<$BlogRSDURL$>
...tera di sesela gegas-gesa
Thursday, July 21, 2005

[biografi] Yang Menapaktilasi Turunnya al-Quran

ISLAM tampaknya berutang banyak pada Arkoun, itu jika kata berutang boleh digunakan. Dialah yang secara jenial telah membuka cakrawala baru untuk memahami Islam lebih dalam, sempurna, dan tunduk. Al-quran ia telaah dengan begitu tajam, dan melahirkan kajian yang luar biasa, yang semula tak terpikirkan oleh nalar, atau tertutupi tafsir atas nama kepentingan.

Dengan memadukan atribut keilmuan modern dari de Sausure (lingustik), Levi-Straus (antropologi), Lacan (psikologi), Barthes (semiologi), Foulcault (epistemologi), Derrida (grammatologi), Ricour (hermeneutik), Arkoun menari-nari, membedah sejarah dan tafsir ayat, mendedahkan kajian yang luar biasa, bahkan, semula, kontroversial.

Ia misalnya, menapaktilasi "teknik" penyusunan surat dalam alquran, dan membetuk susunan baru, yang menurutnya, lebih bersih dan sinkronis. Surah pertama, Al-Fatihah, menurut dia, seharusnya berada dalam urutan ke-46, bukan surat pembuka pertama.

"Bagaimana mungkin kita mengatakan "Dengan nama Allah yang maha pengasih lagi penyayang," sebagai awalan, sementara kita belum diberi tahu siapa Allah itu, dan mengapa ia menjadi Tuhan semesta alam?" tanya Arkoun, sebagaimana dikutip St. Sunardi dalam makalah "Membaca Quran bersama Arkoun".

Bagi Arkoun, ayat pertama itu memerlukan "ayat pendahulu" supaya konteksnya bisa dimengerti. Arkoun menyadari bahwa bagi manusia sekarang kata Allah sudah diterima pengertiannuya secara makruf, par exellence. Tapi ketika surah itu turun di abad ke VII, harus ada rujukan yang jelas untuk memahami kata itu, juga kata arrahman. Dan kata itu baru bisa dimengerti jika diletakkan sebagai surah ke-46, yang 54 surat sebelumnya telah menerangkan dengan detil.

Ini memang telaah yang luar biasa, dan tentu, untuk sebagian ulama yang memandang alquran sebagai korpus yang tak tersentuh, kajian semacam ini dianggap tak pernah ada.


Iman yang tak guyah

Mohammed Arkoun lahir 1 Februari 1928 di Tourirt-Mimoun, Kabilia, Aljazair. Kabilia merupakan daerah pegunungan yang berpenduduk Barber, terletak di sebalah timur Aljir. Berber adalah penduduk yang tersebar di Afrika bagian utara. Bahasa yang dipakai adalah bahasa non-Arab.

Setelah Aljazair ditaklukkan bangsa Arab tahun 682, pada masa Kekhalifahan Yazid bin Muawiyah, dinasti Umayah, banyak penduduk yang memneluk Islam. Beberapa bahkan menjadi pasukan tempur penaklukan Spanyol di bawah Toriq bin Ziyad.
Gerakan Islam di Kabilia ini juga diwarnai nuansa sufisme. Mahdi bin Tumart dari dinasti Almohad pada abad ke-12 menggqabungkan ortodoksi Asy'arisme dengan sufisme. Ibnu Arabi, mahaguru sufi itu bahkan pernah berguru di daerah ini, pada Abu Madyan. Di situ berkembang tarekat Syaziliah, Aljazuliyah, Darqowiyah, Tijaniyah, dan lainnya.

Dalam lingkungan yang sarat dengan sufisme dan nuansa spiritual inilah Arkoun dibesarkan.

Kehidupan Arkoun yang mengenal berbagai tradisi kebudayaan ini merupakan faktor penting perkembangan pemikiran Arkoun. Ia secara intens akrab dengan tiga bahasa, Kabilia sebagai bahasa sehari-hari, untuk mengungkap tradisi Kabilia, Arab sebagai pengantar keagamaan dan kegiatan komunikasi di masjid, juga penghubung Aljazair dengan dunia Islam Timur Tengah, dan bahasa Prancis sebagai bahasa sekolah, juga pengantar untuk memahami problematika pemikiran ilmiah modern. Tiga bahasa itu juga mewakili cara berpikir dan memahami kompleksitas masyarakat di sana.

