<$BlogRSDURL$>
...tera di sesela gegas-gesa
Thursday, April 10, 2008

Artis dan Diksi yang tak Bunyi

Dalam banyak acara non-gosip, para artis seperti keledai tersasar ke kota.

Putri Patricia tergelak. Sesekali dia mengangguk, tersenyum, atau menggeleng. Tangannya acap bergerak menurunkan tepi roknya yang kadang gagal menutupi lutut bersihnya, atau merapikan rambutnya. Matanya fokus mengikuti percakapan HS Dillon dan Wimar Witoelar yang duduk di depannya.

Di acara "Perspektif Wimar" yang tayang di Antv, Rabu pagi (9/4) itu, Putri pasti merasa sepi. Ia berada dalam lalu-lalang pertanyaan dan jawaban antara Wimar dan HS Dillon, tapi tak terlibat di dalamnya. Di beberapa menit terakhir, Wimar bahkan memborong semua pertanyaan, terkekeh-kekeh sendiri. Putri tak dia libatkan. Kamera pun bahkan menjauhi Putri, bergerak fokus untuk Wimar dan HS Dillon. Kehadiran Putri diingkari. Padahal, di acara itu, dia menjadi calon co-host, orang kedua setelah Wimar, yang bertugas mengulik, mendebat, bertanya, atau sekadar bergumam, untuk memancing reaksi atau tanggapan dari narasumber atas masalah yang mereka angkat. Rabu pagi itu, Putri pasti menggumam, betapa jauhnya dia dari tema yang Wimar dan HS Dillon bicarakan.

Putri tidak sendiri. Meski tidak terlalu "sunyi", Refalina S Temat pun tak banyak berbuat ketika menjadi calon co-host Wimar. Ia cuma menyumbang sepatah-dua kata, bagi kegesitan Wimar yang mengorek "perspektif" Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari. Untunglah, posisi duduk calon co-host yang menyampingi kamera dapat "menyembunyikan" kehadiran mereka, sehingga penonton tak merasa terlalu terganggu. Apalagi, kehadiran mereka ternyata "cuma" untuk mendekatkan acara itu pada khalayak yang lebih muda, seperti tertera di situs Wimar.


Saling Bertentangan

Kehadiran Putri Patriacia, Revalina S Temat, dan juga Wulan Guritno menjadi calon co-host dalam acara itu kian menegaskan posisi artis dalam permasalahan sosial negeri ini. Mereka tidak terlibat, dan jika pun dilibatkan, mereka sulit masuk. Memang harus diakui, posisi Wimar dan kecerdasannya melemparkan pertanyaan menjadi dilema sendiri bagi calon co-host-nya. Wimar tak menyisakan peluang atau jatah bagi mereka, karena "celetukan" yang ringan dan kecil pun, mungkin secara otomatis, terus keluar dari Wimar. Calon co-host kalah cepat, dan harus "mengejar" sebelum Wimar.

Terlepas dari acara "Perspektif", kalangan artis memang kesulitan mengungkapkan masalah yang berada di luar diri mereka. Ketika memasuki ranah yang bukan gosip, mereka acap kehilangan kata-kata. Kalaupun mampu mengungkapkan pendapat atau sanggahan, opini mereka terasa aneh, mengangkasa, dan tak sadar, saling bertentangan.

Dengar sergahan Dewi Persik ini, "Saya cuma takut pada Allah. Kalau Allah yang melarang, baru saya patuh. Bukan walikota atau yang lainnya...." Dewi dilarang untuk bergoyang di Tangerang, dan dia meradang. Dewi mengecam larangan itu, seperti yang berkali-kali tayang di infotainmen. Sanggahan Dewi, sekilas memang benar, "hanya Allah yang dia takuti." Tapi, argumentasi ini bukankah justru melawan dirinya sendiri, dan bukan membantu. Karena jika sungguh Dewi takut pada Allah, tentulah dia tak akan bergoyang aurat begitu. Bukankah bergoyang syahwat itu memang larangan dalam agama mana pun?

Artikulasi yang tak berbunyi semacam itu secara kentara juga tampil di "Silat Lidah" Anteve. Opini-opini yang terlontar dari Julia Perez, Aline, atau Djenar Maesa Ayu, lebih mengejar efek bombasme, kejutan, meski tanpa isi. Akibatnya, masalah yang serius hanya jadi tunggangan untuk menunjukkan betapa "berani" opini mereka, dan bukan nilai kemasukakalannya. Nalar seakan ditinggalkan.

