<$BlogRSDURL$>
...tera di sesela gegas-gesa
Thursday, May 22, 2008

Bola dan Pengkhianatan Narator

Selalu ada kenikmatan yang hilang ketika pertandingan bola tayang


"Yah, apa yang terjadi Pemirsa? Tampaknya benturan antara Messi dan Flecher. Cukup keras!" jelas Tris Irawan, dalam siaran langsung pertandingan semifinal Liga Champions antara MU dan Barcelona, di RCTI, Rabu dini hari (30/4). Tapi anehnya, seperti tayang di teve, yang terkapar justru Evra.

Bahkan, setelah reply pun, Tris masih menyebut juga nama Flecher. Dia menyadari kesalahan nama itu beberapa saat kemudian, setelah Evra ditandu keluar lapangan. Aneh. Hal yang sama juga dilakukan Ricky Jo, ketika menaratori pertandingan MU dan AS Roma di perempat final. Teves membuat gol lewat sundulan hasil umpan silang Owen Hargreaves. Tapi Ricky Jo justru berkali-kali menyebut nama Park Ji-sung, bahkan setelah dua kali reply. "Oh, ternyata Hargreaves, pemirsa..." ralatnya. Penonton pasti gemas sekali dengan narator yang tak akurat ini.

Tampaknya, memang begitulah "kualitas" narator pertandingan bola di televisi. Heboh, pasti. Lucu, tentu. Akurat, nanti dulu. Tris Irawan atau Ricky Jo yang biasa menaratori Liga Champions, acap salah menyebut nama pemain. Bahkan, kadang mereka tidak menyadari kesalahan itu, dan membiarkan saja sampai pertandingan selesai. Barangkali, tempo permainan yang cepat dan posisi pemain yang terus berubah-bergerak, membuat mereka sulit mengindentifikasikan nama. Tak heran, pemain A mengoper bola ke pemain B, disebut narator sebagai pemain C. Dan ketika pemain B ini mengumpan bola lagi, narator tak sempat meralat salah sebut itu. Kelalaian pun berlalu.

ketakakuratan itu tentu sangat mengganggu, terutama untuk penonton yang bahkan hanya dengan melihat gestur tubuh, sudah tahu siapa nama pemain itu. Ronaldo atau Rooney, Owen atau Ji-sung, memiliki gestur yang khas, dan sulit membuat mata melakukan kesalahan identifikasi. Demikian juga Messi atau Deco, adalah mustahil mempertukarkan nama mereka. Namun, sepanjang siaran langsung Liga Champions, kesalahan ini acap terjadi. Barangkali, tayangan jauh tengah malam itu membuat narator acap kehilangan konsentrasi.

Namun, ketakakuratan itu bukan masalah sebenarnya, jika tidak diucapkan dengan kehebohan. Ricky Jo misalnya, terlalu "nyinyir" jika menaratori pertandingan. Tak cuma menceritakan jalannya pertandingan, dia juga acap menilai skill bahkan ekspresi pemain. Situasi ketika MU mendapat hadiah penalti ketika melawan Barcelona di partai pertama, misalnya. Ricky terus saja berkata-kata, menceritakan Ronaldo, dari posisi akan mengambil tendangan, keuntungan yang didapatkan MU, sampai jumlah gol yang akan dibuat Ronaldo, juga kesalahan yang tak perlu dilakukan Barcelona. Komentarnya "berkejaran" dengan waktu jeda penalti. Dan Ronaldo gagal mengeksekusi penalti itu.

"Itu gara-gara Ricky Jo. Berisik!!" SMS Nora Umber, novelis, menilai kegagalan penalti itu. Hahaha...
Barangkali tak hanya Nora Umres, sebagian besar penonton, terutama pecinta MU, terganggu dengan narasi yang tak perlu itu. Apakah Ronaldo gagal karena keberisikan Ricky Jo? Cuma tiga yang tahu, Tuhan, Ronaldo, dan Umres sendiri.


Sejarah Tim

Barangkali penonton masih dapat memaafkan ketakakuratan dan keberisikan itu. Maklum, tontotan gratis. Namun, ada lagi ucapan narator, dan juga diikuti komentator, yang barangkali sulit untuk diterima penonton: sikap memihak. Ketika MU melawat ke Roma, misalnya, ketakhadiran Totti menjadi percakapan utama, bahkan ketika pertandingan berjalan. Ucapan, "Seandainya ada Totti..." atau "Jika saja tendangan itu dilesakkan Totti", bahkan "Biasanya Totti yang berada di posisi itu.." bergulir terus.

Pengulangan narasi demikian selain mengganggu juga amat sangat merendahkan kualitas pemain non-Totti, dan Roma sebagai tim. Lucunya, ketika pertemuan kedua, dan Ferguson tidak memainkan Ronaldo, sikap itu dinilai sebagai "unjuk digdaya" MU atas Roma. Narator pun merajut kata-kata yang intinya berharap MU tumbang, dan ada wakil dari liga lain agar Champions tidak dikuasai Inggris.

