<$BlogRSDURL$>
...tera di sesela gegas-gesa
Friday, April 18, 2008

Pengkhianatan Indonesian Idol
atawa Kemenangan Air Mata Melawan Suara


Seperti Muhaimin Iskandar, juara "Indonesian Idol" pun, seharusnya, hanya dapat dijatuhkan dalam "muktamar".


"I belive you can fool," kata Indra Lesmana kepada salah seorang peserta ketika memimpin audisi di Salatiga, sebagaimana tayang di RCTI, Jumat (11/4). Peserta itu memang "menyedihkan", bernyanyi seperti ikan yang kehabisan oksigen, mangap-mangap tanpa suara. Dan ketika suaranya keluar, bernyanyi "i belive i can fly", penonton pasti tertawa, dan kemudian iba. Peserta ini barangkali adalah contoh orang yang tidak menyadari keterbatasan bakatnya. Ia hanya mencoba, siapa tahu nasib baik memihaknya. Cap tolol, terlalu kejam diterakan untuknya.

Peserta yang tak menyadari kualitas vokalnya bukan hanya tampil dari Salatiga. Di Brebes, Surabaya, Medan, dan Jakarta, peserta semacam itu selalu ada. Dan komentar pedas, menyakitkan, bahkan kadang bernada penghinaan, acap lahir dari bibir para juri. Anang Hermansyah terutama, yang paling kesulitan menemukan diksi untuk menghaluskan ucapannya. Tak heran, dia acap menjadi sasaran ketidakpuasan peserta, yang merasa terhina dengan penolakannya. Ekspresi ketidakpuasan pada Anang --tentu dengan alasan komersial-- bahkan ditunjukkan, mungkin diarahkan oleh pengarah acara, berupa cacimaki, menghancurkan properti, sampai menantang adu nyali di panggung nyanyi. Anang, tampaknya, ingin dicitrakan sebagai Simon Cowell, juri paling "tanpa basa-basi" "American Idol".

"Indonesian Idol" adalah acara reality show pencarian bakat untuk kualitas suara. Namun, memasuki tahun kelima ini, kian terasa penyimpangan dari tujuan semula. Kualitas suara tak lagi menjadi modus utama, terkalahkan oleh hal-hal lain, yang tujuannya cuma untuk meningkatkan aspek komersialitas acara. Jadi, kemungkinannya, penyimpangan itu memang disengaja.


Juri Cengeng

Indra Lesmana terdiam, menatap tanpa kedip pada peserta di depannya. Melalui kamera, matanya yang mulai berkaca-kaca, dan raut muka yang ikut menahan kesedihan. Di panggung berdiri peserta dari Palembang, yang berkisah dengan tangis. Ibunya saat ini di bui, terpenjara karena tertangkap membawa narkoba di diskotik. Ayahnya telah lama pergi entah ke mana, menelantarkan keluarganya. "Saya ingin ibu bangga pada saya, bahwa saya bisa, bisa membahagiakannya," isak peserta itu.

Kamera lalu menyanyikan semuanya, wajah tua dan kuyu, yang terhalang teralis, tengah mengisak-tangis. Di bui sempit itu, dia salat, bermunajat, untuk anaknya. Kamera berakhir dengan pelukan si ibu mengantarkan anaknya ke Jakarta.
Tentu, peserta itu lolos ke Jakarta, bertarung di babak berikutnya. Komentar semua juri menyenangkannya. Bahkan, "telinga saya tuli jika tidak dapat mendengarkan keindahan suaramu," puji Anang. Terpenjara pada kisah sedih itu, Anang ternyata menemukan "diksi" yang lumayan untuk mengungkapkan penilaiannya.

Di Brebes lahir kisah yang sama. Peserta yang belum apa-apa sudah menumpahkan airmata, dan berkisah tentang keluarganya. Kakaknya terpaksa masuk penjara karena tak kuat menghadapi kemiskinan keluarganya, jadi copet. Dan dia ikut acara itu demi membuktikan bahwa ada cara terhormat untuk lepas dari kemiskinan.

Di Surabaya, seorang peserta tak dapat bernyanyi karena desakan emosinya keluar demikian tiba-tiba. Dia, kata Melly Goeslaw, lebih seperti "curhat" daripada bernyanyi. Ternyata, lagu yang dia lantunkan adalah ungkapan dari kondisi yang dia alami. Berkali-kali, tangisnya saja yang tumpah. Sampai Titi DJ mendatanginya, memeluknya, dan memintanya untuk menenangkan diri, sebelum bernyanyi lagi. Peserta cantik itu sepertinya korban lelaki, dan kini sendiri, mengasuh bayi benih cintanya.

Di kota lain, kisah semacam ini terus saja tersaji. Dan juri, entah kenapa, selalu terbawa pada suasana. Indra jadi tampak cengeng di depan kisah semacam ini. Matanya selalu berkaca-kaca, dan kehilangan suara. Titi DJ pun sama, Anang juga. Mereka seperti terpesona, tersihir, tapi bukan pada suara. Dan biasanya, peserta dengan kisah semacam ini, selalu sampai ke Jakarta.

