<$BlogRSDURL$>
...tera di sesela gegas-gesa
Sunday, July 24, 2005

Jangan Kau Ulangi Lagi, Farhan!

SETELAH meninggal dan berkesempatan bertemu dengan Tuhan, Ford segera menyombongkan dirinya. Ia membanggakan mobil Ford ciptaannya, yang nyaman, berseni tinggi, dan diselalu dipuji para desainer. Ia lalu mencela Tuhan yang tidak berseni ketika menciptakan perempuan. "Desainnya tak kreatif, terlalu banyak tonjolan di sana-sini," katanya. "Jarak antara pemasukan dan pembuangan terlalu dekat. Terlalu ribet dan cerewet. Dan yang utama, susah dirawat," celanya sambil tertawa.

Tuhan tersenyum. Lalu, dengan santai Dia berkata, "Tapi ente harus mengakui, ciptakan Gue lebih banyak "dipakai" dibanding ciptaan ente."

Anda pernah mendengar lelucon semacam ini? Ya, betul, Farhan mengutip lelucon ini dalam acaranya "Lepas Malam" Rabu (13/7) lalu. Dan karena cara bertutur Farhan yang luar biasa kocak, penonton pun menyambut lelucon itu dengan tertawaaan. Dan, tampaknya, sesi lelucon di awal acara ini menjadi "daya jual" tersendiri. Tak heran jika terkadang Farhan sampai harus menyisipkan tiga-empat lelucon sebelum memanggil bintang tamunya.

Dalam penampilan Rabu kemarin (20/7), setelah mengkritik anggota DPR yang tetap ingin naik gaji, Fahran pun kembali mengeluarkan jurus lucunya. "Ini masih menyangkut anggota DPR," katanya. Ia lalu bercerita, ada seorang wanita cantik dan seksi yang sedang bermain golf. Sialnya, bola yang dia pukul mengenai seorang anggota DPR yang juga sedang bermain di situ. Menjerit-jeritlah anggota Dewan ini, mengaduh sambil mengempitkan tangannya di paha (Farhan memvisualkan cerita ini dengan baik, meletakkan tangannya di selangkangan, sambil mengaduh-aduh). Karena takut, si wanita pun bertanya. "Maaf, Pak. Bisa saya urut?"

"Boleh.." jawab anggota DPR.

"Saya buka celananya ya, Pak?"

"Jangan!"

Perempuan ini tetap memaksa, akhirnya anggota DPR itu pun menyerah. Maka, diurutlah oleh si cantik selangkangan si bapak.

"Gimana Pak, enak kan?"

"Iya, eh-eh.. enak. Tapi sebenarnya yang kena bola itu tangan saya kok Mbak, bukan...."

Penonton di studio pun tertawa terpingkal-pingkal. Sekali lagi, Farhan menunjukkan betapa dia telah berhasil membuka sebuah acara dan memaksa seluruh perhatian penonton untuk tetap fokus padanya. Kemampuan yang saya kira, sangat sedikit dimiliki oleh puluhan presenter yang acap nongol di televisi. Tapi, menonton acara ini sejak kali pertama tayang, terutama joke-joke yang dilemparkan Farhan, saya menemukan semacam "penghinaan" terhadap perempuan. Cara yang juga dilakukan hampir oleh semua tayangan lawakan, meski dengan kekasaran yang lebih kentara.


Cantik = Bodoh

Acara komedi terbaru TransTV, Konak atau Komedi Nakal yang tayang tiap Jumat tengah malam misalnya, secara kasar mengambil tubuh dan kebodohan perempuan sebagai lelucon. Episode "Score Girl" (15/7) menampilkan kamera yang mengumbar paha dan belahan dada, dan visualisasi fellatio dengan pisang, diiringi remasan di sana-sini. Tayangan yang sebenarnya tidak berbeda dari sejenis "lawakan" film-film Dono Kasino Indro ini agaknya ingin menyaingi komedi "Nah Ini Dia..." di SCTV, yang menjual tubuh perempuan dan aroma kemesuman.

Namun, ibu dari semua lawakan pelecehan ini layak diberikan kepada Srimulat. Dalam tayangan yang pernah mendapat anugerah Panasonic Award ini, perempuan selalu menjadi objek pelecehan seksual, tidak hanya secara verbal, tapi juga fisik berupa remasan, lirikan, dan celotehan mesum. Dan bintang tamu yang biasanya selalu berpenampilan terbuka menerima itu sebagai bagian dari kesenangan dengan berteriak-teriak girang. Kini setelah bermetamorfosa menjadi "Ketawa Ala TransTV" dan "Srimulat in The City", resep ini tak juga lenyap. Tessa Kaunang bahkan menjadi artis yang acap mendapat porsi dilecehkan itu. Dan Tessy Kabul adalah pelawak yang paling sering menepuk pantat, meremas dan mencubit pinggang, tak hanya tubuh Tessa, tapi juga perempuan cantik pemeran pembantu, yang hanya bisa kaget dan menjerit-jerit. Sementara, ribuan penggemar Tessy yang menonton lewat teve pasti tertawa geli melihat aksinya yang selalu berimprovisasi dengan cara ngelaba seperti itu.

Anda masih mau contoh perempuan cantik yang pasti bodoh? Ini juga lelucon Farhan di "Lepas Malam".

Seorang perempuan cantik mendatangi dokter, dan mengeluhkan suhu tubuhnya yang panas. Si dokter yang tampan ini tersenyum, lalu menyelipkan termometer di mulut si cantik. Tapi ia kemudian menggeleng, "Hasilnya kurang pasti. Coba buka baju ibu, termometer ini harus diletakkan di ketiak," kata si dokter.

Setelah meletakkan di ketiak beberapa saat, kembali si dokter menggelengkan kepala. "Kayaknya harus di dalam anus, untuk mendapatkan tensi yang pasti, Bu." Dengan bodohnya si ibu cantik pun telanjang, dan mengikuti perintah si dokter untuk menungging. Tapi, betapa kagetnya si ibu, saat dia merasakan sesuatu yang aneh. "Dok, Dok, itu.. itu bukan lubang anus saya..." desisnya.

Dengan enteng si dokter pun menjawab, "Tenang Bu, ini juga bukan termometer saya, kok."

Farhan, Farhan....


Kontrol Pikiran

Fungsi lelucon memang sebagai pelipur lara. Atau, mengutip ahli lelucon James Dananjaya dalam buku Folklor Indonesia, lelucon adalah kisah-kisah yang dapat menggelikan hati sehingga menerbitkan ketawa bagi yang mendengar atau menceritakannya, meskipun yang menjadi bahan atau sasaran cerita dapat merasa sakit hati. Dan karena fungsinya sebagai hiburan, lelucon acap diletakkan di sela percakapan, rapat, dan talkshow seperti di "Lepas Malam". Namun, berbeda dari remasan dan aneka labakan ala Tessy, lelucon gaya Farhan memiliki watak pelecehan yang lebih tersamar, dan tanpa disadari, lebih sugestif. Dan karena itulah, lelucon lebih mampu menyembunyikan ideologi yang dibawanya untuk mendistribusikan imaji perempuan sebagai makhluk yang bodoh dan lemah. Hal itu sesuai dengan penelitian para pakar dalam American Psychoanalyst yang mengatakan bahwa lelucon atau humor lebih banyak menempatkan perempuan sebagai bahan dasar karena humor is a masculine trait, humor selalu berwatak maskulin. Humor selalu "dimiliki" lelaki.

