intervensi modal dan pasar telah membuat kualitas bukan lagi yang utama. Penghambaan pada pasar telah membuat seluruh aspek pertunjukan "Indonesian Idol" yang di babak audisi penuh dengan citraan pencarian talenta berbakat dalam bidang tariksuara, runtuh begitu saja. Perdebatan-pertengkaran Titi, Anang, Indra, tentang musikalitas suara seorang peserta tak lagi punya gema. Karena di babak akhir, Indra justru menciderai musikalitas itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menempatkan pasar sebagai ukuran tertinggi di dalam berkesenian adalah dosa terbesar bagi kreativitas. Karena pasar juga adalah setan yang selalu menggoda iman berkesenian. Dan di Jumat malam (18/7) itu, iman berkesenian "Indonesian Idol" telah padam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, apakah salah jika sebuah kontes, seorang juri, mempertimbangkan pasar? Salah, jika pasar ditempatkan sebagai sebuah kekuatan yang tak terlawan. Karena sesungguhnya, pasar selalu bisa dinegosiasi. Pasar bukanlah sebuah medan yang tetap dan ajek, melainkan bergerak dan mengalir, menerima setiap anasir untuk memperkaya. Pasar adalah sebuah muara, yang sebenarnya dapat dikendalikan dan dibentuk siapa saja. Pasar bukanlah areal seteril, melainkan wilayah yang bisa dipengaruhi, bahkan dikejutkan. Pasar adalah sebuah anomali, dan dengan demikian, sepertinya dia bisa diduga, padahal tidak, seakan bisa dikendalikan, tapi juga bukan. Pasar adalah dunia yang, meminjam Amir Hamzah, "bertukar tangkap dengan lepas."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indra dan &lt;I&gt;RCTI&lt;/I&gt; barangkali lupa akan hal itu. Dan mereka "membuang" Patudu, karena yakin, tak ada pasar yang jelas untuk anak yang audisi dari Brebes itu. Padahal, ketika "Indonesian Idol" memenangkan Mike dan juga Ihsan, dengan asumsi yang sama, bukankah pasar "menolaknya"? Mike dan Ihsan tak pernah diterima pasar dengan sempurna, kaset dan CD mereka tak pernah meraih hasil seperti yang dikira. Karena itu Indra, janganlah percaya kepada pasar sebagai sesuatu yang tak terlawan. Begitu engkah percaya, pasar akan membuat engkau kecewa. Cukuplah sudah sampai pada Patudu saja.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10916372-5389058073700209866?l=auliamuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/feeds/5389058073700209866/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10916372&amp;postID=5389058073700209866' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/5389058073700209866'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/5389058073700209866'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/2008/07/pasar-di-indonesian-idol.html' title='Pasar di Indonesian Idol'/><author><name>sujud ilalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_pC3DvoRWlMg/SJGq_Idr0sI/AAAAAAAAAIw/L8oxHjf32yI/s72-c/gisel+idol.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10916372.post-26609191009737163</id><published>2008-07-23T13:31:00.003+07:00</published><updated>2008-07-23T13:42:54.823+07:00</updated><title type='text'>Ketika Rok Prisia Tersingkap</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_pC3DvoRWlMg/SIbRrcOOSWI/AAAAAAAAAIo/lpD2WvKTBfM/s1600-h/rok+prisia.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_pC3DvoRWlMg/SIbRrcOOSWI/AAAAAAAAAIo/lpD2WvKTBfM/s400/rok+prisia.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5226094961850468706" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dapatkah seorang aktris menafikan kehadiran orang lain ketika dia dituntut untuk merasa sendiri? Prisia Nasution akan menjawab, "Tidak." Bermain dalam Gala Sinema &lt;I&gt;SCTV&lt;/I&gt; "Cinta tak Pernah Salah", Selasa (15/7) malam, Prisia tak pernah mampu merasa sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehabis menyaksikan kekasihnya bermesraan dengan Mala, dan diamuk cemburu, dia bergegas pulang. Dengan wajah menahan tangis, dia empaskan jenjang tubuhnya ke kasur. Empasan yang membuat roknya tersingkap, menampakkan gading pahanya. Tapi, dengan cepat gulungan rok itu dia turunkan, sekaligus merapikan kaos ketat yang sempat memamerkan tipis perutnya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kamar itu tak ada sesiapa. Selebar apa pun singkapan rok, dan seterpampang apa pun paha, tak akan ada mata yang melahapnya. Tapi, Prisia menyadari, dia sepenuhnya tak sendiri. Ada sutradara dan beberapa kru hadir di sana, juga penonton yang, kelak, dapat melihatnya melalui kamera. Dia pun terambing antara dua dunia, peranan dan kenyataan. Prisia, sesaat, memilih kembali ke kenyataan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kesadaran akan ruang". Itulah yang dialami Prisia, sebentuk ingatan yang datang dari peran yang gagal merasuk. Dalam akting tadi, dia tak berhasil "mengambil" kamar itu sebagai ruang pribadi, ketika ketersingkapan rok, bahkan ketelanjangan pun, adalah sesuatu yang wajar, dan bukan "kesalahan". Kesadaran akan ruang, juga kehadiran orang lain, menunjukkan betapa lemahnya penghayatan atas peranan. Dan di Indonesia, kesadaran akan ruang ini sudah menjadi penyakit yang luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Mekanisme Senyap&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunga Zainal dalam sinetron &lt;I&gt;Suci&lt;/I&gt; juga acap menyadari "ruang" yang tidak steril itu. Dalam adegan pingsan --dan ini tipikalitas yang juga dilakukan semua aktris--, dia digendong Denis. Namun, kepingsanan itu tak membuat tangannya abai untuk membenahi roknya yang menjuntai. Lucu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adegan bangun tidur apalagi. Nyaris semua aktris akan merapikan rok atau piyamanya di bawah selimut, sebelum keluar dari pembaringan. Adegan mandi pun, atau jatuh bergulingan, menjadi demikian "sopan" di sinetron Indonesia. Setiap aktris telah selalu mempersiapkan celana pendek ketat di balik roknya. Pemain selalu menyadari banyak mata yang dapat melihat tubuh mereka, bahkan ketika adegan itu "berkata" tak ada siapa-siapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akting adalah melepaskan dunia nyata, dan masuk ke dalam dunia bentukan. Kemerasukan itu menuntut pengalpaan pada identitas diri, pada sekitar. Billy Chapel dalam film &lt;I&gt;For Love of the Game&lt;/I&gt; menyebutnya sebagai "mekanisme senyap", ketika realitas dan diri asali tak hanya menciut, tapi juga lenyap. Yang hidup adalah diri dalam peranan, dalam dunia  bentukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, teriakan "action!" dari sutradara bukan saja tanda dimulainya sebuah adegan, tapi juga perintah bagi setiap aktris untuk menutup kenyataan dan diri asali, masuk ke gerbang peranan. Dan di Indonesia, tak banyak aktris yang bisa demikian. Maruli Ara hanya menyebut satu nama, Surya Saputra. "Begitu 'Action!' diteriakkan, dia akan segera menjadi orang lain, masuk ke perannya. Cepat sekali, seperti otomatis," puji sutradara sinetron &lt;I&gt;Dunia Tanpa Koma&lt;/I&gt; itu. Dan harus diakui, akting Surya sebagai Jendra Aditya di sinetron itu memang memukau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akting adalah kemerasukan. Teriakan "Cut!" adalah mantra untuk meluruhkan kerasukan tersebut. Meski kadang, sebengis apa pun teriakan itu, acap gagal untuk "mengembalikan" pemain yang larut ke dunia asalinya. Uli Edel, sutradara film &lt;I&gt;Body of Evidence&lt;/I&gt;, harus meneriakkan "Cut" lebih dari tujuh kali, sebelum Madonna menyadari kalau pengadeganan sudah selesai. Madonna terseret pada perannya, masuk pada karakternya, dan susah disadarkan, demikian juga lawan mainnya. Sayangnya, untuk kasus Madonna, kemerasukan itu lebih khusus pada adegan bercinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Robert De Niro mengakui "Cut" memang menghentikan pengadeganan, tapi tidak "diri" yang dia perankan. "Beberapa hari setelah usai syuting, aku masih merasa diriku ini orang lain. Butuh waktu lama bagiku untuk keluar dari karakter yang aku perani. Kadang aku takut diriku tak pernah seutuhnya bisa kembali." Bagi De Niro, memerankan adalah mengizinkan dirinya "dibawa" watak lain, tanpa ada kepastian bisa kembali. Christine Hakim butuh waktu tiga bulan untuk benar-benar bisa bebas dari infiltrasi peran yang dia mainkan dalam sebuah film. Pengorbanan yang besar untuk akting yang memang selalu bersinar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, akting bukanlah perkara main-main, dan aktris tidak profesi gampangan. Ada pertaruhan di setiap peranan, kebersediaan untuk "melepaskan diri". Juga sebuah kesadaran, ketika "action!" diucapkan, realitas harus punah. Ruang yang baru pun hadir, dan dihidupi dalam "kesadaran" peranan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Prisia, "Cut" mungkin adalah tanda lepasnya beban, usainya kerja, dan datangnya uang. Atau, beban baru, karena adegan yang sama, harus diulang. Bisa juga, "Cut" adalah jeda, untuk dapat berpindah ke adegan lain, di sinetron lain, di lokasi yang lain. Dengan demikian, aktris pun dimaknai sebagai profesi yang paling gampang untuk mengejar setoran. Uang. Dalam kesadaran semacam itulah, Prisia tak bisa masuk ke dalam suasana peranan. Ia pun selalu memerhatikan posisi duduk dan sibakan roknya, bahkan ketika dia tengah berada di kamar tidurnya. Prisia takut, di kamarnya, ada penonton yang dapat mengintip tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;[Artikel ini telah dimuat di Harian &lt;I&gt;Suara Merdeka&lt;/I&gt;, Minggu 20 Juli 2008]&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10916372-26609191009737163?l=auliamuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/feeds/26609191009737163/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10916372&amp;postID=26609191009737163' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/26609191009737163'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/26609191009737163'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/2008/07/ketika-rok-prisia-tersingkap.html' title='Ketika Rok Prisia Tersingkap'/><author><name>sujud ilalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_pC3DvoRWlMg/SIbRrcOOSWI/AAAAAAAAAIo/lpD2WvKTBfM/s72-c/rok+prisia.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10916372.post-7379258334255712444</id><published>2008-07-07T16:51:00.003+07:00</published><updated>2008-07-07T17:00:25.105+07:00</updated><title type='text'>Isyarat dan Kematian</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_pC3DvoRWlMg/SHHnnwvBHvI/AAAAAAAAAIg/b7GCkquSDW4/s1600-h/sophan-widyawati.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_pC3DvoRWlMg/SHHnnwvBHvI/AAAAAAAAAIg/b7GCkquSDW4/s400/sophan-widyawati.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5220208113382137586" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Benarkah kematian datang tanpa rencana, selalu tiba-tiba? Widyawati barangkali akan menjawab, tidak. Mengingat kembali semua sikap Sophan Sophiaan, dia pasti tahu, kematian telah lama mendekati suaminya, memberi isyarat kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isyarat itu, berupa sikap tak biasa Sophan, tak dapat dia baca sebagai tanda, sinyal dari maut. Widyawati menikmatinya, larut.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama konvoi misalnya, Widya merasa Sophan tambah mesra, acap menatapnya, dan memeluk erat. "Jauh lebih hangat dan sering," kenang Widya, Jumat (23/5) sore.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ini yang paling tak dia lupa, di Rembang, isyarat itu lebih kuat terasa. Sophan memintanya mengenang saat pertama berjumpa, dalam film &lt;I&gt;Pengantin Remadja&lt;/I&gt;. Sophan tak hanya menyanyikan &lt;I&gt;soundtrack&lt;/I&gt; film itu, tapi juga membacakan surat cinta. "&lt;I&gt;Juli sayang, suatu saat kita akan berjumpa lagi&lt;/I&gt;," ucap lelaki tampan itu sambil menatap Widyawati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah isyarat, dan Widya tak menyadari. Meski, "Saya bengong menatapnya. Dia bisa hapal lirik lagu Romi dan Juli, bahkan isi surat cintanya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isyarat itu juga datang dari alam. Sepanjang Jakarta-Tuban, dalam konvoi berboncengan, Widyawati selalu melihat sepasang burung terbang di depan mereka. Hanya dia yang melihat. Terbersit rasa tanya, "Kok aneh, selalu ada sepasang. Saya sampai berpikir, jangan-jangan ngikutin saya. Tapi setiap mau ngomong sama Sophan, saya lupa terus," ingatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kematian memang tidak datang tiba-tiba, dia memberi isyarat, yang kelak akan jadi kenangan. Widyawati pun melihat isyarat itu di dalam kenangan, sebuah jalur ingatan yang membuat seseorang yang telah pergi tetap dapat selalu datang. Isyarat itu, kenangan itu, adalah keabadian yang dititipkan sang maut, sebagai tanda, kematian tak pernah utuh menjemput. Ada yang tetap ditinggalkannya untuk yang hidup, sebagai kawan duka, bahwa memang ada yang pergi, tapi tidak selamanya. Ada yang berpulang, tapi bukan tidak kembali. Kenangan akan terus memanasi ingatan, membuat yang tiada kembali menjadi ada. "Saya sering lupa kalau Sophan sudah meninggal," bisiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Malam itu, saya mendengar langkah Bapak mendatangi kamar saya. Saya heran, kan Bapak di Surabaya. Saya pikir Bapak pasti sedang kangen," cerita Romi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sophan berada di Surabaya, tapi Romi merasakan langkahnya di Jakarta. Bagaimana menerangkan hal ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kematian itu tidak ada. Yang terjadi hanyalah perubahan energi. Jadi, sebagai energi, yang mati itu tetap dapat terhubung dengan kita kembali," terang Eckhart Tolle, penulis buku &lt;I&gt;A New Earth&lt;/I&gt;, dalam acara "Oprah Winfrey Show".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Langkah" Sophan itu juga isyarat, "energi" yang tak mau pergi. Energi yang bisa berpulang, bahkan dipanggil, melalui mekanisme ingatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kematian, dengan demikian, bukanlah sesuatu yang jauh. Dia dekat, dan dapat diamati, dicatat, jika kita cermat menangkap isyarat. Kematian, meminjam Subagyo Sastrowardoyo, &lt;I&gt;seakan kawan berkelakar yang mengajak tertawa -itu bahasa semesta yang dimengerti&lt;/I&gt;. Dan karena akrab, kematian tidak menjaraki yang hidup dan mati. &lt;I&gt;Lihat, tak ada batas antara kita. Aku masih terikat kepada dunia/ karena janji/ karena kenangan// Kematian hanya selaput gagasan yang gampang diseberangi/ Tak ada yang hilang dalam perpisahan, semua pulih/ juga angan-angan dan selera keisengan.&lt;/I&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Widyawati memang telah ditinggalkan, tapi dia tak akan pernah sendiri. Ada "energi" Sophan yang akan terus menemaninya. Karena, semua tahu, hanya cinta yang dapat mengalahkan, menyeberangi kematian. Dan soal cinta, untuk Widyawati dan Sophan, kita tak pantas lagi membicarakannya....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;[Artikel di atas diterbitkan sebagai "Tajuk" di Tabloid &lt;I&gt;Cempaka&lt;/I&gt;, Kamis 29 Mei 2008]&lt;/B&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10916372-7379258334255712444?l=auliamuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/feeds/7379258334255712444/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10916372&amp;postID=7379258334255712444' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/7379258334255712444'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/7379258334255712444'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/2008/07/isyarat-dan-kematian.html' title='Isyarat dan Kematian'/><author><name>sujud ilalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_pC3DvoRWlMg/SHHnnwvBHvI/AAAAAAAAAIg/b7GCkquSDW4/s72-c/sophan-widyawati.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10916372.post-4940282363458632932</id><published>2008-06-24T20:28:00.003+07:00</published><updated>2008-06-24T20:35:18.277+07:00</updated><title type='text'>Irasionalitas Bangsa</title><content type='html'>Di televisi, irasionalitas bangsa ini ditunjukkan dengan jelas sekali. Irasionalitas yang justru diakui dan ditulari mereka yang menyandang gelar akedemik tinggi. Memprihatinkan sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/SGD3cCBKagI/AAAAAAAAAHk/mX3SzMt6Uks/s1600-h/ki+jodo+bodo2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/SGD3cCBKagI/AAAAAAAAAHk/mX3SzMt6Uks/s400/ki+jodo+bodo2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5215440429445179906" /&gt;&lt;/a&gt;"Akhirnya, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta melaporkan Djoko Suprapto terkait kasus penipuan pembangkit listrik Jodhipati dan energi alternatif Banyugeni." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah narasi yang tayang di "Buletin Malam" &lt;I&gt;RCTI&lt;/I&gt;, Selasa (17/6) malam. Dalam tayangan itu tampak proses pembongkaran pembangkit listrik mandiri Jodhipati, berupa cor-coran semen tebal, dengan beragam kabel yang terurai. Dan "pembangkit" itu diakui tim ahli dari UMY, tidak akan mungkin dapat menghasilkan energi listrik. Padahal, untuk proyek itu, UMY telah setuju mengeluarkan dana Rp 1,34 miliar. Angka yang luar biasa. Saya menggelengkan kepala.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pindah saluran ke &lt;I&gt;Anteve&lt;/I&gt;, di acara ulangan "Perspektif Wimar", tampil Menristek Kusmayanto Kadiman, yang menjelaskan tentang blue energi. Berkali-kali Wimar menggoda Kusmayanto, sebagai pencuci piring dari atasannya, SBY. Wimar menilai SBY begitu panik dengan krisis energi, dan menempuh cara yang tak lazim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Kusmayanto membantah. "Menurut Einstein, seorang dinilai ilmuwan jika memulai sesuatu dengan ide yang paling gila sekalipun." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wimar tertawa. "Iya, tapi kan Presiden tidak boleh punya ide gila, Pak." Meisya Siregar, &lt;I&gt;co-host&lt;/I&gt; Wimar, tergelak. Saya juga, menggelengkan kepala melihat kecerdasan Wimar memasukkan "perspektifnya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika jeda iklan, saya kembali ke &lt;I&gt;RCTI&lt;/I&gt;, ternyata juga iklan. Tertayang Mama Lauren. "Nasib tak dapat diubah, tapi saya..." Bosan ah! Saya kembali ke &lt;I&gt;Anteve&lt;/I&gt;. Walah! Sama saja. Tayang iklan Mbah Roso. "Ketik REG sepasi MANJUR, kirim ke 98..." Segera saya pindah saluran, memilih &lt;I&gt;TVOne&lt;/I&gt;. Lho, siapa yang gondrong itu? Oalah, Ki Joko Bodo, yang meminta pemirsa mengirim SMS. "Ketik REG spasi MANTRA, kirim ke..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Ya Tuhan...&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tundukkanlah hatimu ketika malam, bersama embun yang turun perlahan. Renungkan hari yang telah kau jalani. Dalam letih tubuh, rasa akan lebih mampu merasa. Pikiran akan lebih jernih mencerna." Saya lupa, di mana membaca ucapan Gde Prama itu. Intinya, malam adalah "ruang" yang tercipta untuk menemukan terang dan cahaya. Tapi, melihat "nasib" saya ketika mengubah saluran teve, saya justru seperti didudukkan dalam kelam. Tanpa sengaja, saya melihat kaitan yang luar biasa dari perpindahan acara dan iklan di berbagai stasiun itu. Sepanjang Selasa malam itu, sedari pukul 23.00, saya melihat lebih dari 6 kali iklan Ki Joko Bodo, lebih dari 5 kali iklan Mbah Roso dan Mama Lauren. Semuanya berjenis ramalan, mulai dari primbon, sampai telaah &lt;I&gt;wong sinthing&lt;/I&gt;. Malam itu memang hanya tayang tiga jenis iklan, tapi saya tahu, jauh sebelumnya telah ada Madame Sahara, Dedy Corbuzier, sampai Safir Senduk. Ramalan atau motivasi yang diiklankan mampu untuk mengubah nasib atau kondisi keuangan seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan iklan itu sukses. Ketika awal-awal tayang, "Ada 70.000 SMS dalam dua minggu. Sehari tayang di lima stasiun televisi," ujar Ki Joko Bodo. Artinya, selama dua pekan, dari iklan itu terhimpun dana Rp 140 juta! Jadi, ramalam itu secara pasti bukan mengubah nasib pengirim SMS, melainkan peramalnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramainya peminat Ki Joko Bodo, --apalagi jika menghitung SMS untuk Mama Lauren, Madame Sahara, Mbah Roso-- menunjukkan masih kuatnya alam mitis berkuasa di kepala masyarakat kita. Sebuah ironi, terutama jika melihat bagaimana kemitisan dan keirasionalan itu, masuk dan merasuk, melalui teknologi. Barangkali, inilah wujud kekalahan yang paling utama teknologi melawan mitologi. Sebagai produk "kerasionalan", teknologi justru tunduk dan menjadi penyebar dari keirasionalan. Aneh bin ajaib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih ajaib bin muskil lagi, ketaklukan itu juga sampai kepada para penemu teknologi, mereka yang menghabiskan hidupnya dalam "jajahan" rasionalitas. Proyek Banyugeni di UMY misalnya, melibatkan sekian ahli hanya untuk mengamini "mimpi" Djoko Suprapto, mengubah air menjadi api. Rektor UMY  Dr Khoiruddin Bashori bahkan pernah begitu bangga dengan proyek ini, sampai mematenkan, dan "memainkan" berbagai ayat al-Quran, untuk pembenaran, "&lt;I&gt;At-Thur&lt;/I&gt; ayat 6, yang berbunyi, 'perhatikan laut yang berapi'. &lt;I&gt;Al-Anbiya&lt;/I&gt;’ ayat 30, 'dan Kami jadikan dari air segala sesuatu hidup', dan &lt;I&gt;At-Takwir&lt;/I&gt; ayat 6, 'dan apabila laut dipanaskan'." Tuhanku....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kampus, tempat seharusnya rasionalitas ditegakkan, justru menjadi ajang promosi irasionalitas dan kemuskilan. Mengamini dan membiayai "mimpi" tanpa pengedepanan sikap ilmuwan. Itu sudah menjadi kiamat kecil untuk jagad keilmuwanan. Tapi, kiamat besar itu juga datang, ketika Presiden SBY, dengan bangga, menerima Tim Blue Energy yang telah melakukan perjalanan darat Jakarta-Denpasar sepanjang 1.225,7 km dengan lima kendaraan berbahan bakar energi alternatif "blue energy", di Nusa Dua, Bali, tempat United Nation Framework Conference on Climate Change (UNFCCC) 2007. Tim itu diketuai Heru Lelono, Staff Khusus Presiden SBY, dan "pabrik" energi "khayal" Djoko Suprapto itu didirikan di Cikeas, dekat rumah SBY. Artinya, keirasionalan itu bahkan sudah memasuki dan mendapat promosi kelembagaan negara yang tertinggi. Mengerikan sekali. Apalagi, ketika Kusmayanto sempat tidak setuju dan mempertanyakan "blue energi" itu, oleh Presiden, sebagaimana dicatat &lt;I&gt;Tempo&lt;/I&gt;, dia malah diminta diam. Dan menteri yang pernah menjadi rektor ITB itu, yang diminta diam itu, kini harus menjelaskan atau "merasionalisasikan" keirasionalan pimpinannya. "Anda bagian cuci-cuci piring, ya?" sindir Wimar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selasa malam itu, setelah melihat semua yang tayang di televisi, saya menjadi takut, jangan-jangan, bangsa ini tak bisa diselamatkan lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;[Artikel ini telah terbit di Harian &lt;I&gt;Suara Merdeka&lt;/I&gt;, Minggu 22 Juni 2008]&lt;/B&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10916372-4940282363458632932?l=auliamuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/feeds/4940282363458632932/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10916372&amp;postID=4940282363458632932' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/4940282363458632932'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/4940282363458632932'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/2008/06/irasionalitas-bangsa.html' title='Irasionalitas Bangsa'/><author><name>sujud ilalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/SGD3cCBKagI/AAAAAAAAAHk/mX3SzMt6Uks/s72-c/ki+jodo+bodo2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10916372.post-3677725937629232324</id><published>2008-06-06T17:55:00.003+07:00</published><updated>2008-06-24T20:37:01.854+07:00</updated><title type='text'>Poligami, Musik, dan Imagologi</title><content type='html'>Agama industri hiburan, dan juga politik, adalah uang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/SEkYPyHrSGI/AAAAAAAAAHc/ZtdJdOGk5GY/s1600-h/changcut2a.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/SEkYPyHrSGI/AAAAAAAAAHc/ZtdJdOGk5GY/s400/changcut2a.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5208721103461763170" /&gt;&lt;/a&gt;"Saya jengkel dengan sinetron &lt;I&gt;Munajah Cinta&lt;/I&gt;, meniru habis film &lt;I&gt;Ayat-ayat Cinta&lt;/I&gt;. Sudah pemainnya sama, sejak awal, cerita sinetron itu pun sudah mengampanyekan poligami. Saya takut, nanti poligami itu akan jadi kewajaran dan diterima oleh masyarakat kita. Mas Aulia &lt;I&gt;mbok&lt;/I&gt; sesekali membahas soal itu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutipan di atas adalah petikan &lt;I&gt;e-mail&lt;/I&gt; dari Ibu (?) Indah. Sudah agak lama &lt;I&gt;e-mail&lt;/I&gt; itu terdiam di &lt;I&gt;inbox&lt;/I&gt;, terbiarkan karena saya belum memikirkan bagaimana menjawabnya. Jujur saja, &lt;I&gt;Munajah Cinta&lt;/I&gt; belum mampu membuat saya berdiam lama di teve untuk menontonnya, apalagi membahasnya. Karena tak ada hal baru dari sinetron ini, baik dari segi cerita, penyutradaraan, akting, bahkan pemotongan antar-adegan sebelum bersambung. Namun, kekawatiran dari Indah membuat saya berpikir, apakah benar, jika sebuah tayangan menawarkan "sikap" tentang poligami, sinetron itu patut dikhawatirkan? Apakah sebuah nilai yang dipajang bisa langsung "menginfeksii" penonton, menulari dengan cepat seperti virus?&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penonton tentu saja bukan kertas kosong, dan teve menjadi pensil yang akan segera menggarisi kekosongan itu. Pemirsa selalu membawa "bekal" ketika melihat sebuah tayangan. Bekal itulah yang nanti akan "memilihkan" posisi penonton di hadapan "nilai" yang ditawarkan teve. Penonton mungkin saja mengadopsi nilai itu, karena merasa sejalur dan sepaham. Tapi mungkin juga menegasi, menolak, karena "bekal" yang penonton "bawa" merasakan nilai itu sebagai ancaman. Dan tersedia "posisi" ketiga, menegosiasi nilai itu, mengadaftasi, menyaring, mana yang mungkin dan mana yang tidak. Dan menyangkut "tawaran" poligami dalam &lt;I&gt;Munajah Cinta&lt;/I&gt;, sikap penonton pasti berada dalam salah satu dari tiga posisi itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi Indah, tampaknya tak perlu khawatir. Apalagi, kian hari, saya menyadari industri sebenarnya tidak "berurusan" dengan pemasaran nilai-nilai. Nilai yang dikenal industri adalah nominal dalam bentuk uang. Dan penonton pun, pelan tapi pasti, memandang industri hiburan dalam kerangka semacam itu. Dunia musik adalah contoh terbaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Cuma Citra&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dyta kecewa. Malam itu, bersama tiga temannya, dia gagal menemui The Changcuters yang manggung di Surabaya. Padahal, tart sudah mereka bawa, untuk Alda yang berulang tahun. Mereka pun sudah berpakaian ala "Changcuters Angel", dan antre di depan tenda tempat istrahat band itu. Mengiba, memohon, izin tak juga dapat. Ketika mobil yang membawa Tria dan lainnya melaju, Dyta cuma terpaku. Ada yang meleleh di matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua ekspresi Dyta tertayang jelas di acara "Fans" &lt;I&gt;TransTV&lt;/I&gt;, Minggu (1/6) sore. Juga kerumun fans lain, yang berloncatan di sisi panggung, ketika Tria, dengan gaya dan dandanan khasnya, bernyanyi. Lihatlah, ketika lagu "Racun Dunia" membahana, penonton histeris. Di barisan paling depan, di sisi panggung, sembari meneriakkan nama Tria, puluhan penonton wanita yang tertangkap kamera, ikut mendendangkan lagu itu. &lt;I&gt;Racun...racun...racun/ Hilang akal sehatku 3x/ Memang kau racun // Wanita racun dunia/ Karna dia butakan semua/ Wanita racun dunia/ Apa daya itu adanya&lt;/I&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajaib! Dyta dan puluhan penggemar lain, yang juga wanita, justru menikmati lagu itu. Mereka berjejingkrak, bersesorak, seakan menjadi bagian dari "racun" yang diteriakkan Tria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah The Changcuters menawarkan "nilai" dengan lagu itu? Apakah Dyta dan puluhan fans lainnya, terutama yang wanita, mengakui dan mengadopsi "tawaran" Tria itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegembiraan mereka adalah ungkapan keterlibatan emosi atas citra yang dibawa The Changcuters. Sekali lagi, keterlibatan emosi!, yang akhirnya menjadi ketersambungan imaji. Jadi, imaji personal Changcuters-lah yang membuat fans itu bergerak. Lagu Changcuters pun adalah bagian dari imaji mereka, termasuk "Racun Dunia". Sebagai bagian dari imaji, syair lagu "Racun Dunia" tidak lagi "bicara", tidak membawa pesan khusus, tergerus dalam keseluruhan citraan kejadulan band itu. "Racun Dunia" bahkan adalah kejadulan itu sendiri, yang dirayakan, dinyanyikan, dalam ketakbermaknaan (&lt;I&gt;meaningless&lt;/I&gt;). Sebagai kejadulan, kelampauan, "Racun Dunia" adalah kenangan, juga kerinduan; selebihnya perayaan, selebrasi. Seperti lagu "Begadang" Rhoma Irama, yang berisi larangan begadang, tapi justru lebih sering dinyanyikan mereka yang tengah begadang. Jadi, masihkah kita bisa mendapatkan nilai, mempersoalkan pesan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, begitulah industri. Sangat mungkin, industri hiburan mengaku memajang nilai, mewartakan kebaikan, menawarkan sebuah ideologi. Tapi saya percaya, pengakuan itu tak lebih hanya kiat pemasaran. Ideologi, dalam industri hiburan, --dan kini masuk ke ranah politik-- telah lama menjadi imagologi, penguatan atas imaji. Hanya dengan kemampuan mempermainkan imaji, industri hiburan, dan juga politik, dengan segenap pelakunya dapat terus bertahan. Imajilah yang mereka jual, dan terus mereka ubah. Seperti Mulan, dari Kwok ke Jameela, dari China ke Arabia. Semua cuma soal citra, dan tentu, nilai uang juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi Indah, soal &lt;I&gt;Munajah Cinta&lt;/I&gt; itu, tak perlu cemas ya? Poligami itu saat ini hanya citraan yang tengah laku. Imaji, dan bukan ideologi, yang ditunggangi industri. Nikmati saja selagi bisa, hitung-hitung sebagai pelipur lara, di tengah harga kebutuhan yang melambung tak terkira, yang bisa membuat kita gila. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Artikel ini telah terbit di Harian &lt;I&gt;Suara Merdeka&lt;/I&gt;, Minggu 8 Juni 2008]&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10916372-3677725937629232324?l=auliamuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/feeds/3677725937629232324/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10916372&amp;postID=3677725937629232324' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/3677725937629232324'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/3677725937629232324'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/2008/06/poligami-musik-dan-imagologi.html' title='Poligami, Musik, dan Imagologi'/><author><name>sujud ilalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/SEkYPyHrSGI/AAAAAAAAAHc/ZtdJdOGk5GY/s72-c/changcut2a.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10916372.post-97819990844861032</id><published>2008-05-22T12:51:00.003+07:00</published><updated>2008-05-22T12:57:03.880+07:00</updated><title type='text'>Bola dan Pengkhianatan Narator</title><content type='html'>Selalu ada kenikmatan yang hilang ketika pertandingan bola tayang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/SDUK3h2tA7I/AAAAAAAAAHU/MCc8Bl1eiXI/s1600-h/mu.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/SDUK3h2tA7I/AAAAAAAAAHU/MCc8Bl1eiXI/s400/mu.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5203076893593371570" /&gt;&lt;/a&gt;"Yah, apa yang terjadi Pemirsa? Tampaknya benturan antara Messi dan Flecher. Cukup keras!" jelas Tris Irawan, dalam siaran langsung pertandingan semifinal Liga Champions antara MU dan Barcelona, di &lt;I&gt;RCTI&lt;/I&gt;, Rabu dini hari (30/4). Tapi anehnya, seperti tayang di teve, yang terkapar justru Evra.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, setelah &lt;I&gt;reply&lt;/I&gt; pun, Tris masih menyebut juga nama Flecher. Dia menyadari kesalahan nama itu beberapa saat kemudian, setelah Evra ditandu keluar lapangan. Aneh. Hal yang sama juga dilakukan Ricky Jo, ketika menaratori pertandingan MU dan AS Roma di perempat final. Teves membuat gol lewat sundulan hasil umpan silang Owen Hargreaves. Tapi Ricky Jo justru berkali-kali menyebut nama Park Ji-sung, bahkan setelah dua kali &lt;I&gt;reply&lt;/I&gt;. "Oh, ternyata Hargreaves, pemirsa..." ralatnya. Penonton pasti gemas sekali dengan narator yang tak akurat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya, memang begitulah "kualitas" narator pertandingan bola di televisi. Heboh, pasti. Lucu, tentu. Akurat, nanti dulu. Tris Irawan atau Ricky Jo yang biasa menaratori Liga Champions, acap salah menyebut nama pemain. Bahkan, kadang mereka tidak menyadari kesalahan itu, dan membiarkan saja sampai pertandingan selesai. Barangkali, tempo permainan yang cepat dan posisi pemain yang terus berubah-bergerak, membuat mereka sulit mengindentifikasikan nama. Tak heran, pemain A mengoper bola ke pemain B, disebut narator sebagai pemain C. Dan ketika pemain B ini mengumpan bola lagi, narator tak sempat meralat salah sebut itu. Kelalaian pun berlalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ketakakuratan itu tentu sangat mengganggu, terutama untuk penonton yang bahkan hanya dengan melihat gestur tubuh, sudah tahu siapa nama pemain itu. Ronaldo atau Rooney, Owen atau Ji-sung, memiliki gestur yang khas, dan sulit membuat mata melakukan kesalahan identifikasi. Demikian juga Messi atau Deco, adalah mustahil mempertukarkan nama mereka. Namun, sepanjang siaran langsung Liga Champions, kesalahan ini acap terjadi. Barangkali, tayangan jauh tengah malam itu membuat narator acap kehilangan konsentrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, ketakakuratan itu bukan masalah sebenarnya, jika tidak diucapkan dengan kehebohan. Ricky Jo misalnya, terlalu "nyinyir" jika menaratori pertandingan. Tak cuma menceritakan jalannya pertandingan, dia juga acap menilai &lt;I&gt;skill&lt;/I&gt; bahkan ekspresi pemain. Situasi ketika MU mendapat hadiah penalti ketika melawan Barcelona di partai pertama, misalnya. Ricky terus saja berkata-kata, menceritakan Ronaldo, dari posisi akan mengambil tendangan, keuntungan yang didapatkan MU, sampai jumlah gol yang akan dibuat Ronaldo, juga kesalahan yang tak perlu dilakukan Barcelona. Komentarnya "berkejaran" dengan waktu jeda penalti. Dan Ronaldo gagal mengeksekusi penalti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu gara-gara Ricky Jo. Berisik!!" SMS Nora Umber, novelis, menilai kegagalan penalti itu. Hahaha...&lt;br /&gt;Barangkali tak hanya Nora Umres, sebagian besar penonton, terutama pecinta MU, terganggu dengan narasi yang tak perlu itu. Apakah Ronaldo gagal karena keberisikan Ricky Jo? Cuma tiga yang tahu, Tuhan, Ronaldo, dan Umres sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Sejarah Tim&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali penonton masih dapat memaafkan ketakakuratan dan keberisikan itu. Maklum, tontotan gratis. Namun, ada lagi ucapan narator, dan juga diikuti komentator, yang barangkali sulit untuk diterima penonton: sikap memihak. Ketika MU melawat ke Roma, misalnya, ketakhadiran Totti menjadi percakapan utama, bahkan ketika pertandingan berjalan. Ucapan, "Seandainya ada Totti..." atau "Jika saja tendangan itu dilesakkan Totti", bahkan "Biasanya Totti yang berada di posisi itu.." bergulir terus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengulangan narasi demikian selain mengganggu juga amat sangat merendahkan kualitas pemain non-Totti, dan Roma sebagai tim. Lucunya, ketika pertemuan kedua, dan Ferguson tidak memainkan Ronaldo, sikap itu dinilai sebagai "unjuk digdaya" MU atas Roma. Narator pun merajut kata-kata yang intinya berharap MU tumbang, dan ada wakil dari liga lain agar Champions tidak dikuasai Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberpihakan paling kentara ketika MU bertemu Barcelona. Tris Irawan amat menjagokan Barcelona, dan memberikan pujian berkali-kali untuk Messi, sekaligus membandingkannya dengan Ronaldo. Pemihakan Tris itu bahkan dia tularkan pada koemntator Titis Widyamoko. Ketika MU unggul 1-0 berkat gol Paul Scholes, Tris segera berkomentar, "Ini sejarah Bung. Sejarah bagi Scholes." Artinya, skor itu dinilai hanya "sejarah" bagi seorang pemain.  Memang, dalam pertandingan itu, Scholes memainkan partai ke-100 untuk liga Eropa. Selain itu, dalam debutnya di Champions 1994, Scoles juga membuat gol ke gawang Barcelona. Namun, apa pun, skor 1-0 itu sudah membuat Tris panik. "Jadi, mungkin ini akan jadi kemenangan pertama ya, Bung?" tanyanya pada Titis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tris, seperti juga Ricky Jo, memang lebih mendukung klub dari Liga Spanyol dibandingkan tim lain. Bahkan partai Liga Champions lebih banyak menayangkan pertandingan tim yang diikuti klub Spanyol. Sebabnya dapat dipahami, RCTI memang hanya menyiarkan Liga Spanyol. Komentator dan narator lebih akrab dengan nama-nama dan &lt;I&gt;skill&lt;/I&gt; pemain, juga strategi dari liga itu. Memihak klub non-Spanyol artinya sama dengan "mengiklankan" liga lain yang tayang di teve lain. Jadi, pemihakan narator dan komentator dapat dibaca sebagai sikap yang dipilihkan RCTI. Jadi, agak wajar juga Ricky Jo "memberisiki" Ronaldo yang tengah mengambil tendangan penalti. Hihihi....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Menghianati Kamera&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fungsi narator pertandingan adalah menjembatani penonton dan peristiwa di layar kaca. Namun, dalam pertandingan bola, terutama setegang dan selevel Liga Champions, narator justru lebih terasa menjedai keterlibatan penonton dengan tayangan. Narator mengalienasikan penonton dari aura, suasana, ketegangan seperti yang tampak di lapangan. Dalam bahasa yang lebih tegas: narator mengkhianati kamera!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya suasana ketika Ronaldo akan mengeksekusi tendangan penalti ke gawang Barcelona. Di televisi, gambar berpindah-pindah. Tampak Ronaldo memegang bola, memandang gawang lawan, dan sembari membuang napas --yang ditampilkan secara &lt;I&gt;close-up&lt;/I&gt;--  dia letakkan bola di titik putih. Ronaldo melangkah mundur.... Kamera berpindah ke gawang Barcelona, wajah Valdes yang tegang tampak jelas, dan matanya yang mencoba membaca ke mana kira-kira tendangan itu diarahkan. Kamera juga berpindah ke base, Rijkard yang berteriak, Ferguson yang cuma bisa diam, menunggu-tegang. Kamera kemudian menjauh, menampakkan keseluruhan penonton yang seperti senyap, para pemain yang bergerak memberi ruang tembak, dan tibalah saat itu: Ronaldo bergerak, menembak...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu antara Ronaldo meletakkan bola dan menendang barangkali cuma beberapa detik. Tapi kamera dengan perpindahannya, juga permainan antara "tatapan" dekat dan jauh, berhasil membuat waktu yang singkat itu jadi demikian panjang, begitu tegang. Penonton seperti terbawa pada kecemasan yang sama ketika dengan jelas melihat keringat Ronaldo yang bergulir dari keningnya, dan dia abaikan. Waktu yang pendek itu terasa mengulur, yang kalau tak salah, pernah disebut Eric Sasono sebagai &lt;I&gt;extended time&lt;/I&gt;. Dan ketika Ronaldo menendang, penonton seperti menunggu bom yang tengah meledak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Ricky Jo merusaknya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangunan narasi yang "diceritakan" kamera tadi, runtuh oleh narator. Kekuatan gambar, kedahsyatan kamera, rusak oleh kata-kata. Ricky Jo membuat apa yang sudah dikatakan kamera menjadi sesuatu yang sia-sia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;I&gt;Reply&lt;/I&gt; dalam &lt;I&gt;slow motion&lt;/I&gt; sesudah tayangan itu pun tak lagi dapat mengembalikan penonton kepada suasana. Penonton tak lagi punya ruang untuk mencerna apa yang sebenarnya terjadi karena narator memosisikan diri sebagai yang maha tahu. Narator menganggap penonton buta!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untunglah, ketika menonton bola saya selalu menutup telinga, dan menikmati kekuatan kamera yang tak dikhianati kata-kata. Merasakan diri terlibat, lebur, seperti rasa yang terbina di Old Trafford sana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;[Artikel ini telah dimuat di Harian &lt;I&gt;Suara Merdeka&lt;/I&gt;, Minggu 18 Mei 2008]&lt;/B&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10916372-97819990844861032?l=auliamuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/feeds/97819990844861032/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10916372&amp;postID=97819990844861032' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/97819990844861032'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/97819990844861032'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/2008/05/bola-dan-pengkhianatan-narator.html' title='Bola dan Pengkhianatan Narator'/><author><name>sujud ilalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/SDUK3h2tA7I/AAAAAAAAAHU/MCc8Bl1eiXI/s72-c/mu.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10916372.post-6067862575634836965</id><published>2008-05-12T18:22:00.003+07:00</published><updated>2008-05-12T18:39:59.999+07:00</updated><title type='text'>Tawa untuk Logika Janda</title><content type='html'>Susah sungguh bergelar janda, jadi rebutan dan caci-maki para tetangga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/SCgpsFKTTSI/AAAAAAAAAHM/u0yEpw5KzB8/s1600-h/ssti.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/SCgpsFKTTSI/AAAAAAAAAHM/u0yEpw5KzB8/s400/ssti.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5199451607075605794" /&gt;&lt;/a&gt;"Takut... takut... takut... Sama istri sendiri kok malah takuuuutttt.... Ciut.. ciut... ciut... Sama istri sendiri nyalinya ciuuuuuttttt...." Anda pasti akrab dengan potongan lagu di atas. Ya, itulah lagu yang menjadi pembuka tayangan sitkom "Suami-suami Takut Istri" setiap sore di &lt;I&gt;TransTV&lt;/I&gt;. Dari lagu tersebut sudah jelas arah cerita komedi itu, tentang suami yang tak berdaya di depan istri.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sitkom yang diproduseri Anjasmara dan disutradarai Sofyan de Surza itu memang populer. Selain cukup bagus dari sisi cerita, kekuatan karakter tokoh menjadi daya tarik utama, terutama karena bumbu kontradiksi di dalamnya. Tigor (Yanda Djaitov) yang berbadan binaraga misalnya, justru takluk sama istrinya, Welas (Asri Pramawati), yang lembut dan kurus. Lucu, apalagi jika mengaitkan kesukuan mereka, Tigor yang Batak dan Welas yang Jawa. Atau keluarga satu suku, Faisal (Ramdan Setia) dan Deswita (Melvy Noviza). Matrenalisme suku Padang diwujudkan secara ekstrim dalam ketaklukan suami dalam hal apa pun. Sesuatu yang hiperbolis, sebenarnya. Tapi, tanpa yang hiperbolis, komedi tentu akan kehilangan suara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konflik dalam sitkom ini tergolong biasa, khas permasalahan rumah tangga. Namun karena faktor ketertundukan suami, penyelesaian konflik tadi acap mengundang tawa. Apalagi, dikontraskan dengan kehadiran Dadang (Epy Kusnandar), satpam yang beristri tiga, dan satu-satunya lelaki yang tak takluk pada istrinya. Tak heran kalau akhirnya terjadi "ikatan" persamaan nasib di antara para suami itu. Pak RT (Otis Pamutih), Faisal, Tigor, dan Karyo (Irvan Penyok), jadi terbiasa &lt;I&gt;ngudarasa&lt;/I&gt;, curhat, atau berbagi taktik mengelabui istri, meski selalu gagal. Namun, selain karena takut pada istri, ikatan sesama suami ini juga terjalin karena alasan yang sama, ketertarikan pada seorang janda. Pretty (Desy Novitasari) namanya. Bahkan, konflik akibat kejandaan Pretty nyaris menjadi menu utama sitkom ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Janda Omnivora&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pretty memang cantik. Kakinya panjang, dengan dada yang padat, dan acap berbusana terbuka, menantang. Bibirnya tipis, dan kalau bicara, mendesis-desis. Matanya pun bagus, terutama kalau berkedip-kedip ketika bicara. Kehadirannya menjadi magnit di komplek itu, bukan saja membuat para suami jadi punya kesamaan idola, melainkan juga menjadikan para istri punya musuh bersama. Pretty yang cantik, dan terutama janda, membuat para istri memandang dalam syak-wasangka. Karena tampaknya, sebagai kompensasi ketakutan pada istri, para suami jadi memiliki keberanian untuk menggoda sang janda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pretty bukan tidak menyadari ketertarikan para suami pada tubuhnya, dan kemarahan para istri akan kehadirannya. Tapi, bukannya menjaga diri, Pretty justru berlaku "jinak-jinak merpati". Akibatnya, para suami acap tertangkap basah tengah menggodanya, membantunya, atau terkunci di dalam rumahnya. Hanya Dadang yang tak begitu "memandang" Pretty. Satpam ini cuma bisa "goyang" oleh uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sitkom ini memang melakukan mitos penguatan pada stigma janda. Pretty tampil dalam imaji janda yang memang bertugas menggoda. Dia memberi angin pada harapan para suami lewat lirikan, ajakan jari telunjuk, senyum, dan busana. Pretty mempersepsikan sebagai janda yang mau dan "bisa" digoda. Bahkan, ayah Tigor, Togar (Dorman Borisman) yang berkunjung, langsung melihat sinyal "kebisaan" Pretty. Dia berusaha mencuri kesempatan, namun ternyata, sama seperti anaknya, Batak tua ini pun takut pada istrinya. Hahaha...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena hadir dalam streotif "bisa" digoda, para istri pun memosisikan Pretty dalam stigma janda pada umumnya. Bu RT (Aty Fathiyah) terutama, sangat percaya bahwa Pretty selalu menginginkan suaminya. Meski hal itu dibantah anaknya, Sarmilila (Marissa), "Nyak, kenape sih selalu nyalahin Tante Pretty? Nggak mungkin juga Tante Pretty mau sama Babe." Tapi, bagi Bu RT, yang mewakili stigma umum itu, janda adalah omnivora, pemakan segala, tak punya kelas selera. Pria apa pun, jelek atau binaraga, lembut atau tak bekerja, akan dimamahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Suami-suami Takut Istri" tidak berusaha melakukan redefenisi pada stigma janda itu. Dalam satu seri, Pretty bahkan digambarkan begitu hausnya pada lelaki, dan berusaha menjebak Garry (Ady Irwandi), satu-satunya lajang di perumahan itu. Namun Garry menolak. Ia pun distigmakan sebagai lelaki yang lugu, yang tanpa pretensi apa pun, senang membantu. Kehadiran Garry sebagai lajang polos kian menegaskan keomnivoraan Pretty. Belum lagi posisi Dadang sebagai satpam, yang lebih banyak menjadi mata para istri, dengan imbalan uang, untuk mengawasi Pretty. Dadang hadir lebih sebagai personifikasi negara, menjadi pengawas akan status warganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Logika Janda&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sitkom "Suami-suami Takut Istri" adalah cermin stigmatisasi janda yang masih berlangsung dan diterima oleh warga. Keberterimaan itu dapat dilihat dari kehadiran Pretty yang tidak mendapat resistensi dari penonton. Artinya, sosok Pretty dilihat dan dinikmati bukan sebagai karakter yang terberi melainkan watak asali. Konflik dan kecemburuan karena Pretty dinikmati sebagai kewajaran dan bukan pengada-adaan. Akibatnya, jalinan cerita menjadi benar dalam "logika" janda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janda, "perempuan yang pernah menikmati seks", dipersepsikan sebagai ancaman rumah tangga. Karena pernah menikmati seks, janda dipercayai akan mencari lagi kenikmatan itu dengan cara apa pun. Logika inilah yang membuat, jika pun terjadi hubungan seks antara seorang lelaki dan janda, perempuan itu menjadi "tersangka" dan lelaki sebagai "korban". Anggapan yang sangat kejam, yang celakanya, justru mendapat afirmasi dari negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara "mengakui" stigmatisasi janda sebagai "ancaman" pada moralitas dan rumah tangga. Maka perempuan yang "pernah menikmati seks secara sah" itu perlu terus dilabeli. Labelisasi itu dilakukan negara lewat penyebutan di dalam KTP. Dengan pelabelan itu, seorang wanita didudukkan dalam sebuah akuarium besar, sehinnga khalayak dapat mengetahui statusnya. Dengan pelabelan itu, negara mengatakan bahwa "perempuan ini pernah menikmati seks secara resmi", dan warga harus hati-hati padanya. Label status yang menjadi "penjara" bagi si perempuan, agar dia terus tersadarkan tentang statusnya, dan menjaga sikap moralnya di depan warga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironinya, pelabelan itu hanya menjerat perempuan yang pernah menikmati seks secara resmi alias menikah. Sedangkan perempuan yang pernah menikmati seks --tanpa harus menikah-- tidak masuk dalam labelisasi ini. Artinya, bui labelisasi  itu justru diberikan pada perempuan yang mengikuti moralitas umum --mereka pernah menikah-- dan bukan mereka yang melawan moralitas umum --ngeseks tanpa menikah. Tanpa sadar, negara dan warga justru mengawasi perempuan yang "mengakui dan mengikuti" moralitas umum. Aneh kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa negara dan warga menghidupi terus stigma janda itu? Sebabnya satu, seks masih masuk ke wilayah tabu. Sebagai sesuatu yang tabu, seks hadir dan meluas secara tersembunyi, dan hidup dalam imajinasi banyak orang. Dan janda, --perempuan yang pernah menikmati seks-- adalah sebuah "wilayah kosong" yang memantik imajinasi. "Wilayah yang tak lagi tergarap" itu memancing imajinasi banyak perempuan dan lelaki, apalagi jika dia secantik dan seseksi Pretty. Karena itu, "Suami-suami Takut Istri" adalah cermin kebobrokan moral dan kesesatan pikir masyarakat ini. Kita menikmati, menertawai. Menggelikan sekali!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;*)&lt;/B&gt;Thanks untuk Cahaya atas ide dasar tulisan ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;[Artikel ini telah dimuat di Harian &lt;I&gt;Suara Merdeka&lt;/I&gt;, Minggu 11 Mei 2008]&lt;/B&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10916372-6067862575634836965?l=auliamuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/feeds/6067862575634836965/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10916372&amp;postID=6067862575634836965' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/6067862575634836965'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/6067862575634836965'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/2008/05/tawa-untuk-logika-janda.html' title='Tawa untuk Logika Janda'/><author><name>sujud ilalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/SCgpsFKTTSI/AAAAAAAAAHM/u0yEpw5KzB8/s72-c/ssti.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10916372.post-5180868887401624293</id><published>2008-05-05T12:44:00.001+07:00</published><updated>2008-05-05T12:48:58.562+07:00</updated><title type='text'>Gosip Tamara dan Socrates</title><content type='html'>Untuk pemamah gosip, Socrates punya nasihat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/SB6fhbcTkuI/AAAAAAAAAHE/W-KjdoZoOvM/s1600-h/tamara.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/SB6fhbcTkuI/AAAAAAAAAHE/W-KjdoZoOvM/s400/tamara.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5196766416683111138" /&gt;&lt;/a&gt;"Selama dua tahun ini saya terus difitnah, dihina, dan bahkan semua itu sudah terlewat keji sehingga menyebabkan marah saya sudah sampai puncaknya. Saya benar-benar marah, dan mohon maaf atas kemarahan itu. Saya ini manusia biasa...." ujar Tamara, pelan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam jumpa pers di La Citra Cafe, Pondok Indah, Jakarta Selatan itu, Tamara hanya berbicara pendek. Itu pun terbata-bata, tertahan amarah. Selebihnya, keterangan diberikan oleh pengacaranya, Muhajir Sodruddin. Intinya, Tamara membantah gosip bahwa dia tengah hamil. Dia juga percaya, semua gosip atau fitnah yang menimpanya selama ini, bukan atas campur tangan Rafly, mantan suaminya. Dan karena berada di batas sabar, Tamara akan menempuh langkah hukum untuk setiap gosip atau fitnah yang ditujukan padanya. "Bila ada unsur-unsur tindak pidana, kami akan tempuh jalur hukum. Terutama kalau tahu siapa yang menyebar fitnah," tandas Muhajir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tamara Natalia Christina Mayawati Bleszynski memang berkali-kali tertepa gosip tak sedap, bahkan mengerikan. Dia pun acap menebarkan ancaman untuk memidanakan penyebar gosip tersebut. Tapi, seperti jumpa pers yang tayang di "Insert" tahun lalu itu, syarat "Terutama kalau tahu siapa yang menyebarkan fitnah" tak pernah mampu Tamara dapatkan. Pemidanaan tak pernah jadi kenyataan. Bahkan, atas "gosip" dia telah berhubungan intim dengan Mike Lewis pun, Tamara akhirnya cuma menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini gosip yang lebih seru menderanya. Tamara diringkus polisi karena tertangkap tengah nyabu di Apartemen ITC Permata Hijau, Jakarta Selatan, Kamis (17/4), dini hari. Kabar itu bermula dari sebuah SMS yang kemudian menyebar ke seluruh pekerja infotainmen dan wartawan hiburan. Beberapa tayangan infotainmen memberitakan gosip itu. Tapi konfirmasi atau gambar penangkapan, tidak pernah dapat ditunjukkan. Bahkan keberadaan Tamara pun tak diketahui pasti, antara di Jakarta dan Malaysia. Tapi, gosip itu makin kencang berhembus karena Kanit II Narkoba Mabes Polri Kombes Pol Drs Siswandi  mengatakan, "Belum, belum diperiksa." Entah siapa yang belum diperiksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gosip itu kemudian tak dapat dibuktikan "kebenarannya" oleh infotainmen. Tapi, bukan berarti selesai. Gosip baru muncul, Tamara tak dijerat pidana dalam kasus nyabu itu karena membayar Rp 6 miliar kepada polisi. Tak ada konfirmasi atau bantahan dari Tamara, cuma ibunya, Farida Gasic, yang bersuara. "Enam miliar darimana? &lt;I&gt;Emang&lt;/I&gt; penghasilannya sampai segitu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;CENTER&gt;*******&lt;/CENTER&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gosip. Fitnah. Hal-hal semacam itulah yang berseliweran di televisi. Kabar yang bisa menjadi "headline" infotainmen, meski tak diketahui sumbernya, dan tak pernah ada peristiwanya, seperti "kasus" Tamara itu. Hebatnya, kabar semacam ini bisa muncul berhari-hari, dan tetap tanpa penjelasan yang berarti. Gosip Tyas Mirasih hamil bisa tayang sampai dua minggu, dan selama itu, tak ada kejelasan apa pun, selain gambar yang berputar seputar perut Tyas. Lalu Laudya Cintya Bella, juga dikabarkan hamil, karena tertangkap kamera tengah bersama Panji, memasuki klinik di Jakarta. Kabar ini membuat Bella "bingung", dan Panji memberi klarifikasi. Dan, seperti angin, gosip itu pun berhembus...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidakjelasan gosip semacam itu, dan kegairahan infotainmen terus memberitakan, menimbulkan banyak pertanyaan, bahkan bagi artis sendiri. Ayu Azhari misalnya, berani menduga, gosip-gosip semacam itu adalah rekayasa infotainmen. Ayu secara jelas mengakui banyak infotainmen yang menawarkan diri untuk "mengelola" gosip pada artis tertentu, agar namanya dapat lagi naik atau diingat penonton. "Saya juga pernah mendapatkan tawaran semacam itu. Tapi untuk apa?" jelas Ayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengakuan Ayu itu mengejutkan. Sebab, selama ini beredar "gosip" di berbagai milis bahwa infotainmen memang dapat dipesan untuk "mengangkat" nama artis yang mulai tenggelam. Bahkan ditengarai, acara ulangtahun, bagi-bagi bingkisan ke tetangga sekitar rumah, yang selalu tayang dari artis "Gelas-gelas Kaca" adalah hasil "main-mata" pada infotainmen tertentu. Pengakuan dan penjelasan Ayu Azhari menegarkan kebenaran "gosip" itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, berangkat dari pengakuan Ayu, jika sumber kabar itu tidak jelas, datang dari artis yang namanya mulai jarang tayang di layar teve, dan kabar itu cukup mengundang sensasi, dapat dipastikan merupakan pekerjaan dari "the invisible hands", yang menangguk sejumlah bayaran. Tujuannya jelas, membuat objek gosip, si artis, namanya kembali diperbincangkan dan atau mendapat simpati publik. Gosip hubungan asmara Agnes Monika dan Dirly Idol misalnya, ternyata adalah "permainan terencana" sebagai pengantar sinetron mereka &lt;I&gt;Jelita&lt;/I&gt;. Begitu sinetron tayang, gosip itu pun hilang, dan Dirly nampang dengan kekasih yang "asli". Di situ terjadi kerjasama yang matang antara stasiun teve yang akan menayangkan sinetron tersebut, dan infotainmen yang diproduksi teve itu sendiri. Sungguh rekayasa yang menyakiti penonton televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;CENTER&gt;*********&lt;/CENTER&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gosip, fitnah, bagi penonton teve memang sudah diterima sebagai hal yang biasa. Setiap hari, selalu ada gosip baru dari aktris baru atau lama, yang indah atau keji. Dan karena bernama gosip, infotainmen tak ada beban untuk menayangkannya, bahkan mengulangnya. Sebagai kabar angin, psikologi pembuat dan penikmat seakan berada dalam kata sepakat, nanti akan hilang sendiri, lenyap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang benar, gosip akan hilang sendiri. Ingatan penonton --bahkan sebagian besar masyarakat Indonesia-- memang pendek, terutama karena informasi yang mengepung dan menderas tanpa henti. Tapi, kekuatan --dan juga kejahatan-- gosip bukan pada kemampuannya untuk tinggal dalam kepala penonton, melainkan mengubah persepsi pemirsa di dalam memandang dan atau menganalisa sebuah peristiwa. Jalinan gosip yang kronologis, --Tamara diisukan nyabu, tertangkap, bebas karena nyuap, mengundang Roy Suryo untuk meneliti siapa penyebar SMS, ada rekayasa untuk memburukkan namanya sebagai sarana penghilangan haknya mengasuh Rasya-- membuat penonton berada dalam "ambang nanti" yang tak berkesudahan. Sesudah ini, pasti itu, pasti begini, lalu, dan, akhirnya, ternyata....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalinan "kronos" itu menimbulkan efek haus, dahaga, akan duga dan syak-wasangka. Pada akhirnya, gosip mengubah paradigma berpikir penonton yang selalu "melampaui" peristiwa. Yang terjadi adalah "B", tapi benak pemirsa sudah mengelola praduga dari "A" sampai "C" dan "E". Paradigma ini membuat substasi, isi, jadi sesuatu yang tak penting lagi. Yang utama adalah memenuhi rasa haus itu. Dan pemenuhan itu, tanpa disadari, adalah hasil "kreasi" sendiri, imajinasi yang dipanjang-panjangkan, lalu dibenarkan. Gosip memaksa pemirsa melakukan masturbasi pikiran. Dan di ujung dampak semua itu, gosip membuat rasa curiga tumbuh dengan demikian suburnya. Karena rasa curiga telah menjadi bagian dari kenikmatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;CENTER&gt;*******&lt;/CENTER&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berabad lalu, filsuf Yunani Socrates sudah mewanti-wanti akan dampak gosip. Meski pada akhirnya bersedia menjadi tumbal dari "gosip", Socrates memberikan cara menangkal gosip. Dia menyebutnya "Saringan Tiga Kali". Saringan itu merupakan metode yang selalu Socrates lakukan untuk menyaring mana kabar yang dia butuhkan mana yang harus dia buang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu pagi, seorang pria mendatangi Socrates, dan dia berkata, "Tahukah Anda apa yang baru saja saya dengar mengenai salah seorang teman Anda?" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tunggu sebentar," jawab Cocrates. "Sebelum memberitahukan saya sesuatu, saya ingin Anda melewati sebuah ujian kecil. ujian tersebut dinamakan saringan tiga kali." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saringan tiga kali?" tanya pria tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Betul," lanjut Socrates. "sebelum Anda mengatakan kepada saya mengenai teman saya, mungkin merupakan ide yang bagus untuk menyediakan waktu sejenak dan menyaring apa yang akan Anda katakan. Itulah kenapa saya sebut sebagai saringan tiga kali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saringan yang pertama adalah kebenaran. Sudah pastikah Anda bahwa apa yang Anda akan katakan kepada saya adalah kepastian kebenaran?" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak," kata pria tersebut, "Sesungguhnya saya baru saja mendengarnya dan ingin memberitahukannya kepada Anda". &lt;br /&gt;"Baiklah," kata Socrates. "Jadi Anda sungguh tidak tahu apakah hal itu benar atau tidak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sekarang mari kita coba saringan kedua yaitu kebaikan. Apakah yang akan Anda katakan kepada saya mengenai teman saya adalah sesuatu yang baik?" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak, sebaliknya, mengenai hal yang buruk". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi," lanjut Socrates, "Anda ingin mengatakan kepada saya sesuatu yang buruk mengenai dia, tetapi Anda tidak yakin kalau itu benar. Hmmm... