<$BlogRSDURL$>
...tera di sesela gegas-gesa
Monday, January 14, 2008

Cinderella tanpa Pernikahan

Cinta yang fitri dan indah adalah yang mendukung superioritas lelaki. Cinta yang mendudukkan Fitri dan Indah sebagai perempuan yang pantas disantuni. Televisi memang kurang ajar sekali!

Ketika Cinta Fitri berakhir, SCTV langsung menayangkan Cinta Indah. Dan baru saja Cinta Indah tayang beberapa episode, segera muncul Cinta Bunga. Tiga sinetron yang tak hanya mirip dari segi nama, tapi juga alur cerita. Shireen Sungkar, Sandra Dewi, dan Claudya Sinta Bella, yang bermain dalam ketiga sinetron itu, juga berada dalam "filosofi" karakter yang sama, dan hanya berbeda dalam rajutan dan pola.

Kesamaan semacam itu memang telah lama jadi virus dalam sinetron Indonesia. Tapi, baru akhir-akhir inilah, keseragaman itu seakan menjadi sebuah "kewajiban", dan mewabah di semua televisi. Lihatlah, Setelah Intan populer di RCTI, seperti banjir di musim hujan, lahir sinetron seperti Candy, Kasih, Olivia, Cahaya, Safira, Mutiara, Azizah, Mentari dan Suci. Sinetron Ramadan bahkan ikutan memakai judul semacam itu, Soleha. Sinetron untuk "anak-anak" pun sama, Eneng lahir, Entong pun muncul.

Judul sinetron yang terpola semacam itu ternyata juga melahirkan anasir cerita yang sama, perjuangan sepasang remaja dalam mewujudkan cinta. Perbedaan kelas sosial selalu menjadi bumbu utama yang membuat kisah cinta di dalam sinetron menemukan rasa. Rasa itu kemudian dipertajam dengan saos airmata, kecap kedengkian, dan tumisan ketidakmasukakalan.


Bersandar Dongeng

Keseluruhan sinetron di atas nyaris bercerita tentang perbedaan kelas, dengan tokoh perempuan berkasta sudra. Fitri, Indah, Kasih, Cahaya, dan Azizah, harus menerima hinaan dan kedengkian karena kepapaan mereka. Demikian juga Soleha dan Suci. Kisah kemudian berpilin tentang duka mempertahankan mimpi dan cinta sepasang remaja itu. Dan, ending cerita, seperti yang bisa diduga sejak semula, adalah kebahagiaan yang akhirnya didapatkan sang tokoh utama.

Cerita sinetron di atas, sesungguhnya tidak berbeda dari sinetron lepas "Legenda" dan "Dongeng" di TransTV. Latar, setting, pemain, sutradara memang tak sama, tapi rajutan dan jemalin cerita menuju titik akhir yang sama ketika cinta telah disatukan. Dengan kata lain, skema seluruh sinetron kita masih menempatkan cinta sebagai sebuah kemurnian, dan sekaligus tujuan. Karena itu, segala pengorbanan yang dilakukan tokoh utama adalah demi mewujudkan cinta, mempertahankannya dalam sebuah ikatan perkawinan.

Dari keseragaman alur cerita itu penonton juga melihat bahwa tentangan dan hambatan untuk menyatukan cinta selalu datang dari orang di luar tokoh utama. Pertama, status sosial yang berbeda. Kedua, orangtua tokoh pria yang tak ingin anaknya bersanding dengan wanita jelata. Ketiga, perempuan lain yang dihadirkan sebagai penggoda, berstatus sosial yang sebanding dengan tokoh pria, dan mendapatkan restu orang tua si tokoh pria. Dalam sinetron "dongeng" dan "Legenda" bertambah dengan tokoh jahat seperti penyihir atau raksasa. Di dalam cerita semacam inilah cinta menjadi energi yang membuat sang tokoh mampu menghadapi kedengkian dan berbagai godaan itu.