Dengan dasar itu, dapatlah dikatakan humor selalu berhubungan dengan kekuasaan. Atau lebih spesifik lagi, seperti kata Susan Purdie dalam Comedy: The Master of Discourse, humor adalah sebuah alat kontrol pikiran untuk terus melanggengkan ide tentang superioritas lelaki dengan menempatkan inferioritas perempuan sebagai lawakan. Dan tahukah Anda apa akibat "terkecil" dari lelucon semacam itu? Psikolog Kanada Michelle Anderson dalam In the Price We Pay mengatakan bahwa lelaki yang suka mendengar, mengoleksi dan mendistribusikan materi humor seks semacam itu cenderung di dalam kehidupan sehari-harinya akan lebih mengamati tubuh perempuan yang menjadi lawan bicaranya daripada memperhatikan apa yang dikatakan perempuan tersebut. Hmmm....

Jadi Farhan, agar lelucon Anda pro seperti pro-nya iklan yang mensponsori acara Anda, cobalah untuk melucu di "Lepas Malam" tanpa harus meletakkan kebodohan dan kesialan perempuan sebagai bahan lawakan. Karena, meski kadang saya juga tertawa, tetap selalu ada yang terasa nyeri di dalam dada. Tolong, jangan lagi kau ulangi, Farhan!


[Artikel ini telah dimuat di Harian Suara Merdeka, Minggu 24 Juli 2005]

( t.i.l.i.k ! )

     

Thursday, July 21, 2005

[biografi] Yang Menapaktilasi Turunnya al-Quran

ISLAM tampaknya berutang banyak pada Arkoun, itu jika kata berutang boleh digunakan. Dialah yang secara jenial telah membuka cakrawala baru untuk memahami Islam lebih dalam, sempurna, dan tunduk. Al-quran ia telaah dengan begitu tajam, dan melahirkan kajian yang luar biasa, yang semula tak terpikirkan oleh nalar, atau tertutupi tafsir atas nama kepentingan.

Dengan memadukan atribut keilmuan modern dari de Sausure (lingustik), Levi-Straus (antropologi), Lacan (psikologi), Barthes (semiologi), Foulcault (epistemologi), Derrida (grammatologi), Ricour (hermeneutik), Arkoun menari-nari, membedah sejarah dan tafsir ayat, mendedahkan kajian yang luar biasa, bahkan, semula, kontroversial.

Ia misalnya, menapaktilasi "teknik" penyusunan surat dalam alquran, dan membetuk susunan baru, yang menurutnya, lebih bersih dan sinkronis. Surah pertama, Al-Fatihah, menurut dia, seharusnya berada dalam urutan ke-46, bukan surat pembuka pertama.

"Bagaimana mungkin kita mengatakan "Dengan nama Allah yang maha pengasih lagi penyayang," sebagai awalan, sementara kita belum diberi tahu siapa Allah itu, dan mengapa ia menjadi Tuhan semesta alam?" tanya Arkoun, sebagaimana dikutip St. Sunardi dalam makalah "Membaca Quran bersama Arkoun".

Bagi Arkoun, ayat pertama itu memerlukan "ayat pendahulu" supaya konteksnya bisa dimengerti. Arkoun menyadari bahwa bagi manusia sekarang kata Allah sudah diterima pengertiannuya secara makruf, par exellence. Tapi ketika surah itu turun di abad ke VII, harus ada rujukan yang jelas untuk memahami kata itu, juga kata arrahman. Dan kata itu baru bisa dimengerti jika diletakkan sebagai surah ke-46, yang 54 surat sebelumnya telah menerangkan dengan detil.

Ini memang telaah yang luar biasa, dan tentu, untuk sebagian ulama yang memandang alquran sebagai korpus yang tak tersentuh, kajian semacam ini dianggap tak pernah ada.


Iman yang tak guyah

Mohammed Arkoun lahir 1 Februari 1928 di Tourirt-Mimoun, Kabilia, Aljazair. Kabilia merupakan daerah pegunungan yang berpenduduk Barber, terletak di sebalah timur Aljir. Berber adalah penduduk yang tersebar di Afrika bagian utara. Bahasa yang dipakai adalah bahasa non-Arab.

Setelah Aljazair ditaklukkan bangsa Arab tahun 682, pada masa Kekhalifahan Yazid bin Muawiyah, dinasti Umayah, banyak penduduk yang memneluk Islam. Beberapa bahkan menjadi pasukan tempur penaklukan Spanyol di bawah Toriq bin Ziyad.
Gerakan Islam di Kabilia ini juga diwarnai nuansa sufisme. Mahdi bin Tumart dari dinasti Almohad pada abad ke-12 menggqabungkan ortodoksi Asy'arisme dengan sufisme. Ibnu Arabi, mahaguru sufi itu bahkan pernah berguru di daerah ini, pada Abu Madyan. Di situ berkembang tarekat Syaziliah, Aljazuliyah, Darqowiyah, Tijaniyah, dan lainnya.

Dalam lingkungan yang sarat dengan sufisme dan nuansa spiritual inilah Arkoun dibesarkan.

Kehidupan Arkoun yang mengenal berbagai tradisi kebudayaan ini merupakan faktor penting perkembangan pemikiran Arkoun. Ia secara intens akrab dengan tiga bahasa, Kabilia sebagai bahasa sehari-hari, untuk mengungkap tradisi Kabilia, Arab sebagai pengantar keagamaan dan kegiatan komunikasi di masjid, juga penghubung Aljazair dengan dunia Islam Timur Tengah, dan bahasa Prancis sebagai bahasa sekolah, juga pengantar untuk memahami problematika pemikiran ilmiah modern. Tiga bahasa itu juga mewakili cara berpikir dan memahami kompleksitas masyarakat di sana.

Setelah tamat sekolah dasar, Arkoun melanjutkan SMP ke kota pelabuhan Oran, kota Aljazair di bagian barat. Sejak 1950-1954, ia belajar bahasa dan sastra Arab di Universitas Aljir, sambil mengajar di sebuah sekolah SMU di al-Harrach, pinggiran kota Aljazair. Tahun 1954, ia menjadi mahasiswa di Paris. 1961, ia menjadi dosen di Universitas Sorbonne di Paris, dan meraih gelar doktor sastra tahun 1969. Sejak 1970 sampai 1972, ia mengajar di Universitas Lyon, dan kembali ke Sorbonne sebagai mahaguru sejarah pemikiran Islam.

Arkoun juga menjabat direktur ilmiah studi Islam terkenal, Arabica, juga memangku jabatan resmi sebagai anggota panitia nasional untuk Etika dan Ilmu Pengetahuan, Kehidupan dan Kedokteran. Belakangan ia menjabat sebagai direktur Kajian Islam dan Timur Tengah pada Universitas Sorbonne Nouvelle (Paris III).

Ia juga pernah menjadi dosen tamu di University of California di Los Angeles, Princeton University, Temple University di Philadelphia, Lembaga Kepausan untuk studi Arab dan Islam di Roma, dan Universitas Katolik Louvain-Neuve di Belgia. Ia pun sempat menjadi bahaguru tamu di Universitas Amsterdam.