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oke, oke, Anda mungkin masih bisa lulus ujian selanjutnya, yaitu kegunaan. Apakah yang Anda ingin beritahukan kepada saya tentang teman saya tersebut akan berguna buat saya?" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak, sungguh tidak," jawab pria tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau begitu," simpul Socrates, "Jika apa yang Anda ingin beritahukan kepada saya... tidak benar, tidak juga baik, bahkan tidak berguna sama sekali, kenapa Anda ingin menceritakan kepada saya?!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman Socrates itu pun &lt;I&gt;ngacir&lt;/I&gt;, pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah gosip yang menderas sampai ke ruang keluarga, suara Socrates barangkali harus sering digemakan lagi, sebagai tambat agar akal sehat, nalar, tetap berdiam di kepala banyak orang. Supaya penonton tidak menikmati infotainmen seperti orang yang tersesat di tengah padang, kehausan....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;[Artikel ini sudah dimuat di Harian &lt;I&gt;Suara Merdeka&lt;/I&gt;, Minggu 4 Mei 2008]&lt;/B&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10916372-5180868887401624293?l=auliamuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/feeds/5180868887401624293/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10916372&amp;postID=5180868887401624293' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/5180868887401624293'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/5180868887401624293'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/2008/05/gosip-tamara-dan-socrates.html' title='Gosip Tamara dan Socrates'/><author><name>sujud ilalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/SB6fhbcTkuI/AAAAAAAAAHE/W-KjdoZoOvM/s72-c/tamara.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10916372.post-17215018105449125</id><published>2008-04-28T20:23:00.003+07:00</published><updated>2008-04-28T20:30:53.294+07:00</updated><title type='text'>Cara Terhormat Melawan Dewi</title><content type='html'>Bagi Dewi Persik, panggung bukanlah ajang pamer suara, melainkan olah-senggama. Orgasme tujuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/SBXQVrcTktI/AAAAAAAAAG8/zBC_NMrgTtc/s1600-h/deper.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/SBXQVrcTktI/AAAAAAAAAG8/zBC_NMrgTtc/s400/deper.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5194286816099013330" /&gt;&lt;/a&gt;Wajah Dewi Persik memerah. Duduk di samping Hj Endah Murnalita, penasihat hukumnya, dia tak dapat lagi menahan marah. "Kata-kata Dewi Persik telah merusak moral, itu yang saya tidak bisa terima," ketusnya seperti terlihat di "Selebrita" &lt;I&gt;Global TV&lt;/I&gt; (23/4). "Saya sedih karena semua ini dibuat untuk kepentingan politik!" tambahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewi memang tengah gundah. Walikota Tangerang, Wahidin Halim, melarang dia bergoyang. Walikota Bandung, Dada Rosana, juga melakukan hal yang sama. "Coba saja dia minta izin, pasti tidak saya izinkan. Kecuali dia mau mengubah goyangan dan penampilannya," ucap Dada. Namun Dewi dan penasihat hukumnya yakin, larangan itu hanya upaya untuk menarik simpati warga. Kedua walikota itu ternyata tengah bersiap ikut pilkada, dan mencalonkan diri untuk kali kedua.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Memang kami tidak ingin ini jadi politis. Makanya, kamu tidak mau menanggapi lagi. Tujuannya pilkada," terang Murnalita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dada Rosada jelas membantah motif politik itu.  "Saya cuma memenuhi permintaan warga," katanya sebagaimana ramai dikutip media.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warga, masyarakat, memang acap dijadikan alat atau alasan untuk bertindak. Forum Pembela Islam pun, atas nama keresahan umat, membakar kaset dan CD Dewi Persik. Forum itu bahkan siap membubarkan panggung Dewi jika mantan istri Saipul Jamil itu tak juga mau berubah. Tapi, apakah yang dimaksud dengan warga, masyarakat atau umat, sebenarnya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Ubah Persepsi&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Goyang Dewi Persik memang sensual. Bahkan dalam beberapa penampilan, seperti yang acap ditunjukkan ragam infotainmen, sangat erotis. Dewi tak cukup hanya menggoyangkan pinggul seperti Nita Thalia, atau memutar pantat seperti Inul, tapi menggelepar-gelepar di panggung, kadang bergaya seolah bersanggama. Eskpresinya pun bukan seperti orang yang tengah bernyanyi, melainkan raut yang sedang bercinta. Bagi Dewi, panggung adalah arena dia untuk berolahasmara, dan dia selalu memperoleh orgasme karenanya. Yang ditampilkan Dewi pada intinya bukanlah pertunjukan suara tapi olah kamasutra. Karena itulah, tak terdengar suara yang mendukung Dewi ketika terjadi pelarangan dan pencekalan di Bandung dan Tangerang, atau pembakaran oleh Forum Umat Islam. Warga, umat, masyarakat, seperti berada di seberang dirinya. Dalam hal inilah, Dewi berbeda dari Inul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inul juga pernah seperti Dewi, dilarang dan dikecam, bahkan oleh pemilik "otoritas" Dangdut, Rhoma Irama. Tapi apa yang terjadi kemudian, Inul justru tak pernah merasa sendirian. Selalu ada bagian dari warga, umat, atau masyarakat, yang berdiri di sisinya, membelanya. Sebabnya, Inul bertindak lebih cerdas daripada Dewi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika larangan dan kecaman datang, Inul tidak mencoba melawan sendirian. Dia minta bantuan dan &lt;I&gt;sowan&lt;/I&gt; ke berbagai banyak orang. Inul tahu, "fatwa" Rhoma bukanlah kebenaran satu-satunya. Dia ke Gus Dur, dan teryakinkah untuk tak boleh mundur. Inul memberi "agenda" bahwa yang dia perjuangkan bukanlah soal goyangan semata, melainkan haknya sebagai seorang wanita untuk mencari makan. Inul mengubah persepsi larangan itu jadi pencekalan atas keinginannya untuk menjadi tulang punggung keluarga, hak anak untuk membuat orangtuanya bahagia. "Saya hanya mencari makan dengan bergoyang. Apakah saya salah?" tanyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Publik pun terbelah. Sebagian bahkan jadi berubah arah, mencoba memaklumi. Apalagi, media pun menaruh simpati pada istri Adam Suseno ini, dan memblow-up hal itu menjadi isu feminisme. Dangdut bahkan mendapat gugatan, moralitas, juga agama. Emha Ainun Najib sampai menulis "Pantat Inul adalah Wajah Kita Semua", dan KH Musthofa Bisri pun menjadikan Inul sebagai tema lukisan. Inul menjadi "gelombang" justru karena dia bisa mengajak orang untuk berpikir bahwa apa yang dia perjuangkan bukan semata soal goyang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewi Persik tak mampu mengubah itu. Dewi terlalu angkuh untuk meminta bantuan dan melawan sendirian. Dia bahkan menantang, melawan, tanpa meminjam mulut orang. Dewi jadi terkesan arogan. Dewi tak mencitrakan diri sebagai sosok yang lemah dan terhina. Dan karena itulah, pembelaan pun tak datang dari "ibu semua artis", Titiek Puspa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara sadar, Dewi Persik justru mencitrakan diri sebagai perempuan yang bebas menjual sensualitas. "Siapa yang tidak mau? Sudah enak, dapat duit lagi," katanya, ketika ditanya mengapa mau beradegan intim dalam film &lt;I&gt;Tali Pocong Perawan&lt;/I&gt;. Dewi membuat orang tahu, bahwa sensualitas, goyangan syawat dan mimik orgasme itu, adalah pilihan sadarnya untuk mencari uang. Dewi melakukannya dengan riang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inul sebaliknya, mencitrakan diri sebagai perempuan yang terpaksa. "Hanya bernyanyi itu yang aku bisa," katanya dulu. Inul membuat orang berpikir bahwa dia, dengan latar belakang religiusitas keluarga, pun tak bangga menjual goyangannya. Untuk orang yang terpaksa, warga, masyarakat, umat, pasti gampang memberi maaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Uji Pasar&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewi memang secara sadar menjual sensualitas goyangnya. Dia memang tak perlu dibela, dan tentu, tak usah juga dicekal atau dilarang.  Pelarangan, pencekalan, atau pembubaran dan pembakaran, bagaimanapun adalah wujud dari sikap yang tidak dewasa. Dewi seharusnya dibiarkan saja. Masyarakat, warga, atau umat, harus terbiasa untuk terbuka pada perbedaan, keanekaragaman. Goyangan Dewi Persik bahkan penting untuk membuat beda antara mutiara dan sampah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewi Persik adalah produk yang lahir dari mekanisme pasar. Dia tumbuh dan berkembang --lihatlah modifikasi goyang Dewi-- karena memenuhi hukum permintaan. Harus diakui, di luar umat atau warga yang menentang, ada juga warga dan umat yang lain justru memuja Dewi. Sebagian warga, umat, atau penonton, yang tidak suka harus bisa melihat Dewi bukan "bagian dari kita", bukan milik "kita", melainkan produk dan hak warga yang lain. Dan sangat tidak benar, apa pun alasannya, untuk melarang, atau menghakimi, sesuatu yang bukan menjadi bagian dari milik sendiri. Sebagai bagian dari "mereka", Dewi bebas melakukan hak-haknya. Dengan cara itulah warga jadi dewasa, menghargai heterogenitasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu pemerintah? Pemerintah harus berada di antara warga. Pemerintah atau pemda, harus menjamin warga menikmati kesetujuan dan ketidaksetujuannya, dan tidak menjadi "beking" salah satu di antaranya. Negara harus menjadi wasit, agar tidak terjadi pemaksaan selera dari satu warga kepada warga lainnya. Negara harus berdiri di tengah, agar antara warga yang berbeda tidak bertindak sendiri, menjauhkan anarki. Dengan kata lain, negara atau pemerintah, harus membiarkan proses pasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewi adalah produk pasar dan harus dilawan di pasar. Jika sebagian warga takut goyangan Dewi merusak moral, lawanlah hal itu dengan membuat dan memasuki pasar dengan produk yang berbeda. Juallah Dewi yang berbeda, yang tidak merusak sendi moral dan agama, Dewi dangdut yang tidak bergoyang erotis di panggungnya. Penganjur moral harus mulai dewasa untuk tidak melakukan larangan atau kecaman saja, melainkan membuat dan memasarkan produk yang memenuhi tuntunan moralitasnya. Biarkan pasar yang mengujinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini saatnya untuk belajar dari &lt;I&gt;Ayat-ayat Cinta&lt;/I&gt;, bahwa kebaikan, bahkan "film khotbah" pun memiliki pasar jika dikemas dan dimanajemen secara benar. Bahwa pasar bukan saja menerima hantu, pocong atau perselingkuhan, tapi juga "malaikat" dalam bentuk Fahri, dan cinta dalam wajah poligami. Dan Dewi, bukankah tidak sendiri? Telah ada Ustad Jeffry  yang berdangdut dalam barzanzi, melayani, melawan "pasar" Dewi. Dan itulah perlawanan terhormat dalam era liberalisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;[Artikel ini telah dimuat di Harian &lt;I&gt;Suara Merdeka&lt;/I&gt;, Minggu 27 April 2008]&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10916372-17215018105449125?l=auliamuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/feeds/17215018105449125/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10916372&amp;postID=17215018105449125' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/17215018105449125'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/17215018105449125'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/2008/04/cara-terhormat-melawan-dewi.html' title='Cara Terhormat Melawan Dewi'/><author><name>sujud ilalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/SBXQVrcTktI/AAAAAAAAAG8/zBC_NMrgTtc/s72-c/deper.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10916372.post-732336256705619225</id><published>2008-04-18T14:42:00.004+07:00</published><updated>2008-04-28T20:30:18.032+07:00</updated><title type='text'>Pengkhianatan Indonesian Idol atawa Kemenangan Air Mata Melawan Suara</title><content type='html'>Seperti Muhaimin Iskandar, juara "Indonesian Idol" pun, seharusnya, hanya dapat dijatuhkan dalam "muktamar".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/SAhRZ-6L8OI/AAAAAAAAAG0/lULwf-n5MqQ/s1600-h/idol-sephia3.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/SAhRZ-6L8OI/AAAAAAAAAG0/lULwf-n5MqQ/s400/idol-sephia3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5190488077370126562" /&gt;&lt;/a&gt;"&lt;I&gt;I belive you can fool&lt;/I&gt;," kata Indra Lesmana kepada salah seorang peserta ketika memimpin audisi di Salatiga, sebagaimana tayang di &lt;I&gt;RCTI&lt;/I&gt;, Jumat (11/4). Peserta itu memang "menyedihkan", bernyanyi seperti ikan yang kehabisan oksigen, &lt;I&gt;mangap-mangap&lt;/I&gt; tanpa suara. Dan ketika suaranya keluar, bernyanyi "i belive i can fly", penonton pasti tertawa, dan kemudian iba. Peserta ini barangkali adalah contoh orang yang tidak menyadari keterbatasan bakatnya. Ia hanya mencoba, siapa tahu nasib baik memihaknya. Cap tolol, terlalu kejam diterakan untuknya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peserta yang tak menyadari kualitas vokalnya bukan hanya tampil dari Salatiga. Di Brebes, Surabaya, Medan, dan Jakarta, peserta semacam itu selalu ada. Dan komentar pedas, menyakitkan, bahkan kadang bernada penghinaan, acap lahir dari bibir para juri. Anang Hermansyah terutama, yang paling kesulitan menemukan diksi untuk menghaluskan ucapannya. Tak heran, dia acap menjadi sasaran ketidakpuasan peserta, yang merasa terhina dengan penolakannya. Ekspresi ketidakpuasan pada Anang --tentu dengan alasan komersial-- bahkan ditunjukkan, mungkin diarahkan oleh pengarah acara, berupa cacimaki, menghancurkan properti, sampai menantang adu nyali di panggung nyanyi. Anang, tampaknya, ingin dicitrakan sebagai Simon Cowell, juri paling "tanpa basa-basi" "American Idol".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Indonesian Idol" adalah acara &lt;I&gt;reality show&lt;/I&gt; pencarian bakat untuk kualitas suara. Namun, memasuki tahun kelima ini, kian terasa penyimpangan dari tujuan semula. Kualitas suara tak lagi menjadi modus utama, terkalahkan oleh hal-hal lain, yang tujuannya cuma untuk meningkatkan aspek komersialitas acara. Jadi, kemungkinannya, penyimpangan itu memang disengaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Juri Cengeng&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indra Lesmana terdiam, menatap tanpa kedip pada peserta di depannya. Melalui kamera, matanya yang mulai berkaca-kaca, dan raut muka yang ikut menahan kesedihan. Di panggung berdiri peserta dari Palembang, yang berkisah dengan tangis. Ibunya saat ini di bui, terpenjara karena tertangkap membawa narkoba di diskotik. Ayahnya telah lama pergi entah ke mana, menelantarkan keluarganya. "Saya ingin ibu bangga pada saya, bahwa saya bisa, bisa membahagiakannya," isak peserta itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamera lalu menyanyikan semuanya, wajah tua dan kuyu, yang terhalang teralis, tengah mengisak-tangis. Di bui sempit itu, dia salat, bermunajat, untuk anaknya. Kamera berakhir dengan pelukan si ibu mengantarkan anaknya ke Jakarta.&lt;br /&gt;Tentu, peserta itu lolos ke Jakarta, bertarung di babak berikutnya. Komentar semua juri menyenangkannya. Bahkan, "telinga saya tuli jika tidak dapat mendengarkan keindahan suaramu," puji Anang. Terpenjara pada kisah sedih itu, Anang ternyata menemukan "diksi" yang lumayan untuk mengungkapkan penilaiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Brebes lahir kisah yang sama. Peserta yang belum apa-apa sudah menumpahkan airmata, dan berkisah tentang keluarganya. Kakaknya terpaksa masuk penjara karena tak kuat menghadapi kemiskinan keluarganya, jadi copet. Dan dia ikut acara itu demi membuktikan bahwa ada cara terhormat untuk lepas dari kemiskinan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Surabaya, seorang peserta tak dapat bernyanyi karena desakan emosinya keluar demikian tiba-tiba. Dia, kata Melly Goeslaw, lebih seperti "curhat" daripada bernyanyi. Ternyata, lagu yang dia lantunkan adalah ungkapan dari kondisi yang dia alami. Berkali-kali, tangisnya saja yang tumpah. Sampai Titi DJ mendatanginya, memeluknya, dan memintanya untuk menenangkan diri, sebelum bernyanyi lagi. Peserta cantik itu sepertinya korban lelaki, dan kini sendiri, mengasuh bayi benih cintanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kota lain, kisah semacam ini terus saja tersaji. Dan juri, entah kenapa, selalu terbawa pada suasana. Indra jadi tampak cengeng di depan kisah semacam ini. Matanya selalu berkaca-kaca, dan kehilangan suara. Titi DJ pun sama, Anang juga. Mereka seperti terpesona, tersihir, tapi bukan pada suara. Dan biasanya, peserta dengan kisah semacam ini, selalu sampai ke Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang terjadi sesungguhnya? Di tahun pertama, Indonesian Idol punya Delon. Tampan dan memiliki kesedihan yang sama, muncul dari keluarga tak berpunya. Tapi penonton ingat, rasa iba juri tak terlalu tampak menyengat. Mutia Kasim, juri saat itu, bahkan selalu menjatuhkan Delon, sebagai peserta yang hanya menjual tampang, tanpa kualitas suara. Di beberapa babak akhir, juri bahkan seakan bersepakat untuk tidak menjadikan Delon sebagai juara, dengan komentar dan mimik yang sangat menyangsikan Delon. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, sikap ini berubah di tahun ketiga, ketika mereka menemukan Ihsan. Lelaki satu ini menyita perhatian yang luar biasa bukan karena kemampuan vokalnya melainkan kisah keluarganya. Titi DJ bahkan ke mal hanya untuk membelikannya busana yang lebih pantas untuk tampil di pentas. Kisah keluarganya, terutama episode ibu Ihkan yang terpaksa menjual cincin kawin sebagai biaya dia ke Jakarta, menghipnosa juri dan penonton. Dan selanjutnya, jalan lempang tersdia untuk Ihsan. Sepanjang ajang, tak ada komentar pedas untuknya. Jika pun penampilannya buruk, diksi yang memaklumi selalu lahir dari bibir para juri. Ihsan akhirnya menang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ajang keempat ada Sarah, &lt;I&gt;single parent&lt;/I&gt;, cantik, dengan kisah yang membuat Titi pun acap terdiam. Pujian selalu lahir untuk penampilan "lady rocker" ini, meski penonton mencukupkannya di lima besar. Penonton, barangkali, mulai menyadari, juri tak bisa jadi acuan lagi. Kemenangan Ihsan karena kisah hidupnya, membuat penonton mulai tahu bagaimana memandang itu acara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Suara Muktamar&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, pengkhianatan terbesar "Indonesian Idol" bukan pada kemenangan airmata melawan suara, melainkan hak penonton yang dikebiri. Dan masalah itu tak pernah jelas sampai kini, menyangkut "Indonesian Idol" pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tahun pertama itu, penonton tahu juri begitu takut jika Delon, yang "hanya menjual tampang" jadi jawara. Maka seluruh komentar seperti berusaha menjatuhkannya. Kesinisan yang memancing iba, dan membuat penonton terus mendukungnya, sampai final. Delon memang tidak juara, dan juri tersenyum puas karenanya. Joy Tobing, yang memang bersuara luar biasa, meraih posisi pertama. Penonton memilihnya karena kualitas yang teruji, dan mendudukkan Delon pada posisi yang tak pantas jadi hinaan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, di mana Joy kini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika mencari wakil "Asian Idol", juara pertama "Indonesian Idol I" diakukan pada Delon, bukan Joy. Nama Joy bahkan tak pernah lagi disebutkan dalam penyelenggaraan acara ini, seperti dihindari, dilupakan. Apa yang terjadi?&lt;br /&gt;Joy memang bersiteru dengan Fremantlemedia, pihak yang punya lisensi menyelenggarakan acara ini di Indonesia. Pokok perseteruannya sederhana, sebelum jadi jawara, Joy ternyata sudah punya kaset dengan label lain. Padahal, sebagai jawara, hanya BMG dan Fremantlemedia yang berhak menentukan kaset dan lagunya. Joy merasa dia tak melakukan kesalahan, karena semua yang dia lakukan sebelum ada kontrak. Tapi Frementlemedia kukuh, dan kemudian "membuang" Joy.&lt;br /&gt;Masalahnya, apa hak Fremantlemedia membuang gelar Joy? Apa pun "kesalahan" Joy, Freemantlemedia tidak punya hak mencopot gelarnya karena posisi itu bukan mereka yang mendudukkannya. Joy menang melalui sebuah "pesta" langsung yang dipilih penonton. Dan seharunya, penonton juga yang berhak menjatuhkan atau membatalkan posisinya. Joy ibaratnya adalah Muhaimin Iskandar, yang hanya bisa dipecat atau mundur, atas persetujuan muktamar. Tapi, sampai kini, pernahkan penonton dilibatkan dalam persoalan Joy? Freemantlemedia, dan juga &lt;I&gt;RCTI&lt;/I&gt; menganggap penonton tidak ada, dan jutaan SMS yang mendudukkan Joy sebagai jawara, yang juga merupakan sumber utama pendapatan Freemantlemedia, sebagai sampah belaka. Betapa naifnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Indonesian Idol" seperti acara &lt;I&gt;reality show&lt;/I&gt; lainnya memang tak pernah menunjukkan realitas yang sebenarnya. Selalu ada pengaburan, penghiperbolaan, untuk memberikan efek kejut bagi penonton. Penonton, tanpa sadar, adalah kawanan yang diarahkan, dipaksa, untuk menjatuhkan pilihan pada sosok yang menurut penyelenggara dapat diterima pasar. Namun, apa pun alasannya, ketika penonton sudah memilih, penyelenggara harus menghormatinya. Cukup Joy saja yang menjadi korban, cukup Ihsan saja yang dimenangkan karena airmata. Karena Freemantlemedia bukanlah dewan syura yang dapat membekukan atau melakukan apa saja....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;[Artikel ini telah dimuat di Harian &lt;I&gt;Suara Merdeka&lt;/I&gt;, Minggu 20 April 2008]&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10916372-732336256705619225?l=auliamuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/feeds/732336256705619225/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10916372&amp;postID=732336256705619225' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/732336256705619225'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/732336256705619225'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/2008/04/pengkhianatan-indonesian-idol-atawa.html' title='Pengkhianatan Indonesian Idol &lt;br&gt;atawa Kemenangan Air Mata Melawan Suara'/><author><name>sujud ilalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/SAhRZ-6L8OI/AAAAAAAAAG0/lULwf-n5MqQ/s72-c/idol-sephia3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10916372.post-69740042506196179</id><published>2008-04-10T15:31:00.004+07:00</published><updated>2008-04-18T14:53:38.812+07:00</updated><title type='text'>Artis dan Diksi yang tak Bunyi</title><content type='html'>Dalam banyak acara non-gosip, para artis seperti keledai tersasar ke kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/R_3SVg02_sI/AAAAAAAAAGs/dVub5I-hxA4/s1600-h/perspektif.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/R_3SVg02_sI/AAAAAAAAAGs/dVub5I-hxA4/s400/perspektif.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5187533612831407810" /&gt;&lt;/a&gt;Putri Patricia tergelak. Sesekali dia mengangguk, tersenyum, atau menggeleng. Tangannya acap bergerak menurunkan tepi roknya yang kadang gagal menutupi lutut bersihnya, atau merapikan rambutnya. Matanya fokus mengikuti percakapan HS Dillon dan Wimar Witoelar yang duduk di depannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di acara "Perspektif Wimar" yang tayang di &lt;I&gt;Antv&lt;/I&gt;, Rabu pagi (9/4) itu, Putri pasti merasa sepi. Ia berada dalam lalu-lalang pertanyaan dan jawaban antara Wimar dan HS Dillon, tapi tak terlibat di dalamnya. Di beberapa menit terakhir, Wimar bahkan memborong semua pertanyaan, terkekeh-kekeh sendiri. Putri tak dia libatkan. Kamera pun bahkan menjauhi Putri, bergerak fokus untuk Wimar dan HS Dillon. Kehadiran Putri diingkari. Padahal, di acara itu, dia menjadi calon &lt;I&gt;co-host&lt;/I&gt;, orang kedua setelah Wimar, yang bertugas mengulik, mendebat, bertanya, atau sekadar bergumam, untuk memancing reaksi atau tanggapan dari narasumber atas masalah yang mereka angkat. Rabu pagi itu, Putri pasti menggumam, betapa jauhnya dia dari tema yang Wimar dan HS Dillon bicarakan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putri tidak sendiri. Meski tidak terlalu "sunyi", Refalina S Temat pun tak banyak berbuat ketika menjadi calon &lt;I&gt;co-host&lt;/I&gt; Wimar. Ia cuma menyumbang sepatah-dua kata, bagi kegesitan Wimar yang mengorek "perspektif" Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari. Untunglah, posisi duduk calon &lt;I&gt;co-host&lt;/I&gt; yang menyampingi kamera dapat "menyembunyikan" kehadiran mereka, sehingga penonton tak merasa terlalu terganggu. Apalagi, kehadiran mereka ternyata "cuma" untuk mendekatkan acara itu pada khalayak yang lebih muda, seperti tertera di situs Wimar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Saling Bertentangan&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran Putri Patriacia, Revalina S Temat, dan juga Wulan Guritno menjadi calon &lt;I&gt;co-host&lt;/I&gt; dalam acara itu kian menegaskan posisi artis dalam permasalahan sosial negeri ini. Mereka tidak terlibat, dan jika pun dilibatkan, mereka sulit masuk. Memang harus diakui, posisi Wimar dan kecerdasannya melemparkan pertanyaan menjadi dilema sendiri bagi calon &lt;I&gt;co-host&lt;/I&gt;-nya. Wimar tak menyisakan peluang atau jatah bagi mereka, karena "celetukan" yang ringan dan kecil pun, mungkin secara otomatis, terus keluar dari Wimar. Calon &lt;I&gt;co-host&lt;/I&gt; kalah cepat, dan harus "mengejar" sebelum Wimar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari acara "Perspektif", kalangan artis memang kesulitan mengungkapkan masalah yang berada di luar diri mereka. Ketika memasuki ranah yang bukan gosip, mereka acap kehilangan kata-kata. Kalaupun mampu mengungkapkan pendapat atau sanggahan, opini mereka terasa aneh, mengangkasa, dan tak sadar, saling bertentangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengar sergahan Dewi Persik ini, "Saya cuma takut pada Allah. Kalau Allah yang melarang, baru saya patuh. Bukan walikota atau yang lainnya...." Dewi dilarang untuk bergoyang di Tangerang, dan dia meradang. Dewi mengecam larangan itu, seperti yang berkali-kali tayang di infotainmen. Sanggahan Dewi, sekilas memang benar, "hanya Allah yang dia takuti." Tapi, argumentasi ini bukankah justru melawan dirinya sendiri, dan bukan membantu. Karena jika sungguh Dewi takut pada Allah, tentulah dia tak akan bergoyang aurat begitu. Bukankah bergoyang syahwat itu memang larangan dalam agama mana pun?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikulasi yang tak berbunyi semacam itu secara kentara juga tampil di "Silat Lidah" &lt;I&gt;Anteve&lt;/I&gt;. Opini-opini yang terlontar dari Julia Perez, Aline, atau Djenar Maesa Ayu, lebih mengejar efek bombasme, kejutan, meski tanpa isi. Akibatnya, masalah yang serius hanya jadi  tunggangan untuk menunjukkan betapa "berani" opini mereka, dan bukan nilai kemasukakalannya. Nalar seakan ditinggalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikulasi semacam itu pun menjangkiti acara-acara &lt;I&gt;reality show&lt;/I&gt; pencarian bakat. Para juri kerap menilai dengan opini yang membuat peserta mengerutkan kening, karena kesulitan menangkap esensi penilaian itu. Bahkan ketika memuji pun, kosa kata mereka berkelindan hanya dari itu ke itu. Juri "Indonesian Idol" beberapa tahun ini memberikan diksi, pilihan kata, yang nyaris sama. Artikulasi yang tak diperbaharui. Indra Lesmana, Titi DJ atau Anang, masih selalu tampak mengulang, tidak memberikan perspektif atau pilihan, apa yang pantas untuk dilakukan peserta di kelak hari. Mereka tidak banyak memberi inspirasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandingkan misalnya dengan juri "American Idol". Opini, kritik mereka, meskipun keras, tapi punya arah yang jelas. Bahkan jika pun memuji, artikulasi mereka demikian inspiratif, menggugah bukan hanya untuk peserta malainkan juga penonton. "Syukulah, ada beberapa hal yang membuat kamu bukan jadi makhluk khayalan. Kesalahan kecil tadi membuat dirimu tampak lebih manusiawi, lebih pantas berada di sini," kata Paula Abdul, yang terpukau pada kemampuan salah satu peserta. Paula menemukan artikulasi yang tepat dan mengagumkan, bahwa ketidaksempurnaan penampilan membuat seseorang jadi pantas dinilai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Mekanisme Pasar&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara &lt;I&gt;talkshow&lt;/I&gt; mungkin dapat menunjukkan betapa parahnya artis kita mengartikulasikan pendapatnya. Di "Ceriwis" atau "Dorce Show" acap tampak  artis yang kehilangan diksi untuk hal-hal yang sederhana. Ucapan mereka tak meyakinkan, bahkan untuk penjelasan karier mereka. "Saya sih mengalir saja, Bunda...." Ucapan ini menjadi pilihan mayoritas setelah "Semua kita serahkan pada kuasa Tuhan, Bunda..." Diksi semacam itu, entah mengapa, selalu mendapat tepuk tangan membahana. Padahal, ucapan itu tidak memberikan penjelasan apa pun tentang progres diri, rencana dan eksekusi, atau evaluasi. Bandingkan dengan artis yang hadir di "Oprah Winfrey Show". Artikulasi Jennifer Aniston begitu mengguncang, wacana diri dan kareir Julia Robert membuat penonton terhenyak dan takjub. Artis ini menemukan diksi yang luar biasa untuk menjelaskan apa yang dia raih dan dia impikan, bagian yang riang dan sakit, dan apa yang telah dia lakukan untuk orang banyak. Oprah sendiri menjadi bagian dari pertunjukan  artikulasi dan diksi yang terpemanai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa sebabnya artis kita acap kehilangan diksi? infotainmen menjawab, pendidikan. Tak heran, jika ada artis yang wisuda atau melanjutkan pendidikan, infotainmen melakukan liputan "mendalam". Dini Aminarti yang lulus S1, juga Andien, tayang nyaris satu minggu. Bahkan Acha yang berkuliah di Malaysia saja, mendapat porsi yang luar biasa. Dian Sastro apalagi, tamat kuliah filsafat, dan magang sebagai asisten dosen, di mata infotainmen, itu peristiwa yang dahsyat. Kadar liputan pun jadi berlipat-lipat. Infotainem barangkali tidak tahu, Judie Foster tamat &lt;I&gt;magna cum laude&lt;/I&gt; dari Yale, dan dapat gelar doktor lebih dari dua universitas. Atau Mira Sorvino yang juga meraih &lt;I&gt;magna cum laude&lt;/I&gt; dari Harvard, dan liputan atas mereka di sana, malah sunyi senyap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, bukan pendidikan yang jadi masalah melainkan "mekanisme pasar" yang membuat artis tak punya waktu dan tak perlu untuk terus membekali dirinya. Pasar tak meminta standar tinggi, hanya berorientasi pada wajah dan kontinuitas produksi. Akibatnya, artis hanya bergerak dari dan dalam kamera, dan abai pada hal lainnya. Dan ketika satu "peran" meminta mereka terlibat dalam globalitas persoalan bangsa, hanya senyum dan anggukan yang mereka bisa, tanpa kata-kata. Putri Patricia dan Revalina S Temat sudah menunjukkannya. Wimar Witoelar seharusnya bisa abai, tak memaksakan diri melibatkan mereka, dan tidak membuat penonton sakit mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;[Artikel ini telah dimuat di Harian &lt;I&gt;Suara Merdeka&lt;/I&gt;, Minggu 13 April 2008]&lt;/B&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10916372-69740042506196179?l=auliamuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/feeds/69740042506196179/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10916372&amp;postID=69740042506196179' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/69740042506196179'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/69740042506196179'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/2008/04/artis-dan-diksi-yang-tak-bunyi.html' title='Artis dan Diksi yang tak Bunyi'/><author><name>sujud ilalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/R_3SVg02_sI/AAAAAAAAAGs/dVub5I-hxA4/s72-c/perspektif.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10916372.post-751531583791090350</id><published>2008-04-03T18:02:00.002+07:00</published><updated>2008-04-03T18:08:58.945+07:00</updated><title type='text'>Membuka Imajinasi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/R_S6TB4j_nI/AAAAAAAAAGk/l2qvF3HweAs/s1600-h/tajuk-imajinasia.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/R_S6TB4j_nI/AAAAAAAAAGk/l2qvF3HweAs/s400/tajuk-imajinasia.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5184973907096239730" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang dapat menghentikan imajinasi? Pertanyaan ini layak dilontarkan setelah tersiar beberapa foto artis yang berpakaian minim, atau berulah "nakal" di diskotik. Nia Ramadhani misalnya, merasa heran ketika fotonya yang berbikini dijadikan berita. Dia merasa wajar jika berbikini di kolam renang. "Kecuali itu mall, itu bisa diomongin," ucapnya. Soal pria yang memeluk dan dia peluk, Nia juga punya jawaban. "Itu saudara saya, nggak mungkinlah mereka &lt;I&gt;ngapa-ngapain&lt;/i&gt;," ujarnya saat ditemui dalam premier film terbarunya &lt;I&gt;Kesurupan&lt;/i&gt;, di Senayan City XXI, Jakarta, Selasa (25/3) malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum Nia, Julie Estele juga mengemukakan argumen yang sama. Dia merasa heran, mengapa fotonya dengan pakaian renang itu dipermasalahkan. Apalagi, dalam liburan romantis itu, dia bersama kekasihnya, juga diketahui orangtuanya. "Heran saja, mengapa hal itu diributkan," tukasnya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Davina juga punya jawaban, ketika foto-foto &lt;I&gt;nude&lt;/I&gt;-nya tersebar di internet. "Itu foto fashion," jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, foto telanjang Davina memang artistik, hitam-putih, dan tidak menonjolkan sensualitas. Pengaturan cahaya, sudut pengambilan, juga fokus tubuh, menyiratkan pendekatan fotografi yang terencana matang. Jadi, seperti juga Nia dan Julie, foto mereka hadir dalam "konteks" yang dapat diterima, di kolam renang, liburan di Lombok, dan kepentingan fesyen. Yang dilupakan oleh mereka adalah kehadiran jendela imajinasi, ketika melihat foto tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imajinasi tak punya rumah, dia mengembara ke mana pun, tanpa ketetapan arah. Imajinasi hanya butuh pemantik, dan foto-foto Nia, Julie, juga Davina, menyediakannya. Melihat foto mereka, imajnasi bekerja bukan pada apa yang terlihat, melainkan yang tersembunyi, yang tak terekam dalam kamera. "Apa yang mereka lakukan dalam liburan itu? Benarkah mereka sekadar berlibur?" tanya narator "Insert Investigasi".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang tidak terlihat tapi dapat direka, itulah yang membuat imajinasi bekerja, dan kemudian jadi "berita". Komposisi imajinasi pun dijabarkan dalam satu praduga, jika demikian bebasnya liburan Julie dan Moreno, tentu pacaran mereka pun lebih "berani" dari itu? Imajinasi lebih berkembang lagi, "Apakah mereka tidur satu kamar ketika liburan itu? Benarkah orangtua Julie ikut dan mengawasi?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali, komposisi imajinasi tidak mengarah ke sana. Tapi, "Insert Investigasi" dan infotainmen lain harus mengelolanya, agar kontroversi tercipta. Foto Evan Sander yang mepet badan dengan lelaki bule pun, menjadi rangkaian imajinasi yang luar biasa. Komposisi cerita disusun, keraguan ditanan, dan kesimpulan disiapkan: Evan Sanders, barangkali, tak sepenuhnya lelaki. Evan belingsatan menghadapi spekulasi ini, dia membatah, dan segera berkabar akan secepatnya menikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nia, seperti yang lainnya, bukan tak menyadari peluang imajinasi itu. Dengan menjelaskan konteks peristiwa, juga pelaku  sebagai saudara-saudaranya, dia mencoba menutup cerita bahwa tak ada "hal yang tersembunyi" dari yang tampak. Nia bahkan harus menambah dengan keterangan bahwa orangtuanya sudah tahu, "Mereka &lt;I&gt;nggak&lt;/I&gt; masalah dengan foto itu." Penjelasan itu, bagi Nia, adalah penutup yang jelas untuk menghilangkan purbasangka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, prasangka, imajinasi, tak akan pernah bisa dikendalikan, apalagi dilarang. Terutama, ketika infotainmen telah menjadi industri yang menggurita seperti ini. Imajinasi harus dihadirkan, dikelola, diliarkan, dalam prasangka-prasangka yang bahkan terkesan mengada-ada. Nia, Julie, dan Davina, barangkali memang jujur menjelaskan konteks foto-foto mereka. Tapi gosip akan selalu meragukannya, dan imajinasi menjadikannya kontroversi. Nia, Julie, juga Davina, seharusnya menyadari hal itu, dan tak perlu mengheraninya. Karena mereka pun hidup dalam dunia imajinasi banyak orang, dan berusaha diimajinasikan khalayak. Ketika foto mereka hadir dalam kesemestaan yang berbeda, mereka harus menerima jika imajinasi menafsirkan berbeda. Bukankah mungkin, foto pribadi itu mereka sendiri yang menyebarkannya, sebagai cara untuk terus berada dalam kepala banyak orang, membuka imajinasi, dalam prasangka, yang membuat mereka dapat terus jadi berita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;[Telah dimuat dalam "Tajuk", Tabloid &lt;I&gt;Cempaka&lt;/I&gt;, Kamis 3 April 2008]&lt;/B&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10916372-751531583791090350?l=auliamuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/feeds/751531583791090350/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10916372&amp;postID=751531583791090350' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/751531583791090350'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/751531583791090350'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/2008/04/membuka-imajinasi.html' title='Membuka Imajinasi'/><author><name>sujud ilalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/R_S6TB4j_nI/AAAAAAAAAGk/l2qvF3HweAs/s72-c/tajuk-imajinasia.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10916372.post-4444631528528586977</id><published>2008-03-27T14:37:00.004+07:00</published><updated>2008-04-03T18:12:37.257+07:00</updated><title type='text'>Biarkan Saja Anak Berlagu Cinta</title><content type='html'>"Anak-anak harus dijauhkan dari lagu-lagu dewasa dan cinta," kata banyak orang. Bah! Omongan apa itu?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/R-tPtB4j_mI/AAAAAAAAAGc/yuotXlgNQIQ/s1600-h/idolacilik2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/R-tPtB4j_mI/AAAAAAAAAGc/yuotXlgNQIQ/s400/idolacilik2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5182323431238270562" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;B&gt;"YA,&lt;/B&gt; saya prihatin. Memang tidak pantas anak-anak menyanyikan lagu dewasa atau lagu cinta," jawab Adi Bing Slamet ketika ditanya Ulfa, dalam acara "Gebyar BCA" di &lt;I&gt;Indosiar&lt;/I&gt;, Sabtu seminggu lalu. "Miris aku. Bayangkan saja, anak-anak zaman sekarang lebih kenal lagu-lagu milik Peterpan, Matta, Samsons, dibandingkan lagu anak-anak sendiri. Padahal lagu-lagu itu bukan konsumsi mereka. Jadi akan sangat mengganggu pertumbuhan mereka," tambah Andy /rif, dengan mimik bergidik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu namanya pelanggaran hak anak untuk menikmati masa kecilnya dengan lagu-lagu anak yang bisa membuat mereka ceria," ungkap Kak Seto. "Lagu anak-anak zaman dulu &lt;I&gt;tuh&lt;/I&gt; masih layak dinyanyikan, bahkan tak lekang oleh waktu. Seperti `Naik Gunung`, `Naik Delman`"," tambahnya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, semua memang prihatin. Dan akar keprihatinan itu dipicu oleh acara "Idola Cilik" yang tayang setiap hari di &lt;I&gt;RCTI&lt;/I&gt;. Di ajang &lt;I&gt;reality show&lt;/I&gt; pencarian bakat untuk anak-anak itu, lagu-lagu cinta "milik" kaum dewasa acap tampil. Peserta, anak-anak 12 tahun ke bawah itu, lebih sering menyanyikan lagu-lagu kasmaran dan atau perselingkuhan. "Kekasih Gelap" milik Ungu, "Ketahuan" dan "Playboy" Matta Band, "Aku Mencintaimu Apa Adanya" Once, atau "Munajat Cinta" The Rock, tampil dalam keceriaan dan lengking kanak-kanak. Kadang dengan ekspresi yang tidak klop, namun acap juga sangat mengena, seperti penampilan Kiki atau Siti. Ekpresi yang kena inilah yang barangkali membuat Kak Seto takut, "Anak-anak akan menjadi lebih cepat dewasa karena perkembangan psikoseksualnya menjadi lebih cepat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Alasan Ideologis&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua pendapat di atas, termasuk komentar Tompi di "Insert", menempatkan acara "Idola Cilik" sebagai ajang yang salah, tidak tepat, dan eksploitatif. Dan televisi yang paling kerap menyuarakan opini eksploitasi ini adalah &lt;I&gt;Indosiar&lt;/I&gt;. Tentu, selain sebagai wujud keprihatinan, opini itu juga dibangun dalam perspektif kepentingan bisnis, persaingan acara yang nyaris sama, &lt;I&gt;reality show&lt;/I&gt; anak-anak. &lt;I&gt;RCTI&lt;/I&gt; memang mencuri start, memotong rencana &lt;I&gt;Indosiar&lt;/I&gt; yang tengah mempersiapkan "AFI Junior". Jadi, para aktris pemberi opini di atas barangkali tidak menyadari, pendapat mereka didukung bukan karena akan "menyelamatkan" anak-anak, melainkan dijadikan sebagai "peluru" untuk menembak kepentingan lawan bisnis. Karena, sebenarnya, anak-anak memang tak perlu dicemaskan dan atau diselamatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Idola Cilik" adalah ajang pencarian bakat untuk menjadi penyanyi. Yang jadi ukuran utama diacara ini adalah suara. Dan untuk mendapatkan gambaran suara yang baik, unik, konstan, mampu menjangkau nada-nada tinggi, dan tidak getar di suara rendah, penyanyi butuh lagu yang tepat. Dan harus diakui, lagu anak-anak tidak mampu secara eksploitatif menunjukkan hal tersebut. Lagu "Naik Delman", "Naik Kereta Api", "Lihat Balonku", "Potong Bebek Angsa", atau "Pelangi", harus diakui, bermain dalam nada-nada yang sederhana, bahkan cenderung sama. Keunikan suara seorang anak tidak akan tereksplorasi secara sempurna jika menyanyikan lagu di atas. Itu terutama karena lagu anak-anak tadi lebih diniatkan sebagai lagu &lt;I&gt;dolanan&lt;/I&gt;, yang lebih mementingkan aspek bermain dan belajar. Beberapa episode "Idola Cilik" yang menampilkan lagu anak-anak seperti di atas --setelah kritik yang bertubi-tubi-- menunjukkan dengan jelas hal ini, kedataran vokal, dan keunikan yang hilang. Anak-anak jadi tampak memiliki kemampuan yang seragam dan seimbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagu dewasa jelas berbeda. Dalam suasana kompetitif, lagu-lagu ini mampu menunjukkan secara langsung kualitas vokal peserta. Suara Kiki misalnya, jadi tereksplorasi sempurna ketika menyanyikan "Mengejar Matahari" Ari Laso, dengan jangkauan nada tinggi yang stabil. Dalam lagu itu, suara Kiki menemukan rumahnya. Atau Itamar ketika menyanyikan "Terpesona" Glenn Fredly dan "Reflection" Christina Aquilera, vokalnya sungguh teraksentuasi dengan maksimal. Penyanyi merasa puas, komentator menjadi gampang menilai, penonton langsung tahu siapa yang layak untuk terus maju. Dengan kata lain, lagu-lagu dewasa justru membuat anak-anak tadi mendapatkan keadilan penilaian atas kualitas suaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang juga harus diingat, "Idola Cilik" sarat dengan suasana kompetitif. Dan untuk memenangkan kompetisi menyanyi, selain suara, situasi panggung, dukungan penggemar, sampai aspek personalitas pun harus dimanfaatkan secara maksimal. Penyanyi harus mampu menjalin relasi dan ikatan emosi dengan penonton. Relasi dan jalinan emosi itu hanya akan tumbuh jika penyanyi berada dalam suasana, iklim, ekosistem, dunia, yang sama dengan penonton. Dan harus diakui, dunia penonton --baik itu anak-anak dan orang tua--, adalah lingkungan yang dihidupi oleh lagu-lagu orang dewasa, berlirik cinta dan perselingkuhan. Penyanyi harus masuk dalam suasana itu, dan tidak boleh menafikannya. Karena kalau penyanyi kehilangan relasi, keterhubungan dengan penonton, otomatis dia kehilangan panggung, dan juga suara. Apalagi, untuk kompetisi yang bersandar pada SMS, yang lebih banyak dikirimkan oleh orang dewasa. Jadi, memilih dan menyanyikan lagu cinta adalah persoalan mekanis semata, untuk meraih simpati dan juara. Tak ada alasan ideologis di belakangnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Makna Privat&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekhawatiran Kak Seto, Tompi, Andi /rif, atau Joshua, berangkat dari paradigma bahwa anak-anak harus berada dalam iklim yang steril dari cengkraman "dunia" dewasa. Namun, kelemahan argumentasi mereka justru terletak dari hal yang paling dasar, menempatkan anak-anak dalam satu sudut pandang saja. Kak Seto dan Andi/rif khawatir lirik cinta akan memengaruhi emosi si anak. Di sini sebenarnya telah terjadi sebuah pengandaian bahwa "anak-anak mengerti dengan lirik tersebut", dan karena itu "berbahaya" bagi jiwa mereka. Masalahnya adalah apakah "pengertian" anak-anak itu sama dengan "pengertian" yang orang dewasa, Kak Seto dan Andi/rif? Jangan-jangan, "pengertian" yang dipahami Kak Seto dan atau orang dewasa lainnya itulah yang dijadikan ukuran "pengertian" anak-anak. Dengan kata lain, opini di atas, kekhawatiran itu, berangkat dari "pengertian" orang dewasa yang diatasnamakan "pengertian" anak-anak. "Pengertian" anak-anak sendiri tidak pernah termanifestasikan. Dengan "pengertian" semacam itu, anak-anak justru telah "didewasakan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, itulah persoalannya, orangtua yang selalu merasa tahu alam pikir anak-anak. Orang dewasa yang merasa paling tahu apa yang pantas dan tidak bagi anak-anak. Sebuah anggapan bahwa anank-anak adalah makhluk yang gampang retak, mudah tercemari, dan karena itu butuh pertolongan. Padahal, orangtualah yang seharusnya lebih butuh diselamatkan. Proteksi mereka, kecemasan mereka, sebenarnya adalah kekhawatiran pada diri sendiri akan sebuah "masa depan" anak-anak. Padahal, masa depan anak-anak itu, kelak menjadi milik mereka sendirim, bukan milik orang dewasa atau orangtuanya, dan karena itu tidak bisa diarahkan, didesain, apalagi dalam kultur kecemasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak adalah anak-anak. Orang dewasa harus melihat anak-anak sebagai anak-anak. Ketika Kiki menyanyi "Aku Mencintaimu Apa Adanya" Once, yang tersaji adalah ungkapan seorang anak pada orangtuanya yang memilik keterbatasan, cacat fisik tapi bukan cacat cinta. "Pengertian" Kiki bukanlah "pengertian" Once atau Kak Seto. Ekspresi Kiki tidak sebangun dengan luahan rasa Once. Lagu itu dipilih Kiki sebagai "rumah" untuk menampung semua pengalaman pribadinya bersangkutan dengan ayahnya, juga penyataan dia tentang bagaimana mencintai seseorang yang memilik keterbatasan. Dan pengalaman pribadi Kiki tidak sama dengan Once atau Dewiq yang menciptakan lagu tersebut. Dan ketika Kiki bernyanyi, tak ada sebersit ingatan pun yang memperhubungkannya dengan "pengertian" dewasa itu. Lagu dewasa itu, justru sempurna dalam ungkapan kekanakan Kiki. Lagu itu tidak membuat Kiki jadi dewasa. Tak ada yang berbahaya di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, Kak Seto, Andi/rif, hakikatnya, lagu seperti puisi. Dia menyentuhmu dalam pengalaman personalmu, dalam "pengertian" privatmu. Pengertian itu multak milikmu, berada dalam duniamu. Baik kamu dewasa atau anak-anak. Dan haram hukumnya "pengertian" personalmu itu kamu paksakan jadi "pengertian" orang lain. Karena, jika kamu tetap memaksakan pengertian itu, sungguh kamulah yang tidak dewasa, dan engkaulah yang patut dicemaskan, lebih layak diselamatkan, daripada anak-anak yang bernyanyi cinta dalam pengertian dan dunia kanaknya....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;[Telah di Harian &lt;I&gt;Suara Merdeka&lt;/I&gt;, Minggu 30 Maret 2008]&lt;/B&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10916372-4444631528528586977?l=auliamuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/feeds/4444631528528586977/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10916372&amp;postID=4444631528528586977' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/4444631528528586977'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/4444631528528586977'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/2008/03/biarkan-saja-anak-berlagu-cinta.html' title='Biarkan Saja Anak Berlagu Cinta'/><author><name>sujud ilalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/R-tPtB4j_mI/AAAAAAAAAGc/yuotXlgNQIQ/s72-c/idolacilik2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10916372.post-2959553130309105986</id><published>2008-03-12T20:24:00.002+07:00</published><updated>2008-03-12T20:29:12.170+07:00</updated><title type='text'>Ayo Rayakan Keamatiran!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/R9faDxJ1yAI/AAAAAAAAAGU/bIBjqrOuXjg/s1600-h/aceh.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/R9faDxJ1yAI/AAAAAAAAAGU/bIBjqrOuXjg/s400/aceh.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5176846054954747906" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;I&gt;BULLETIN&lt;/I&gt;, majalah yang telah menjadi "otak" warga Australia, akhirnya padam juga. Scott Lorson, pemimpin majalah itu, dengan sedikit terbata, mengumumkan edisi "Why We Love Australia" sebagai cetakan terakhir, di awal Februari lalu. Padahal, kata Lorson, "&lt;I&gt;The Bulletin has been an institution in Australian publishing and has provided... the best quality, in-depth news and current affairs analysis in the country&lt;/I&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;I&gt;The Bulletin has often set the political agenda, broken many important stories and won many award for journalism over the years&lt;/I&gt;."&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang membuat majalah dengan sejarah 128 tahun itu tumbang?  Harold Mitchell, analis media, punya jawaban.  "Bulletin tidak menemukan jalan untuk menjadi bagian dari Australia yang modern, dan bagian dari kehidupan kami," ucapnya. "Bulletin gagal memodernisasi diri dan bersaing dengan internet."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Majalah yang modern, bagi Mitchell, adalah yang menjadikan internet bukan semata  "corong baru" untuk perluasan pasar, melainkan "telinga" untuk mendengar suara warga, dan kanal untuk saling bertukar kuasa produksi-distribusi berita. Itulah yang disebut Mitchell, "Bagian dari kehidupan kami." &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;&lt;CENTER&gt;****** &lt;/CENTER&gt;&lt;/B&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Internet. Suara warga. Bertukar kuasa produksi dan distribusi berita. Semua kosa kata tadi mengacu pada satu hal: &lt;I&gt;citizen journalism&lt;/I&gt; atau jurnalisme warga, sebuah "gerakan" yang muncul sebagai wujud "ketidakpuasan" pada jurnalisme &lt;I&gt;mainstream&lt;/I&gt;. Dalam &lt;I&gt;citizen journalism&lt;/I&gt;, warga adalah konsumen sekaligus produsen berita. Tugas editor, yang biasanya melakukan penyelarasan berita untuk pembaca yang dituju, ditampik. Dalam jurnalisme warga, subjektivitas dibiarkan, kaidah baku penulisan ditanggalkan, sudut pandang boleh bercecabang, opini dan hasutan kadang berkelindan. Semua "dibolehkan" karena &lt;I&gt;citizen journalism&lt;/I&gt; adalah warga yang menulis, bukan wartawan, warga yang bercerita, karena berita adalah percakapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan karena &lt;I&gt;citizen journalism&lt;/I&gt; merayakan kebebasan warga untuk membuat berita, di sini, istilah itu pun cepat meraih gempita. Warga kini punya kuasa, punya justifikasi untuk melakukan hal yang sama dengan wartawan. Ucapan sejumlah pakar disiarkan, Jay Rossen menjadi nabi baru, Tim Porter sebagai khalifah, dan &lt;I&gt;ohmynews&lt;/I&gt; didudukkan sebagai surga yang dituju. Pesta Blogger 2007 pun mengklaim sebagai suara baru Indonesia, dan media mewartakannya sebagai "ajang berkumpulnya pewarta warga". Tak ada yang salah memang, karena sebagai istilah, &lt;I&gt;citizen journalism&lt;/I&gt; memang susah ditentukan, batasnya, juga arahnya. 11 kategori yang dijabarkan Steve Outing dalam "The 11 Layers of Citizen Journalism" kian menegaskan luasnya ranah --sekaligus tidak jelasnya-- istilah ini. Jay Rosen yang menolak mendefenisikan, kian membuat siapa pun warga yang menulis dapat mengklaim diri menjadi bagian dari kegempitaan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, sebenarnya, siapakah mereka yang dapat disebut sebagai pewarta warga? Apakah blog-blog yang berisi curahan hati dan atau resep masakan? Atau blog berisi puluhan tips, kutipan bijak dari berbagai buku, ratusan opini berupa kritik terhadap "penguasa"? Dan manakah situs yang sungguh menjalankan "prinsip" citizen journalism?  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;&lt;CENTER&gt;*******&lt;/CENTER&gt;&lt;/B&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aceh, akhir 2004. Tak ada yang mengira tsunami akan menerakakan negeri Serambi Mekah ini. Luluh-lantak. Aceh lebur, tapi media tak bisa mewartakannya. Wartawan sibuk menyelamatkan diri dan atau mencari keluarganya yang hilang. Tak ada gambaran yang jernih bagaimana sebenarnya muasal penderitaan akibat tsunami itu. Media, karena keterbatasan data, sibuk menduga, berspekulasi, dan hanya bercerita tentang korban. Awal kejadian, tak tergambarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, muncullah video dokumenter itu. Jelaslah kini semuanya: bumi yang mendapat getaran pertama, wajah-wajah yang pias-cemas, gerak air pasang, terjangan gelombang, jeritan, doa, pekikan Allahuakbar! Selebihnya adalah tangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cut Putri yang berada di belakang kamera itu. Dia bukan wartawan, cuma warga, yang ingin merekam sejak getar pertama dirasakan keluarganya. Dia semula tak menyangka gempa itu akan menjadi neraka, dan merekam tanpa maksud untuk disiarkan. Karena itu, berkali-kali kameranya goyang, membuat sudut pandang bercecabang. Suara yang terekam pun, bukan nada-nada yang enak didengarkan. Cut Putri jelas amatir. Tapi yang amatir ini, yang merekam suasana apa yang ingin dia lihat, dan bukan apa yang dia bayangkan penonton ingin lihat, meniadakan jarak. Rimbun air mata, lolongan putus asa, demikian jelasnya. Putri tanpa sadar, telah membuat pengalaman personalnya menjadi pengalaman publik. Publik melalui "kacamatanya" mendapatkan sesuatu yang murni, tanpa "frame", tanpa tendensi, juga bunga kata. Sudut-sudut yang ditangkap kameranya adalah jejak yang tak biasa, yang pasti tak akan mendapat tempat dalam kamera jurnalisme biasa; papan yang hanyut, gerak air meninggi, patahan pelepah kelapa, kata-kata cemas dan juga desis harap, kronologi yang semula tak mungkin tampil di televisi karena alasan durasi. Kamera putri adalah mata orang yang terlibat, yang tak berjarak dengan peristiwa. Dia mengalami dan bukan sekadar melaporkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, sampai kini, siapa yang "mengikuti" jejak Putri? Ada berapa banyak pewarta warga yang mampu melihat dan menjadikan "pengalaman personal menjadi milik publik"? Atau sebaliknya, pengetahuan publik menjadi pengalaman personal, sebagaimana yang dilakukan warga Kanada, ketika merekam polisi yang memerasnya di Bali? Pemerasan, pungli yang dilakukan polisi adalah rahasia umum, tapi sampai kini, "rahasia" itu tidak menyentuh, tidak menggerakkan karena tidak "dikelola" menjadi situasi yang personal. &lt;I&gt;Citizen Journalism&lt;/I&gt;, karena dari warga, seharusnya menangkap secara utuh denyut urat nadi warga, yang mampu membangun jalinan emosi, dan kalau bisa, menggerakkan warga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putri juga menunjukkan satu aspek yang sangat penting, lokalitas. Yang tampil adalah wajah orang-orang terdekatnya, lingkungan sekitar rumahnya, kecemasan dan dengung Allahuakbar ninikmamaknya. Lokalitas, subjektivitas, ketakberjarakan. Itulah yang coba ditampik jurnalis "tulen", dan mendapat tempat di pewarta warga. Tapi, manakah situs atau media yang secara ketat mengadopsi tiga hal itu? &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;CENTER&gt;&lt;B&gt;****** &lt;/B&gt;&lt;/CENTER&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mana video Cut Putri ditayangkan? Di &lt;I&gt;MetroTV&lt;/I&gt;. Media mana yang memuat video pungli yang dilakukan polisi Bali? Youtube, dan kemudian dikutip &lt;A HREF="http://detik.com"&gt;detik.com&lt;/A&gt;, dan juga &lt;A HREF="http://suaramerdeka.com/smcetak" TARGET="_blank"&gt;Suara Merdeka&lt;/A&gt;. Situs yang mengusung khusus kredo &lt;I&gt;citizen jornalisme&lt;/I&gt;, berapa hitnya atau cepatkah &lt;I&gt;up-date&lt;/I&gt;-nya? Lebih banyak mana hit dan kecepatan beritanya, di bandingkan dengan "citizen journalism" yang juga dikelola media umum seperti &lt;A HREF="http://www.kompas.com" TARGET="_blank"&gt;&lt;I&gt;kompas.com&lt;/I&gt;&lt;/A&gt; dan &lt;I&gt;&lt;A HREF="http://citizennews.suaramerdeka.com" TARGET="_blank"&gt;Suara Merdeka Cybernews&lt;/A&gt;&lt;/I&gt;? Darimana sumber pembiayaan mereka? Sudahkah dilirik pengiklan? Apakah "percakapan" terjadi secara alamiah, dengan keterlibatan yang intens? Benarkah pewarta berada dalam kelokalan yang sama?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Australia, Majalah &lt;I&gt;Bulletin&lt;/I&gt; yang berusia 128 tahun memang runtuh, karena gagal beradaptasi dengan internet, tidak berbagi kuasa dalam pendistribusian berita, yang seperti kata Mitchell, "Bagian dari kehidupan kami." Dan di sini harus kita akui, internet justru belum menjadi bagian dari kehidupan kita. Karena itu, &lt;I&gt;citizen journalisme&lt;/I&gt; belum akan menjadi ancaman bagi media &lt;I&gt;mainstream&lt;/I&gt;. Kita mungkin lebih baik untuk menyetiainya, mengembangkannya, merayakannya, karena warga memang punya kuasa atas produksi dan distribusi berita. Karena kita percaya, warga memang bisa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;[Pokok pikiran dalam seminar "Citizen Journalisme: Ancaman bagi Media Massa" di UNS, Solo, 29 Februari 2008]&lt;/B&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10916372-2959553130309105986?l=auliamuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/feeds/2959553130309105986/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10916372&amp;postID=2959553130309105986' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/2959553130309105986'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/2959553130309105986'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/2008/03/ayo-rayakan-keamatiran.html' title='Ayo Rayakan Keamatiran!'/><author><name>sujud ilalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/R9faDxJ1yAI/AAAAAAAAAGU/bIBjqrOuXjg/s72-c/aceh.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10916372.post-971273372585772237</id><published>2008-03-04T19:32:00.005+07:00</published><updated>2008-03-04T19:50:47.377+07:00</updated><title type='text'>Tangis Kemenangan Indra Brugman</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/R81CBQO12tI/AAAAAAAAAGM/Vwb9gYtHmaY/s1600-h/indra.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/R81CBQO12tI/AAAAAAAAAGM/Vwb9gYtHmaY/s400/indra.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5173864136223087314" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INDRA Brugman kalah juga. Berkali dia mengucek, menahan cairan hangat itu jatuh, namun ketika di sudut kanan, matanya menangkap isakan Mama Mimi, tangisannya pun pecah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, Indra kalah, melawan kenangan pedih ketika melihat Mama Mimi berjualan gorengan untuk membiayai keluarga mereka. Dia tahu betul bagaimana pengorbanan Mama Mimi saat itu, tapi Indra tak kuasa membantu. Itulah sebabnya, ketika di Jakarta, setiap ada penjual gorengan, Indra selalu membelinya, kalau bisa menghabiskannya. "Karena saya selalu berdoa, di sana, di rumah, ada juga yang membeli gorengan Mama, dan menghabiskannya..."&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selasa malam itu (26/2), panggung grandfinal "Supermama Seleb Concert" jadi milik Indra. Semua penonton seperti terhisap pada kenangan masa lalunya, yang demikian pedih. Tak ada lagi akting. Indra luruh, dan mengisak, tangisan anak yang demikian sakit karena merasa dalam salah satu episode hidupnya, pernah membuat sang mama berkorban terlalu besar. Dia peluk Mama Mimi, dia abai pada ingus yang jatuh dari hidungnya. "Terimakasih Mama, terimakasih..." bisiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di belakang mereka, Eko Patrio menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi kiri, di jajaran peserta, Mama Lutfia, terisak. Tangannya digenggam Adly, putranya, seakan memberikan kekuatan, untuk tak larut dalam kesedihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruben Onsu, yang selalu bercanda gila, seperti kehilangan suara. Ivan Gunawan, yang meminta Indra bercerita, memandang dengan mata berkaca. Dia juga menahan sedan. Panggung "pesta" itu senyap. Isakan, suara tangis, menjadi orkestra yang demikian indah, musik yang bercerita kasih anak dan orang tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Eko kemudian memberi nilai yang lebih dalam lagi. Sehabis melap matanya, dengan suara yang belum bebas dari tangis, dia berkata, "Yang penting dari kita adalah bukan di posisi mana saat ini, melainkan bagaimana cara kita bisa meraih posisi itu." