<$BlogRSDURL$>
...tera di sesela gegas-gesa
Friday, June 29, 2007

Saat Hujan Kehilangan Warna

Hidup akan selalu terasa lebih indah ketika kita diberi ruang untuk mengembangkan imaji dan menelisik misteri


Hujan sering sekali datang di saat yang tak diharapkan. Fitri mengalami hal itu. Di malam ulang tahunnya, dia terjebak di restoran, setelah membeli kado, untuk dirinya sendiri. "Kenapa hujan tidak berhenti juga ya?" ucapnya, sembari terus memegangi bungkusan kado, dan sekotak tart. Fitri gelisah, sedih,dan juga marah. Malam itu dia merasa sendirian, merasa telah dilupakan kekasihnya, Farrel.

Di teras kontrakan Fitri, Farrel justru tengah menunggunya, gelisah. Puluhan kali dia mengetuk pintu rumah itu, tiada jawab. Berkali-kali dia berteriak meminta maaf, tanpa sahutan. Lupa dan hujan telah membuatnya terlambat sampai ke kontrakan kekasihnya itu untuk menyerahkan kado istimewa. Dan kesalahpahaman terlanjur terjadi.

Tapi, akhirnya mereka bertemu. Dan di teras itu, kesalahpahaman mencair jadi rindu, berganti pelukan dan airmata bahagia. Farrel melamar, Fitri menerima. Meski keduanya sadar, hubungan mereka akan terganjal selama belum ada restu dari orangtua Farrel. Cerita habis untuk berlanjut kembali.

Itulah cuplikan sinetron Cinta Fitri yang tayang di SCTV, Senin malam (25/6). Dibintangi Shireen Sungkar dan Teuku Wisnu, serial adaptasi dari drama Korea Pure Love of 19 ini cukup membetot perhatian penikmat televisi. Beberapa blog menilai keluguan dan kepolosan Shireen menjadi daya dongkrak sinetron ini, mengalahkan akting Naysila Mirdad di sinetron Intan di RCTI. Meski, di mata saya, keluguan Shireen, dan juga Naysila, hadir bukan sebagai tuntutan cerita, melainkan lebih dikarenakan ketakmampuannya berakting dan mengeksplorasi diri. Ketakmampuan yang telah menjadi penyakit menular untuk aktris sinetron Indonesia. Saya sendiri, menonton sinetron ini semata karena melihat hujan yang hadir lebih dari 20 menit di Senin malam itu. Hujan yang dikutuk-sumpahi Fitri.


Kegenitan Visual

Ada apa dengan hujan? Itulah yang menjadi pertanyaan saya. Berkali-kali menonton sinetron, saya melihat kehadiran hujan selalu menjadi "kesialan" bagi sang tokoh. Hujan menjadi penghalang pertemuan, menjadi sebab kecelakaan, keterlambatan, bahkan kadang menjadi sebab perkosaan. Hujan selalu datang dalam fungsi untuk menghadirkan kesialan bagi sang tokoh. Artinya, hujan hadir hanya sebagai hujan, air yang tercurah dari langit. Itu saja. Hujan sebagai latar.

Hal yang sama juga terjadi dengan laut atau pantai. Nyaris semua sinetron menjadikan laut sebagai latar untuk mendongkrak keromantisan cerita. Di bibir pantailah biasanya cinta atau lamaran terucapkan. Juga di lautlah biasanya patah hati dilarikan. Laut dan pantai hadir hanya sebagai latar, tempat kehadiran sang tokoh. Hal yang sama juga terjadi pada kaok gagak, rerimbun hutan, sisa embun di dedaunan, lengang temaram jalan, dan juga bibir fajar. Semua hadir sebagaimana tampaknya, dan fungsinya mengikuti ketampakan tersebut.

Film-film horor Suzanna 20-30 tahun lalu, atau film aksi Barry Prima, tampaknya lebih tahu bagaimana menghadirkan hujan, hutan, bibir laut, atau lengang malam. "Penghormatan" pada hujan, misalnya hadir dalam adegan semacam ini; tokoh perempuan dikejar para penjahat. Langit digambarkan mendung, suasana temaram. Tokoh perempuan tertangkap di sebuah rumah, dan sambil tertawa, para penjahat memperkosanya. Seiring pakaian yang terenggut paksa, tubuh lelaki yang menimpa, tokoh perempuan menjerit. Di luar, hujan pun turun....