Jabatan dan karier di atas menunjukkan posisi Arkoun yang tinggi untuk kualitasnya dalam sejarah pemikiran dan tafsir Islam.

Secara cemerlang Arkoun mengakui dirinya sebagai sejarawan-pemikir dan bukan sebagai sejarawan-pemikiran. Sejarawan pemikiran bertugas hanya untuk menggali asal-usul dan perkembangan pemikiran, sementara sejarawan-pemikir dimaksudkan sebagai sejarawan yang setelah mendapatkan data objekatif, bisa mengolah data itu dengan memakai analisa filosofis.
Proyek utama pemikiran Arkoun adalah "kritik atas nalar Islam". Ia menerbitkan penelaahan itu dalam buku yang luar biasa, Pour de la raison islamigue. Buku ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Arab menjadi al-fikri al-Arabiy al-Islami, Sejarah Pemikiran Arab-Islam.

Untuk menelusuri sejarah pemikiran Islam, layaknya arkeolog, ia menggali seluruh lapisan geologis pemikiran Arab-Islam, dengan pisau episteme Michael Foucoult, dan membagi tingkatan Arab-Islam klasik, skolastik, dan modern. Ia juga membagi medan taklid berpikir umat dalam kurun masa itu, kemudian memasukkan postulat kajiannya sebagai "yang terpikirkan", "yang tak terpikirkan", dan "yang belum terpikirkan".

Demi menjamah lapisan terdalam dari geologi pemikiran Islam, Arkoun pun menjamah jantung eksistensinya: Alquran, sunnah, dan Ushul. Bagi Arkoun, al-Quran tunduk pada sejarah. Ia melihat, karena banyaknya campurtangan "sejarah penguasa" dalam pembakuan al-Quran, banyak di dalam kitab itu sesuatu yang sesungguhnya "yang terpikirkan" berubah menjadi "yang tak terpikirkan".

Arkoun juga melihat ortodoksisme (paham yang selalu menekankan pada penafsiran nash-nash yang pasti benar, sehingga penafsiran pihak lain selalu salah, bid'ah), dogmatisme (pencampuran wahyu dan nonwahyu), sebagai "kotoran" dalam pemikiran Islam.

Sebagai sebuah kerja pemikiran, Arkoun sadar, telaah yang dia usahakan ini membutuhkan energi yang sangat besar. Dan Arkoun sendiri sadar, masih banyak sekali hal-hal yang harus ia "bersihkan". Ia memang sudah mengajukan satu teknik pembacaan al-Quran yang luar biasa, dengan metode semiotik. Ia juga telah berhasil menapaktilasi sejarah turunnya ayat, dan kemungkinan kesalahan dalam penyusunan. Ia bahkan siap jika suatu waktu tahu, ada kesalahan di dalam al-Quran karena "permainan" sejarah dan penguasa. Tapi, seandainya itu pun ada, "Iman saya tak akan guyah karenanya," kata Arkoun tajam, setajam jalan pemikirannya, yang sekilas, sangat susah dicerna.

[dikutip dari buku Bayang Baur Sejarah karya Aulia A Muhammad]

( t.i.l.i.k ! )

     

Friday, July 15, 2005

[esai] Cinta Lelaki, Cinta Wanita

"KUTUNGGU jandamu..." Barangkali ungkapan inilah yang menjadi dasar dari pembuatan sinetron di Indonesia. Ungkapan --yang lebih sering nampang di bak truk-- ini pula yang secara cantik diterjemahkan ke dalam film Gita Cinta dari SMA dan Puspa Indah Taman Hati, yang kemudian memopulerkan idola remaja saat itu, Rano Karno dan Yessi Gusman. Meski, waktu ditransfer ke dalam sinetron, gaungnya tak bergema lama, gaya tutur semacam ini ternyata menjadi mainstream sinetron kita.

Gaya tutur yang saya maksudkan adalah penggambaran tentang cinta lelaki yang begitu mendalam pada seorang wanita, sehingga siap melakukan apa saja untuk mendapatkannya. Satu adegan dalam sinetron Ngaca Dong dapat menjadi contoh. Sambil bersimpuh di paha ibunya yang usai menjalankan salat, Bejo berkata, "Ketulusan cinta saya inilah Bu, yang akan membuat Diva Savitri datang kepada saya. Restuilah saya, Bu. Restuilah...." Lalu, dengan mengelus kepala si anak, sang ibu berkata, "Iya, Ibu percaya. Berdoa saja pada Tuhan, Jo..."

Sinetron Ngaca Dong, menceritakan perjuangan seorang pesuruh kantor, Bejo (Tarjo Geng Ijo), untuk mendapatkan cinta seorang artis terkenal Diva Savitri (Catherine Wilson). Sinetron yang masih tayang di TransTV ini mempertontonkan kehebatan cinta dari seorang pria miskin dan kucel yang membuat dia melakukan hal-hal yang tidak terbayangkan, demi mendapatkan wanita idamannya yang sangat kaya, terkenal, dan cantik. Berbagai makian, cela, dan hinaan, dianggapnya hanya angin lalu. "Dia perempuan dan saya laki-laki. Dia cantik dan saya ganteng. Dia kaya dan saya calon orang kaya! Tidak ada masalah, kan?" begitulah keyakinan Bejo. Keyakinan yang tampaknya merupakan representasi dari lelaki-lelaki yang bekerja di balik kamera, sejak awal televisi dapat dinikmati.


Cinta Murni

Sinetron Harga Diri yang tayang di RCTI bertahun lalu misalnya, juga mengedepankan hal itu. Sinetron yang memasang Ari Wibowo dan Lulu Tobing ini menceritakan kisah yang sama dengan Ngaca Dong, cuma posisi yang miskin berada di tangan pihak perempuan. Dan, dengan usaha yang luar biasa, termasuk harus meninggalkan keluarga, cinta si lelaki dapat terwujud, meski si wanita sudah di depan penghulu, untuk menikah dengan lelaki lain. Kekuatan cinta lelaki yang membuat perempuan berani mengambil risiko, dan bukan sebaliknya.

Tuturan semacam ini terus dipertahankan oleh sinetron kita. Cerita Dari Temen Jadi Demen pun masih memakai formula yang sama. Toni (Jonathan Frizy) begitu mencintai Mona (Wulan Guritno), yang semula hanya temen dekat. Dia selalu siap mengorbankan dirinya untuk kebahagiaan Mona. Bahkan, karena cintanya, Toni tidak hanya kehilangan waktu pribadi, dia bahkan siap menikahi Mona, yang akan dicerai suaminya dr Fredy (Okan Cornelius). Namun, ketika perceraian itu tidak terjadi, Toni pun siap mundur, dengan ikhlas. Cinta yang luar biasa.

