<$BlogRSDURL$>
...tera di sesela gegas-gesa
Monday, November 05, 2007

Mengabadikan Ketakmasukakalan

"Prime Time" justru menjadi penyedap rasa bagi ragam ketakmasukakalan di televisi kita.


"Di sinetron kita, misalnya ada tokoh yang sekali teraniaya, terus jadi teraniayaaa banget. Kalau ada tokoh jahat, jahaaat banget. Yang baik, baiiik banget. Akhirnya kami berpikir, mengapa tidak memarodikan pola-pola cerita yang selalu ada dalam sinetron itu?" kata Fransiska S. Dia pun memproduseri "Prime Time".

"Prime Time" memang memelesetkan adegan sinetron yang sudah menjadi "tipekalitas". Misalnya marah sambil melotot dan berkecak pingang, tangisan yang dalam beberapa detik sudah banjir airmata, sampai cerita yang konyol. Acara yang tayang di TransTV setiap Minggu malam ini merupakan reinkarnasi "Sketsa ABG", mulai dari para pemain sampai tipekalitas akting. Jadi, nyaris secara keseluruhan, "Prime Time" sewajah dengan "Sketsa ABG" dan "Extravaganza ABG". Yang membedakan cuma, "`Sketsa ABG` syuting di dalam studio, sementara `Prime Time` hampir semua outdoor," jelas Siska.

Dan begitulah, Olga masih tampil dengan "kualitas" tipikalnya, sama dengan karakter Aming yang kedahsyatannya "dipatok" sebagai "Pinkyboy" di "Extravaganza". Raffi Ahmad yang terkadang berakting apik di dalam sinetron pun masih belum beranjak dengan wajah cengengesan yang kental di "Sketsa ABG", juga Dawiyah Sukaesih. "Prime Time" tampaknya belum diniatkan sebagai wajah baru dari "Extravanza ABG".


Dua Parodi

Fransiska meyakini tayangan ini akan menjadi alternatif karena berisi parodi atas kejumudan kreativitas sinetron Indonesia. Apalagi, titik pijak acara ini adalah kesadaran mereka tentang kekonyolan dan ketakmasukakalan di dalam sinetron yang bisa dijadikan bahan tertawaaan. Masalahnya, apakah kesadaran itu difigura dalam visi yang benar atau tidak? Atau, cukupkah membongkar "ideologi" visual sinetron kita dengan visualisasi parodi saja? Apalagi, seperti pengakuan Siksa, mereka hanya mengambil sisi humornya saja, untuk memancing penonton tertawa.

Jika demikian, barangkali yang dimaksudkan "kesadaran" oleh Siksa bukanlah semacam upaya untuk membongkar ketakmasukakalan di dalam sinetron, melainkan sekadar peluang untuk membuat acara baru, memancing responsibilitas yang lebih tinggi dari penonton "Sketsa ABG" selama ini. Hal ini dapat dilihat dari petilan-petilan parodi itu yang hanya tayang 3-5 menit. Pemarodian itu pun terkesan sangat sederhana, hanya mengutamakan unsur yang dapat memancing tawa. Yang dibidik dari parodi ini bukanlah syaraf pikir melainkan syaraf tawa penonton. Parodi di sini telah mengalami penyempitan makna.

Di dalam buku A Theory od Parody, Linda Hutcheon mendefenisikan parodi sebagai imitasi yang mengandung ironi. Parodi selalu mengandung unsur kritik untuk mengungkapkan ketidakpuasan, ketidaksenangan, atau kekecewaan. Tapi, parodi tidak hanya cukup sebagai imitasi, dan harus memuat ruang "permainan" untuk menghadirkan makna baru. Parodi mengajak orang tertawa dan sekaligus berpikir.

