<$BlogRSDURL$>
...tera di sesela gegas-gesa
Tuesday, October 02, 2007

Imaji, Sensualitas, dan Julia Perez

Yang pertama kali diserang oleh tubuh-tubuh sensual adalah pikiran, bukan mata.




Semua yang hadir di televisi seharusnya merupakan impian dari para penonton. Demikianlah apologi yang pernah diucapkan oleh Raam Punjabi. Raja sinetron ini yakin, penonton teve adalah makhluk-makhluk yang letih dan mencari kesenangan dalam aktivitas menonton. Karena itu, dia pun membuat sinetron yang memenuhi hasrat dari para penonton yang letih oleh kehidupan real mereka.

Keyakinan Raam Punjabi ini, harus kita akui, juga menjadi kepercayaan mayoritas penggagas acara di televisi. Karena itulah, sampai kini format acara di televisi nyaris tak pernah berubah. Memang acara-acara baru selalu hadir, menawarkan kesegaran baik dari segi cerita dan penampil, namun masih selalu dalam esensi yang sama, sekadar menghibur pemirsa. Dan karena motifnya menghibur dan memberi mimpi, satu hal yang pasti, acara-acara televisi tersebut acap tidak "membumi".

Dengan kacamata yang sederhana, pemenuhan hiburan dan impian pemirsa itu diwujudkan dalam dua bentuk: glamouritas dan sensualitas. Dengan menampilkan dua hal itu, penggagas acara di teve yakin tayangannya akan popular dan meraih rating tinggi. Keyakinan yang memang tak bertepuk sebelah tangan. Karena itulah, tubuh-tubuh sensual selalu berseliweran di setiap acara. Sensualitas yang selalu dipadukan dengan kehidupan glamour.


Ikon Sensual

Sinetron adalah pemasok utama tubuh-tubuh seksi dan kehidupan glamour. Namun, acara lain pun, merasa tidak nyaman jika tidak menyisipkan sensualitas. Komedi misalnya, pasti selalu menghadirkan tubuh-tubuh sensual, meskipun hanya sekadar untuk dipamerkan pada penonton dan jadi ajang pelecehan di panggung. Srimulat sukses memakai ajian ini. "Extravaganza" juga pintar meramu, dengan memakai tubuh seksi para bintang tamu. Yang terkadang lucu, tubuh sensual pun masih "dijual" dalam acara bola. Komentator bola di Anteve misalnya, selalu ditemani bintang tamu bertubuh aduhai, yang gugup berbicara tentang bola.

Ya, Anteve yang tengah berubah tampaknya menyadari bahwa sensualitas dan glamouritas adalah cara mujarab meraih popularitas. Tak heran, lebih dari stasiun lain, teve ini menggelar sensualitas dalam bentuk massal. Ikon-ikon tubuh sensual pun dipajang dalam tiap acara untuk sajian visual yang menjerat mata. Anteve bahkan "memasang" Julia perez sebagai tenaga marketing sensualitas itu.

Semula, kehadiran Julia Perez memang hanya selintasan di dalam puluhan acara di Anteve. Namun, belakangan ini, tubuh Jupe justru menjadi "magma" dalam acara unggulan. Kehadiran Jupe yang rutin pertama kali muncul dalam "Seleb Mendadak Dangdut". Dalam acara ini, Jupe bahkan sengaja dilawankan dengan Rachma Azhari, yang membuat keduanya tampil menggila, dengan busana serba terbuka. Sesi satu panggung keduanya adalah pameran tubuh dan goyang sensual, yang membuat penonton di studio acap terperangah, dan juri kehilangan kata-kata. Kadang, demi sensualitas, busana yang mereka kenakan justru membuat goyang mereka tidak leluasa. Karena, jika tetap bergoyang, dapat dipastikan pakaian mereka tak akan lagi mampu tersangga oleh dada. "Jupe bagus, tapi barangkali karena busananya ya, jadi tidak bisa maksimal pergerakannya. Saya maklumlah..." kata Liza Natalia, salah satu juri "Seleb Mendadak Dangdut".