Laut dan ombak pun hadir dalam "penghormatan" semacam di atas. Dengan setting di pedesaan dekat pantai, film-film tempo doeloe menggambarkan percumbuan malam pertama dalam persilangan gambar resah-kamar dan kecamuk bibir pantai. Adegan cumbu bergantian dengan gerak liar ombak, bergulung, mendentumi pantai. Dan adegan akhir berlangsung ritmis, pasangan yang terkuyu lemas di kasur, ombak yang berhenti berdentum, lautan yang lengang....

Jika dalam sinetron hujan dan pantai hadir hanya sebagai latar fisik, di film kuno itu mereka menjadi latar batin. Jika di sinetron hujan hadir dalam pesona fisikal, dalam film Suzanna atau Barry prima, hujan dan ombak justru muncul dengan kegenitan visual, hujan dan ombak yang merangsang!


Rezim Dialog

Ya, ketakhadiran imaji. Itulah yang terjadi dalam sinetron kita. Semua hal diterangjelaskan dalam dialog, dalam gambar yang realis. Hujan ya hujan, ombak ya ombak. Tak pernah mewakili "sesuatu" yang lain. Saya berharap, ketika Fitri bertemu dengan Farrel, hujan akan berangsur reda, lalu pelan-pelan, seiring percakapan mereka, langit mulai cerah, dan ketika lamaran itu diucapkan, lahir setitik cahaya di langit, dari satu bintang. Tapi, khayalan kelas rendahan itu pun tak terjadi. Yang tampil justru rentetan pernyataan --sekali lagi pernyataan! karena dialog atau monolog antamereka nyaris tanpa keintiman. Kegelisahan Fitri dia nyatakan dalam monolog yang membosankan. Kecemasan Farrel pun demikian. Tipologi yang sudah menjadi anutan dalam sinetron. Akibatnya, menonton sinetron nyaris sama dengan mendengarkan radio. Segala hal ternyatakan, dan visualisasi gambar dari pernyataan tersebut tak memberikan efek apa pun.

Rezim dialog inilah yang mengebiri aktivitas menonton. Tak ada imaji visual. Bahasa gambar yang seharusnya menjadi inti setiap sinetron tenggelam dalam bingar kata-kata. Kamera hanya merekam apa pun yang terjadi, seakan tak ada orang di belakang kamera itu. Pemberhalaan pada dialog inilah yang barangkali membuat sebuah sinetron dalam diproduksi puluhan episode dalam waktu yang pendek, bahkan kejar tayang. Pengalfaan pada imaji visual itu membuat ratusan cerita --yang nyaris melupakan logika-- pun menjadi sangat gampang dikerjakan. Karena segala hal di sinetron menjadi mungkin ketika bisa didialogkan pelakunya.

Perajin sinetron barangkali lupa, bahwa hujan, ombak, cicit gagak, bukan hanya hadir sebagai benda, melainkan juga tanda, sebuah pesan, ada hal lain yang "hadir" bersama mereka. Ada kesedihan yang dibawa hujan, kegelisahan dan vitalitas dalam ombak, juga kematian di cicitan gagak. Kehadiran mereka selalu membawa berbagai imaji, sekaligus misteri. Dan hidup akan selalu terasa lebih indah ketika kita diberi ruang untuk mengembangkan imaji dan menelisik misteri. Sesuatu yang nyaris mustahil kita temukan di televisi.


[Artikel ini telah dimuat di Harian Suara Merdeka, Minggu 1 Juli 2007]

( t.i.l.i.k ! )

     

Thursday, June 07, 2007

Otoritas yang Dikebiri

Di "Indonesian Idol" para juri hanyalah ornamen, pelengkap sebuah pesta.


"Juri boleh mengatakan apa saja, tapi keputusan tetap di tangan Anda. Jadi, jika Anda tidak setuju dengan penilaian juri, terus dukung favorit Anda. Karena Anda yang memilih, Andalah yang menentukan!" teriak Daniel Mananta.