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, Eko benar. Yang menggetarkan dari pengamanan Indra Brugman bukanlah posisinya sekarang sebagai aktor terkenal, melainkan perjuangannya meraih itu semua. Dengan kata lain, Indra meraih semua posisi itu dengan tidak menggadaikan kehormatannya, harga dirinya. Indra membayar pantas, tanpa jalan pintas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dilakukan Indra, dengan demikian, nyaris jadi anomali dalam dunia industri. Ketika semua orang ingin cepat populer, yang patuh pada proses, sering terlindas. Yang cepat, dapat. Jalan pintas, wajar dan benar. Industri membuat semua orang lebih menghitung posisi. Berada dalam satu status, terutama selebritis, adalah segalanya. Apa pun boleh dikorbankan untuk meraih itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tahu berbagai rumor seram dalam hal itu, mulai membayar juri, "menjual" keperawanan, sampai menjadi istri simpanan, hanya untuk meraih sebuah peran. Dan banyak artis yang mengakuinya, kemudian. Mereka seakan mengatakan bahwa hal itu adalah harga dari sebuah popularitas, sebuah tujuan. Moral orang kebanyakan jadi tidak cocok sebagai ukuran. "Gue terpaksa melakukan itu," kata Cut Memey, ketika statusnya sebagai istri simpanan Jakcson terungkap. Alm Alda Risma pun punya "sejarah" yang sama, juga Mayangsari, tentunya. Dan yang tak terbantahkan, "si kembar" Sarah dan Rahma Azhari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, terasa ajaib, ketika di tengah tangis panggung "Supermama seleb Consert" itu, Eko menegaskan bahwa posisi tak terlalu berarti. Barangkali Eko tahu, sangat sedikit artis kini, yang meraih posisinya dengan meneteskan airmata, dan terus berjuang, tetap sebagai manusia. Eko mengerti, karena seperti Indra, dia pun melakukannya. Mereka bermimpi dan mewujudkan mimpi itu dengan sempurna, sebagai buah usaha dan doa. Tangis malam itu, adalah isakan mereka yang bahagia, tetap memilih menjadi manusia, di jalan yang menjadi binatang pun akan dianggap biasa. Tangis itu adalah perayaan kemenangan mereka....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;[Telah dimuat sebagai "Tajuk" dalam &lt;I&gt;Tabloid Cempaka&lt;/I&gt;, Kamis 6 Maret 2008]&lt;/B&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10916372-971273372585772237?l=auliamuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/feeds/971273372585772237/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10916372&amp;postID=971273372585772237' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/971273372585772237'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/971273372585772237'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/2008/03/kemenangan-indra-brugman.html' title='Tangis Kemenangan Indra Brugman'/><author><name>sujud ilalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/R81CBQO12tI/AAAAAAAAAGM/Vwb9gYtHmaY/s72-c/indra.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10916372.post-8238726401962985354</id><published>2008-02-20T15:12:00.001+07:00</published><updated>2008-02-20T15:16:44.840+07:00</updated><title type='text'>DNA Gosip</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/R7vhzjBQyeI/AAAAAAAAAGE/5AoI1vj6mG4/s1600-h/mayangsari.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/R7vhzjBQyeI/AAAAAAAAAGE/5AoI1vj6mG4/s400/mayangsari.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5168973273027889634" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa kejam gosip, barangkali Jenny Nuraeni yang paling tahu saat ini. Setahun lalu, dia kehilangan putranya, Adi Firansyah, dalam sebuah kecelakaan berdarah. Di tengah tangis kehilangan, dia masih harus menghadapi rentetan pertanyaan tentang status perceraian anaknya, perebutan harta waris, sampai gosip asmara Adi dan Ussy Sulistyawati. Tapi Jenny menghadapi semuanya, kadang dengam masgul, sebagaimana yang acap tampak di televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kini, Jenny tidak tahu lagi harus berkata apa. Gosip menyebutkan, Khirania Siti Hartina, anak Mayangsari, adalah benih yang ditanam Adi, dan bukan buah cinta Mayang dan Bambang. "Anak saya sudah meninggal. Kok sekarang malah dikait-kaitkan dengan permasalahan orang-orang besar. Berita itu tidak mungkin!" bantahnya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Jenny, gosip itu bukan hanya menyakiti hatinya sebagai seorang ibu, tapi juga menakutkan. Dia ngeri, gosip itu tak hanya mengaitkan Adi, tapi juga seluruh keluarganya. "Saya khawatir dengan keluarga saya. Terutama adik-adik almarhum," katanya. "Semua orang tahu, Bambang adalah suami Mayang. Tapi kok kenapa almarhum anak saya yang disebut-sebut sebagai ayah Khiran," tanyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenny tidak sendiri. Dalam kadar yang berbeda, Luna Maya pun mengalami hal yang sama. Ariel mengajukan cerai, namanyalah yang digosipkan sebagai orang ketiga. Luna sampai tak mengerti, mengapa media selalu menyangkakan sesuatu yang tidak pernah dia lakukan. Dia bahkan sampai putus asa. "Terserahlah kalian mau bilang apa..." katanya kepada media infotainmen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekejaman gosip terutama bukan pada kabar yang beredar, tapi sumber yang tidak dapat ditemukan. Gosip tak memiliki sumber, datang sebagai kabar angin. Dan karena itu, tak pernah ada dakwaan pada si penunggang gosip. Pewarta gosip, dengan kilah itu, jadi memiliki kebebasan untuk bertanya, tanpa beban apa pun. Yang mereka butuhkan bukanlah jawaban apakah gosip itu benar atau salah, tapi reaksi dari pihak yang disudutkan. Reaksi itulah yang penting, kaget-kejut itulah yang utama. Karena itu, kamera tak boleh alpa merekam reaksi, dan narator tak boleh lupa menambahkan pemanis kata-kata. Dan karenanya, gosip adalah bumbu yang dikembangkan dengan hiperbola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita dapat melihat sungguh hal itu di televisi. Reaksi Ariel yang kaget ketika ditanyakan hubungannya dengan Deanaya, janda pemilik salon di Bandung, sudah menjadi jawaban atas semuanya. Apa pun bantahan Ariel, narator tidak mengindahkannya. Reaksi tubuh itulah jawabannya, sebuah reaksi yang, mengutip kata narator "Insert", "sesuatu yang tidak dapat disembunyikan..." Reaksi itu diubah infotainmen menjadi pembenaran, ke-be-na-ran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah cara kerja gosip. Dan pewarta rumor sangat paham hal ini. Mereka tak perlu menunjukkan dari mana kabar itu datang, dan siapa yang mengatakan. Dan mereka berhak marah, atau memaksa, jika objek gosip tak mau menjawab pertanyaan. Rasa sakit, terluka, ketakmengertian yang diterima si objek atas rentetan gosip itu adalah hal yang dicari, dan kalau bisa, dimunculkan, untuk disantap kamera. Gosip mencapai keberhasilan, dan dianggap benar, ketika si sumber ketakutan, cemas, menghindar...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Jenny tidak menghindar. Dia tahu, almarhum Adi tak lagi bisa membela diri, ketika gosip mempermalukannya. Ibu yang wajahnya tampak letih itu bersedia melakukan apa pun untuk membersihkan nama anaknya. "Saya siap membuktikan dalam bentuk apa pun, termasuk tes DNA," tegasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mayang dan juga Bambang tak pernah memasalahkan soal Khiran. Jadi, kalau pun tes DNA dilakukan, pembuktian itu untuk siapa? Selain Bambang dan Mayang, siapa sesungguhnya yang punya hak untuk mencari tahu DNA Khiran? Dan kepada siapa pembuktian itu akan diberikan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gosip tidak mementingkan hal itu. Karena, ketika gosip tersebar, dirinya telah menjadi kebenaran. Sebelum dibuktikan, sebelum konfirmasi dilakukan. Maka beruntunglah orang yang tidak terkena gosip, dan celakalah, orang yang memproduksi dan atau menunggangi gosip, lalu bertanya tanpa rasa dosa, terutama untuk Adi Firansyah, yang telah tak ada lagi di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gosip adalah senjata tak bertuan. Melukai, menyakiti, tanpa pernah bisa dimintai pertanggungjawaban. Ajaibnya, betapa banyak yang menikmatinya, setia memamahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;[Diterbitkan sebagai "Tajuk" di &lt;I&gt;Tabloid Cempaka&lt;/I&gt;, Kamis 21 Februari 2008]&lt;/B&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10916372-8238726401962985354?l=auliamuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/feeds/8238726401962985354/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10916372&amp;postID=8238726401962985354' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/8238726401962985354'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/8238726401962985354'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/2008/02/dna-gosip.html' title='DNA Gosip'/><author><name>sujud ilalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/R7vhzjBQyeI/AAAAAAAAAGE/5AoI1vj6mG4/s72-c/mayangsari.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10916372.post-7537096018799610942</id><published>2008-02-05T14:17:00.000+07:00</published><updated>2008-02-05T14:25:57.372+07:00</updated><title type='text'>Ketika Peranan Menjadi Diri</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/R6gPKxonXoI/AAAAAAAAAF8/GZPb5U6OCko/s1600-h/tajuk-peran.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/R6gPKxonXoI/AAAAAAAAAF8/GZPb5U6OCko/s400/tajuk-peran.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5163393650577071746" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seberapa dalamkah sebuah peran merasuki hidup seseorang? "Beberapa hari setelah usai syuting, aku masih merasa diriku ini orang lain. Butuh waktu lama bagiku untuk keluar dari karakter yang aku perani. Kadang aku takut diriku tak pernah seutuhnya bisa kembali."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah pengakuan aktor Robert De Niro, yang aktingnya selalu berbuah pujian. Pengakuan yang menunjukkan bahwa memainkan dan masuk dalam sebuah karakter bukanlah hal mudah. Namun, keluar dari watak yang telah dimainkan ternyata lebih sulit lagi. Karena itulah, aktor "jenius" ini tak sembarangan memilih peran. Ada bagian dirinya yang harus selalu siap dipertaruhkan. Memerankan adalah mengizinkan dirinya "dibawa" watak lain, tanpa ada kepastian bisa kembali. Film bagus &lt;I&gt;Being John Malkovich&lt;/I&gt; menunjukkan dengan manis akibat ketika sebuah peranan tak bisa keluar dari diri sang aktor.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berperan, memainkan dan masuk dalam sebuah watak, dengan demikian adalah sebuah keberanian, dan juga pengorbanan. Dan tidak banyak aktor yang punya keberanian seperti itu, apalagi keridhaan untuk berkorban, khususnya di Indonesia, ketika sebuah peran hanya dimaknai sebagai aksi sebatas panggung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa yang ada di panggung dan televisi hanya sebuah peran, semata-mata untuk keperluan entertain. Kalau keseharian aku seperti itu, ya memang gaya aku dari sananya. Tidak bisa diubah &lt;I&gt;kali&lt;/I&gt;," kata aming.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku santai saja. Hari ini aku pakai bulu mata, mungkin besok aku tampil botak, brewokan atau klimis. Itu hanya tampilan luar saja. Tapi kalau bicara isi, sungguh sama sekali tak ada yang berubah," ungkap Ivan Gunawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dia begitu karena tuntutan peran. Ivan seorang lelaki yang berprofesi sebagai desainer. Kalau dia tampil feminin, karena itulah perannya, jualannya," bela Rossa, mantan pacar Ivan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Menjadi perempuan buat aku sebuah pekerjaan. Kenapa tidak? Aku dibayar karena aku tampil sebagai perempuan. Jadi sebagai wujud profesionalitas saja," tambah Olga Syahputra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka --Aming, Ivan, dan Olga, membicarakan peran dengan riang, seperti memakai &lt;I&gt;make-up&lt;/I&gt;, yang beberapa saat kemudian bisa dihapus atau dibuang. Peran, peralihan watak, pemilihan karakter, dianggap sebagai hal yang biasa, lazim, dan dengan enteng diterima karema mereka yakin, "isi sama sekali tidak ada yang berubah." Ivan mengaku tetap lelaki sejati, Aming pun begitu, Olga apalagi. "&lt;I&gt;Astagfirullah aladzim&lt;/I&gt;. Olga tetap laki-laki. Aku menjalani pekerjaan ini untuk mencari rejeki. yang penting halal, tidak menyakiti hati orang. aku diberi peran, ya sudah aku jalani..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Olga, Aming, dan Ivan, barangkali tidak menyadari, ada yang selalu tinggal di dalam diri mereka setiap kali peran ditanggalkan. Itulah yang membuat Andy Garcia mengurung diri, karena peran pembunuh acap "mendorongnya" untuk melakukan aksi, justru ketika film telah selesai dibuat.  Artinya, sebuah peran yang mendalam, dan lama dimainkan, akan menjejaki diri sang aktor. Membuat dirinya pelan-pelan, bukan tidak mungkin, dikolonisasi watak peranan. Christine Hakim butuh waktu tiga bulan untuk benar-benar bisa bebas dari infiltrasi peran yang dia mainkan dalam sebuah film. Pengorbanan yang besar untuk akting yang memang selalu bersinar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aming, Ivan, dan Olga, bisa merasa diri tetap tak berubah, atau berpura tak menyadari diri berubah. Tapi, lihatlah, sekeliling mereka pasti dapat meraba perubahan itu. Di Thailand pada saat pergantian tahun lalu misalnya, Aming yang berlibur ke Pattaya, ditolak memasuki arena hiburan karena dia dinilai &lt;I&gt;ladyboy&lt;/I&gt; alias banci. Aming marah. Tapi kemarahannya tak mampu meyakinkan penjaga bahwa dia adalah lelaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Olga pun mengakui hal itu. Pulang manggung, di jalan dia digoda lelaki bule, karena dikira banci. "Mungkin aku tampak lebih cantik daripada perempuan asli ya?" katanya, bangga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Olga, Aming, merasa terbebani dengan peran itu. "Saya pakai &lt;I&gt;image&lt;/I&gt; banci karena memang lagi digemari. Nanti jika mereka sudah bosan, aku akan mencari ladang lain," yakin Aming. Mencari ladang lain, memerankan karakter lain, Aming mungkin bisa. Tapi, apakah dia sepenunnya bisa membuang karakter banci yang bertahun-tahun dia temani dan tumbuhkan di dalam dirinya? Bisakah Aming atau Olga memisahkan diri antara Aming yang banci dan Aming yang lelaki? Karena, sehari-hari pun, Aming telah nyaman memakai busana perempuan, berkaos ketat dan berstoking panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ivan, Aming dan Olga, seperti Tata Dado juga, tak menyadari, atau tak ambil peduli, jika peran banci yang mereka mainkan kini, suatu hari, kelak, akan menjadi diri mereka sendiri. Pengorbanan yang terlalu berani atas nama peran, yang sesungguhnya, maaf, tak terlalu berarti, karena sekadar memancing tawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;[Artikel ini telah dimuat sebagai "Tajuk" di Tabloid &lt;I&gt;Cempaka&lt;/I&gt;, Rabu 6 Februari 2008]&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10916372-7537096018799610942?l=auliamuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/feeds/7537096018799610942/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10916372&amp;postID=7537096018799610942' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/7537096018799610942'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/7537096018799610942'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/2008/02/ketika-peranan-menjadi-diri.html' title='Ketika Peranan Menjadi Diri'/><author><name>sujud ilalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/R6gPKxonXoI/AAAAAAAAAF8/GZPb5U6OCko/s72-c/tajuk-peran.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10916372.post-8427037945005797991</id><published>2008-01-24T12:57:00.000+07:00</published><updated>2008-01-24T13:02:08.242+07:00</updated><title type='text'>Cinta, Gairah, Arah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/R5gpkRonXnI/AAAAAAAAAF0/3u8VRDfp2NE/s1600-h/tyas+mirasih2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/R5gpkRonXnI/AAAAAAAAAF0/3u8VRDfp2NE/s400/tyas+mirasih2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5158919076338687602" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ORANG ketiga. Itulah sebab perpisahan Andrea dan Sammy Kerispatih. Meski Sammy membantah, Andrea tetap yakin hubungan antara Sammy dan Natalie bukan sekadar pertemanan biasa. "Aku melihatnya, kok. Jadi bagaimana aku tidak percaya?" katanya. Dan Andrea benar. Natalie pun merasa bahwa Sammy memberi hati padanya. Seperti tayang di layar kaca, Natalie mau "jalan" setelah Sammy mengaku telah berpisah dari Andrea.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya melihat tujuan kami telah tak sama lagi," terang Andrea. Ia bersedih, terutama setelah Sammy menampik cincin yang mereka kenakan sebagai tanda ikatan pertunangan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tyas Mirasih berbeda lagi. Awal tahun lalu, dia masih bermesraan dengan Lembu Club Eighties. Di tengah tahun, dia menjalin cinta dengan Raffi. Dan bulan September, dia berciuman dengan Bams Samson. Akhir tahun, Tyas sendiri lagi. Dalam setahun, tiga lelaki telah singgah di hatinya, dan ketiganya kemudian pergi. Dan ketika tampil di "Empat Mata", dengan enteng Tyas berkata bahwa perpisahan mereka terjadi karena ketidakcocokan semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidakcocokan barangkali bukan alasan yang sempurna. Karena kepada tiga lelaki itu, Tyas nyaris melakukan pola yang sama. Bersama Lembu, Tyas berpose mesra di Sanur Bali. Dengan Raffi, Tyas memeluk pasrah, di pantai Kuta. Dengan Bams apalagi, mereka tertangkap kamera berciuman, di belakang panggung ketika Samsons akan manggung, di Bandung. Sammy pun setali tiga uang. Bersama Natalie yang sintal itu, dia tampak begitu mesra, dan seperti bangga ketika tertangkap kamera. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta harus dimulai dengan gairah. Namun, cinta yang hanya dimodali gairah juga selalu cepat punah. Dan itulah yang tak disadari Tyas dan Sammy. Gairah memang membuat cinta jadi indah, tapi pasti sementara. Sebabnya satu,  gairah meminta misteri, hasrat yang tak pernah terpuasi. Dan ketika misteri cinta itu terkuak, hasrat terpuasi, gairah pun reda. Cinta kehilangan pesonanya, kehilangan kesetiaannya. Foto-foto ciuman mereka juga adalah bukti gairah yang sedang dipenuhi, gairah yang tertuntasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta harus dimulai dengan gairah, dan dipertahankan lewat arah. Inilah bagian cinta yang tidak dipunyai Tyas dan Sammy: arah. Karena bersandar pada gairah, Tyas tak pernah tahu akan ke mana muara asmaranya. "Kami mengalir saja. Kami tidak ingin menargetkan apa pun pada hubungan ini," demikianlah kata Tyas ketika masih berpacaran dengan Raffi. Tyas tidak punya tujuan, tidak memberi arah pada sebuah hubungan. Dan tanpa arah, sudah pasti, sebuah pasangan cuma menunggu waktu untuk berpisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tidak bisa bayangkan, bagaimana hidupku jika tanpa dia," kata Surya Saputra ketika melamar Cintya Lamusu. Dan di atas panggung "Seleb Dance" itu, Cintya biarkan Surya menyematkan cincin di jarinya. Dengan mata bercahaya takjub, yang tak lepas memandang paras kekasihnya, dan bibir yang gemetar, dia hanya berucap pendek, "Terimakasih..." Selebihnya adalah tangis. Cintya bahagia karena dia percaya, mereka berdua telah menemukan dan berada dalam cinta, dengan gairah dan arah yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta dimulai dengan gairah, dan harus diikat oleh arah. Hanya dengan itu cinta bisa awet dan setia. Sungguh betapa sederhana. Sayang, begitu banyak yang tak menyadarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;[Telah dimuat sebagai "Tajuk" di Tabloid &lt;I&gt;Cempaka&lt;/I&gt;, Kamis 24 Januari 2008]&lt;/B&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10916372-8427037945005797991?l=auliamuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/feeds/8427037945005797991/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10916372&amp;postID=8427037945005797991' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/8427037945005797991'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/8427037945005797991'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/2008/01/cinta-gairah-arah.html' title='Cinta, Gairah, Arah'/><author><name>sujud ilalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/R5gpkRonXnI/AAAAAAAAAF0/3u8VRDfp2NE/s72-c/tyas+mirasih2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10916372.post-4115275076593022145</id><published>2008-01-21T19:12:00.000+07:00</published><updated>2008-02-05T14:32:56.160+07:00</updated><title type='text'>Mereka yang Menasehati Diri Sendiri</title><content type='html'>Banyak orang yang tak menyadari, nasehat yang mereka berikan sebenarnya lebih cocok untuk diri mereka sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/R5SNQ-9jasI/AAAAAAAAAFs/8tpISIqltQ4/s1600-h/maya+di+supermama2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/R5SNQ-9jasI/AAAAAAAAAFs/8tpISIqltQ4/s400/maya+di+supermama2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5157902796164655810" /&gt;&lt;/a&gt;Di "Silat Lidah", komentator bebas bicara apa pun, tanpa basa basi. Tapi, sebebasnya Julia Perez, dia pasti tak akan diperbolehkan bicara sambil makan atau berkumur, atau tidur telentang di atas panggung. "Silat Lidah", bagaimanapun, masih bebas terbatas, bebas terkendali. Itupun telah membuat acara ini berisik sekali. Jadi bayangkanlah betapa riuh dan "berasak"nya "Supermama Seleb Show", ketika semua komentator dan peserta bebas melakukan apa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ivan Gunawan, komentator tetap di acara itu, misalnya, sering disapa Ruben Onsu dengan panggilan "Banteng", "Sapi", "Banci", sampai "Setengah Lelaki". Dan Ivan, meskipun berpura-pura marah, harus bisa menerima panggilan itu dengan riang, dan membalasnya kemudian. Baku hina antara kedua orang inilah yang selalu tertayang panjang di "Supermama Seleb Show", dan memancing riuh tawa penonton. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara itu sepertinya dibebaskan Indosiar berjalan apa adanya, termasuk soal waktu. Dimulai lepas maghrib, "Supermama Seleb Show" mungkin selesai pukul 22.30, namun acap lebih dari 23.30. Ivan bebas mengangkat kaki, bicara sambil nyanyi, berada di lingkaran penonton, bahkan menari dan berlarian di atas panggung. Tak ada yang melarang. Peserta juga tak dikenai aturan. Bedu misalnya, tiba-tiba menghilang ketika aksinya tengah dikomentari Hetty Koes Endang, dan ketika ditangkap kamera, tengah makan nasi bungkus berlauk sate. "Acara kelamaan, gue kelaperan," ucapnya ketika ditegur Eko Patrio. Apakah Eko menariknya ke atas panggung? Tidak. Dia ikut menemani Bedu dan makan bersama. Dan Dorce lalu melompat dari kursinya, menyusul Eko, mengambil sate dan mengunyahnya sambil tidur telungkup di panggung. Ulfa tak mau ketinggalan, dia pun telentang berebutan sate. Ketiganya seperti abai pada acara, ngerumpi rasa sate, dan tersadar ketika diteriaki Ruben untuk meneruskan acara. Penonton tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada yang boleh jaim, jaga &lt;I&gt;image&lt;/I&gt;, di acara ini. Maka komentator seperti Tri Utami, atau juga Maia, acap mati gaya, dan tak bisa bicara lama. Ruben terkadang harus bertanya dan bertanya agar Maia bisa bicara panjang dan "membual" sesukanya. Dan tetap gagal. Tri Utami lebih sering tertawa dan kehilangan konsentrasi karena penilaiannya selalu terpotong celotehan Ivan dan Ruben atau tingkah Eko di panggung. Inilah acara yang aksi peserta mungkin hanya 5 menit tapi dikomentari nyaris satu jam! Inilah acara yang setiap peserta harus rela ibunya dipermainkan dijadikan bahan lawakan, ditertawakan. Bedu misalnya, di penampilan awal pernah berkernyit dahi ketika ibunya, Mama Sri, dijadikan bahan lelucon oleh Eko. Namun, ketika nilai ibunya lebih tinggi dan membantunya untuk tetap bertahan, Bedu sepertinya mengikhlaskan keluguan Mama Sri dijadikan bahan tertawaaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Cinta tanpa Kalkulasi&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara yang berisik sepertinya telah jadi magnet baru di televisi. Rating acara super berisik ini ajaibnya justru tinggi sekali. Cikal-bakalnya, barangkali, dimulai oleh "Ceriwis" di &lt;I&gt;TransTV&lt;/I&gt;. Duet MC Indi Barens-Indra Bekti jadi warna baru dengan celotehan yang "kacau", penuh hahahihi. Namun, keberisikan itu masih normal dibandingkan "Silat Lidah" &lt;I&gt;Anteve&lt;/I&gt;, dan kini "Supermama Seleb Show" &lt;I&gt;Indosiar&lt;/I&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, di tengah magnet berisik itu, &lt;I&gt;TransTV&lt;/I&gt; justru menayangkan acara yang tenang, tak memicu konflik, dan naratif. Tayangan non-argumentatif itu diwakili oleh "Atas Nama Cinta" dan "Andai Aku Menjadi...". "Atas Nama Cinta" berisi paparan kisah nyata narasumber tentang cinta yang tak tergadai ketika bencana dan malapetaka datang. Cinta yang tetap tinggal di hati seorang istri ketika suaminya justru tengah menghadapi hukuman mati. Atau cinta istri yang tetap membara meski tubuh suami telah tak sempurna, dirusakkan nyala api. Acara itu dengan lembut menunjukkan manusia yang mencinta tanpa memakai kalkulator, ketika penilaian mata tunduk oleh suara hati. Manusia yang mencinta untuk, mengutip filsuf Gabriel Marcel, "dia yang &lt;I&gt;hadir&lt;/I&gt; bagi saya dan kepadanyalah saya setia, kendati kematian telah memisahkan kami". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Andai Aku Menjadi..." bercerita lebih nyata lagi, tentang kehidupan orang-orang kecil yang selama ini mungkin dipanglingi televisi. Kisah tukang sampah, nelayan, pengangon kambing, pemecah batu, diceritakan dengan wajar, tanpa hiperbola yang berlebihan. Kisah mereka diberi impresi kepada penonton dengan menghadirkan seorang peserta yang bersedia menjalani profesi dan memahami kehidupan mereka. Maka terbentanglah di layar kaca kamar yang sempit tanpa jendela, kasur bertumpuk, dan si nelayan yang berjaga sepanjang malam mengusiri nyamuk dari tubuh mungil anaknya. Atau peserta yang muntah tak tahan bau sampah, menangis karena menyaksikan anak yang merengek minta susu, atau melihat seorang ibu yang tak punya jawaban ketika anaknya meminta uang sekolah. Di layar itu, penonton melihat orang-orang kecil yang menjalani hidup tanpa keluh, yang menjawab kekurangan dengan doa. Manusia-manusia yang berusaha menampik kesulitan namun tak lari ketiga menemukan jalan buntu. Sosok-sosok yang menjalani hidup dengan sikap, seperti kata filsuf Nietzshe, &lt;I&gt;amorfati&lt;/I&gt;, menerima apa pun yang diberi nasib dengan sepenuh rasa cinta. Mereka, tidak seperti di "Supermama Seleb Show", sehari-harinya pasti jarang tertawa. Karena tertawa, barangkali, menghapus sebagian tenaga mereka untuk mengais rejeki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Menasehati Diri&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Supermama Seleb Show" dan "Andai Aku Menjadi" memang dua acara yang berbeda sekali. Namun, persamaan yang cukup kental dalam dua acara itu yakni penilaian komentator pada peserta. Bedanya, di "Supermama" penilaian kepada peserta terjadi hanya berdasarkan pandangan mata terhadap suara, busana, dan cara berkomunikasi. Ivan, Hetty Koes Endang, dan Pongky misalnya, menilai Bedu dengan liar dan bebas. "Kamu cukup jadi pelawak saja," kata Pongky, seakan Bedu memang sungguhan ingin menjadi penyanyi. Atau kritik Ivan yang acap menilai busana para mama dengan sinis, tak modis, kampungan, memberi efek gemuk, atau tabrak warna. Hetty apalagi, selalu memberi contoh dengan nada-nada tinggi, karena itulah cara bernyanyi yang dia sukai. Ketiga komentator itu menjadi pengamat, dan karena itu mereka berjarak dari para peserta. Jarak memang menisbatkan objektivitas. Tapi jarak juga membuat setiap objek pengamatan berada dalam rentang yang tak selalu dikuasai. Jarak juga membuat pengamat menjadi bersandar pada mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam "Andai Aku Menjadi...", jarak itu yang coba ditampik. Pengamat masuk ke dalam kehidupan objek, merasakan apa pun yang dialami dan dilakukan objek. Anita, penyiar radio, misalnya, ikut masuk lumpur untuk membersihkan empang, memikul air, sampai tidur bersarung di karpet apak, dengan kamar yang tak sepenuhnya terhindar dari angin malam. Ruri, mahasiswi, ikut menjala, berjualan tahu campur, dan merasakan kesakitan seorang suami yang terpaksa membiarkan istrinya terbaring sakit, karena tak mampu mengirim ke rumah sakit. Ruri menjadi "anak" selama dua hari, akhirnya menangis dan menyatakan tak kuat melihat penderitaan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketakberjarakan inilah yang membuat mereka kemudian sesenggukan ketika bercerita. Anita dan Ruri mengalami kejutan-kejutan batin ketika seluruh indranya merasakan hidup yang selama ini cuma dia lihat dan bayangkan. Anita berkaca-kaca karena tak pernah menyangka ada manusia yang tetap menjadi manusia di tengah segala himpitan yang nyaris tak masuk di akal. Manusia yang berusaha hidup dengan segala kehormatannya. Penilaian "komentator" di "Andai Aku Menjadi..." adalah objektivitas yang "aku alami", sedangkan di "Supermama" adalah penilaian yang "aku amati". Yang hilang di "Supermama" adalah keterlibatan diri, rasa empati dari kesakitan yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika, cara manusia memandang dunia adalah cara dia melihat dirinya sendiri," kata Cristoph Wulf dalam artikelnya "The Temporality of Word-Views and Self-Images", dan cara ia memahami dirinya sendiri adalah cara dia menilai dunia, maka kita jadi tahu "nilai" komentator di atas. Komentator di "Supermama..." sebenarnya mengomentari dan menilai diri mereka sendiri. Yang mereka lihat dari para peserta adalah kenaifan diri mereka sendiri. Dan semua komentar dan nasihat itu sesungguhnya untuk diri mereka sendiri juga. Jadi, wajahlah jika acara itu lucu dan lama sekali. Karena sudah watak manusia, tak pernah puas dan cukup waktu, untuk mematut diri, menjadi narsistik sejati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Artikel ini telah dimuat di Harian &lt;I&gt;Suara Merdeka&lt;/I&gt;, Minggu 27 Januari  2008]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10916372-4115275076593022145?l=auliamuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/feeds/4115275076593022145/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10916372&amp;postID=4115275076593022145' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/4115275076593022145'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/4115275076593022145'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/2008/01/mereka-yang-menasehati-diri-sendiri.html' title='Mereka yang Menasehati Diri Sendiri'/><author><name>sujud ilalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/R5SNQ-9jasI/AAAAAAAAAFs/8tpISIqltQ4/s72-c/maya+di+supermama2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10916372.post-8656328995088318672</id><published>2008-01-14T11:11:00.000+07:00</published><updated>2008-01-14T11:17:06.989+07:00</updated><title type='text'>Cinderella tanpa Pernikahan</title><content type='html'>Cinta yang fitri dan indah adalah yang mendukung superioritas lelaki. Cinta yang mendudukkan Fitri dan Indah sebagai perempuan yang pantas disantuni. Televisi memang kurang ajar sekali!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/R4rh6e9jarI/AAAAAAAAAFk/E2-HhnZeRaQ/s1600-h/sinetron+cahaya.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/R4rh6e9jarI/AAAAAAAAAFk/E2-HhnZeRaQ/s400/sinetron+cahaya.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5155181118338853554" /&gt;&lt;/a&gt;Ketika &lt;I&gt;Cinta Fitri&lt;/I&gt; berakhir, &lt;I&gt;SCTV&lt;/I&gt; langsung menayangkan &lt;I&gt;Cinta Indah&lt;/I&gt;. Dan baru saja &lt;I&gt;Cinta Indah&lt;/I&gt; tayang beberapa episode, segera muncul &lt;I&gt;Cinta Bunga&lt;/I&gt;. Tiga sinetron yang tak hanya mirip dari segi nama, tapi juga alur cerita. Shireen Sungkar, Sandra Dewi, dan Claudya Sinta Bella, yang bermain dalam ketiga sinetron itu, juga berada dalam "filosofi" karakter yang sama, dan hanya berbeda dalam rajutan dan pola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesamaan semacam itu memang telah lama jadi virus dalam sinetron Indonesia. Tapi, baru akhir-akhir inilah, keseragaman itu seakan menjadi sebuah "kewajiban", dan mewabah di semua televisi. Lihatlah, Setelah &lt;I&gt;Intan&lt;/I&gt; populer di &lt;I&gt;RCTI&lt;/I&gt;, seperti banjir di musim hujan, lahir sinetron seperti &lt;I&gt;Candy, Kasih, Olivia, Cahaya, Safira, Mutiara, Azizah, Mentari&lt;/I&gt; dan &lt;I&gt;Suci&lt;/I&gt;. Sinetron Ramadan bahkan ikutan memakai judul semacam itu, &lt;I&gt;Soleha&lt;/I&gt;. Sinetron untuk "anak-anak" pun sama, &lt;I&gt;Eneng&lt;/I&gt; lahir, &lt;I&gt;Entong&lt;/I&gt; pun muncul.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul sinetron yang terpola semacam itu ternyata juga melahirkan anasir cerita yang sama, perjuangan sepasang remaja dalam mewujudkan cinta. Perbedaan kelas sosial selalu menjadi bumbu utama yang membuat kisah cinta di dalam sinetron menemukan rasa. Rasa itu kemudian dipertajam dengan saos airmata, kecap kedengkian, dan tumisan ketidakmasukakalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Bersandar Dongeng&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keseluruhan sinetron di atas nyaris bercerita tentang perbedaan kelas, dengan tokoh perempuan berkasta sudra. Fitri, Indah, Kasih, Cahaya, dan Azizah, harus menerima hinaan dan kedengkian karena kepapaan mereka. Demikian juga Soleha dan Suci. Kisah kemudian berpilin tentang duka mempertahankan mimpi dan cinta sepasang remaja itu. Dan, &lt;I&gt;ending&lt;/I&gt; cerita, seperti yang bisa diduga sejak semula, adalah kebahagiaan yang akhirnya didapatkan sang tokoh utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita sinetron di atas, sesungguhnya tidak berbeda dari sinetron lepas "Legenda" dan "Dongeng" di &lt;I&gt;TransTV&lt;/I&gt;. Latar, setting, pemain, sutradara memang tak sama, tapi rajutan dan jemalin cerita menuju titik akhir yang sama ketika cinta telah disatukan. Dengan kata lain, skema seluruh sinetron kita masih menempatkan cinta sebagai sebuah kemurnian, dan sekaligus tujuan. Karena itu, segala pengorbanan yang dilakukan tokoh utama adalah demi mewujudkan cinta, mempertahankannya dalam sebuah ikatan perkawinan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari keseragaman alur cerita itu penonton juga melihat bahwa tentangan dan hambatan untuk menyatukan cinta selalu datang dari orang di luar tokoh utama. Pertama, status sosial yang berbeda. Kedua, orangtua tokoh pria yang tak ingin anaknya bersanding dengan wanita jelata. Ketiga, perempuan lain yang dihadirkan sebagai penggoda, berstatus sosial yang sebanding dengan tokoh pria, dan mendapatkan restu orang tua si tokoh pria. Dalam sinetron "dongeng" dan "Legenda" bertambah dengan tokoh jahat seperti penyihir atau raksasa. Di dalam cerita semacam inilah cinta menjadi energi yang membuat sang tokoh mampu menghadapi kedengkian dan berbagai godaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, tipe cerita di atas memang telah sangat kita kenali, bahkan dalam beberapa variasinya. Itulah cerita yang sepenuhnya bersandar pada tipologi Cinderella, Putri Salju, Putri Tidur, Romeo dan Juliet, Sampek Eng Tay, bahkan Roro Mendut. Dalam kemasan yang paling modern, dan sangat populer, keseragaman cerita tadi mewujud menjadi film &lt;I&gt;Pretty Women&lt;/I&gt;, yang melambungkan Julia Robert dan Ricard Gere. Tak ada yang baru dalam variasi cerita semacam ini, kecuali pernik-pernik konflik yang dimodifikasi. Namun, sejauh apa pun modifikasi itu, cerita semacam itu selalu berakhir ketika cincin disematkan, janji diucapkan, lonceng gereja berdentang, atau ijab kabul dilafalkan. Keseragaman cerita ini seakan menisbatkan cinta yang indah, yang layak dipertahankan dengan darah dan airmata, adalah cinta yang berakhir dalam perkawinan. Setelah itu tak ada lagi cerita. Cinta di dalam perkawinan seperti tak punya pesona.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Kepahitan Perkawinan&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percintaan adalah fajar pernikahan. Tapi pernikahan adalah senja percintaan. Pepatah "antah-berantah" itu yang agaknya dihidupi oleh watak dongeng, dan diafirmasi oleh industri televisi kita. Cinta dalam perkawinan seperti tak menemukan tempat. Kalau pun ada, gaungnya nyaris tak terasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;I&gt;Antv&lt;/I&gt; misalnya, pernah menayangkan sinetron &lt;I&gt;Satu Cincin Dua Cinta&lt;/I&gt;. Cerita kisah ini merupakan kelanjutan dalam sebagian besar sinetron Indonesia, kehidupan perkawinan. Irgi Fahrezi dan Vonny Cornelia bermain cantik dalam sinetron itu, dan menunjukkan bagaimana tidak indahnya mengelola cinta sesudah menikah. Dusta, pertengkaran, ketaksependapatan, justru lahir dalam cinta. Perselingkuhan dan masuknya wanita kedua, membuat sinetron itu seakan membongkar keyakinan tentang idealisasi perkawinan. Sinetron itu pun menegaskan bahwa musuh cinta sebelum pernikahan adalah orang di luar diri sang tokoh, dan hal itu akan mudah dihadapi berdua. Namun di dalam perkawinan, musuh utama cinta adalah diri sendiri, ketika kebosanan mulai bertandang, ketika pihak perempuan punya posisi tawar yang sama dengan lelaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita semacam &lt;I&gt;Satu Cincin Dua Cinta&lt;/I&gt; menunjukkan cinta dalam dimensi yang berbeda, yang lebih kaya,  nyata, dan hidup di dalam diri penonton. Tapi, justru cerita inilah yang diogahi industri televisi. Bukan saja karena menggarap sinetron semacam itu lebih rumit dan susah, melainkan juga ideologi industri yang berada di belakangnya. Dengan sinetron berwatak Cinderella, televisi sebenarnya mengukuhkan posisi perempuan sebagai sosok yang lemah. Fitri selalu dilindungi Farel. Indah, Intan, Cahaya, apalagi. Ada rasionalisasi di dalam seluruh sinetron bertipe ini bahwa perempuan adalah mahkluk yang harus dilindungi. Lelaki bukan saja harus mencintai perempuan yang papa, tapi juga menyantuni dan membela. Cinta dalam dimensi superioritas lelaki semacam inilah yang diam-diam menjadi anak kandung industri televisi. Cinta semacam itulah yang indah dan fitri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penonton, seperti kata Raam Punjabi, adalah mereka yang lelah, dan menonton untuk mencari hiburan. Dan dalam skema cerita cinta semacam itu sajalah hiburan dapat dihadirkan televisi. Maka, ketika sinetron berakhir, kita hanya dapat membayangkan bahwa tokoh utama akan terus bahagia. Seperti dongeng, yang juga selalu selesai ketika cinta disatukan, dan narator berkata, "Pangeran dan Putri hidup bahagia, selamanya..." Karena dalam pernikahan cinta butuh imajinasi yang lebih dashyat lagi, yang pasti tak akan mampu ditampilkan di dalam televisi kita, yang perajinnya hanya mampu meniru skema dongengan belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;[Artikel ini sudah dimuat di Harian &lt;I&gt;Suara Merdeka&lt;/I&gt;, Minggu 13 Januari 2008]&lt;/B&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10916372-8656328995088318672?l=auliamuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/feeds/8656328995088318672/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10916372&amp;postID=8656328995088318672' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/8656328995088318672'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/8656328995088318672'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/2008/01/cinderella-tanpa-pernikahan.html' title='Cinderella tanpa Pernikahan'/><author><name>sujud ilalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/R4rh6e9jarI/AAAAAAAAAFk/E2-HhnZeRaQ/s72-c/sinetron+cahaya.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10916372.post-591443219997616915</id><published>2008-01-09T12:46:00.000+07:00</published><updated>2008-01-09T13:14:41.323+07:00</updated><title type='text'>Perceraian Telinga dan Hati</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/R4Rgle9janI/AAAAAAAAAFE/gAoGJ91h8Os/s1600-h/kikan.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/R4Rgle9janI/AAAAAAAAAFE/gAoGJ91h8Os/s400/kikan.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5153350070701353586" /&gt;&lt;/a&gt;Kikan dan Yuke akhirnya bercerai. Padahal, sebelumnya, mereka telah bersepakat untuk bersatu lagi, demi anak-anak. Tapi, "Terlalu banyak perbedaan di antara kami. Komunikasi yang intensif tidak pernah terjadi. Keputusan ini adalah yang terbaik," terang Kikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nggak ada orang ketiga. Mereka cerai karena masalah komunikasi, makin ke sini makin nggak nyambung," ungkap Michael B.D. Hutagalung, kuasa hukum Yuke.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kikan mengajukan gugatan cerai April tahun lalu. Mereka kemudian berdamai karena yakin dengan komunikasi yang intens, semua perbedaan akan terjembatani. Nyatanya, 6 bulan tak cukup, perbaikan berarti tak terjadi. Desember kemarin, Kikan resmi menjanda.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiadaan komunikasi juga yang membuat masalah antara Dhani dan Maia terus melebar dan membesar. "Tadi mereka telah bicara, dan ada beberapa kesepakatan. Intinya, keduanya ingin memberikan yang terbaik bagi anak-anak," terang Kak Seto, yang menjadi mediator konflik mereka. Ketua KPAI Giwo Rubiyanto pun mengakui ketiadaan komunikasi yang menyebabkan konflik dan kesalahpahaman selalu terjadi antara Maia dan Dhani. "Tadi kami telah bertemu, dan Dhani sudah menjelaskan masalahnya. Ini hanya karena ketiadaan komunikasi saja," terangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dhani memang lebih sering mengomunikasikan masalahnya kepada media. Maia juga. Ketika bertemu, keduanya acap berdiam diri. Ketika jauh, masalah anak pun mereka cukupkan bicara melalui &lt;I&gt;SMS&lt;/I&gt;. Malah terkadang, "Sudah dua hari ini SMS saya belum dijawab," terang Maya, ketika meminta Dhani mengajak dirinya dan tiga anak mereka untuk ikut juga ke Malaysia, akhir Desember lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiadaan komunikasi. Itulah alasan sebagian besar perceraian para aktris. Sesuatu yang aneh, mengingat sebagai selebritis, mereka justru cerdas mengomunikasikan dirinya ke media. Komunikasi yang efektiflah  yang membuat mereka dapat diterima media dan penggemar. Dhani dengan arogansinya adalah komunikan yang jeli melihat dan memanfaatkan media dan memengaruhi penggemarnya. Maia apalagi, berbagai statmennya mencerminkan kecerdasannya memosisikan diri sebagai istri yang teraniaya dan ibu yang tidak bahagia. Kikan adalah motor Cokelat, yang acap menjadi juru bicara grup bandnya. Tapi, mengapa mereka justru gagal "berbicara" dengan pasangan hidup mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali, inilah yang terjadi: mereka berkomunikasi dalam "manajemen" gosip. Dalam gosip, komunikasi dilakukan dengan tujuan agar diri menjadi pusat perhatian. Orang lain adalah pihak yang kehadirannya hanya sebagai pelengkap, menguatkan posisi pembicara.  Manajemen gosip membuat orang lain selalu sebagai pihak yang mendengar, yang tak mengerti apa-apa, dan harus mengatakan "ya". Berbicara dalam manajemen gosip adalah berkomunikasi satu arah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kacamata manajemen gosip itulah kita dapat melihat bahwa Dhani dan Maia sama-sama bicara, hanya untuk didengarkan, dan bukan mendengarkan. Juga Kikan dan Yuke. Keduanya menempatkan diri sebagai pihak yang harus didengar. Dan di situlah muasal masalahnya, mereka sebenarnya tak berkomunikasi, karena bibir mereka tak lagi pernah menemukan telinga. Hakikatnya, mereka bermonolog.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunikasi pada dasarnya terjadi karena ada kesediaan untuk mendengar, kerendahatian untuk bersedia memahami. Dengan orang yang kita cintai, selain telinga dan bibir, komunikasi juga meminta hati: kejujuran untuk mengakui bahwa "aku bukanlah sosok yang sempurna dan karena itu maafku untukmu selalu tersedia". Hanya dengan itulah, komunikasi terjadi, dialog akan berarti. Sayangnya, hal mendasar dan kecil itulah yang acap tidak dimiliki para selebriti. Kamera dan gosip, popularitas dan uang, telah menutup hati mereka. Maka, ketika usai sidang cerai mereka berkata, "perceraian ini terjadi karena tak ada lagi komunikasi di antara kami," kita tahu apa yang sesungguhnya terjadi, mereka tak pernah menggunakan telinga dan membuka hati. Menyedihkan sekali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;[Dimuat sebagai "Tajuk" di Tabloid &lt;I&gt;Cempaka&lt;/I&gt;, Rabu 9 Januari 2008]&lt;/B&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10916372-591443219997616915?l=auliamuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/feeds/591443219997616915/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10916372&amp;postID=591443219997616915' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/591443219997616915'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/591443219997616915'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/2008/01/perceraian-telinga-dan-hati.html' title='Perceraian Telinga dan Hati'/><author><name>sujud ilalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/R4Rgle9janI/AAAAAAAAAFE/gAoGJ91h8Os/s72-c/kikan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10916372.post-6131198417236872096</id><published>2007-12-13T14:02:00.000+07:00</published><updated>2008-01-14T11:20:20.861+07:00</updated><title type='text'>Mengembalikan Jamu ke Habitatnya</title><content type='html'>Perang &lt;I&gt;brand&lt;/I&gt; antara Bintangin dan Tolak Angin adalah Inul dan Rhoma Irama dalam kancah musik dangdut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/R2DabuDK4KI/AAAAAAAAAE8/SWTAnumG5ao/s1600-h/tolak-angin2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/R2DabuDK4KI/AAAAAAAAAE8/SWTAnumG5ao/s400/tolak-angin2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5143350944209756322" /&gt;&lt;/a&gt;Anda pasti familiar dengan pertanyaan-pertanyaan ini: "Anda seorang karyawan?", "Tahu bahasa Rusianya karyawan?", "Berapa jumlah karyawan di dunia?", "Siapa karyawan pertama yang masuk angin?" Dan pasti Anda tertawa melihat tampang calon pembeli yang melongo, bingung, bukan saja karena dia tidak tahu bagaimana menjawab, melainkan juga takjub, mengapa dia harus ditanyai seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya. Itulah pertanyaan yang belakangan ini meramaikan televisi, bagian dari iklan jamu antimasuk angin Bintangin produksi Bintang Toedjoe. Iklan di atas merupakan versi kedua dari iklan sebelumnya, yang jauh lebih lucu. Seorang pengendara motor diuji kepintarannya dengan pertanyaan, berapa jumlah baut dalam motor? Siapa penemu spion? sampai kenapa motor rodanya cuma dua. Lalu, seusai dialog itu, menggema suara, "Minum jamu kok harus pinter. Semua orang boleh minum Bintangin!" &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar, iklan di atas "menyerang" jamu Tolak Angin produksi Sido Muncul. &lt;I&gt;Tagline&lt;/I&gt; Tolak Angin "Orang pinter minum..." diparodikan dengan adegan dan slogan sebaliknya. &lt;I&gt;Tagline&lt;/I&gt; Tolak Angin dijadikan pijakan atau dasar ide iklan itu bahwa siapa pun boleh minum jamu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iklan dengan model serangan semacam ini bukan hal yang baru. Sebelumnya, perang iklan juga terjadi antara operator seluler. Ketika XL membuat program Rp 1/detik, Mentari langsung menjawab dengan nol rupiah untuk paket freetalk Rp 5000. Dalam iklan, Dian Sastro yang memenangi lelang karena menawar nol rupiah, dan membuat pelelang sampai menangis haru. Mentari juga memakai tagline "Ayo, hitung lagi!" untuk menegasikan bahwa Xl bukanlah yang termurah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, perang antara operator itu sudah jadi hal yang rutin. Simpati dan 3 pun melakukan hal yang sama, setengah rupiah perdetik sampai nol rupiah untuk percakapan mulai pukul 1 malam sampai 1 siang. Perang iklan ini tak hanya terjadi di televisi, bahkan sampai ke jalan-jalan, melalui spanduk dan baliho besar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya lagi, perang iklan juga dilakukan oleh pabrikan Yamaha dan Honda. Dialog Dedy Mizwar dan Didi Petet sangat menyindir Honda, yang cuma ganti warna tanpa perubahan teknologi. Suzuki dengan almarhum Basuki pun masuk ke persaingan, dengan adegan membalap dua motor kompetitornya. Suzuki dengan shogun-nya "menyerang" kecepatan yang menjadi inti kampanye Yamaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Loncatan Ingatan&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perang iklan semacam di atas kini menjadi hal yang wajar. Dan, sejauh amatan saya, "perang" itu  masih cukup sopan karena tidak langsung menyebut produk kompetitor. Bintangin tidak pernah menyebut Tolak Angin, dan hanya mempermainkan &lt;I&gt;tagline&lt;/I&gt;-nya. Jupiter pun tak pernah secara langsung menyebut Honda yang secara visual mereka rontokkan, demikian juga Mentari, tidak pernah menampilkan logo XL. Di luar negeri, perang iklan sudah masuk medan terbuka, dengan menyebut langsung nama kompetitornya. Apple Leopard, misalnya, langsung menyerang Microsoft Vista dengan &lt;I&gt;tagline&lt;/I&gt;-nya "Dont give up to Vista!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bintangin melakukan serangan iklan seperti itu tampaknya lebih sebagai ajang "balas dendam" Bintang Toedjoe kepada Sido Muncul. Hal itu dikarenakan gerusan yang dilakukan Kuku Bima Ener-G terhadap pasar Extra Joss. Sebagaimana dilaporkan Majalah &lt;I&gt;Swa&lt;/I&gt;, dengan strategi pemasan yang baik, pasar Extra Joss telah diambilalih dengan cepat oleh Kuku Bima Ener-G, yang memikat melalui aksi "Rosa Rosa!" Mbah Marijan. Jadi, Bintangin adalah senjata yang secara serius disiapkan untuk menggerus dominasi Tolak Angin. Kedua pabrikan tampaknya sengaja untuk bertarung di dua pasar yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya, Bintangin melakukan "kesalahan" fundamental di dalam iklannya. Dengan mendasarkan diri pada "tagline" Tolak Angin, senyatanya produk ini tidak mengomunikasikan kelebihan apa pun. Yang terbentuk dari iklan itu adalah semata upaya untuk merontokkan citra Tolak Angin tanpa membentuk imaji produk yang lebih kuat. Dan lucunya, iklan dengan kreativitas tempelan ini justru memicu ingatan penonton atau konsumen kepada Tolak Angin. Setiap melihat iklan Bintangin yang lebih kuat menempel di benak penonton adalah imaji Tolak Angin. Atau dengan kata lain, alih-alih mengiklankan produk sendiri, Bintangin justru mengampanyekan produk saingannya, Tolak Angin. Ada loncatan ingatan kepada Tolak Angin yang secara tidak sadar diarahkan Bintangin. Iklan ini dengan segala kreativitasnya justu menubuhkan kembali citra Tolak Angin. Bintangin melakukan negasi yang dampaknya justru membuat "mitos" pengukuhan pada citra Tolak Angin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peter Montoya dalam &lt;I&gt;The Brand Called You&lt;/I&gt; mengatakan &lt;I&gt;brand building&lt;/I&gt;  selalu dikaitkan dengan upaya sebuah perusahaan untuk membangun &lt;I&gt;image&lt;/I&gt;. Image itu seharusnya memiliki nilai benefit di dalam memberikan sebuah persepsi tertentu yang umumnya bersifat positif. Iklan bernada "serangan" yang dilakukan Bintangin justru membangun imaji buruk, produk yang agresif, dan memakai bahawa yang "menyakiti".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Kreativitas Dendam&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali, negasi yang berhasil dilakukan Bintangin justru pada pemilihan &lt;I&gt;talent&lt;/I&gt;. Jika Tolak Angin memakai Rheinald Kasali, Sophia Latjuba, Arie Lasso, dan Setyawan Djodi sebagai ikonnya, Bintangin sebaliknya, memakai wajah tak terkenal, dengan citra pengendara motor atau karyawan rendahan. Pemakaian &lt;I&gt;talent&lt;/I&gt; yang berbeda ini menjelaskan pasar yang dituju. Jika Tolak Angin sebagai jamu "orang pintar", menyasar kelas menengah atas, Bintangin sebaliknya. Dengan &lt;I&gt;tagline&lt;/I&gt; "Semua orang boleh minum", jamu ini menyasar pasar yang "ditinggalkan" Tolak Angin, kaum kebanyakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bintangin dengan iklan itu juga seakan ingin menunjukkan bahwa jamu harus kembali kehabitatnya sebagai konsumsi orang kebanyakan. Jika Tolak Angin ingin menaikkan kelas jamu ke kalangan atas, bintangin sebaliknya, mengembalikan jamu ke habitat aslinya, buatan dan milik rakyat kebanyakan. Perang Brand Bintangin dan Tolak Angin adalah Inul dan Rhoma Irama dalam kancah perang musik dangdut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ternyata &lt;I&gt;branding&lt;/I&gt; tidak sesederhana seperti kampanye iklan Bintangin. Menurut Marty Neumeier dalam &lt;I&gt;The Brand Gap&lt;/I&gt;, Branding bukanlah logo, &lt;I&gt;corporate identity&lt;/I&gt;, atau juga slogan. Logo, simbol, monogram, dan emblem sebenarnya adalah &lt;I&gt;trademark&lt;/I&gt;. Mereka ada karena berdiri sebagai symbol dari &lt;I&gt;branding&lt;/I&gt;. Brand juga bukanlah sistem c&lt;I&gt;orporate identity&lt;/I&gt;. Sistem ini lebih bertugas khusus untuk melakukan fungsi kontrol terhadap aplikasi &lt;I&gt;trademark&lt;/I&gt; untuk publikasi perusahaan, iklan, &lt;I&gt;stationery&lt;/I&gt;, &lt;I&gt;house style&lt;/I&gt;, dan lainnya. Brand juga bukan produk. Brand adalah emosi atau perasaan yang timbul terhadap sebuah produk, jasa, atau perusahaan. Intinya, &lt;I&gt;brand&lt;/I&gt; bisa dirasakan efeknya di benak masyarakat konsumen. Brand bukan hanya hidup di luar, bertugas menyentuh sisi kognitif dan emosional konsumen, melainkan juga bersenyawa di dalam tubuh perusahaan. Brand adalah jiwa, adalah filosofi. Brand yang baik selalu mendiferensiasikan produk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bintangin agak gagap dalam hal ini. Secara visual, iklannya menjadi jembatan ingatan kehadiran Tolak Angin. Segmentasi pasar yang diacu untuk kembali ke "khittah", ke rakyat kebanyakan pun tidak termanifestasikan dengan jelas. Karena nama Bintangin,  pun masih kurang familiar sebagai jamu rakyat. Kata Bintang justru masih beraura elite bahkan jika dibandingkan dengan Tolak Angin. Tampaknya jelas, iklan dan kampanye Bintangin dilakukan dengan tergesa-gesa, dengan kreativitas  mengikuti "dendam" perusahaan semata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;[Artikel ini sudah dimuat di Harian &lt;I&gt;Suara Merdeka&lt;/I&gt;, Minggu 16 Desember 2008]&lt;/B&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10916372-6131198417236872096?l=auliamuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/feeds/6131198417236872096/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10916372&amp;postID=6131198417236872096' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/6131198417236872096'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/6131198417236872096'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/2007/12/mengembalikan-jamu-ke-habitatnya.html' title='Mengembalikan Jamu ke Habitatnya'/><author><name>sujud ilalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/R2DabuDK4KI/AAAAAAAAAE8/SWTAnumG5ao/s72-c/tolak-angin2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10916372.post-9190346499920240680</id><published>2007-12-06T19:29:00.001+07:00</published><updated>2007-12-13T15:51:46.427+07:00</updated><title type='text'>Tubuh yang Kehilangan  Rahasia</title><content type='html'>Tubuh kini tak ubahnya seperti mal. Semua orang dapat melongok isi di dalamnya. Tanpa rahasia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/R1fsPoy60GI/AAAAAAAAAE0/3PXOUXyzwc8/s1600-h/clbk.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/R1fsPoy60GI/AAAAAAAAAE0/3PXOUXyzwc8/s400/clbk.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5140837253059891298" /&gt;&lt;/a&gt;Steve membuang napas, gelisah. Meyka yang masih menggenggam jemarinya, mulai menangis.  Dia merasa menyesal telah mengebiri cinta Steve, dan lebih memilih Andre. Gadis itu memohon maaf. Tapi Steve cuma diam. Dia biarkan Meyka sesenggukan. Dia abaikan tatapan heran pengunjung di kafe itu, seperti juga makanan yang memenuhi mejanya. Karena Steve sungguh tak mengerti, mengapa Meyka begitu tega mengkhianati. "Apa sih yang lebih dari Andre?" bisiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Karena Andre lebih kaya...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi karena dia lebih kaya maka kamu tega mengkhinati aku?!" suara Steve meninggi, genggaman Meyka dia hentakkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya, aku tahu aku salah. Tolong maafkan aku, Steve. Maafkan...." Meyka menangis lagi.