Artikulasi semacam itu pun menjangkiti acara-acara reality show pencarian bakat. Para juri kerap menilai dengan opini yang membuat peserta mengerutkan kening, karena kesulitan menangkap esensi penilaian itu. Bahkan ketika memuji pun, kosa kata mereka berkelindan hanya dari itu ke itu. Juri "Indonesian Idol" beberapa tahun ini memberikan diksi, pilihan kata, yang nyaris sama. Artikulasi yang tak diperbaharui. Indra Lesmana, Titi DJ atau Anang, masih selalu tampak mengulang, tidak memberikan perspektif atau pilihan, apa yang pantas untuk dilakukan peserta di kelak hari. Mereka tidak banyak memberi inspirasi.

Bandingkan misalnya dengan juri "American Idol". Opini, kritik mereka, meskipun keras, tapi punya arah yang jelas. Bahkan jika pun memuji, artikulasi mereka demikian inspiratif, menggugah bukan hanya untuk peserta malainkan juga penonton. "Syukulah, ada beberapa hal yang membuat kamu bukan jadi makhluk khayalan. Kesalahan kecil tadi membuat dirimu tampak lebih manusiawi, lebih pantas berada di sini," kata Paula Abdul, yang terpukau pada kemampuan salah satu peserta. Paula menemukan artikulasi yang tepat dan mengagumkan, bahwa ketidaksempurnaan penampilan membuat seseorang jadi pantas dinilai.


Mekanisme Pasar

Acara talkshow mungkin dapat menunjukkan betapa parahnya artis kita mengartikulasikan pendapatnya. Di "Ceriwis" atau "Dorce Show" acap tampak artis yang kehilangan diksi untuk hal-hal yang sederhana. Ucapan mereka tak meyakinkan, bahkan untuk penjelasan karier mereka. "Saya sih mengalir saja, Bunda...." Ucapan ini menjadi pilihan mayoritas setelah "Semua kita serahkan pada kuasa Tuhan, Bunda..." Diksi semacam itu, entah mengapa, selalu mendapat tepuk tangan membahana. Padahal, ucapan itu tidak memberikan penjelasan apa pun tentang progres diri, rencana dan eksekusi, atau evaluasi. Bandingkan dengan artis yang hadir di "Oprah Winfrey Show". Artikulasi Jennifer Aniston begitu mengguncang, wacana diri dan kareir Julia Robert membuat penonton terhenyak dan takjub. Artis ini menemukan diksi yang luar biasa untuk menjelaskan apa yang dia raih dan dia impikan, bagian yang riang dan sakit, dan apa yang telah dia lakukan untuk orang banyak. Oprah sendiri menjadi bagian dari pertunjukan artikulasi dan diksi yang terpemanai.

Apa sebabnya artis kita acap kehilangan diksi? infotainmen menjawab, pendidikan. Tak heran, jika ada artis yang wisuda atau melanjutkan pendidikan, infotainmen melakukan liputan "mendalam". Dini Aminarti yang lulus S1, juga Andien, tayang nyaris satu minggu. Bahkan Acha yang berkuliah di Malaysia saja, mendapat porsi yang luar biasa. Dian Sastro apalagi, tamat kuliah filsafat, dan magang sebagai asisten dosen, di mata infotainmen, itu peristiwa yang dahsyat. Kadar liputan pun jadi berlipat-lipat. Infotainem barangkali tidak tahu, Judie Foster tamat magna cum laude dari Yale, dan dapat gelar doktor lebih dari dua universitas. Atau Mira Sorvino yang juga meraih magna cum laude dari Harvard, dan liputan atas mereka di sana, malah sunyi senyap.

Ya, bukan pendidikan yang jadi masalah melainkan "mekanisme pasar" yang membuat artis tak punya waktu dan tak perlu untuk terus membekali dirinya. Pasar tak meminta standar tinggi, hanya berorientasi pada wajah dan kontinuitas produksi. Akibatnya, artis hanya bergerak dari dan dalam kamera, dan abai pada hal lainnya. Dan ketika satu "peran" meminta mereka terlibat dalam globalitas persoalan bangsa, hanya senyum dan anggukan yang mereka bisa, tanpa kata-kata. Putri Patricia dan Revalina S Temat sudah menunjukkannya. Wimar Witoelar seharusnya bisa abai, tak memaksakan diri melibatkan mereka, dan tidak membuat penonton sakit mata.



[Artikel ini telah dimuat di Harian Suara Merdeka, Minggu 13 April 2008]