Itu adalah kalimat standart yang selalu diucapkan pembawa acara "Indonesian Idol", mulai Irgi-Atta, dan kini Daniel Mananta. Sekilas, kalimat "wajib" ini hanya berupa seruan kepada penonton agar terus mengalirkan SMS dukungan kepada kontestan. Namun, Daniel justru mengelaborasi kalimat tersebut menjadi sentilan-sentilan kecil yang kemudian menghancurkan otoritas para juri.

Jumat malam (31/5), misalnya. Usai Wilson melantunkan "Kuta Bali", Anang berbeda pendapat dengan tiga juri lainnya. Daniel segera menyambar hal itu. "Wilson, aneh ya? Ada tiga juri yang mendukung kamu, dan satu yang tidak," ucapnya sambil tersenyum dan mengerdikkan bahu. Di meja juri, Anang bersuara, mencoba menjelaskan maksud penilaiannya, yang segera ditimpali Indra Lesmana. Keduanya berdebat. Daniel dan Wilson tertawa. "Untuk pertama kalinya, gue bisa ngadu domba juri," kata Daniel Mananta, sumringah.


Ornamen Pesta

Bukan hanya sesama juri, peserta dan juri pun acap dibenturkan Daniel. Dan pembenturan ini sudah jadi semacam kebiasaan. "Rasanya kamu tidak seperti yang dikatakan juri ya?" ucapnya pada Priska. Atau, "Kamu setuju dengan pendapat juri?" tanyanya pada Fandi. Kepada Wilson, Daniel pun bertanya dengan nada tak percaya, "Kamu benar merasa kurang maksimal malam ini?" Dan lihatlah, kontestan pun termakan dan berani menyanggah penilaian juri. "Rasanya tidak. Semoga juri salah," kata Wilson. Dan, kalimat pamungkas Daniel untuk mengantarkan peserta turun panggung adalah, "Jika Anda tidak ingin ... (nama peserta) keluar malam ini, dukung terus dengan mengirimkan SMS ke..."

Daniel dan peserta sadar sekali, bukan juri yang membuat mereka tetap terus berada di atas panggung melainkan SMS dari penonton. Namun, seharusnya Daniel mendukung penilaian juri agar SMS paling sedikit jatuh kepada kontestan yang memang tidak berkualitas. Dengan membenturkan dan menyanggah opini para juri, bahkan kadang meledek, Daniel menempatkan fungsi juri hanya sebagai ornamen di acara itu, dan opini mereka adalah suara-suara asing pemeriah suasana. Penonton diajak untuk tidak percaya apa pun penilaian juri pada seorang kontestan. Daniel membuat penonton berada dalam satu teritorial dukungan yang utuh, tetap, tak boleh berpindah. Jika misalnya engkau mendukung Risma atau Steve, maka Daniel berharap engkau harus mendukungnya terus, apa pun pencapaiannya di atas panggung. Seburuk apa pun kualitas suara dan penjiwaan mereka atas sebuah lagu. Daniel seakan mempresentasikan dirinya sebagai wakil RCTI, yang hanya berkepentingan dengan banyaknya SMS dan bukan kualitas. Karena itu, Daniel menggugah fanatisme penonton.

Perangkap fanatisme pada sosok dan bukan kualitas inilah yang acap membuat juri seperti putus asa. Ketika Marsya tersingkir misalnya, Indra tampak tak percaya. Anang apalagi. Juri memang menilai Marsya tidak istimewa, namun kecaman mereka justru membanjir untuk Steve. Jamie Aditya misalnya, tak habis pikir mengapa kontestan seburuk Steve masih bisa bertahan dan terus mendapat dukungan. Keputusasaan itu juga yang membuat Jamie "membuang otoritasnya" sebagai juri, ketika menilai Steve Jumat malam (31/5) lalu.

"Steve, dari awal kompetisi ini, juri selalu kritik penampilan kamu. Akibatnya, penonton justru marah dan malah mendukungmu. Nah, biar kamu tidak didukung lagi, malam ini saya katakan, penampilan kamu bagussss banget Steve," ucap Jamie.