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dialog di atas bukan adegan dalam salah satu sinetron. Steve dan Meyka juga tidak tengah berakting. Tangis Meyka, emosi dan teriakan tak mengerti Steve, juga pandangan heran pengunjung kafe itu, adalah reaksi nyata. Kamera "Cinta Lama Bersemi Kembali (CLBK)", &lt;I&gt;reality show&lt;/I&gt; di &lt;I&gt;SCTV&lt;/I&gt; yang merekamnya. Dan seluruh penonton jadi tahu isi hati Meyka, rahasia, aib, yang seharusnya dia jaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di "CLBK", peserta yang ingin kembali pada kekasih lamanya memang harus jujur menceritakan kesalahan yang pernah dia buat. Mengakui pada Gading Martin dan Jennifer, pengampu acara itu, yang kemudian "merumuskan" strategi untuk membuat mantan kekasih peserta mau memaafkan dan menerima dirinya kembali. Maka, seperti Meyka, banyak rahasia yang tersaji di acara ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di televisi, "CLBK" tidak sendirian. Ada acara lain yang juga memaksa pesertanya membuka hal-hal pribadi. "Truck Cinta" misalnya, selalu menyajikan kriteria lelaki yang peserta inginkan untuk menjadi kekasihnya. Kriteria itu detil sekali, menyangkut rahasia hati, ukuran yang seharusnya tidak menjadi konsumsi publik. Di acara "Backstreet" bahkan lebih parah lagi. Kamera tidak saja merekam sebab cinta rahasia itu terjadi, terkadang bahkan menampilkan pertengkaran peserta dengan orangtua. Rahasia keluarga dengan sempurna nongol di layar kaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, keberanian membuka dan membongkar aib barangkali masih di pegang acara "Playboy Kabel". Dalam salah satu episode, seorang istri bahkan menjebak perselingkuhan suaminya. Dia ceritakan apa saja yang suaminya lakukan di rumah, mulai kata-kata kasar dan hinaan fisik, lalu dia permalukan suaminya di depan kamera. Sungguh acara yang membuat penonton dapat tertawa sekaligus mengelus dada dan geleng kepala. Di acara itu, tak ada lagi sekat antara yang &lt;I&gt;private&lt;/I&gt; dan yang terbuka. Semua tersingkap, terungkap, tapi yang tercela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Cinta Buta&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semula, ketakberahasiaan itu hanya milik para artis. Mungkin, karena merasa sebagai figur publik, mereka pun mewajibkan diri membuka apa pun untuk diakses masyarakat atau penonton. Maka, Saiful Jamil sambil tertawa dan bernyanyi, membuka aib Dewi Persik. Dia ambil foto Dewi yang berjilbab dari dompetnya, dia tunjukkan kepada penonton, dia ungkapkan bahwa hanya dengan busana itulah pernikahan mereka akan terjalin kembali. Dia tutup "pertunjukannya" dengan sepotong lagu dari Rhoma Irama, "Hanya istri sholehah.... perhiasan terindah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita juga ingat, perseteruan Fatma Farida dengan anaknya, Kiki Fatmala. Seluruh rahasia keluarga dia ungkap, tanpa jengah. Yang malu justru penonton yang menyaksikan acara itu. Juga konflik Dhani dan Maia, Dhani dan ayahnya, Dhani dan Vita Ramona. Atau bagaimana "kesaksian" Rassya tentang Oom bule yang pernah tidur dengan ibunya, Tamara Blezinsky, keyakinan suami Sarah Vi soal peralihan seksualitas istrinya, sampai cerita Rieke Dyah Pitaloka, meski setengah bercanda, tentang gaya seks yang dia dan suaminya, Donny Ardian, lakukan, untuk dapat segera memperoleh momongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah lama memang aktris tak lagi punya ruang pribadi. Mereka, suka atau tidak, harus membuka diri untuk menjadi akses publik. Sampai, Niki Astrea, setengah menangis berteriak, "Apa saya sudah tidak punya &lt;I&gt;privacy&lt;/I&gt;?!" Niki terteror karena media televisi memaksanya harus buka suara. Mobilnya dipaksa berhenti, dia diwajibkan bercerita. Dia seakan tak punya hak untuk berahasia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Televisi kini bukan saja menghadirkan hal-hal pribadi di ruang keluarga, melainkan sudah membuat yang pribadi menjadi tak ada. "Griya Unik" misalnya, menghadirkan rumah dari halaman depan sampai wc di kamar tidur. "Homes" juga sama, membuka ruang tidur seseorang ke mata publik. Puluhan tahun yang lalu, kamar tidur adalah wilayah yang tak terjamah oleh publik. Selain keluarga dekat, tak ada pihak lain yang dapat mengakses ruang intim itu. Tapi kini, dipamerkan! Bahkan, beberapa aktris, dengan ringan, di ruang tidurnya, membuka lemari dan laci yang menyimpan pakaian dalamnya. Lalu sembari tertawa, kepada pemirsa mengintipkan jenis celana dalam yang menjadi favoritnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada lagi rahasia. Maria Eva blak-blakan membuka aibnya kepada media. Aman Jagau bercerita tentang Rp 300 juta yang dia serahkan untuk dapat membuat Angel lelga mau "menikah tiga malam" dengannya. Atau Cut Memey yang memanterai celana dalam Jackson agar terus mau membiayai hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa "dimaklumi", sebenarnya. Karena mereka artis, yang tahu memanfaatkan aib dan hal yang pribadi untuk mendongkrak popularitas (baca: uang). Hanya dengan cara itulah, mereka dapat kekal berada dalam kamera. Yang mengerikan adalah perilaku artis ini mulai menghinggapi orang kebanyakan, ketika menjadikan wilayah pribadi sebagai konsumsi publik. Tak ada motif uang, tentu. Apalagi popularitas. Mereka membuka aib karena cinta. Dan kata orang, cinta itu buta. Makanya, yang berpacaran, di tempat terang pun, suka meraba-raba. Hahaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Open Society&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hilangnya "ruang" pribadi itu tak hanya berada di televisi. Dalam keseharian, hal-hal yang intim pun sudah dengan rileks dipublikasikan. Kita tahu, bertahun lalu, perempuan masih merahasiakan haidnya. Haid seakan aib, sehingga dibungkus dengan metafora yang lebih halus menjadi "datang bulan", "palang merah", atau "em". Kini, haid menjadi pembicaraan yang tawar, hadir di ruang publik tanpa metafora. Kondisi haid, pra dan sesudahnya, bahkan menjadi ladang bisnis, dari obat-obatan sampai pembalut. Dan televisi, dengan iklan mengenai produk itu, membuat kehaidan keluar dari wilayah tabu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tahun lalu, kita pasti ingat, tak ada remaja yang berani mengenakan baju terbuka. Atau, kalaupun berani terbuka, seperti busana yang dikenakan aktris pada umumnya, mereka tetap tak pede pamer tali bra. Tali bra adalah sesuatu yang pribadi, sehingga harus ditutupi dengan teliti, disamarkan dengan kaos dalam. Tapi kini, tali bra hanya menjadi aksesori, atau kalau tidak, identitas seksi. Membuka bahu dan memperlihatkan tali bra sudah jamak dan biasa. Bahkan, memamerkan bra, sampai tak mengenakannya pun mulai dianggap "napas zaman". Bertahun lalu, saya percaya, nyaris setiap lelaki akan menutupi tubuh terbuka kekasih atau istrinya. Kini, mereka barangkali akan membiarkannya dengan rasa bangga. Pembiaran itu bukan saja tanda "habisnya" kekuasaan lelaki atas tubuh pasangannya, tapi juga munculnya kesadaran bahwa perempuan punya hak yang sama dengan lelaki atas tubuhnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga-empat tahun lalu, kita akan malu jika orang dapat melihat celana dalam kita. Tapi kini, hadirnya celana dalam di ruang publik sudah jadi hal biasa. Jeans model hipster membuat bokong perempuan menjadi indah justru karena memperlihatkan celana dalam plus "celengannya", dan tidak harus merasa malu. Lelaki juga, dengan celana jeans longgar, seperti yang acap dikenakan Arie K Untung, juga nyaman memamerkan celana dalamnya. Berbusana bukanlah merahasiakan bagian tubuh, melainkan memperindah bagian yang intim dengan cara memajangnya. Seluruh mode busana dikelola dalam rangka ekonomi narsistik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam asmara, hal yang pribadi pun telah tak ada. Kita tahu, bertahun lalu, adegan ciuman Rangga dan Cinta dalam film &lt;I&gt;Ada Apa dengan Cinta?&lt;/I&gt;, menjadi pembicaraan di mana-mana. Majalah &lt;I&gt;Times&lt;/I&gt; pun mengulasnya, sebagai indikator "sikap moral" orang muda di Indonesia. Tapi kini, kalau melihat kenyataan, &lt;I&gt;Times&lt;/I&gt; pun akan segera meralat liputan itu. Ciuman sudah jadi biasa, bahkan bukan hanya di film. Termasuk menceritakan atau memamerkannya. Dengan teknologi ponsel sekarang, berkirim foto mesra bersama pacar baru, bukan hal tabu. BPara remaja dengan bangga merekam adegan intim, dan kemudian mengedarkannya. Di &lt;I&gt;friendster&lt;/I&gt;, berjuta foto remaja Indonesia tersaji dengan "indahnya", mulai di kamar tidur, sampai kamar mandi, dari sekadar berbusana seksi, sampai polos sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang sesungguhnya terjadi? Mengapa kini ruang pribadi telah lebur dan menjadi konsumsi sehari-hari? Atau, apakah kita telah masuk agenda George Soros dalam membangun &lt;I&gt;open society&lt;/I&gt;, masyarakat yang memberi kebebasan luar biasa bagi individual, ketika nilai tidak punya simpul, dan hal-hal pribadi akan hilang sama sekali?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sulit untuk menilainya. Tapi, barangkali Soros memang benar ketika berkata dalam &lt;I&gt;On Soros: Staying Ahead of the Curve&lt;/I&gt; bahwa nilai-norma adalah soal pilihan, seperti orang memilih di tempat mana mau berinvestasi atau berspekulasi. Dan kita tahu, nilai dan ruang pribadi kini nyaris tak lagi, dan itu terjadi bukan hanya di televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;[Artikel ini telah dimuat di Harian &lt;I&gt;Suara Merdeka&lt;/I&gt;, Minggu 9 Desember 2007]&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10916372-9190346499920240680?l=auliamuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/feeds/9190346499920240680/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10916372&amp;postID=9190346499920240680' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/9190346499920240680'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/9190346499920240680'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/2007/12/tubuh-yang-kehilangan-rahasia.html' title='Tubuh yang Kehilangan  Rahasia'/><author><name>sujud ilalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/R1fsPoy60GI/AAAAAAAAAE0/3PXOUXyzwc8/s72-c/clbk.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10916372.post-3241038355505664593</id><published>2007-11-29T14:18:00.000+07:00</published><updated>2007-12-06T19:41:29.401+07:00</updated><title type='text'>Dhani dan Penggemar yang Dewasa</title><content type='html'>Di dunia industri, ide selalu berarti uang, dan bukan ideologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/R05owmGRdXI/AAAAAAAAAEs/x_1WRfm2Vro/s1600-h/dhani.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/R05owmGRdXI/AAAAAAAAAEs/x_1WRfm2Vro/s400/dhani.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5138159408946181490" /&gt;&lt;/a&gt; "Lagu ini benar-benar menunjukkan isi hati Dhani. Semoga nanti dikirimi Tuhan kekasih yang benar-benar baik hati."  Demikianlah bunyi salah satu &lt;I&gt;SMS&lt;/I&gt; yang menjadi teks berjalan di layar teve, Sabtu malam (17/11). Banyak sekali SMS yang ditampilkan dalam acara "Musik Spesial" itu, mulai berisi permintaan lagu, titip salam si pengirim kepada sanak keluarga dan atau kekasih, sampai pujian dan hasutan. Semua SMS selalu berkisar pada grup musik yang tampil, Matta, Nidji, The Rock, dan Dewi-Dewi, yang memeriahkan ulangtahun Marinir di Surabaya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiriman SMS memang menjadi hal penting dari acara ini. Pemandu acara Andhara Early dan Teuku Wisnu pun berkali-kali mengingatkan penonton agar terus mengirimkan &lt;I&gt;SMS&lt;/I&gt; untuk memilih lagu yang mereka inginkan. Karena, diakhir acara akan ada hadiah untuk penonton yang memilih lagu favorit.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di panggung, semua band tampil antusias. Matta menghibur, Nidji memukau, The Rock memikat, Dewi-dewi memesona. Mereka bergantian unjuk piawai, berinteraksi, dan memberikan lagu-lagu terbaik dengan penampilan sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya, jujur saja, lebih tertarik mengamati &lt;I&gt;SMS &lt;/I&gt;yang berjalan di layar. Saya percaya, lagu "Ketahuan" dan "Playboy" dari Matta punya peluang besar untuk jadi favorit penonton. Juga lagu-lagu Nidji yang familiar di telinga. Lagu Dewi-Dewi seperti "Dokter Cinta" dan "Begini Salah Begini Benar" sulit diharapkan dipilih penonton. Dua lagu ini memang populer dan dahsyat dalam pekikan Ina sang vokalis. Tapi gaungnya sudah terasa jauh. Bagaimana dengan The Rock?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak dapat dimungkiri, lagu-lagu Dhani memang selalu bagus dan bernada khas. "Munajat Cinta" dan "Kamu Kamulah Surgaku" memberi warna yang berbeda tentang cinta. Apalagi di panggung itu, layar memutar klip kemesraan Dhani dan anak-anaknya. Tapi, melihat kisruh rumah tangga Dhani selama ini, dan pernyataannya yang keras dan dingin tentang Maia, istrinya, sepertinya lagu itu akan bergaung tapi tanpa gema. Apalagi, sore sebelum naik pentas, infotainmen sibuk memberitakan penjemputan Maia pada Al, El, dan Dul, yang tengah syuting di Bogor. Dhani dikatakan telah mengeksploitasi anak-anak mereka. Perseteruan suami istri itu kembali tersulut. Lebih dari itu, di berbagai milis dan forum, "citra" Dhani telah "habis". Ratusan, mungkin ribuan opini di dunia maya telah mendudukkannya sebagai suami yang kejam, sadis, dan mau menang sendiri. Di ruang maya, Dhani nyaris tanpa pembela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, saya percaya, "Ketahuan" dari Matta akan menjadi lagu favorit di "Musik Spesial" &lt;I&gt;SCTV&lt;/I&gt; malam itu. Semelesetnya, pasti lagu dari Nidji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, kenyataan terkadang acap mengkhianati harapan. Kian malam, &lt;I&gt;SMS&lt;/I&gt; dari pemirsa berkata beda. "(36) Dhani al-Haq, kami dari padepokan Syeh Siti Jenar selalu mendukungmu", bunyi salah satu SMS. Lalu, "(36) Saya sangat mengerti apa yang sedang Dhani alami dengan lagu ini. Juga, "(36) Lagu ini mengingatkanku padamu, Euis." Atau, "(36) Dhani selalu membuat lagu dengan hatinya". Dan, "(36) Lagu ini cocok untuk kaum jomblo." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;36 adalah nomor urut lagu "Munajat Cinta" yang dilantunkan Dhani. Dan lepas tengah malam, Andhara Earli mengumumkan bahwa "Munajat Cinta" berhasil menjadi lagu favorit pilihan pemirsa. Di layar tertera, tembang itu meraih 39,4% dari seluruh SMS yang masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengucek mata, nyaris tak percaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Anomali Industri&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertahun lalu, Zainuddin MZ selalu berkata, "Saya tidak kemana-mana, tapi ada di mana-mana." Popularitas pun selalu mengakrabinya, juga media. Tapi kemudian Zainuddin masuk PPP, lalu kecewa, dan mendirikan Partai Bintang Reformasi. Namanya perlahan tapi pasti meredup. Media menjauh, popularitas merapuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertahun lalu, Aa Gym selalu mengajarkan bagaimana menjaga hati, memanajemen kalbu. Ia menjadi representasi kiai yang sangat mencintai keluarga. Sikap moralnya menjadi ikutan umat. Popularitas kian menguat, media pun sangat akrab. Lalu, Aa menikah lagi. Kiai ini "difatwa" media telah "melanggar" apa yang selalu dia ajarkan, tentang cinta, keluarga, dan satu istri. Dan perlahan tapi pasti, popularitas menarik diri dari kiai ini, media pun ikut pergi berlari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski tidak sama persis, Dhani justru menjadi anomali dalam industri media. Jangankan kesantuan, sikap rendah hati pun tak dipunyai pentolah Dewa ini. Arogan! Arogansi ini bahkan sudah jadi sikap diri. Ketika Helmy Yahya menasihati peserta "Mama Mia" agar jangan cepat bersombong meski sudah populer, Dhani yang juga duduk sebagai juri, menggamit Helmy dan membisikinya. Helmy kemudian tersenyum, dan berkata, "Karena kata Dhani, yang boleh sombong itu hanya dia." Penonton bersorak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Helmy, di dalam buku &lt;I&gt;Manunggaling Dewa&lt;/I&gt; juga mengaku tak habis pikir dengan segala popularitas yang didapatkan Dhani. Ketika semua publik figur selalu membangun citra diri, Dhani bahkan seakan tidak urusan dengan hal itu. "Dhani sebuah anomali dalam industri hiburan," kata Helmy. Tak hanya Helmy, Rheinald Kasali pun mengakui pola-pola yang ditempuh Dhani nyaris tak ditemukan di dalam dunia marketing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uniknya, dengan segala arogansi itu, Dhani mengusung tema cinta. Cinta dengan C besar. Lagu-lagunya dibumbui petikan ucapan sufi, dan, katanya, saripati, al-Quran. Album bandnya selalu memakai kata cinta, dari &lt;I&gt;Atas Nama Cinta, Cintailah Cinta, Laskar Cinta&lt;/I&gt; sampai &lt;I&gt;Republik Cinta&lt;/I&gt;. Dan dia berhasil dengan kampanye cinta tersebut, setidaknya sampai perseteruannya dengan Maia, istrinya, di ujung tahun lalu. Setelah itu, arogansi Dhani mulai dibumbui kebencian, amarah, cacian, dan nista. Dhani justru menunjukkan dirinya sebagai hamba yang jauh dari cinta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setahun ini, media selalu berisi perseteruan Dhani dengan Maia, statemen-statemennya yang tak menunjukkan "watak" seorang suami, dan tuduhannya yang sampai kini belum terbukti. Dalam kondisi "hampa cinta" itu, Dhani justru menelurkan album &lt;I&gt;Kerajaan Cinta&lt;/I&gt;. Lagu "Dewi" yang menjadi andalah, tetap mencetak hit. Ia pun memproduseri Andra and The Backbond, juga membesut trio Dewi-Dewi, dan meraih platinum. Terakhir bersama bule Australia, dia melempar The Rock. "Munajat Cinta" pun tetap mencetak hit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada apa dengan Dhani? Mengapa, ketika "aktor" media lain diabaikan pasar karena "sikap moral" yang berbeda dari karya, Dhani masih tetap diterima?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Uang Ideologi&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat fenomena Dhani ini, saya "curiga", penonton teve dan penikmat musik Indonesia telah memasuki fase dewasa. Kedewasaan inilah yang membuat mereka mampu melihat Dhani dalam berbagai posisi, sebagai suami, ayah, pemusik, pencipta, produser, dan embel-embel lainnya. Dengan kata lain, penonton sadar tak selalu ada kausalitas di antara posisi-posisi itu.  Gagal sebagai suami, belum tentu gagal sebagai ayah. Tak selalu ada "pertalian darah" antara karya dan penciptanya. Karena, seperti kata Pramudya Ananta Toer, setiap karya memiliki jiwa dan kehidupan sendiri. "Kehidupan yang menentukan apakah karya itu abadi atau tidak. Bukan pengarangnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penonton atau penikmat musik barangkali juga mulai menyadari bahwa diri itu tidak selalu tunggal dan utuh, tapi terpecah di dan dalam proses. Yang selalu diberikan seseorang bukanlah keutuhan atau ketunggalan, tapi pecahan-pecahan dirinya yang dapat diterima, yang kelak selalu bisa berubah. Karena manusia, mengutip Goenawan Mohamad, selalu menuju &lt;I&gt;dumadi&lt;/I&gt;, &lt;I&gt;dadi&lt;/I&gt; yang mendapat imbuhan "um", men-jadi yang selalu dalam gerak, di arus waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyadari diri bukan suatu yang tunggal dan utuh, menempatkan penonton pada kesadaran bahwa karya adalah idealisasi dari penciptanya, dan bukan selalu jalan hidup. Karya lebih berupa "apa yang ingin dikatakan" daripada "apa yang akan dilakukan". Karya atau lagu, adalah hasil olah pikir, kristalisasi ilmu, dan bukan &lt;I&gt;laku&lt;/I&gt;. Dan di dunia industri, ide selalu berarti uang, dan bukan ideologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diri Dhani berada dalam "kemelut" ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggemar yang dewasa akan dapat menikmati lagu-lagu Dhani lepas dari sosok Dhani. Lagu-lagu itu punya energi sendiri, misi sendiri, napas dan jiwa, yang sepenuhnya tidak dikendalikan Dhani. Para pelatun di luar Dhani-lah, yang mendengung di sisi pentas itu, dalam panas dan peluh, yang lebih menentukan warna cinta di dalam tiap lagu-lagu Dewa. Merekalah laskar cinta sesungguhnya. Dan pencipta boleh alfa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika karya tidak dibebani pencipta, penilaian pun akan berjalan adil. Pencipta boleh masuk penjara, boleh tersangkut narkoba, bercerai, berzinah atau poligami, karyanya tetaplah suci. Karena kita tahu, kehidupan terkadang memaksa seseorang untuk tidak melakukan apa yang dia katakan. Kehidupan kadang membelokkan seseorang ke jurang yang tak pernah dia inginkan. Karena kehidupan kadang hanya meminta kita berkata 'ya'. Itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;[Artikel ini telah dimuat di Harian &lt;I&gt;Suara Merdeka&lt;/I&gt;, Minggu 2 Desember 2007]&lt;/B&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10916372-3241038355505664593?l=auliamuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/feeds/3241038355505664593/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10916372&amp;postID=3241038355505664593' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/3241038355505664593'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/3241038355505664593'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/2007/11/dhani-dan-penggemar-yang-dewasa.html' title='Dhani dan Penggemar yang Dewasa'/><author><name>sujud ilalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/R05owmGRdXI/AAAAAAAAAEs/x_1WRfm2Vro/s72-c/dhani.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10916372.post-5495035312464228766</id><published>2007-11-15T18:02:00.000+07:00</published><updated>2007-11-29T14:29:21.427+07:00</updated><title type='text'>Mereka yang Tumbuh dengan Tergesa</title><content type='html'>Industri metode perkembangan anak membuat orangtua tak memiliki kesabaran membiarkan anaknya tumbuh secara alamiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/RzwoemGRdWI/AAAAAAAAAEk/6HfmSqqZSjQ/s1600-h/pildacil.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/RzwoemGRdWI/AAAAAAAAAEk/6HfmSqqZSjQ/s400/pildacil.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5133022181383566690" /&gt;&lt;/a&gt; "Fahmi, jujur ya, sebenarnya Fahmi mau pilih piala atau harimau?" tanya Marissa Haque.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebenarnya sih, Fahmi maunya pilih piala, Bunda. Tapi kata kakak pembina harus pilih harimau. Kalau tidak pilih harimau, katanya Oom kameramen akan kreek!" jelas Fahmi sambil menebaskan tangannya ke leher. Barangkali maksudnya disembelih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marissa Haque tertawa. Penonton juga, bergelak. "Inilah anak-anak ya Ibu-Ibu, jujur dan lugu sekali...." Marissa menggelengkan kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak tertawa melihat kejujuran Fahmi dalam acara "Keluarga Dacil" yang tayang di &lt;I&gt;Lativi&lt;/I&gt;, Jumat malam (9/11) itu. Kejujuran Fahmi di atas justru menunjukkan satu ironi bahwa apa yang dia tampilkan dalam tausyiah sebelumnya bukanlah suara hatinya, melainkan "pesanan" dari Kakak Pembina. Sikap moral yang dia sampaikan adalah pilihan yang sebenarnya tidak dia mengerti tapi harus dia katakan. Di pentas Pildacil itu, Fahmi belum memanggungkan dirinya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peserta lain, Aufa, menunjukkan ironi yang sama malam itu. Ketika Neno Warisman bertanya, "Buku apa yang harus dipelajari paling utama di muka bumi ini?", dengan enteng dia menjawab, "Buku-buku tentang agama Islam, Bunda."&lt;br /&gt;Neno Warisman terlengak, wajahnya tampak tidak puas dengan jawaban Aufa. "Iya, tapi kalau antara al-Quran dan buku-buku agama Islam, mana yang lebih penting, Aufa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aufa berpikir sebentar. "Mungkin harus kedua-duanya ya, Bunda."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Plass! Senyum di bibir Neno hilang sesaat. Setelah membuang napas, dia pun berkata, "Iya, tapi banyak orang yang salah belajar tentang Islam karena tidak mendahulukan al-Quran, Aufa. Mereka jadi sesat. Jadi al-Quran itu harus yang utama. Aufa mengerti kan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aufa mengangguk. Neno kembali bersandar ke kursi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fahmi, Aufa, Ela, dan Kenia yang tampil malam itu, seperti kata Marissa, adalah anak-anak yang masih lugu dan jujur. Tapi lihatlah, bagaimana orang dewasa, para Kakak Pembina mereka, juga para Bunda yang menjadi juri, menganggap "aneh" kejujuran dan keluguan mereka, dan mencoba menarik mereka ke alam pikir orang dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Sekadar Hapalan&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari jawaban Fahmi dan Aufa, kita dapat menduga bahwa tausyiah yang mereka sampaikan adalah hasil hapalan semata. Karena hasil hapalan, apa yang mereka sampaikan bukan lahir dari hasil penalaran, proses mengerti dan memahami. Sehingga kenapa harus memilih harimau dan mengapa harus mengutamakan membaca al-Quran, Fahmi dan Aufa tidak mengerti. Bagi mereka itulah yang harus disampaikan untuk dapat merebut simpati penonton. Proses yang tanpa penalaran itu membuat mereka menjawab berbeda dari tausyiah ketika ditanyai oleh para Bunda. Pilihan pribadi berdasarkan "nalar kanak" pun muncul, yang menimbulkan gelak tawa, sekaligus kerisauan, para Bunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari penampilan Fahmi, Aufa, Ela, dan Kenia, tampak sekali betapa berat mereka mengingat seluruh ajaran "Kakak Pembina". Kesetiaan pada hapalan ini membuat Ela tergeragap, dan Fahmi berberapa kali menjedai tausyiahnya, karena lupa. Pemanggungan itu, dalam arti yang sebenarnya, menjadi siksaan bagi mereka. Anak-anak itu cuma mengerti bahwa kesempurnaan penampilan mereka adalah kesetiaan pada hapalan. Tak ada improvisasi, negosiasi, apalagi imajinasi dari keseluruhan tausyiah yang harus disampaikan. Panggung "Keluarga Dacil" itu, senyatanya bukanlah arena kegembiraan, "ladang" permainan, melainkan sebuah tugas, kancah pertarungan siapa yang paling kuat ingatannya. Padahal, metode hapalan semacam itulah yang justru kelak akan merampas kekuatan kognisi anak-anak ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Psikolog perkembangan anak, Kathi Hirsh-Pasek dalam buku &lt;I&gt;Einstein Never Used Flash Cards: How Our Children Really Learn - And Why They Need to Play More and Memorize Less&lt;/I&gt; menunjukkan "bahaya" jika anak-anak dipaksa menghapal. "Yang diperlukan bagi perkembangan kognisi anak-anak adalah kesempatan yang luas untuk bermain, bergembira, dan bukan menghapal," katanya. "Bermain akan membangun keahlian intelektual yang kaya, luwes, dan fleksibel, tempat di mana akan tumbuh kemampuan menyelesaikan masalah," tambahnya. "Bermain merupakan unsur penting dalam kemampuan berpikir ilmiah yang produktif," kata si jenius Einstein. Dan, Einstein pun ternyata, tak pernah menghapal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa unsur bermain? Pertama, bermain harus menyenangkan dan bisa dinikmati. Kedua, bermain tidak punya tujuan ekstrinsik. Bermain juga harus spontan, tidak memiliki aturan dan alur, melibatkan imajinasi dan ketakterduggan dalam proses bermain. Dari beberapa unsur itu, pementasan "Keluarga Dacil" dapatlah dilihat tak memenuhi syarat sebagai arena bermain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Anak sebagai Proyek&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang tampil dalam "Keluarga Dacil" atau "AFI Junior" sebenarnya adalah wujud dari progresivitas orang tua yang ingin "memamerkan anaknya". Progresivitas ini membuat anak-anak mengalami masa kanak denan tergesa-gesa. Tidak ada lagi kesabaran dari orangtua untuk melihat anaknya tumbuh dengan alamiah, belajar sendiri, sebagaimana pertumbuhan bayi sejak ribuan tahun lalu. Industri metode mendidik anak telah mendorong orangtua untuk mendapatkan anak dengan kecerdasan sempurna dan lebih dari anak yang lain. Setiap &lt;I&gt;blue print&lt;/I&gt; bagaimana mendidik anak pun dipelajari, dipraktekkan, dengan kegembiraan dan kecemasan yang sama. Efek Mozart, Baby Shakespeare, sampai &lt;I&gt;emotional intelligence&lt;/I&gt; untuk bayi, dan puluhan metode lain diikuti, tanpa menyadari semua itu adalah "ilusi" yang dibangun dunia industri. Masa kanak-kanak pun hilang karena program perlombaan kecerdasan dan kesuksesan ini. Anak-anak akhirnya tidak punya dunia sendiri, proyeksi dari harapan dan keinginan orangtua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah keluarga Aufa yang meminta dukungan masyarakat Solok, dan sibuk mendatangi media. Apa sesungguhnya arti popularitas dan kemenangan itu bagi dirinya pribadi? Atau Fahmi, yang mengucapkan "r" pun belum bisa, tentu dia tak mengerti rasa bangga tampil di teve lebih dari yang dialami orangtuanya. Anak-anak ini pun pasti belum tahu bagaimana menggunakan hadiah jika menang, yakni berupa ponsel, simcard, dan voucer Rp 500 ribu. Hadiah yang sungguh tidak ada kaitannya dengan kekanakan mereka. Anak-anak itu pun pasti tak mengerti apa yang dikatakan para Bunda --Marissa, Neno, dan Khofiffah-- yang selalu mengaitkan isi tausyiah mereka dengan pembalakan liar, kekalahan pilkada, korupsi, dan kecurangan para politisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari situ, kita dapat melihat, sesungguhnya pentas "Keluarga Dacil" dan aneka lomba sejenis itu, adalah panggung para orangtua untuk pamer diri atas pencapaian mereka. Anak-anak itu adalah buktinya. Dalam kasus ini, Kafka pun jadi benar ketika mengatakan, "Memiliki dan mendidik anak dalam dunia sekarang adalah pekerjaan paling mustahil." Mustahil karena anak-anak tidak dididik sebagai anak-anak. Mustahil karena anak-anak adalah pihak yang selalu dipaksa mendengar, diajari menghapal. Mereka adalah kaset yang memutar suara orangtua....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;[Artikel ini telah dimuat di Harian &lt;I&gt;Suara Merdeka&lt;/I&gt;, Minggu 18 November 2007]&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10916372-5495035312464228766?l=auliamuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/feeds/5495035312464228766/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10916372&amp;postID=5495035312464228766' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/5495035312464228766'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/5495035312464228766'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/2007/11/mereka-yang-tumbuh-dengan-tergesa.html' title='Mereka yang Tumbuh dengan Tergesa'/><author><name>sujud ilalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/RzwoemGRdWI/AAAAAAAAAEk/6HfmSqqZSjQ/s72-c/pildacil.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10916372.post-1252418787576905537</id><published>2007-11-05T12:30:00.000+07:00</published><updated>2007-11-15T18:11:47.252+07:00</updated><title type='text'>Mengabadikan Ketakmasukakalan</title><content type='html'>"Prime Time" justru menjadi penyedap rasa bagi ragam ketakmasukakalan di televisi kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/Ry6rkPRiOXI/AAAAAAAAAEc/mLKIFckI-NE/s1600-h/olga3.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/Ry6rkPRiOXI/AAAAAAAAAEc/mLKIFckI-NE/s400/olga3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5129225664685291890" /&gt;&lt;/a&gt; "Di sinetron kita, misalnya ada tokoh yang sekali teraniaya, terus jadi teraniayaaa banget. Kalau ada tokoh jahat, jahaaat banget. Yang baik, baiiik banget. Akhirnya kami berpikir, mengapa tidak memarodikan pola-pola cerita yang selalu ada dalam sinetron itu?" kata Fransiska S. Dia pun memproduseri "Prime Time".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Prime Time" memang memelesetkan adegan sinetron yang sudah menjadi "tipekalitas". Misalnya marah sambil melotot dan berkecak pingang, tangisan yang dalam beberapa detik sudah banjir airmata, sampai cerita yang konyol. Acara yang tayang di &lt;I&gt;TransTV&lt;/I&gt; setiap Minggu malam ini merupakan reinkarnasi "Sketsa ABG", mulai dari para pemain sampai tipekalitas akting. Jadi, nyaris secara keseluruhan, "Prime Time" sewajah dengan "Sketsa ABG" dan "Extravaganza ABG". Yang membedakan cuma, "`Sketsa ABG` syuting di dalam studio, sementara `Prime Time` hampir semua &lt;I&gt;outdoor&lt;/I&gt;," jelas Siska.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan begitulah, Olga masih tampil dengan "kualitas" tipikalnya, sama dengan karakter Aming yang kedahsyatannya "dipatok" sebagai "Pinkyboy" di "Extravaganza". Raffi Ahmad yang terkadang berakting apik di dalam sinetron pun masih belum beranjak dengan wajah cengengesan yang kental di "Sketsa ABG", juga Dawiyah Sukaesih. "Prime Time" tampaknya belum diniatkan sebagai wajah baru dari "Extravanza ABG".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Dua Parodi&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fransiska meyakini tayangan ini akan menjadi alternatif karena berisi parodi atas kejumudan kreativitas sinetron Indonesia. Apalagi, titik pijak acara ini adalah kesadaran mereka tentang kekonyolan dan ketakmasukakalan di dalam sinetron yang bisa dijadikan bahan tertawaaan. Masalahnya, apakah kesadaran itu difigura dalam visi yang benar atau tidak? Atau, cukupkah membongkar "ideologi" visual sinetron kita dengan visualisasi parodi saja? Apalagi, seperti pengakuan Siksa, mereka hanya mengambil sisi humornya saja, untuk memancing penonton tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika demikian, barangkali yang dimaksudkan "kesadaran" oleh Siksa bukanlah semacam upaya untuk membongkar ketakmasukakalan di dalam sinetron, melainkan sekadar peluang untuk membuat acara baru, memancing responsibilitas yang lebih tinggi dari penonton "Sketsa ABG" selama ini. Hal ini dapat dilihat dari petilan-petilan parodi itu yang hanya tayang 3-5 menit. Pemarodian itu pun terkesan sangat sederhana, hanya mengutamakan unsur yang dapat memancing tawa. Yang dibidik dari parodi ini bukanlah syaraf pikir melainkan syaraf tawa penonton. Parodi di sini telah mengalami penyempitan makna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam buku &lt;I&gt;A Theory od Parody&lt;/I&gt;, Linda Hutcheon mendefenisikan  parodi sebagai imitasi yang mengandung ironi. Parodi selalu mengandung unsur kritik untuk mengungkapkan ketidakpuasan, ketidaksenangan, atau kekecewaan. Tapi, parodi tidak hanya cukup sebagai imitasi, dan harus memuat ruang "permainan" untuk menghadirkan makna baru. Parodi mengajak orang tertawa dan sekaligus berpikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam &lt;I&gt;Dialogic Imagination&lt;/I&gt;, Michael Bahtin meyakini parodi selalu lebih menonjolkan aspek distorsi dan plesetan maknanya. Karena itu, parodi tidak pernah berangkat dari satu teks tunggal, namun dialog dari berbagai teks untuk menciptakan makna baru. Dalam parodi selalu ada "dua wajah", yang imitasi dan asli. Parodi juga tidak selalu berangkat dari sisi negatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Prime Time" di satu sisi telah berhasil memarodikan ketidakmasukakalan di dalam sinetron kita. Tapi di sisi lain, ketidakmasukakalan itu hadir tanpa jarak di dalam pemanggungan mereka. Alih-alih merepresentasikan" ini loh ketidakmasukakalan itu", "Prime Time" justru terjebak dalam bagaimana menciptakan ketidakmasukakalan baru. Ironi kata kuncinya. Ironi atas teks itu yang belum tereksplorasi secara serius di dalam "Prime Time". Acara ini masih sebatas hanya menyangatkan atau menghiperbolakan dan belum sampai pada membelokkan atau memutus teks asli. Karena itu, parodi ini nyaris tidak memiliki efek kejut, dan tidak memperhubungkan penonton langsung dengan teks atau visual asli yang dituju. Lompatan makna baru antara teks asli dan imitasi tidak terjadi dalam satu ketersegeraan. Sehabis tawa, nyaris tak tersisa apa-apa. "Prime Time" berangkat dari kesadaran peluang untuk memancing tawa dan bukan menawarkan wacana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Micin Olga&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai produksi &lt;I&gt;TransTV&lt;/I&gt;, tentu memang sulit berharap "Prime Time" memosisikan dirinya sebagai "oposisi" ketakmasukakalan dalam sinetron kita. Karena sangat tidak mungkin acara ini mengebiri acara lain yang juga tayang di &lt;I&gt;TransTV&lt;/I&gt;. Apalagi, TransTV justru salah satu persemaian utama dari kekonyolan sinetron kita. Sinetron yang tayang di teve itu, misalnya &lt;I&gt;Sinema Hidayah, Legenda, Hikayah&lt;/I&gt;, dan sinetron lepas lain, justru selalu membuat kekonyolan baru, dan menjadi rujukan bagi teve lain. Sinetron Legenda misalnya, yang justru bisa jadi ladang parodi yang sebenarnya, justru memperhamba pada kenaifan dan ketakmasukakalan sebagai bumbu utama legenda. Apalagi sinentron &lt;I&gt;Hikayan&lt;/I&gt; dan&lt;I&gt; Hidayah&lt;/I&gt;, yang membaurkan kemuskilan dalam dogma agama, dan menjadi acara yang paling diunggulkan oleh TransTV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, tidak mungkin berharap "Prime Time" adalah "solusi" atas kekonyolan sinetron kita. Kecuali, acara ini, misalnya, tayang di &lt;I&gt;MetroTV&lt;/I&gt;, yang tidak akan menimbulkan konflik bisnis di dalamnya. "Prime Time" hanyalah satu lini acara baru yang hanya menambah "penyedap rasa" atas ketidakmasukakalan dalam sinetron kita. Micin itu ada dalam diri Olga, Raffi, dan juga Dawiyah. Dan dengan tambahan penyedap rasa ini, ketidakmasukakalan itu punya wajah baru, menjadi tayangan mandiri, yang lepas dari teks asli yang mereka parodikan. Dan sebagai parodi yang mengutamakan sisi lucu saja, sehingga lepas dari teks asli, tayangan ini justru kian mengukuhkan ketidakmasukakalan itu sendiri. Karena, yang konyol, yang tidak masuk akal itu, yang aneh bin ajaib di dalam sinetron kita, bukanlah unsur yang meniadakan akal sehat, melainkan memancing syaraf tawa. Kehadirannya tak perlu ditampik, tak perlu dicela, karena kita bisa melihatnya hanya dengan tertawa. Dan ketika sebuah ketidakmasukakalan sinetron hanya dianggap sebagai lelucon, jangan harapkan ada perubahan. Karena dengan lelucon itu, para perajin sinetron semakin merasa tak ada yang salah dalam produk mereka. "Prime Time" telah membuktikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;[Artikel ini telah dimuat di Harian &lt;I&gt;Suara Merdeka&lt;/I&gt;, Minggu 11 November 2007]&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10916372-1252418787576905537?l=auliamuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/feeds/1252418787576905537/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10916372&amp;postID=1252418787576905537' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/1252418787576905537'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/1252418787576905537'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/2007/11/mengabadikan-ketakmasukakalan.html' title='Mengabadikan Ketakmasukakalan'/><author><name>sujud ilalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/Ry6rkPRiOXI/AAAAAAAAAEc/mLKIFckI-NE/s72-c/olga3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10916372.post-2701782742151083026</id><published>2007-10-29T14:32:00.000+07:00</published><updated>2007-10-29T15:04:31.436+07:00</updated><title type='text'>Seks Bebas? Sutralah....</title><content type='html'>Semakin ditekan, hasrat seks bebas akan kian menampil di dalam iklan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/RyWOW_RiOWI/AAAAAAAAAEU/fuaU6VPcIQA/s1600-h/kondom.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/RyWOW_RiOWI/AAAAAAAAAEU/fuaU6VPcIQA/s400/kondom.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5126660276424423778" /&gt;&lt;/a&gt;Berhubungan kelamin itu hal yang wajar, boleh, dan tidak berbahaya, sepanjang Anda memakai kondom. Barangkali, begitulah pesan yang secara gamblang dapat kita lihat dalam iklan kondom Sutra yang diperankan oleh Julia Perez. Dalam dua versi, Julia sebagai pekerja seks komersial dan penyanyi dangdut, iklan ini menunjukkan secara tersirat bahaya yang mengintip para lelaki jika tidak menggunakan kondom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai saat ini, dua iklan di atas melenggang dengan santai di televisi. Tak terdengar kritik atau permintaan henti tayang dari para "penjaga moral". Padahal, Julia Perez tampil sensual, bergaun merah terbuka, dan seperti biasa, selalu mendesah-desah. Nasib yang berbeda justru diterima iklan Sutra Fiesta. Tanpa desah, apalagi gaun merah terbuka, iklan animasi itu justru menuai kecaman. Berbagai milis dan blog memuat kritik yang seragam bahwa iklan itu menganjurkan seks bebas.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, tidak seperti Sutra, Fiesta hanya menceritakan dengan riang kencan sejoli, yang membekali diri dengan Fiesta. Tak ada "pesan" bahaya seks tanpa kondom. Dan kealfaan "pesan" itulah yang membuat Fiesta dinilai mensponsori seks bebas. Para "penjaga moral" mengecam pembuat iklan, dan teve yang mau menayangkannya, sekaligus khawatir dengan dampaknya terhadap penonton. Dan bisa diduga, permintaan henti tayang pun meramaikan berbagai milis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya percaya, tak ada keinginan dari kreator iklan untuk mempromosikan seks bebas, sebagaimana interpretasi banyak pihak. Masalahnya, mengapa "pesan anjuran" seks bebas itu tampak nyata? Dan, apakah mungkin iklan kondom bebas dari pesan tersebut? &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Imaji Kondom &lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai kini, stigma bahwa kondom identik dengan seks di luar pernikahan memang sulit dihapus. Mitos berkurangnya kenikmatan bagi pemakai membuat kondom belum ramah bagi pasangan resmi. "Terasa ada yang &lt;I&gt;ngganjel&lt;/I&gt;, &lt;I&gt;gak&lt;/I&gt; enak," kata Krisdayanti. Akibatnya, imaji kondom pun lebih dekat pada perselingkuhan, seks bebas, dan atau pelacuran. Apalagi, promosi kondom lebih diutamakan pada unsur keamanannya, mencegah penyakit kelamin, daripada kemampuannya menghalangi pembuahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imaji itu justru disadari produsen kondom. Pembuat iklan apalagi. Namun tentu, promosi kondom tidak boleh bersandar pada imaji tersebut. Perselingkuhan, seks bebas, dan pelacuran, meskipun telah lazim di negeri ini, tapi haram untuk dinyatakan. Maka, kalaupun ingin beriklan kondom, maka ditempuh cara memutar, akibat jika tidak memakainya. Yang menjadi fokus pesan adalah dampak dari "jika tidak memakai" dan bukan "siapa yang harus memakai". Karena fokus pesan itulah, posisi Julia Perez sebagai pekerja seks komersial dan penyanyi dangdut tidak dominan. Dominasi teks berada pada lelaki pelanggan PSK yang kesetrum listrik dan atau yang jatuh dari atas panggung. Iklan ini, karena posisi pesannya, dinilai berbeda dari iklan Fiesta, tidak menganjurkan seks bebas. Benarkah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meminjam analisa Freud tentang mimpi, sebuah karya menjadi penting bukan hanya karena apa yang ditunjukkannya melainkan apa yang disembunyikannya. Pierre Macherey dalam &lt;I&gt;A Theory of Literary Production&lt;/I&gt; bahkan menyebutkan bahwa selalu ada kesenjangan, penjarakan internal, antara apa yang ingin disampaikan sebuah karya dan apa yang benar-benar dikatakannya. Pesan sebuah karya kadang tersembunyi pada 'apa yang dipaksa dikatakan agar mengatakan apa yang dikatakan'. "Kita senantiasa, pada akhirnya, menemukan di ujung teks itu, bahasa ideologi acap tersembunyi, tapi justru terasa oleh ketidakhadirannya itu sendiri," ucapnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang tersembunyi, tapi ada, dan terasa. Apa? &lt;B&gt;Pertama&lt;/B&gt;, ini iklan produk tapi berwajah iklan layanan masyarakat untuk mencegah penyakit kelamin. (Ingat iklan “Sutra dan kereta api” dan “Kondom, Helm, dan Pengendara Motor”?) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai iklan, yang menjadi tujuan adalah bagaimana agar produk itu laku. Jadi, sasaran utama iklan ini adalah mereka yang diimajinasikan produsen dan pembuat iklan sebagai pemakai utama kondom. Dan itu terbubuhkan di dalam iklan, yakni pekerja seks komersial dan pelanggannya, penyanyi dangdut dan penikmatnya. Kok penyanyi dangdut? Itu juga masih berkait dengan stigma bahwa penyanyi dangdut, terutama yang berada di kota kecil, adalah profesi yang rileks dengan seks bebas. Namun, iklan itu juga melakukan "perluasan" konsumen. Caranya, mengupayakan subsidi imaji dengan penghadiran sosok Julia Perez. Sebagai subjek iklan, Julia Perez adalah afirmasi pada kebebasan hidup dan seks. Di sini terjadi figurasi atau pembubuhan "ideologi" Julia ke dalam iklan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Kedua&lt;/B&gt;, promosi kewajaran hubungan kelamin. Hanya dengan kampanye semacam itulah akan tercipta kebutuhan akan kondom. Semakin marak seks bebas, semakin biasa perselingkuhan dan maraknya pelacuran, akan kian banyak juga permintaan kondom. Jadi, dampak karena tidak memakai kondom yang merupakan pesan dominan di dalam iklan itu sebenarnya hanyalah narasi kecil dari representari kepentingan koorporasi yang disembunyikan. Jadi, iklan Sutra atau Fiesta, Andalan atau Durex, sebenarnya sama saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, apakah mungkin iklan kondom lepas dari promosi seks bebas? Tentu, tidak.  Seperti dikatakan di atas, kondom masih identik dengan perselingkuhan, seks bebas, dan pelacuran. Namun, iklan kondom justru "diwajibkan" bebas dari hal tersebut. Di sini, terjadi tekanan, represi, terhadap kreator iklan untuk membuang stigma itu. Dan tanpa disadari, represi itulah yang membuat promsi seks bebas itu tetap hadir, meski tersembunyi. Freud menyatakan, represi tak akan terpisahkan dari fenomena kembalinya yang direpresi, &lt;I&gt;the return of the repressed&lt;/I&gt;. Sesuatu masih tetap ada dan berfungsi, dan masih senantiasa berbicara, di tempat ia ditekan. Ia akan tetap hadir, dalam diam, dalam sembunyi, dalam sunyi. Selama ditabukan, ditekan, kapan pun, di mana pun, iklan kondom pasti mengampayekan seks bebas. Tak terelakkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, seks bebas ya Julia Perez-lah, eh ya Sutra-lah....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;[Artikel ini telah dimuat di Majalah &lt;I&gt;AdDiction&lt;/I&gt; edisi ke-10, Oktober 2007]&lt;/B&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10916372-2701782742151083026?l=auliamuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/feeds/2701782742151083026/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10916372&amp;postID=2701782742151083026' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/2701782742151083026'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/2701782742151083026'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/2007/10/seks-bebas-sutralah.html' title='Seks Bebas? Sutralah....'/><author><name>sujud ilalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/RyWOW_RiOWI/AAAAAAAAAEU/fuaU6VPcIQA/s72-c/kondom.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10916372.post-6458582179658056705</id><published>2007-10-22T17:51:00.001+07:00</published><updated>2007-10-22T17:54:45.190+07:00</updated><title type='text'>Sebatang Sepeda, Remah Koran, dan Misrepresentasi</title><content type='html'>Iklan-iklan inspirasi Idul Fitri pun acap melakukan misrepresentasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/RxyBSOTQhII/AAAAAAAAAEM/4CYb3hLQqF8/s1600-h/iklan+idul+fitri2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/RxyBSOTQhII/AAAAAAAAAEM/4CYb3hLQqF8/s400/iklan+idul+fitri2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5124112626117280898" /&gt;&lt;/a&gt;Sebulanan ini, semua televisi memiliki satu "agama". Berbagai acara diciptakan untuk berwajah islami. Bahkan, sinetron kejar tayang yang semula tak ada hubungan dengan syiar keislaman, tiba-tiba berubah drastis. Ceritanya berbelok, pemainnya berganti busana, ketakrasionalannya pun bertambah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iklan pun mengalami metamorfosa yang sama, terutama menjelang dan selama Idul Fitri. Berbagai perusahaan, instansi, dan partai politik, berlomba mengiklankan diri, merayakan kefitrian, meminta maaf, dan tentu, tetap menyanjung diri.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara sederhana, ada dua jenis iklan idul fitri yang beredar di televisi. Pertama adalah iklan dari petinggi BUMN dan partai politik yang berisi pernyataan maaf dan kampanye diri. Kedua adalah iklan inspiratif dari perusahaan besar yang berisi keindahan idul fitri, nilai pengorbanan, dan saling berbagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iklan-iklan inspiratif itu menggugah dengan cara yang sama, menghadirkan nilai-nilai sederhana yang mulai sulit kita temukan. Iklan itu mengharukan karena menyadarkan bahwa nilai itu adalah sesuatu yang kita miliki tapi jarang kita sadari; kemampuan menahan diri dalam goda, kemauan berbagi, dan kegampangan memaafkan. Iklan itu, meski sebentar, membuat kita percaya bahwa pada dasarnya manusia adalah benih kebajikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Memberi, Berbagi&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa anak berlari riang mengejar sobekan kertas yang diterbangkan angin. Di peron stasiun, remah-remah koran dan kardus-kardus bekas mereka punguti dengan tawa lepas. Di ujung sana, di trotoar jalan, tingkah mereka mengundang tawa pemuda-pemuda bergitar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kumpulan kertas bekas itu lalu mereka timbang. Dan wajah cemas mereka segera sirna, ketika sebuah gitar menggenapkan berat kertas mereka. Dengan tertawa, mereka berbelanja berkardus mi, dan membaginya ke panti asuhan Ar-Rahim. Dan di hari Lebaran, dengan bernyanyi, mereka bersalaman. Opick tampak di antara pengurus panti itu. Iklan ditutup dengan ucapan "Warnai hari kemenangan dengan saling berbagi. Selamat Idul Fitri".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu memang bukan iklan baru. Setidaknya, tahun lalu iklan itu telah menghiasi hari-hari Lebaran. Namun, meski ulangan, tayangan ini tetap saja terasa indah dan menggugah. Anak-anak pun ternyata tahu tentang bagaimana berbagi dan mengusahakan hal itu dengan jerih mereka sendiri. Anak-anak itu menjadi juru penerang tanpa terasa menggurui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iklan kedua yang senada dengan hal di atas bercerita tentang Pak Guru Umar. Istrinya di rumah sakit, dan dia tak punya uang untuk menebus semua biaya. Di ruang kelas, tak ada kemurungan di wajahnya, dia menjadi guru yang baik, menyembunyikan pedihnya dengan memancing tawa murid-murid. Lepas mengajar, lunas juga gembiranya. Hanya suara azan yang mampu menahan dirinya untuk mengambil uang sekolah para murid. Dengan iklas, dia jual sepeda motor bututnya, diiringi tatapan haru para beberapa murid. Menaiki sepeda,  mereka bersama ke rumah sakit. Di hari Lebaran, saat bersilaturahmi, para murid menghadiahi sebuah sepeda baru kepada Pak Umar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iklan ini terasa begitu mengharukan. Gambarnya sederhana tapi indah, ceritanya menimbulkan rasa sesak di dada. Anak-anak itu, dengan caranya sendiri, tahu bagaimana meringankan beban orang lain. Anak-anak itu adalah tangan firman-Nya yang menjadi kenyataan,  yang membayar pengorbanan Pak Umar. Kehadiran anak-anak itu, seperti kata Tagore, adalah tanda bahwa Tuhan belum jera dengan ulah manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Misrepresentasi&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua iklan di atas dengan nada yang sama berbicara tentang berbagi di hari fitri. Anak-anak dijadikan subjek cerita untuk menekankan betapa kepolosan mereka bukanlah tanda keabaian pada sekitarnya. Kepolosan mereka justru tanda bahwa apa pun yang mereka lakukan jauh dari pamrih. Dan karena itulah, iklan ini terasa menyentuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, meski bicara dengan nada yang sama, dua iklan di atas tetap berbeda warna. Perbedaan warna itu terlihat dari kepentingan pengiklan yang masuk ke dalam cerita. Pada iklan pertama, anak-anak itu menjual remah kertas untuk membeli berkardus mi. mi yang mereka bagi ke panti adalah produk Indofood, yakni Indomie. Iklan ini memang dipersembahkan oleh Indomie. Di sinilah, Indomie tidak mampu menahan diri untuk tidak "menonjolkan" produknya pada "pameran" keikhlasan anak-anak itu. Indomie hadir di dalam cerita sebagai produk yang pantas dibagikan di hari nan fitri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu tidak terjadi dalam iklan Guru Umar. Anak-anak itu menghadiahkan sepeda, dan iklan ini bukan persembahan dari pabrikan sepeda, malainkan pabrik rokok Djarum. Penghadiran sepeda tak memiliki korelasi apa pun dengan rokok. Di iklan ini, Djarum mampu menahan diri untuk tidak "mempresentasikan" produknya dalam citraan "resmi" mereka selama ini karena larangan visual produk rokok. Iklan itu, tampak "murni" sebagai ajakan tentang keberanian berkorban dan keindahan berbagi. Anak-anak yang hadir di dalam iklan Djarum "mengabarkan" kebaikannya tanpa dibebani pesan sponsor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada iklan Indomie, terkesan kepolosan anak-anak itu dimanfaatkan untuk menonjolkan citra produknya. Sebagai iklan yang mewartakan ketakberpamrihan, iklan ini justru terasa "gagal". Jika anak-anak itu mau mengumpulkan remah kertas sebagai jalan untuk berbagi tanpa mengharap pamrih, Indomie justru membuat iklan ini dengan pamrih. Dengan masuknya produk mereka ke dalam cerita, tampaklah "ajakan berbagi tanpa pamrih" hanya sebagai iklan, pemanis bibir saja. Iklan ajakan itu akhirnya nyaris setara dengan iklan-iklan dari partai politik dan pimpinan BUMN. Ada penonjolan diri pribadi dan atau institusi di dalamnya. Iklan itu dengan demikian hanya berfungsi sebagai ajakan tentang sebuah nilai kemauan untuk berbagi dan bukan contoh nyata sifat berbagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iklan idul fitri Indomie di atas menunjukkan bagaimana terjadinya "misrepresentasi". Sebuah "kesalahan" citra diri yang sangat sering kita lihat dilakukan para politikus, terutama di momen Idul Fitri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;[Artikel ini telah dimuat di Harian &lt;I&gt;Suara Merdeka&lt;/I&gt;, Minggu 21 Oktober 2007]&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10916372-6458582179658056705?l=auliamuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/feeds/6458582179658056705/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10916372&amp;postID=6458582179658056705' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/6458582179658056705'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/6458582179658056705'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/2007/10/sebatang-sepeda-remah-koran-dan.html' title='Sebatang Sepeda, Remah Koran, dan Misrepresentasi'/><author><name>sujud ilalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/RxyBSOTQhII/AAAAAAAAAEM/4CYb3hLQqF8/s72-c/iklan+idul+fitri2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10916372.post-8495965509092431077</id><published>2007-10-02T15:18:00.000+07:00</published><updated>2007-10-02T15:22:21.622+07:00</updated><title type='text'>Imaji, Sensualitas, dan Julia Perez</title><content type='html'>Yang pertama kali diserang oleh tubuh-tubuh sensual adalah pikiran, bukan mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/RwH_f-TQhHI/AAAAAAAAAEE/E7BMEicpv-U/s1600-h/jupe.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/RwH_f-TQhHI/AAAAAAAAAEE/E7BMEicpv-U/s400/jupe.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5116651576434394226" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua yang hadir di televisi seharusnya merupakan impian dari para penonton. Demikianlah apologi yang pernah diucapkan oleh Raam Punjabi. Raja sinetron ini yakin, penonton teve adalah makhluk-makhluk yang letih dan mencari kesenangan dalam aktivitas menonton. Karena itu, dia pun membuat sinetron yang memenuhi hasrat dari para penonton yang letih oleh kehidupan real mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keyakinan Raam Punjabi ini, harus kita akui, juga menjadi kepercayaan mayoritas penggagas acara di televisi. Karena itulah, sampai kini format acara di televisi nyaris tak pernah berubah. Memang acara-acara baru selalu hadir, menawarkan kesegaran baik dari segi cerita dan penampil, namun masih selalu dalam esensi yang sama, sekadar menghibur pemirsa. Dan karena motifnya menghibur dan memberi mimpi, satu hal yang pasti, acara-acara televisi tersebut acap tidak "membumi".&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kacamata yang sederhana, pemenuhan hiburan dan impian pemirsa itu diwujudkan dalam dua bentuk: glamouritas dan sensualitas. Dengan menampilkan dua hal itu, penggagas acara di teve yakin tayangannya akan popular dan meraih rating tinggi. Keyakinan yang memang tak bertepuk sebelah tangan. Karena itulah, tubuh-tubuh sensual selalu berseliweran di setiap acara. Sensualitas yang selalu dipadukan dengan kehidupan glamour.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Ikon Sensual&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sinetron adalah pemasok utama tubuh-tubuh seksi dan kehidupan glamour. Namun, acara lain pun, merasa tidak nyaman jika tidak menyisipkan sensualitas. Komedi misalnya, pasti selalu menghadirkan tubuh-tubuh sensual, meskipun hanya sekadar untuk dipamerkan pada penonton dan jadi ajang pelecehan di panggung. Srimulat sukses memakai ajian ini. "Extravaganza" juga pintar meramu, dengan memakai tubuh seksi para bintang tamu. Yang terkadang lucu, tubuh sensual pun masih "dijual" dalam acara bola. Komentator bola di &lt;I&gt;Anteve&lt;/i&gt; misalnya, selalu ditemani bintang tamu bertubuh aduhai, yang gugup berbicara tentang bola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, &lt;I&gt;Anteve&lt;/i&gt; yang tengah berubah tampaknya menyadari bahwa sensualitas dan glamouritas adalah cara mujarab meraih popularitas. Tak heran, lebih dari stasiun lain, teve ini menggelar sensualitas dalam bentuk massal. Ikon-ikon tubuh sensual pun dipajang dalam tiap acara untuk sajian visual yang menjerat mata. &lt;I&gt;Anteve&lt;/i&gt; bahkan "memasang" Julia perez sebagai tenaga marketing sensualitas itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semula, kehadiran Julia Perez memang hanya selintasan di dalam puluhan acara di Anteve. Namun, belakangan ini, tubuh Jupe justru menjadi "magma" dalam acara unggulan. Kehadiran Jupe yang rutin pertama kali muncul dalam "Seleb Mendadak Dangdut". Dalam acara ini, Jupe bahkan sengaja dilawankan dengan Rachma Azhari, yang membuat keduanya tampil menggila, dengan busana serba terbuka. Sesi satu panggung keduanya adalah pameran tubuh dan goyang sensual, yang membuat penonton di studio acap terperangah, dan juri kehilangan kata-kata. Kadang, demi sensualitas, busana yang mereka kenakan justru membuat goyang mereka tidak leluasa. Karena, jika tetap bergoyang, dapat dipastikan pakaian mereka tak akan lagi mampu tersangga oleh dada. "Jupe bagus, tapi barangkali karena busananya ya, jadi tidak bisa maksimal pergerakannya. Saya maklumlah..." kata Liza Natalia, salah satu juri "Seleb Mendadak Dangdut".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara ini memang menjual sensualitas. Tak heran jika kemudian Jupe pun menang. Saat ini, popularitasnya memang tak terlawankan oleh dua Azhari, Rachma dan Sarah, sekalipun. Lepas dari "Seleb Mendadak Dangdut", Jupe masih dijerat &lt;I&gt;Anteve&lt;/i&gt; dalam "Seleb Dance". Dia didapuk sebagai pembawa acara. Dan untuk peserta, ditampilkan "ikon" tubuh sensual lain, Tessa Mariska, yang "matang" dalam acara "Komedi Nakal" di &lt;I&gt;TransTV&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan penampilan perdana Tessa Mariska bersama Andre, benar-benar mengguncang panggung "Seleb Dance". Busananya yang terbuka di bagian dada, tak menghalanginya untuk bergerak liar, yang membuat bagian tubuh itu terekspose demikian bebas. Penonton berteriak, heboh, tapi juri justru terhenyak. "Bagi saya itu bukan &lt;I&gt;dance&lt;/i&gt;, tapi kecelakaan," nilai Joko Anwar, salah satu juri. Shanty, juri yang lain, bahkan hanya bengong. Dia tak bisa berkomentar apa pun. Julia Perez sendiri mengaku keringatan melihat penampilan Tessa Mariska. Juri memberi nilai jelek untuk penampilannya. Tapi sampai kini, Tessa-Andre lolos terus. Ini bukti, bukan kemampuan menari, tapi eksplorasi sensualitas tubuh yang menjadi nilai utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak cukup hanya menjadi pembawa acara di "Seleb Dance", Julia Perez pun didapuk sebagai panelis di "Silat Lidah", yang juga tayangan baru di&lt;I&gt; Anteve&lt;/i&gt;. Jupe termasuk panelis yang rutin tampil, mendampingi Ria Irawan, Melissa Karim, dan Ratna Sarumpaet. Acara ini, seperti pengakuan sang host Irwan Ardian, hanya menampilkan perempuan yang sensual tapi berotak kosong. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Serang Pikiran&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran Julia Perez di tiga acara baru itu memberi tanda bahwa sensualitas adalah anak kandung dunia hiburan. Dengan cara apa pun, kehadirannya tidak bisa ditampik. Sebab, selain menghibur, sensualitas juga membuat penonton melakukan identifikasi hasrat. Penonton perempuan misalnya, secara tidak sadar akan mengidentifikasikan hasrat tubuh idealnya pada diri aktris seksi idamannya. Sedangkan penonton lelaki mendapatkan pemenuhan imaji tentang objek hasratnya. Dua hal ini berkelindan, membentuk imaji harapan tentang idealisasi hasrat yang beroleh pemenuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Julia Perez adalah akrtis yang tahu bagaimana menjual sensualitas tubuhnya. Seluruh aktivitasnya, gerak tubuh, lirikan mata, busana, sampai duduk, tak pernah lepas dari pembentukan imaji tentang tubuh yang ideal dan nikmat. Dalam satu sesi "Silat Lidah" misalnya, Ria Irawan membantah penilaian Irwan bahwa Jupe memiliki dada besar. "Yang besar ganjelannya," sergah Ria. Namun, Jupe tidak gusar. Dengan membusungkan dada, mendesah dan meleletkan lidah, dia berkata, "yang penting einakk boo..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Citra sensual Julia Peres yang sudah "jadi" inilah yang dimanfaatkan &lt;I&gt;Anteve&lt;/i&gt; untuk mendongkrak acaranya. Sebagai ikon sensualitas, Julia Perez kini tidak perlu lagi membuka busana untuk memamerkan kemolekan tubuhnya. Karena saat ini, nyaris di benak semua orang, mendengar kata Julia Perez saja, sudah terimajikan tubuh sensual yang hanya ditutupi selembar benang. Dan di sinilah kelihatan betapa mengerikannya dampak tayangan yang memuja sensualitas. Karena yang pertama kali diserang adalah pikiran dan bukan mata. Julia Perez bisa saja tampil di televisi memakai pakaian tertutup di bulan Ramadan ini. Tapi, di benak penonton, yang tergambar adalah Julia Peres yang selalu kehilangan busana. &lt;I&gt;Anteve&lt;/i&gt; tahu benar memanfaatkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;[Artikel ini telah dimuat di Harian &lt;I&gt;Suara Merdeka&lt;/I&gt;, Minggu 30 September 2007]&lt;/B&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10916372-8495965509092431077?l=auliamuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/feeds/8495965509092431077/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10916372&amp;postID=8495965509092431077' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/8495965509092431077'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/8495965509092431077'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/2007/10/imaji-sensualitas-dan-julia-perez.html' title='Imaji, Sensualitas, dan Julia Perez'/><author><name>sujud ilalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/RwH_f-TQhHI/AAAAAAAAAEE/E7BMEicpv-U/s72-c/jupe.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10916372.post-7909584884447024694</id><published>2007-09-24T19:47:00.000+07:00</published><updated>2007-09-24T19:57:36.125+07:00</updated><title type='text'>Silat Lidah Para Dayang</title><content type='html'>"Silat lidah" tampaknya sengaja ditayangkan untuk mendapatkan kecaman. Popularitas akan mengekor kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/Rvez2OTQhGI/AAAAAAAAAD8/jjMz73uxBEQ/s1600-h/silatlidah3.