Sinetron produksi TransTV, 31/2 Wanita, meski dengan konflik yang lebih berwarna, juga berformula sama. Kisah ini didominasi "pameran" cinta Ken (Ferry Ardiansyah) kepada Gio (Yoelinta Palar), yang telah menikah. Ken siap mendampingi semua masalah Gio, memberitahu perselingkuhan dan cinta palsu suaminya. Ken bahkan siap mengakui anak dalam kandungan Gi sebagai anaknya, jika mereka menikah kemudian. Sinetron ini juga menampilkan tipe-tipe wanita yang "jatuh cinta" hanya karena harta, dan lelaki yang tak bisa melepaskan cinta pertamanya, Ray pada Kris (Wulan Guritno), dan Andre (Surya Saputra) pada Nesa (Tessa Kaunang).

Pameran ketulusan cinta lelaki ini masih bertaburan lagi, pada sinetron Pacarku Beken yang mengusung Masayu Anastasia dan Hengky Kurniawan, Jodoh Aretta (Laudya Cyntia Bella-Raffi Ahmad), Kau dan Aku (Indra Bugman-Luna Maya), sampai pada Pura-pura Buta (Mario Lawalatta-Titi Kamal) dan Kisah Sedih di Hari Minggu. Bahkan, dalam sinetron Ramadan, cinta lelaki pun mendapat porsi yang lebih hebat dan dalam, yang hanya "berkurang" karena alasan lupa ingatan atau amnesia (Hikmah) dan atau dipengaruhi orang lain, semisal ibu (Ikhlas, Doa dan Anugerah, dan Adam dan Hawa)

Sebaliknya, berbeda dari lelaki, cinta wanita dalam sinetron justru lebih dangkal, gampang terombang-ambing, dan tidak murni. Atau, kalaupun mendalam, cinta itu selalu ditutup dengan imbalan yang setara. Contoh-contoh sinetron yang disebutkan di atas juga menunjukkan hal itu. Tidak ada formula "Kutunggu dudamu..." dalam hal ini. Bahkan, cinta perempuan juga yang membuat perempuan lain menderita, dengan cara merebut suami orang, misalnya dalam Istri Idaman atau Hikmah dan Ikhlas. 31/2 wanita misalnya, juga menunjukkan betapa gampangnya Gio (Yoelinta Palar) dan Kris (Wulan Guritno) serta Nesa (Tessa Kaunang) berubah arah cinta, setelah mendapatkan perhatian dari pacar pertamanya. Jadi, superioritas cinta lelaki membuat cinta wanita gampang ditaklukkan.


Cinta Bersyarat

Beberapa sinetron baru memang menunjukkan pembobotan yang lebih pada cinta wanita. Hal ini tampak dalam cerita Si Cantik dan Si Buruk Rupa yang masih tayang di RCTI. Dari beberapa episode yang telah tayang, kita tahu betapa hebat cinta wanita yang cantik (Dini Aminarti) kepada "The Beast" (Andre White). Tapi, dari iklan dan cuplikan tayangan itu kita juga tahu, bahwa si buruk rupa kelak akan berubah jadi si tampan, bak pangeran, sebagai imbalan.

Corak yang sama juga ditunjukkan sinetron Si Yoyo. Cinta Cantika (Dina Lorenza) yang mendalam pada Yoyo (Teuku Ryan) mendapat imbalan dengan berubahnya Yoyo menjadi sosok yang pintar, ganteng, dan kehilangan ketololannya. Dalam tayangan terbaru, Yoyo bahkan sudah berperan sebagai ustadz, mengikuti tren cerita agamis-mistis. Dari sini tampak, cinta dan pengorbanan yang semula seimbang antara keduanya, menjadi berubah karena ada "hadiah" kepada si wanita, berupa kesempurnaan pria. Cerita ini jelas masih berkutat pada dongeng, yang memang masih menyimpan semangat patriarkis.

Mungkin, banyak yang ragu dan atau tak menyadari perbedaan kualitas cinta lelaki dan perempuan dalam sinetron kita. Dan ini bukan hal yang aneh. Karena sebagai produk yang lahir dari hasil kombinasi antara teknologi dan modal, televisi adalah salah satu perangkat ideologis kelompok dominan(ideological state apparatuses), yang bekerja dengan cara sealamiah mungkin. "Kealamiahan" itu misalnya, dengan menciptakan seluruh rangkaian cerita sinetron seakan berwatak feminin, dengan pameran visualisasi kemesraan dan airmata. Padahal, seperti kata Laura Mulvey dalam esai "Visual Pleasure and Narrative Cinema", watak feminin cerita mengindikasikan penonton sebagai pihak maskulin. Lelaki memandang, perempuan memamerkan. Seluruh cerita adalah wujud jalinan persetujuan dengan penonton, yang telah dimaskulinisasi tadi.

Nah, dengan proses seperti itu, wajarlah jika kemudian sinetron --bahkan nyaris semua produk televisi-- selalu menempatkan lelaki sebagai pihak yang unggul. Karena, meski sebagian besar penonton adalah perempuan, sesungguhnya dalam "ideologi televisi" mata mereka selalu dianggap maskulin. Dan untuk urusan cinta, perempuan harus mendapatkan sesuatu sebagai hadiahnya, cinta yang bersyarat, sesuatu yang di luar sinetron, secara jelas ditunjukkan lewat tayangan "Joe Millionare Indonesia", yang luar biasa menjengkelkan itu.

[Artikel ini telah dimuat di Harian Suara Merdeka, Minggu 17 Juli 2005]

( t.i.l.i.k ! )

     

Wednesday, July 13, 2005

[biografi] Yang Menari di Depan Tuhan

"AKAN tiba saatnya, ketika Konya menjadi semarak, dan makam kita tegak di jantung kota. Gelombang demi gelombang khalayak menjenguk mousoleum kita, menggemakan ucapan-ucapan kita." Itulah ucapan Jalaluddin Rumi pada putranya, Sultan Walad, di suatu pagi. Dan waktu kemudian berlayar, melintasi tahun dan abad. Konya seakan terlelap dalam debu sejarah.

"Tetapi, kota Anatolia Tengah ini tetap berdiri sebagai saksi kebenaran ucapan Rumi," tulis Talat Said Halman, peneliti karya-karya mistik Rumi.

Kenyataannya memang demikian. Lebih dari 7 abad, Rumi bak bayangan yang abadi mengawal Konya, terutama untuk pada pengikutnya, the whirling dervishes--para darwis yang menari.

Setiap tahun, dari tanggal 2-17 Desember, jutaan peziarah menyemut menuju Konya. Dari delapan penjuru angin mereka berarak untuk memperingati kematian Rumi, 727 tahun silam.

Siapakah sesungguhnya makhluk ini, yang telah menegakkan sebuah pilar di tengah khazanah keagamaan Islam dan silang sengketa paham? "Dialah penyair mistik terbesar sepanjang zaman," kata orientalis Inggris Reynold A Nicholson. "Ia bukan nabi, tetapi ia mampu menulis kitab suci," seru Jami, penyair Persia Klasik, tentang karya Rumi, Matsnawi.

Gandhi pernah mengutip kata-katanya. Rembrandt mengabadikannya di kanvas, Muhammad Iqbal, filsuf dan penyair Pakistan, sekali waktu pernah berdendang, "Maulana mengubah tanah menjadi madu.... Aku mabuk oleh anggurnya; aku hidup dari napasnya." Bahkan, Paus Yohanes XXIII, pada 1958 menuliskan pesan khusus: "Atas nama dunia Katolik, saya menundukkan kepala penuh hormat mengenang Rumi."


