<$BlogRSDURL$>
...tera di sesela gegas-gesa
Thursday, January 24, 2008

Cinta, Gairah, Arah



ORANG ketiga. Itulah sebab perpisahan Andrea dan Sammy Kerispatih. Meski Sammy membantah, Andrea tetap yakin hubungan antara Sammy dan Natalie bukan sekadar pertemanan biasa. "Aku melihatnya, kok. Jadi bagaimana aku tidak percaya?" katanya. Dan Andrea benar. Natalie pun merasa bahwa Sammy memberi hati padanya. Seperti tayang di layar kaca, Natalie mau "jalan" setelah Sammy mengaku telah berpisah dari Andrea.

"Saya melihat tujuan kami telah tak sama lagi," terang Andrea. Ia bersedih, terutama setelah Sammy menampik cincin yang mereka kenakan sebagai tanda ikatan pertunangan.

Tyas Mirasih berbeda lagi. Awal tahun lalu, dia masih bermesraan dengan Lembu Club Eighties. Di tengah tahun, dia menjalin cinta dengan Raffi. Dan bulan September, dia berciuman dengan Bams Samson. Akhir tahun, Tyas sendiri lagi. Dalam setahun, tiga lelaki telah singgah di hatinya, dan ketiganya kemudian pergi. Dan ketika tampil di "Empat Mata", dengan enteng Tyas berkata bahwa perpisahan mereka terjadi karena ketidakcocokan semata.

Ketidakcocokan barangkali bukan alasan yang sempurna. Karena kepada tiga lelaki itu, Tyas nyaris melakukan pola yang sama. Bersama Lembu, Tyas berpose mesra di Sanur Bali. Dengan Raffi, Tyas memeluk pasrah, di pantai Kuta. Dengan Bams apalagi, mereka tertangkap kamera berciuman, di belakang panggung ketika Samsons akan manggung, di Bandung. Sammy pun setali tiga uang. Bersama Natalie yang sintal itu, dia tampak begitu mesra, dan seperti bangga ketika tertangkap kamera.

Cinta harus dimulai dengan gairah. Namun, cinta yang hanya dimodali gairah juga selalu cepat punah. Dan itulah yang tak disadari Tyas dan Sammy. Gairah memang membuat cinta jadi indah, tapi pasti sementara. Sebabnya satu, gairah meminta misteri, hasrat yang tak pernah terpuasi. Dan ketika misteri cinta itu terkuak, hasrat terpuasi, gairah pun reda. Cinta kehilangan pesonanya, kehilangan kesetiaannya. Foto-foto ciuman mereka juga adalah bukti gairah yang sedang dipenuhi, gairah yang tertuntasi.

Cinta harus dimulai dengan gairah, dan dipertahankan lewat arah. Inilah bagian cinta yang tidak dipunyai Tyas dan Sammy: arah. Karena bersandar pada gairah, Tyas tak pernah tahu akan ke mana muara asmaranya. "Kami mengalir saja. Kami tidak ingin menargetkan apa pun pada hubungan ini," demikianlah kata Tyas ketika masih berpacaran dengan Raffi. Tyas tidak punya tujuan, tidak memberi arah pada sebuah hubungan. Dan tanpa arah, sudah pasti, sebuah pasangan cuma menunggu waktu untuk berpisah.

"Aku tidak bisa bayangkan, bagaimana hidupku jika tanpa dia," kata Surya Saputra ketika melamar Cintya Lamusu. Dan di atas panggung "Seleb Dance" itu, Cintya biarkan Surya menyematkan cincin di jarinya. Dengan mata bercahaya takjub, yang tak lepas memandang paras kekasihnya, dan bibir yang gemetar, dia hanya berucap pendek, "Terimakasih..." Selebihnya adalah tangis. Cintya bahagia karena dia percaya, mereka berdua telah menemukan dan berada dalam cinta, dengan gairah dan arah yang sama.