Setelah tamat sekolah dasar, Arkoun melanjutkan SMP ke kota pelabuhan Oran, kota Aljazair di bagian barat. Sejak 1950-1954, ia belajar bahasa dan sastra Arab di Universitas Aljir, sambil mengajar di sebuah sekolah SMU di al-Harrach, pinggiran kota Aljazair. Tahun 1954, ia menjadi mahasiswa di Paris. 1961, ia menjadi dosen di Universitas Sorbonne di Paris, dan meraih gelar doktor sastra tahun 1969. Sejak 1970 sampai 1972, ia mengajar di Universitas Lyon, dan kembali ke Sorbonne sebagai mahaguru sejarah pemikiran Islam.

Arkoun juga menjabat direktur ilmiah studi Islam terkenal, Arabica, juga memangku jabatan resmi sebagai anggota panitia nasional untuk Etika dan Ilmu Pengetahuan, Kehidupan dan Kedokteran. Belakangan ia menjabat sebagai direktur Kajian Islam dan Timur Tengah pada Universitas Sorbonne Nouvelle (Paris III).

Ia juga pernah menjadi dosen tamu di University of California di Los Angeles, Princeton University, Temple University di Philadelphia, Lembaga Kepausan untuk studi Arab dan Islam di Roma, dan Universitas Katolik Louvain-Neuve di Belgia. Ia pun sempat menjadi bahaguru tamu di Universitas Amsterdam.

Jabatan dan karier di atas menunjukkan posisi Arkoun yang tinggi untuk kualitasnya dalam sejarah pemikiran dan tafsir Islam.

Secara cemerlang Arkoun mengakui dirinya sebagai sejarawan-pemikir dan bukan sebagai sejarawan-pemikiran. Sejarawan pemikiran bertugas hanya untuk menggali asal-usul dan perkembangan pemikiran, sementara sejarawan-pemikir dimaksudkan sebagai sejarawan yang setelah mendapatkan data objekatif, bisa mengolah data itu dengan memakai analisa filosofis.
Proyek utama pemikiran Arkoun adalah "kritik atas nalar Islam". Ia menerbitkan penelaahan itu dalam buku yang luar biasa, Pour de la raison islamigue. Buku ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Arab menjadi al-fikri al-Arabiy al-Islami, Sejarah Pemikiran Arab-Islam.

Untuk menelusuri sejarah pemikiran Islam, layaknya arkeolog, ia menggali seluruh lapisan geologis pemikiran Arab-Islam, dengan pisau episteme Michael Foucoult, dan membagi tingkatan Arab-Islam klasik, skolastik, dan modern. Ia juga membagi medan taklid berpikir umat dalam kurun masa itu, kemudian memasukkan postulat kajiannya sebagai "yang terpikirkan", "yang tak terpikirkan", dan "yang belum terpikirkan".

Demi menjamah lapisan terdalam dari geologi pemikiran Islam, Arkoun pun menjamah jantung eksistensinya: Alquran, sunnah, dan Ushul. Bagi Arkoun, al-Quran tunduk pada sejarah. Ia melihat, karena banyaknya campurtangan "sejarah penguasa" dalam pembakuan al-Quran, banyak di dalam kitab itu sesuatu yang sesungguhnya "yang terpikirkan" berubah menjadi "yang tak terpikirkan".

Arkoun juga melihat ortodoksisme (paham yang selalu menekankan pada penafsiran nash-nash yang pasti benar, sehingga penafsiran pihak lain selalu salah, bid'ah), dogmatisme (pencampuran wahyu dan nonwahyu), sebagai "kotoran" dalam pemikiran Islam.

Sebagai sebuah kerja pemikiran, Arkoun sadar, telaah yang dia usahakan ini membutuhkan energi yang sangat besar. Dan Arkoun sendiri sadar, masih banyak sekali hal-hal yang harus ia "bersihkan". Ia memang sudah mengajukan satu teknik pembacaan al-Quran yang luar biasa, dengan metode semiotik. Ia juga telah berhasil menapaktilasi sejarah turunnya ayat, dan kemungkinan kesalahan dalam penyusunan. Ia bahkan siap jika suatu waktu tahu, ada kesalahan di dalam al-Quran karena "permainan" sejarah dan penguasa. Tapi, seandainya itu pun ada, "Iman saya tak akan guyah karenanya," kata Arkoun tajam, setajam jalan pemikirannya, yang sekilas, sangat susah dicerna.

[dikutip dari buku Bayang Baur Sejarah karya Aulia A Muhammad]