Besar dalam kembara

Jalaluddin dilahirkan 30 September 1207 di Balkh, kini wilayah Afganistan. Ia Putra Bahauddin Walad, ulama dan mistikus termasyhur, yang diusir dari kota Balkh tatkala ia berumur 12 tahun. Pengusiran itu buntut perbedaan pendapat antara Sultan dan Walad.

Keluarga ini kemudian tinggal di Aleppo (Damaskus), dan di situ kebeliaan Jalaluddin diisi oleh guru-guru bahasa Arab yang tersohor.

Tak lama di Damakus, keluarga ini pindah ke Laranda, kota di Anatolia Tengah, atas permintaan Sultan Seljuk Alauddin Kaykobad. Konon, Kaykobad membujuk dalam sebuah surat kepada Walad, "Kendati saya tak pernah menundukkan kepala kepada seorang pun, saya siap menjadi pelayan dan pengikut setia Anda."

Di kota ini ibu Jalaluddin, Mu'min Khatum, meninggal dunia. Tak lama kemudian, dalam usia 18 tahun, Jalaluddin menikah.
1226, putra pertama Jalaluddin, Sultan Walad, lahir. Setahun kemudian, keluarga ini pindah ke Konya, 100 Km dari Laranda. Di sini, Bahauddin Walad mengajar di madrasah. 1229, anak kedua Jalaluddin, Alauddin, lahir. Dua tahun kemudian, dalam usia 82 tahun, Bahaudin Walad meninggal dunia.

Era baru pun dialami Jalaluddin. Dia menggantikan Walad, dan mengajarkan ilmu-ilmu ketuhanan tradisional, tanpa menyentuh mistik. Setahun setelah kematian ayahnya, suatu pagi, madrasahnya kedatangan tamu, Burhannuddin Muhaqiq, yang ternyata murid terkasih Walad. Dan ketika menyadari sang guru telah tiada, Muhaqiq mewariskan ilmunya pada Jalaluddin. Burhanuddin pun menggembleng muridnya dengan latihan tasawuf yang telah dimatangkan selama 4 abad terakhir oleh para sufi, dan beberapa kali meminta dia ke Damakus untuk menambah ilmu. 8 tahun menggembleng, 1240, Burhanuddin kembali ke Kayseri. Jalaluddin pun menggembleng diri sendiri.


Cinta adalah menari

1244, saat berusia 37 tahun, Jalaluddin sudah berada di atas semua ulama di Konya. Ilmu yang dia timba dari kitab-kitab Persia, Arab, Turki, Yunani dan Ibrani, membuat dia nyaris ensiklopedis. Gelar Maulana Rumi (Guru bangsa Rum) pun dia raih.

Tapi, di sebuah senja Oktober, sehabis pulang dari madrasah, seseorang yang tak dia kenal, menjegat langkahnya, dan menanyakan satu hal. Mendengar pertanyaan itu, Rumi langsung pingsan!

Sebuah riwayat mengatakan, orang tak dikenal itu bertanya, "Siapa yang lebih agung, Muhammad Rasulullah yang berdoa, 'Kami tak mengenal-Mu seperti seharusnya', atau seorang sufi Persia, Bayazid Bisthami yang berkata, 'Subhani, mahasuci diriku, betapa agungnya kekuasaanku'.

Pertanyaan mistikus Syamsuddin Tabriz itu mengubah hidup Rumi. Dia kemudian tak lagi terpisahkan dari Syams. Dan di bawah pengaruh Syams, ia menjalani periode mistik yang nyala, penuh gairah, tanpa batas, dan kini, mulai menyukai musik. Mereka menghabiskan hari bersama-sama, dan menurut riwayat, selama berbulan-bulan mereka dapat bertahan hidup tanpa kebutuhan-kebutuhan dasar manusia, khusuk menuju Cinta Ilahiah.

Tapi hal ini tak lama. Kecemburuan warga Konya, membuat Syams pergi. Dan saat Syams kembali, warga membunuhnya. Rumi kehilangan, kehilangan terbesar yang dia gambarkan seperti kehidupan kehilangan mentari.

Tapi, suatu pagi, seorang pandai besi membuat Jalaluddin menari. Pukulan penempa besi itu, Shalahuddin, membuat dia ekstase, dan tanpa sadar mengucapkan puisi-puisi mistis, yang berisi ketakjuban pada pengalaman syatahat. Rumi pun kemudian bersabahat dengan Shalahuddin, yang kemudian menggantikan posisi Syams.

Dan era menari pun dimulai Rumi, menari sambil memadahkan syair-syair cinta Ilahi. "Tarian para darwis itulah yang kemudian menjadi semacam bentuk ratapan Rumi atas kehilangan Syams," jelas Talat.

Sampai meninggalnya, 17 Desember 1273, Rumi tak pernah berhenti menari, karena dia tak pernah berhenti mencintai Allah. Tarian itu juga yang membuat peringkatnya dalam inisiasi sufi berubah dari yang mencintai jadi yang dicintai.

[dikutip dari buku Bayang Baur Sejarah karya Aulia A Muhammad]

( t.i.l.i.k ! )

     

Sunday, July 10, 2005

[esai] Tamara, Peramal, dan Sampah

"Tamara itu sering melakukan sesuatu dengan terburu-buru. Emosi akan merugikan mereka sendiri. Tapi, jika mereka mau introspeksi, mereka akan tetap dapat bersatu. Jodoh mereka panjang sekali. Tapi, ya seperti tadi, Tamara itu sering terburu-buru..." kata Madam Velly, dengan wajah serius.

Siapakah Madam Velly? Kalau menonton "Insert" Minggu (3/7), Anda pasti tahu siapa wanita muda berkulit putih ini. Ya, betul: dia seorang peramal. Dan komentarnya dalam acara infotainmen itu adalah untuk --seperti kata narator "Insert"-- "mengetahui lebih jelas apa yang sesungguhnya terjadi dalam kehidupan rumah tangga Tamara dan Rafly." Karena itulah, peramal ini dengan ringan berkata, "Ada pria lain ya, dalam kehidupan Tamara. Pria ini tidak selalu berada di sini, lebih sering di luar negeri. Tapi, pria ini juga menjadi salah satu penyebab..."

Kehadiran peramal atau paranormal dalam tayangan infotainmen memang bukan hal yang baru. Setiap akhir tahun, ramalan mereka selalu menjadi buah bibir infotainmen. Mama Laurent adalah peramal yang selalu punya dominasi untuk bersuara. Ia misalnya, pernah meramalkan karier Krisdayanti akan melorot, si A atau si B akan menikah atau bercerai, dan hal-hal tertentu yang harus dilakukan si artis agar kariernya tetap berada di atas. Meski, seingat saya, ramalannya tak pernah tepat, suara Mama Laurent tetap menjadi ikutan dan rujukan infotainmen di akhir tahun. Dan, selama ini, "fungsi" paranormal itu memang hanya ada di akhir tahun, kecuali sebulan terakhir ini.