Cinta dimulai dengan gairah, dan harus diikat oleh arah. Hanya dengan itu cinta bisa awet dan setia. Sungguh betapa sederhana. Sayang, begitu banyak yang tak menyadarinya.


[Telah dimuat sebagai "Tajuk" di Tabloid Cempaka, Kamis 24 Januari 2008]

( t.i.l.i.k ! )

     

Monday, January 21, 2008

Mereka yang Menasehati Diri Sendiri

Banyak orang yang tak menyadari, nasehat yang mereka berikan sebenarnya lebih cocok untuk diri mereka sendiri.


Di "Silat Lidah", komentator bebas bicara apa pun, tanpa basa basi. Tapi, sebebasnya Julia Perez, dia pasti tak akan diperbolehkan bicara sambil makan atau berkumur, atau tidur telentang di atas panggung. "Silat Lidah", bagaimanapun, masih bebas terbatas, bebas terkendali. Itupun telah membuat acara ini berisik sekali. Jadi bayangkanlah betapa riuh dan "berasak"nya "Supermama Seleb Show", ketika semua komentator dan peserta bebas melakukan apa saja.

Ivan Gunawan, komentator tetap di acara itu, misalnya, sering disapa Ruben Onsu dengan panggilan "Banteng", "Sapi", "Banci", sampai "Setengah Lelaki". Dan Ivan, meskipun berpura-pura marah, harus bisa menerima panggilan itu dengan riang, dan membalasnya kemudian. Baku hina antara kedua orang inilah yang selalu tertayang panjang di "Supermama Seleb Show", dan memancing riuh tawa penonton.

Acara itu sepertinya dibebaskan Indosiar berjalan apa adanya, termasuk soal waktu. Dimulai lepas maghrib, "Supermama Seleb Show" mungkin selesai pukul 22.30, namun acap lebih dari 23.30. Ivan bebas mengangkat kaki, bicara sambil nyanyi, berada di lingkaran penonton, bahkan menari dan berlarian di atas panggung. Tak ada yang melarang. Peserta juga tak dikenai aturan. Bedu misalnya, tiba-tiba menghilang ketika aksinya tengah dikomentari Hetty Koes Endang, dan ketika ditangkap kamera, tengah makan nasi bungkus berlauk sate. "Acara kelamaan, gue kelaperan," ucapnya ketika ditegur Eko Patrio. Apakah Eko menariknya ke atas panggung? Tidak. Dia ikut menemani Bedu dan makan bersama. Dan Dorce lalu melompat dari kursinya, menyusul Eko, mengambil sate dan mengunyahnya sambil tidur telungkup di panggung. Ulfa tak mau ketinggalan, dia pun telentang berebutan sate. Ketiganya seperti abai pada acara, ngerumpi rasa sate, dan tersadar ketika diteriaki Ruben untuk meneruskan acara. Penonton tertawa.

Tidak ada yang boleh jaim, jaga image, di acara ini. Maka komentator seperti Tri Utami, atau juga Maia, acap mati gaya, dan tak bisa bicara lama. Ruben terkadang harus bertanya dan bertanya agar Maia bisa bicara panjang dan "membual" sesukanya. Dan tetap gagal. Tri Utami lebih sering tertawa dan kehilangan konsentrasi karena penilaiannya selalu terpotong celotehan Ivan dan Ruben atau tingkah Eko di panggung. Inilah acara yang aksi peserta mungkin hanya 5 menit tapi dikomentari nyaris satu jam! Inilah acara yang setiap peserta harus rela ibunya dipermainkan dijadikan bahan lawakan, ditertawakan. Bedu misalnya, di penampilan awal pernah berkernyit dahi ketika ibunya, Mama Sri, dijadikan bahan lelucon oleh Eko. Namun, ketika nilai ibunya lebih tinggi dan membantunya untuk tetap bertahan, Bedu sepertinya mengikhlaskan keluguan Mama Sri dijadikan bahan tertawaaan.