Apa yang terjadi sesungguhnya? Di tahun pertama, Indonesian Idol punya Delon. Tampan dan memiliki kesedihan yang sama, muncul dari keluarga tak berpunya. Tapi penonton ingat, rasa iba juri tak terlalu tampak menyengat. Mutia Kasim, juri saat itu, bahkan selalu menjatuhkan Delon, sebagai peserta yang hanya menjual tampang, tanpa kualitas suara. Di beberapa babak akhir, juri bahkan seakan bersepakat untuk tidak menjadikan Delon sebagai juara, dengan komentar dan mimik yang sangat menyangsikan Delon.

Tapi, sikap ini berubah di tahun ketiga, ketika mereka menemukan Ihsan. Lelaki satu ini menyita perhatian yang luar biasa bukan karena kemampuan vokalnya melainkan kisah keluarganya. Titi DJ bahkan ke mal hanya untuk membelikannya busana yang lebih pantas untuk tampil di pentas. Kisah keluarganya, terutama episode ibu Ihkan yang terpaksa menjual cincin kawin sebagai biaya dia ke Jakarta, menghipnosa juri dan penonton. Dan selanjutnya, jalan lempang tersdia untuk Ihsan. Sepanjang ajang, tak ada komentar pedas untuknya. Jika pun penampilannya buruk, diksi yang memaklumi selalu lahir dari bibir para juri. Ihsan akhirnya menang.

Di ajang keempat ada Sarah, single parent, cantik, dengan kisah yang membuat Titi pun acap terdiam. Pujian selalu lahir untuk penampilan "lady rocker" ini, meski penonton mencukupkannya di lima besar. Penonton, barangkali, mulai menyadari, juri tak bisa jadi acuan lagi. Kemenangan Ihsan karena kisah hidupnya, membuat penonton mulai tahu bagaimana memandang itu acara.


Suara Muktamar

Tapi, pengkhianatan terbesar "Indonesian Idol" bukan pada kemenangan airmata melawan suara, melainkan hak penonton yang dikebiri. Dan masalah itu tak pernah jelas sampai kini, menyangkut "Indonesian Idol" pertama.

Di tahun pertama itu, penonton tahu juri begitu takut jika Delon, yang "hanya menjual tampang" jadi jawara. Maka seluruh komentar seperti berusaha menjatuhkannya. Kesinisan yang memancing iba, dan membuat penonton terus mendukungnya, sampai final. Delon memang tidak juara, dan juri tersenyum puas karenanya. Joy Tobing, yang memang bersuara luar biasa, meraih posisi pertama. Penonton memilihnya karena kualitas yang teruji, dan mendudukkan Delon pada posisi yang tak pantas jadi hinaan lagi.

Tapi, di mana Joy kini?

Ketika mencari wakil "Asian Idol", juara pertama "Indonesian Idol I" diakukan pada Delon, bukan Joy. Nama Joy bahkan tak pernah lagi disebutkan dalam penyelenggaraan acara ini, seperti dihindari, dilupakan. Apa yang terjadi?
Joy memang bersiteru dengan Fremantlemedia, pihak yang punya lisensi menyelenggarakan acara ini di Indonesia. Pokok perseteruannya sederhana, sebelum jadi jawara, Joy ternyata sudah punya kaset dengan label lain. Padahal, sebagai jawara, hanya BMG dan Fremantlemedia yang berhak menentukan kaset dan lagunya. Joy merasa dia tak melakukan kesalahan, karena semua yang dia lakukan sebelum ada kontrak. Tapi Frementlemedia kukuh, dan kemudian "membuang" Joy.
Masalahnya, apa hak Fremantlemedia membuang gelar Joy? Apa pun "kesalahan" Joy, Freemantlemedia tidak punya hak mencopot gelarnya karena posisi itu bukan mereka yang mendudukkannya. Joy menang melalui sebuah "pesta" langsung yang dipilih penonton. Dan seharunya, penonton juga yang berhak menjatuhkan atau membatalkan posisinya. Joy ibaratnya adalah Muhaimin Iskandar, yang hanya bisa dipecat atau mundur, atas persetujuan muktamar. Tapi, sampai kini, pernahkan penonton dilibatkan dalam persoalan Joy? Freemantlemedia, dan juga RCTI menganggap penonton tidak ada, dan jutaan SMS yang mendudukkan Joy sebagai jawara, yang juga merupakan sumber utama pendapatan Freemantlemedia, sebagai sampah belaka. Betapa naifnya.

"Indonesian Idol" seperti acara reality show lainnya memang tak pernah menunjukkan realitas yang sebenarnya. Selalu ada pengaburan, penghiperbolaan, untuk memberikan efek kejut bagi penonton. Penonton, tanpa sadar, adalah kawanan yang diarahkan, dipaksa, untuk menjatuhkan pilihan pada sosok yang menurut penyelenggara dapat diterima pasar. Namun, apa pun alasannya, ketika penonton sudah memilih, penyelenggara harus menghormatinya. Cukup Joy saja yang menjadi korban, cukup Ihsan saja yang dimenangkan karena airmata. Karena Freemantlemedia bukanlah dewan syura yang dapat membekukan atau melakukan apa saja....


[Artikel ini telah dimuat di Harian Suara Merdeka, Minggu 20 April 2008]