Ya, tipe cerita di atas memang telah sangat kita kenali, bahkan dalam beberapa variasinya. Itulah cerita yang sepenuhnya bersandar pada tipologi Cinderella, Putri Salju, Putri Tidur, Romeo dan Juliet, Sampek Eng Tay, bahkan Roro Mendut. Dalam kemasan yang paling modern, dan sangat populer, keseragaman cerita tadi mewujud menjadi film Pretty Women, yang melambungkan Julia Robert dan Ricard Gere. Tak ada yang baru dalam variasi cerita semacam ini, kecuali pernik-pernik konflik yang dimodifikasi. Namun, sejauh apa pun modifikasi itu, cerita semacam itu selalu berakhir ketika cincin disematkan, janji diucapkan, lonceng gereja berdentang, atau ijab kabul dilafalkan. Keseragaman cerita ini seakan menisbatkan cinta yang indah, yang layak dipertahankan dengan darah dan airmata, adalah cinta yang berakhir dalam perkawinan. Setelah itu tak ada lagi cerita. Cinta di dalam perkawinan seperti tak punya pesona.


Kepahitan Perkawinan

Percintaan adalah fajar pernikahan. Tapi pernikahan adalah senja percintaan. Pepatah "antah-berantah" itu yang agaknya dihidupi oleh watak dongeng, dan diafirmasi oleh industri televisi kita. Cinta dalam perkawinan seperti tak menemukan tempat. Kalau pun ada, gaungnya nyaris tak terasa.

Antv misalnya, pernah menayangkan sinetron Satu Cincin Dua Cinta. Cerita kisah ini merupakan kelanjutan dalam sebagian besar sinetron Indonesia, kehidupan perkawinan. Irgi Fahrezi dan Vonny Cornelia bermain cantik dalam sinetron itu, dan menunjukkan bagaimana tidak indahnya mengelola cinta sesudah menikah. Dusta, pertengkaran, ketaksependapatan, justru lahir dalam cinta. Perselingkuhan dan masuknya wanita kedua, membuat sinetron itu seakan membongkar keyakinan tentang idealisasi perkawinan. Sinetron itu pun menegaskan bahwa musuh cinta sebelum pernikahan adalah orang di luar diri sang tokoh, dan hal itu akan mudah dihadapi berdua. Namun di dalam perkawinan, musuh utama cinta adalah diri sendiri, ketika kebosanan mulai bertandang, ketika pihak perempuan punya posisi tawar yang sama dengan lelaki.

Cerita semacam Satu Cincin Dua Cinta menunjukkan cinta dalam dimensi yang berbeda, yang lebih kaya, nyata, dan hidup di dalam diri penonton. Tapi, justru cerita inilah yang diogahi industri televisi. Bukan saja karena menggarap sinetron semacam itu lebih rumit dan susah, melainkan juga ideologi industri yang berada di belakangnya. Dengan sinetron berwatak Cinderella, televisi sebenarnya mengukuhkan posisi perempuan sebagai sosok yang lemah. Fitri selalu dilindungi Farel. Indah, Intan, Cahaya, apalagi. Ada rasionalisasi di dalam seluruh sinetron bertipe ini bahwa perempuan adalah mahkluk yang harus dilindungi. Lelaki bukan saja harus mencintai perempuan yang papa, tapi juga menyantuni dan membela. Cinta dalam dimensi superioritas lelaki semacam inilah yang diam-diam menjadi anak kandung industri televisi. Cinta semacam itulah yang indah dan fitri.

Penonton, seperti kata Raam Punjabi, adalah mereka yang lelah, dan menonton untuk mencari hiburan. Dan dalam skema cerita cinta semacam itu sajalah hiburan dapat dihadirkan televisi. Maka, ketika sinetron berakhir, kita hanya dapat membayangkan bahwa tokoh utama akan terus bahagia. Seperti dongeng, yang juga selalu selesai ketika cinta disatukan, dan narator berkata, "Pangeran dan Putri hidup bahagia, selamanya..." Karena dalam pernikahan cinta butuh imajinasi yang lebih dashyat lagi, yang pasti tak akan mampu ditampilkan di dalam televisi kita, yang perajinnya hanya mampu meniru skema dongengan belaka.


[Artikel ini sudah dimuat di Harian Suara Merdeka, Minggu 13 Januari 2008]