Kini, infotainmen menempuh cara yang berbeda dalam menghadirkan peramal. Infotainmen tidak lagi merujuk ke paranormal untuk melihat kejadian yang akan datang, melainkan sebagai pengabsahan atas sesuatu yang terjadi. Dan, "strategi" ini dilakukan infotainmen ketika mereka tidak memiliki informasi yang kuat dan layak diberikan sebagai justifikasi atas sebuah kasus yang dialami seorang artis. Dengan menghadirkan paranormal, infotainmen jadi merasa memiliki semacam acuan untuk meneruskan atau membenarkan rumor yang telah beredar, meski seperti watak asali ramalan, semua informasi itu tak lebih seperti sampah.

Contoh paling tepat adalah seperti yang dilakukan "Silet" sewaktu menyilet kasus pernikahan Farhat Abbas dengan Anny Muryadi. Ketika presenter Dona Arsinta tak punya argumentasi yang valid untuk menjelaskan kenapa Farhat sampai menikahi Anny, sosok paranormal kondang Ki Joko Bodo pun dihadirkan. Dengan narasi yang menggiring pemirsa, Ki Joko Bodo pun memberikan penjelasan atas pernikahan itu dengan sangat meyakinkan. "Farhat menikahi Anny untuk kepentingan kariernya," kata Ki Joko. Cukup? Tidak, indikasi itu disertai argumen bahwa Farhat menjalankan suatu laku, yang mensyaratkan dirinya harus menikahi sampai 5 janda agar semua keinginannya tercapai. Nia Daniati adalah janda kedua, lalu Anny Muryadi. "Jadi, masih akan ada lagi yang lain..." terang Ki Joko Bodo, yang disambut dengan Dona Arsinta dengan justifikasi yang lebih tajam, setajam silet!

Nyaris semua infotainmen menempuh cara ini sebagai strategi baru. "Insert" bahkan juga meminta ustadz gaul Jefri al-Bukhori untuk menjelaskan kasus Tamara. Dan ustadz yang murah senyum ini pun dengan yakin berkata, "Jangan berzinah! Perlu hati untuk bicara, bawalah Kakbah ke dalam hati. Menikahlah karena Allah, hanya niat itu yang membuat kita terhindar dari sifat bosan terhadap pasangan."


Kekuatan citra

Bagaimana membaca fenomena di atas? Kenapa infotainmen yang acap memberitakan sesuatu hanya dari rumor atau gosip, yang bahkan bisa diciptakan kalangan infotainmen sendiri, masih butuh mendatangkan peramal atau paranormal? Apa dampaknya kepada penonton?

Yang harus kita sadari setiap kali menonton infotainmen adalah keyakinan bahwa berita itu bukanlah cerminan atau hasil rangkaian realitas kehidupan artis. Mengikuti Schlesinger dalam Putting Reality Together, berita bukan kenyataan yang langsung, melainkan representasi yang terseleksi dan terkonstruksi yang menjadi bagian dan turut membentuk "realitas" baru. Pemilihan kata dan hal-hal yang dimasukkan dalam tayangan dan cara yang digunakan pasti sudah diseleksi, tidak netral, dan dengan demikian selalu merupakan sebuah versi. Yang tampil kemudian adalah bukan hal yang telah terjadi, melainkan sesuatu yang ingin dikatakan oleh sebuah infotainmen, sesuatu yang menjadi keyakinan infotainmen tersebut, kenyataan baru yang senapas dengan kepentingan infotainmen itu. Dan hal itu dilakukan dengan rekayasa kenyataan, menciptakan efek hiperbola informasi, meluaskan praduga-purbasangka. Tamara boleh diam seribu bahasa, tapi infotainmen punya sejuta cara untuk menjelaskan kasusnya. Tak ada yang boleh sepenuhnya misterius dan gelap.

Dalam kerangka kerja "harus ada gosip baru" inilah yang membuat infotainmen melakukan seperti apa yang dikatakan sosiolog Prancis Jean Baudrillard sebagai hiperealitas. Dalam buku In the Shadow of the Silent Majorities, dia mengatakan media telah menciptakan satu kondisi di mana kepalsuan, praduga, rumor, gosip, sas-sus, ramalan, menjadi sebuah kebenaran baru yang lebih diyakini. Kondisi yang membuat penonton tak lagi dapat membedakan kebenaran dan gosip, antara kenyataan dan rekayasa, antara makanan dan sampah!

Kehadiran paranormal tak lebih adalah strategi citra (the strategi of image) untuk menciptakan efek tertentu dari tayangan itu. Strategi citraan adalah sebuah cara untuk menarik massa atau penonton dengan mengedepankan mitos-mitos yang dimiliki seseorang. Jadi, strategi citra tidak mencari efek dari "apa yang dikatakan seseorang", melainkan "siapa yang mengatakannya". Ini juga cara yang biasa ditempuh partai politik dengan memasang artis dalam kampanyenya, dan kini ditempuh infotainmen dengan memasang paranormal.

Dengan mengusung Ki Joko Bodo dan atau Mama Laurent, paranormal dengan citra yang cukup ampuh, infotainmen ingin menanamkan sebuah kesadaran semu kepada para penonton bahwa "yang mengatakan itu bukanlah orang biasa", sehingga ucapannya layak dipercayai.

"Kehadiran" Ki Joko Bodo dalam kasus Farhat-Anny, dan Madam Velly dalam rumor keretakan rumah tangga Tamara-Fafly juga menjadi semacam topeng untuk menutupi informasi yang tidak infotainmen dapatkan. Keyakinan hadirnya orang ketiga dari Madam Velly, dan nasihat dari Jefry al-Bukhori memberi semacam sugesti kepada pemirsa seakan runyamnya rumahtangga Tamara sungguh-sungguh telah terjadi. "Bagaimanapun, kedudukan suami itu lebih tinggi daripada istri," nasihat Jefri.

Kehadiran paranormal juga kian menjelaskan watak ganda infotainmen. Dengan mengambil justifikasi dari peramal, infotainmen ingin menyatakan sesuatu telah terjadi dan atau akan terjadi, dan ingin penonton memercayainya. Tapi, di saat yang bersamaan, infotainmen juga siap lepas tangan jika sesuatu itu tak terjadi. "Paranormal kok dipercaya..." Menopengkan informasi pada paranormal membuat infotainmen kehilangan tanggungajawab atas sahihnya informasi itu. Dalam kaitan inilah, kehadiran paranormal dalam infotainmen tak lebih sebagai pelacur citraan (prostitution of image), citra yang hadir hanya untuk melayani kebenaran sebuah versi. Sebagai pelacur citraan, mereka memberikan kenikmatan berupa sensasi jungkir-balik praduga, rasa kasihan, dan amarah atas sebuah rumor. Yang tampil bukan apa yang ingin kita tonton, melainkan apa yang ingin infotainmen tunjukkan. Dan penonton nyaris tak punya ruang untuk menolak.

[Artikel ini telah dimuat di Harian Suara Merdeka, Minggu 10 Juli 2005]

( t.i.l.i.k ! )

     

Friday, July 08, 2005

[biografi] Revolusi Dimulai dari Kata-kata

Langit sore 19 April 1998, di atas Palace of Fine Arts, Meksiko City, berwajah muram. Di sisi sebuah peti mati, Ernesto Zedillo, Presiden Meksiko, menundukkan kepala, mulutnya berguman, mirip lantunan doa. Di sekelilingnya, orang-orang terdiam, menunggu pidatonya. Sore yang pasti akan segera penuh tangis.