Acara ini memang menjual sensualitas. Tak heran jika kemudian Jupe pun menang. Saat ini, popularitasnya memang tak terlawankan oleh dua Azhari, Rachma dan Sarah, sekalipun. Lepas dari "Seleb Mendadak Dangdut", Jupe masih dijerat Anteve dalam "Seleb Dance". Dia didapuk sebagai pembawa acara. Dan untuk peserta, ditampilkan "ikon" tubuh sensual lain, Tessa Mariska, yang "matang" dalam acara "Komedi Nakal" di TransTV.

Dan penampilan perdana Tessa Mariska bersama Andre, benar-benar mengguncang panggung "Seleb Dance". Busananya yang terbuka di bagian dada, tak menghalanginya untuk bergerak liar, yang membuat bagian tubuh itu terekspose demikian bebas. Penonton berteriak, heboh, tapi juri justru terhenyak. "Bagi saya itu bukan dance, tapi kecelakaan," nilai Joko Anwar, salah satu juri. Shanty, juri yang lain, bahkan hanya bengong. Dia tak bisa berkomentar apa pun. Julia Perez sendiri mengaku keringatan melihat penampilan Tessa Mariska. Juri memberi nilai jelek untuk penampilannya. Tapi sampai kini, Tessa-Andre lolos terus. Ini bukti, bukan kemampuan menari, tapi eksplorasi sensualitas tubuh yang menjadi nilai utama.

Tak cukup hanya menjadi pembawa acara di "Seleb Dance", Julia Perez pun didapuk sebagai panelis di "Silat Lidah", yang juga tayangan baru di Anteve. Jupe termasuk panelis yang rutin tampil, mendampingi Ria Irawan, Melissa Karim, dan Ratna Sarumpaet. Acara ini, seperti pengakuan sang host Irwan Ardian, hanya menampilkan perempuan yang sensual tapi berotak kosong.


Serang Pikiran

Kehadiran Julia Perez di tiga acara baru itu memberi tanda bahwa sensualitas adalah anak kandung dunia hiburan. Dengan cara apa pun, kehadirannya tidak bisa ditampik. Sebab, selain menghibur, sensualitas juga membuat penonton melakukan identifikasi hasrat. Penonton perempuan misalnya, secara tidak sadar akan mengidentifikasikan hasrat tubuh idealnya pada diri aktris seksi idamannya. Sedangkan penonton lelaki mendapatkan pemenuhan imaji tentang objek hasratnya. Dua hal ini berkelindan, membentuk imaji harapan tentang idealisasi hasrat yang beroleh pemenuhan.

Julia Perez adalah akrtis yang tahu bagaimana menjual sensualitas tubuhnya. Seluruh aktivitasnya, gerak tubuh, lirikan mata, busana, sampai duduk, tak pernah lepas dari pembentukan imaji tentang tubuh yang ideal dan nikmat. Dalam satu sesi "Silat Lidah" misalnya, Ria Irawan membantah penilaian Irwan bahwa Jupe memiliki dada besar. "Yang besar ganjelannya," sergah Ria. Namun, Jupe tidak gusar. Dengan membusungkan dada, mendesah dan meleletkan lidah, dia berkata, "yang penting einakk boo..."

Citra sensual Julia Peres yang sudah "jadi" inilah yang dimanfaatkan Anteve untuk mendongkrak acaranya. Sebagai ikon sensualitas, Julia Perez kini tidak perlu lagi membuka busana untuk memamerkan kemolekan tubuhnya. Karena saat ini, nyaris di benak semua orang, mendengar kata Julia Perez saja, sudah terimajikan tubuh sensual yang hanya ditutupi selembar benang. Dan di sinilah kelihatan betapa mengerikannya dampak tayangan yang memuja sensualitas. Karena yang pertama kali diserang adalah pikiran dan bukan mata. Julia Perez bisa saja tampil di televisi memakai pakaian tertutup di bulan Ramadan ini. Tapi, di benak penonton, yang tergambar adalah Julia Peres yang selalu kehilangan busana. Anteve tahu benar memanfaatkannya.


[Artikel ini telah dimuat di Harian Suara Merdeka, Minggu 30 September 2007]