Cinta tanpa Kalkulasi

Acara yang berisik sepertinya telah jadi magnet baru di televisi. Rating acara super berisik ini ajaibnya justru tinggi sekali. Cikal-bakalnya, barangkali, dimulai oleh "Ceriwis" di TransTV. Duet MC Indi Barens-Indra Bekti jadi warna baru dengan celotehan yang "kacau", penuh hahahihi. Namun, keberisikan itu masih normal dibandingkan "Silat Lidah" Anteve, dan kini "Supermama Seleb Show" Indosiar.

Nah, di tengah magnet berisik itu, TransTV justru menayangkan acara yang tenang, tak memicu konflik, dan naratif. Tayangan non-argumentatif itu diwakili oleh "Atas Nama Cinta" dan "Andai Aku Menjadi...". "Atas Nama Cinta" berisi paparan kisah nyata narasumber tentang cinta yang tak tergadai ketika bencana dan malapetaka datang. Cinta yang tetap tinggal di hati seorang istri ketika suaminya justru tengah menghadapi hukuman mati. Atau cinta istri yang tetap membara meski tubuh suami telah tak sempurna, dirusakkan nyala api. Acara itu dengan lembut menunjukkan manusia yang mencinta tanpa memakai kalkulator, ketika penilaian mata tunduk oleh suara hati. Manusia yang mencinta untuk, mengutip filsuf Gabriel Marcel, "dia yang hadir bagi saya dan kepadanyalah saya setia, kendati kematian telah memisahkan kami".

"Andai Aku Menjadi..." bercerita lebih nyata lagi, tentang kehidupan orang-orang kecil yang selama ini mungkin dipanglingi televisi. Kisah tukang sampah, nelayan, pengangon kambing, pemecah batu, diceritakan dengan wajar, tanpa hiperbola yang berlebihan. Kisah mereka diberi impresi kepada penonton dengan menghadirkan seorang peserta yang bersedia menjalani profesi dan memahami kehidupan mereka. Maka terbentanglah di layar kaca kamar yang sempit tanpa jendela, kasur bertumpuk, dan si nelayan yang berjaga sepanjang malam mengusiri nyamuk dari tubuh mungil anaknya. Atau peserta yang muntah tak tahan bau sampah, menangis karena menyaksikan anak yang merengek minta susu, atau melihat seorang ibu yang tak punya jawaban ketika anaknya meminta uang sekolah. Di layar itu, penonton melihat orang-orang kecil yang menjalani hidup tanpa keluh, yang menjawab kekurangan dengan doa. Manusia-manusia yang berusaha menampik kesulitan namun tak lari ketiga menemukan jalan buntu. Sosok-sosok yang menjalani hidup dengan sikap, seperti kata filsuf Nietzshe, amorfati, menerima apa pun yang diberi nasib dengan sepenuh rasa cinta. Mereka, tidak seperti di "Supermama Seleb Show", sehari-harinya pasti jarang tertawa. Karena tertawa, barangkali, menghapus sebagian tenaga mereka untuk mengais rejeki.


Menasehati Diri

"Supermama Seleb Show" dan "Andai Aku Menjadi" memang dua acara yang berbeda sekali. Namun, persamaan yang cukup kental dalam dua acara itu yakni penilaian komentator pada peserta. Bedanya, di "Supermama" penilaian kepada peserta terjadi hanya berdasarkan pandangan mata terhadap suara, busana, dan cara berkomunikasi. Ivan, Hetty Koes Endang, dan Pongky misalnya, menilai Bedu dengan liar dan bebas. "Kamu cukup jadi pelawak saja," kata Pongky, seakan Bedu memang sungguhan ingin menjadi penyanyi. Atau kritik Ivan yang acap menilai busana para mama dengan sinis, tak modis, kampungan, memberi efek gemuk, atau tabrak warna. Hetty apalagi, selalu memberi contoh dengan nada-nada tinggi, karena itulah cara bernyanyi yang dia sukai. Ketiga komentator itu menjadi pengamat, dan karena itu mereka berjarak dari para peserta. Jarak memang menisbatkan objektivitas. Tapi jarak juga membuat setiap objek pengamatan berada dalam rentang yang tak selalu dikuasai. Jarak juga membuat pengamat menjadi bersandar pada mungkin.

