<$BlogRSDURL$>
...tera di sesela gegas-gesa
Friday, July 15, 2005

[esai] Cinta Lelaki, Cinta Wanita

"KUTUNGGU jandamu..." Barangkali ungkapan inilah yang menjadi dasar dari pembuatan sinetron di Indonesia. Ungkapan --yang lebih sering nampang di bak truk-- ini pula yang secara cantik diterjemahkan ke dalam film Gita Cinta dari SMA dan Puspa Indah Taman Hati, yang kemudian memopulerkan idola remaja saat itu, Rano Karno dan Yessi Gusman. Meski, waktu ditransfer ke dalam sinetron, gaungnya tak bergema lama, gaya tutur semacam ini ternyata menjadi mainstream sinetron kita.

Gaya tutur yang saya maksudkan adalah penggambaran tentang cinta lelaki yang begitu mendalam pada seorang wanita, sehingga siap melakukan apa saja untuk mendapatkannya. Satu adegan dalam sinetron Ngaca Dong dapat menjadi contoh. Sambil bersimpuh di paha ibunya yang usai menjalankan salat, Bejo berkata, "Ketulusan cinta saya inilah Bu, yang akan membuat Diva Savitri datang kepada saya. Restuilah saya, Bu. Restuilah...." Lalu, dengan mengelus kepala si anak, sang ibu berkata, "Iya, Ibu percaya. Berdoa saja pada Tuhan, Jo..."

Sinetron Ngaca Dong, menceritakan perjuangan seorang pesuruh kantor, Bejo (Tarjo Geng Ijo), untuk mendapatkan cinta seorang artis terkenal Diva Savitri (Catherine Wilson). Sinetron yang masih tayang di TransTV ini mempertontonkan kehebatan cinta dari seorang pria miskin dan kucel yang membuat dia melakukan hal-hal yang tidak terbayangkan, demi mendapatkan wanita idamannya yang sangat kaya, terkenal, dan cantik. Berbagai makian, cela, dan hinaan, dianggapnya hanya angin lalu. "Dia perempuan dan saya laki-laki. Dia cantik dan saya ganteng. Dia kaya dan saya calon orang kaya! Tidak ada masalah, kan?" begitulah keyakinan Bejo. Keyakinan yang tampaknya merupakan representasi dari lelaki-lelaki yang bekerja di balik kamera, sejak awal televisi dapat dinikmati.


Cinta Murni

Sinetron Harga Diri yang tayang di RCTI bertahun lalu misalnya, juga mengedepankan hal itu. Sinetron yang memasang Ari Wibowo dan Lulu Tobing ini menceritakan kisah yang sama dengan Ngaca Dong, cuma posisi yang miskin berada di tangan pihak perempuan. Dan, dengan usaha yang luar biasa, termasuk harus meninggalkan keluarga, cinta si lelaki dapat terwujud, meski si wanita sudah di depan penghulu, untuk menikah dengan lelaki lain. Kekuatan cinta lelaki yang membuat perempuan berani mengambil risiko, dan bukan sebaliknya.

Tuturan semacam ini terus dipertahankan oleh sinetron kita. Cerita Dari Temen Jadi Demen pun masih memakai formula yang sama. Toni (Jonathan Frizy) begitu mencintai Mona (Wulan Guritno), yang semula hanya temen dekat. Dia selalu siap mengorbankan dirinya untuk kebahagiaan Mona. Bahkan, karena cintanya, Toni tidak hanya kehilangan waktu pribadi, dia bahkan siap menikahi Mona, yang akan dicerai suaminya dr Fredy (Okan Cornelius). Namun, ketika perceraian itu tidak terjadi, Toni pun siap mundur, dengan ikhlas. Cinta yang luar biasa.

Sinetron produksi TransTV, 31/2 Wanita, meski dengan konflik yang lebih berwarna, juga berformula sama. Kisah ini didominasi "pameran" cinta Ken (Ferry Ardiansyah) kepada Gio (Yoelinta Palar), yang telah menikah. Ken siap mendampingi semua masalah Gio, memberitahu perselingkuhan dan cinta palsu suaminya. Ken bahkan siap mengakui anak dalam kandungan Gi sebagai anaknya, jika mereka menikah kemudian. Sinetron ini juga menampilkan tipe-tipe wanita yang "jatuh cinta" hanya karena harta, dan lelaki yang tak bisa melepaskan cinta pertamanya, Ray pada Kris (Wulan Guritno), dan Andre (Surya Saputra) pada Nesa (Tessa Kaunang).