Pengarang terkenal Kolombia, Gabriel Garcia Marques pun berwajah layu, menebuk pundak dan menghibur seorang perempuan tua, Marie-Jose Tramini, yang hari itu resmi menjadi janda. Di peti mati itulah, suami tercintanya, penyair paling masyur di Meksiko, Octavio Paz, terbujur.

"Selama setengah abad kita dipercaya dan dijaga oleh pemikiran dan semangat Octavio Paz," kata Zedillo, dengan suara yang gemetar, "Tapi mulai kini, kita akan kehilangan keberadaan dia selamanya."

Para menteri, penulis, anggota Kongres, hakim, korps diplomatik, para walikota dan rakyat biasa kemudian memberikan penghormatan pada penyair itu. Mereka kemudian mengheningkan cipta dua menit. Peti mati ditutupi bendera Meksiko, dan jasad berusia 84 tahun itu yang tak lelah melawan kanker itu pun kemudian diangkat untuk dimakamkan.


Penentang keras rezim penindas

Paz lahir di Meksiko City tahun 1914. Kakeknya dari garis ayah adalah intelektual liberal yang amat disegani. Dan Paz kecil begitu akrab dengan kehidupan si kakek. Lewat perpustakaan kakeknya yang begitu dahsyat koleksinya, Paz bermain dalam cakrawala pustaka yang luar biasa. Ia bahkan sejak dini telah dikenalkan dengan sastra-sastra dunia.

Ayah Paz sendiri adalah jurnalis andal yang bergabung dengan grakan intelektual progresif, mendukung kaum tani di bawah pimpinan Emiliano Zapata. Ia memang diasuh dalam iklim intelektual yang keras, tapi bebas.

Sejak kecil, bakat Paz sudah menonjol. 1933, ia menerbitkan kumpulan puisi perdananya, Luna Silverstre, dan mengejutkan publik dengan puitikanya. Tak heran, empat tahun kemudian, di usia 22 tahun, dia telah diundang ke Valencia, Spanyol, mengikuti Kongres Internasional Kedua Penulis Antifasis.

Sepulang dari Kongres, Paz mendirikan Taller (workshop), sebuah majalah yang menandati lahirnya gerakan sastra baru di Meksiko. Di tahun 1937 itu pula, ia menikahi Elena Garro, yang ia cerai kemudian di tahun 1959.

Waktu pemerintahan Meksiko bergolak di awal 1940-an, Paz dan keluarganya menyingkir ke Meksiko, dan kembali setahun kemudian. Paz lalu melanjutkan kuliahnya jurusan Hukum dan Sastra di National University. Namun karena merasa panggilan kepenyairan lebih kuat, dia memutuskan berhenti.

1943, Paz memperoleh Guggenheim Fellowship untuk belajar di Berkeley. Dua tahun berikutnya, dia terlibat kegiatan diplomatik, dan dikirim ke Prancis. Di dalam perantauannya inilah, Paz melahirkan karya monumental tentang identitas orang Meksiko, The Labyrinth of Solitude. Ia juga bergabung dengan Andre Breton dan Menjamin Peret dalam gerakan dan publikasi sastra surealis.

Karier Paz sebagai diplomat terus meningkat. 1962, ia dikirim sebagai Duta Besar untuk India. Wilayah yang semula tak ia bayangkan ini, adat dan watak Ketimuran, mempengaruhi secara kental intelektual dan kepenyairan Paz. Dua bukunya, The Grammarian Monkey dan East Slope menjadi bukti keterpesonaan pada Timur itu.

1968, terjadi tindakan brutal pemerintah Meksiko pada demontrasi mahasiswa di Plaza Tlatelolco, sebelum Olimpiade berlangsung. Paz marah, dan mengundurkan diri dari kegiatan diplomatik.

Paz kemudian suntuk menulis puisi tentang masa kecil dan remajanya.

Paz kemudian mendirikan dua majalah yang didedikasikan untuk seni dan politik, Plural dan Vuelta, 1976, yang terbit sampai kini. 1980, ia memperoleh gelar dokter kehormatan dari Harvard University. 1981, ia memperoleh Carventes Award, penghargaan tertinggi untuk kalangan bangsa berbahasa Spanyol, dan 1982, American Neustadt Prize pun ia raih.

Keberpihakan politik Paz tampak dalam karyanya Corriente Alterna (1967), yang secara keras mengkritik demokrasi Barat. Bukunya yang lain, Posdata (1970), adalah kajian dan interpretasi atas sejumlah kegagalan politik Meksiko. Untuk sastra, bukunya Los Hijos del Limo (1974) dinilai tajam dalam menjelaskan sejarah puisi modern dari zaman Romantisme hingga 1960-an.

Ia juga mengkritik penggunaan ekonomi liberal yang dianut menghisap, dan mengakibatkan hubungannya dengan Pablo Neruda dan Marques, retak.

Selama hidup, Paz telah memublikasikan lebih dari 40 buku, dan setelah tiga tahun meninggal, karyanya masih meraih Jerusalem Prize, yang diyakini banyak orang akan ditolak Paz jika dia masih hidup. Ini karena Paz tak pernah mau bersahabat dengan pemerintahan yang menindas.

Paz memang tak pernah percaya pada kekerasan. Ia percaya kekuatan kata-kata. "Bagi saya, revolusi kata-kata adalah revolusi dunia."

[dikutip dari buku Bayang Baur Sejarah karya Aulia A Muhammad]

( t.i.l.i.k ! )

     

Sunday, July 03, 2005

[esai] Tubuh Sosial Anny Muryadi

Barangkali, tak ada lagi misteri dalam kasus nikah Farhat Abbas dan Anny Muryadi. Tapi, berkali-kali menyaksikan tayangan tentang wanita cantik ini dalam berbagai acara infotainmen, saya menemukan kesamaan kamera "merespresentasikan" sosok Anny. Dan kembaran visual ini ternyata bukan sesuatu yang biasa. Ada "misteri" di dalamnya.

Acara "Silet" RCTI barangkali yang paling tegas menampilkan tipikalitas visual itu. Dengan bubuhan narasi, kamera menampilkan Anny dari jarak jauh, dan kian mendekat, lalu close-up pada wajah Anny, mimiknya, dan gerakan kepala yang mengibarkan rambut pendeknya. Kamera lalu turun pada lehernya, dada, pinggang, dan kaki. Dari kaki, kamera mengikuti gerak tubuh Anny, fokus pada pinggang dan dada, dan diakhiri dengan close-up pada wajah.

Meski dengan gambar yang berbeda, "Cek & Ricek" juga melakukan hal yang sama. Kamera fokus pada wajah, lalu menyusuri tubuh Anny. "Kabar-kabari" tak jauh berbeda, menampilkan Anny dan dua temannya, tapi fokus kamera pada wajah wanita itu, menelusuri tubuhnnya sampai kaki, sebelum kembali ke wajah.

