<$BlogRSDURL$>
...tera di sesela gegas-gesa
Wednesday, January 09, 2008

Perceraian Telinga dan Hati

Kikan dan Yuke akhirnya bercerai. Padahal, sebelumnya, mereka telah bersepakat untuk bersatu lagi, demi anak-anak. Tapi, "Terlalu banyak perbedaan di antara kami. Komunikasi yang intensif tidak pernah terjadi. Keputusan ini adalah yang terbaik," terang Kikan.

"Nggak ada orang ketiga. Mereka cerai karena masalah komunikasi, makin ke sini makin nggak nyambung," ungkap Michael B.D. Hutagalung, kuasa hukum Yuke.

Kikan mengajukan gugatan cerai April tahun lalu. Mereka kemudian berdamai karena yakin dengan komunikasi yang intens, semua perbedaan akan terjembatani. Nyatanya, 6 bulan tak cukup, perbaikan berarti tak terjadi. Desember kemarin, Kikan resmi menjanda.

Ketiadaan komunikasi juga yang membuat masalah antara Dhani dan Maia terus melebar dan membesar. "Tadi mereka telah bicara, dan ada beberapa kesepakatan. Intinya, keduanya ingin memberikan yang terbaik bagi anak-anak," terang Kak Seto, yang menjadi mediator konflik mereka. Ketua KPAI Giwo Rubiyanto pun mengakui ketiadaan komunikasi yang menyebabkan konflik dan kesalahpahaman selalu terjadi antara Maia dan Dhani. "Tadi kami telah bertemu, dan Dhani sudah menjelaskan masalahnya. Ini hanya karena ketiadaan komunikasi saja," terangnya.

Dhani memang lebih sering mengomunikasikan masalahnya kepada media. Maia juga. Ketika bertemu, keduanya acap berdiam diri. Ketika jauh, masalah anak pun mereka cukupkan bicara melalui SMS. Malah terkadang, "Sudah dua hari ini SMS saya belum dijawab," terang Maya, ketika meminta Dhani mengajak dirinya dan tiga anak mereka untuk ikut juga ke Malaysia, akhir Desember lalu.

Ketiadaan komunikasi. Itulah alasan sebagian besar perceraian para aktris. Sesuatu yang aneh, mengingat sebagai selebritis, mereka justru cerdas mengomunikasikan dirinya ke media. Komunikasi yang efektiflah yang membuat mereka dapat diterima media dan penggemar. Dhani dengan arogansinya adalah komunikan yang jeli melihat dan memanfaatkan media dan memengaruhi penggemarnya. Maia apalagi, berbagai statmennya mencerminkan kecerdasannya memosisikan diri sebagai istri yang teraniaya dan ibu yang tidak bahagia. Kikan adalah motor Cokelat, yang acap menjadi juru bicara grup bandnya. Tapi, mengapa mereka justru gagal "berbicara" dengan pasangan hidup mereka.

Barangkali, inilah yang terjadi: mereka berkomunikasi dalam "manajemen" gosip. Dalam gosip, komunikasi dilakukan dengan tujuan agar diri menjadi pusat perhatian. Orang lain adalah pihak yang kehadirannya hanya sebagai pelengkap, menguatkan posisi pembicara. Manajemen gosip membuat orang lain selalu sebagai pihak yang mendengar, yang tak mengerti apa-apa, dan harus mengatakan "ya". Berbicara dalam manajemen gosip adalah berkomunikasi satu arah.

Dalam kacamata manajemen gosip itulah kita dapat melihat bahwa Dhani dan Maia sama-sama bicara, hanya untuk didengarkan, dan bukan mendengarkan. Juga Kikan dan Yuke. Keduanya menempatkan diri sebagai pihak yang harus didengar. Dan di situlah muasal masalahnya, mereka sebenarnya tak berkomunikasi, karena bibir mereka tak lagi pernah menemukan telinga. Hakikatnya, mereka bermonolog.

Komunikasi pada dasarnya terjadi karena ada kesediaan untuk mendengar, kerendahatian untuk bersedia memahami. Dengan orang yang kita cintai, selain telinga dan bibir, komunikasi juga meminta hati: kejujuran untuk mengakui bahwa "aku bukanlah sosok yang sempurna dan karena itu maafku untukmu selalu tersedia". Hanya dengan itulah, komunikasi terjadi, dialog akan berarti. Sayangnya, hal mendasar dan kecil itulah yang acap tidak dimiliki para selebriti. Kamera dan gosip, popularitas dan uang, telah menutup hati mereka. Maka, ketika usai sidang cerai mereka berkata, "perceraian ini terjadi karena tak ada lagi komunikasi di antara kami," kita tahu apa yang sesungguhnya terjadi, mereka tak pernah menggunakan telinga dan membuka hati. Menyedihkan sekali.


[Dimuat sebagai "Tajuk" di Tabloid Cempaka, Rabu 9 Januari 2008]