Dalam "Andai Aku Menjadi...", jarak itu yang coba ditampik. Pengamat masuk ke dalam kehidupan objek, merasakan apa pun yang dialami dan dilakukan objek. Anita, penyiar radio, misalnya, ikut masuk lumpur untuk membersihkan empang, memikul air, sampai tidur bersarung di karpet apak, dengan kamar yang tak sepenuhnya terhindar dari angin malam. Ruri, mahasiswi, ikut menjala, berjualan tahu campur, dan merasakan kesakitan seorang suami yang terpaksa membiarkan istrinya terbaring sakit, karena tak mampu mengirim ke rumah sakit. Ruri menjadi "anak" selama dua hari, akhirnya menangis dan menyatakan tak kuat melihat penderitaan tersebut.

Ketakberjarakan inilah yang membuat mereka kemudian sesenggukan ketika bercerita. Anita dan Ruri mengalami kejutan-kejutan batin ketika seluruh indranya merasakan hidup yang selama ini cuma dia lihat dan bayangkan. Anita berkaca-kaca karena tak pernah menyangka ada manusia yang tetap menjadi manusia di tengah segala himpitan yang nyaris tak masuk di akal. Manusia yang berusaha hidup dengan segala kehormatannya. Penilaian "komentator" di "Andai Aku Menjadi..." adalah objektivitas yang "aku alami", sedangkan di "Supermama" adalah penilaian yang "aku amati". Yang hilang di "Supermama" adalah keterlibatan diri, rasa empati dari kesakitan yang sama.

Jika, cara manusia memandang dunia adalah cara dia melihat dirinya sendiri," kata Cristoph Wulf dalam artikelnya "The Temporality of Word-Views and Self-Images", dan cara ia memahami dirinya sendiri adalah cara dia menilai dunia, maka kita jadi tahu "nilai" komentator di atas. Komentator di "Supermama..." sebenarnya mengomentari dan menilai diri mereka sendiri. Yang mereka lihat dari para peserta adalah kenaifan diri mereka sendiri. Dan semua komentar dan nasihat itu sesungguhnya untuk diri mereka sendiri juga. Jadi, wajahlah jika acara itu lucu dan lama sekali. Karena sudah watak manusia, tak pernah puas dan cukup waktu, untuk mematut diri, menjadi narsistik sejati.

[Artikel ini telah dimuat di Harian Suara Merdeka, Minggu 27 Januari 2008]

( t.i.l.i.k ! )

     

Monday, January 14, 2008

Cinderella tanpa Pernikahan

Cinta yang fitri dan indah adalah yang mendukung superioritas lelaki. Cinta yang mendudukkan Fitri dan Indah sebagai perempuan yang pantas disantuni. Televisi memang kurang ajar sekali!

Ketika Cinta Fitri berakhir, SCTV langsung menayangkan Cinta Indah. Dan baru saja Cinta Indah tayang beberapa episode, segera muncul Cinta Bunga. Tiga sinetron yang tak hanya mirip dari segi nama, tapi juga alur cerita. Shireen Sungkar, Sandra Dewi, dan Claudya Sinta Bella, yang bermain dalam ketiga sinetron itu, juga berada dalam "filosofi" karakter yang sama, dan hanya berbeda dalam rajutan dan pola.

Kesamaan semacam itu memang telah lama jadi virus dalam sinetron Indonesia. Tapi, baru akhir-akhir inilah, keseragaman itu seakan menjadi sebuah "kewajiban", dan mewabah di semua televisi. Lihatlah, Setelah Intan populer di RCTI, seperti banjir di musim hujan, lahir sinetron seperti Candy, Kasih, Olivia, Cahaya, Safira, Mutiara, Azizah, Mentari dan Suci. Sinetron Ramadan bahkan ikutan memakai judul semacam itu, Soleha. Sinetron untuk "anak-anak" pun sama, Eneng lahir, Entong pun muncul.