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/Rvez2OTQhGI/AAAAAAAAAD8/jjMz73uxBEQ/s400/silatlidah3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5113753646035666018" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Untuk jadi panelis, Anda tak perlu punya otak. Asal bisa ngomong dan seksi, Anda bisa tampil di sini. Karena yang jadi panelis di sini pun tidak ada yang punya otak, tapi seksi-seksi kan?" jelas Irwan Ardian untuk seorang penanya, yang disambut tawa dan cekikikan panelis di sampingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah gaya Irwan Ardian "memandu" acara "Silat Lidah" di &lt;I&gt;Anteve&lt;/i&gt;. Kosa kata yang dia gunakan tendensius, memojokkan, kasar, dan kadang, jorok. Para panelis acap dia lecehkan, apalagi para penanya. Dan anehnya, pelecehan itu selalu disambut cekikikan dan tawa. Pelecehan yang dinikmati. Padahal, di antara panelis yang Irwan sebut tidak punya otak itu terdapat Ratna Sarumpaet, aktivis dan aktor panggung hebat, juga Sandrina Malakiano, mantan presenter &lt;I&gt;MetroTV&lt;/i&gt;, istri Eep Saefullah Fatah, intelektual muda yang namanya harum karena kecerdasannya. Mereka berdua larut dalam suasana, tergelak, menggelengkan kepala, dan mencibir jika Irwan memuji dirinya sendiri.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Silat Lidah" tampaknya memang diniatkan sebagai acara yang hanya mempertontonkan tajamnya lidah, tanpa perlu "melibatkan" otak. Akibatnya, acara yang tayang Selasa dan Sabtu malam ini ramai luar biasa dengan celoteh, saling bantah, baku cela, seperti keriuhan tawar-menawar ibu-ibu di pasar ikan. Dan untuk melerai percecokan para panelis, Irwan terkadang harus meniupkan peluit. Dia memang menjadi wasit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Bukan Solusi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai ajang silat lidah, acara ini memang menampung permasalahan yang dikirimkan para penonton. Tapi, jangan harap permasalahan itu akan dibahas dengan "benar" dan fokus, apalagi mendapatkan solusi. Yang terjadi, permasalahan itu kadang tidak dibahas, para panelis sibuk mengomongkan permasalahan mereka sendiri, dan kembali saling cela dan baku bantah. Irwan tersenyum-senyum menikmatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alia, penonton dari Batam, misalnya, mengeluh karena suaminya selalu mengajak makan di luar. Bagi dia hal itu sebagai pemborosan. Tapi apa tanggapan Irwan? "lebih baik suami makan di luar daripada dia muntah makan masakan Anda, iya kan?" Djenar Maesa Ayu, bahkan membicarakan dirinya sendiri. "Gue &lt;I&gt;cere&lt;/i&gt; karena gak bisa masak. Jadi kalau suami mau makan di luar malah senang." Dan Ria Irawan memberi "solusi" yang luar biasa. "Kalau makan di luar itu harus didukung, daripada suami jajan di luar." Dan ramailah ketawa-ketiwi, bantahan, tak terkendali, sampai, "Prriittt...." Irwan meniup peluitnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasib sama juga dialami penanya yang menyebut dirinya "ibu berdada besar". Dia yang telah memperbesar dadanya, dan kemudian mendapatkan banyak perhatian dari lawan jenis, diminta suami agar kembali mengecilkan ukuran payudaranya. Beberapa panelis mengajurkan cerai sebagai solusi. Julia Peres, panelis yang menurut Irwan berdada besar, tapi dibatah Ria Irawan sebagai dada yang besar ganjelannya, dan dibalas Julia "yang penting enak!" justru marah-marah, seperti juga Aline. Ratna Sarumpaet lupa memberi saran, malah sibuk berkali-kali mengucapkan "tetek". Perdebatan soal operasi dada ini nyaris tak menghasilkan apa pun!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mario bahkan bernasib lebih sial daripada Alia dan "si ibu berdada besar". Bertanya melalui e-mail, Mario bercerita kalau direktur istrinya menyukai pendamping hidupnya itu. Dan ketika datang ke rumah, Mario menghadiahinya bogem mentah. Anehnya, setelah peristiwa itu, istrinya malah dipromosikan, menjadi asisten direktur di perusahaan itu. Mario bingung menghadapi situasi itu. Apalagi, dengan posisi baru, gaji istrinya naik empat kali lipat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak usah bingung Mario. Paksa aja dia untuk diam di rumah!" saran Irwan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mario, Anda tampaknya punya bakat jadi mucikari," kecam Djenar Maesa Ayu, yang didukung Mellisa Karim, dan ditimpali cekikian Julia Perez, serta anggukan Irwan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ratna Sarumpaet kemudian bicara panjang lebar, tapi entah apa yang dia katakan, tidak fokus dan ngelantur. Ratna tampaknya menyadari juga betapa ngawurnya dia, sehingga, "Gak mutu banget gue ngejawabnya, hahaha...." Dan langsung disergap Ria Irawan, "Memang ada yang bermutu!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, omongan para panelis memang tidak ada yang bermutu, dan tampaknya memang sengaja diarahkan agar tidak bermutu. Pameran kebodohan itu bahkan dengan riang diumbar Putri Patricia, juga Kiki Amalia ketika menjadi panelis. Kiki Amalia tampaknya bukan saja tidak tahu apa yang dia bicarakan, dia bahkan tidak tahu bagaimana cara berbicara yang benar, atau cara memotong percakapan. Dengan suara yang cempreng, ucapannya seperti igauan perempuan mabuk yang kecemplung ke dalam got! Dari sekian banyak panelis yang tampil, Kiki Amalia-lah di mata penonton yang paling memalukan membawakan dirinya. Kecaman pada Kiki ini, juga panelis lain, serta Irwan, bahkan ditayangkan dengan lengkap di situs acara itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Antinalar&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Silat Lidah" memang berusaha menampilkan tontotan yang ringan, segar, tidak membuat penonton mengernyitkan kening. Hal itu juga dapat dilihat dari sikap panelis yang terkadang tidak bisa menyembunyikan bahwa celotehannya, tindakannya untuk memotong lawan bicara, merupakan arahan dari sutradara yang berada di samping kameramen. Mata Ria Irawan dan atau Mellisa Karim acap melihat ke "pengatur acara" sebelum menimpali. Seolah ada komando bahwa dia harus memperamai dan memperkeruh situasi itu. Acara ini mengadopsi apa yang acap dikatakan Tukul Arwana untuk acara "Empat Mata" di &lt;I&gt;Trans7&lt;/i&gt;, bahwa "Acara itu hanya untuk hiburan semata, tidak ada maksud melecehkan. &lt;I&gt;Just for laught&lt;/i&gt;." Inilah niatan awalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, dalam setiap acara apa pun, selalu terjadi bias antara apa yang diniatkan dan apa yang termuatkan. Antara representasi dan figurasi, antara yang ingin dikatakan dan apa yang benar-benar terkatakan. Dan dalam "Silat Lidah" bias itu tercipta sangat lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai acara yang ringan, ramai, dan juga lucu, dan tampaknya sengaja diperlawankan dengan "Republik Mimpi" di &lt;I&gt;MetroTV&lt;/i&gt;, "Silat Lidah" justru jatuh menjadi acara yang secara sistematis mempertontonkan argumentasi antinalar. Dan televisi memang ladang yang subur untuk membiakkan ketidaknalaran karena dipupuk oleh sikap penonton yang juga mendukung ketidaknalaran itu. Bersedianya Ratna Sarumpaet, Sandrina Malakiano, juga Tamara Geraldine menjadi panelis menunjukkan betapa akal sehat dan pertimbangan logis lainnya luntur di depan kamera. Mereka seperti abai pada reprentasi dominasi patriarki pada acara itu. Ratna, juga Sandrina, tanpa sadar menjadi pengukuh stigma bahwa perempuan adalah makhluk yang lebih bernilai karena fisiknya daripada otaknya. Stigmatisasi ini bahkan secara kental dipolarisasi dengan cerdas oleh Irwan Ardian, satu-satunya lelaki yang menjadi penengah pertengkaran antarperempuan panelis. Bahasa tubuh Irwan, pertanyaan-pertanyaan cepat yang harus dijawab oleh panelis, secara kasat mata memposisikan perempuan sebagai subordinasi lelaki. Dominasi yang diamini dengan cekikikan, tawa senang, kerdikan bahu, cibiran gemes, dan celotehan lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Irwan misalnya, menyebut para panelis menjadi para dayang-dayang. Di sini saja, terjadi loncatan pengertian yang luar biasa antara "panelis" dan "dayang". Panelis berasosiasi dengan ruang diskusi, kecerdasan, dan demokratisasi. Sedang dayang, justru berasosiasi sebaliknya, ruang rumpian, ketakberpendidikan, dan kehadiran kekuasaan raja. Irwan adalah raja, dan dia dapat dan berkuasa untuk melecehkan para dayangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di televisi, tampaknya, perempuan memang harus hanya menjadi dayang-dayang, yang mengukuhkan kekuasaan para lelaki. Karena memang perempuan menginginkannya, menikmatinya, dengan riang dan tawa. "Silat Lidah" adalah contoh yang paling kasat mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;[Artikel ini telah dimuat di Harian &lt;I&gt;Suara Medeka&lt;/I&gt;, Minggu 23 September 2007]&lt;/B&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10916372-7909584884447024694?l=auliamuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/feeds/7909584884447024694/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10916372&amp;postID=7909584884447024694' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/7909584884447024694'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/7909584884447024694'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/2007/09/silat-lidah-para-dayang.html' title='Silat Lidah Para Dayang'/><author><name>sujud ilalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/Rvez2OTQhGI/AAAAAAAAAD8/jjMz73uxBEQ/s72-c/silatlidah3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10916372.post-1544164264260876485</id><published>2007-09-10T19:46:00.000+07:00</published><updated>2007-09-10T19:55:50.033+07:00</updated><title type='text'>Heroes dalam Tragedi September</title><content type='html'>&lt;I&gt;Heroes&lt;/I&gt; adalah kritik yang pedas atas tragedi 11 September.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/RuU-Pm7xWEI/AAAAAAAAAD0/wKdi9iDaBe4/s1600-h/new-heroes2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/RuU-Pm7xWEI/AAAAAAAAAD0/wKdi9iDaBe4/s400/new-heroes2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5108557790191900738" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;POLITIK&lt;/B&gt; tak pernah punya hati. Barangkali itulah pesan tersamar serial &lt;I&gt;Heroes&lt;/I&gt; yang setiap petang tayang di &lt;I&gt;TransTV&lt;/I&gt;. Serial yang sangat populer di Amerika --dan kemudian di seluruh negara yang menayangkannya-- ini menggambarkan intrik politik yang membuat hubungan batin kakak-adik, suami-istri, bahkan anak dan ibu, terberai. Semua terjadi karena perbedaan pandangan terhadap bencana yang akan terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inti cerita &lt;I&gt;Heroes&lt;/I&gt; adalah upaya untuk menyelamatkan New York dari kehancuran. Ada manusia-bom yang akan meledak di New York. Sosok manusia-bom itu tercetak dalam lukisan Isaac (Santiago Cabrera), sang penggambar masa depan. Tak jelas siapa manusia-bom itu, karena ada tiga orang yang punya kekuatan itu, Sylar (Zachary Quinto), Ted (Matthew John Amstrong), dan Peter (Milo Ventimiglia). Namun Hiro (Masi Oka), sang penjelajah waktu, yang datang dari masa depan, menjumpai Peter dan berpesan untuk menyelamatkan seorang pemandu sorak, "&lt;I&gt;save cheerleader, save the word&lt;/I&gt;."&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cheerleader itu adalah Claire (Hayden Panettiere), yang tidak bisa terluka. Hanya dia yang dapat membuat manusia-bom tak jadi meledak di New York. Peter pun menyelamatkan Claire dari pemangsa manusia-istimewa, Sylar. Sebuah tindakan yang membuat kakaknya, Nathan (Adrian Pasdar), calon senator, menjadi sangat emosional. Sebabnya, dalam lukisan Isaac, penyelamatan itu akan membuat Peter kehilangan jiwa. Satu yang tidak Nathan duga, kemampuan Peter yang seperti spon, menyerap kekuatan setiap orang, membuatnya juga tak dapat terluka ketika berada di dekat Claire.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;I&gt;Heroes&lt;/I&gt; memang serial yang padat, penuh intrik, dan ketakterdugaan. Setiap tokoh diceritakan dalam frame berbeda, yang kemudian lebur di dalam satu frame besar, semuanya terhubung. Siapa duga, ternyata Claire adalah anak Nathan, yang berarti keponakan Peter. Dan siapa sangka, aktor utama yang ingin New York tetap meledak adalah Linderman (Malcolm McDowel), yang sangat didukung oleh Angela (Cristine Rose), ibu Nathan dan Peter, nenek Claire. Heroes juga piawai menata konflik tiap tokoh dalam frame kecil yang seakan tak terhubung, lalu perlahan frame masing-masing tokoh lebur, dalam frame utama. Penonton dibuai dalam satu kejutan ke kejutan lain, cerita yang nyaris tak terduga, dalam skenario Tim Kring yang nyaris tanpa cacat logika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Lorong Gelap&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa Linderman dan Angela ingin New York tetap hancur? Jawabnya secara tegas dinyatakan Linderman pada Nathan, "Hanya dengan kesedihan itu engkau bisa menggerakkan dunia." Nathan, dalam lukisan Isaac, kelak akan berada di Gedung Putih, menjadi Presiden. Dan kehancuran New York-lah yang bisa membuat ramalan itu terjadi. Apalagi, kehancuran itu terjadi satu hari setelah Nathan menang dalam pemilihan anggota Konggres. kemenangan yang telah dijamin Linderman, karena dia memiliki Micah (Noah Gray-Cabay), yang dapat mengubah kartu suara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita akan berada dalam dunia kemarahan dan kesedihan yang sama. Dengan itu kita bisa mengarahkan dunia untuk mendukung cita-cita kita," jelas Linderman, sembari menunjuk lukisan Nathan di Gedung Putih. Namun Nathan tetap ragu. Apalagi Peter selalu meyakinkan bahwa terlalu banyak orang tidak berdosa yang akan jadi korban. "Kita punya kekuatan untuk menghentikan itu." Namun Nathan tak goyah, terutama setelah Angela meyakinkannya, dengan memberi contoh pada tindakan Presiden Truman yang meledakkan Hiroshima dan Nagasaki untuk mengakhiri PD II. "Itu keputusan yang penting! Mereka akan berterimakasih atas keteguhan, keuletan, dan keyakinanmu. Kau bisa percaya itu? Bisa menjadi orang yang kami butuhkan?" desaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hiro bersama Ando (James Kyson Lee), yang pernah ke masa depan ketika New York telah hancur, tahu hanya dengan membunuh Sylar bencana itu dapat dielakkan. Namun, kekuatannya belum dapat dia kuasai. Dan ketika bertemu Sylar, dia pun tak punya keberanian untuk membunuh. Ando putus asa. "Ini jalan gelap," bisiknya, lelah. Tapi Hiro tetap yakin. "Seorang pahlawan harus lalui lorong gelap sebelum sampai ke jalan terang," ucapnya. Dan dia lari ketika kalah bertarung dengan Sylar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti Ando, Claire pun tak yakin dirinya dan Peter bisa menghentikan bencana itu. "Kita masih bisa pergi dari bencana ini," teriaknya. Claire takut. Ia bahkan menangis. Namun Peter tetap yakin dengan pesan Hiro, &lt;I&gt;save cheerleader, save the word&lt;/I&gt;. "Jika kita selalu selamatkan diri sendiri, lalu siapa yang akan selamatkan orang lain, Claire?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Pelahap Manusia&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhasilkah Hiro dan Peter menyelamatkan New York? &lt;I&gt;Heroes&lt;/I&gt; musim pertama ini tak memberi jawaban yang pasti. Musim kedua  baru akan tayang akhir September ini, itu pun di Amerika. Namun, lewat jelajahan waktu 5 tahun ke depan yang dilakukan Hiro, penonton diberi gambaran ketika New York hancur, ketika Hiro, Peter, dan Claire gagal. Nathan memang jadi Presiden. Dia jadi sosok pemimpin dunia, yang selalu bersandar pada bencana New York, atas nama sang korban, menunjuk dan menentukan pihal mana yang salah dan pantas dieksekusi. Dibantu Matt Parkman (Greg Grunberg), si pembaca pikiran, yang telah menjadi kepala keamanan nasional, dan tugasnya adalah memenjarakan manusia-istimewa yang memiliki kekuatan, mereka memburu para teroris yang membuat New York meledak. Dan siapakah teroris itu? Ya, Hiro, Peter, Niki, dan Claire. Dan Nathan, sang Presiden itu, tak lain adalah Sylar, tokoh jahat yang sudah menguasai kemampuan malih-rupa. Tak terduga bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari masa depan yang dijumpai Hiro inilah dapat kita baca, &lt;I&gt;Heroes&lt;/I&gt; adalah kritik yang tajam atas peristiwa 11 September. &lt;I&gt;Heroes&lt;/I&gt; seakan menegaskan bahwa peledakan 11 September bukanlah sebuah rencana yang tak terbaca Amerika. Para politikus justru sengaja membiarkan peledakan itu terjadi agar bisa memimpin dunia untuk bertindak atas nama kesedihan, luka, dan korban. Hanya dengan membiarkan WTC hancur, Amerika mendapat kekuasaan dunia untuk menunjuk pihak mana yang bersalah, dan layak dihancurkan. Hanya atas nama korban, Amerika dapat menjadi polisi dunia, menghukum siapa saja, hanya dengan praduga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;I&gt;Heroes&lt;/I&gt; menunjukkan dengan pedih bahwa kehancuran utama setelah meledaknya New York adalah hilangnya nilai kemanusiaan, rasa percaya, dan cinta keluarga. Yang tercipta adalah benci dan pembalasan dendam, yang semuanya merupakan ilusi ciptakan para pemegang kekuasaan di Gedung Putih. Gedung Putih membuat mereka yang tahu rencana pendiaman peledakan New York, dan berusaha menghentikannya, sebagai musuh dunia. Untuk mereka tertera cap teroris. Merekalah Hiro, Peter, dan Claire. Sementara, sang pemimpin dunia, sang pahlawan yang segera bangkit dari kesedihan, adalah Nathan, politikus berwajah tampan, yang sebenarnya adalah Sylar, sang pelahap manusia. Tidakkah ini sindiran untuk presiden Bush?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang, tidak seperti di &lt;I&gt;Heroes&lt;/I&gt;, kita tak punya Hiro, yang bisa kembali ke masa lalu, dan mengubah sejarah. Karena itu, kita hanya bisa menerima, setelah tagedi 11 September, betapa kebencian dan praduga adalah wajah dunia, wajah kehidupan kita kita. Ah, andai waktu bisa diputar-ulang....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;[Artikel ini telah dimuat di Harian &lt;I&gt;Suara Merdeka&lt;/I&gt;, Minggu 9 September 2007]&lt;/B&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10916372-1544164264260876485?l=auliamuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/feeds/1544164264260876485/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10916372&amp;postID=1544164264260876485' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/1544164264260876485'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/1544164264260876485'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/2007/09/heroes-dalam-tragedi-september.html' title='Heroes dalam Tragedi September'/><author><name>sujud ilalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/RuU-Pm7xWEI/AAAAAAAAAD0/wKdi9iDaBe4/s72-c/new-heroes2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10916372.post-1013336643099204489</id><published>2007-09-03T17:18:00.000+07:00</published><updated>2007-09-01T17:31:07.831+07:00</updated><title type='text'>Gogon dan Cobaan Nonteologis</title><content type='html'>Diri yang berbuat ulah, setan dan cobaan yang acap mendapat salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/Rtk88W7xWDI/AAAAAAAAADs/9jXpmuulFJ0/s1600-h/gogona.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/Rtk88W7xWDI/AAAAAAAAADs/9jXpmuulFJ0/s400/gogona.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5105178660247263282" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;"INI cobaan untuk saya. Barangkali dengan begini saya jadi tahu telah salah bergaul dan berada di lingkungan yang tidak tepat sehingga saya terjerumus menggunakan narkoba, ketagihan dan tergantung untuk membeli lagi." kata Gogon pelan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di layar "Buletin Malam" &lt;I&gt;RCTI&lt;/i&gt; (22/1) itu, tangannya berkali-kali menjangkau tisu dan melap airmatanya yang terus jatuh. Parasnya sudah dilupakan cahaya, pucat. Setiap menjawab pertanyaan wartawan, matanya yang basah tak pernah berubah arah, lurus menatap ke depan. Ia selalu menjawab dengan pelan, seperti bisik, sesal untuk dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gogon berurusan dengan polisi karena pertengkaran asmara. Ketika polisi bermaksud melerai, teman tidurnya, Tri, justru membuka rahasia, bahwa Gogon pecandu berat. Polisi memeriksa rumahnya, ditemukan bukti. Dan setelah 13 jam diperiksa, Gogon tak bisa berkelit lagi.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Makanya, kalau punya pacar jangan yang ember..." komentar Uli Herdinansyah, presenter "Insert" &lt;I&gt;TransTV&lt;/i&gt;, ketika menayangkan peristiwa itu. "Ember" adalah bahasa gaul untuk menjelaskan seseorang yang bocor-mulut, tak bisa menjaga rahasia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tertangkapnya Gogon memicu banyak komentar. Maklum, sebelum dia, telah banyak artis yang tersandung kasus semacam itu. Dari grup "Srimulat" saja, Gogon adalah orang ketiga, setelah Polo dan Doyok. Namun, bagi saya, yang paling menarik dari kasus ini adalah penyikapan Gogon. Dia menganggap ketertangkapan itu sebagai cobaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyikapan semacam itu bukan milik Gogon seorang. Banyak sekali artis yang jika tertimpa sebuah masalah, langsung mengatakan hal itu sebagai cobaan. Yoyo, Drumer Padi yang rumah tangganya dengan Rossa tengah bermasalah karena kehadiran orang ketiga, pun menganggap hal itu sebagai sebuah cobaan. "Keluarga saya memang tengah mendapat cobaan, terutama saya. Ini cobaan yang berat. Tapi, bagaimanapun kami coba untuk melewati ini, terutama saya, lebih introspeksi diri," ucapnya dalam "Insert" (18/7).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu cobaan apa godaan ya?" tanya Ersa Mayori, presenter "Insert" kepada rekannya, Uli Herdinansyah, yang cuma mengerdikkan bahu. "Ya pasti dapat cobaan kalau dia berani coba-coba," tambah Ersa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Revaldo juga menganggap kasusnya sebagai cobaan. Ratu Fellisa yang memukul Andika dan berurusan dengan polisi juga menganggap kasus itu sebagai cobaan dalam hidupnya. Perceraian Ulfa, Gusti Randa, dan Titi DJ, di mata mereka juga cobaan. Bahkan, anak Mulyana W Kusuma pun menganggap apa yang terjadi dengan ayahnya sebagai cobaan untuk keluarganya.&lt;br /&gt;Apakah mereka semua tengah dicoba? lalu, siapa yang mencoba?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Memaknai Cobaan&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamus Besar Bahasa Indonesia menjelaskan kata cobaan sebagai sesuatu yang dipakai untuk menguji (ketabahan, iman, dlsb) dengan contoh kalimat "Tabahlah apabila menerima cobaan dari Tuhan". Maksud kamus itu jelas, cobaan adalah "sesuatu" yang datang dari luar diri kita, dan merupakan urusan yang memberi hidup, Tuhan. Cobaan dengan demikian adalah sesuatu yang pasti terjadi dan tidak dapat dielakkan. Pengertian di atas seakan mengacu pada al-Quran surat al-Baqarah (2:155-156), "&lt;I&gt;Sesunggunhnya akan Kami (Allah SWT.) berikan cobaan kepada kalian semua dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. (yakni) Orang-orang yang ketika tertimpa oleh musibah maka akan berkata: "Sesungguhnya semua milik Allah dan akan kembali kepada-Nya&lt;/i&gt;". Dari situ dapat kita lihat bahwa kata "cobaan" di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia telah diberi arti teologis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemberian arti teologis semacam itu menjadikan "cobaan" diterima sebagai sebuah keharusan, ujian untuk meraih peringkat keimanan yang lebih tinggi. Dan ini diperkuat lagi dengan al-Quran (2:214) &lt;I&gt;"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu.&lt;/i&gt;"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, makna teologis semacam itulah yang selama ini hidup di benak kita. Uniknya, makna teologis itu justru acap dipakai untuk menjelaskan sesuatu yang sebenarnya bermuatan non-teologis. Kata cobaan digunakan secara "politis" untuk membebaskan manusia dari tanggungjawab atas ulahnya, dan hanya menjadikan Tuhan sebagai &lt;I&gt;primacausa&lt;/i&gt;, sebab utama.  Ingat kasus Yahya Zaini-Maria Eva? Keduanya pun memakai kata "cobaan" untuk masalah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kira, cobaan adalah hanya "sesuatu" yang datang dari luar diri kita, dan di luar kemampuan kita untuk menghindarinya. Atau sesuatu yang tidak juga kita peroleh ketika seluruh usaha dan doa telah kita upayakan untuk meraihnya. Gempa, tsunami, kekeringan, atau kematian dan ketiadaan keturunan, adalah sedikit contoh dari cobaan tersebut. Dengan demikian, cobaan selalu bermakna teologis. Sementara jika kita merokok dan tangan tersulut api, atau memotong roti dan jari teriris pisau, ini bukan "cobaan". Lebih mudahnya, cobaan adalah sesuatu yang tidak tersangkut dengan hubungan kausalitas, sebab-akibat. Sedangkan sesuatu yang pasti bisa dilihat dalam kaitan sebab-akibat bukan termasuk dalam kategori cobaan. Mungkin dapat disebut sebagai ujian, masalah, problem, godaan, atau kata lainnya. Dari situlah bisa kita lihat, cobaan yang dimaksud Gogon bukanlah cobaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kalimat Gogon, "Ini cobaan bagi saya. Barangkali dengan begini..." adalah ucapan yang salah berdasarkan hadirnya kausalitas dari masalah yang dia hadapi. Demikian juga ucapan Yoyo sebagaimana yang tercantum di atas. Intinya, tertangkapnya Gogon, perselingkuhan Yoyo, bukanlah cobaan karena selain ada hubungan sebab-akibat, Tuhan juga bukan prima-causa dalam masalah mereka. Mengiyakan apa yang mereka hadapi sebagai cobaan, seperti yang diakukan Gogon, Yoyo, Ratu Fellisa,  berarti melepaskan diri mereka sebagai penanggungjawab utama. Seakan-akan, selingkuh dan nyabu itu adalah sesuatu yang tidak terelakkan, sesuatu yang harus mereka terima, sesuatu yang menjadi bagian dari garis nasib mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Polo, tampaknya menyadari apa yang terjadi dengan Gogon bukanlah sebuah cobaan. "Seperti saya bilang, itu pilihan. Dan pilihan itu harus dibayar," katanya, seperti tayang di "Insert" (23/8). Doyok pun marah karena Gogon menyalahkan lingkungan dan teman intimnya, dan bukan dirinya sendiri. "Untuk Gogon, jangan salahkan orang lain, jangan salahkan lingkungan. Salahkanlah dirimu sendiri! Bersyukulah karena polisi telah menyelamatkan hidupmu!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Polo dan Doyok sudah pernah masuk penjara karena kasus yang sama. Mereka tampaknya sudah tahu, masuk penjara bukanlah cobaan, tapi akibat dari kegagalan mereka menghadapi godaan atau ujian kepopuleran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, seharusnya, dalam jumpa pers itu Gogon berkata, "Ini adalah akibat kegagalan saya melewati godaan narkoba dan wanita. Tak ada yang dapat saya salahkan, kecuali diri saya sendiri." Sayang, Gogon --seperti juga aktris, politikus, dan para pejabat-- sering memaknai akibat dari ulah diri sendiri sebagai cobaan. Dan karena itulah, masalah narkoba, kekerasan, dan korupsi serta kejahatan birokrasi tidak pernah dapat diselesaikan di negeri. Karena ketika problem itu "cuma" didefenisikan sebagai cobaan, mereka pun yakin, hal itu harus terjadi dan hanya kuasa Tuhan yang dapat menghentikannya. Sayang sekali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;[Artikel ini telah dimuat di Harian &lt;I&gt;Suara Merdeka&lt;/I&gt;, Minggu 2 September 2007]&lt;/B&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10916372-1013336643099204489?l=auliamuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/feeds/1013336643099204489/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10916372&amp;postID=1013336643099204489' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/1013336643099204489'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/1013336643099204489'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/2007/09/gogon-dan-cobaan-nonteologis.html' title='Gogon dan Cobaan Nonteologis'/><author><name>sujud ilalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/Rtk88W7xWDI/AAAAAAAAADs/9jXpmuulFJ0/s72-c/gogona.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10916372.post-824390775392687261</id><published>2007-08-20T19:47:00.000+07:00</published><updated>2007-09-01T17:32:55.437+07:00</updated><title type='text'>Jilbab-jilbab yang Disakiti</title><content type='html'>Dalam berbagai sinetron "berbau" hidayah, pemakai jilbab ditampilkan sebagai ibu kejahatan; melahirkan dan mengasuh, juga melindungi keberlangsungan kedurjanaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/RsmOE27xWCI/AAAAAAAAADk/CWCG5bv24Fg/s1600-h/sujud-ikhlasmu2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/RsmOE27xWCI/AAAAAAAAADk/CWCG5bv24Fg/s400/sujud-ikhlasmu2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5100764267090630690" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;"IBUMU&lt;/B&gt; kritis? Malah bagus daripada sakit terus! Ini kan tinggal menghitung hari aja!" Pak Lurah melirik ke kasur, mencibir. Tak terpancar iba sedikitpun dari wajahnya saat melihat istrinya terbaring lemah. Dia pun abai pada tangis Ima, anaknya, yang berharap segera membawa ibunya ke rumah sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ibu tersiksa, Pak. Kasihan...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Biar tidak tersiksa? Gampang! Bacain aja Yasin. Mau panjang, pendek, terserah! Gampang kan? Ngapain ke rumah sakit segala, ngabisin duit! Paling juga mati. Huh!" Meludah, menggerutu, gontai dia ke luar kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sepotong adegan dalam sinetron &lt;I&gt;Pintu Hidayah: Lurah Penjudi&lt;/I&gt;, yang tayang di &lt;I&gt;RCTI&lt;/I&gt; (10/8). Kisahnya sederhana, tentang seorang lurah yang gila judi sampai menelantarkan kebutuhan keluarganya. Pak Lurah (Hendra Cipta) bahkan mengizinkan pendirian rumah judi di desanya, dan menjadi pelanggan di sana. Nasihat ulama dia bantah. Sindiran warga dia sergah. Semua penentangnya pun menyerah.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sinetron ini menarik perhatian saya bukan karena sumpah, ludah, dan makian yang bertebaran dalam tubuh cerita, melainkan sosok istri dan anak Pak Lurah. Keduanya berjilbab. Jadi, Pak Lurah yang demikian durjana itu ternyata memiliki istri dan anak yang sabar dan taqwa, yang selalu menasihati ayahnya, meski pasti mendapatkan sumpah dan sergah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Penghadiran" sosok berjilbab dalam sinetron di atas mengingatkan saya pada puluhan sinetron lain dengan tipikalitas yang sama, sosok durjana penuh dosa tapi memiliki keluarga takwa, yang disimbolkan dengan pengenaan jilbab. Sinetron &lt;I&gt;Dukun Santet&lt;/I&gt; di &lt;I&gt;TransTV&lt;/I&gt; (6/7) contohnya, bercerita tentang dukun yang suka berjudi, berzina, dan menyantet, dan selalu murka dengan ulama di desanya. Di dalam rumah hadir ibunya yang selalu menasihati, dan anaknya yang tak lalai mengajak bertobat. Ibu dan anak si dukun seksi (Vicky Burki) itu mengenakan jilbab. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sinetron &lt;I&gt;Preman Bejat&lt;/I&gt; di &lt;I&gt;TransTV&lt;/I&gt; juga menempuh cara sama. Preman yang suka membunuh, merampok dan aneka kemaksiatan lainnya, ternyata memiliki istri berjilbab. Juga mertua, adik ipar, dan anehnya, orang tua yang juga berjilbab. Bahkan tipekalitas anak bejat dengan orangtua taat (dan ibu berjilbab) ini sangat sering hadir dalam cerita. Terbaru, sinetron "Kisah Suami Beristri Empat" di &lt;I&gt;TransTV&lt;/I&gt; (19/8), menampilkan suami yang sangat bejad, memiliki istri dan anak berjilbab, dan juga istri kedua, yang sangat jahat, juga berjilbab, demikian juga istri lainnya. Karena itulah, "penghadiran" jilbab ini saya kira bukan soal kebetulan belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Jilbab Berdosa&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam keseluruhan cerita di atas, seakan ingin dikesankan ketidakberdayaan keimanan untuk meredam kemaksiatan. Bahkan, secara lebih ekstrim dapat dibaca bahwa kejahatan acap lahir justru dari lingkungan orang yang paling mengerti agama. Jilbab yang disimbolkan sebagai buhul atau ladang keimanan dan ketakwaan tak berdaya, dan dosa terus saja terjadi, terpampang di hadapannya. Mereka yang berjilbab memang diceritakan mencegah --tentu hanya dengan nasihat-- dan dipastikan tidak berdaya, tidak memberi dampak apa pun, bahkan kian menyalakan api kemaksiatan. Tokoh jahat yang mendapat nasihat pasti kian mengintensifkan kemaksiatannya. Itu simbol tentang kekalahan agama ketika berhadapan dengan durjana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, kekalahan agama dihadapan durjana itu bukan pukulan paling telak dalam cerita sinetron kita. Di level selanjutnya, justru dikesankan agama dan atau keimananlah yang menjadi akar bahkan lumbung kedurjanaan. Caranya? Hadirkan perempuan berjilbab, dan kisahkan tentang kemaksiatan yang dia lakukan. Hasilnya? Sinetron &lt;I&gt;Memakan Uang ONH&lt;/I&gt; di &lt;I&gt;TransTV&lt;/I&gt; (8/7) sukses menampilkan hal itu. Seorang istri yang berjilbab bahkan sengaja membunuh suaminya untuk mendapatkan uang ONH. Ia bahkan memaksa anaknya mencopot jilbab agar dapat memikat lelaki kaya. Dia sendiri, menikmati selubung jilbabnya sebagai labirin untuk menyembunyikan kejahatannya dari intipan dan kecurigaan banyak orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sinetron &lt;I&gt;Janda Matre&lt;/I&gt; juga menempuh cara yang sama. Ipah (Yurike Prastika) mengenakan jilbab agar dapat memikat duda kaya, dan dalam selubung jilbab itu dia merencanakan kejahatan yang di luar nalar. Jilbab melindunginya untuk dapat bebas melaksanakan semua kejahatan yang dia inginkan. Jilbab juga membuat dia bebas berkelit dari segala tuduhan dan prasangka. Jilbab menjadi inang kejahatan, melahirkan dan mengasuh, juga melindungi keberlangsungan kedurjanaan. Sinetron &lt;I&gt;Ibu Tiri Mata Duitan, Perawan Tua&lt;/I&gt;, dan judul lainnya, kian menegaskan tipikalitas di atas.&lt;br /&gt;Ada apa dengan jilbab? Mengapa jilbab tampil dalam glamoritas dosa? Mengapa terjadi begitu banyak cerita dengan kesamaan demikian? Adakah agenda tersembunyi (&lt;I&gt;hidden agenda&lt;/I&gt;) dari semua cerita di atas? Atau, apakah memang seburuk itu makna jilbab di mata orang banyak? Atau memang ingin dikesankan buruk? Lalu, siapa yang berusaha mengesankan begitu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan lahir berjuta pertanyaan, ratusan kecurigaan menyangkut cerita seperti yang terpapar di atas. Lalu, telisikan bisa langsung mengarah pada siapa pembuat cerita sinetron demikian? Siapa sutradaranya, produsernya, pemainnya? Mengapa mereka bahu-membahu membuat cerita semacam itu? Di mana sinetron itu ditayangkan? Siapa direktur dan pemilik televisi itu? Bagaimana rekam jejak mereka?  Apa agama mereka semua?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup? Belum. Kecurigaan bahkan bisa melebar pada sudut yang tidak terbayangkan. Misalnya, jam berapa semua tayangan sinetron bercerita demikian? Oh, ternyata &lt;I&gt;prime time&lt;/I&gt; dan ulang tayang di hari Minggu. Ha? Mengapa di jam itu, dan mengapa tayang ulang? Berapa rating sinetron semacam itu? Siapa yang mengukur rating? Jujurkah, atau rating sengaja ditinggikan agar terkesan acara itu populer sehingga memancing semua teve menayangkan cerita sejenis? Apa saja iklan yang masuk dalam sinetron semacam itu? Apakah iklan yang masuk nyaris sama dalam setiap kisah semacam itu? Mengapa mereka mau beriklan? Siapa pemilik produk dari iklan itu? Siapa yang menganjurkan untuk beriklan di situ? Apakah ada hubungan pertemanan atau kekeluargaan antara pembuat cerita, produser, pemilik teve dan pengiklan? Apa agama mereka? Hihihi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Ragam Tafsir&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecurigaan di atas memang layak lahir jika kita meletakkan jilbab sebagai ukuran keimanan seseorang. Sebagai ukuran keimanan, maka semua cerita di atas terjalin dalam ketidakwajaran. Artinya, sangat tidak wajar seorang berjilbab bisa melakukan perbuatan durjana, atau dalam sebuah keluarga sakinah muncul sosok pendurhaka dan penzina. Karena tidak wajar, layaklah penceritaan jilbab itu dimaknai sebagai suatu usaha untuk "menggembosi" dan atau memurukkan Islam.&lt;br /&gt;Namun, jika jilbab hanya kita pandang sebagai identitas muslimah, kecurigaan di atas tentu tidak terlalu beralasan. Sebagai identitas, jilbab hanya berfungsi sebagai KTP, tanda pengenal, dan tidak bersangkut-paut dengan kekuatan keimanan seseorang. Sebagai identitas, jilbab sama dengan &lt;I&gt;chador&lt;/I&gt; di Iran, &lt;I&gt;pardeh&lt;/I&gt; di India dan Pakistan, &lt;I&gt;milayat&lt;/I&gt; di Libya, &lt;I&gt;abaya&lt;/I&gt; di Irak, &lt;I&gt;charshaf&lt;/I&gt; di Turki, &lt;I&gt;hijab&lt;/I&gt; di beberapa negara Arab-Afrika seperti di Mesir, Sudan, dan Yaman. Karena hanya berfungsi sebagai identitas maka orang yang berjilbab pun tidak berbeda dengan yang memakai identitas lain. Ini soal pilihan, misalnya, antara membawa KTP, SIM, kartu pers, atau paspor. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahli tafsir Prof Nasaruddin Umar bahkan melihat jilbab sudah menjadi wacana dalam Code Bilalama (3.000 SM), kemudian berlanjut di dalam Code Hammurabi (2.000 SM) dan Code Asyiria (1.500 SM). Pemakaian jilbab sudah dikenal di beberapa kota tua seperti Mesopotamia, Babilonia, dan Asyiria. Jilbab menjadi pembeda antara kelas menengah dan kaum budak. Perempuan terhormat harus memakai jilbab dalam aktivitasnya di luar rumah.Perkembangan selanjutnya jilbab menjadi simbol kelas menengah atas masyarakat kawasan itu. Mengutip De Vaux dalam S&lt;I&gt;ure le Voile des Femmes dans l'Orient Ancient&lt;/I&gt;, Umar yakin tradisi jilbab (&lt;I&gt;veil&lt;/I&gt;) dan pemisahan perempuan (&lt;I&gt;seclution of women&lt;/I&gt;) bukan tradisi orisinal bangsa Arab, bahkan bukan juga tradisi Talmud dan Bibel. Tokoh-tokoh penting di dalam Bibel, seperti Rebekah yang mengenakan jilbab berasal dari etnis Mesopotamia di mana jilbab merupakan pakaian adat di sana. Karena perdagangan dan pertikaian, perpindahan penduduk membuat tradisi jilbab menembus bagian utara dan timur Jazirah Arab seperti Damaskus dan Baghdad yang pernah menjadi ibu kota politik Islam zaman Dinasti Mu'awiyah dan Abbasiah. Pada periode inilah, jilbab yang tadinya merupakan pakaian pilihan (&lt;I&gt;occasional costume&lt;/I&gt;) mendapatkan kepastian hukum (&lt;I&gt;institutionalized&lt;/I&gt;), pakaian wajib bagi perempuan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih menurut Umar, Al Quran hanya menyebut dua kata untuk penutup kepala yaitu &lt;I&gt;khumur&lt;/I&gt; dan &lt;I&gt;jalabib&lt;/I&gt;, keduanya dalam bentuk jamak dan bersifat generik. Kata &lt;I&gt;khumur&lt;/I&gt; (QS al-Nur/34:31) bentuk jamak dari &lt;I&gt;khimar&lt;/I&gt; dan kata &lt;I&gt;jalabib&lt;/I&gt; (QS al-Ahdzab/33:59) bentuk jamak kata jilbab. Dua ayat di atas merupakan tanggapan terhadap kasus tertentu yang terjadi pada masa Nabi. Akibatnya, timbul perbedaan pendapat di kalangan ulama Ushul Fikih; apakah yang dijadikan pegangan lafaznya yang bersifat umum, atau sebab turunnya yang bersifat khusus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat &lt;I&gt;khimar&lt;/I&gt;, misalnya turun untuk menanggapi model pakaian perempuan yang ketika itu menggunakan penutup kepala (&lt;I&gt;muqani&lt;/I&gt;'), tetapi tidak menjangkau bagian dada, sehingga bagian dada dan leher tetap kelihatan. Tafsir Muhammad Sa'id al-'Asymawi, QS al-Nur/24:31 turun untuk memberikan pembedaan antara perempuan mukmin dan perempuan selainnya, tidak dimaksudkan untuk menjadi format abadi (&lt;I&gt;uridu fihi wadl' al-tamyiz, wa laisa hukman muabbadan&lt;/I&gt;). Sedangkan ayat jilbab juga turun berkenaan seorang perempuan terhormat yang bermaksud membuang hajat di belakang rumah di malam hari tanpa menggunakan jilbab, maka datanglah laki-laki iseng mengganggu karena dikira budak. Peristiwa ini menjadi sebab turunnya QS al-Ahdzab/33:33. Menurut Al-'Asymawi dan Muhammad Syahrur, terkait dengan alasan dan motivasi tertentu (&lt;I&gt;illat&lt;/I&gt;) dan karenanya berlaku kaidah: suatu hukum terkait dengan &lt;I&gt;illat&lt;/I&gt;, ketika ada &lt;I&gt;illat&lt;/I&gt; di situ lahir hukum. Jika &lt;I&gt;illat&lt;/I&gt; berubah, maka hukum pun berubah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Turunnya ayat hijab, juga terkait dengan kondisi tempat tinggal Nabi bersama beberapa istrinya dan kepentingan sahabat yang akan selalu ingin menemui Nabi. Untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, terutama setelah kejadian tuduhan palsu/&lt;I&gt;hadis al-ifk&lt;/I&gt; terhadap 'Aisyah, Umar bin Khattab  mengusulkan agar dibuat sekat (hijab) antara ruang tamu dan ruang privat Nabi. Namun, kemudian turunlah ayat hijab di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, dari argumentasi Umar di atas, dapatlah kita lihat bahwa memang jilbab sejak awalnya tidak menjadi ukuran tebal-tipisnya iman seseorang. Jilbab hanya pembeda, suatu identitas, dan tidak mewadahi keimanan dan atau keislaman secara umum atau general. Sebagai identitas, tak ubahnya KTP atau SIM, jilbab pun bisa dipalsukan. Dengan demikian, apa yang tampil dalam sinetron di atas, juga bukanlah gambaran umum dari wajah keimanan dan atau keislaman. Otomatis juga, tidak terjadi penghadapan &lt;I&gt;vis a vis&lt;/I&gt; antara kekalahan keislaman (general) dan kemaksiatan. Yang kalah adalah orang islam yang kebetulan memakai jilbab, bukan islam secara umum. Dan orang Islam yang kalah menghadapi kemaksiatan bukanlah kabar baru. Karena itu, cerita sinetron demikian pun jelas tidak bermutu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memandang jilbab dengan cara demikian, membuat kita tidak emosi dan antipati ketika jilbab-jilbab disakiti. Juga tidak merasa rendah diri, karena keislaman sesungguhnya tidak cuma terkandung dalam jilbab, dan senyatanya tidaklah selalu  kalah melawan kedurjanaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya, tafsir tidak selalu berdiri sendiri, pasti memiliki kawan, pun lawan. Dan jika tafsir atas jilbab berbicara lain, maka sinetron di atas pun akan dibaca dengan cara yang berbeda. Karena itulah, ada yang tertawa, diam saja, bahkan mungkin meledakkan bom di daerah sana. Karena, bisa saja, sinetron itu jadi terasa begitu menghina!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;[Artikel ini telah dimuat di Harian &lt;I&gt;Suara Merdeka&lt;/I&gt;, Minggu 26 Agustus 2007]&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10916372-824390775392687261?l=auliamuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/feeds/824390775392687261/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10916372&amp;postID=824390775392687261' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/824390775392687261'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/824390775392687261'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/2007/08/jilbab-jilbab-yang-disakiti.html' title='Jilbab-jilbab yang Disakiti'/><author><name>sujud ilalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/RsmOE27xWCI/AAAAAAAAADk/CWCG5bv24Fg/s72-c/sujud-ikhlasmu2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10916372.post-7775278217664302088</id><published>2007-08-13T15:38:00.000+07:00</published><updated>2007-09-01T17:34:01.039+07:00</updated><title type='text'>Dan di Manakah Indonesia?</title><content type='html'>Keragaman suku bangsa dan budaya di Indonesia harus diakui bukan hanya sebagai kekayaan melainkan yang lebih utama sebagai kesederajatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/Rr12ke0M5II/AAAAAAAAADc/L6BBpsHlXfA/s1600-h/indonesia.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/Rr12ke0M5II/AAAAAAAAADc/L6BBpsHlXfA/s400/indonesia.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5097360722372650114" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;MAT SOLAR&lt;/B&gt; bukan sopir bajaj. Tapi perannya dalam &lt;I&gt;Bajaj Bajuri&lt;/I&gt; mengidentikannya dengan profesi tersebut. Popularitas itulah yang dirangkul tim kampanye Adang Daradjatun-Dani Anwar untuk mendongkrak suara. Maka, dua minggu lalu, dengan bajajnya, Mat Solar mengantar Adang-Dani ke DPRD Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya melihat adegan itu sekilas. Kampanye Adang-Dani memang diliput dengan "kadar" yang berbeda dari gemebyar Fauzy Bowo. Namun, meski selintas, ucapan Mat Solar memberi nilai yang sangat tegas tentang keindonesiaan. "Insya Allah menang, 23% &lt;I&gt;ude&lt;/I&gt; di tangan. Asal jangan jual-jual Betawi deh, nggak bakal laku. Ini kan buat calon Gubernur Jakarta. Emangnya Jakarta itu Betawi &lt;I&gt;doang&lt;/I&gt;?"&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta tentu bukan hanya milik Betawi. Tapi, berapa banyak yang punya kesadaran semacam Mat Solar, yang justru orang Betawi asli, itu. Kampanye Fauzy Bowo misalnya, seperti yang disindir Mat Solar, justru menjual kebetawiannya. Mandra, Atun, dan "keluarga" Si Doel lainnya selalu menekankan kewajiban memilih Fauzi Bowo karena kebetawiannya. "Orang Betawi ya pilih yang Betawi." Sentimen kesukuan dikuatkan sebagai penarik suara. "Kualitas" kebetawian Fauzi Bowo-lah yang dijadikan nilai kepantasannya untuk memimpin Jakarta, bukan rekam jejak kinerjanya selama ini, bukan kecakapannya secara pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tipikalitas "putra daerah" seperti di atas memang sudah menjadi penyakit akut di Indonesia. Bukan hanya untuk memimpin negara, gubernur, bupati, walikota, camat, lurah, bahkan pemilihan ketua RT/RW pun memperhitungkan warga asli dan pendatang. Keindonesiaan --kekitaan-- cepat sekali memisah menjadi dua titik pijak, kami dan mereka. Betawi dan bukan Betawi, putra daerah dan warga pendatang. Lucunya, pengimaman pada kedaerahan ini kadang sampai melupakan akal sehat. Sepanjang seseorang itu berasal dari suatu daerah maka dia menjadi pantas dipilih dan atau dicalonkan, meskipun namanya tidak dikenal dan atau tidak pernah berada di daerah tersebut. Geovany misalnya, pernah dicalonkan PAN menjadi Gubernur Sumatra Barat. Padahal dia tak berdomisili, bahkan nyaris tak pernah dikenali oleh masyarakat Padang. Dia kalah, dan  lalu menjadi pasangan Sarwono untuk pemilihan Jakarta, yang juga gagal. Kelak, "penyakit" semacam itu masih akan kita saksikan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Indonesia yang Wangi&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya iklan kampanye Fauzi Bowo, acara lain di televisi pun banyak yang sengaja melupakan "keindonesiaan", bahkan tayangan yang menggunakan nama Indonesia, seperti "Indonesian Idol". Tayangan ini pun memakai unsur kedaerahan sebagai cara menjaring suara melalui SMS. Rini yang asal Medan, "dijual" ke Medan. Wilson yang &lt;I&gt;nyong&lt;/I&gt; Ambon, "dipasarkan" di Maluku, sebelum keduanya diadu. Sentimen kesukuan dikuatkan untuk saling mengalahkan. Dua daerah "dibenturkan" agar berlomba untuk menjadi yang paling pantas menyandang gelar "idola Indonesia". Acara itu memasarkan dan menyebarkan sikap bahwa idola Indonesia adalah orang Medan yang dipilih orang Medan atau &lt;I&gt;nyong&lt;/I&gt; Ambon yang didukung warga asal Maluku. Dan karena penduduk di dan atau berasal dari Sumatra Utara lebih banyak dibandingkan Maluku, Wilson pun kalah. Tahun lalu, Dirly juga kalah melawan Ihsan yang asal Medan. Acara ini, tanpa sadar, mengerdilkan makna "Indonesia".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tayangan sinetron apalagi, secara masif justru mengaburkan makna "Indonesia". Yang tampil adalah "Indonesia" yang bersih, menarik, tentram, dan cantik. Sekolah-sekolah dengan bangunan dan fasilitas lengkap, pelajar-pelajar wangi yang pergi-pulang naik mobil, dengan kepala hanya berisi intrik untuk mendapatkan idaman hati. Tak ada "Indonesia" yang kotor. Tak ada sekolah yang reyot berlantai tanah, tanpa fasilitas apa pun, dengan satu guru dan satu murid sebagaimana terdapat di Kepulauan Mapia, Papua. Tak pernah ada pelajar yang bangun jam 3 pagi, lalu dengan obor, berjalan kaki berangkat ke sekolah sejauh 10 KM, sebagaimana yang sudah belasan tahun terjadi di dusun Datarkupa, Desa Cimaskara, 120 KM dari Cianjur. Itulah sebabnya, dalam Festival Film Indonesia, yang menang adalah &lt;I&gt;Ekskul&lt;/I&gt;, film dengan cerita remaja SMA yang sakit jiwa dan main senjata, dan bukan &lt;I&gt;Denias&lt;/I&gt;, film tentang semangat untuk meraih cita-cita dari anak Papua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sinetron yang tampil adalah derita para korban dukun, pelet, babi ngepet dan pesugihan lainnya, dan sampai kini belum ada cerita orang tua yang gila karena kehilangan anak-anaknya akibat bencana gempa dan tsunami, korban lumpur Lapindo, dan penggusuran. Di sinetron polisi selalu bersih, berwibawa, anti-korupsi, dan tak gampang main senjata. Tak pernah ada polisi yang suka main tembak sendiri, melawan atasan, pungli dan korupsi, dan mabuk-mabukan, sebagaimana yang terkadang menghiasi halaman koran dan media massa lainnya. Di sinetron, Indonesia adalah apa yang ingin kita imajinasikan, bukan Indonesia yang kita hidupi, bukan Indonesia yang tiap hari kita hadapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia, terkadang, juga berarti Jakarta. Teve nasional, yang artinya bukan teve daerah, justru tak pernah menayangkan azan magrib untuk wilayah nasional. Di mana pun kita menonton, azan magrib selalu milik Jakarta. Jakarta harus selalu lebih istimewa dari daerah mana pun. Itulah sebabnya, untuk Jakarta, pemilihan Putri Indonesia bisa diwakili 4-5 peserta, dan daerah lain cukup satu saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Memandang Indonesia&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, di teve, di manakah Indonesia? Tentu ada dalam tayangan berita dan kuliner. Juga dalam "Jejak Petualang", "Si Bolang", "Surat Sahabat", dan "Arcipelago". Di ragam acara itu, tampil Indonesia yang "apa adanya", dengan keragaman budaya, wilayah, suku yang memiliki cara hidup dan pandangan dunia yang berbeda. Dalam "Surat Sahabat" kisah rekan dari Papua, Aceh, Kalimantan, bertemu dengan kisah anak-anak dari Jawa, dan saling mempertukarkan keragaman lingkungan, termasuk cara pandang terhadap diri dan dunia. Kisah anak-anak itu berdiri sederajat, dengan keunikan tersendiri, dan diterima sebagai sebuah kewajaran hidup dari sebuah komunitas tertentu, dan dalam esensinya, sama-sama memiliki keadiluhungan tersendiri. Anak Flores yang makan durilandak, Anak Batak yang memanggang babi, anak Blitar yang makan keong, dan anak Jakarta yang menguyah Burger, berdiri sama tinggi. Di acara itu, tak ada budaya yang dihakimi, direndahkan, semua dimartabatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Surat Sahabat" dalam kesederhanaannya justru mengajarkan bagaimana memandang Indonesia. Bahwa keragaman itu harus diakui bukan hanya sebagai kekayaan melainkan yang lebih utama sebagai kesederajatan. Kesederajatan itulah yang membuat satu suku, satu budaya, tidak merasa lebih baik, lebih beradab, lebih modern, dan lebih layak berada di atas suku dan atau budaya yang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui "Surat Sahabat", Indonesia kita temukan dalam wajahnya yang belum selesai didefenisikan. Indonesia yang masih dalam proses, bergerak liar dalam imajinasi banyak orang dengan ragam ras, etnik, agama, yang dengan demikian, menjadi sangat kaya warna. Itulah Indonesia yang tidak diringkus dalam pengertian esensial, yakni pendefenisian yang mementingkan kemurnian, keaslian, dan kepribumian. Melalui "Surat Sahabat" Indonesia tampil dalam semangat dan imajinasi yang bahkan memperkaya "keindonesiaan" di Taman Mini Indonesia, --yang tidak mengakui kesederajatan etnik India, Arab, Cina, dan Koja sebagai bagian integral dari keindonesiaan etnisitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai "identitas" yang belum selesai didefenisikan, Indonesia masih merdeka untuk merangkum banyak pengertian baru, yang dapat mewadahi semua mimpi dan imajinasi banyak orang. Sebuah pengertian yang dapat diterima tanpa keterpaksaan, perasaan terpinggirkan, dan dianaktirikan. Pengertian yang lahir dan diterima seperti dari surat sahabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;[Artikel ini telah dimuat di Harian &lt;I&gt;Suara Merdeka&lt;/I&gt;, Minggu 12 Agustus 2007]&lt;/B&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10916372-7775278217664302088?l=auliamuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/feeds/7775278217664302088/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10916372&amp;postID=7775278217664302088' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/7775278217664302088'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/7775278217664302088'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/2007/08/dan-di-manakah-indonesia.html' title='Dan di Manakah Indonesia?'/><author><name>sujud ilalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/Rr12ke0M5II/AAAAAAAAADc/L6BBpsHlXfA/s72-c/indonesia.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10916372.post-4677460554108179292</id><published>2007-08-02T15:12:00.000+07:00</published><updated>2007-08-11T15:48:23.049+07:00</updated><title type='text'>Curhat Tubuh Tengah Malam</title><content type='html'>Di era ini, dapatkah kita lepas dari sensasi, dan tak mengimani tubuh-tubuh yang pamer diri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/RrGSg-0M5HI/AAAAAAAAADU/tHkze6cpfDU/s1600-h/komedi+tengah+malama.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/RrGSg-0M5HI/AAAAAAAAADU/tHkze6cpfDU/s400/komedi+tengah+malama.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5094013748848157810" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;"ANDO&lt;/B&gt;, sudah berapa lamakah Anda menjalani profesi ini? Apa alasannya? Adakah penyesalan di dalam diri Anda selama menjalani profesi ini? Bisakah hal itu Anda ceritakan kepada pemirsa &lt;I&gt;Lativi&lt;/I&gt;?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagaimanakah sikap Mama Anda? Dan bagaimanakah juga sikap Anda terhadap Mama dan Rangga setelah kejadian tersebut? Atau mungkin ada pesan-pesan yang ingin Anda sampaikan kepada pemirsa atas pengalaman yang telah menimpa diri Anda tersebut?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Demikianlah pemirsa, sekelumit kisah Dian. Dia begitu terpukul dan sampai sekarang belum mampu untuk dapat kembali berbicara dengan Mamanya. Demikian pemirsa, terimakasih atas perhatian Anda, dan sampai berjumpa di lain waktu dengan kisah yang berbeda."&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda ingin tahu siapa pewawancara yang bertanya sekaku itu? Namanya Linda Lasse. Ya, pasti Anda asing dengan nama presenter satu ini, seasing rentetan kalimat pertanyaannya. Tapi, jika menonton bagaimana dia merepresentasikan tubuhnya di depan kamera, Anda pasti tidak asing dengan tipikalitas gayanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, gaya Linda sama persis seperti Rosiana Silalahi atau Ariana Herawati saat mewawancarai narasumber. Mata menatap narasumber, tubuh menyandar di kursi dan atau sesekali condong ke depan untuk menciptakan kesan situasi dari sebuah pertanyaan yang serius, menyimpan senyum dan tawa kecil untuk saat yang tepat, menghela napas panjang sebagai tanda kecewa, dan kadang membuka kedua telapak tangan di depan dada, menyatakan sikap kecewa kepada pemirsa. Linda Lasse paham semua gesture itu. Dia bahkan menambah "item" baru, persilangan kaki yang acap berganti. Pergantian silangan kaki itulah --selain kekakuan pertanyaannya-- yang menjadi "nilai lebih" Linda Lasse. Sebabnya satu, Linda memakai rok mini. Dan pahanya, ampun! mulus sekali. Tapi tentu, bukan kemulusan paha itu yang membuat pergantian silangan kaki menjadi satu adegan yang membuat "kaku" penonton lelaki. Melainkan, tiap kali dia berganti posisi kaki mana yang menjadi tumpuan, akan tercipta ruang atau sela di antara dua gading pahanya, dan menunjukkan sekelebat "zona akhir imajinasi lelaki".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah, saya tahu Anda pasti ingin juga dapat menyaksikan "zona imajinasi" tersebut. Dan jangan khawatir, Linda Lasse  lewat &lt;I&gt;Curhat&lt;/I&gt; pasti akan memenuhi fantasi Anda, melalui silangan kakinya, dan visualisasi jawaban narasumber dari kekakuan pertanyaannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Kelas Berat&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;I&gt;Curhat&lt;/I&gt; yang hadir lewat tengah malam di &lt;I&gt;Lativi&lt;/I&gt;, memang tak memiliki "kecerdasan" pertanyaan semacam "Fenomena" atau "Kupas Tuntas" di &lt;I&gt;TransTV&lt;/I&gt;. Meski memasuki wilayah persoalan yang sama, &lt;I&gt;Fenomena&lt;/I&gt; dan atau &lt;I&gt;Kupas Tuntas&lt;/I&gt; berusaha menghadirkan sisi lain atau misteri dari sebuah persoalan. Penghadiran sisi lain itu membuat &lt;I&gt;Fenomena&lt;/I&gt; dapat memaklumkan jalan hidup narasumber, sedangkan &lt;I&gt;Kupas Tuntas&lt;/I&gt; acap membuat narasumber menjadi berada dalam posisi dipersalahkan. &lt;I&gt;Curhat&lt;/I&gt; justru sebaliknya, memilih tidak bersikap atau berposisi. Kepentingan &lt;I&gt;Curhat&lt;/I&gt; adalah menghadirkan visualisasi dari kisah narasumber.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, bayangkanlah visualisasi dari kisah &lt;I&gt;Curhat&lt;/I&gt;, "Terjebak jadi Gigolo" atau "Ibuku Maniak Seks" atau "Tubuhku Penebus Hutang Suami". Sebagaimana tayang Selasa (31/7), Ando yang menjadi gigolo, membuat pelanggannya seperti orang kesurupan. Visualisasinya, ahh- tak sanggup menceritakannya. Kalau cuma silangan kaki Linda Lasse, itu belum ada apa-apanya. Visualisasi &lt;I&gt;Fenomena&lt;/I&gt; pun masih dua tingkat dibawahnya. Jika &lt;I&gt;Fenomena&lt;/I&gt; masih berusaha menampilkan visualisasi yang indah dengan menentukan sudut pengambilan gambar dan jatuhnya cahaya, dibantu ritme tiap adegan, &lt;I&gt;Curhat&lt;/I&gt; abai semuanya. Yang ada tayangan "banteng ketaton", grudag-grudug, grusah-grusuh, seperti sebuah perkosaan tapi bukan perkosaan, bak perempuan sekarat tapi bukan sekarat, laksana jerit kesakitan tapi kok mirip erang kenikmatan. Kacau deh! Yang lebih "mengerikan", jika &lt;I&gt;Fenomena&lt;/I&gt; atau visualisasi sejenis seperti &lt;I&gt;Gadis Pantai&lt;/I&gt; atau &lt;I&gt;Komedi Nakal&lt;/I&gt; di &lt;I&gt;TransTV&lt;/I&gt; pelakonnya perempuan muda, di &lt;I&gt;Curhat&lt;/I&gt; justru perempuan setengah tua, dengan lengan dan perut bergelambir, dan sisi mata yang mulai ditumbuhi kerut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, semua pengadeganan di &lt;I&gt;Curhat&lt;/I&gt; itu masih tergolong kelas "menengah" jika dibandingkan dengan visual yang memenuhi tayangan &lt;I&gt;Komedi Tengah Malam&lt;/I&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;I&gt;Komedi Tengah Malam&lt;/I&gt; pun terbagi dua. Pertama, edisi "Metropolitan" yang "berat ringan". Kedua, edisi "Seksi" yang masuk kategori kelas berat. Edisi "Metropolitan" sangat meniru &lt;I&gt;Nah Ini Dia...&lt;/I&gt; yang pernah tayang di &lt;I&gt;SCTV&lt;/I&gt;, baik itu cerita --tingkah manusia urban-- juga gaya tutur presenternya. Di edisi "Metropolitan", Tukul Arwana dan Wulan yang menjadi presenter, memberi prolog dan epilog dari kisah yang tersaji. Epilog biasanya berupa nasihat agar tidak melakukan hal yang tersaji di dalam cerita. Sayang sekali, penghadiran Tukul sangat tidak berhasil memberi warna dan arti untuk tayangan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Edisi "Seksi" hadir tanpa presenter, dengan visualisasi yang amat sangat luar biasa berani. Tampaknya, edisi "Seksi" adalah reinkarnasi visualisasi tayangan &lt;I&gt;Potret&lt;/I&gt; yang begitu berani, bahkan pernah menampilkan model telanjang yang bugil di layar &lt;I&gt;Lativi&lt;/I&gt;. Sulit menceritakan keberanian &lt;I&gt;Komedi Tengah Malam&lt;/I&gt; edisi "Seksi", meski label "lulus sensor" selalu ditampilkan di awal acara ini. Mungkin, beberapa foto "paling sopan" dari tayangan itu akan cukup menggambarkan "kevulgaran" acara itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Tubuh Sosial&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh-tubuh semitelanjang, yang mempersiapkan diri untuk dilahapi mata, adalah "ideologi" tayangan &lt;I&gt;Lativi&lt;/I&gt; tengah malam. Sudah lama anutan itu dipertahankan, mulai tayangan film Indonesia tempo dulu yang acap pamer aurat, &lt;I&gt;Potret&lt;/I&gt;, sampai &lt;I&gt;Curhat&lt;/I&gt; dan &lt;I&gt;Komedi Tengah Malam&lt;/I&gt;. Yang tampil adalah tayangan dengan kepercayaan yang berlebihan pada tampilan fisik. Kelucuan cerita, latar, seting, semuanya hanya menjadi pelengkap dari "logika" badani. Tubuh sensual yang terpapar di kamera nyaris tanpa mendapatkan sentuhan "jiwa" dari keseluruhan unsur-unsur dalam sebuah tayangan. Logika badani itu seakan mengadopsi pemikiran Cyrenaic dari Yunani dulu bahwa kebahagiaan tubuh lebih baik daripada keindahan jiwa. Pengimanan pada kesempurnaan tubuh ini membuat seluruh tayangan hadir sebagai pancingan pada syahwat, makanan mata, dan tak memberi sepeser nilai pun untuk jiwa. Waktu lewat tengah malam, ketika jiwa seharusnya mendapatkan suplemen, justru dibenamkan ke dalam lautan syahwat, "pencerahan" badani. Seakan, &lt;I&gt;Lativi&lt;/I&gt; mengamanatkan tayangannya menjadi kepanjangan tangan pemikiran Orpheus bahwa &lt;I&gt;the body is the tomb of the soul&lt;/I&gt;, tubuh adalah kuburan untuk jiwa. Penonton digiring untuk merayakan kesementaraan fisik, dan menguburkan keabadian batin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antropolog Robert Herz percaya perlakuan suatu masyarakat pada tubuh menunjukkan pola pikir dan identitas masyarakat tersebut. Masalah agama, budaya, dan moralitas secara alamiah termanifestasi di dalam bagaimana tubuh diperlakukan. Herz yakin bahwa tubuh fisik, tubuh pribadi, selalu juga berarti tubuh sosial. Jadi, membaca bagaimana tubuh diperlakukan berarti mengeja bagaimana pola pikir, moralitas, agama dan kultur sebuah masyarakat. Dan jika tayangan sejenis &lt;I&gt;Komedi Tengah Malam&lt;/I&gt; masih saja abadi di televisi, maka dapat kita baca bagaimana pola pikir, moralitas, kultur penontonnya, masyarakat yang mengabaikannya, watak stasiunnya, pengiklan, dan mereka yang "namanya tak boleh disebut".