<$BlogRSDURL$>
...tera di sesela gegas-gesa
Monday, October 22, 2007

Sebatang Sepeda, Remah Koran, dan Misrepresentasi

Iklan-iklan inspirasi Idul Fitri pun acap melakukan misrepresentasi.

Sebulanan ini, semua televisi memiliki satu "agama". Berbagai acara diciptakan untuk berwajah islami. Bahkan, sinetron kejar tayang yang semula tak ada hubungan dengan syiar keislaman, tiba-tiba berubah drastis. Ceritanya berbelok, pemainnya berganti busana, ketakrasionalannya pun bertambah.

Iklan pun mengalami metamorfosa yang sama, terutama menjelang dan selama Idul Fitri. Berbagai perusahaan, instansi, dan partai politik, berlomba mengiklankan diri, merayakan kefitrian, meminta maaf, dan tentu, tetap menyanjung diri.

Secara sederhana, ada dua jenis iklan idul fitri yang beredar di televisi. Pertama adalah iklan dari petinggi BUMN dan partai politik yang berisi pernyataan maaf dan kampanye diri. Kedua adalah iklan inspiratif dari perusahaan besar yang berisi keindahan idul fitri, nilai pengorbanan, dan saling berbagi.

Iklan-iklan inspiratif itu menggugah dengan cara yang sama, menghadirkan nilai-nilai sederhana yang mulai sulit kita temukan. Iklan itu mengharukan karena menyadarkan bahwa nilai itu adalah sesuatu yang kita miliki tapi jarang kita sadari; kemampuan menahan diri dalam goda, kemauan berbagi, dan kegampangan memaafkan. Iklan itu, meski sebentar, membuat kita percaya bahwa pada dasarnya manusia adalah benih kebajikan.


Memberi, Berbagi

Beberapa anak berlari riang mengejar sobekan kertas yang diterbangkan angin. Di peron stasiun, remah-remah koran dan kardus-kardus bekas mereka punguti dengan tawa lepas. Di ujung sana, di trotoar jalan, tingkah mereka mengundang tawa pemuda-pemuda bergitar.

Kumpulan kertas bekas itu lalu mereka timbang. Dan wajah cemas mereka segera sirna, ketika sebuah gitar menggenapkan berat kertas mereka. Dengan tertawa, mereka berbelanja berkardus mi, dan membaginya ke panti asuhan Ar-Rahim. Dan di hari Lebaran, dengan bernyanyi, mereka bersalaman. Opick tampak di antara pengurus panti itu. Iklan ditutup dengan ucapan "Warnai hari kemenangan dengan saling berbagi. Selamat Idul Fitri".

Itu memang bukan iklan baru. Setidaknya, tahun lalu iklan itu telah menghiasi hari-hari Lebaran. Namun, meski ulangan, tayangan ini tetap saja terasa indah dan menggugah. Anak-anak pun ternyata tahu tentang bagaimana berbagi dan mengusahakan hal itu dengan jerih mereka sendiri. Anak-anak itu menjadi juru penerang tanpa terasa menggurui.

Iklan kedua yang senada dengan hal di atas bercerita tentang Pak Guru Umar. Istrinya di rumah sakit, dan dia tak punya uang untuk menebus semua biaya. Di ruang kelas, tak ada kemurungan di wajahnya, dia menjadi guru yang baik, menyembunyikan pedihnya dengan memancing tawa murid-murid. Lepas mengajar, lunas juga gembiranya. Hanya suara azan yang mampu menahan dirinya untuk mengambil uang sekolah para murid. Dengan iklas, dia jual sepeda motor bututnya, diiringi tatapan haru para beberapa murid. Menaiki sepeda, mereka bersama ke rumah sakit. Di hari Lebaran, saat bersilaturahmi, para murid menghadiahi sebuah sepeda baru kepada Pak Umar.

Iklan ini terasa begitu mengharukan. Gambarnya sederhana tapi indah, ceritanya menimbulkan rasa sesak di dada. Anak-anak itu, dengan caranya sendiri, tahu bagaimana meringankan beban orang lain. Anak-anak itu adalah tangan firman-Nya yang menjadi kenyataan, yang membayar pengorbanan Pak Umar. Kehadiran anak-anak itu, seperti kata Tagore, adalah tanda bahwa Tuhan belum jera dengan ulah manusia.


Misrepresentasi

Dua iklan di atas dengan nada yang sama berbicara tentang berbagi di hari fitri. Anak-anak dijadikan subjek cerita untuk menekankan betapa kepolosan mereka bukanlah tanda keabaian pada sekitarnya. Kepolosan mereka justru tanda bahwa apa pun yang mereka lakukan jauh dari pamrih. Dan karena itulah, iklan ini terasa menyentuh.

Namun, meski bicara dengan nada yang sama, dua iklan di atas tetap berbeda warna. Perbedaan warna itu terlihat dari kepentingan pengiklan yang masuk ke dalam cerita. Pada iklan pertama, anak-anak itu menjual remah kertas untuk membeli berkardus mi. mi yang mereka bagi ke panti adalah produk Indofood, yakni Indomie. Iklan ini memang dipersembahkan oleh Indomie. Di sinilah, Indomie tidak mampu menahan diri untuk tidak "menonjolkan" produknya pada "pameran" keikhlasan anak-anak itu. Indomie hadir di dalam cerita sebagai produk yang pantas dibagikan di hari nan fitri.

Hal itu tidak terjadi dalam iklan Guru Umar. Anak-anak itu menghadiahkan sepeda, dan iklan ini bukan persembahan dari pabrikan sepeda, malainkan pabrik rokok Djarum. Penghadiran sepeda tak memiliki korelasi apa pun dengan rokok. Di iklan ini, Djarum mampu menahan diri untuk tidak "mempresentasikan" produknya dalam citraan "resmi" mereka selama ini karena larangan visual produk rokok. Iklan itu, tampak "murni" sebagai ajakan tentang keberanian berkorban dan keindahan berbagi. Anak-anak yang hadir di dalam iklan Djarum "mengabarkan" kebaikannya tanpa dibebani pesan sponsor.

Pada iklan Indomie, terkesan kepolosan anak-anak itu dimanfaatkan untuk menonjolkan citra produknya. Sebagai iklan yang mewartakan ketakberpamrihan, iklan ini justru terasa "gagal". Jika anak-anak itu mau mengumpulkan remah kertas sebagai jalan untuk berbagi tanpa mengharap pamrih, Indomie justru membuat iklan ini dengan pamrih. Dengan masuknya produk mereka ke dalam cerita, tampaklah "ajakan berbagi tanpa pamrih" hanya sebagai iklan, pemanis bibir saja. Iklan ajakan itu akhirnya nyaris setara dengan iklan-iklan dari partai politik dan pimpinan BUMN. Ada penonjolan diri pribadi dan atau institusi di dalamnya. Iklan itu dengan demikian hanya berfungsi sebagai ajakan tentang sebuah nilai kemauan untuk berbagi dan bukan contoh nyata sifat berbagi.

Iklan idul fitri Indomie di atas menunjukkan bagaimana terjadinya "misrepresentasi". Sebuah "kesalahan" citra diri yang sangat sering kita lihat dilakukan para politikus, terutama di momen Idul Fitri.

[Artikel ini telah dimuat di Harian Suara Merdeka, Minggu 21 Oktober 2007]