Gaya visualisasi semacam ini bukan sesuatu yang baru. Saat rumor orang ketiga dalam asmara Ariel Peterpan dan Lia, kamera pun menampilkan Luna Maya dengan cara yang sama. Fokus pada wajahnya, lalu kamera menjauh, dan menangkap semua tubuhnya, dari berbagai sudut. Memberi slow motion pada beberapa gerak Luna Maya, dan tentu komentar yang agak "miring". Kamera juga bekerja dengan cara yang sama pada kasus Sri Respatini Kusumastuti alias Iin dengan Ray Sahetapy. Jauh ke belakang, Angel Lelga pun "dimakan" kamera dengan teknik yang sama saat kasusnya mencuat sebagai istri simpanan si Raja Kondang Rhoma Irama. Juga Itje Tresnawati dengan Eddy Sud, saat kamera secara lugas menjajarkan kontras tubuh keduanya. Itje yang segar, Agung yang bugar, Eddy Sud yang pudar, Eddy Sud yang layu.

Kesamaan cara kerja kamera dalam kasus-kasus semacam ini pantas membuat penonton bertanya, kenapa tubuh mereka tampil dengan cara yang sama? Mengapa dalam beberapa kasus yang lain, kamera hanya menangkap sosok yang sekilas, dan tidak memberikan jelajahan yang penuh pada tubuh? Mengapa dalam kasus Farhat, visualisasi tubuh Anny menjadi begitu mendominasi?


Tubuh alamiah

Tubuh adalah metafor, dan sebagai metafor, tubuh menyatakan lebih daripada apa yang tampak. Tubuh bukan hanya dapat dilihat sebagai sesuatu yang alamiah atau badanniah, tapi juga sesuatu yang magis. Bahkan menurut Michael Foucault, pemikir paling serius tentang tubuh, persepsi seseorang tentang tubuh adalah efek dari struktur sosial di sekitar kita. Tubuh hanya bisa dilihat sebagai sesuatu yang non-alamiah, memuat citra, tanda, dan prilaku, dan hanya dapat dipahami dalam konsekuensi perubahan sosial. Atau bahasa mudahnya, tubuh seseorang memuat dan menunjukkan tanda dan perilaku, juga situasi sosialnya. Dan dalam kaitan inilah, mata kamera dalam kasus di atas dapat kita baca.

Kamera yang melahap tubuh Anny Muryadi, Angel Lelga, dan Itje -- dan menunjukkannya kepada penonton-- sesungguhnya mengajak kita untuk melakukan tiga hal: berpikir (think), merasa (feel), dan berfantasi (fantasy). Jika tiga hal itu dilakukan, penonton akan mendapatkan sebuah "jawabab" dari semua kasus di atas, yang secara verbal tidak mungkin dinyatakan oleh infotainmen tersebut. Bahkan, untuk "membantu" penonton, kamera memberikan beberapa slow motion, sehingga gambaran ketubuhan mereka kian jelas.

Tubuh-tubuh "alamiah" mereka meminta kita berpikir seperti Farhat, Rhoma Irama, dan Itje. Wajah Anny yang masih sangat kencang, dengan pipi yang montok, tubuh yang langsing, dan kaki yang bagus di usia 45, membuat pikiran penonton membandingkan langsung dengan Nia Daniati. Tubuh Angel Lelga membuat penonton secara simultan langsung diajak membandingkan dengan Rica Rahim, dan tubuh Itje membuat kita berpikir tentang tubuh Eddy yang layu, dan membandingkannya dengan tubuh Agung --kekasih Itje saat itu-- yang masih sehat. Kamera-kamera yang secara lugas menonjolkan tubuh segar wanita-wanita itu meminta penonton merasa ada sebuah "kepantasan" badAnnyah bagi Farhat, Rhoma, dan Itje untuk melakukan pernikahan dan atau perceraian itu.

Tubuh-tubuh "alamiah" dalam kamera itu juga meminta penonton seolah merasakan dan berfantasi sebagaimana rasa dan fantasi Farhat, Rhoma, Ray, dan Agung. Di sinilah tubuh-tubuh merespresentasikan dirinya sebagai mesin hasrat, yang meminta untuk dipuaskan. Tubuh sebagai mesin hasrat inilah yang dalam rangka pemenuhan kebutuhannya dapat melanggar norma dan tabu. Sebagai mesin hasrat, tubuh-tubuh itu bukan hanya meminta dipuasi, ("Sebagai suami, Bang Ray itu terlalu ganteng, makanya..." kata Dewi Yull.) melainkan juga meminta dipahami bagaimana cara kepuasan itu didapatkan. ("Ini langkah terbaik daripada kami berzinah," kata Farhat.) Kloplah!


Tubuh sosial

Lebih daripada tubuh "alamiah", tubuh sebagai metafor, menampilkan tanda sosial yang lebih jelas. Dan, berpikir dalam kerangka tubuh sosial inilah yang membuat problem para artis tersebut mendapat jawaban yang lebih lengkap. Tubuh Anny Muryadi menjelaskan lebih banyak daripada yang tampak. Seruan seorang penonton saat tahu sosok Anny, "Ohh.. pantaslah Farhat nekad..." adalah ungkapan yang paling tepat meski sederhana. Tubuh Anny memuat tanda sosial yang sangat jelas. Di usia yang 45, tubuhnya bak remaja. Pipi kencang, dan badan nyaris tanpa lemak. Tubuh Anny membuat penonton langsung berpikir tentang operasi plastik, diet yang ketat, olahraga dengan istruktur hebat, dan lingkup pergaulan yang luar biasa. Tubuh Anny bukan hanya dimuati oleh semua ikon kecantikan yang ditawarkan industri melainkan juga menjelaskan betapa adaptifnya dia dengan semua itu. Dan lebih dari itu, tubuh Anny menjelaskan status sosial-ekonomi dirinya. Hanya orang sangat kaya sajalah yang dapat merawat dirinya bak remaja di usia senja. Dengan tubuh sosialnya, Anny bak permata di usia tua, yang banyak memancing para kolektor untuk memiliknya. "Mulanya Bu Anny tidak mau, tapi saya yang agresif, sampai dia teryakinkan..." kata Farhat dengan senyum.

Membaca dalam kerangka tubuh sosial inilah yang membuat kita dapat melihat kasus Itje-Eddy Sud-Agung dengan lebih jelas. Tubuh sosial ini juga yang membuat cinta Ray Sahetapy pupus pada Dewi, dan bertaut kepada Iin, atau Angel yang memilih Rhoma.

Jadi, kamera yang bergerak menyelusuri tubuh Anny --meski berwatak partriarki-- sesungguhnya dapat kita baca sebagai upaya untuk memberikan sesuatu yang terasa ada di ujung lidah, tapi tak dapat terkatakan. Sesuatu yang mungkin berupa purbasangka, tapi mendiami teritorial ketaksadaran kita. Karena kita sampai saat ini masih sulit untuk menolak bahwa hanya faktor sosial-ekonomi sajalah yang dapat mengubur cinta. Kamera-kamera yang menampilkan kesempurnaan tubuh alamiah dan sosial para pesohor itu, setidaknya memberi kita ruang untuk membaca, merasa, dan berfantasi. Dan dengan cara ini, setidaknya, sedikit tafsir yang berbeda didapatkan. Mungkin jadi lebih gampang bagi kita untuk menerima, betapa kuatnya godaan, betapa tidak sempurnanya manusia....

[Artikel ini telah dimuat di Harian Suara Merdeka, Minggu 3 Juli 2005]

( t.i.l.i.k ! )