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu, secara sederhana, dapat kita katakan bahwa perputaran kapital adalah hukum wajib bagi televisi. Apa pun akan mereka produksi dan atau tayangkan sepanjang ada jaminan modal kembali. Keyakinan pada kapital ini otomatis menguburkan keyakinan pada moralitas, agama, budaya, dan aspek sosial lainnya. Pelanggaran atau penerobosan pada tabu, agama dan moral adalah konsekuensi yang harus dibayar demi perputaran uang. Intinya adalah sensasi. Dan sensasi acap berada di sisi yang berseberangan dengan moralitas, agama, dan kultur. Sensualitas adalah sensasi yang paling imajinatif. Sensualitas selalu bernarasi dengan tubuh. Simplifikasinya, tubuh adalah uang. Mereka yang memuja tubuh adalah mereka yang juga menjadikan uang sebagai iman. Masyarakat yang digerakkan oleh persoalan tubuh juga berarti masyarakat yang digairahkan oleh uang, yang jiwanya berada di dalam kuburan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika demikian, persoalan tubuh seharusnya tidak menjadi sesuatu yang perlu diributkan. Ketika tidak diramaikan, otomatis, seporno atau sesensual apa pun, tubuh kehilangan sensasi. Pendiaman pada fenomena ketubuhan justru meredam daya provokasinya. Tanpa sensasi, tanpa provokasi, tubuh adalah teritorial tanpa massa. Tubuh akan menggeliat sendiri dan mati dalam sepi. Tanpa sensasi dan provokasi, juga massa, tubuh dan semesta fenomenanya akan dilupakan televisi. Dan rating tak akan ada lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya, di masa ini, dapatkah kita hidup tanpa sensasi dan melupakan televisi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;[Artikel ini telah dimuat di Harian &lt;I&gt;Suara Merdeka&lt;/I&gt;, Minggu 5 Agustus 2007]&lt;/B&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10916372-4677460554108179292?l=auliamuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/feeds/4677460554108179292/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10916372&amp;postID=4677460554108179292' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/4677460554108179292'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/4677460554108179292'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/2007/08/curhat-tubuh-tengah-malam.html' title='Curhat Tubuh Tengah Malam'/><author><name>sujud ilalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/RrGSg-0M5HI/AAAAAAAAADU/tHkze6cpfDU/s72-c/komedi+tengah+malama.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10916372.post-2335803803928356575</id><published>2007-07-23T14:31:00.000+07:00</published><updated>2007-08-02T15:43:40.066+07:00</updated><title type='text'>Singkong di Paha Lasmini</title><content type='html'>Dongeng padi berasal dari Dewi Sri, seharusnya tidak muncul sebagai versi "sejarah" di televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/RqG2z-0M5FI/AAAAAAAAADE/BYgm2eceP6o/s1600-h/nyi-pelet.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/RqG2z-0M5FI/AAAAAAAAADE/BYgm2eceP6o/s400/nyi-pelet.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5089550058056901714" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;LASMINI&lt;/B&gt; tersenyum. Dia terus berjalan, seolah tak menyadari puluhan pasang mata yang mengawasinya dari semak dan rerimbun tegalan. Di ujung jalan, langkahnya berhenti, dan sambil membusungkan dada, dia berteriak, "Kisanak, keluarlah! Berapa lama lagi kalian akan terus bersembunyi?!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dari rerimbun singkong, dua lelaki berkumis bapang keluar, mengadang jalannya. Di sisi kanannya, dari balik jajaran pohon pepaya, dua lelaki gemuk, ngakak gagak, mengurungnya. Tapi Lasmini tetap tenang. Dia tahu, percakapan panjang tak akan ada gunanya. Sambil tetap tersenyum, dia geser kaki kanannya membentuk kuda-kuda. Lasmini telah bersiap diri untuk menghadapi kemungkinan apa pun.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, pasti, pertarungan akan terjadi. Pertempuran yang "indah", bukan karena kelihaian jurus dan kehebatan tenaga dalam, melainkan kelebat tubuh Lasmini yang membuat paha kuningnya acap terpamerkan, perut dan belahan dadanya yang jadi gampang tertangkap kamera. "&lt;I&gt;Lasmini&lt;/I&gt; adalah sinetron yang paling saya suka," kata Ayu Anjani, sang pemeran utama di sinetron laga itu, yang nyaris tiap tengah malam tayang di &lt;I&gt;Anteve&lt;/I&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, selain paha dan dada Lasmini, ada beberapa hal lain yang membuat saya selalu menunggu sinetron ini. Pertama, sinetron ini mendekatkan saya dengan masa kecil, senja yang selalu digemai dengan sandiwara radio "Saur Sepuh" dan "Babat Tanah Leluhur". Lasmini adalah tokoh sentral di sini, yang digambarkan sensual, centil, dan tentu saja, sakti. Suara Ivone Rose yang sungguh seksi, apalagi saat dia mendesah menggoda Raden Bentar, melambungkan imajinasi kecil saya ke sudut keliaran yang terdalam. Meski sinetron &lt;I&gt;Lasmini&lt;/I&gt; memangkas imajinasi tersebut, yang lari dari pakem cerita di radionya, namun perhubungan kenangan itu tetap saja otomatis terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, sinetron ini, juga sinetron laga pada umumnya, berada dalam sebuah lingkup "sejarah" atau epos besar. &lt;I&gt;Lasmini&lt;/I&gt; misalnya, diletakkan dalam situasi Kerajaan Pasundan. Akibatnya, mau tidak mau, terkadang cerita fiktif itu harus memasukkan data-data sejarah tentang kerajaan Pasundan dan atau Prabu Siliwangi, juga tentu, struktur kemasyarakatan pada saat itu. Jadi, di balik kelebat tubuh para jagoan dan betinaan, penonton juga mendapatkan renik-renik sejarah, yang bisa dibaca sebagai variasi atau versi lain dari sejarah babon kita. Hal yang sama misalnya, juga dilakukan drama Korea &lt;I&gt;Jewel in The Palace&lt;/I&gt; yang tayang setiap sore di &lt;I&gt;Indosiar&lt;/I&gt;. Drama itu sangat detil menampilkan Korea tempo dulu. Bukan saja pilihan latar, cara ujar, dan arsitektur bangunan didekatkan dengan situasi asli pada era kerajaan itu, bahkan beda jenis pakaian dan sandal antara kelas masyarakat pun tak lalai ditunjukkan. Drama itu secara piawai menghadirkan masa lalu dengan potret senyatanya. Dan, hal semacam itulah yang sangat sulit ditemukan dalam sinetron laga kita, yang menjadikan latar sejarah hanya sebagai sejarah-sejarahan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;1000 tahun Singkong&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam adegan Lasmini di atas misalnya, sepintas tak ada yang bermasalah. Penonton akan menganggap wajar pengadangan itu terjadi di tegalan yang ditumbuhi rerimbun pepaya dan singkong. Penonton pasti juga merasa tak terganggu dengan jenis sandal bertali Lasmini, jenis bahan dan gaya busananya. Atau motif kain, ragam senjata, dan jalinan ikat kepala para penjahat. Semua dapat diterima dalam sebuah kewajaran cerita, tak mengganggu, bahkan menambah seru. Namun, jika cerita itu diletakkan dalam latar peristiwa, masa kerajaan Pasundan, akan terciptalah puluhan pertanyaan menyangkut hal di atas. Misalnya konsep tegalan, apakah sudah dikenal pada saat itu? Atau motif batik, sandal menali ke betis, dan gaya berpakaian, apakah memang demikian adanya? Baiklah, penonton bisa menafikan hal itu. Tapi, jajaran pohon pepaya dan rerimbun singkong, dapatkah diterima sebagai kenyataan dari sebuah latar yang dipilih berada di masa keemasan Pasundan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran singkong, entah dalam bentuk pepohonan atau makanan, memang lazim dalam sinetron dan sinema laga kita, untuk menggambarkan kehidupan strata bawah masyarakat. Berbagai sinetron berlatar sejarah kerajaan Majapahit sampai Mataram Islam, acap meletakkan kehadiran kebun singkong dan atau panganan singkong. Padahal, dalam kesejarahannya, singkong dan atau pepaya, tidak mungkin telah "lahir" di masa itu. Ubi kayu atau singkong misalnya, pertama kali hadir justru bukan di tanah Jawa, melainkan di kepulauan Maluku. Itu pun di masa yang jauh kemudian, ketika petualang Portugis membawa tanaman itu dari Amerika Selatan dan mencoba membiakkannya di Maluku. Ingat, kedatangan Portugis tentu di era yang sangat berbeda jauh dengan Majapahit, Pasundan, dan atau Mataram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tanah Jawa, menurut Haryono Rinardi dalam &lt;I&gt;Politik Singkong Zaman Kolonial&lt;/I&gt;, sampai tahun 1850-an, singkong belum menjadi tanaman palawija. Hal itu karena jenis singkong dari Amerika Latin tidak cocok ditanam di tanah Jawa. Baru pada tahun  1854, setelah didatangkan varietas singkong dari Kepulauan Antilen Kecil di Karibia, residen di Jawa dan Palembang diperintahkan Belanda untuk mulai menanamnya. Dan setelah tahun 1870-an, singkong ditanam secara besar-besaran di Pulau Jawa akibat meningkatnya permintaan dari Prancis, yang menjadikan ubi kayu sebagai bahan mentah minuman keras pengganti anggur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan, baru 1870-an singkong dijadikan perkebunan di tanah Jawa, tapi mengapa ubi kayu sudah "hadir" dalam sinetron Lasmini, dan cerita berlatar kerajaan lainnya? Itu berarti, oleh perajin sinetron, kelahiran singkong dimajukan nyaris 1000 tahun!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Teh dan Apel&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain singkong, teh dan apel pun acap tampil dalam sinetron laga kita. Memang, teh hadir bukan sebagai minuman, melainkan menjadi latar pertarungan dan percintaan. Bertarung, lari dan sembunyi di rerimbun teh menjadi hal lazim, sebiasa berkejaran dan bercinta di kebun teh. Padahal, seperti singkong, teh juga bukan tanaman asli Indonesia. Setelah dipopulerkan oleh pedagang Cina dan Arab ke penjuru dunia, teh sampai di Nusantara berkat tangan Andreas Cleyer, yang mencoba membiakkannya di perkebunan Batavia, tahun 1686. Tak ada catatan lengkap mengenai keberhasilan usaha ini. Situs wikipedia pun tak memberikan penjelasan berarti soal Andreas Cleyer. Namun, lewat wikipedia juga, ditemukan sebuah fakta menarik bahwa perkebunan pertama teh di Nusantara baru berhasil di tahun 1828 berkat tangan dingin sinyo JLLL Jacobson. Sebelum itu, meski ada, teh hanya berupa tanaman sporadis, bukan berbentuk perkebunan untuk kepentingan komersial. Jadi, bayangkanlah kehadirannya dalam kebun-kebun penduduk di era kerajaan dulu. Aneh bin ajaib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan tertawa dulu, karena "penghadiran" singkong dan teh belum seberapa menggelikan. Apel-lah yang memegang rekor kenaifan sejarah ini. Seperti singkong, apel diposisikan sebagai makanan juga, tapi untuk strata atas. Dan kehadirannya acap tertampil sebagai latar dalam sebuah persidangan agung di istana. Dalam sinetron berlatar kerajaan, nyaris kita saksikan selain para pengawal, piala atau nampan makanan pasti menemani duduknya sang raja di singgasana. Dan di atas piala atau nampan buahan itu, dengan "sombong" tampak apel merah. Istana dan raja yang dikelilingi bebuahan mewah, anggur, apel, dan lainnya. Tidakkah pengerajin sinetron itu berpikir, bagaimana caranya apel bisa sampai ke masa itu? Barangkali, hanya raja Brama Kumbara yang bisa menikmati apel itu, karena dia memiliki rajawali sakti yang dapat terbang dan mencapai Amerika, lalu meletakkan apel di dalam paruh besarnya. Itu pun dengan syarat, rajawali tersebut dapat terbang secepat Boeing 747, atau ada lemari pendingin di dalam paruhnya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau sedikit cerdas, tentu yang hadir sebagai bebuahan raja adalah apel hijau yang dapat penonton identikkan dengan apel Batu, dari Malang. Namun malangnya, apel ini pun baru ditanam di "Indonesia" sekitar tahun 1934. Jadi, sebenarnya, tidak ada satu pun alasan sejarah yang dapat membenarkan kehadiran apel sebagai bebuahan para raja. Demikian juga singkong, teh, kopi, bahkan padi. Karena, menurut sejarawan Prof Dr Soegijanto Padmo, sampai abad ke-19, menanam padi belum menjadi tradisi orang kebanyakan di tanah Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, jika Anda menonton sinetron laga berlatar kerajaan di masa Nusantara, janganlah ikutkan pengetahuan sejarah. Tayang di tengah malam, seperti juga &lt;I&gt;Mak Lampir&lt;/I&gt; di &lt;I&gt;Indosiar&lt;/I&gt;, sejarah singkong, teh dan apel pasti sirna dalam visual sensual, pesona desah-senyum, belahan dada, dan gading paha Lasmini. Ciiaaattt.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;[Artikel ini telah dimuat di Harian &lt;I&gt;Suara Merdeka&lt;/I&gt;, Minggu 29 Juli 2007]&lt;/B&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10916372-2335803803928356575?l=auliamuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/feeds/2335803803928356575/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10916372&amp;postID=2335803803928356575' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/2335803803928356575'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/2335803803928356575'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/2007/07/singkong-di-paha-lasmini.html' title='Singkong di Paha Lasmini'/><author><name>sujud ilalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/RqG2z-0M5FI/AAAAAAAAADE/BYgm2eceP6o/s72-c/nyi-pelet.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10916372.post-7748660747376258762</id><published>2007-07-13T13:17:00.000+07:00</published><updated>2007-07-17T11:37:26.165+07:00</updated><title type='text'>Kami Lepas Kau dengan Senyuman</title><content type='html'>"Dia pernah ngomong, 'Gue pengen jadi presiden anak yatim saja'," cerita Heri, adik Taufik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/RpcaGGwxLzI/AAAAAAAAAC8/424Bq_bneBg/s1600-h/taufiks4.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/RpcaGGwxLzI/AAAAAAAAAC8/424Bq_bneBg/s400/taufiks4.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5086562996334964530" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;"Tidak usah takut. Jika gagal, engkau tak akan sempat merasakan apa-apa," kata Sersan Cappy. Di depannya, Cahill tampak gugup dan takut, berkali-kali tak berani meletakkan pipet untuk menambal picu bom gas syaraf agar tak meledak. Tapi, setelah mendengar kalimat Cappy, dia mengerdikkan bahu, terdiam, dan kembali mencoba menaklukkan bom itu. Ketakutannya telah padam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Engkau tak akan sempat merasakan apa-apa." Cappy mengatakan itu sekitar pukul 10 malam, lewat adegan dalam film &lt;I&gt;Executive Decision&lt;/I&gt; yang tayang di &lt;I&gt;TransTV&lt;/I&gt;, Rabu (11/7) lalu. Dan di sekitar waktu itu juga, dalam dimensi ruang yang berbeda, di KM 13 jalan Purworejo-Yogyakarta, Taufik Savalas kecelakaan. Truk bermuatan semen menghantam Kijang yang dia tumpangi. Hantaman yang teramat dahsyat. Melalui kamera teve, tertayang badan Kijang yang hancur di sisi kanan, ringsek. Dan di dalam ringsekan itu, berdiam tubuh Taufik, terjepit lesakan rangka kabin. Tubuh, raga, jasad, yang sudah dilupakan nyawa. Tubuh  yang "tak akan sempat merasakan apa-apa", karena nyawa lepas dengan lekas. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Taufik meninggal seketika," terang Indro Warkop, saat menggelar jumpa pers, Kamis dini hari, dengan suara terbata-bata. Di sebelahnya, duduk Eko Patrio dan Derry "Empat Sekawan", tanpa wajah ceria sebagaimana biasanya mereka jika berhadapan dengan kamera. "Keluarga sampai saat ini masih shock, masih sulit menerima. Saya memahami hal itu," tambah Indro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Meninggal seketika," seperti kata Indro, adalah terma untuk mewartakan kematian yang baik, kematian tanpa siksa, tubuh yang "tak akan sempat merasakan apa-apa", ketika fase sakratul maut seakan luput. "Gue cuma ingin jadi orang baik, itu saja. Di mana ketika ninggalin dunia ini, gue mendapat khusnul khatimah," kata Taufik, suatu saat. "Setiap beribadah, salat, umroh, haji, doa saya cuma satu, ridlo-Mu ya Allah. Jika Allah sudah ridlo, sudahlah... Itu saja."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meninggal seketika juga menunjukkan bahwa maut bukanlah sesuatu yang datang dari jauh. Dia dekat, memeluk kita sejak ruh berada dalam jasad. "Dan kematian jadi akrab," tulis Subagio Sastrowardoyo, "seakan kawan berkelakar yang mengajak tertawa." Mati atau maut bersenyawa dan bertaut dalam hidup. Maut dengan demikian, seharusnya, bukanlah sesuatu yang dapat membuat takut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, memang ada maut yang membuat ciut. "Ketika dia datang dengan wajah hitam-jelaga dan merah-marah," kata Bawa Muhaiyaddeen, mursyid dari India itu. Maut yang hitam, maut yang merah, menjemput hidup dengan marah, dengan paksa, memberi siksa. Terentang jeda panjang ketika nyawa, meski tahu pasti kalah, tetap ingin bertahan di dunia. Hanya wajah putih-kertas yang membuat nyawa pergi dengan gegas, bayi yang kehausan dan mendapat susu. Di situ, maut datang dengan membujuk, agar tubuh tak sempat merasakan apa-apa. "Aku tak dapat membayangkan jika sampai mati di atas tempat tidur. Hidupku dalam perang, aku ingin mati dalam kelebat pedang," kata Khalid bin Ibnu Walid, panglima perang Islam. Mati di kelebat pedang, bagi Khalid adalah mati dalam kerja, dalam tugas, ketika maut menjemput nyawa dengan lekas. Tubuh yang tak akan sempat merasakan apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taufik pun mati dalam semangat yang sama dengan keinginan Khalid, dalam kerja, dalam tugas. Kecelakaan itu, akhir hidup itu, tak perlu dipandang sebagai sesuatu yang tragis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi memang ada yang tetap terasa tragis. Karena kematian selalu meletakkan seseorang pada kelampauan, keterikatan dalam kenangan, rasa kehilangan. Kematian Taufik pun jadi penuh tangis. "Taufik itu tidak ada celanya, baik sama semua orang. Saat istri saya meninggal, dia yang membawa sampai ke liang lahat," kenang Doyok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita sayang sama Taufik, tapi Allah lebih sayang. Taufik orang yang tidak pernah bersedih," ucap Derry "Empat Sekawan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dia selalu bahagia. Orangnya baik banget. Dia selalu ingin orang juga bahagia. Kalau dia ada, kita selalu bisa tertawa," cerita Nia Zulkarnain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taufik ingin orang lain selalu bahagia, terus tertawa. Itulah kesamaan kenangan di banyak sahabatnya. Tapi, menyaksikan layar teve di hari kematiannya, kesamaan kenangan itu justru lenyap. Yang tampil adalah wajah-wajah sahabat yang sedih, cemas, rimbun airmata dan ratapan. Semangat Taufik seakan tak bersisa lagi, meski dalam isak, Derry masih berkata, "Semoga keceriaan Taufik masih selalu hidup bersama kita." Keceriaan yang mana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika semua sahabat bersaksi bahwa Taufik adalah orang baik, penuh perhatian, kuat memegang bahul agama, apa yang harus diisakkan dari kematiannya. "Dia kerja tidak untuk dirinya sendiri, selalu berbagi. Dia pernah ngomong, 'Gue pengen jadi presiden anak yatim saja'," cerita Heri, adik Taufik. Lalu, untuk apa semua ratapan? Tidakkah tangisan itu hanya untuk menjadi semacam "tanda" keterhubungan dan kedekatan dengan sang mayit? Apalagi, "Setiap tangis kematian," kata Khoping Hoo, "adalah ratapan untuk diri sendiri, yang merasa rugi telah ditinggalkan." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dia ingin semua orang bahagia, tertawa," kata Nia, dan tak satu pun layar televisi yang menggambarkannya. Kesedihan disebarluaskan, airmata hanya menjadi milik kematian Taufik. Padahal, yang meninggal bukan Taufik saja, ada dua orang lain yang ikut pergi bersamanya. Padahal, ada kesedihan lain yang juga "dimiliki" keluarga sang supir, Hairuddin, juga Suharsono. Tapi kamera, dan mungkin sahabat Taufik, lupa menunjukkannya. Jika Taufik hidup, saya kira dia akan meminta "penghormatan" kematian yang sama untuk dua orang rekan seperjalanannya, tanpa airmata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sehabis mengerjakan haji wada', Nabi Muhammad SAW menggamit Fatimah," cerita H Mahyaruddin Salim dalam kaset &lt;I&gt;Di Seberang Kematian&lt;/I&gt;. "Anakku, ini haji terakhir Ayah. Waktu Ayah tak lama lagi..." Mendengar itu, Fatimah menangis. Rasulullah pun memeluknya, dan bertanya, "Mengapa engkau menangis, Nak? Engkau tidak boleh sedih. Lihat, Ayah akan berada di sana," tunjuk Nabi ke arah langit. Dan saat itu, Fatimah melihat langit terbuka, dan tampaknyalah surga.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Ayah akan di sana, Yah?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah mengangguk. "Ya, dan engkau yang pertama akan ke sana juga, Anakku. Tidak berapa lama lagi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itu, Fatimah selalu tersenyum. Ketika Nabi wafat pun, Fatimah tetap tersenyum. Dan benarlah, tak berapa lama, 8 bulan setelah nabi wafat, Fatimah pun menyusulnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski tak sesempurna Rasulullah, Taufik adalah orang baik, manusia yang selalu ingin berdekatan dengan sang Khalik. Para sahabat menjadi saksi hal itu. Maka, seharusnya, seperti Fatimah RA, sahabat Taufik pun dapat "melihat" surga, dan mengantarnya dengan senyuman. Apalagi, almarhum adalah orang yang selalu ingin menyemaikan kebahagiaan, menetaskan tawa di mana-mana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin akan lebih baik, daripada meratap-tangis, para sahabat  berkata, "Selamat jalan Fik, kami lepas kau dengan senyuman. Karena kami percaya, maut yang merenggutmu dengan cepat, adalah kerinduan surga. Kami akan tersenyum, karena yang kau tinggalkan adalah kenangan baik, yang kau tuju adalah keabadian yang terbaik. Ya, kami menangis, Fik. Tapi kami percaya, engkau tahu di balik tangis ini tersimpan senyuman, bahkan tawa, bibit yang selalu engkau semai di dunia, yang menafkahi keluargamu, dan jadi ladangmu meraih surga. Selamat jalan Fik, kami lepas kau dengan senyuman..." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;[Artikel ini telah dimuat di Harian &lt;I&gt;Suara Merdeka&lt;/I&gt;, Minggu 15 Juli 2007]&lt;/B&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10916372-7748660747376258762?l=auliamuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/feeds/7748660747376258762/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10916372&amp;postID=7748660747376258762' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/7748660747376258762'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/7748660747376258762'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/2007/07/kami-lepas-kau-dengan-senyuman.html' title='Kami Lepas Kau dengan Senyuman'/><author><name>sujud ilalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/RpcaGGwxLzI/AAAAAAAAAC8/424Bq_bneBg/s72-c/taufiks4.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10916372.post-5282700598920025362</id><published>2007-07-09T16:32:00.000+07:00</published><updated>2007-07-13T14:21:07.891+07:00</updated><title type='text'>Dasi tanpa Latar Budaya</title><content type='html'>Dasi di leher para direktur berwajah siswa SMU adalah jerat yang melilit akal sehat para penjiplak cerita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/Ro9fDvXY_nI/AAAAAAAAAC0/rwWohyIB-cQ/s1600-h/dasi1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/Ro9fDvXY_nI/AAAAAAAAAC0/rwWohyIB-cQ/s400/dasi1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5084387022183399026" /&gt;&lt;/a&gt; Akhirnya Farrel  mendapatkan kembali posisinya di dalam perusahaan keluarga. Dia pun meminta Fitri menjadi sekretarisnya. "Karena hanya engkau Fit, yang tetap tabah, sabar, kalau aku marah. Cuma kamu yang bisa mengerti aku," pintanya. Fitri menolak. Dia tak ingin, kehadirannya akan memicu lagi "konflik" antara Farrel dan ayahnya. Farrel kecewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah cuplikan sinetron &lt;I&gt;Cinta Fitri&lt;/I&gt; yang tayang Minggu malam (1/7) di SCTV. Tak ada yang berubah dari tampilan Farrel, kecuali dasi panjang yang memberati lehernya. Dasi itulah yang menjadi tanda hadirnya kekuasaan, sehingga dia mampu melakukan apa pun untuk menaikkan "status" Fitri. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam &lt;I&gt;Cinta Fitri&lt;/I&gt;, selain Farrel, tokoh lain pun acap memakai dasi. Dan dasi itu menjadi "aneh" karena menggayuti leher dari wajah-wajah yang sepantasnya masih duduk di bangku SMU. Lho, kan tidak mengapa anak SMU memakai dasi? Itulah masalahnya. "Wajah" SMU itu sudah menjadi direktur, atau paling rendah, manajer di sebuah perusahaan. Kan perusahaan keluarga? Perusahaan dari keluarga yang paling gila sekalipun tidak akan mungkin meletakkan tanggungjawab usaha di pundak wajah SMU, dan menafikan karier pekerja lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dasi tampaknya menjadi hal yang penting di sinetron "kita". Selain &lt;I&gt;Cinta Fitri&lt;/I&gt;, dalam Intan pun "pameran" wajah SMU berdasi ikut mendominasi. Hal sejenis juga hadir dalam &lt;I&gt;Wulan&lt;/I&gt;, &lt;I&gt;Sumpah Gue Sayang Loe&lt;/I&gt;, &lt;I&gt;Liontin&lt;/I&gt;, dan &lt;I&gt;I love U, Boss&lt;/I&gt;. Tapi, hadirnya dasi di sinetron itu hanya menjadi tanda status, untuk menjalankan "logika" cerita. Dasi sebagai "tanda" kekuasaan, pengambil keputusan dalam sebuah perusahaan tidak pernah terlihat. Itulah sebabnya, dasi itu hanya hadir di belakang meja penuh berkas dan komputer bagus, bukan dalam situasi rapat yang sarat perdebatan. Ada kontras situasi yang coba dihindari. Sama seperti hilangnya proses karier sehingga sang tokoh belia pantas memakai dasi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Cinta Sehari-hari&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, proses. Itulah yang alfa dalam jalinan isi sinetron "kita". Barangkali, &lt;I&gt;Si Doel&lt;/I&gt;-lah sinetron terakhir yang masih menganggap proses itu penting. Dalam cerita terlihat perjuangan Si Doel meraih karier, sehingga kehadiran dasi di lehernya menjadi sebuah kepantasan. Proses "meraih" dasi itu bukan saja melahirkan konflik, melainkan mengubah seluruh karakter orang-orang yang terlibat dengannya. Doel yang semula rendah diri, perlahan jadi bisa menerima statusnya sebagai anak kampung, dan bangga dengan kebetawiannya. Seiring proses dalam diri si Doel, terjadi juga pergesekan dan pergeseran karakter dalam diri Sarah, Zainab, dan tokoh lainnya. Hebatnya, proses meraih "dasi" itu tersimulasi dalam tarik-menarik antarbudaya. Betawi dan Jawa, Arab dan Belanda, semua memberi andil dalam cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan cinta dalam &lt;I&gt;Si Doel&lt;/I&gt; diletakkan secara wajar, sebagai salah satu warna kehidupan. Bagi Doel, cinta bukan sesuatu yang harus dituhankan, bahkan kadang dianggap tidak penting ketika kehidupan menyeretnya dalam masalah yang lain. &lt;I&gt;Si Doel&lt;/I&gt; menunjukkan bahwa hubungan lelaki dan perempuan, bahwa kehidupan, tidak hanya harus bergubal dalam persoalan cinta. Ada percabangan cinta, tapi tak memicu kedengkian dan kejahatan, melainkan kesadaran diri. Dan memang begitulah seharusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita kemudian mencatat, &lt;I&gt;Si Doel&lt;/I&gt; adalah sinetron yang fenomenal, bukan hanya dalam raihan iklan, melainkan juga respon penonton. Ribuan penonton merasa berhak untuk menentukan kisah cinta Doel dan Sarah. Proses antarmereka --perjuangan Sarah mengubah watak dan kehidupan Si Doel-- di mata penonton, harus diganjar dengan keterpilihannya sebagai istri. Penonton bahkan mendesak Rano Karno, produser sinetron itu, untuk segera menikahkan &lt;I&gt;Si Doel &lt;/I&gt;dengan Sarah atau mencarikan lelaki lain untuk menikahi Zainab. Penonton terlibat karena cinta dalam cerita &lt;I&gt;Si Doel&lt;/I&gt; adalah cinta yang juga penonton libati dalam kehidupan sehari-hari. Cinta yang lahir sebagai proses kesadaran diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Cerita dalam Budaya&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa &lt;I&gt;Si Doel&lt;/I&gt; menjadi berbeda? Mengapa &lt;I&gt;Bajaj Bajuri&lt;/I&gt;, &lt;I&gt;OB&lt;/I&gt;, dan &lt;I&gt;Kiamat Sudah Dekat&lt;/I&gt; terasa dekat dengan kehidupan kita? Mungkin, karena sedari awal penonton tahu di wilayah budaya mana lingkup cerita itu terjadi. Ada beda idiom bahasa dan kode busana yang memberi warna dalam keseluruhan cerita, yang dapat kita sepakati sebagai "Indonesia". Sinetron itu berada dalam wilayah yang terjelaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;I&gt;Cinta Fitri&lt;/I&gt;, &lt;I&gt;Wulan&lt;/I&gt;, &lt;I&gt;Sumpah Gue Sayang Loe&lt;/I&gt;, &lt;I&gt;Liontin&lt;/I&gt;, dan &lt;I&gt;I love U, Boss&lt;/I&gt; berada dalam wilayah imajinasi. Benar, situasi kota, dan plat nomor kendaraan yang mereka gunakan, menjelaskan &lt;I&gt;setting&lt;/I&gt; cerita. Tapi, kebeliaan sang tokoh, kode busana, dan struktur cerita justru mengingkarinya. Dan jika cerita itu dipindahkan ke sudut kota mana pun, ke wilayah negara mana pun, pasti tidak akan menimbulkan dampak yang berarti. Karena sedari awal, cerita memang tidak memunculkan dan atau menganggap penting &lt;I&gt;setting&lt;/I&gt; budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidakhadiran latar budaya ini dikarenakan banyak cerita sinetron "kita" berasal dari wilayah budaya yang berbeda, Korea. Yang  hadir kemudian hanyalah logika cerita, tanpa didukung struktur budaya. Cerita dari drama Korea dicabut begitu saja, dan dimampatkan ke dalam situasi "kita". Itu sebabnya, banyak hal yang kemudian terasa janggal. Karena cerita disesakkan, dijejalkan dalam sebuah situasi yang sebenarnya tidak mendukung. Yang penting kisah bisa berjalan, sinetron dapat diproduksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;I&gt;Buku Harian Nayla&lt;/I&gt;, misalnya, yang merupakan jiplakan &lt;I&gt;Ichi Rittoru No Namida (1 Litre of Tears)&lt;/I&gt;, tidak menumbulkan simpati yang berlebih di sini. Di Jepang, karena berasal dari kisah nyata, drama ini terasa begitu membumi dan menimbulkan simpati yang luar biasa. Penonton Jepang merasa memiliki dan mengalami perjuangan Kitou Aya yang hadir dalam struktur budaya sana. Atau &lt;I&gt;Endless Love&lt;/I&gt;, yang berdampak luar biasa di Korea. Tabloid &lt;I&gt;Bintang Indonesia&lt;/I&gt; pernah mencatat, ada "kesepakatan" di Korea bahwa perempuan yang tidak menangis ketika melihat drama itu dianggap bukan perempuan. Ribuan telepon dan surat penggemar mendatangi stasiun teve KBS meminta agar sang tokoh Eun Suh (Song Hye Kyo) disembuhkan dari leukemianya, dan dijodohkan dengan Joon Suh. Direktur KBS pun meminta sutradara mengubah, tapi tak dikabulkan. Dan seri terakhir drama itu, ketika Eun Suh mati, dan Joon Suh yang kehilangan harapan, justru tertabrak truk saat menyeberangi jalan sambil menggendong jenazah kekasihnya, menjadi adegan yang terpatri dalam ingatan banyak penonton di sana. Dan ketika tayang di sini, di &lt;I&gt;Indosiar&lt;/I&gt;, meski sangat memesona penonton, respon yang terjadi tidaklah sedahsyat di Korea. Meski terhanyut, latar budaya Korea cukup "mengasingkan" keterlibatan penonton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita punya &lt;I&gt;Si Doel&lt;/I&gt;, Korea punya &lt;I&gt;Endless Love&lt;/I&gt; --dua cerita yang lahir dalam wilayah budaya penontonnya-- yang menggerakkan penonton, mengundang simpati, untuk merasa wajib menentukan jalan cerita. Dan seharusnya, pembuat sinetron, pengelola televisi, mau belajar dari sini. Sehingga, kelak tak perlu lagi tertayang karya jiplakan, cerita curian, yang tak mempertimbangkan budaya penonton. Sehingga kelak akan hadir cerita yang membiarkan wajah-wajah SMU berbicara tentang cinta, tanpa harus meleletkan dasi direktur di lehernya. Karena dasi di leher mereka adalah tanda jerat yang melilit akal sehat para penjiplak cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;[Artikel ini telah dimuat di Harian &lt;I&gt;Suara Merdeka&lt;/I&gt;, Minggu 8 Juli 2007]&lt;/B&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10916372-5282700598920025362?l=auliamuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/feeds/5282700598920025362/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10916372&amp;postID=5282700598920025362' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/5282700598920025362'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/5282700598920025362'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/2007/07/dasi-tanpa-latar-budaya.html' title='Dasi tanpa Latar Budaya'/><author><name>sujud ilalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/Ro9fDvXY_nI/AAAAAAAAAC0/rwWohyIB-cQ/s72-c/dasi1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10916372.post-1076723994980890750</id><published>2007-06-29T18:36:00.000+07:00</published><updated>2007-07-07T16:47:02.697+07:00</updated><title type='text'>Saat Hujan Kehilangan Warna</title><content type='html'>Hidup akan selalu terasa lebih indah ketika kita diberi ruang untuk mengembangkan imaji dan menelisik misteri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/RoTvZm4yH1I/AAAAAAAAACs/92ocziTZDs0/s1600-h/cinta+fitri.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/RoTvZm4yH1I/AAAAAAAAACs/92ocziTZDs0/s320/cinta+fitri.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5081449502795243346" /&gt;&lt;/a&gt;Hujan sering sekali datang di saat yang tak diharapkan. Fitri mengalami hal itu. Di malam ulang tahunnya, dia terjebak di restoran, setelah membeli kado, untuk dirinya sendiri. "Kenapa hujan tidak berhenti juga ya?" ucapnya, sembari terus memegangi bungkusan kado, dan sekotak tart. Fitri gelisah, sedih,dan juga marah. Malam itu dia merasa sendirian, merasa telah dilupakan kekasihnya, Farrel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di teras kontrakan Fitri, Farrel justru tengah menunggunya, gelisah. Puluhan kali dia mengetuk pintu rumah itu, tiada jawab. Berkali-kali dia berteriak meminta maaf, tanpa sahutan. Lupa dan hujan telah membuatnya terlambat sampai ke kontrakan kekasihnya itu untuk menyerahkan kado istimewa. Dan kesalahpahaman terlanjur terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, akhirnya mereka bertemu. Dan di teras itu, kesalahpahaman mencair jadi rindu, berganti pelukan dan airmata bahagia. Farrel melamar, Fitri menerima. Meski keduanya sadar, hubungan mereka akan terganjal selama belum ada restu dari orangtua Farrel. Cerita habis untuk berlanjut kembali. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah cuplikan sinetron &lt;I&gt;Cinta Fitri&lt;/i&gt; yang tayang di SCTV, Senin malam (25/6). Dibintangi Shireen Sungkar dan Teuku Wisnu, serial adaptasi dari drama Korea &lt;I&gt;Pure Love of 19&lt;/i&gt; ini cukup membetot perhatian penikmat televisi. Beberapa blog menilai keluguan dan kepolosan Shireen menjadi daya dongkrak sinetron ini, mengalahkan akting Naysila Mirdad di sinetron &lt;I&gt;Intan&lt;/i&gt; di RCTI. Meski, di mata saya, keluguan Shireen, dan juga Naysila, hadir bukan sebagai tuntutan cerita, melainkan lebih dikarenakan ketakmampuannya berakting dan mengeksplorasi diri. Ketakmampuan yang telah menjadi penyakit menular untuk aktris sinetron Indonesia. Saya sendiri, menonton sinetron ini semata karena melihat hujan yang hadir lebih dari 20 menit di Senin malam itu. Hujan yang dikutuk-sumpahi Fitri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Kegenitan Visual&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada apa dengan hujan? Itulah yang menjadi pertanyaan saya. Berkali-kali menonton sinetron, saya melihat kehadiran hujan selalu menjadi "kesialan" bagi sang tokoh. Hujan menjadi penghalang pertemuan, menjadi sebab kecelakaan, keterlambatan, bahkan kadang menjadi sebab perkosaan. Hujan selalu datang dalam fungsi untuk menghadirkan kesialan bagi sang tokoh. Artinya, hujan hadir hanya sebagai hujan, air yang tercurah dari langit. Itu saja. Hujan sebagai latar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang sama juga terjadi dengan laut atau pantai. Nyaris semua sinetron menjadikan laut sebagai latar untuk mendongkrak keromantisan cerita. Di bibir pantailah biasanya cinta atau lamaran terucapkan. Juga di lautlah biasanya patah hati dilarikan. Laut dan pantai hadir hanya sebagai latar, tempat kehadiran sang tokoh. Hal yang sama juga terjadi pada kaok gagak, rerimbun hutan, sisa embun di dedaunan, lengang temaram jalan, dan juga bibir fajar. Semua hadir sebagaimana tampaknya, dan fungsinya mengikuti ketampakan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film-film horor Suzanna 20-30 tahun lalu, atau film aksi Barry Prima, tampaknya lebih tahu bagaimana menghadirkan hujan, hutan, bibir laut, atau lengang malam. "Penghormatan" pada hujan, misalnya hadir dalam adegan semacam ini; tokoh perempuan dikejar para penjahat. Langit digambarkan mendung, suasana temaram. Tokoh perempuan tertangkap di sebuah rumah, dan sambil tertawa, para penjahat memperkosanya. Seiring pakaian yang terenggut paksa, tubuh lelaki yang menimpa, tokoh perempuan menjerit. Di luar, hujan pun turun....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laut dan ombak pun hadir dalam "penghormatan" semacam di atas. Dengan setting di pedesaan dekat pantai, film-film tempo doeloe menggambarkan percumbuan malam pertama dalam persilangan gambar resah-kamar dan kecamuk bibir pantai. Adegan cumbu bergantian dengan gerak liar ombak, bergulung, mendentumi pantai. Dan adegan akhir berlangsung ritmis, pasangan yang terkuyu lemas di kasur, ombak yang berhenti berdentum, lautan yang lengang....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dalam sinetron hujan dan pantai hadir hanya sebagai latar fisik, di film kuno itu mereka menjadi latar batin. Jika di sinetron hujan hadir dalam pesona fisikal, dalam film Suzanna atau Barry prima, hujan dan ombak justru muncul dengan kegenitan visual, hujan dan ombak yang merangsang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Rezim Dialog&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, ketakhadiran imaji. Itulah yang terjadi dalam sinetron kita. Semua hal diterangjelaskan dalam dialog, dalam gambar yang realis. Hujan ya hujan, ombak ya ombak. Tak pernah mewakili "sesuatu" yang lain. Saya berharap, ketika Fitri bertemu dengan Farrel, hujan akan berangsur reda, lalu pelan-pelan, seiring percakapan mereka, langit mulai cerah, dan ketika lamaran itu diucapkan, lahir setitik cahaya di langit, dari satu bintang. Tapi, khayalan kelas rendahan itu pun tak terjadi. Yang tampil justru rentetan pernyataan --sekali lagi pernyataan! karena dialog atau monolog antamereka nyaris tanpa keintiman. Kegelisahan Fitri dia nyatakan dalam monolog yang membosankan. Kecemasan Farrel pun demikian. Tipologi yang sudah menjadi anutan dalam sinetron. Akibatnya, menonton sinetron nyaris sama dengan mendengarkan radio. Segala hal ternyatakan, dan visualisasi gambar dari pernyataan tersebut tak memberikan efek apa pun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rezim dialog inilah yang mengebiri aktivitas menonton. Tak ada imaji visual. Bahasa gambar yang seharusnya menjadi inti setiap sinetron tenggelam dalam bingar kata-kata. Kamera hanya merekam apa pun yang terjadi, seakan tak ada orang di belakang kamera itu. Pemberhalaan pada dialog inilah yang barangkali membuat sebuah sinetron dalam diproduksi puluhan episode dalam waktu yang pendek, bahkan kejar tayang. Pengalfaan pada imaji visual itu membuat ratusan cerita --yang nyaris melupakan logika-- pun menjadi sangat gampang dikerjakan. Karena segala hal di sinetron menjadi mungkin ketika bisa didialogkan pelakunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perajin sinetron barangkali lupa, bahwa hujan, ombak, cicit gagak, bukan hanya hadir sebagai benda, melainkan juga tanda, sebuah pesan, ada hal lain yang "hadir" bersama mereka. Ada kesedihan yang dibawa hujan, kegelisahan dan vitalitas dalam ombak, juga kematian di cicitan gagak. Kehadiran mereka selalu membawa berbagai imaji, sekaligus misteri. Dan hidup akan selalu terasa lebih indah ketika kita diberi ruang untuk mengembangkan imaji dan menelisik misteri. Sesuatu yang nyaris mustahil kita temukan di televisi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[&lt;B&gt;Artikel ini telah dimuat di Harian &lt;I&gt;Suara Merdeka&lt;/I&gt;, Minggu 1 Juli 2007]&lt;/B&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10916372-1076723994980890750?l=auliamuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/feeds/1076723994980890750/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10916372&amp;postID=1076723994980890750' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/1076723994980890750'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/1076723994980890750'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/2007/06/saat-hujan-kehilangan-warna.html' title='Saat Hujan Kehilangan Warna'/><author><name>sujud ilalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/RoTvZm4yH1I/AAAAAAAAACs/92ocziTZDs0/s72-c/cinta+fitri.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10916372.post-7842943129298160881</id><published>2007-06-07T11:37:00.000+07:00</published><updated>2007-06-29T19:17:58.335+07:00</updated><title type='text'>Otoritas yang Dikebiri</title><content type='html'>Di "Indonesian Idol" para juri hanyalah ornamen, pelengkap sebuah pesta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/RmeMEoZlYeI/AAAAAAAAACU/DOYMhuzRicU/s1600-h/idol1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/RmeMEoZlYeI/AAAAAAAAACU/DOYMhuzRicU/s400/idol1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5073177516448244194" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;"Juri boleh mengatakan apa saja, tapi keputusan tetap di tangan Anda. Jadi, jika Anda tidak setuju dengan penilaian juri, terus dukung favorit Anda. Karena Anda yang memilih, Andalah yang menentukan!" teriak Daniel Mananta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu adalah kalimat standart yang selalu diucapkan pembawa acara "Indonesian Idol", mulai Irgi-Atta, dan kini Daniel Mananta. Sekilas, kalimat "wajib" ini hanya berupa seruan kepada penonton agar terus mengalirkan SMS dukungan kepada kontestan. Namun, Daniel justru mengelaborasi kalimat tersebut menjadi sentilan-sentilan kecil yang kemudian menghancurkan otoritas para juri.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumat malam (31/5), misalnya. Usai Wilson melantunkan "Kuta Bali",  Anang berbeda pendapat dengan tiga juri lainnya. Daniel segera menyambar hal itu. "Wilson, aneh ya? Ada tiga juri yang mendukung kamu, dan satu yang tidak," ucapnya sambil tersenyum dan mengerdikkan bahu. Di meja juri, Anang bersuara, mencoba menjelaskan maksud penilaiannya, yang segera ditimpali Indra Lesmana. Keduanya berdebat. Daniel dan Wilson tertawa. "Untuk pertama kalinya, gue bisa ngadu domba juri," kata Daniel Mananta, sumringah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Ornamen Pesta&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya sesama juri, peserta dan juri pun acap dibenturkan Daniel. Dan pembenturan ini sudah jadi semacam kebiasaan. "Rasanya kamu tidak seperti yang dikatakan juri ya?" ucapnya pada Priska. Atau, "Kamu setuju dengan pendapat juri?" tanyanya pada Fandi. Kepada Wilson, Daniel pun bertanya dengan nada tak percaya, "Kamu benar merasa kurang maksimal malam ini?" Dan lihatlah, kontestan pun termakan dan berani menyanggah penilaian juri. "Rasanya tidak. Semoga juri salah," kata Wilson. Dan, kalimat pamungkas Daniel untuk mengantarkan peserta turun panggung adalah, "Jika Anda tidak ingin ... (nama peserta) keluar malam ini, dukung terus dengan mengirimkan SMS ke..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daniel dan peserta sadar sekali, bukan juri yang membuat mereka tetap terus berada di atas panggung melainkan SMS dari penonton. Namun, seharusnya Daniel mendukung penilaian juri agar SMS paling sedikit jatuh kepada kontestan yang memang tidak berkualitas. Dengan membenturkan dan menyanggah opini para juri, bahkan kadang meledek, Daniel menempatkan fungsi juri hanya sebagai ornamen di acara itu, dan opini mereka adalah suara-suara asing pemeriah suasana. Penonton diajak untuk tidak percaya apa pun penilaian juri pada seorang kontestan. Daniel membuat penonton berada dalam satu teritorial dukungan yang utuh, tetap, tak boleh berpindah. Jika misalnya engkau mendukung Risma atau Steve, maka Daniel berharap engkau harus mendukungnya terus, apa pun pencapaiannya di atas panggung. Seburuk apa pun kualitas suara dan penjiwaan mereka atas sebuah lagu. Daniel seakan mempresentasikan dirinya sebagai wakil &lt;I&gt;RCTI&lt;/I&gt;, yang hanya berkepentingan dengan banyaknya SMS dan bukan kualitas. Karena itu, Daniel menggugah fanatisme penonton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perangkap fanatisme pada sosok dan bukan kualitas inilah yang acap membuat juri seperti putus asa. Ketika Marsya tersingkir misalnya, Indra tampak tak percaya. Anang apalagi. Juri memang menilai Marsya tidak istimewa, namun kecaman mereka justru membanjir untuk Steve. Jamie Aditya misalnya, tak habis pikir mengapa kontestan seburuk Steve masih bisa bertahan dan terus mendapat dukungan. Keputusasaan itu juga yang membuat Jamie "membuang otoritasnya" sebagai juri, ketika menilai Steve Jumat malam (31/5) lalu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Steve, dari awal kompetisi ini, juri selalu kritik penampilan kamu. Akibatnya, penonton justru marah dan malah mendukungmu. Nah, biar kamu tidak didukung lagi, malam ini saya katakan, penampilan kamu bagussss banget Steve," ucap Jamie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Jamie membuang otoritasnya, Daniel tak lagi bisa membenturkan dan menyangsikan otoritas juri. Dan dampaknya terasa kemudian, Steve terlempar. SMS penonton tak lagi mampu mempertahankan posisinya. Dan lihatlah, ketika Daniel mengatakan Steve tersingkir, Anang-Indra bangkit dari kursi dan keduanya &lt;I&gt;toast&lt;/I&gt;, tertawa lepas. Jamie malah tersenyum lebar. Anang dan Indra menyadari, tersingkirnya Steve adalah pengukuhan atas otoritas mereka, pengakuan bahwa malam itu mereka tidak berhasil ditempatkan sebagai ornamen saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Kualitas SMS&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/RmeQnYZlYgI/AAAAAAAAACk/exrGjBdWU4s/s1600-h/idol3.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/RmeQnYZlYgI/AAAAAAAAACk/exrGjBdWU4s/s320/idol3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5073182511495209474" /&gt;&lt;/a&gt;Melihat "Indonesian Idol" selama ini, dapat dikatakan kehadiran juri tidak memberikan manfaat yang sebanding. Kemenangan Ihsan di "Indonesian Idol 3" misalnya, adalah sesuatu yang tak pernah terbayangkan oleh juri. Karena, secara kualitas, Ihsan justru sangat lemah dibandingkan Dirly, Gea, atau Nobo. Di situ terlihat penilaian juri tak memengaruhi pola pilihan penonton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, kemenangan Ihsan adalah kemenangan &lt;I&gt;RCTI&lt;/I&gt; dan Freemantle, karena perolehan SMS yang melonjak dibandingkan "Indonesian idol 2". Ihsan mendapatkan SMS terbanyak justru karena dia tidak didukung juri. Dan pola inilah yang tampaknya ingin terus dikembangkan pihak penyelenggara. Dan caranya adalah dengan menggerus otoritas para juri, yang jika perlu, memasuki persoalan pribadi para juri. Daniel tahu betul bagaimana mengolah hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Titi Dj mengkritik napas Fandi yang memburu dan menganjurkannya berolahraga, Daniel justru menyanggahnya. Di babak "workshop" itu, Daniel bahkan berdebat dengan Titi soal olahraga itu. Dan ketika argumentasinya tidak cukup kuat, Daniel menyerang dengan, "Iya sih, memang lebih baik olahraga daripada operasi plastik." Daniel tertawa saat mengucapkan hal itu, dan penonton riuh. Sayang, kamera tidak menampilkan wajah Titi, yang dapat dipastikan tentu sangat tersindir dengan sentilan itu. Titi memang telah beberapa kali operasi, pengangkatan lemak di paha dan perut, dan memermak wilayah dada. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anang juga pernah mendapatkan sentilan yang senada. Ketika mengkritik Fandi, Anang memang terkesan keras dan pedas. Dan Daniel mementahkan kritik itu dengan mengatakan, "Anang kenapa? Kok marah-marah? Gak ada masalah keluarga kan?" Penonton pun riuh. Semua kritik Anang langsung menguap, tertutup oleh komentar Daniel. Saat itu Krisdayanti memang tengah digosipkan selingkuh, dan Anang menyita ponsel istrinya itu. Dengan membawa persoalan pribadi para juri ke atas panggung, Daniel berhasil mementahkan semua penilaian para juri. Daniel membuka peluang hadirnya persoalan psikologis di dalam diri para juri ketika menilai kontestan. Juri adalah sosok yang bermasalah, dan karena itu penilaian mereka bisa jadi jauh dari objektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak cukup membawa persoalan pribadi, Daniel pun acap mengolok-olok para juri. Dimas Jay di "Indonesian Idol 3" adalah langganan olok-olok Daniel. Tapi, olokan paling kasar justru diterima juri di Jumat malam (11/5). Keempat juri mengkritik penampilan Steve. Jamie bahkan menilai Steve hanya pantas bernyanyi di depan anak SMP. Di panggung, Steve tampak pucat. Dan Daniel mencoba mementahkan kritik itu dengan berkata, "Steve, kamu takut sama anjing kan?" Steve menggangguk. Dan Daniel segera melanjutkan, "Tak heran kalau kamu takut juga sama juri."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juri di mata Daniel memang bukan siapa-siapa. Dan dia berharap, penonton juga memperlakukan hal yang sama. Karena di "Indonesian Idol" kualitas SMS-lah yang paling utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;[Artikel ini telah dimuat di Harian &lt;I&gt;Suara Merdeka&lt;/I&gt;, Minggu 10 Juni 2007]&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Tulisan lain tentang "Indonesian Idol":&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a class="left" href="http://auliamuhammad.blogspot.com/2006/07/juri-juri-tanpa-independensi.html" target="_blank"&gt;Juri-juri tanpa Independensi&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a class="left" href="http://auliamuhammad.blogspot.com/2005/08/indonesia-tak-pernah-memilih.html" target="_blank"&gt;Indonesia tak Pernah Memilih&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10916372-7842943129298160881?l=auliamuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/feeds/7842943129298160881/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10916372&amp;postID=7842943129298160881' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/7842943129298160881'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/7842943129298160881'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/2007/06/otoritas-yang-dikebiri.html' title='Otoritas yang Dikebiri'/><author><name>sujud ilalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/RmeMEoZlYeI/AAAAAAAAACU/DOYMhuzRicU/s72-c/idol1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10916372.post-3968598677052920505</id><published>2007-05-15T14:47:00.000+07:00</published><updated>2007-05-15T14:51:14.490+07:00</updated><title type='text'>Keluar dari Batas Kenyataan</title><content type='html'>Memasuki panggung berarti memisahkan diri dari kenyataan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/RklmLIUv6yI/AAAAAAAAACM/51pgVU_wHMk/s1600-h/inul.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/RklmLIUv6yI/AAAAAAAAACM/51pgVU_wHMk/s400/inul.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5064691597353937698" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;"Wanita itu harus memakai jilbab, Kikan. Dengan menutup aurat, dia akan terlindungi," kata Nila, sembari mengelus rambut Kikan, anaknya. Nila baru saja usai salat, dan berjanji pada Allah, mulai hari itu dia akan menutup auratnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sepotong adegan dalam sinema "Hikayah: Penyanyi Dangdut Banting Setir Jadi Pembantu" yang tayang Selasa (1/5) lalu. Sinetron itu bercerita tentang pertobatan penyanyi dangdut, Nila, yang biasa bergoyang erotis. Dia yakin, dengan menutup aurat, berjilbab pun, panggung dangdut masih terbuka untuknya. Tapi Nila salah. Tak ada lagi panggung yang menerima. Dia dihina, dicampakkan, disudutkan. Godaan pun datang bertubi-tubi, tapi Nila tetap kuat. "Maaf, aku tidak bisa membuka jilbab. Ini sudah prinsip," elaknya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nila diperankan dengan cukup baik oleh Inul Daratista. Inul? Inul, pedangdut ngebor itu? Iya, Inul yang juga berseteru dengan Rhoma Irama itu. Di "Hikayah", yang juga seperti "Hidayah" --terinspirasi dari kisah nyata-- Inul menjadi Nila yang menyadari bahwa bergoyang ngebor dekat dengan kemaksiatan, mendorong orang untuk berbuat dosa. Ketika penonton tidak menerima prinsipnya, dia rela berganti profesi meski harus hanya menjadi pembantu rumah tangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminggu sebelumnya, Silvana Herman tampil sebagai pemain utama dalam "Hidayah: Perawan Tua". Dia menjadi sosok yang jahat karena tak mampu menanggungkan status ganda: tua dan perawan. Cerita pun berjalan dalam konflik batin yang berkembang jadi kedengki-irian. Sampai saat ini, Silvana Herman memang masih lajang. Usianya nyaris 40 tahun. Dalam tayangan infotainmen, setiap ditanya statusnya, Silvana tak pernah merasa risau. "Jodoh itu di tangan Tuhan. Nanti juga datang," ucapnya rileks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Panggung Nilai&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemampuan memerankan "sebuah" karakter adalah tuntutan utama untuk menjadi aktris. Seorang aktris, dapat menjadi apa saja ketika berlakon, termasuk menjadi sosok yang dia benci di dalam kehidupan nyata. "Akan menjadi tantangan yang hebat," demikian biasanya sang pelakon menggambarkan kegembiraan ketika mendapat peran yang berbeda dari karakter aslinya. Itulah sebabnya, setiap aktris riang gembira saja memerankan tokoh apa pun, dalam cerita apa pun, dan dengan kemuskilan apa pun. Yang penting berakting. "Karena berakting aku ada".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena akting hanya peranan, karakter apa pun yang dimainkan dipahami oleh mereka bukan sebagai cerminan dari watak pribadi sang pelakon. Itulah sebabnya, Silvana mau menjadi sosok perawan tua dan jahat. Silvana tahu, itu hanya akting. Meski menyandang status yang sama di kehidupan nyata, dia tahu penonton tak akan mempersepsikannya dengan kejahatan yang sama. Itu juga sebabnya, Inul riang gembira menjadi Nila, yang bertobat dari jalan ngebor. Inul tahu, karakter itu hanya rekaan, bagian dari akting. Hanya sandiwara. Tak ada korelasi antara Inul dan Nila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai dua karakter, memang tak ada korelasi antara watak di dalam sinetron dan watak asali di dalam kenyataan. Tapi sebagai "pembawa" nilai, seharusnya Inul menyadari "makna" yang lebih daripada sekadar pemeranan. Inul adalah ikon yang mencoba meletakkan sebuah perspektif baru di dalam memandang panggung dangdut. Bersama beberapa aktivis perempuan, Inul mencoba melawan dominasi nilai bahwa dangdut adalah medium dakwah, yang sebagai hiburan seharusnya mengajak orang dekat pada sang pencipta. Karena itu, goyangan yang dianggap menabuh syahwat bukan bagian dari dangdut. Goyangan sejenis itu membawa dangdut ke gerbang comberan. Inul mencoba "memetakan" posisi persepsi dan fakta, harapan dan kenyataan. Bagi Inul, goyangan adalah wilayah terbuka yang bisa dimaknai apa pun, dalam konteks apa pun. Tidak bermakna tunggal, dan harus dilihat dari persepektif hiburan, permintaan dan penawaran, bukan agama. Inul mencoba membebaskan seni dari beban moral, membebaskan dangdut dari kepemilikan satu orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, nilai "kenyataan" Inul ini yang justru ditampik Nila. Padahal, sebagai nilai, korelasi keduanya amat jelas. Ada hubungan kausatif antara sinetron dan kenyataan dalam tautan nilai. Sinetron, film, pementasan drama, bahkan opera pun, bukan produk yang lepas nilai. Itulah sebabnya, tak boleh ada sinetron yang menghina agama. Tak ada satu karakter cerita  yang boleh menghina agama orang lain, suku, atau personalitas seseorang. Seluruh cerita sebuah film atau sinetron, mungkin tidak berangkat dari dunia nyata. Tapi "ketidaknyataan" itu tetap saja digayuti nilai-nilai yang justru datang dari dunia nyata. Dalam tataran nilai itu juga, seorang pelakon terhubung dengan kenyataan kesehariannya. Seorang pelakon, seharusnya tidak "memperlawankan" karakter yang dia mainkan dengan sikap moral pribadi. Leonardo DiCaprio misalnya, selalu menolak memerankan sosok yang merusak lingkungan. Dia bahkan berusaha memerankan karakter yang mengampanyekan lingkungan, misalnya dalam film &lt;I&gt;Blood Diamond&lt;/I&gt;. Sebagai aktivis lingkungan, Leo bahkan berusaha mengampanyekan "moral pribadi" tersebut di dalam film-filmnya. Saat ini, dia sedang membuat film &lt;I&gt;The 11th Hour&lt;/I&gt;, yang bercerita tentang kehancuran bumi akibat pemanasan global. Leo melihat film adalah medium untuk menyampaikan sikap "politiknya". Jika boleh, cerita yang dia mainkan sedapat mungkin mengekspresikan "sikap moral yang dia pilih".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesadaran semacam inilah yang tidak dipunyai Inul, dan juga aktris Indonesia lainnya. Panggung bagi mereka adalah sesuatu yang bebas nilai dan pasti terpisah dari kehidupan nyata. Begitu memasuki panggung, mereka merasa telah keluar dari batas kenyataan, terlepas dari sikap moral pribadi. Yang mereka mainkan adalah "cerita" khayalan. Nilai di dalamnya pun khayalan. "Saya tidak seperti itu lho...." begitulah ucapan mereka. Panggung adalah pemanggungan, tempat "identitas" di pertukarkan, saling menegasi, dan absurd. Panggung adalah sebuah teritorial yang memutus sejarah hidup sang aktris dari kenyataan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sinetron dan atau film bagi aktris kita bukanlah wadah ekspresi sikap moral pribadi melainkan "cara berada". Sebagai "cara berada", yang utama adalah imbal balik dari pemeranan karakter itu: materi. Panggung dengan demikian adalah wadah untuk semata-mata mendapatkan materi, dan persetan dengan nilai! Dengan cara yang sama, dapat juga dibaca bahwa "perjuangan" Inul dulu untuk "memetakan" posisi dangdut bukanlah bicara tentang nilai, tapi peluang materi yang dia dapatkan. Perlawanan Inul adalah perlawanan materi, pemosisian ladang nafkah. Jika pun bicara nilai, pastilah itu "nilai" yang dapat dimasukkan ke dalam kantong!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang, sikap anutan semacam itu ternyata tidak hanya dihinggapi para aktris kita. Wakil rakyat di DPR sana, pun menghayati panggung politik tak berbeda dari panggung sinetron, sebuah dunia yang terpisah dari kenyataan, sebuah panggung yang tak harus mengekspresikan sikap moral yang mereka pilih.  Karena itu, ketika memasuki panggung politik, mereka rileks berkolusi, korupsi, berzina, dan jutaan kali cidera janji. Mereka tahu, panggung selalu berbeda dari kenyataan. Di panggung politik, mereka boleh jadi jahat, boleh korup, karena itu hanya peranan, hanya lakon yang harus mereka mainkan. Dan rakyat, hmmm.. tentu mereka anggap hanya penonton....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;[Dalam versi yang lebih ringkas, artikel ini telah dimuat di Harian &lt;I&gt;Suara Merdeka&lt;/I&gt;, Minggu 13 Mei 2007]&lt;/B&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10916372-3968598677052920505?l=auliamuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/feeds/3968598677052920505/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10916372&amp;postID=3968598677052920505' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/3968598677052920505'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/3968598677052920505'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/2007/05/keluar-dari-batas-kenyataan.html' title='Keluar dari Batas Kenyataan'/><author><name>sujud ilalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/RklmLIUv6yI/AAAAAAAAACM/51pgVU_wHMk/s72-c/inul.