Judul sinetron yang terpola semacam itu ternyata juga melahirkan anasir cerita yang sama, perjuangan sepasang remaja dalam mewujudkan cinta. Perbedaan kelas sosial selalu menjadi bumbu utama yang membuat kisah cinta di dalam sinetron menemukan rasa. Rasa itu kemudian dipertajam dengan saos airmata, kecap kedengkian, dan tumisan ketidakmasukakalan.


Bersandar Dongeng

Keseluruhan sinetron di atas nyaris bercerita tentang perbedaan kelas, dengan tokoh perempuan berkasta sudra. Fitri, Indah, Kasih, Cahaya, dan Azizah, harus menerima hinaan dan kedengkian karena kepapaan mereka. Demikian juga Soleha dan Suci. Kisah kemudian berpilin tentang duka mempertahankan mimpi dan cinta sepasang remaja itu. Dan, ending cerita, seperti yang bisa diduga sejak semula, adalah kebahagiaan yang akhirnya didapatkan sang tokoh utama.

Cerita sinetron di atas, sesungguhnya tidak berbeda dari sinetron lepas "Legenda" dan "Dongeng" di TransTV. Latar, setting, pemain, sutradara memang tak sama, tapi rajutan dan jemalin cerita menuju titik akhir yang sama ketika cinta telah disatukan. Dengan kata lain, skema seluruh sinetron kita masih menempatkan cinta sebagai sebuah kemurnian, dan sekaligus tujuan. Karena itu, segala pengorbanan yang dilakukan tokoh utama adalah demi mewujudkan cinta, mempertahankannya dalam sebuah ikatan perkawinan.

Dari keseragaman alur cerita itu penonton juga melihat bahwa tentangan dan hambatan untuk menyatukan cinta selalu datang dari orang di luar tokoh utama. Pertama, status sosial yang berbeda. Kedua, orangtua tokoh pria yang tak ingin anaknya bersanding dengan wanita jelata. Ketiga, perempuan lain yang dihadirkan sebagai penggoda, berstatus sosial yang sebanding dengan tokoh pria, dan mendapatkan restu orang tua si tokoh pria. Dalam sinetron "dongeng" dan "Legenda" bertambah dengan tokoh jahat seperti penyihir atau raksasa. Di dalam cerita semacam inilah cinta menjadi energi yang membuat sang tokoh mampu menghadapi kedengkian dan berbagai godaan itu.

Ya, tipe cerita di atas memang telah sangat kita kenali, bahkan dalam beberapa variasinya. Itulah cerita yang sepenuhnya bersandar pada tipologi Cinderella, Putri Salju, Putri Tidur, Romeo dan Juliet, Sampek Eng Tay, bahkan Roro Mendut. Dalam kemasan yang paling modern, dan sangat populer, keseragaman cerita tadi mewujud menjadi film Pretty Women, yang melambungkan Julia Robert dan Ricard Gere. Tak ada yang baru dalam variasi cerita semacam ini, kecuali pernik-pernik konflik yang dimodifikasi. Namun, sejauh apa pun modifikasi itu, cerita semacam itu selalu berakhir ketika cincin disematkan, janji diucapkan, lonceng gereja berdentang, atau ijab kabul dilafalkan. Keseragaman cerita ini seakan menisbatkan cinta yang indah, yang layak dipertahankan dengan darah dan airmata, adalah cinta yang berakhir dalam perkawinan. Setelah itu tak ada lagi cerita. Cinta di dalam perkawinan seperti tak punya pesona.


Kepahitan Perkawinan

Percintaan adalah fajar pernikahan. Tapi pernikahan adalah senja percintaan. Pepatah "antah-berantah" itu yang agaknya dihidupi oleh watak dongeng, dan diafirmasi oleh industri televisi kita. Cinta dalam perkawinan seperti tak menemukan tempat. Kalau pun ada, gaungnya nyaris tak terasa.