Ketika Jamie membuang otoritasnya, Daniel tak lagi bisa membenturkan dan menyangsikan otoritas juri. Dan dampaknya terasa kemudian, Steve terlempar. SMS penonton tak lagi mampu mempertahankan posisinya. Dan lihatlah, ketika Daniel mengatakan Steve tersingkir, Anang-Indra bangkit dari kursi dan keduanya toast, tertawa lepas. Jamie malah tersenyum lebar. Anang dan Indra menyadari, tersingkirnya Steve adalah pengukuhan atas otoritas mereka, pengakuan bahwa malam itu mereka tidak berhasil ditempatkan sebagai ornamen saja.


Kualitas SMS

Melihat "Indonesian Idol" selama ini, dapat dikatakan kehadiran juri tidak memberikan manfaat yang sebanding. Kemenangan Ihsan di "Indonesian Idol 3" misalnya, adalah sesuatu yang tak pernah terbayangkan oleh juri. Karena, secara kualitas, Ihsan justru sangat lemah dibandingkan Dirly, Gea, atau Nobo. Di situ terlihat penilaian juri tak memengaruhi pola pilihan penonton.

Sebaliknya, kemenangan Ihsan adalah kemenangan RCTI dan Freemantle, karena perolehan SMS yang melonjak dibandingkan "Indonesian idol 2". Ihsan mendapatkan SMS terbanyak justru karena dia tidak didukung juri. Dan pola inilah yang tampaknya ingin terus dikembangkan pihak penyelenggara. Dan caranya adalah dengan menggerus otoritas para juri, yang jika perlu, memasuki persoalan pribadi para juri. Daniel tahu betul bagaimana mengolah hal itu.

Ketika Titi Dj mengkritik napas Fandi yang memburu dan menganjurkannya berolahraga, Daniel justru menyanggahnya. Di babak "workshop" itu, Daniel bahkan berdebat dengan Titi soal olahraga itu. Dan ketika argumentasinya tidak cukup kuat, Daniel menyerang dengan, "Iya sih, memang lebih baik olahraga daripada operasi plastik." Daniel tertawa saat mengucapkan hal itu, dan penonton riuh. Sayang, kamera tidak menampilkan wajah Titi, yang dapat dipastikan tentu sangat tersindir dengan sentilan itu. Titi memang telah beberapa kali operasi, pengangkatan lemak di paha dan perut, dan memermak wilayah dada.

Anang juga pernah mendapatkan sentilan yang senada. Ketika mengkritik Fandi, Anang memang terkesan keras dan pedas. Dan Daniel mementahkan kritik itu dengan mengatakan, "Anang kenapa? Kok marah-marah? Gak ada masalah keluarga kan?" Penonton pun riuh. Semua kritik Anang langsung menguap, tertutup oleh komentar Daniel. Saat itu Krisdayanti memang tengah digosipkan selingkuh, dan Anang menyita ponsel istrinya itu. Dengan membawa persoalan pribadi para juri ke atas panggung, Daniel berhasil mementahkan semua penilaian para juri. Daniel membuka peluang hadirnya persoalan psikologis di dalam diri para juri ketika menilai kontestan. Juri adalah sosok yang bermasalah, dan karena itu penilaian mereka bisa jadi jauh dari objektif.

Tak cukup membawa persoalan pribadi, Daniel pun acap mengolok-olok para juri. Dimas Jay di "Indonesian Idol 3" adalah langganan olok-olok Daniel. Tapi, olokan paling kasar justru diterima juri di Jumat malam (11/5). Keempat juri mengkritik penampilan Steve. Jamie bahkan menilai Steve hanya pantas bernyanyi di depan anak SMP. Di panggung, Steve tampak pucat. Dan Daniel mencoba mementahkan kritik itu dengan berkata, "Steve, kamu takut sama anjing kan?" Steve menggangguk. Dan Daniel segera melanjutkan, "Tak heran kalau kamu takut juga sama juri."

Juri di mata Daniel memang bukan siapa-siapa. Dan dia berharap, penonton juga memperlakukan hal yang sama. Karena di "Indonesian Idol" kualitas SMS-lah yang paling utama.


[Artikel ini telah dimuat di Harian Suara Merdeka, Minggu 10 Juni 2007]


Tulisan lain tentang "Indonesian Idol":

Juri-juri tanpa Independensi

Indonesia tak Pernah Memilih

( t.i.l.i.k ! )