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10916372.post-3244705846449003393</id><published>2007-05-06T15:38:00.000+07:00</published><updated>2007-05-06T15:45:11.788+07:00</updated><title type='text'>Citra dan Teror Para Pengacara</title><content type='html'>Bagi pengacara para artis, kebenaran harus diperjuangkan, terutama, di depan kamera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/Rj2U04Uv6xI/AAAAAAAAACE/9GR3Tg9xvdU/s1600-h/pengacara1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/Rj2U04Uv6xI/AAAAAAAAACE/9GR3Tg9xvdU/s400/pengacara1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5061365192427825938" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dalam rekaman itu, Maia bilang kepada teman laki-lakinya seperti ini, 'Demi Allah, demi Allah, saya sudah &lt;I&gt;making love&lt;/I&gt; dengan Bang.... &lt;I&gt;Sampeyan&lt;/I&gt; jangan bilang siapa-siapa.' Begitu kata Maia. Rekaman itu sangat menyakitkan Dhani," jelas Syamsul Huda, pengacara Dhani, sambil mengacungkan DVD rekaman itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah kalimat yang semingguan ini meramaikan infotainmen. Huda tampil mewakili Dhani untuk menangkis "serangan" Sheila Salomo, pengacara Maia. Tuduhan kekerasan dalam rumah tangga dibalas dengan bukti selingkuh. Keduanya siap bertarung membela klien masing-masing. Di teve, seperti bersahutan, mereka berpukul kata dan yakin memiliki data lebih meyakinkan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perdebatan seperti Sheila dan Huda bukan hal baru di infotainmen. Nyaris setiap ada permasalahan hukum, pengacara seorang artis akan bersuara di infotainmen. Pengacara Tommy Soeharto dan Tata, juga berperang kata. Tuduhan selingkuh dan memiliki anak di luar pernikahan selalu diungkapkan pencara Tommy untuk menjatuhkan citra Tata. Pengacara Tommy lupa, bahwa ketika di dalam penjara pun, kliennyalah yang telah terbukti menikahi perempuan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang, perdebatan para pengacara itu memasuki hal-hal di luar hukum, menyerang integritas pribadi, bahkan menyinggung SARA. Kasus perseteruan Hotman Paris Hutapea dan Hotma Sitompoel, contohnya. Kedua pengacara ini berseteru pribadi saat berhadapan dalam kasus pembunuhan Naek Gomgom yang melibatkan artis Lidya Pratiwi. Karena bersedia membela Lidya, Hotman Paris dinilai telah mengewakan orang Batak. Hotma bahkan mengecam pembelaan itu sebagai tindakan untuk mencari popularitas semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hotman Paris tidak tinggal diam. Dia pun menyangsikan integritas Hotma karena masih membawa kesukuan dalam sikap profesionalitasnya. Hotman menilai tindakan kesukuan itu yang justru memperhinakan orang Batak. Perdebatan terus meruncing, saling membeberkan bukti-bukti yang meringankan kliennya, sekaligus tak lupa saling mengecam. Terakhir, keduanya saling melemparkan tuduhan tentang "pengacara hitam." Dalam "perang" itu, Ruhut Sitompul pun masuk gelanggang, dan ikut menyerang Hotman Paris. Namun, dengan senyum, Hotman Paris menilai Ruhut, "Bukan pengacara yang pantas saya layani. Dia bukan level saya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak yang mengira, setelah kasus Lidya Pratiwi mereda, "perang" antara dua pengacara ini akan berakhir. Nyatanya, mereka bertemu lagi dalam kasus Maia dan Mulan. Hotman membela Mulan, Hotma mewakili Maia. Keduanya perang bukti, saling yakin menang. Dan ketika Maia menandatangani kesepakatan yang diinginkan Mulan, Hotman pun tertawa. "Ini bukti mereka telah mengaku kalah. Bertekuk lutut menghadapi Hotman Paris."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selasa kemarin, Dhani mendatangi Hotman Paris, minta nasihat tentang kasusnya. Usai dari kantor pengacara itu, Dhani mengatakan siap menggelar perang Badar jika Maia menginginkan hal itu. Mengapa Dhani mendatangi Hotman? Ternyata Sheila Salomo, pengacara Maia itu, adalah rekanan Hotma Sitompoel and Partners. Olala....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Dua Teror&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengacara seharusnya beracara di ruang pengadilan. Di depan jaksa dan hakimlah mereka wajib membeberkan bukti, memanggil saksi, dan menunjukkan kepiawaian berargumentasi. Namun, kini semua proses itu sudah mereka lakukan di depan kamera. Hotman Paris misalnya, dengan lantang menunjukkan tiada bukti bahwa Lidya benar melakukan tindakan pembunuhan berencana. Ia juga meyakinkan pemirsa bahwa Lidya pasti bebas dari tuduhan itu, dan hanya tersangkut pembunuhan biasa. Farhat Abbas juga melakukan hal yang sama ketika membela Alda. Dia jelaskan kronologis pembunuhan itu, sampai kecurigaan ada "yang bermain" dan "orang kuat" yang melindungi Ferry.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keyakinan, bukti, ataupun saksi yang pengacara tunjukkan kepada infotainmen sebenarnya adalah teror dengan dua arah. Pertama, mereka membidik lawan. Dengan paparan itu, mereka berharap "lawan" sudah kalah sebelum maju ke persidangan. Itulah yang terjadi dengan Maia, akhirnya menuruti kehendak Mulan. Teror Hotman Paris bahwa mereka punya banyak bukti dan pasti menang, berhasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, teror kepada hakim dan jaksa di peradilan. Keyakinan yang mereka ucapkan bahwa kliennya tidak bersalah dan pasti menang, dan tayang berulang-ulang di teve, diharapkan bergema juga dalam nalar para jaksa dan hakim. Itu semacam "pukulan yang tak kelihatan". Jadi, perang bukti dan pertengkaran di infotainmen itu  mirip &lt;I&gt;psy-war&lt;/I&gt; para pelatih di Liga Inggris sebelum bertanding. Mereka sangat yakin pertengkaran yang disorot media akan memengaruhi hasil di lapangan sepakbola, di ruang persidangan. Hotman Paris sukses juga melakukan hal ini ketika Lidya Pratiwi ternyata hanya dihukum 10 tahun penjara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, dengan menjadikan kamera sebagai "ruang sidang", dan penonton sebagai hakim dan jaksa, para pengacara sebenarnya telah melakukan "penghinaan" pada peradilan. Itu adalah wujud ketidakpercayaan mereka atau klien mereka kepada lembaga peradilan. Jadi, "persidangan kamera" itu bukan untuk mencari putusan, melainkan semacam unjuk-kuasa, bahwa peradilan pasti tidak akan dapat melihat fakta-fakta kebenaran lebih daripada infotainmen. Bahwa peradilan justru telah menjadi pusat ketidakadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Hakim Kamera &lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yatie Oktavia dan Pangki Suwito adalah contoh mereka yang "tidak percaya" pada peradilan. Mereka merasa lebih dapat mengasuh cucu mereka dibandingkan mantan menantunya, sebagaimana yang diputuskan pengadilan. Di infotainmen, melalui pengacara, mereka paparkan bukti, juga saksi. Sebuah paparan yang seakan berkata, "Inilah hal-hal yang tidak dilihat hakim." Akibatnya, mereka tidak patuh pada putusan hakim, membangkang. Dan sampai kini, kekuasaan peradilan tidak dapat menembus "pembangkangan" itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tamara Bleszynski juga merasa keputusan Mahkamah Agung menyangkut hal asuh Rasya tidak adil. Elsya Syarif menyuarakan hal itu. Di infotainmen, mereka ragukan penilaian para psikolog menyangkut psikologis Rasya, yang merasa tak nyaman dengan Tamara, dan menjadi salah satu unsur penilaian mengapa Rafly yang berhak mengasuk anak mereka. Di depan kamera, mereka paparkan "bukti" manipulasi penilaian psikologis itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, sebenarnya, kamera dan penontonlah jaksa dan hakim di mata mereka. Dengan demikian, putusan pengadilan bukanlah tujuan utama. Sering sekali, para pengacara saling gugat, saling klaim kebenaran, namun akhirnya tidak sampai beracara di ruang pengadilan. Mereka "cukupkan" semua itu hanya sebagai persidangan di depan kamera, jika "putusan" yang mereka harapkan telah didapatkan, yakni pemihakan dari para penonton. Jika mereka yakin penonton telah dapat melihat semua "kebenaran", maka hasil apa pun di persidangan bukan sesuatu yang perlu dan penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gusti Randa misalnya, hanya ramai ketika bersidang di depan kamera. Dia paparkan semua kronologis perselingkuhan istrinya, dia jelaskan karakter selingkuhan itu, dan menyebut mereka dengan Mr X dan Y. Dia ungkapkan kekuatan politik mereka, dia yakinkan penonton, bahwa yang dia lawan adalah orang yang sangat berkuasa. Gusti memegang bukti, dia pasti menang, jika akses politik sang lawan tidak menembus ruang pengadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan begitulah, Gusti Randa hanya ramai di depan kamera. Dia dengan pengacaranya, telah melakukan persidangan "&lt;I&gt;in absentia&lt;/I&gt;", tanpa kehadiran terdakwa. Dan ketika argumentasinya telah menjadi "kebenaran" di benak penonton, Gusti merasa cukup. Apalagi ketika mantan istrinya, Nia Paramitha, membenarkan perselingkuhan itu dengan mau membintangi sinetron "Selebriti Juga Manusia" berdasarkan versi Gusti. Akibatnya, Gusti tidak harus memperjuangkan "kebenaran" itu ke meja hijau. Sampai kini kasus itu tak jelas akhirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persidangan di depan kamera yang ditempuh para artis adalah suatu jalan untuk tetap mengukuhkan citra. Pengacara adalah penjaga gawang dan pemoles citra mereka. Jika citra berhasil ditegakkan, apa pun hasil pengadilan bukan sesuatu yang pantas dihiraukan. Meski citra adalah bayangan, dan persidangan di depan kamera adalah kesemuan, para artis sadar, dari situlah mereka dapat terus menjalani kehidupan. Hidup dalam citra, dalam bayangan, yang mereka maknai sebagai kebenaran....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;[Artikel ini telah dimuat di Harian &lt;I&gt;Suara Merdeka&lt;/I&gt;, Minggu 6 Mei 2007]&lt;/B&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10916372-3244705846449003393?l=auliamuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/feeds/3244705846449003393/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10916372&amp;postID=3244705846449003393' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/3244705846449003393'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/3244705846449003393'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/2007/05/citra-dan-teror-para-pengacara.html' title='Citra dan Teror Para Pengacara'/><author><name>sujud ilalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/Rj2U04Uv6xI/AAAAAAAAACE/9GR3Tg9xvdU/s72-c/pengacara1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10916372.post-2753666490423357220</id><published>2007-04-27T13:11:00.000+07:00</published><updated>2007-05-06T15:48:22.024+07:00</updated><title type='text'>Wajah Ceria Kekerasan</title><content type='html'>Kekerasan, keonaran, kebrutalan, acap datang dengan wajah ceria. Kita mencintainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/RjGUrIUv6wI/AAAAAAAAAB8/7VB9hDRyaNU/s1600-h/ipdn0.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/RjGUrIUv6wI/AAAAAAAAAB8/7VB9hDRyaNU/s320/ipdn0.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5057987325203573506" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAK ada yang lebih mencintai "kebandelan" selain Yamaha. Bahkan, "persepsi" kebandelan itu terus diperbarui menjadi keonaran dan kebrutalan. Lihatlah iklan-iklannya. Awalnya, Komeng hanya zig-zag di jalan raya, menyalip siapa saja, cepat, dan sampai tujuan dengan baju compang-camping. Atau memboncengkan Tessa Kaunang, dengan hasil rambut yang jadi awut-awutan. Selanjutnya, efek "kebandelan" Yamaha dipertegas. Mulai mengacaukan roda delman, merubuhkan pot-pot bunga, sampai merusak kacamata. Korbannya selalu Didi Petet, dan pencetus kagum Dedy Mizwar. Terakhir, efek itu dipertegas dengan "super-duper" hiperbolis, meruntuhkan jembatan Kalibeber, dan terakhir merontokkan motor lain, sampai hanya layak jadi rongsokan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yamaha dengan iklannya mereprentasikan kebandelan sebagai kekerasan. Efeknya adalah kehancuran bagi pihak lain. Kekerasan atau pun keonaran divisualisasikan dengan jelas, berulang-ulang, dan menjadi bagian dari kesenangan.&lt;br /&gt;Kini, keonaran dan kehancuran itu juga punya pengikut. Iklan minuman Tebs contohnya. Versi terbaru iklan teh bersoda ini menampilkan keonaran akibat "kejutan rasa" Tebs. Rekaman video di kantor polisi menunjukkan bagaimana dahsyatnya dampak tegukan Tebs; mobil bertubrukan, pedagang dengan jualan yang berhamburan, orang-orang yang panik. Selanjutnya adalah rasa bangga penenggaknya. Itulah iklan yang secara bagus mampu membahasakan kenikmatan sebagai kehancuran bagi orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Moral" cerita iklan di atas jelas tidak baik. Yamaha misalnya, tak hanya menghancurkan produk sejenis, tapi juga lingkungan sekitar. Namun, bagi konsumen, "citra" semacam itulah yang justru diharapkan.  Imaji kekerasan, pembuat onar, justru mampu mendongkrak penjualan Yamaha. Hasilnya, untuk kali pertama, penjualan Yamaha mengalahkan Honda, di bulan Maret. Yamaha menjual lebih banyak 7.961 unit motor daripada Honda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manajer pemasaran PT Yamaha Motor Kencana Indonesia Herry Setyanto, mengutip data dari Asosiasi Industri Sepeda Motor, mengatakan, Yamaha menjual 159.035 unit untuk bulan Maret. "Honda hanya 151.074 unit," katanya. Keberhasilan itu, kata Herry, tak lepas dari strategi iklan mereka. Ke depan, mereka akan kian menggencarkan iklan dengan tetap mempetahankan model Dedy Mizwar, Didi Petet, dan Komeng. "Mereka bagian dari strategi pemasaran," ucapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda ingat wajah ceria Komeng sehabis "mengamuk" dengan Jupiter MX-nya? Itulah "strategi pemasaran" yang dimaksudkan Herry. Anda juga pasti ingat senyum maklum dan bangga Deddy Mizwar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Kenikmatan Onar&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekerasan, keonaran, agresivitas, bukanlah suatu sifat yang berdiri sendiri, melainkan sebuah sindrom. Kekerasan terstimulasi dari sebuah sistem, dapat berupa hierarki yang kaku, dominasi suatu kelompok masyarakat, stratifikasi kelas sosial, ras dan agama.  Itulah yang dikatakan Erich Fromm dalam bukunya &lt;I&gt;The Anatomy of Human Destructiveness&lt;/I&gt;.  Fromm yakin, agresi adalah nilai yang ditanamkan melalui budaya dan menjadi bagian dari karakter sosial. Sebagai nilai sosial, agresi adalah "modal diam" yang suatu saat meledak ketika ada picu pelontarnya.&lt;br /&gt;Iklan Yamaha dapat dibaca dalam kacamata yang sama. Pilihan kekerasan adalah "modal diam" yang lahir akibat dominasi yang terlalu kuat dari Honda selama ini. Namun, "kekerasan" jahat justru terletak pada senyum bangga Komeng dan Deddy Mizwar setelah aksi brutalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senyum itu adalah visualisasi dari kenikmatan. Dan tak ada kekerasan yang lebih mengerikan daripada ketika hal itu dimaknai sebagai kenikmatan, kepuasan.  "Kejahatan yang paling sempurna," kata George Bataille, "adalah ketika si pelaku merasa dia justru melakukan sebuah perbuatan heroik." Wajah ceria Komeng menunjukkan hal itu. Keonaran sebagai kesenangan, mainan, &lt;I&gt;guyonan&lt;/I&gt;, sesuatu yang riang-gembira. "Kamu boleh ambil apa pun dari juniormu, tapi sisakan nyawanya," itulah "hukum" di IPDN. Atau, "Kalau kau tidak dapat mengambil hati juniormu, 'ambillah' ulu hatinya."&lt;br /&gt;Senyum itu, keriang-gembiraan itu adalah tanda hilangnya &lt;I&gt;sense of humanity&lt;/I&gt;, rasa insani. Korban adalah sesuatu yang harus dan wajib. "Masih berani pilih yang lain," kata Deddy Mizwar. "Apalah artinya 33 nyawa dibandingkan pengabdian para lulusan IPDN," begitulah testimoni alumnus institut itu, sebagaimana pernah tercantum di http://ipdnmania.wordpress.com.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Korban hanya dimaknai sebagai bencana, situasi yang tak terelakkan. Tak ada &lt;I&gt;meaning of humanity&lt;/I&gt;, hikmah, dosa, rasa malu, apalagi pengungkapan kebenaran. Bebasnya sepuluh praja pembunuh Wahyu Hidayat adalah bukti hal itu. Diangkatnya mereka menjadi PNS kian menunjukkan tak ada rasa bersalah pemerintah atas pembunuhan itu. Wahyu hanya bencana, hanya akibat dari kedisiplinan. Hukuman penjara tidak relevan untuk sebuah pembunuhan yang dimaknai sebagai bencana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Bangsa Penerima&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iklan Yamaha dan Tebs, juga IPDN, adalah "bencana" bagi rasa kemanusiaan. Tapi, siapa yang dapat menampiknya. Keonaran dan kekerasan yang diiklankan Yamaha, justru menaikkan penjualannya. Kekerasan dan pembunuhan di IPDN tak menyurutkan "pamornya". Tak ada keinginan pemerintah untuk menutup sekolah semi-militer itu. Hanya sedikit daerah yang berencana tak lagi mengirimkan putra daerah ke sana. Dan yakinlah, sangat banyak orangtua yang memimpikan anaknya untuk tetap diterima dan bersekolah di sana. Kekerasan itu adalah bagian dari resiko yang dapat diterima sepanjang ada janji di sebaliknya. Yamaha menjanjikan kecepatan dan kebandelan, IPDN menjanjikan karier yang gemilang dan pasti. Karena sepuluh praja pembunuh itu pun akan tetap sebagai PNS lepas dari hukumannya nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kekerasan dapat diterima sebagai kenikmatan ketika seseorang sadar posisinya sebagai si lemah, si tanpa harapan," tulis Fyodor Dostoevsky dalam &lt;I&gt;Notes from Underground&lt;/I&gt;. Dan kita, adalah masyarakat yang putus asa, tanpa harapan, hanya berani bermimpi untuk kehidupan yang lebih baik. Karena kita juga sebuah bangsa, yang dengan enteng, menganggap kejahatan sebagai bencana. Itulah sebabnya, kita menerima kekerasan, tak pernah sungguh mengutuknya, seperti kita menerima IPDN dan iklan Yamaha. Kita berharap, ada wajah bangga, ada paras ceria, saat kekerasan itu usai bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;[Artikel ini telah dimuat di Harian &lt;I&gt;Suara Merdeka&lt;/I&gt;, Minggu 29 April 2007]&lt;/B&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10916372-2753666490423357220?l=auliamuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/feeds/2753666490423357220/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10916372&amp;postID=2753666490423357220' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/2753666490423357220'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/2753666490423357220'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/2007/04/wajah-ceria-kekerasan.html' title='Wajah Ceria Kekerasan'/><author><name>sujud ilalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/RjGUrIUv6wI/AAAAAAAAAB8/7VB9hDRyaNU/s72-c/ipdn0.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10916372.post-8918743935645380861</id><published>2007-04-19T17:39:00.000+07:00</published><updated>2007-04-27T13:23:15.885+07:00</updated><title type='text'>Panggung dan Arsip Ingatan</title><content type='html'>Hidup kadang diisi oleh hal-hal yang dramatik. Dan menjadi indah jika itu bukan bagian dari sandiwara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/RidHhbElL4I/AAAAAAAAAB0/UgHSITsvS60/s1600-h/skema-tamara.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/RidHhbElL4I/AAAAAAAAAB0/UgHSITsvS60/s320/skema-tamara.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5055087746274897794" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GENTA bernilai ketika dibunyikan, cinta bermakna hanya saat diungkapkan. Tamara menyadari sungguh hal itu. Di depan rumah Rafli, berpegangan teralis-pagar hijau pupus itu, dia berteriak, "Rasya... &lt;I&gt;i love youuu&lt;/I&gt;...." Berulang-ulang. Suaranya menggema di ramai jalan Tirtayasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore itu, dia ingin bertemu Rasya. Dia ingin bertanya, benarkah anak semata-wayangnya itu tak mau bersua dengannya, sebagaimana yang kerap dinyatakan Rafli. Benarkah Rasya menyimpan trauma atas perlakuannya? Itulah sebabnya dia berteriak. Bukan karena dia tak percaya bahwa Rasya tak ada, melainkan lebih sebagai jeritan ibu yang terluka, yang dianggap tak tahu cara mencinta.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya akan jadi adegan yang mengharukan. Tapi, entah mengapa, teriakan Tamara, guncangan tangannya pada teralis pagar, wajah kecewa dan gegasnya memasuki mobil untuk menyurukkan tangis, jadi terasa begitu biasa. Tiada mencipratkan iba. Saya merasa akrab sekali dengan adegan itu. Dan menjadi tertawa, ketika Cut Tari, dengan ringannya berkata, "Pemirsa, mulai sekarang jangan nonton sinetron lagi ya? Nonton "Insert" aja, toh isinya sama saja, hehehe..." Indra Herlambang yang berada di sampingnya pun ngakak, lalu menggelengkan kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cut Tari benar, adegan Tamara itu terasa akrab karena tipikalitasnya acap muncul dalam sinetron kita. Itulah sebabnya, &lt;I&gt;gesture&lt;/I&gt; Tamara tak terasa alamiah, apalagi mengejutkan. Seluruh sikapnya terasa tertib, seakan mengikuti hukum dramaturgi; ritme yang diatur untuk menunggu &lt;I&gt;ending&lt;/I&gt;. Dan akhir itu tercukupi dengan peluk-haru dia dan Rasya, sentuhan pipi dia dan Rafli, dan wicara yang saling memuji. Selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kau hanya merasa mampu berakting, dunia akan selalu kau lihat sebagai panggung. Tamara agaknya berada di titik ini. Juga Dhini Aminarti. Di dalam sinetron &lt;I&gt;Wulan&lt;/I&gt;, dia menghadiahkan dompet untuk suaminya, dan berkata, "Dompet itu akan membuat aku selalu bersama kamu. Dan kau akan selalu ingat aku, merasa ditemani." Di kehidupan nyata, ketika ulangtahun kekasihnya, Fardan, dia pun menghadiahi dompet. Dan ketika ditanya infotainmen, mengapa sebuah dompet, dengan tersenyum Dhini berkata, "Biar aku selalu bersama dia. Biar dia selalu ingat aku, merasa ditemani, di mana pun dia berada."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemanggungan sinetron. Agaknya itu yang terjadi kini, ketika karakter yang biasa diperani seseorang begitu menyatu dan tak bisa dengan gampang dienyahkan. Film &lt;I&gt;Being John Malkovich&lt;/I&gt; dengan getir mencontohkan hal ini. Karakter peranan yang kemudian terbawa ke dunia nyata, menginfiltrasi hidupnya jadi sebuah nestapa. Craig Schwartz (John Cussack) tidak bahagia dengan hal itu. Dia merasa ada beda yang tegas antara dunia dan panggung, dan hidup tak bisa dicukupi hanya dengan sebuah karakter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tamara dan Dhini barangkali tidak seperti Craig. Mereka masih hidup dalam karakter peranan ketika "panggung" yang dihadapi justru sudah berbeda. Mereka mungkin merasa dihidupi oleh kemampuan berakting, dan karena itu melihat semua orang sebagai juru kamera. Mungkin juga karena mereka lupa bahwa hidup mereka selalu diarsip, dan penonton acap punya ingatan yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup dalam ingatan banyak orang itulah yang coba ditampik Anna. Ketika tertangkap basah kamera menginap di rumah pemilik toko buku William Tracker, dia menjadi begitu panik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tenanglah," kata William, "Kisahmu hanya akan dimuat hari ini, besok semua orang sudah melupakannya." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anna justru meradang. "Kau tidak tahu, begitu peristiwa ini dicatat, dia akan menjadi arsip dalam kehidupanku. Dan ketika orang bicara tentang diriku, arsip ini pasti dibuka lagi, akan selalu diulang...." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anna adalah tokoh fiktif yang diperankan dengan bagus oleh Julia Robert dalam &lt;I&gt;Notting Hill&lt;/I&gt;, selebritis yang ingin hidup wajar dan menampik kamera. Dia ingin kehidupan pribadinya menjadi milik dirinya sendiri. Dia tahu, popularitas berumur pendek tapi meminta terlalu banyak, merenggut yang paling intim di dalam hatinya, menjadi diri sendiri. Anna mengerti, saat yang paling pedih adalah ketika dirinya hidup dalam ingatan banyak orang. Itulah sebab, mengapa dia selalu bersembunyi. Selalu kembali kepada William (Hugh Grant), lelaki yang riuh aroma pasar dan jalan, kealamiahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anna memang bukan Tamara. Bagi sebagian aktris kita, hidup dalam ingatan banyak orang adalah kebahagiaan. Mereka lupa, ingatan bersama itu juga yang kelak menjadi hakim atas sikap mereka. Seperti kisah Tamara dan Rafli yang memperebutkan Rasya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tamara merasa dijauhkan dari buah hatinya. Dia menilai Rafli tidak berlaku adil. Haknya sebagai ibu tidak dipenuhi. Dia mengecam, dan melaporkan psikolog Yussy ke polisi. "Saya tidak ingin ada pihak ketiga yang selalu mencampuri urusan kami," katanya. Tamara lupa, puluhan kamera yang mengikuti seluruh geraknya di rumah Rafli, yang merekam teriakan dan airmatanya, juga adalah pihak ketiga. Polisi, Ersa Syarif pengacaranya, adalah juga pihak ketiga-kesekian. Penonton juga pihak ketiga, yang dilibatkan Tamara untuk melihatnya dengan iba, mendukungnya dengan bela. Tapi penonton tak pernah lupa, karena "Insert", "Kabar-kabari", "Silet", "Kasak-Kusuk" dan puluhan infotainmen lain telah mengarsip hidup Tamara, dan membukanya di setiap pagi, siang dan senja; bahwa pernah dulu Tamara melakukan hal yang sama, menghaki Rassya hanya untuk dirinya. "Kini posisi itu berubah sudah," kata narator "Insert".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin, ingatan itu juga yang membuat kisah Tamara berbeda dari &lt;I&gt;Notting Hill&lt;/I&gt;. Ada yang terasa menyentuh ketika dengan putus asa Anna mengiba, "...lihatlah aku. Bagaimanapun aku seorang perempuan, yang menyatakan cintanya pada seorang lelaki, yang hanya minta dicintai..." Anna hanya ingin dilihat sebagai seorang perempuan, sosok yang tak mengemban karakter apa pun. Diri yang bersih dari kamera. Adegan itu pun terjadi di toko buku wisata, tempat orang datang dengan kesadaran untuk pergi, bergegas, berpindah. Anna ingin berhenti. Dia capek menanggungkan kebohongan. "Apakah kau berharap aku jujur berkata tentang perasaanku di depan kamera?" Begitulah dia berkata sebelumnya, ketika William mengungkit kebohongannya di depan kamera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bayangkan Tamara mendatangi Rafli, Rasya, dan mertuanya di Tirtayasa, seorang diri, tanpa kamera. Saya angankan dengan lelah dia berkata, "Rafli, bagaimanapun aku adalah seorang ibu, yang haus memeluk anaknya. Bagaimanapun aku adalah perempuan yang pernah engkau cintai, yang engkau percayai merahimi Rasya. Pandanglah aku dengan semua kebaikan itu. Lihatlah, pernah ada hal yang begitu indah dalam kehidupan kita. Apakah engkau percaya bahwa aku akan merusak keindahan itu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bayangkan Rafli akan menuntun Rasya, dan mendekapkannya ke Tamara, sambil berbisik, "Begitulah Tamara, begitulah seharusnya..." Dan di sudut sana, Cut Haslinda, mertua Tamara, tersenyum, mengucap &lt;I&gt;hamdallah&lt;/I&gt;, dengan menyusut airmata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup kadang diisi oleh hal-hal yang dramatik. Dan semua bisa jadi indah jika itu bukan bagian dari sandiwara....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;[Artikel ini telah dimuat di Harian &lt;I&gt;Suara Merdeka&lt;/I&gt;, Minggu 22 April 2007]&lt;/B&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10916372-8918743935645380861?l=auliamuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/feeds/8918743935645380861/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10916372&amp;postID=8918743935645380861' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/8918743935645380861'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/8918743935645380861'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/2007/04/panggung-dan-arsip-ingatan.html' title='Panggung dan Arsip Ingatan'/><author><name>sujud ilalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/RidHhbElL4I/AAAAAAAAAB0/UgHSITsvS60/s72-c/skema-tamara.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10916372.post-8326323859197327416</id><published>2007-04-12T14:54:00.000+07:00</published><updated>2007-04-19T17:50:45.066+07:00</updated><title type='text'>Uang Sebagai Mata Ketiga</title><content type='html'>Uang adalah solusi sekaligus masalah tanpa henti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/Rh3m5d7c_PI/AAAAAAAAABs/m2Zw9-OSnDo/s1600-h/fear+factor.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/Rh3m5d7c_PI/AAAAAAAAABs/m2Zw9-OSnDo/s320/fear+factor.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5052448231940488434" /&gt;&lt;/a&gt;Di depan 500 juta kita barangkali sulit untuk tertawa. Tapi Jack melakukan itu. Dia tertawa, bahunya berguncang, ketika rivalnya, Richard, menahan mual memakan senampan kecil keju, sesuap-suap. Di sampingnya, Mandy, juga rivalnya, memegangi perut dengan wajah pucat, menahan muntah.  Hanya Joe Rogan, pembawa acara, yang juga mengumbar senyum, meski alisnya sesekali terangkat, mengusir rasa jijik.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Richard memang menderita. Keju itu, yang dideskripsikan Joe dengan, "dicampur bola mata dan limpa sapi, dan disimpan selama dua tahun, sehingga belatung muncul dan bersarang di dalamnya," terasa begitu menyiksa. Airmata Richard menetes, berkali-kali dia terbatuk dan nyaris muntah, tubuhnya limbung. Tapi, keju menjijikkan itu tetap dia masukkan, sejumput, terus, dimotivasi Joe yang selalu mengingatkan jumlah uang yang akan dia raih jika berhasil menyelesaikan sesi kedua itu. Joe juga memarahi Jack yang seperti mengejek. "Nanti baru kau rasakan ketika giliranmu tiba." Jack tetap tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Richard memang berhasil. Senampan keju itu pun tandas. Dia lalu berjalan ke luar arena, mengorek mulutnya dengan jari, dan memuntahkan seluruh keju busuk itu. Jack tetap tertawa. "Sekarang, 50 ribu dollar makin dekat ke Richard," puji Joe. "Giliranmu Jack. Semoga kau masih bisa tertawa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jack tersenyum, dengan ringan berjalan ke meja, mengambil nampan keju jatahnya. Dilihatnya Richard, Mandy, Joe yang menunggu suapan pertamanya. Tapi, tiba-tiba, Jack membanting nampan itu ke lantai. "Ini sinting! Aku tidak akan pernah mau makan ini. Dan kau Richard, kau orang paling bodoh yang pernah kulihat mau merendahkan harga diri hanya karena uang. Aku jijik berada di sini, aku jijik bersama kalian yang karena uang mau melakukan apa pun!" Berbalik badan, Jack pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Joe terdiam. Itu reaksi yang tidak pernah dia bayangkan. Richard, Mandy, mematung beberapa saat. Ucapan Jack barangkali lebih terasa menyakitkan daripada keju busuk itu. Tapi Joe tak boleh membiarkan kesadaran itu menyusup terlalu dalam. Dia segera mencairkan suasana, bertepuk tangan, dengan lugas berkata, "Yeah, kita tidak tahu apa yang ada di kepala Jack. Dia terlalu serius dengan hidupnya. Apa pun itu, dia telah gagal, dan 50 ribu dolar kini tinggal kalian berdua yang akan mendapatkannya. Mandy, giliranmu...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Joe mungkin benar, Jack terlalu serius memaknai "permainan" itu. Bagi Joe yang telah mengampu ratusan episode "Fear Factor", sikap Jack adalah sebuah anomali. Telah dia saksikan puluhan orang yang meski terbatuk, muntah, mual berat sampai meneteskan liur dan airmata, tetap "menikmati" permainan itu. Telah ratusan orang berhasil dia motivasi untuk dapat memakan keju busuk, jus limpa babi busuk berbelatung, dan bola mata sapi, sampai bubur dari campuran empedu ular, isi perut ikan dan zakar sapi. Semuanya berhasil. 50 ribu dolar terlalu sayang untuk hilang hanya karena makanan busuk itu. Joe berbicara atas dasar pengalaman, Jack bukan bagian dari itu. Tawa Jack jadi sebuah keseriusan di matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Cermin Uang&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Fear Factor" memang cermin tentang sikap manusia yang tak bisa tertawa di depan uang. Sikap yang juga pernah kita temukan dalam "Tantangan" di &lt;I&gt;Indosiar&lt;/I&gt;, dan "Fear Factor Indonesia" Di &lt;I&gt;RCTI&lt;/I&gt;. Ketika makan kepingan pisau silet, jus cacing tanah-otak sapi mentah, atau jus cabai-cacing, menjadi hal ringan. Tiga juta rupiah di "Tantangan" dan 50 juta rupiah di "Fear Faktor Indonesia" membuat mulut dan perut jadi mungkin mengunyah segalanya. Uang, dengan kekuatan sihirnya, membuat sesuatu yang semula tak terbayangkan dapat dimakan, dengan enteng dikunyah, dimamah. Selebihnya terselip juga rasa bangga, mungkin prestasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memaknai hal di atas sebagai prestasi dilakukan dengan cerdas oleh "Gong Show" yang tayang setiap Sabtu-Minggu di &lt;I&gt;TransTV&lt;/I&gt;. Di acara itu, melukis dengan lidah, menelan berpuluh telur mentah, memotong rambut dengan api, atau menguyah cabai rawit satu gelas, disambut dengan tepukan dan rasa puas. Ada Arie K Untung yang memandu, detik yang mencatat, dan gong yang menghentikan aksi. Waktu yang tercatat adalah ukuran uang yang didapat. Satu menit mengunyah cabai rawit bernilai Rp 1,2 juta ketika Komeng memukulkan palu ke gong. 42 detik adalah ratusan ribu rupiah, ketika Anya Dwinov atau Ulfa memukul gong. Uang adalah hasil akhir, tujuan. Pepatah waktu adalah uang, termanifestasikan dengan tepat di acara ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu adalah uang, prestasi maknanya pun harus uang. Itulah roh zaman. Penyair Jerman Goethe pun mengakuinya dengan mengatakan, "Kini, uang adalah dewa dunia." Goethe memakai kata "kini" karena dia tahu, pernah dulu, uang bukanlah apa-apa, hanya sekadar alat tukar, sebuah instrumen yang diciptakan untuk membantu dan memudahkan aktivitas manusia. Sebagai alat, uang adalah solusi, penyelesai masalah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, peran uang berubah secara drastis, menjadi aktor utama di dalam kehidupan manusia. Uang menjadi roda ekonomi. Perputaran ekonomi diukur dari perputaran uang. Bahkan, kini dunia pun berputar dan berporos dari uang. Tak heran kalau sosiolog Jerman Georg Simmel melihat uang sebagai manifestasi totalitas kehidupan manusia. Melalui buku &lt;I&gt;The Philosophy of Money&lt;/I&gt;, Simmel melihat uang berimplikasi pada kehidupan manusia secara luas, membentuk dan mempengaruhi budaya. Jika ketika hanya berfungsi sebagai alat tukar uang adalah solusi, kini sebaliknya. Uang yang telah menjadi tujuan hidup, lebih disarati masalah. Uang sebagai tujuan mengubah pola pandang masyarakat, mengubah struktur pergaulan, pola komunikasi, dan nilai-nilai. Nilai pertemanan bahkan dapat diukur dari uang yang seseorang rela utangkan. Uang adalah mata ketiga, yang membuat kita dapat melihat realitas yang semula tak terbayangkan. Hidup yang mungkin tempak jadi lebih indah, atau mengerikan. Uang membuat waktu terasa lebih cepat, dan hidup menjadi begitu padat, ringkas, sekaligus serius. Itulah sebabnya, sulit mencari orang yang seperti Jack, yang dapat tertawa di depan uang, dapat menampiknya dengan ringan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jack adalah contoh watak yang tak mau diringkus oleh pesona uang. Uang memang penting, tapi bukan segalanya. Uang mungkin dapat membeli apa pun, tapi tidak harga dirinya. Jack adalah contoh sedikit orang yang masih percaya, bahwa manusia lebih berkuasa di depan uang. Itulah sebabnya dia tertawa. Karena dia tahu, di depan uang, manusia bisa memilih untuk tetap menjadi manusia atau berubah jadi seonggok campuran keju busuk berbelatung. Jack memilih mengedepankan akal budinya, tak runduk, tak tunduk. Uang adalah godaan yang dia usir dengan tawa. Sungguh, sebuah sikap yang "aneh" di zaman ini. Watak yang sulit dicari, yang diam-diam juga kita rindui.... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;[Artikel ini telah dimuat di Harian &lt;I&gt;Suara Merdeka&lt;/I&gt;, Minggu 15 April 2007]&lt;/B&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10916372-8326323859197327416?l=auliamuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/feeds/8326323859197327416/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10916372&amp;postID=8326323859197327416' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/8326323859197327416'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/8326323859197327416'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/2007/04/uang-sebagai-mata-ketiga.html' title='Uang Sebagai Mata Ketiga'/><author><name>sujud ilalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/Rh3m5d7c_PI/AAAAAAAAABs/m2Zw9-OSnDo/s72-c/fear+factor.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10916372.post-1358071506020640423</id><published>2007-03-14T13:29:00.000+07:00</published><updated>2007-03-14T13:52:08.464+07:00</updated><title type='text'>Memaknai Maknyus Si Bondan</title><content type='html'>&lt;I&gt;Gesture&lt;/I&gt; Bondan, kaget-nikmat, senyum dan gelengan kepala bukanlah ekspresi dari citarasa makanan melainkan bujukan agar pemirsa tertarik untuk mencari atau menikmati makanan yang ditampilkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/RfeXTe-eTDI/AAAAAAAAABY/351MxXTBqAU/s1600-h/kuliner+bondan2.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/RfeXTe-eTDI/AAAAAAAAABY/351MxXTBqAU/s400/kuliner+bondan2.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5041664668852964402" /&gt;&lt;/a&gt; "Maknyus," kata Bondan. "Nyamleng," puji Arletta. "Wuenakee..." teriak Dorce. Semua kata-kata itu untuk mengungkapkan citarasa makanan yang tengah mereka santap. Idiom atau &lt;I&gt;magic word&lt;/I&gt; ini tentu sudah sangat dihapal pemisra televisi. Bahkan, saking hapalnya, begitu Bondan menyesap kuah makanan, pemirsa pasti duluan mengatakan, "Maknyuss", dan tertawa bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bondan dan "Maknyus-nya" memang menjadi ikon baru di tayangan kuliner televisi. "Maknyus" itu juga yang menjadi pembeda utama acara Bondan dengan tayangan kuliner lainnya, yang bahkan lebih dulu ada sebelum "Wisata Kuliner" &lt;I&gt;TransTV&lt;/I&gt;. Tak heran jika Dorce pun sampai "mencemburui" Bondan. Berkali-kali dalam "Dorce Show: Jalan-Jalan" dia mengungkapkan kecemburuan itu. "Pemirsa, sekarang ya, banyak sekali acara makan-makan, pada meniru saya. Tapi, mana ada yang makannya seperti saya. Semua &lt;I&gt;pake&lt;/I&gt; gaya, &lt;I&gt;nggak&lt;/I&gt; berani gila seperti saya, ya pemirsa. Kalau saya tidak dibuat-buat, pemirsa. Kalau makan ya makan, kalau enak ya enak aja..." ucapnya sambil mengadukkan kuah rendang ke nasinya, dengan mulut berkecipak berminyak.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dorce benar, setidaknya dalam dua . Pertama, acara kuliner memang luar biasa banyaknya. Jika tidak mandiri, acara ini menjadi imbuhan di acara lain. &lt;I&gt;TransTV&lt;/I&gt; misalnya, punya tayangan "Wisata Kuliner" Bondan, "Gula-Gula" Bara Patiradjawane, dan "Jalan-jalan" Dorce. &lt;I&gt;TVRI&lt;/I&gt; mengeluarkan "Dunia Wanita", &lt;I&gt;TPI&lt;/I&gt; dengan "Santapan Nusantara", dan &lt;I&gt;Indosiar&lt;/I&gt; memasang "Aroma", "Iron Chef" serta "Bango Selera Nusantara". Stasiun televisi lain pun tak ketinggalan, meski tidak menjadikan kuliner sebagai acara khusus. Namun, dari semua stasiun, hanya &lt;I&gt;Trans TV&lt;/I&gt; yang sangat "menggilai" acara makan-makan ini. Tak cukup dengan tiga tayangan di atas, makan-makan pun selalu mengambil jatah di "Good Morning", "Koper dan Ransel", "Sisi Lain", "Jelang Siang", "Jelajah", bahkan nyusup di "Reportase Sore". Di &lt;I&gt;Trans TV&lt;/I&gt;, acara kuliner-lah yang dapat menandingi infotainmen, dalam keragaman dan perulangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, memang hanya Dorce yang berani "gila" ketika makan. Dia jarang memakai sendok, makan sambil bicara, bibirnya berkecipak, dan kadang, duduk dengan satu kaki yang diangkat ke kursi. Dorce juga tak rikuh menunjukkan selera primordialnya, menyantap petai, jengkol, dan sambal sampai berkeringat. Hal yang sampai saat ini belum pernah ditunjukkan pembawa acara kuliner yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Pemanggungan&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyaknya acara kuliner di televisi menunjukkan telah terjadi "pemanggungan" makanan. Karena itu, makanan yang tampil pun --pengecualian di acara "Dorce Jalan-Jalan"-- di&lt;I&gt;make-up&lt;/I&gt; maksimal agar sesuai dengan pakem panggung. Makanan ditata sedemikian rupa di meja dengan ukuran-ukuran estetika sajian, mulai posisi penempatan, kontras warna piring dan taplak meja, sampai latar fisik tempat meja itu berada. Pencahayaan juga diefektifkan, dan tak lupa, &lt;I&gt;point of view&lt;/I&gt;, yang akan menjadi sudut pandang penonton juga. Presentasi dan atau narator juga diperhitungkan secara saksama untuk menciptakan sapuan suasana yang sungguh menggugah selera. Pemilihan menu pun mempertimbangkan hukum pementasan, mulai perkenalan, konflik (menu yang unik, ragam, kaya rasa), dan peleraian (minuman yang menghanyutkan semua sensasi rasa makanan tadi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aspek pemanggungan itu, entah apa sebabnya, justru tidak maksimal di dalam tayangan "Dorce Jalan-jalan" dan "Bango Selera Nusantara" yang dulu juga digawangi Bondan Winarno. Makanan hadir apa adanya, kadang bersama "rombongannya" di etalase warung atau restoran. Dorce juga tidak melakukan "penilain" profesional, hanya celetukan-celetukan kecil sebagai ungkapan pribadi. Selebihnya, rasa nikmat itu dapat dikira pemirsa melalui kerakusan, kecipak mulut dan kealfaan Dorce pada kamera. Dorce makan, dan tidak sedang membujuk pemirsa untuk dapat menikmati makanan yang sama. "Kealfaannya" pada kamera ketika makan itulah salah satu yang membuat acara ini menjadi sangat berbeda. Keberbedaan itu justru menunjukkan "hakikat" yang sebenarnya, makan sebagai makan dan makanan sebagai makanan. Dorce makan sebagai aktivitas alamiah, laku umum ketika orang menghadapi makanan. Antusiasmenya pada masakan padang, caranya mencampur lauk, sayur dan nasi, bahkan memasukkan ke mulut dan mengunyah, tipikalitas orang kebanyakan. Gaya Dorce adalah "pertunjukan" yang setiap hari dapat kita temukan pada orang yang makan di warung Padang pinggir jalan, staf rendahan, para abang becak dan kuli bangunan. Makanan yang disantap Dorce pun nyaris tak berbeda. Ia selalu kembali ke selera yang sama. Dorce merepresentasikan makan dan makanan sebagai sesuatu yang hanya berurusan dengan mulut dan perut. Makan sebagai kewajiban agar raga dapat terus hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Makan Gaya&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/Rfeaee-eTEI/AAAAAAAAABg/ZuLzJ25Iugo/s1600-h/bondan2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/Rfeaee-eTEI/AAAAAAAAABg/ZuLzJ25Iugo/s400/bondan2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5041668156366408770" /&gt;&lt;/a&gt; "Wisata Kuliner" dan pembawa acara yang setipikalitas dengan Bondan, sudah melangkah lebih jauh dari apa yang dilakukan Dorce. Bondan, sebagaimana pengakuannya di &lt;I&gt;Nova&lt;/I&gt;, bukan berposisi sebagai pemandu selera, tapi promotor makanan. Jadi, semua tindakan Bondan adalah representasi dari usaha untuk mempromosikan. &lt;I&gt;Gesture&lt;/I&gt; Bondan, kaget-nikmat, senyum dan gelengan kepala bukan ekspresi dari citarasa makanan melainkan bujukan agar pemirsa tertarik untuk mencari atau menikmati makanan yang ditampilkan. Citarasa makanan kemudian hadir hanya dalam bentuk ucapan verbal "maknyus", "nendang banget" dan atau "pecah di lidah". Bondan sebanding dengan Titi Kamal yang mempromosikan produk mie instan, "Pokoknya.... megang banged!" Semua enak, indah, dan sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model representasi di atas juga otomatis membagi posisi makan sebagai kebutuhan primer, dan makan yang sudah menjadi kebutuhan tertier, &lt;I&gt;lux&lt;/I&gt;. Aktivitas makan sebagai kebutuhan tertier tidak berurusan dengan kenyang perut. Itulah sebabnya, nyaris tak pernah ada tayangan yang menunjukkan Bondan menghabiskan makanannya semaknyus apa pun itu. Beda dengan Dorce yang menandaskan nasinya, bahkan sampai mulutnya berbunyi "Eeegg...". Sebagai kebutuhan &lt;I&gt;lux&lt;/I&gt;, makan adalah wisata, penjelajahan citarasa dan bukan kepatuhan pada selera. Sebagai wisata, makan adalah kebutuhan non-lahiriah, rasa kenyang didapatkan di dalam "nilai gaib" yang terkandung di makanan itu. "Ini lho, sarapan Hamengkubuwono VIII," kata Arletta, ketika wisata kuliner ke Yogya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membayangkan telah mengonsumsi "nilai gaib" itulah yang kemudian membuat makanan berubah menjadi arena pementasan diri. Orang makan untuk menunjukkan personalitas diri, gaya hidup, bahkan perbedaan kelas. Makanan menjadi cermin untuk berkaca dan memaknai diri. Ketika ke warung Mbah Jingkrak di Semarang, misalnya, tanpa disadari "Wisata Kuliner" telah meletakkan "nilai lain" ke Warung itu. "Promosi" yang dilakukan Bondan sekaligus meninggalkan nilai tanda di Warung itu. Dan kemudian, mereka yang makan ke warung itu bukan sekadar mencari rasa pedas melainkan terutama membeli "nilai tanda" tersebut. Nilai tanda itu bahkan bisa melebar ke spektrum yang tak terbayangkan. Makan di sana menjadi identitas baru sebagai warga yang melek kuliner, tahu selera, dan ngerti gaya hidup. Bahkan mungkin, muncul perasaan tak lengkap sebagai orang Semarang jika belum merasakan ikon-ikon kuliner di kota ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya, menonton acara kuliner di teve, kita diberikan pilihan untuk menjadi manusia yang menghargai makanan atau manusia yang dihargai karena makanannya. Semua terserah kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Artikel ini sudah dimuat di Harian &lt;I&gt;Suara Merdeka&lt;/I&gt;, 11 Maret 2007. Foto-foto diambil dari www.jalansutra.org]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10916372-1358071506020640423?l=auliamuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/feeds/1358071506020640423/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10916372&amp;postID=1358071506020640423' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/1358071506020640423'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/1358071506020640423'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/2007/03/memaknai-maknyus-si-bondan.html' title='Memaknai Maknyus Si Bondan'/><author><name>sujud ilalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/RfeXTe-eTDI/AAAAAAAAABY/351MxXTBqAU/s72-c/kuliner+bondan2.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10916372.post-1242003613189149950</id><published>2007-03-02T12:47:00.000+07:00</published><updated>2007-03-14T14:04:10.317+07:00</updated><title type='text'>Ke(g)aiban Popularitas</title><content type='html'>Aib adalah jalan tercepat menuju popularitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/Ree-I2c4HYI/AAAAAAAAABM/coGFIUPbP_E/s1600-h/mantan-ratu.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/Ree-I2c4HYI/AAAAAAAAABM/coGFIUPbP_E/s400/mantan-ratu.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5037203767502052738" /&gt;&lt;/a&gt;Perseteruan Maia Ahmad dan Mulan Kwok berakhir sudah. Mereka berdamai. Maia akhirnya membayar sejumlah uang sebagai kompensasi dari semua tuntutan Mulan. "Jumlahnya tidak sebanding ya? Tapi Mulan sudah setuju, ya mau apalagi?" jelas Hotman Paris Hutapea, pengacara Mulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak yang mengira, usai perseteruan itu, popularitas Mulan akan berakhir. Di Ratu, Mulan memang tidak berperan besar, hanya vokalis. Berbeda dari Maia, yang menciptakan lagu, memutuskan busana panggung, sampai urusan kontrak dengan pihak ketiga. Itulah sebabnya, pengamat musik Bens Leo meyakini, "Karier Mulan akan lebih sulit. Bagaimanapun posisi Maia sebagai pencipta lagu akan lebih jelas."&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, Bens Leo juga menyayangkan perseteruan itu, apalagi sebabnya bukan karena proses kreatif melainkan uang. Bens menganggap Mulan sebagai pihak yang "bodoh" karena tidak pernah terlibat urusan apa pun di Ratu selain menyanyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di infotainmen banyak sekali pendapat yang senada dengan Bens. Keributan Ratu karena uang, dan sampai berpolemik di media, bagi sebagian pengamat bukanlah langkah yang arif. Sebagian besar menyayangkan sikap Mulan yang seperti "kacang lupa pada lanjarannya". Sebagian lagi memahami tapi menyayangkan masa depan karier Mulan. Mulan diyakini akan "selesai" tanpa Maia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Manfaat Aib&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, dunia hiburan punya aturan yang acap tak tertebak. Belum berselang bulan, Mulan sudah naik panggung, sendirian. Pertama, dan ini yang mengejutkan, ustad gaul Jefri al-Buchori merangkulnya untuk membaca saritilawah al-Quran, mendampingi Iis Dahlia. Acara yang mendapat perhatian besar dari infotainmen itu menampilkan sosok Mulan yang berbeda, berkerudung, berbaju kurung, dan senyum yang terus menggantung. Dia tak lagi murung, tampak bahagia. "Takut sih, takut salah-salah..." katanya sumringah, usai acara, sebagaimana tayang di "Obsesi Pagi" &lt;I&gt;Global&lt;/I&gt; TV. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, Mulan menyanyi di "Britama Vaganza" yang tayang di &lt;I&gt;TransTV&lt;/I&gt;. Tanpa lagu Ratu, dia tampil sendiri dan duet bersama Donny Ada Band. Penampilannya pun berubah, tak lagi berpakaian setengah terbuka, tabrak warna, dan menggoda. Mulan tampil feminim, dan tetap seksi. Percayalah, berikutnya Mulan pasti akan tetap tampil di banyak acara. Teraan "aib" pada dirinya karena perseteruan nilai kontrak itu, tak akan berpengaruh pada popularitasnya. Maria Eva telah lama mengajarkan hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum kasus video intimnya dengan Yahya Zaini, siapa yang kenal dengan pedangdut ini. Bahkan, di awal kasus itu terungkap, masih banyak orang yang mengernyitkan dahi, bertanya, "Maria Eva, siapa dia?" Tapi kini, nyaris semua orang hapal dengan sosoknya. Bahkan, suara serak karena menahan tangisnya pun masih selalu tayang, sebagai iklan acara berita "Reportase" di &lt;I&gt;TransTV&lt;/I&gt;. Maria Eva bahkan pernah selama dua bulan lebih, mendiami teritori benak penikmat infotainmen, sama dengan kasus Angel Lelga saat ini. Dan dampaknya, dengan bumbu "simpati" infotainmen di awal-awalnya, popularitas Maria Eva melesat. Ia nyaris tampil di semua acara &lt;I&gt;talkshow&lt;/I&gt;. Ia selalu menangis. Ia acap ceritakan latar belakang keluarganya yang agamis. Dan ia tampak menyesal telah melakukan aib itu. Maria Eva pasti menangis. Dan Ruhut Sitompul, pengacaranya, tahu betul bagaimana menambah bobot kesedihan kliennya dengan ucapan-ucapan yang sungguh memancing iba. Maria adalah korban. Dan sebagai korban dia pantas dibela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aib dan popularitas tampaknya tidak bertolakbelakang. Maria Eva tahu memanfaatkannya, dan justru "tertolong" dengan aib itu. Ia misalnya, dengan ringan segera ke Sidoarjo, mengunjungi korban lumpur, dan membagikan uang sumbangan. Selanjutnya, dengan riang juga dia berjoged dangdut di pub di Surabaya, dan tidak menghadiri gugatan cerai dari lelaki yang dia tak akui sebagai suaminya. Beberapa hari kemudian, dia sudah di jakarta, dan menagis lagi, merasa tertekan dengan kasus video intim itu. Maria Eva si penyedih, Maria Eva si penggembira, tampaknya hanya soal waktu dan tempat saja, bagaimana "memainkannya". Dan puncaknya, di malam tahun baru, Maria Eva adalah pedangdut pemula yang dibayar demikian mahal. "Mau tahu? Rp 150 juta. Itu sudah bersih, termasuk personelnya," jawabnya. Kok mahal amat? "Ya mahal dong. Maria..." ucapnya, tertawa, sebagaimana tayang di infotainmen dan dicatat di Harian &lt;I&gt;Surya&lt;/I&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbuat aib dan berbuah tarif 150 juta, hmmm... siapa yang tak tergoda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Penikmat Aib&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/Ree8ZGc4HXI/AAAAAAAAAA8/oU2-4VIo3js/s1600-h/maria-eva.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/Ree8ZGc4HXI/AAAAAAAAAA8/oU2-4VIo3js/s320/maria-eva.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5037201847651671410" /&gt;&lt;/a&gt;Dunia hiburan, yang representasi kecilnya diwujudkan dalam televisi, seperti dasamuka. Aib bisa bersanding akur dengan kesusilaan, seperti "dosa" Maria bisa menjadi wajah penolong di Sidoarjo sana. Aib bahkan menjadikan seseorang dapat meraih popularitas dengan gampang. Aib adalah komoditi yang dapat dijual mahal. Dan semua itu terjadi karena banyak sekali orang yang butuh keaiban itu, yang merakusi keaiban itu tanpa rasa puas. Lihatlah "Insert" di hari Minggu. Berita tentang aib seorang selebritis, selalu meraih poling tertinggi yang ditonton dan dinanti pemirsa. Maria Eva pernah jadi pemenang. Mulan Kwok juga. Dan kini, pasti, kasus Angel Lelga. Jadi, aib itu ada peminatnya, ada penikmatnya, ada yang diam-diam menyembahnya. Antara pembuat dan penikmat aib membentuk spektrum simbiosis mutualisme, kesalingtergantungan, saling berbagi kenikmatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia hiburan tampaknya memang sebuah medan yang tak pernah dapat dipastikan. Tak ada ketentuan arah, kepastian hukum, apalagi kejelasan nilai. Semua diukur dari rasa butuh. Celakanya, rasa butuh yang awalnya diciptakan ini akhirnya membentuk teritorial sendiri di dalam pikiran, dengan menciptakan sensasi kekurangan. Sensasi kurang, tak pernah puas, inilah yang membuat wajah aib jadi hilang. Aib adalah cara, jalan, metode, untuk meraih sesuatu. Maka, ketika Ratu ribut, banyak komentar kalau hal itu adalah cara untuk menaikkan popularitas. Peterpen pecah, dimaknai sebagai cara untuk meningkatkan penjualan album. Bagi penonton, aib juga kehilangan sisi negatifnya, dan kemudian direduksi sebatas hasrat ingin tahu. Penonton tak lagi peduli pada aib tersebut, tapi tersedot pada efek dari aib itu. Nalar akhirnya dikebiri hanya menjadi spektrum hasrat untuk tahu, "setelah ini-lalu-lalu-lalu" yang tak putus-putusnya. Pada saat itulah, di mata filsuf Gilles Deleuze &amp; Felix Guattari, telah tercipta mesin hasrat, membuat seseorang mengalami kenikmatan mengetahui semua kronologis keaiban itu. Kenikmatan itulah yang mendorong orang untuk terus berlomba tahu dan bangga dengan keserbatahuan itu. Inilah makanya, berita aib segera menyebar dengan cepatnya, video Maria terluaskan bahkan sampai ke mancanegara, semua orang ingin jadi yang pertama tahu. Orang pun mau menonton langsung Maria hanya untuk dapat berkata, "Aku telah melihat langsung Maria Eva..." atau, "Ternyata Maria itu tidak seperti..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia hiburan menyadari mesin hasrat ini. Keaiban adalah magnit yang dapat menyedot kamera, popularitas dan uang. Itulah sebabnya, selalu ada yang mau mendekat mereka, berbagi sedan dan airmata. Selalu ada yang mau jadi pembela atau sebenarnya memanfaatkan "popularitas" mereka. Seperti Mulan Kwok yang tiba-tiba menjadi pembaca saritilawah di forum Ustad Jefri itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Artikel ini sudah dimuat di Harian &lt;I&gt;Suara Merdeka&lt;/I&gt;, Minggu 4 Maret 2007]&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10916372-1242003613189149950?l=auliamuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/feeds/1242003613189149950/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10916372&amp;postID=1242003613189149950' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/1242003613189149950'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/1242003613189149950'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/2007/03/kegaiban-popularitas.html' title='Ke(g)aiban Popularitas'/><author><name>sujud ilalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/Ree-I2c4HYI/AAAAAAAAABM/coGFIUPbP_E/s72-c/mantan-ratu.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10916372.post-8757584599255316630</id><published>2007-01-30T13:15:00.000+07:00</published><updated>2007-03-02T13:08:58.735+07:00</updated><title type='text'>Sebelah Mata untuk "Empat Mata"</title><content type='html'>Kelemahan utama acara "Empat Mata" justru terletak pada hasrat Tukul yang ingin selalu jadi pemain utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/Rb7jQb3vDJI/AAAAAAAAAAM/FUWDDkMclVQ/s1600-h/tukul1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/Rb7jQb3vDJI/AAAAAAAAAAM/FUWDDkMclVQ/s320/tukul1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5025704105690991762" /&gt;&lt;/a&gt; Januari ini barangkali dapat dijadikan sebagai bulan Tukul Arwana. Nyaris semua tabloid memasang foto dan mengulas dirinya. Biogafi pendeknya tercetak di mana-mana, wajah cengengesannya tayang di berbagai infotainmen. Sebabnya satu, keberhasilannya mengampu talk show "Empat Mata". Keberhasilan yang dinilai fenomenal karena semula kehadirannya justru dipandang sebelah mata. Dan ketika rating "Empat Mata" melejit, iklan antre, "pesona" Thukul pun menjadi topik hangat. Pujian bertaburan. Kesederhanaan dan keluguannya selalu menjadi anggukan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Empat Mata" yang semula sekali tayang, jadi tiga kali seminggu, lalu lima kali sepekan. Tawa, canda, idiom khas Tukul pun jadi santapan rutin. "Silent please...", "Kembali ke lap...top", atau "Puas?! Puas?!" menjadi populer dan selalu menerbitkan tawa. Psikolog sosial Sartono Mukadis menyebut Tukul sebagai pelawak jenius, karena dapat berpikir secara cepat (&lt;I&gt;quick thinking&lt;/I&gt;). Juru bicara kepresidenan Andi Mallarangeng memuji acara yang dibawakan Tukul sebagai lawakan yang menghibur, segar, santai, serta cerdas. Tukul pun, dalam keluguan dan kesederhanaannya, menjadi sempurna. Dan, lihatlah, semua berlomba melahirkan puji-puja. Tukul menjadi "anak manja" media.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Rutinitas Kembar&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Empat Mata" memang populer karena Tukul. Sosok Tukul-lah yang dijual dan menjadi magnit acara itu. Gestur, umpatan, salah ucap, semua jadi terasa memesona, dan menjual. Dan memang begitulah pada mulanya. Seluruh "tipikalitas" Tukul itu memang membuat perut berguncang. Tapi, ketika "Empat Mata" tayang nyaris setiap malam, kelucuan rutin itu menjadi terasa "menyedihkan". Sebabnya satu, Tukul terpancang pada idiomatikal itu-itu saja. Yang lahir kemudian hanya semacam perulangan dari adegan di malam-malam sebelumnya. Nyaris tak ada kreasi, bahkan ketika yang hadir adalah tamu dengan karakter yang sangat berbeda. Tukul tak mampu bermetamorfosa. Semesta gelak yang kemudian lahir tak lebih tawa yang kering, tawa dari kelucuan yang sudah menjadi semacam hapalan. Apalagi, tipikalitas itu tak hanya tampil di "Empat Mata" &lt;I&gt;Trans|7&lt;/I&gt;. Di "Catatan Harian Si Tukul" di &lt;I&gt;RCTI&lt;/I&gt; tiap Selasa dan Rabu pagi pun, gestur dan pola-ucap Tukul tak berbeda. Tukul adalah sama di setiap acara yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"orang suka kalau melihat saya tampil bodoh," ucap Tukul. Benar. Tapi penonton tentu tidak menginginkan "kebodohan" yang rutin, akting yang tanpa variasi. Tukul abai dalam hal ini. Maka, "swahina", hinaan pada diri sendiri pun, selalu ajek, sama, itu ke itu saja, dari memonyongkan bibir, gaya pragawan, dan lainnya. Rutinitas kembar ini bahkan sampai pada ucapan pengantar jeda "Empat Mata", "Oke pemirsa, jangan ke mana-mana, saya akan mengupas lebih dalam lagi setelah..." Tak ada yang beda, baik intonasi dan diksi. Sama. Hapalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rutinitas itu jugalah yang akhirnya membuat &lt;I&gt;magic word&lt;/I&gt; "Kembali ke Lap... top" atau "Silent Please" kehilangan daya provokasinya. Bayangkanlah, jika dalan satu jam, penonton harus mendengar "Kembali ke Lap... top" sampai berpuluh kali, bahkan terkadang, seperti tanpa jeda. Eneg!