Antv misalnya, pernah menayangkan sinetron Satu Cincin Dua Cinta. Cerita kisah ini merupakan kelanjutan dalam sebagian besar sinetron Indonesia, kehidupan perkawinan. Irgi Fahrezi dan Vonny Cornelia bermain cantik dalam sinetron itu, dan menunjukkan bagaimana tidak indahnya mengelola cinta sesudah menikah. Dusta, pertengkaran, ketaksependapatan, justru lahir dalam cinta. Perselingkuhan dan masuknya wanita kedua, membuat sinetron itu seakan membongkar keyakinan tentang idealisasi perkawinan. Sinetron itu pun menegaskan bahwa musuh cinta sebelum pernikahan adalah orang di luar diri sang tokoh, dan hal itu akan mudah dihadapi berdua. Namun di dalam perkawinan, musuh utama cinta adalah diri sendiri, ketika kebosanan mulai bertandang, ketika pihak perempuan punya posisi tawar yang sama dengan lelaki.

Cerita semacam Satu Cincin Dua Cinta menunjukkan cinta dalam dimensi yang berbeda, yang lebih kaya, nyata, dan hidup di dalam diri penonton. Tapi, justru cerita inilah yang diogahi industri televisi. Bukan saja karena menggarap sinetron semacam itu lebih rumit dan susah, melainkan juga ideologi industri yang berada di belakangnya. Dengan sinetron berwatak Cinderella, televisi sebenarnya mengukuhkan posisi perempuan sebagai sosok yang lemah. Fitri selalu dilindungi Farel. Indah, Intan, Cahaya, apalagi. Ada rasionalisasi di dalam seluruh sinetron bertipe ini bahwa perempuan adalah mahkluk yang harus dilindungi. Lelaki bukan saja harus mencintai perempuan yang papa, tapi juga menyantuni dan membela. Cinta dalam dimensi superioritas lelaki semacam inilah yang diam-diam menjadi anak kandung industri televisi. Cinta semacam itulah yang indah dan fitri.

Penonton, seperti kata Raam Punjabi, adalah mereka yang lelah, dan menonton untuk mencari hiburan. Dan dalam skema cerita cinta semacam itu sajalah hiburan dapat dihadirkan televisi. Maka, ketika sinetron berakhir, kita hanya dapat membayangkan bahwa tokoh utama akan terus bahagia. Seperti dongeng, yang juga selalu selesai ketika cinta disatukan, dan narator berkata, "Pangeran dan Putri hidup bahagia, selamanya..." Karena dalam pernikahan cinta butuh imajinasi yang lebih dashyat lagi, yang pasti tak akan mampu ditampilkan di dalam televisi kita, yang perajinnya hanya mampu meniru skema dongengan belaka.


[Artikel ini sudah dimuat di Harian Suara Merdeka, Minggu 13 Januari 2008]

( t.i.l.i.k ! )

     

Wednesday, January 09, 2008

Perceraian Telinga dan Hati

Kikan dan Yuke akhirnya bercerai. Padahal, sebelumnya, mereka telah bersepakat untuk bersatu lagi, demi anak-anak. Tapi, "Terlalu banyak perbedaan di antara kami. Komunikasi yang intensif tidak pernah terjadi. Keputusan ini adalah yang terbaik," terang Kikan.

"Nggak ada orang ketiga. Mereka cerai karena masalah komunikasi, makin ke sini makin nggak nyambung," ungkap Michael B.D. Hutagalung, kuasa hukum Yuke.

Kikan mengajukan gugatan cerai April tahun lalu. Mereka kemudian berdamai karena yakin dengan komunikasi yang intens, semua perbedaan akan terjembatani. Nyatanya, 6 bulan tak cukup, perbaikan berarti tak terjadi. Desember kemarin, Kikan resmi menjanda.

