<$BlogRSDURL$>
...tera di sesela gegas-gesa
Friday, July 08, 2005

[biografi] Revolusi Dimulai dari Kata-kata

Langit sore 19 April 1998, di atas Palace of Fine Arts, Meksiko City, berwajah muram. Di sisi sebuah peti mati, Ernesto Zedillo, Presiden Meksiko, menundukkan kepala, mulutnya berguman, mirip lantunan doa. Di sekelilingnya, orang-orang terdiam, menunggu pidatonya. Sore yang pasti akan segera penuh tangis.

Pengarang terkenal Kolombia, Gabriel Garcia Marques pun berwajah layu, menebuk pundak dan menghibur seorang perempuan tua, Marie-Jose Tramini, yang hari itu resmi menjadi janda. Di peti mati itulah, suami tercintanya, penyair paling masyur di Meksiko, Octavio Paz, terbujur.

"Selama setengah abad kita dipercaya dan dijaga oleh pemikiran dan semangat Octavio Paz," kata Zedillo, dengan suara yang gemetar, "Tapi mulai kini, kita akan kehilangan keberadaan dia selamanya."

Para menteri, penulis, anggota Kongres, hakim, korps diplomatik, para walikota dan rakyat biasa kemudian memberikan penghormatan pada penyair itu. Mereka kemudian mengheningkan cipta dua menit. Peti mati ditutupi bendera Meksiko, dan jasad berusia 84 tahun itu yang tak lelah melawan kanker itu pun kemudian diangkat untuk dimakamkan.


Penentang keras rezim penindas

Paz lahir di Meksiko City tahun 1914. Kakeknya dari garis ayah adalah intelektual liberal yang amat disegani. Dan Paz kecil begitu akrab dengan kehidupan si kakek. Lewat perpustakaan kakeknya yang begitu dahsyat koleksinya, Paz bermain dalam cakrawala pustaka yang luar biasa. Ia bahkan sejak dini telah dikenalkan dengan sastra-sastra dunia.

Ayah Paz sendiri adalah jurnalis andal yang bergabung dengan grakan intelektual progresif, mendukung kaum tani di bawah pimpinan Emiliano Zapata. Ia memang diasuh dalam iklim intelektual yang keras, tapi bebas.

Sejak kecil, bakat Paz sudah menonjol. 1933, ia menerbitkan kumpulan puisi perdananya, Luna Silverstre, dan mengejutkan publik dengan puitikanya. Tak heran, empat tahun kemudian, di usia 22 tahun, dia telah diundang ke Valencia, Spanyol, mengikuti Kongres Internasional Kedua Penulis Antifasis.

Sepulang dari Kongres, Paz mendirikan Taller (workshop), sebuah majalah yang menandati lahirnya gerakan sastra baru di Meksiko. Di tahun 1937 itu pula, ia menikahi Elena Garro, yang ia cerai kemudian di tahun 1959.

Waktu pemerintahan Meksiko bergolak di awal 1940-an, Paz dan keluarganya menyingkir ke Meksiko, dan kembali setahun kemudian. Paz lalu melanjutkan kuliahnya jurusan Hukum dan Sastra di National University. Namun karena merasa panggilan kepenyairan lebih kuat, dia memutuskan berhenti.

1943, Paz memperoleh Guggenheim Fellowship untuk belajar di Berkeley. Dua tahun berikutnya, dia terlibat kegiatan diplomatik, dan dikirim ke Prancis. Di dalam perantauannya inilah, Paz melahirkan karya monumental tentang identitas orang Meksiko, The Labyrinth of Solitude. Ia juga bergabung dengan Andre Breton dan Menjamin Peret dalam gerakan dan publikasi sastra surealis.

Karier Paz sebagai diplomat terus meningkat. 1962, ia dikirim sebagai Duta Besar untuk India. Wilayah yang semula tak ia bayangkan ini, adat dan watak Ketimuran, mempengaruhi secara kental intelektual dan kepenyairan Paz. Dua bukunya, The Grammarian Monkey dan East Slope menjadi bukti keterpesonaan pada Timur itu.

1968, terjadi tindakan brutal pemerintah Meksiko pada demontrasi mahasiswa di Plaza Tlatelolco, sebelum Olimpiade berlangsung. Paz marah, dan mengundurkan diri dari kegiatan diplomatik.

Paz kemudian suntuk menulis puisi tentang masa kecil dan remajanya.

Paz kemudian mendirikan dua majalah yang didedikasikan untuk seni dan politik, Plural dan Vuelta, 1976, yang terbit sampai kini. 1980, ia memperoleh gelar dokter kehormatan dari Harvard University. 1981, ia memperoleh Carventes Award, penghargaan tertinggi untuk kalangan bangsa berbahasa Spanyol, dan 1982, American Neustadt Prize pun ia raih.

Keberpihakan politik Paz tampak dalam karyanya Corriente Alterna (1967), yang secara keras mengkritik demokrasi Barat. Bukunya yang lain, Posdata (1970), adalah kajian dan interpretasi atas sejumlah kegagalan politik Meksiko. Untuk sastra, bukunya Los Hijos del Limo (1974) dinilai tajam dalam menjelaskan sejarah puisi modern dari zaman Romantisme hingga 1960-an.

Ia juga mengkritik penggunaan ekonomi liberal yang dianut menghisap, dan mengakibatkan hubungannya dengan Pablo Neruda dan Marques, retak.

Selama hidup, Paz telah memublikasikan lebih dari 40 buku, dan setelah tiga tahun meninggal, karyanya masih meraih Jerusalem Prize, yang diyakini banyak orang akan ditolak Paz jika dia masih hidup. Ini karena Paz tak pernah mau bersahabat dengan pemerintahan yang menindas.

Paz memang tak pernah percaya pada kekerasan. Ia percaya kekuatan kata-kata. "Bagi saya, revolusi kata-kata adalah revolusi dunia."

[dikutip dari buku Bayang Baur Sejarah karya Aulia A Muhammad]