Pameran ketulusan cinta lelaki ini masih bertaburan lagi, pada sinetron Pacarku Beken yang mengusung Masayu Anastasia dan Hengky Kurniawan, Jodoh Aretta (Laudya Cyntia Bella-Raffi Ahmad), Kau dan Aku (Indra Bugman-Luna Maya), sampai pada Pura-pura Buta (Mario Lawalatta-Titi Kamal) dan Kisah Sedih di Hari Minggu. Bahkan, dalam sinetron Ramadan, cinta lelaki pun mendapat porsi yang lebih hebat dan dalam, yang hanya "berkurang" karena alasan lupa ingatan atau amnesia (Hikmah) dan atau dipengaruhi orang lain, semisal ibu (Ikhlas, Doa dan Anugerah, dan Adam dan Hawa)

Sebaliknya, berbeda dari lelaki, cinta wanita dalam sinetron justru lebih dangkal, gampang terombang-ambing, dan tidak murni. Atau, kalaupun mendalam, cinta itu selalu ditutup dengan imbalan yang setara. Contoh-contoh sinetron yang disebutkan di atas juga menunjukkan hal itu. Tidak ada formula "Kutunggu dudamu..." dalam hal ini. Bahkan, cinta perempuan juga yang membuat perempuan lain menderita, dengan cara merebut suami orang, misalnya dalam Istri Idaman atau Hikmah dan Ikhlas. 31/2 wanita misalnya, juga menunjukkan betapa gampangnya Gio (Yoelinta Palar) dan Kris (Wulan Guritno) serta Nesa (Tessa Kaunang) berubah arah cinta, setelah mendapatkan perhatian dari pacar pertamanya. Jadi, superioritas cinta lelaki membuat cinta wanita gampang ditaklukkan.


Cinta Bersyarat

Beberapa sinetron baru memang menunjukkan pembobotan yang lebih pada cinta wanita. Hal ini tampak dalam cerita Si Cantik dan Si Buruk Rupa yang masih tayang di RCTI. Dari beberapa episode yang telah tayang, kita tahu betapa hebat cinta wanita yang cantik (Dini Aminarti) kepada "The Beast" (Andre White). Tapi, dari iklan dan cuplikan tayangan itu kita juga tahu, bahwa si buruk rupa kelak akan berubah jadi si tampan, bak pangeran, sebagai imbalan.

Corak yang sama juga ditunjukkan sinetron Si Yoyo. Cinta Cantika (Dina Lorenza) yang mendalam pada Yoyo (Teuku Ryan) mendapat imbalan dengan berubahnya Yoyo menjadi sosok yang pintar, ganteng, dan kehilangan ketololannya. Dalam tayangan terbaru, Yoyo bahkan sudah berperan sebagai ustadz, mengikuti tren cerita agamis-mistis. Dari sini tampak, cinta dan pengorbanan yang semula seimbang antara keduanya, menjadi berubah karena ada "hadiah" kepada si wanita, berupa kesempurnaan pria. Cerita ini jelas masih berkutat pada dongeng, yang memang masih menyimpan semangat patriarkis.

Mungkin, banyak yang ragu dan atau tak menyadari perbedaan kualitas cinta lelaki dan perempuan dalam sinetron kita. Dan ini bukan hal yang aneh. Karena sebagai produk yang lahir dari hasil kombinasi antara teknologi dan modal, televisi adalah salah satu perangkat ideologis kelompok dominan(ideological state apparatuses), yang bekerja dengan cara sealamiah mungkin. "Kealamiahan" itu misalnya, dengan menciptakan seluruh rangkaian cerita sinetron seakan berwatak feminin, dengan pameran visualisasi kemesraan dan airmata. Padahal, seperti kata Laura Mulvey dalam esai "Visual Pleasure and Narrative Cinema", watak feminin cerita mengindikasikan penonton sebagai pihak maskulin. Lelaki memandang, perempuan memamerkan. Seluruh cerita adalah wujud jalinan persetujuan dengan penonton, yang telah dimaskulinisasi tadi.

Nah, dengan proses seperti itu, wajarlah jika kemudian sinetron --bahkan nyaris semua produk televisi-- selalu menempatkan lelaki sebagai pihak yang unggul. Karena, meski sebagian besar penonton adalah perempuan, sesungguhnya dalam "ideologi televisi" mata mereka selalu dianggap maskulin. Dan untuk urusan cinta, perempuan harus mendapatkan sesuatu sebagai hadiahnya, cinta yang bersyarat, sesuatu yang di luar sinetron, secara jelas ditunjukkan lewat tayangan "Joe Millionare Indonesia", yang luar biasa menjengkelkan itu.

[Artikel ini telah dimuat di Harian Suara Merdeka, Minggu 17 Juli 2005]