Keberpihakan paling kentara ketika MU bertemu Barcelona. Tris Irawan amat menjagokan Barcelona, dan memberikan pujian berkali-kali untuk Messi, sekaligus membandingkannya dengan Ronaldo. Pemihakan Tris itu bahkan dia tularkan pada koemntator Titis Widyamoko. Ketika MU unggul 1-0 berkat gol Paul Scholes, Tris segera berkomentar, "Ini sejarah Bung. Sejarah bagi Scholes." Artinya, skor itu dinilai hanya "sejarah" bagi seorang pemain. Memang, dalam pertandingan itu, Scholes memainkan partai ke-100 untuk liga Eropa. Selain itu, dalam debutnya di Champions 1994, Scoles juga membuat gol ke gawang Barcelona. Namun, apa pun, skor 1-0 itu sudah membuat Tris panik. "Jadi, mungkin ini akan jadi kemenangan pertama ya, Bung?" tanyanya pada Titis.

Tris, seperti juga Ricky Jo, memang lebih mendukung klub dari Liga Spanyol dibandingkan tim lain. Bahkan partai Liga Champions lebih banyak menayangkan pertandingan tim yang diikuti klub Spanyol. Sebabnya dapat dipahami, RCTI memang hanya menyiarkan Liga Spanyol. Komentator dan narator lebih akrab dengan nama-nama dan skill pemain, juga strategi dari liga itu. Memihak klub non-Spanyol artinya sama dengan "mengiklankan" liga lain yang tayang di teve lain. Jadi, pemihakan narator dan komentator dapat dibaca sebagai sikap yang dipilihkan RCTI. Jadi, agak wajar juga Ricky Jo "memberisiki" Ronaldo yang tengah mengambil tendangan penalti. Hihihi....


Menghianati Kamera

Fungsi narator pertandingan adalah menjembatani penonton dan peristiwa di layar kaca. Namun, dalam pertandingan bola, terutama setegang dan selevel Liga Champions, narator justru lebih terasa menjedai keterlibatan penonton dengan tayangan. Narator mengalienasikan penonton dari aura, suasana, ketegangan seperti yang tampak di lapangan. Dalam bahasa yang lebih tegas: narator mengkhianati kamera!

Misalnya suasana ketika Ronaldo akan mengeksekusi tendangan penalti ke gawang Barcelona. Di televisi, gambar berpindah-pindah. Tampak Ronaldo memegang bola, memandang gawang lawan, dan sembari membuang napas --yang ditampilkan secara close-up-- dia letakkan bola di titik putih. Ronaldo melangkah mundur.... Kamera berpindah ke gawang Barcelona, wajah Valdes yang tegang tampak jelas, dan matanya yang mencoba membaca ke mana kira-kira tendangan itu diarahkan. Kamera juga berpindah ke base, Rijkard yang berteriak, Ferguson yang cuma bisa diam, menunggu-tegang. Kamera kemudian menjauh, menampakkan keseluruhan penonton yang seperti senyap, para pemain yang bergerak memberi ruang tembak, dan tibalah saat itu: Ronaldo bergerak, menembak...

Waktu antara Ronaldo meletakkan bola dan menendang barangkali cuma beberapa detik. Tapi kamera dengan perpindahannya, juga permainan antara "tatapan" dekat dan jauh, berhasil membuat waktu yang singkat itu jadi demikian panjang, begitu tegang. Penonton seperti terbawa pada kecemasan yang sama ketika dengan jelas melihat keringat Ronaldo yang bergulir dari keningnya, dan dia abaikan. Waktu yang pendek itu terasa mengulur, yang kalau tak salah, pernah disebut Eric Sasono sebagai extended time. Dan ketika Ronaldo menendang, penonton seperti menunggu bom yang tengah meledak!

Tapi Ricky Jo merusaknya!

Bangunan narasi yang "diceritakan" kamera tadi, runtuh oleh narator. Kekuatan gambar, kedahsyatan kamera, rusak oleh kata-kata. Ricky Jo membuat apa yang sudah dikatakan kamera menjadi sesuatu yang sia-sia.

Reply dalam slow motion sesudah tayangan itu pun tak lagi dapat mengembalikan penonton kepada suasana. Penonton tak lagi punya ruang untuk mencerna apa yang sebenarnya terjadi karena narator memosisikan diri sebagai yang maha tahu. Narator menganggap penonton buta!

Untunglah, ketika menonton bola saya selalu menutup telinga, dan menikmati kekuatan kamera yang tak dikhianati kata-kata. Merasakan diri terlibat, lebur, seperti rasa yang terbina di Old Trafford sana.


[Artikel ini telah dimuat di Harian Suara Merdeka, Minggu 18 Mei 2008]