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Pusat Magma&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Empat Mata" memang &lt;I&gt;talk show&lt;/I&gt; yang berbeda. Jangan bandingkan dengan acara sejenis seperti "Lepas Malam" dan "Dorce Show" di &lt;I&gt;Trans TV&lt;/I&gt; atau "OM Farhan" di &lt;I&gt;Anteve&lt;/I&gt;. Kupasan atas sebuah masalah dan atau pada sosok bintang tamu tak lebih dari basa-basi, artifisial, dan acap hanya sarana untuk melahirkan "improvisasi" kelucuan dari Tukul. Bintang tamu adalah "gantungan" atau "picu" agar kelucuan Tukul lahir. Karena itu, untuk mengadopsi "percikan" kelucuan itu, bintang tamu harus siap dikorbankan. Mereka hanya tamu, hanya selingan, Tukul-lah yang menjadi pusatnya. Tukul tampaknya menyadari hal itu. Sebagai pusat, dia harus tampil lebih utama, menjadi fokus kamera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/Rb7jrL3vDKI/AAAAAAAAAAU/wEEXXJgs-bY/s1600-h/tukul2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/Rb7jrL3vDKI/AAAAAAAAAAU/wEEXXJgs-bY/s320/tukul2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5025704565252492450" /&gt;&lt;/a&gt; "Empat Mata" Senin (29/1) secara jelas menunjukkan hal itu. Kehadiran Maia Ahmad, Sarah Sechan, Koming, dan Omas, memang pelengkap. Karena itu, seluruh pertanyaan untuk mereka bukan hal utama. Lihat ketika Tukul bertanya kepada Maia, "Siapa yang kira-kira akan menggantikan Mulan?" Ini pertanyaan yang bagus, dan jawaban Maia tentu ditunggu pemirsa. Maia terdiam sesaat, dan Tukul segera menyela, "Barangkali saya bisa, atau Omas? Kami siap kok diaudisi..." Dan, bergayalah Tukul, dia ajak Omas untuk bernyanyi, melempar &lt;I&gt;joke&lt;/I&gt; --yang &lt;I&gt;garing&lt;/I&gt; banget-- menyita waktu yang cukup lama, membiarkan Maia dan lainnya hanya sebagai pengamat. Cukup. Tukul kembali ke tempat duduknya, dan berkata, "Kembali ke Lap...top". Habis. Dia tak pernah menuntaskan pertanyaannya. Dan itu sudah menjadi "penyakit" acara ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maia, bagaimana melampiaskan segala masalah yang menimpamu selama ini?" tanyanya. "Dilampiaskan ke Mas Tukul, boleh?" Tukul pun jejingkrakan, berdiri, dan bersolilukoi kepada penonton. Dia kembali ke tempat duduknya, dan "Kembali ke Laptop...". Tak ada pertanyaan yang dia kejar. Hal semacam itulah yang membuat Andi Mallarangeng, ketika menjadi bintang tamu, hanya tersenyum kecut. Kehadirannya jadi "bemper" semata. Wajahnya menunjukkan betapa dia tersiksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Setiap pertanyaan saya memang tidak perlu jawaban yang benar. Yang penting lucu saja," kata Tukul. Masalahnya, tidak semua narasumber bisa melucu suka dijadikan bahan lawakan, apalagi menyangkut SARA (seputar arah &lt;I&gt;rai&lt;/I&gt; dan anatomi). Juga untuk hal yang serius, tak semua penonton juga ingin mendengar jawaban yang asal bunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kembali ke Laptop" memang membuat banyak hal menjadi aneh dan tidak wajar. Sering, Tukul bertanya satu hal ke bintang tamu. Jawaban ternyata melebar, mencakup berbagai hal. Dan ketika Tukul kembali ke laptop dan bertanya lagi, pertanyaan itu ternyata sudah dijawab dalam pelebaran persoalan yang diungkapkan narasumber sebelumnya. Tukul acap terlongo, dan menyelamatkan situasi itu dengan ... "kembali ke lap...top" Dari situ tampak, Tukul tak pernah berani mengembangkan pertanyaan lebih dari yang "ditawarkan" laptop. Atau mungkin sebaliknya, Tukul memang tak diizinkan untuk melakukan pengembangan. Menyedihkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku Melucu maka Empat Mata Ada". Itu barangkali yang disadari Tukul. Dia adalah pusatnya, sang magma. Tukul mungkin lupa, setiap orang tidak akan pernah puas jika hanya mendapatkan hal yang sama. Kerutinan pasti melahirkan kebosanan. Pemirsa tak pernah bisa setia. Dan jika kemasan "Empat Mata" tidak berubah, Tukul masih selalu memakai idiom yang nyaris jadi hapalan, kepopulerannya tinggal menghitung masa. Karena tanpa disadari,  Tukul mengubah kekuatannya menjadi titik terlemahnya: selalu tampil apa adanya, bermodal kelucuan yang itu-itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;[Artikel ini telah dimuat di Tabloid &lt;I&gt;Cempaka,&lt;/I&gt; Kamis 1 Februari 2007]&lt;/span&gt;&lt;/B&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10916372-8757584599255316630?l=auliamuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/feeds/8757584599255316630/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10916372&amp;postID=8757584599255316630' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/8757584599255316630'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/8757584599255316630'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/2007/01/sebelah-mata-untuk-empat-mata.html' title='Sebelah Mata untuk &quot;Empat Mata&quot;'/><author><name>sujud ilalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/Rb7jQb3vDJI/AAAAAAAAAAM/FUWDDkMclVQ/s72-c/tukul1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10916372.post-116521104917282566</id><published>2006-12-04T12:35:00.000+07:00</published><updated>2006-12-04T12:48:31.290+07:00</updated><title type='text'>Kecaman yang (tak) Beralasan</title><content type='html'>Dalam bentuk lain, adegan "Smack Down" adalah miniatur dari kekerasan Tom dan Jerry, yang dibom, dilindas kereta sampai gepeng, dibakar, tapi tak pernah mati. Bukankah John Cyena juga selalu bangun meski telah dipukul, ditendang, dicekik, bahkan dihajar kursi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/x/blogger/7213/864/1600/360695/smack2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/x/blogger/7213/864/320/374859/smack2.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt; Akhirnya, "paduan suara" menentang tayangan kekerasan bergema. dari Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta, Menkominfo Sofyan Djalil, Menpora Adyaksa Dault, dan Ketua DPR Agung Laksono, sampai Kak Seto dari Komnas HAM Anak, mengecam tayangan Smack Down. Sebagian ingin tayangan itu dihentikan, yang lain meminta pindah jam tayang. Kecaman dan usulan, yang seperti biasa, lahir, setelah jatuh "korban".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, korban memang telah berjatuhan. Reza (9) di Bandung tercatat menjadi "korban" pertama. Lalu tersiar kasus yang sama di Yogyakarta, Fauzi Rizal (9) di Jakarta, Abil (6) di Bandung, dan beberapa anak lain de berbagai kota. "Topik Malam" &lt;I&gt;Anteve&lt;/I&gt; (29/11) mencatat 18 korban, dari luka memar, patah tulang, sampai meninggal seperti yang dialami Reza. Tayangan "Smack Down" pun menjadi satu-satunya kambing hitam. Meski, berdasarkan penyelidikan, sebagaimana disampaikan Kasatreskrim Polres Bandung AKP Hendra Kurniawan, kematian Reza bukan karena praktik &lt;I&gt;smack down&lt;/I&gt;. "kami telah memeriksa 15 orang saksi, 9 anak-anak dan sisanya orang tua korban, juga orang yang mengobati Reza secara alternatif. Karena kematiannya sebulan setelah permainan &lt;I&gt;smack down&lt;/I&gt;, sulit membuktikan kalau penyebabnya gara-gara &lt;I&gt;smack down&lt;/I&gt; itu," terangnya. Satu-satunya jalan pembuktian adalah otopsi. Sayang, keluarga Reza tak memberi izin. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tayangan kekerasan di televisi memang telah lama menjadi polemik. Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) pun telah membuat regulasi dan beberapa kali teguran. Tapi, seperti pengakuan Ade Armando, KPI tak dapat berbuat apa-apa. Menkominfo, menurutnya, telah mengebiri KPI, dengan tidak memberi hak eksekusi untuk menindak televisi yang melanggar regulasi penyiaran. Akibatnya, teve-teve membandel, dan cenderung "cuek" dengan teguran KPI. Tayangan kekerasan pun membanjir, tak terbendung. "Smack Down" salah satunya. "Selain 'Smack Down', banyak acara lain yang tidak mendidik," kecam Wakil Ketua DPR Zaenal Maarif. Dia benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Tontonan Anak&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Smack Down" di &lt;I&gt;Lativi&lt;/I&gt;, sebelumnya telah populer di &lt;I&gt;TPI&lt;/I&gt;, hanya satu rantai. Lihatlah di stasiun lain, puluhan acara kekerasan bergentayangan. Program liputan kriminal semacam "Buser", "Sergap", "Tangkap", pun penuh aroma kekerasan. Belum lagi film-film laga yang menjadi andalan setiap teve. Program "Theater 7" di &lt;I&gt;TV7&lt;/I&gt; dan "Double Bioskop" di &lt;I&gt;Trans TV&lt;/I&gt; dapat mewakili "perang" tayangan laga ini. Dan kalau mau jujur, tayangan jenis inilah yang memang menghibur sebagian besar penonton, mewakili naluri agresif di dalam diri manusia. Karena itu, pemaksaan untuk menghentikan tayangan sejenis itu dari para pejabat di atas tampak jadi lucu. Sebuah sikap populer yang sebenarnya tidak bersandar pada realitas dunia hiburan. Watak mimikri dunia hiburan akan membuat penghentian tayang program apa pun hanya jadi semacam dagelan. Dilarang satu, lahir kembaran seribu. Bukankah efek fatwa haram &lt;I&gt;infotainment&lt;/I&gt; pun kini seperti suara yang telah kehilangan gema? "Fungsi Teve kan tidak hanya untuk hiburan. Lebih penting dari itu adalah pendidikan. Karena itu harus berisikan nilai positif," ucap Zainal Maarif. Zainal barangkali telah lupa, ada &lt;I&gt;Televisi Pendidikan Indonesia&lt;/I&gt; (TPI), dan isi programnya? Bukankah TPI bisa "bernapas" justru ketika "berkhianat" dari janji mendidik penonton sebagaimana tujuan semula?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memahami simbiosis televisi dan penonton. Mungkin itulah cara untuk dapat melihat problem ini secara lebih luas, mendudukkan teve dan penonton bukan sebagai dua sisi yang terpisah. Dampak dari satu tayangan bukanlah "kesalahan" satu pihak, melainkan lahir sebagai hubungan keduanya. "Smack Down" misalnya, dikatakan tak pantas sebagai tayangan anak-anak, dan karena itu, tayang di jam malam, pukul 22.00 ke atas. Tapi, lihatlah tayangan itu, perhatikan penonton di luar ring pertarungan, puluhan anak-anak berteriak, mengacungkan poster dan atau telunjuk yang terbalik, di samping orang tua mereka yang mendampingi. Nikmati pertarungan di dalam ring, pukulan yang tak menimbulkan luka, jatuh bangun yang tak membuat cidera, "kebodohan-kebodohan" pemain, semua di luar logika orang dewasa. Hanya anak-anak --atau orang dewasa bermental anak-anak-- yang dapat melihat hal itu sebagai keseruan, kemencekaman, dan tontonan yang mengasyikkan. Jadi, secara isi dan kemasan, sebenarnya tayangan ini cocok untuk anak-anak, dan karena itu, tayang jam berapa pun, pasti diburu. VCD dan &lt;I&gt;game&lt;/I&gt; ini pun populer di tangan anak-anak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, bukankah kekerasan tak pantas dipertontonkan di mata anak-anak? Benar. Masalahnya, tayangan mana yang tidak ada unsur kekerasan? Kartun Tom dan Jerry? Shincan? Bukankah Tom dan Jerry lebih bermuatan dendam dan aksi pukul-pukulan? Bukankah Shincan selalu mendapatkan "telor" di kepalanya tiap berbuat kesalahan? Atau Dora Emon, dengan Giant yang selalu memamerkan ancaman dan kekerasan? Dalam wujud lain, seluruh adegan "Smack Down" adalah miniatur dari kekerasan Tom dan Jerry, yang dibom, dilindas kereta sampai gepeng, dibakar, tapi tak pernah mati. Bukankah John Cyena juga selalu bangun meski telah dipukul, ditendang, ditimpa, bahkan dihajar kursi? Acara "Celoteh Anak" yang diasuh oleh Huges pun tak lepas dari kekerasan, yakni infiltrasi pikiran dewasa ke dalam nalar anak-anak. Itulah sebabnya, menjadi hal lucu jika tayangan semacam ini yang menjadi sasaran kemarahan dan dilarang. Apalagi, heboh pemberitaan "Smack Down" ini pun tak lebih dari polarisasi perang antar-stasiun teve. Lalu, apakah penonton yang salah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Tanda Budaya&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menonton teve pada hakikatnya adalah kegitan sosial yang merupakan proses mencari dan menciptakan makna. Karena itu, tiap penonton merupakan pencipta makna yang aktif. Dan makna itu lahir dari kompetensi kultural yang telah penonton dapatkan sebelumnya dalam lingkup berbahasa dan hubungan sosial.  Penonton melakukan kontekstualisasi makna-makna tersebut dengan kondisi nyata yang dia alami, dan kadang, memodifikasi agar makna sesuai dengan yang mereka inginkan. Jadilan proses menonton sebagai pemaknaan yang kreatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stuart Hall dalam &lt;I&gt;Culture, Media, Language&lt;/I&gt;, melihat ada tiga kode yang biasa dipegang penonton, yakni kode dominan (&lt;I&gt;dominant code&lt;/I&gt;), kode negosiasi (&lt;I&gt;negotiated code&lt;/I&gt;), dan kode oposisi (&lt;I&gt;oppositional code&lt;/I&gt;). Dalam kode dominan, penonton menerima sepenuhnya pesan yang ditayangkan teve, karena sesuai dengan norma yang dia percaya. Sedangkan dalam kode negosiasi, penonton tidak menerima sepenuhnya, melakukan tawar-menawar, dan mengadaptasi nilai yang sesuai. Pada kode oposisi, penonton menolak seluruh pesan televisi. Artinya, setiap tayangan selalu mengalami resistensi dan artikulasi makna baru, di tangan penonton dewasa atau anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tayangan "Smack Down" juga mengalami saringan tiga kode itu. Dan penonton, setidaknya, terbagi dalam tiga wilayah: menerima, mengadaptasi, dan menolak atau beroposisi. 18 kasus di atas mengindikasikan bahwa tayangan ini diterima sebagai pembawa kode dominan. Artinya, penonton menganggap kekerasan di dalam tayangan itu adalah hal biasa, kegembiraan, dan menarik untuk dipraktekkan. Pertanyaan terbesarnya adalah, mengapa mereka menerima tayangan itu sebagai pesan dominan? Jawaban teoretisnya, 18 korban itu memiliki tanda dan keterikatan budaya yang sama dengan elemen kekerasan di dalam tayangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa anak-anak sepakat dengan nilai kekerasan di dalam tayangan itu? Bisa banyak jawaban diberikan. Tapi, dari reaksi para orang tua korban, dapat dilihat kesamaan, mereka terkejut dengan perbuatan anaknya. Orangtua tak pernah menduga si anak akan melakukan adegan seperti itu. Dari sini dapat dilihat pola asuh orang tua yang tidak berjalan. Tak ada pendampingan, mungkin tanpa komunikasi dan pemberian pengertian. Anak-anak mencari dan memaknai hidupnya dari dan hanya berdasarkan televisi. Yang nyata bukan lagi hubungan si anak dengan orang tua dan lingkungan sekitarnya, melainkan seluruh yang diberikan televisi kepadanya. Kebenaran adalah apa yang mereka lihat di teve. Kenikmatan adalah mempraktekkan semua yang mereka saksikan. Mereka hanya punya satu nilai dan menerima tanpa tanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ketiadaan pembanding tanda budaya inilah, pesan teve menjadi dominan. Dan bagi mereka, mempraktekkan &lt;I&gt;smack down&lt;/I&gt; bukan sebuah kesalahan apalagi kebodohan. Lalu semua terjadi... Para orangtua meradang, politikus ikut menyerang. Mereka marah, televisi --yang telah mereka percayai menjadi orang tua asuh bagi anak-anak-- disalahkan. Tapi jauh di dasar hati, mereka pasti mengutuki diri sendiri....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;[Artikel ini telah dimuat di Harian &lt;I&gt;Suara Merdeka&lt;/I&gt;, Minggu 03 Desember 2006]&lt;/B&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10916372-116521104917282566?l=auliamuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/feeds/116521104917282566/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10916372&amp;postID=116521104917282566' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/116521104917282566'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/116521104917282566'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/2006/12/kecaman-yang-tak-beralasan.html' title='Kecaman yang (tak) Beralasan'/><author><name>sujud ilalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10916372.post-116436331107673654</id><published>2006-11-24T17:00:00.000+07:00</published><updated>2006-12-04T12:47:27.250+07:00</updated><title type='text'>Azab dan Pedih untuk Perempuan</title><content type='html'>Dalam sinema Islami, perempuan acap didudukkan sebagai aktor dan agitator kesesatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/x/blogger/7213/864/1600/800940/hidayah1a.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/x/blogger/7213/864/400/525914/hidayah1a.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt; "Dasar perempuan miskin! Jangan pernah kamu injakkan kaki lagi di rumah ini. Anakku tak pantas untukmu. Pergiii!!" teriak Ny Rossi. Sudut mulutnya tertarik ke kiri membentuk senyum sinis, jari tangannya menunjuk jalan ke luar rumahnya. Nurul, perempuan yang dia usir itu, dengan wajah pucat, berlari, pergi. Ny Rossi tersenyum puas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah secuplik adegan dalam &lt;I&gt;Sinema Hidayah&lt;/I&gt; "Mertua Matre Matanya Buta" di &lt;I&gt;Trans TV&lt;/I&gt;, Kamis malam (23/11). Sepanjang tayangan, dari mulut Ny Rossi (Hanna Hasyim) menyembur kata-kata kotor, hinaan dan caci-maki. Tak hanya Nurul, Tika (Ardina Rasti) yang menjadi istri anaknya pun, selalu dia kasari. Di tayangan itu, Ny Rossi memamerkan keculasan, kekejaman, dan kedengkian dengan sempurna. Bahkan bisa dikatakan, 80% dari seluruh tayangan sinema itu adalah etalase dari "kematrean" Ny Rossi.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tipikalitas tayangan semacam itu bukan hal baru di televisi. Sejak tayangan sinetron islami menjamur, pameran kekejaman dan keculasan mendominasi sinetron genre ini. Nama acara mungkin &lt;I&gt;Sinema/Sinetron Hidayah&lt;/I&gt; di &lt;I&gt;Trans TV&lt;/I&gt;, &lt;I&gt;Pintu Hidayah&lt;/I&gt; di &lt;I&gt;RCTI&lt;/I&gt;, &lt;I&gt;Rahasia Ilahi&lt;/I&gt; dan &lt;I&gt;Hidayah-Mu&lt;/I&gt; di &lt;I&gt;TPI&lt;/I&gt;, tapi isi tayangan nyaris sama, menjadi etalase dari sosok yang tak beriman, culas, pendendam, bahkan penghamba setan. Awalnya, tayangan jenis ini mengambil kasus yang cukup beragam. &lt;I&gt;Sinema Hidayah&lt;/I&gt; di &lt;I&gt;Trans TV&lt;/I&gt; misalnya, sejak mula mencoba menawarkan "kisah nyata" keimanan yang dirasakan akan dapat menggugah dan meningkatkan ketaqwaan penonton. Dede Yusuf dan Desi Ratnasari, dua bintang awal sinetron ini, waktu peluncuran pertama pun merasa tayangan ini menawarkan hal yang berbeda. Dengan mengambil ilham dari kisah nyata yang tampil di majalah &lt;I&gt;Hidayah&lt;/I&gt;, MD Entertainment yakin sinetron ini akan mendapatkan respon yang berbeda dari masyarakat. Dan harapan itu tidak sia-sia. Sinetron ini memang populer. Kisah-kisah awalnya begitu mengerikan dan berangkat dari hal-hal yang di mata masyarakat sudah dianggap dongeng saja. Azab berupa tubuh yang membusuk, darah yang tak mau berhenti, sampai mati dengan memakan kotoran sendiri, tampaknya cepat diakrabi penonton. Akibatnya, seperti biasa, teve-teve lain pun menempuh cara yang sama. Banjir "hidayah" pun terjadi di televisi. Dan tak terhindarkan, keragaman cerita jadi sulit didapatkan. Bahkan, selama empat bulan terakhir ini, keragaman itu menjurus pada satu hal, penculasan dan pemurtadan perempuan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Aktor dan Agitator&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kamar sempit itu, Amar dan keempat adiknya berdoa. "Ya Allah, ampunilah dosa ibu kami. Bimbing dan tunjukilah dia ke jalan yang benar..." Di luar, Ibu Amar (Novia Ardhana) menguping doa keempat anaknya itu. Dan belum lagi doa mereka selesai, amarahnya telah nyala. Dia gedor pintu itu, dia seret Amar, dan caci-maki pun tumpah. "Apa maksud kamu mendoai ibu, ha?! Dasar anak kurang ajar! Masih syukur dulu kamu ibu lahirkan. Tahu nggak, kamu itu anak haram! Tidak punya bapak!!" Amar pun, juga anak-anaknya yang lain, disiksa dan dihinakan sepanjang tayangan sinetron &lt;I&gt;Pintu Hidayah&lt;/I&gt;, "Ibuku Tukang Kawin" di &lt;I&gt;RCTI&lt;/I&gt; (19/11). Sebelumnya, sinetron ini pun menampilkan keburukan perempuan dengan tajuk "Pelet Perempuan Buruk Rupa".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di &lt;I&gt;Trans TV&lt;/I&gt;, setiap malam justru tayang kisah dengan materi demikian. "Suami Cacat Ditinggal Istri Kejam" (21/11) menampilkan sosok Lastri (Joelitta Palar) yang karena tidak kuat menghadapi kemiskinan memilih berselingkuh, lalu meninggalkan anak dan suaminya. "Janda Genit itu Menjadi Gila" bercerita tentang kemurtadan Wati (Anna J Cotto) yang berselingkuh dengan bapak-anak tetangganya, dan selalu berlagak alim untuk menutupi kesesatannya. Tampil lewat judul-judul "Akhir Hayat Seorang Germo, Meninggal Setelah Memakan Kotorannya Sendiri", "Wasiat Buat Istri Tersayang", Adik Rebut Kakak Ipar", sampai "Dendam Mantan Pacar", yang bergilir memasang Mira Asmara, Jurike Prastika dan Della Puspita, &lt;I&gt;Sinema Hidayah&lt;/I&gt; menjadi etalase dari penculasan dan pemurtadan perempuan. Sinema ini menegaskan "stigma kuno" bahwa perempuan adalah makhluk yang lemah, tak tahan godaan, culas, dan selalu dekat dengan dosa. Keimanan adalah milik lelaki. Sehingga, setiap bagian akhir, akan tampak perempuan yang mati tersiksa, sebagai azab dari dosa-dosanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lepas dari cerita yang lemah dan akting yang jauh dari memukau, &lt;I&gt;Sinema Hidayah&lt;/I&gt; tanpa sadar --atau disengaja?-- kian meminggirkan perempuan dalam lingkup pencapaian keimanan. Perempuan adalah makhluk nomor dua. Titik. Karena itu, kalaupun ada "hidayah" dari perempuan yang culas dan kejam, penyadaran itu akan lahir dari nasihat sosok kiai, yang pasti, lelaki! Selalu begitu, hitam putih, beroposisi biner. Hebatnya, dalam cerita yang menampilkan kesesatan dari tokoh lelaki, perempuan justru tampil sebagai penyebab kesesatan itu. &lt;I&gt;Sinema Hidayah&lt;/I&gt; "Preman yang Bertobat" (23/10) atau "Pak Lurah yang Culas" menunjukkan jelas hal itu. Perempuan adalah sebab jatuhnya lelaki ke lembah kesesatan. Kalau ada suami, kekasih, ayah, pejabat yang melakukan kejahatan dan atau bersekutu dengan setan, sebabnya satu, karena bujukan perempuan! Jadi, di sinema itu, perempuan bukan hanya aktor melainkan juga agitator kesesatan. Gila!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Tanpa akal-budi&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebudayaan kita --juga praktik nilai-nilai agama-- memang patriarkis. Dan setiap artefak kebudayaan tak bisa lepas dari spektrum patriarkis tersebut. Apalagi, sebuah artefak budaya selalu lahir tidak dalam kesendirian, pasti bersinggungan dengan sistem ekonomi, hukum, negara, institusi-institusi sosial, media massa, dan dimensi sosial lainnya. Singgungan antara berbagai hal itulah yang selalu membuat sebuah artefak budaya berada dalam lingkup dominasi dan subordinasi. Sinetron dan aneka produksi televisi lainnya, sebagai artefak budaya, juga ikut dalam putaran itu, dan tampaknya, selalu menjadi tawanan dari sistem sosial yang berwatak patriarki. Rating --dipercayai sebagai cermin dari selera penonton-- yang tinggi atas tayangan sinema ini menjadi ukuran "pasti" tentang watak masyarakat kita yang patriarkis.&lt;br /&gt;Watak itu memang warisan kelampauan, yang jika dirunut ke belakang dapat dilihat dari skema phytagoras. Filsuf Yunani ini meyakini perbedaan lelaki dan perempuan tidak hanya dalam hal fisik. Dia misalnya, selalu menempatkan lelaki dalam posisi yang &lt;I&gt;light, right, good&lt;/I&gt;, dan &lt;I&gt;one&lt;/I&gt;. Sedangkan perempuan masuk dalam skema &lt;I&gt;bad, left, oblong&lt;/I&gt;, dan &lt;I&gt;darkness&lt;/I&gt;. Dari skema itu dapat dibaca kalau lelaki berada dekat dengan wilayah ketuhanan, sedangkan perempuan akrab dengan lingkaran setan! Aristoteles pun mengamini skema Phytagoras ini. Dia menempatkan perempuan dalam oposisi yang berlawanan, superior dan inferior, pengatur dan yang diatur, jiwa dan tubuh, akal dan nafsu, makluk bebas dan budak. Lebih menyakitkan, Aristoteles meyakini bahwa semua contoh yang buruk dan tak sempurna tentang penciptaan dapat dilihat dalam diri perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemikiran modern sebenarnya mencoba menolak stigma-stigma di atas. Banyak filsuf modern mencoba membongkar watak budaya patriarki itu. Namun, budaya ini begitu kuat, bahkan menyebar dalam bentuk yang halus, tak disadari. Sylvia Walby bahkan mencatat invasi patriarki dalam dua bentuk, dari domain privat ke lingkup publik. Jika sebelumnya pelanggengan budaya patriarki melalui institusi keluarga dan agama, kini sudah menjalar ke spektrum yang lebih luas, negara.&lt;br /&gt;Dalam keluarga, dominasi lelaki tak perlu dijelaskan lagi. Melalui agama, contoh terbaik dapat dilihat dari tayangan  di televisi. Ceramah ustad gaul Jefri al-Buchori adalah salah satunya. Dalam salah satu "petuahnya" di &lt;I&gt;Trans TV&lt;/I&gt;, dia menganjurkan perempuan agar mengenakan jilbab. Dengan tersenyum dia umpamakan bahwa perempuan berjilbab seperti kue donat yang dibungkus plastik. Donat itu lebih sehat, tidak dipegang-pegang tangan iseng yang sebenarnya tidak berniat membeli. Nong Darol Mahmada menilai perumpamaan itu sebagai &lt;I&gt;qiyas maal fariq&lt;/I&gt;, umpama dengan sesuatu yang salah. Menyamakan perempuan dan donat sama dengan menganggap perempuan itu adalah benda mati tanpa pikiran dan akal budi, yang hanya akan diam jika dipegang-pegang. Apalagi, ini pengetahuan umum, donat yang paling mahal dan enak pun, dijual tanpa bungkus platik!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, perumpamaan seperti itulah yang secara jelas tampak merendahkan perempuan, dan acap memakai landasan agama. &lt;I&gt;Sinema Hidayah&lt;/I&gt; pun, memakai landasan agama. Bahkan, dengan percaya diri, memasang &lt;I&gt;tagline&lt;/I&gt;, "Sebuah Intisari Islam". Apakah intisari Islam adalah pengukuhan keyakinan bahwa perempuan adalah makhluk pendosa dan warga kelas dua? Yang hanya bisa pasrah, menangis dan berdoa, tanpa berbuat apa-apa? Jelas, itu adalah tentakel patriarkis yang berkedok ajaran agama. Dalam negara, contoh terbaru watak patriarki adalah Rencana Undang-undang Pornografi dan Pornoaksi. Di sini tampak, perempuan ditempatkan sebagai sumber dosa, sehingga harus ditutupi, diplastiki. Dianggap benda mati, dan tak pernah dipercayai punya akal-budi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;I&gt;Sinema Hidayah&lt;/I&gt;, celoteh presenter dan narator di "Insert", ucapan ustad gaul Jefri, menunjukkan bahwa &lt;I&gt;Trans TV&lt;/I&gt;, masih "mentransformasikan" nilai-nilai patriarkis tersebut, dan mengukuhkan mitos pendosa pada perempuan. Barangkali rating, slot iklan, dan "intisari Islam" bisa dijadikan alasan "transformasi" patriarkis itu. Namun yang tak bisa dipungkuri, seluruh acara itu menunjukkan bahwa alam pikir kita masih berada di masa lalu, di zaman Phytagoras dan Aristoteles. Pikiran yang belum tercerahkan. Betapa mengkhawatirkan! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;[Artikel ini telah dimuat di Harian &lt;I&gt;Suara Merdeka&lt;/I&gt;, Minggu 26 November 2006]&lt;/B&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10916372-116436331107673654?l=auliamuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/feeds/116436331107673654/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10916372&amp;postID=116436331107673654' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/116436331107673654'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/116436331107673654'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/2006/11/azab-dan-pedih-untuk-perempuan.html' title='Azab dan Pedih untuk Perempuan'/><author><name>sujud ilalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10916372.post-115830455603202719</id><published>2006-09-15T14:09:00.000+07:00</published><updated>2006-11-24T17:52:52.083+07:00</updated><title type='text'>Gibran, dan Moralitas Orang Tua</title><content type='html'>&lt;I&gt;Anakmu bukanlah anakmu. Mereka adalah putra kerinduan diri Sang Hidup. Melaluimu mereka ada, namun bukan darimu. Meskipun bersamamu, mereka bukan milikmu.&lt;/I&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/7213/864/1600/five%20vi.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/7213/864/320/five%20vi.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;Five V sesenggukan. Air matanya menggerus make-up di sisi hidungnya. Di depannya, di atas meja yang rapi tertata , terpajang tart dengan lilin menyala. "Untuk anakku, di mana pun kamu berada... selamat ulang tahun, ya..." Tangisnya kembali pecah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, Five V merayakan hari ulang tahun anaknya, Bilkis Emeliski. Namun, tak ada raut Bilkis di antara kerumunan itu. Mantan suami Five V, Iwan, membawa Bilkis usai perceraian mereka, dan tak pernah membolehkan artis cantik itu untuk menemuinya. Five V bahkan tak tahu di mana Bilkis berada. Padahal, Majelis Hakim Pengadilan Agama Jakarta Selatan memberi hal pada Five V untuk mengasuh Bilkis. "Ternyata, lewat hukum pun, dia tak merespon baik," tutur Five V di "Otista". "Ini sungguh &lt;I&gt;nggak fair&lt;/I&gt;. Kayak dia yang &lt;I&gt;ngelahirin aja&lt;/I&gt;," geramnya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Five V tidak sendiri. Zarima dan Jane Shalimar pun mengalami hal yang sama. Usai perceraian, anak mereka dijadikan sandera oleh mantan suami. Seperti Five V, Jane dan Zarima juga sudah berusaha sekuat tenaga untuk dapat memeluk buah hatinya. Apa daya, hanya tangis yang akhirnya mereka dapat. Kedua suami mereka merasa lebih berhak untuk mendidik sang anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uniknya, nasib ketiga wanita ini berbanding terbalik dengan Tamara Bleszinsky. Tamara justru merasa lebih berhak untuk mengasuh Rassya, buah cintanya dengan Rafly. Delapan bulan dia menghaki Rassya sendiri, dan membiarkan Rafly menempuh semua cara. Sampai akhirnya, di ujung bulan lalu Tamara "menyerah", dan bersedia berbagi asuh dengan Rafly, di kantor polisi, dengan berbagai kompensasi. Rafly lega, Rassya juga. "Yang terpenting sekarang membuat Rassya senang. Saya ingin mengembalikan delapan bulan yang hilang," ucapnya, sebagaimana tayang di "Insert" TransTV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Seteru pikir&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;I&gt;Berikan kasih sayangmu, tapi jangan paksakan pikiranmu. Sebab mereka berbekal pikiran sendiri. Berikan rumah untuk raganya, bukan jiwanya. Jiwa mereka adalah penghuni masa depan. Yang tak dapat kau gapai, meski dalam impian.&lt;/I&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dari kasus di atas --anak dianggap sebagai milik--, kasus Kiki Fatmala dengan Fatma Farida, Jonathan Frizy dengan mamanya, dan Dhani Ahmad dengan Eddy Manaf, lebih mencerminkan konflik antara orang tua dan anak. Tak heran, cap durhaka pun mampir kepada Kiki, Jonathan, dan Dhani. Meski, kalau mau dilihat dari perspektif lain, "orang tua" durhaka pun layak dicapkan untuk kasus ini. Fatma Farida yang menyumpahi Kiki, bahkan berikrar untuk tak rela dimandikan dan dikafani jika dia menjadi mayat nanti, dan mengungkapkan semua "keburukan" anaknya ke media, sulit untuk diterima dengan simpati. Demikian ibu Jonathan, yang ternyata tak membantah telah "lupa" atas diri anaknya, membuat pemirsa mulai ragu tentang mitos kasih seorang ibu. Perseteruan Dhani dan Eddy apalagi. Keduanya memakai bahasa yang sama, untuk mengungkapkan kemarahan mereka. Tapi, lebih daripada persoalan "siapa mendurhakai siapa", untuk kasus Dhani dan Eddy, kita dapat menilainya dengan kacamata yang lebih jernih, menisik akar persoalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah Dhani-Eddy bermula dari kabar kawin siri. Eddy tidak setuju dengan hal itu. Di tayangan awal kasus itu, dengan santai pria tua ini berkata, "Saya sayang sama tiga cucu saya, pintar-pintar dan tampan-tampan. Bagi saya, hanya Maia itu menantu saya. Jadi, saya tidak akan merestui jika Dhani mau kawin lagi." Barangkali, akar masalah ini yang tidak "diinvestigasi", "diinsert", "disilet" oleh media teve, ketidaksetujuan Eddy jika Dhani sampai kawin lagi. Dan, sikap "politik" itu yang kemudian memicu pertengkaran antara keduanya, setelah Dhani mengirim SMS, "Urus saja kepentingan Papa sendiri..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akar masalahnya di situ, perbedaan pandangan. Dhani, di "Lepas Malam" &lt;I&gt;TransTV&lt;/I&gt; dengan santai berkata, "Yang penting jangan berzinah, jangan memfitnah." Dan satu lagi, seperti Eddy, media pun tak dapat "membaca" Maia, istri Dhani, yang tenang, diam, dan tertawa, ketika diimpit gosip itu. Dan di sinilah kita dapat melihat, Eddy masih menganggap Dhani adalah miliknya saja, bukan milik Maia, atau Joice, istrinya. Dhani adalah anaknya, kepunyaannya. Dan sebagai milik, anak harus dapat dikendalikan, diarahkan, dijaga, karena selalu dianggap belum dewasa. Ini pandangan yang umum, dan masih menjadi "arus utama moralitas" masyarakat kita. Karena itu juga, media pun bersikap sama. Tak heran jika akhirnya, "pertengkaran pikiran" itu dimaknai sebagai kedurhakaan. Stigma yang terlalu terburu dan kejam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Moral tua&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;I&gt;Engkau dapat menjadi seperti mereka. Tapi jangan buat mereka menjadi seperti kamu. Sebab kehidupan tidak surut, dan tiada tinggal bersama kemarin. Engkaulah busur, dam mereka anak panah yang meluncur.&lt;/I&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/7213/864/1600/tamara.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/7213/864/320/tamara.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;Dari ragam peristiwa di atas, kita dapat melihat bagaimana "ambiguitas moral" media, terutama televisi. Dapat dikatakan, untuk tiap acara, teve punya ukuran moral yang berbeda. &lt;I&gt;TransTV&lt;/I&gt; misalnya, memakai "moralitas longgar" untuk tayangan "Fenomena" atau "Penjaga Pantai" , dan "moralitas ketat" untuk tayangan "Cerita Sore". Karena itulah, di "Fenomena", seks bebas dan segala variasinya, dianggap sebagai gaya hidup metropolitan. Ditayangkan tanpa sinisme, kecaman, atau makian. Presenter berada di tapal netral, dan terkadang memaklumkan. Di "Cerita Sore" sebaliknya. Tak ada tapal netral. Semua jelas, hitam atau putih, dosa dan pahala. Anehnya, untuk "infotainmen" semua teve memakai moralitas yang sama, keketatan atau "moralitas orang tua".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan "moralitas orang tua" adalah ukuran nilai yang telah mapan dan terus dimapankan, sebagai model yang dipercayai menjadi jaminan untuk mendapatkan kepastian di dalam hidup. Karena itu juga, nilai ini dianut oleh banyak orang, dimitoskan, diwariskan, dan dijaga. Nyaris menjadi sebuah kemustahilan untuk mengevaluasi moralitas tua ini. Anak sebagai milik adalah salah satunya. Ucapan untuk bayi yang baru lahir, "semoga menjadi anak yang berbakti pada orang tua, bangsa, negara..." menegaskan hal itu. Bahkan sebelum hak untuk dibesarkan dalam kasih sayang dinikmati si anak, "kewajiban" baginya telah diikatkan. Anak dan orang tua tak dapat dipisahkan. Dalam moralitas ini, orang tua yang justru menjadi beban bagi anak, membebani si anak. Contohnya, tampak di "Dorce Show", yang menampilkan anak-anak Krisdayanti, Ruth Sahanaya, dan Ikang Fauzi-Marisa Haque. Di akhir acara, Dorce "menguji" mereka, apakah dapat bernyanyi seperti orang tuanya. Anak Uthe bernyanyi gemilang, demikian juga anak KD, dan Ikang. Penonton bertepuk tangan. Tapi, lihatlah, apa yang mereka tampilkan hanyalah kemampuan teknis bernyanyi, bukan ekspresi diri. Bukan sebagai ekspresi, di panggung itu, mereka pasti tersiksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Moralitas orang tua memang menghilangkan suara anak. Itu juga yang terjadi pada Rassya, anak Tamara. Suaranya tak pernah didengar. Kalau pun didengar, dianggap tak ada. Kalau pun ada, dianggap tak punya harga. Rassya, bagi Tamara, adalah miliknya. "Dalam kasus ini, sudah waktunya kami mendengar suara anak. Kami tanya pada Rassya, dia mau ikut siapa? Dia memilih di sini, bersama ayahnya. Ini menunjukkan, fundamen pergaulan Rassya dan Rafly cukup kuat. Meski sudah 8 bulan tidak bertemu, sehari bersama, dia sudah memiliki lagi ikatan bersama ayahnya," kata Iqbal Anshori dari Komnas HAM anak, di "Insert" (4/9), yang mencoba mendengar keinginan Rassya. Berapa banyak infotainmen yang berpikir untuk ikut "menyuarakan" suara Rassya? "Mempercayai" juga suara Dhani, Della Puspita, dan Kiki Fatmala? Dan tidak hanya menggemakan suara serta kesakitan orang tua, dan membuat gaung suara itu sebagai "kebenaran"? Kita tahu jawabnya, karena infotainmen sebenarnya manisfestasi dari kecemasan orang tua. Tak heran, di tayangan itu, kita acap lihat orang tua yang merasa jera dengan kelakuan anaknya, dan melabelinya dengan kata durhaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, "Setiap anak," kata Tagore, "selalu membawa pesan bahwa Tuhan belum jera dengan manusia." Padahal, "Tuhan mengasihi anak yang panah yang melesat," ucap Gibran, "juga mengasihi busur panah yang mantap." Tapi kenapa, akhir-akhir ini, sebagai orang tua, kita seperti melupakannya....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[&lt;B&gt;Artikel ini telah dimuat di Harian &lt;I&gt;Suara Merdeka&lt;/I&gt;, Minggu 17 September 2006&lt;/B&gt;]&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10916372-115830455603202719?l=auliamuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/feeds/115830455603202719/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10916372&amp;postID=115830455603202719' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/115830455603202719'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/115830455603202719'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/2006/09/gibran-dan-moralitas-orang-tua.html' title='Gibran, dan Moralitas Orang Tua'/><author><name>sujud ilalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10916372.post-115770282859726439</id><published>2006-09-08T15:01:00.000+07:00</published><updated>2006-09-15T14:20:21.316+07:00</updated><title type='text'>Cinta dan Kebohongan Situasional</title><content type='html'>Cinta dirawat dan dipertahankan bukan saja oleh kejujuran, melainkan juga oleh kebohongan-kebohongan kecil, yang tak dapat diungkapkan, yang terpaksa disimpan untuk kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/7213/864/1600/kabel-dogol.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/7213/864/320/kabel-dogol.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt; "Plakk!!" Tamparan keras mendera pipi kiri Ricky, yang wajahnya masih pias, terkejut dengan kedatangan Ima, kekasihnya. "Jadi, begini ya kerjaan kamu di studio? Bersama perempuan lain?!" pekik Ima. Ia marah. Tapi lihatlah matanya, basah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ricky panik. Ia tergeragap, kehilangan kata-kata. "Ya.. mem.. memang begini ini, begini kerjaku?" Dan dia makin pucat ketika melihat lelaki di belakang Ima, pria tinggi-tambun, Danu, ayah Ima, calon mertuanya. Di belakang dan di samping Danu, tampak Yulia Rachman yang tersenyum, dan Joe Richard yang cengengesan. Ricky bahkan seperti tak menyadari Uya yang telah berjaga di sampingnya. Perlu beberapa waktu sampai Ricky menyadari apa yang tengah menimpanya. Ia sempat tampak emosi, dan mengacungkan telunjuknya pada Joe Richard, tapi Uya menghelanya ke luar studio. Sebelum berlalu, kata-kata Danu masih menghajarnya, "Hey, jangan pernah lagi berani kau injak rumahku!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah klimaks "Playboy Kabel" Sabtu (2/9), &lt;I&gt;reality show&lt;/I&gt; yang berusaha "membuka" kegombalan pasangan cinta sang "pelapor". Dan, tayangan Sabtu itu terasa istimewa, karena untuk kali pertama, pelapor adalah orang tua dari pasangan yang tengah berpacaran, Danu. Biasanya, kecurigaan datang dari salah satu pasangan, dan bukan orang tua. Tapi Danu berbeda. Dia menilai Ricky tak pantas untuk Ima. "Saya pernah melihatnya bersama perempuan lain di mal," adunya pada Yulia Rachman. Dan untuk membuktikan ketaksetiaan itulah, dia mengajak Ima menghubungi "Playboy Kabel". Dan "terbukti", Ricky memang "tak setia". Yulia mengamini keyakinan Danu itu, dengan "firasat orang tua memang banyak benarnya."&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Godaan Bohong&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai &lt;I&gt;reality show&lt;/I&gt;, "Playboy Kabel" sejauh ini berhasil membuktikan asumsi umum bahwa lelaki memang makhluk yang paling tidak dapat dipercayai. 99% dari lelaki dan perempuan yang diuji "setia" dalam tayangan itu, gagal. Lucunya, kegagalan itu nyaris dengan alasan yang sama. Kepada sang penggoda, mereka mengaku belum memiliki pasangan. Padahal, di ruangan lain, pasangannya tengah menatap kamera tersembunyi, dan menangis, melihat ketidaksetiaan itu dipertontonkan. "dasar cowok tidak tahu diuntung!" umpat salah seorang pelapor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tayangan itu juga, kadang tersibak beberapa kasus yang "ajaib". Lelaki yang ternyata &lt;I&gt;nyambi&lt;/I&gt; menjadi gigolo, hanya ingin mendapatkan harta dari pasangannya, atau bahkan yang ternyata gay. Realitas ini kadang membuat penonton terperangah. Apalagi melihat "Pelapor" tersedu menyadari kekasihnya ternyata seorang gigolo, mata duitan, atau diam-diam, gay. Namun di luar kamera "Playboy Kabel", kesakitan tentu milik para lelaki yang terungkap "motifnya" itu. Andy yang gay misalnya, seperti apa dia menjalani hidupnya kemudian, ketika kamera menayangkan pengakuan tentang orientasi seksnya itu. Pasangannya pun, setelah keterungkapan, dan kelar dari kejut, memeluknya dan menangis. Barangkali ia sedih karena mencintai lelaki yang ternyata gay. Barangkali juga, ia menyesal, telah membuka orientasi seksual lelaki yang dia cintai itu kepada publik, yang sampai saat ini menganggap ke-gay-an adalah sebuah aib. Padahal, "Pelapor" mengungkap jati diri pasangannya secara detil, mulai nama, kuliah di mana, sampai tempat tinggal. Kamera yang acap &lt;I&gt;close-up&lt;/I&gt; pun membuat penonton dapat mengingat wajahnya. Sekarang, bayangkan akibat untuk kasus lelaki yang terungkap sebagai gigolo?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lucunya, "Playboy Kabel" telah membuat tiga kategori untuk para "pemain" dalam tayangan ini. Pertama adalah "pelapor", lalu "korban", dan "penggoda". Penggoda, dengan arahan tim "Playboy Kabel" akan merancang skenario untuk menguji kesetiaan "korban". Namun, yakinlah, seluruh struktur acara ini seakan menegaskan satu tujuan, "penggoda" harus berhasil menjalankan misinya. Maka, penggoda wajib lebih cantik dan seksi daripada "pelapor". Lebih genit, dan sangat agresif. Keagresifan yang dapat disamakan dengan gaya pedagang asongan menjajakan barang. Bayangkanlah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/7213/864/1600/yulia_rahman.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/7213/864/320/yulia_rahman.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt; Kasus Ricky misalnya. Penggoda bertubuh sangat sintal, dan wanita matang, berbeda jauh dari Ima. Sangat agresif, manja, bicara dengan mendesah-pasrah, bahkan tak risi memberikan ciuman. Agresivitas yang bukan saja dapat mengguncang kesetiaan, melainkan juga struktur iman. Jika Ricky tergoda, dan saat ditanya mengaku belum memiliki pacar, bukan sesuatu yang mengejutkan. Kebohongan Ricky adalah jenis kebohongan yang lahir dari "situasi" yang memang diciptakan, dan "memaksanya". Kebohongan yang, mungkin, lahir lebih bukan sebagai upaya mencari keuntungan diri semata. Karena, di depan perempuan yang demikian agresif, pasrah, mengaku suka, dan ketika dia bertanya, "kamu punya pacar, &lt;I&gt;nggak&lt;/I&gt;", lelaki mana pun akan berpikir dua kali untuk menjawab, "punya!" Pikiran pertama adalah, kalau dijawab jujur, tentu perempuan ini akan kecewa, malu, dan terluka. Kelak, lepas dari situasi ini, akan bisa dijelaskan semuanya. Pikiran kedua, "Masa sih &lt;I&gt;gue&lt;/I&gt; harus jujur di depan kesempatan yang tidak akan datang dua kali??" Itu kebohongan situasional. Dalam kondisi itu, kebohongan tidak mengindikasikan bahwa Ricky telah mendua hati, dan tak lagi cinta pada Ima. Kebohongan yang lahir karena jebakan, sepatutnya dimaafkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalannya akan berbeda tentu, jika seorang perempuan yang seperti Ima, datang tanpa pendekatan yang intens dan agresif, lalu bertanya pada Ricky, apakah dia memiliki kekasih. Jika situasinya seperti itu, Ricky pasti menjawab jujur. Kejujuran yang juga diciptakan oleh situasi. Itulah sebabnya, "Playboy Kabel" telah menerakan label "Korban" untuk si terlapor. Label yang sudah diciptakan bahkan sebelum terungkap "kebohongan" situasional tadi. Ricky dan lelaki lain yang pernah menjadi terlapor, adalah korban. Dan seharusnya, simpati untuk mereka, yang dijebak dalam situasi yang direkayasa, untuk memaksa mereka berbohong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Makna Setia&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai &lt;I&gt;reality show&lt;/I&gt;, "Playboy Kabel" memang berpihak pada realitas yang selama ini dipercayai, lelaki adalah makhluk yang tidak setia. Karena itu jugalah, kesetiaan pada pasangan diukur dengan parameter yang sangat sederhana, kejujuran. Jika kejujuran berhenti, kesetiaan pun padam. Cinta pun usai. Padahal, kesetiaan seperti inilah yang dikecam filsuf cinta Gabriel Marcel. Bagi Marcel, kesetiaan bukanlah aktivitas yang tidak mengenal henti. Bukan pula ketahanan menghadapi godaan. Marcel dalam &lt;I&gt;Homo Viator: Introduction to A Metaphysic of Hope&lt;/I&gt; mengatakan, "seseorang disebut setia jika memiliki kehendak untuk terus memelihara hubungan pribadinya dengan orang lain. Sikap setia itu dia tunjukkan untuk terus memperbarui komitmen kesatuannya dengan orang lain." Itulah yang oleh Marcel disebut kesetiaan yang kreatif, yang tetap teguh dan mampu menciptakan kembali ikatan persatuan yang mungkin telah retak. Kesetiaan adalah kekuatan untuk menjaga, membimbing, menghadirkan ikatan, ketika ada komitmen yang terciderai. Di situlah tampak, kesetiaan tidak otomatis gugur hanya karena sebuah kebohongan karena ukurannya adalah keinginan untuk tetap terikat selepas kebohongan itu terungkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, jika mengikuti pendapat Marcel, ujian kesetiaan justru lebih pada pihak "pelapor" daripada "korban". Apakah si pelapor masih setia untuk tetap memperbaharui keterhubungan dan ikatan itu, ketika dia melihat pasangannya "berbohong". Kesetiaan adalah energi maaf yang berusaha menarik kembali pasangan kita untuk berada di dalam komitmen yang sama, seperti sebelumnya. Kesetiaan adalah kebersediaan untuk menerima kembali "sang korban".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya, ukuran kesetiaan Gabriel Marcel ini yang paling tepat untuk menilai "Playboy Kabel". Apalagi, tidak hanya lelaki, perempuan yang menjadi "korban" pun selalu gagal di acara ini. Tergoda lelaki yang lebih tampan, kaya, dan romantis. Artinya, dengan melihat betapa sedikitnya persentase "kejujuran" yang dapat dibuktikan dalam acara itu, dapat ditarik kesimpulan bahwa kebohongan adalah sebuah hal yang menjadi mungkin ketika seseorang didudukkan dalam kondisi tertentu. Dan kebohongan situasional itu tidak pararel dan cocok sebagai ujian kesetiaan. Karena, saya percaya, jika Pak Danu, ayah Ima yang dijadikan "korban" dan digoda, dia pasti akan bertindak lebih jauh daripada yang dilakukan Ricky.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, masalahnya tidak terletak pada "sang korban", melainkan pada rekayasa yang membuat sebuah dusta terpaksa tercipta. Karena, cinta dirawat dan dipertahankan bukan saja oleh kejujuran, tapi juga oleh kebohongan-kebohongan kecil, yang tak dapat diungkapkan, yang terpaksa disimpan untuk kebaikan....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;[Artikel ini telah dimuat di Harian &lt;I&gt;Suara Merdeka&lt;/I&gt;, Minggu 10 September 2006]&lt;/B&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10916372-115770282859726439?l=auliamuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/feeds/115770282859726439/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10916372&amp;postID=115770282859726439' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/115770282859726439'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/115770282859726439'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/2006/09/cinta-dan-kebohongan-situasional.html' title='Cinta dan Kebohongan Situasional'/><author><name>sujud ilalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10916372.post-115571335954427823</id><published>2006-08-16T14:23:00.000+07:00</published><updated>2006-09-08T19:57:57.783+07:00</updated><title type='text'>Perlawanan Tanda Ahmad Dhani</title><content type='html'>Di atas panggung "Indonesian Idol" itu, Ahmad "Dewa" Dhani "melawan" infotainmen dengan senyuman. Dia memakai kaos hitam, dengan tulisan besar "HARAM" di bagian depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/7213/864/1600/dewa.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/7213/864/400/dewa.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt; Dhani memang melawan dengan diam. Hanya kepada orang tuanya, sebagaimana yang terus diberitakan infotainmen saat itu, dia memberikan "perlawanan" nyata, mengirimkan SMS-SMS yang kasar, sangat-sangat menunjukkan kemarahan dan keterlukaan. SMS yang memang seharusnya tidak "pantas" ditujukannya kepada Eddy Manaf, ayah kandungnya. Sampai kakak tirinya, Dadang S Manaf merasakan bahwa ada yang salah ketika membaca SMS itu. "Pasti ada komunikasi yang salah..." terangnya sebagaimana tampak di "Espresso" &lt;I&gt;Anteve&lt;/I&gt;. Tapi, Dadang sendiri tidak begitu kaget dengan pertengkaran orangtua dan anak itu. Di matanya, Dhani dan Eddy adalah sosok yang sama. Menurut Dadang, ia biasa melihat kedua orang itu berbeda pendapat, dan menyampaikan perbedaan itu dengan sangat terus-terang. "Mirip pertengkaran lawan politik," saksinya. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski begitu, Dadang tak berani menyalahkan siapa pun. Ia hanya berharap, sebagai anak, Dhani mau mengalah dan memahami sikap ayahnya, sebagai tanda sayang. Apalagi, jika Dhani terus "melawan", menurutnya, itu sama seperti melawan diri sendiri. Karena di mata Dadang, Dhani dan Eddy itu memiliki karakter yang sama. "Dhani, ingat... Papi sudah tua, sudah sakit-sakitan..." katanya cemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat Dadang ini, sayangnya, jarang sekali dikutip infotainmen. Sepanjang ikutan saya atas "gosip" nikah siri Dhani-Mulan, hanya "Expresso" dan "Insert" &lt;I&gt;TransTV&lt;/I&gt; yang mengutip pendapat Dadang dengan kelengkapan sejarah "pertengkaran" mereka, dengan pendapat yang tidak menyudutkan Dhani. Selebihnya, infotainmen bereuforia memberitakan kabar nikah siri dan "kedurhakaan" itu dengan Dhani sebagai "terdakwa". Informasi atau tanggapan balik yang sangat minim, bahkan nyaris tak ada dari Dhani, atau duo Ratu Maya dan Mulan, membuat citranya nyaris habis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dhani bukan artis sembarangan. Ingat, Yudhistira Masardi pun dia "lawan" dalam kasus pemakaian judul "Arjuna Mencari Cinta" di dalam album terdahlulunya. Bahkan, orangtuanya pun dia "lawan", sebuah sikap yang agaknya akan menjadi "antiklimaks" dari citranya selama ini yang, meski arogan, tapi tampak cukup mengerti agama, orang tua yang santun bagi anak-anaknya. Maka, agak mengherankan jika infotainmen pun tidak dia lawan, kabar nikah siri itu tidak dia bantah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Perlawanan Tanda&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, Dhani tetaplah Dhani, dan ia memang melawan, --tidak dengan caranya yang biasa, cenderung frontal-- dengan menggunakan tanda. Tanda yang paling jelas, adalah penampilan Dewa dalam ajang spektakuler "Indonesian Idol" tiga besar, Dirly, Gea, dan Ihsan. Di penampilan pertama Dewa, saat melantunkan lagu "Larut" Dhani tampil biasa, berada di belakang &lt;I&gt;keyboard&lt;/I&gt;. Tapi saat lagu kedua, "Sedang Ingin Bercinta" yang memang biasanya Dhani yang melantunkan, dia telah mengenakan kaos legam dengan tulisan "HARAM" di bagian dada. Lagu rancak itu, yang memaksa Titi DJ dan Indy Barens turut bergoyang, membuat kamera selalu menampilkan aksi Dhani. Akibatnya, teks "HARAM" itu pun selalu tayang di layar kaca. Sebuah sikap yang tampaknya dinyatakan Dhani sebagai dukungan atas fatwa haram Nahdhatul Ulama (NU) terhadap isi infotainmen yang hanya memberitakan kejelekan artis. Di atas panggung itu, dengan gitarnya, Dhani bergerak, berkeringat, dan tersenyum. Ia seperti tengah menikmati "kemenangannya" atas hak pribadinya yang "Sedang Ingin Bercinta" dari sorotan kamera. Dhani melawan infotainmen tidak dengan cela atau makian, tapi dengan tanda, tanda yang sangat nyata. Dan, sebenarnya, itu bukan perlawanan Dhani yang pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauh sebelum fatwa haram itu turun, ketika masih menjadi sorotan atas kasusnya yang "mendurhakai" Eddy, Dhani juga melawan rentetan berita "kedurhakaan" itu dengan tanda, sinyal yang sangat halus, tapi mengena. Perlawanan itu dia tunjukkan dengan "kelembutan" yang biasa, sebuah tangisan. Ya, Dhani menangis saat tampil dalam acara "Lelaki Pilihan" di &lt;I&gt;RCTI&lt;/I&gt;, tapi bukan tangis penyesalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lagu ini saya persembahkan untuk Mama Joice, yang telah mengenalkanku bagaimana menikmati dan menciptakan lagu-lagu indah," katanya, yang tampil sebagai penutup acara. "Mama Joice, silakan naik ke panggung..." Lalu kamera menyorot perempuan paro baya yang masih tampak cantik, dengan slayer lebar menggantung, yang diminta Dhani duduk di kursi panjang yang telah ada di pentas. Begitu Joice duduk, Dhani pun melantunkan "My Way", lagu yang kata Dhani merupakan kesukaan mereka berdua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan lihatlah. Baru saja satu bait lagu itu dilantunkan Dhani, mata Joice sudah basah. Dhani yang bernyanyi dengan sepenuh perasaan, membuat berkali-kali perempuan itu mengenakan slayernya untuk membendung airmata. Mama Joice terisak, pundaknya tampak bergetar. Di depannya, anaknya, bernyanyi tanpa memandangnya, nyanyian seperti rintihan, dikumandangkan dengan mata terpejam, "ini jalanku... jalan yang kupilih..." Dan, sebelum lagu itu berakhir, Dhani berjalan memutar, lalu di depan ibunya, dia bersimpuh, dia rangkul kaki ibunya, dia benamkan kepalanya ke pangkuan sang ibu yang mengelusi rambutnya, tangis Dhani pecah. Dhani menangis! Ini sesuatu yang tak terduga, sangat, sangat, tak terduga. Dan lihatlah, dengan senggukan yang jauh lebih keras, Joice merangkul anaknya, demikian ketat, lalu menarikkannya untuk berdiri. Dengan suara serak, mata basah, Dhani mengakhiri lagunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidakkah itu tangis perlawanan? Di tengah sorotan tentang kedurhakaan kepada ayahnya, Dhani menunjukkan bahwa ibunya dan dia tak ada masalah. Mereka demikian dekat, bertangisan, sebagai sebuah pengertian bahwa Dhani telah "memilih" jalannya. Bahwa "kedurhakaan" itu adalah sebuah sikap, yang betapa pun pedihnya, harus dia ambil. Dan Dhani menunjukkan, dengan ibunya, dia justru bersujud, dia menangis, dia tetaplah seorang anak, anak yang tahu bagaimana berbakti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Tentang Surga&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/7213/864/1600/dewa3.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/7213/864/400/dewa3.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt; Tak cukup sampai di situ, Dhani juga "melawan" sampai ke tingkat yang paling esensial menyangkut kedurhakaan itu. Untuk perlawanan ini, Dhani memakai "jurus" andalah pengarang silat Cina Kho Ping Hoo, "meminjam tenaga lawan". Dia tak menyuarakannya sendiri. Dia memakai acara "Request with Chrisye" di &lt;I&gt;SCTV&lt;/I&gt; sebagai medan tanda. Acara yang disiarkan secara &lt;I&gt;live&lt;/I&gt; itu kebetulan bersamaan jam dengan "Indonesian Idol" saat Dewa tampil sebagai bintang tamu, Jumat (4/8). Sebagai salah seorang yang pernah bekerjasama dengan Chrisye, Dhani seharusnya tampil juga di SCTV, dan karena berhalangan, dia dimintai komentar secara langsung melalui telepon oleh Nirina. Dan, inilah jawaban Dhani. "Maaf Nirina, aku tidak begitu jelas suara kamu. Tapi aku request lagu "Jika Surga dan Neraka tak Pernah Ada". Pesanku kepada penonton agar mau mendengarkan syair lagu itu baik-baik, dan memahami maknanya. Itu aja, terimakasih...." Dan, karena Chrisye yang belum terlalu fit, lagu itu pun tampil dengan klip, duet Dhani-Chrisye.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sinilah dapat dibaca, Dhani masih melakukan "perlawanan". Jika kedurhakaan selama ini dimaknai sebagai tanda telah tertutupnya pintu surga sampai ada ampunan dari orang tua, Dhani menunjukkan pikiran yang berbeda. Bagi Dhani, melalui lagu itu, bakti dan sujud pada Tuhan, menjalankan ibadah agama, berbakti kepada orang tua, bukanlah sebuah jalan dengan pengharapan akan surga. "Jika surga dan neraka tak pernah ada... Masihkah kau, sujud kepada-Nya..." dia melantunkan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagu Dhani itu jelas disemangati oleh zuhud Rabiah al-Adawiyah, yang terkenal dengan doanya, "Tuhanku, jika sujudku karena takut akan neraka-Mu, maka bakarlah aku di dalam api-Mu. Dan jika aku beribadah hanya karena mengharap surgamu, maka tutuplah rapat-rapat pintu surgamu. Tapi bila ibadahku hanya karena mencari ridha-Mu, hanya karena Engkau ya Allah, maka janganlah kau tutupi keindahanmu." Senyawa bukan? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dhani memang tak mengatakan banyak. Ia hanya meminta penonton menyimak syair lagu itu. Tapi, dari situ, dari gestur tubuh dan suaranya, kita dapat membaca tanda, bahwa ada pesan yang ingin dia katakan, Tuhanlah yang maha mutlak, yang memiliki kebenaran, yang paling tahu siapa yang durhaka, siapa yang pantas masuk surga dan neraka. Dan hak itu, janganlah diambil alih oleh manusia...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;[Versi yang lebih pendek dan berbeda dari artikel ini telah dimuat di Tabloid &lt;I&gt;Cempaka&lt;/I&gt;, Rabu 16 Agustus 2006]&lt;/B&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10916372-115571335954427823?l=auliamuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/feeds/115571335954427823/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10916372&amp;postID=115571335954427823' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/115571335954427823'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/115571335954427823'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/2006/08/perlawanan-tanda-ahmad-dhani.html' title='Perlawanan Tanda Ahmad Dhani'/><author><name>sujud ilalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10916372.post-115527657726538396</id><published>2006-08-11T13:01:00.000+07:00</published><updated>2006-09-08T20:01:36.043+07:00</updated><title type='text'>Gusti Randa dan Imajinasi Fakta</title><content type='html'>Ketika fakta dibekap citra penguasa, Gusti Randa memainkan "fiksi" untuk mengungkapkan semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/7213/864/1600/duh%20gusti3.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/7213/864/400/duh%20gusti3.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Begitulah. Untuk kesekian kali, sinetron &lt;I&gt;Selebriti Juga Manusia&lt;/I&gt; digugat. Gugatan yang kali ini tidak main-main. Barisan Muda PAN mendatangi TransTV dan menuntut penghentian tayangan sinetron itu. Alasan mereka gampang diduga, sinetron yang mengangkat kisah hidup Gusti Randa-Nia Paramitha dalam episode "Selingkuh, Politik, dan Penjahat Kelamin" itu menghina PAN, terutama mendiskreditkan Ketua Umum Sutrisno Bachir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak mengagetkan. Sejak tayang pertama, yang mengangkat kisah hidup Cut Memey, &lt;I&gt;Selebriti Juga Manusia&lt;/I&gt; memang telah siap menghadapi masalah demikian. Sebelum tayang pun, pihak Indika menyatakan telah siap jika ada pihak yang keberatan. Namun, kesiapan Indika itu bukan berhadapan di pengadilan, melainkan membuatkan sinetron baru jika ada pihak yang keberatan dengan cerita yang ditayangkan. Maka, ketika Jackson Perangin-angin keberatan dengan cerita versi Cut Memey, Indika menawarinya Rp 50 juta, untuk cerita versinya. "Saya tolak. Saya tidak ingin menjelekkan siapa-siapa," ungkap Jackson.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita berdasarkan satu versi memang menjadi kelemahan utama &lt;I&gt;Selebriti Juga Manusia&lt;/I&gt;. Selain Jackson, Rhoma Irama, Yuma, dan Ferry juga pihak yang dirugikan oleh cerita yang hanya berdasarkan versi dari mantan istri mereka. Karena satu versi, acap cerita menjadi berbeda jika dibandingkan dengan "kisah" yang sebelumnya marak di infotainmen. Kisah Andara Early misalnya, yang selama ini dalam tiap infotainmen dikabarkan sebagai istri yang tak setia, berselingkuh, dan memiliki anak bukan dari benih suaminya, menunjukkan "fakta" berbeda. Ternyata, perselingkuhannya adalah wujud balas dendam dari per