Ketiadaan komunikasi juga yang membuat masalah antara Dhani dan Maia terus melebar dan membesar. "Tadi mereka telah bicara, dan ada beberapa kesepakatan. Intinya, keduanya ingin memberikan yang terbaik bagi anak-anak," terang Kak Seto, yang menjadi mediator konflik mereka. Ketua KPAI Giwo Rubiyanto pun mengakui ketiadaan komunikasi yang menyebabkan konflik dan kesalahpahaman selalu terjadi antara Maia dan Dhani. "Tadi kami telah bertemu, dan Dhani sudah menjelaskan masalahnya. Ini hanya karena ketiadaan komunikasi saja," terangnya.

Dhani memang lebih sering mengomunikasikan masalahnya kepada media. Maia juga. Ketika bertemu, keduanya acap berdiam diri. Ketika jauh, masalah anak pun mereka cukupkan bicara melalui SMS. Malah terkadang, "Sudah dua hari ini SMS saya belum dijawab," terang Maya, ketika meminta Dhani mengajak dirinya dan tiga anak mereka untuk ikut juga ke Malaysia, akhir Desember lalu.

Ketiadaan komunikasi. Itulah alasan sebagian besar perceraian para aktris. Sesuatu yang aneh, mengingat sebagai selebritis, mereka justru cerdas mengomunikasikan dirinya ke media. Komunikasi yang efektiflah yang membuat mereka dapat diterima media dan penggemar. Dhani dengan arogansinya adalah komunikan yang jeli melihat dan memanfaatkan media dan memengaruhi penggemarnya. Maia apalagi, berbagai statmennya mencerminkan kecerdasannya memosisikan diri sebagai istri yang teraniaya dan ibu yang tidak bahagia. Kikan adalah motor Cokelat, yang acap menjadi juru bicara grup bandnya. Tapi, mengapa mereka justru gagal "berbicara" dengan pasangan hidup mereka.

Barangkali, inilah yang terjadi: mereka berkomunikasi dalam "manajemen" gosip. Dalam gosip, komunikasi dilakukan dengan tujuan agar diri menjadi pusat perhatian. Orang lain adalah pihak yang kehadirannya hanya sebagai pelengkap, menguatkan posisi pembicara. Manajemen gosip membuat orang lain selalu sebagai pihak yang mendengar, yang tak mengerti apa-apa, dan harus mengatakan "ya". Berbicara dalam manajemen gosip adalah berkomunikasi satu arah.

Dalam kacamata manajemen gosip itulah kita dapat melihat bahwa Dhani dan Maia sama-sama bicara, hanya untuk didengarkan, dan bukan mendengarkan. Juga Kikan dan Yuke. Keduanya menempatkan diri sebagai pihak yang harus didengar. Dan di situlah muasal masalahnya, mereka sebenarnya tak berkomunikasi, karena bibir mereka tak lagi pernah menemukan telinga. Hakikatnya, mereka bermonolog.

Komunikasi pada dasarnya terjadi karena ada kesediaan untuk mendengar, kerendahatian untuk bersedia memahami. Dengan orang yang kita cintai, selain telinga dan bibir, komunikasi juga meminta hati: kejujuran untuk mengakui bahwa "aku bukanlah sosok yang sempurna dan karena itu maafku untukmu selalu tersedia". Hanya dengan itulah, komunikasi terjadi, dialog akan berarti. Sayangnya, hal mendasar dan kecil itulah yang acap tidak dimiliki para selebriti. Kamera dan gosip, popularitas dan uang, telah menutup hati mereka. Maka, ketika usai sidang cerai mereka berkata, "perceraian ini terjadi karena tak ada lagi komunikasi di antara kami," kita tahu apa yang sesungguhnya terjadi, mereka tak pernah menggunakan telinga dan membuka hati. Menyedihkan sekali.


[Dimuat sebagai "Tajuk" di Tabloid Cempaka, Rabu 9 Januari 2008]

( t.i.l.i.k ! )