Dalam Dialogic Imagination, Michael Bahtin meyakini parodi selalu lebih menonjolkan aspek distorsi dan plesetan maknanya. Karena itu, parodi tidak pernah berangkat dari satu teks tunggal, namun dialog dari berbagai teks untuk menciptakan makna baru. Dalam parodi selalu ada "dua wajah", yang imitasi dan asli. Parodi juga tidak selalu berangkat dari sisi negatif.

"Prime Time" di satu sisi telah berhasil memarodikan ketidakmasukakalan di dalam sinetron kita. Tapi di sisi lain, ketidakmasukakalan itu hadir tanpa jarak di dalam pemanggungan mereka. Alih-alih merepresentasikan" ini loh ketidakmasukakalan itu", "Prime Time" justru terjebak dalam bagaimana menciptakan ketidakmasukakalan baru. Ironi kata kuncinya. Ironi atas teks itu yang belum tereksplorasi secara serius di dalam "Prime Time". Acara ini masih sebatas hanya menyangatkan atau menghiperbolakan dan belum sampai pada membelokkan atau memutus teks asli. Karena itu, parodi ini nyaris tidak memiliki efek kejut, dan tidak memperhubungkan penonton langsung dengan teks atau visual asli yang dituju. Lompatan makna baru antara teks asli dan imitasi tidak terjadi dalam satu ketersegeraan. Sehabis tawa, nyaris tak tersisa apa-apa. "Prime Time" berangkat dari kesadaran peluang untuk memancing tawa dan bukan menawarkan wacana.


Micin Olga

Sebagai produksi TransTV, tentu memang sulit berharap "Prime Time" memosisikan dirinya sebagai "oposisi" ketakmasukakalan dalam sinetron kita. Karena sangat tidak mungkin acara ini mengebiri acara lain yang juga tayang di TransTV. Apalagi, TransTV justru salah satu persemaian utama dari kekonyolan sinetron kita. Sinetron yang tayang di teve itu, misalnya Sinema Hidayah, Legenda, Hikayah, dan sinetron lepas lain, justru selalu membuat kekonyolan baru, dan menjadi rujukan bagi teve lain. Sinetron Legenda misalnya, yang justru bisa jadi ladang parodi yang sebenarnya, justru memperhamba pada kenaifan dan ketakmasukakalan sebagai bumbu utama legenda. Apalagi sinentron Hikayan dan Hidayah, yang membaurkan kemuskilan dalam dogma agama, dan menjadi acara yang paling diunggulkan oleh TransTV.

Maka, tidak mungkin berharap "Prime Time" adalah "solusi" atas kekonyolan sinetron kita. Kecuali, acara ini, misalnya, tayang di MetroTV, yang tidak akan menimbulkan konflik bisnis di dalamnya. "Prime Time" hanyalah satu lini acara baru yang hanya menambah "penyedap rasa" atas ketidakmasukakalan dalam sinetron kita. Micin itu ada dalam diri Olga, Raffi, dan juga Dawiyah. Dan dengan tambahan penyedap rasa ini, ketidakmasukakalan itu punya wajah baru, menjadi tayangan mandiri, yang lepas dari teks asli yang mereka parodikan. Dan sebagai parodi yang mengutamakan sisi lucu saja, sehingga lepas dari teks asli, tayangan ini justru kian mengukuhkan ketidakmasukakalan itu sendiri. Karena, yang konyol, yang tidak masuk akal itu, yang aneh bin ajaib di dalam sinetron kita, bukanlah unsur yang meniadakan akal sehat, melainkan memancing syaraf tawa. Kehadirannya tak perlu ditampik, tak perlu dicela, karena kita bisa melihatnya hanya dengan tertawa. Dan ketika sebuah ketidakmasukakalan sinetron hanya dianggap sebagai lelucon, jangan harapkan ada perubahan. Karena dengan lelucon itu, para perajin sinetron semakin merasa tak ada yang salah dalam produk mereka. "Prime Time" telah membuktikannya.


[Artikel ini telah dimuat di Harian Suara Merdeka, Minggu 11 November 2007]