<$BlogRSDURL$>
...tera di sesela gegas-gesa
Thursday, July 31, 2008

Pasar di Indonesian Idol

Aris dan Gisel bertempur di grandfinal "Indonesian Idol". Yang menang modal dan pasar.


Patudu, wakil Jawa Tengah itu, gugur dalam sebuah pertarungan yang tak adil. Pertarungan yang dipersiapkan dengan skema bahwa dia harus jadi pecundang. Ketidakadilan yang lahir dari analisa Indra Lesmana, satu hari sebelum kontes dimulai. "Terlepas dari kualitasnya, saya ragu kalau Patudu bisa lolos dua besar. Dia nggak punya pasar yang jelas seperti Gisel dan Aris."

"Indonesian Idol" adalah kontes suara, dan Indra, juri utama, justru menilai Patudu "terlepas dari kualitasnya". Indra berubah jadi pedagang, dan memasukkan pertimbangan pasar. Indra hanya melihat Patudu sebagai komoditas, satuan barang dengan nilai nominalnya, yang dapat berharga atau pantas dibuang.

Sebab Aris, di mata Indra, cocok menjadi ikon anak jalanan. Sebab Gisel, telah cocok jadi ikon gadis zaman sekarang. "Kalau Patudu, saya bingung. Dia itu mewakili siapa, dan condong ke mana, saya tidak tahu. Jadi dia itu belum jelas mempunyai pasar kalau jadi Idol," tambah Indra. Dan sebelum Patudu diadu, Indra telah berbisik ragu.

RCTI menangkap keraguan pasar seperti yang dibisikkan Indra itu.

Namun, dalam sebuah tayangan reality show, keraguan, prediksi, tak selalu bergulir jadi kenyataan. Telah beberapa kali Patudu diramalkan juri akan terbuang. Anang dan juga Titi, telah dua kali menyatakan Patudu pantas pulang. Tapi kenyataan bicara lain, Patudu selalu kembali, bahkan ketika berada dalam penampilan terburuk. SMS untuk pria Batak ini selalu cukup, dia punya pendukung yang luas, dari Jawa Tengah, dan Medan, asal puaknya. Lebih dari itu, Patudu adalah "kontestan lelaki yang paling stabil penampilannya," puji Indra. Dalam diri Patudu tersedia dua hal, kualitas suara dan dukungan pemirsa. Keduanya akan dapat mengalahkan keraguan pasar Indra.

RCTI pun merasa takut. Pertarungan yang adil seperti sebelumnya tak bisa dilakukan lagi. Harus ada skema, cara, yang bisa "mengacaukan" perebutan suara pemirsa. RCTI ingat satu nama, Titiek Puspa.

Maka, dalam pertarungan tiga besar itu, tiba-tiba Titiek Puspa hadir. Sendiri.

Sebelum Titiek Puspa, telah pernah hadir Audi, juga Rossa. Mereka acap menjadi suara alternatif di luar juri, yang mengomentari penampilan kontestan. Sebagai suara alternatif, mereka menilai semua, berada di antara penonton dalam "sudut netral". Terkadang membenarkan penilaian juri, meski lebih sering membantah. Tapi Titiek Puspa hadir bukan sebagai suara alternatif. Titiek Puspa datang untuk memilihkan pemenang. Itulah sebabnya, dia tidak berada di zona netral bersama penonton, tapi duduk dalam apitan Ibu dan istri Aris. Di zona terlibat itu, kamera berkali-kali menampakkan Titiek yang ikut berdendang dan mengacungkan jari atas penampilan Aris.

Di sisi lain, di pusaran pendukung Patudu, tak ada satu artis pun. Tak ada kamera yang betah menayangkannya, hanya sekelebatan.

Dan apa kata Titiek Puspa? "Wes, sing baju kuning itu pasti masuk grandfinal." Aris memang memakai jas kuning.

"Merinding awakku mendengar suaranya," tambah Titiek Puspa. Cukup? Belum. "Sudah lama saya suka sama yang baju kuning itu. Banyak orang yang punya suara seperti kamu. Tapi cuma kamu yang punya soul, karakter. Pokoke, komplet!"

Titiek tak mengomentari yang lain, tak menilai yang lain. Kehadirannya hanya punya satu tujuan, menciptakan panggung grandfinal untuk Aris. Titiek dihadirkan untuk menjadi pemulung suara (vote getter) bagi Aris. Di panggung itu, Titiek memainkan perannya seperti artis di dunia politik, mengajak orang untuk memilih seperti pilihannya. Hasilnya? Efektif. Aris meraih suara terbanyak. Patudu, yang tak "punya pasar" itu, terbuang.

"Aku bangga sama kamu," bisik Titiek ketika Aris merangkulnya, usai perhelatan yang tak menarik itu. Barangkali, Titiek bangga pada dirinya sendiri, yang kembali mampu menaikkan "pamor" Aris, seperti pada Inul, yang pernah dia lakukan dulu.

Lalu, dalam pertarungan yang tak adil itu, Ariskah yang menang? Titiek Puspa atau Indra Lesmana, dengan prediksi saudagarnya? Tidak. Yang menang adalah modal dan pasar. Dalam ajang itu, intervensi modal dan pasar telah membuat kualitas bukan lagi yang utama. Penghambaan pada pasar telah membuat seluruh aspek pertunjukan "Indonesian Idol" yang di babak audisi penuh dengan citraan pencarian talenta berbakat dalam bidang tariksuara, runtuh begitu saja. Perdebatan-pertengkaran Titi, Anang, Indra, tentang musikalitas suara seorang peserta tak lagi punya gema. Karena di babak akhir, Indra justru menciderai musikalitas itu.

Menempatkan pasar sebagai ukuran tertinggi di dalam berkesenian adalah dosa terbesar bagi kreativitas. Karena pasar juga adalah setan yang selalu menggoda iman berkesenian. Dan di Jumat malam (18/7) itu, iman berkesenian "Indonesian Idol" telah padam.

Tapi, apakah salah jika sebuah kontes, seorang juri, mempertimbangkan pasar? Salah, jika pasar ditempatkan sebagai sebuah kekuatan yang tak terlawan. Karena sesungguhnya, pasar selalu bisa dinegosiasi. Pasar bukanlah sebuah medan yang tetap dan ajek, melainkan bergerak dan mengalir, menerima setiap anasir untuk memperkaya. Pasar adalah sebuah muara, yang sebenarnya dapat dikendalikan dan dibentuk siapa saja. Pasar bukanlah areal seteril, melainkan wilayah yang bisa dipengaruhi, bahkan dikejutkan. Pasar adalah sebuah anomali, dan dengan demikian, sepertinya dia bisa diduga, padahal tidak, seakan bisa dikendalikan, tapi juga bukan. Pasar adalah dunia yang, meminjam Amir Hamzah, "bertukar tangkap dengan lepas."

Indra dan RCTI barangkali lupa akan hal itu. Dan mereka "membuang" Patudu, karena yakin, tak ada pasar yang jelas untuk anak yang audisi dari Brebes itu. Padahal, ketika "Indonesian Idol" memenangkan Mike dan juga Ihsan, dengan asumsi yang sama, bukankah pasar "menolaknya"? Mike dan Ihsan tak pernah diterima pasar dengan sempurna, kaset dan CD mereka tak pernah meraih hasil seperti yang dikira. Karena itu Indra, janganlah percaya kepada pasar sebagai sesuatu yang tak terlawan. Begitu engkah percaya, pasar akan membuat engkau kecewa. Cukuplah sudah sampai pada Patudu saja.