<$BlogRSDURL$>
...tera di sesela gegas-gesa
Thursday, December 06, 2007

Tubuh yang Kehilangan Rahasia

Tubuh kini tak ubahnya seperti mal. Semua orang dapat melongok isi di dalamnya. Tanpa rahasia.


Steve membuang napas, gelisah. Meyka yang masih menggenggam jemarinya, mulai menangis. Dia merasa menyesal telah mengebiri cinta Steve, dan lebih memilih Andre. Gadis itu memohon maaf. Tapi Steve cuma diam. Dia biarkan Meyka sesenggukan. Dia abaikan tatapan heran pengunjung di kafe itu, seperti juga makanan yang memenuhi mejanya. Karena Steve sungguh tak mengerti, mengapa Meyka begitu tega mengkhianati. "Apa sih yang lebih dari Andre?" bisiknya.

"Karena Andre lebih kaya...."

"Jadi karena dia lebih kaya maka kamu tega mengkhinati aku?!" suara Steve meninggi, genggaman Meyka dia hentakkan.

"Iya, aku tahu aku salah. Tolong maafkan aku, Steve. Maafkan...." Meyka menangis lagi.

Dialog di atas bukan adegan dalam salah satu sinetron. Steve dan Meyka juga tidak tengah berakting. Tangis Meyka, emosi dan teriakan tak mengerti Steve, juga pandangan heran pengunjung kafe itu, adalah reaksi nyata. Kamera "Cinta Lama Bersemi Kembali (CLBK)", reality show di SCTV yang merekamnya. Dan seluruh penonton jadi tahu isi hati Meyka, rahasia, aib, yang seharusnya dia jaga.

Di "CLBK", peserta yang ingin kembali pada kekasih lamanya memang harus jujur menceritakan kesalahan yang pernah dia buat. Mengakui pada Gading Martin dan Jennifer, pengampu acara itu, yang kemudian "merumuskan" strategi untuk membuat mantan kekasih peserta mau memaafkan dan menerima dirinya kembali. Maka, seperti Meyka, banyak rahasia yang tersaji di acara ini.

Di televisi, "CLBK" tidak sendirian. Ada acara lain yang juga memaksa pesertanya membuka hal-hal pribadi. "Truck Cinta" misalnya, selalu menyajikan kriteria lelaki yang peserta inginkan untuk menjadi kekasihnya. Kriteria itu detil sekali, menyangkut rahasia hati, ukuran yang seharusnya tidak menjadi konsumsi publik. Di acara "Backstreet" bahkan lebih parah lagi. Kamera tidak saja merekam sebab cinta rahasia itu terjadi, terkadang bahkan menampilkan pertengkaran peserta dengan orangtua. Rahasia keluarga dengan sempurna nongol di layar kaca.

Namun, keberanian membuka dan membongkar aib barangkali masih di pegang acara "Playboy Kabel". Dalam salah satu episode, seorang istri bahkan menjebak perselingkuhan suaminya. Dia ceritakan apa saja yang suaminya lakukan di rumah, mulai kata-kata kasar dan hinaan fisik, lalu dia permalukan suaminya di depan kamera. Sungguh acara yang membuat penonton dapat tertawa sekaligus mengelus dada dan geleng kepala. Di acara itu, tak ada lagi sekat antara yang private dan yang terbuka. Semua tersingkap, terungkap, tapi yang tercela.


Cinta Buta

Semula, ketakberahasiaan itu hanya milik para artis. Mungkin, karena merasa sebagai figur publik, mereka pun mewajibkan diri membuka apa pun untuk diakses masyarakat atau penonton. Maka, Saiful Jamil sambil tertawa dan bernyanyi, membuka aib Dewi Persik. Dia ambil foto Dewi yang berjilbab dari dompetnya, dia tunjukkan kepada penonton, dia ungkapkan bahwa hanya dengan busana itulah pernikahan mereka akan terjalin kembali. Dia tutup "pertunjukannya" dengan sepotong lagu dari Rhoma Irama, "Hanya istri sholehah.... perhiasan terindah."

Kita juga ingat, perseteruan Fatma Farida dengan anaknya, Kiki Fatmala. Seluruh rahasia keluarga dia ungkap, tanpa jengah. Yang malu justru penonton yang menyaksikan acara itu. Juga konflik Dhani dan Maia, Dhani dan ayahnya, Dhani dan Vita Ramona. Atau bagaimana "kesaksian" Rassya tentang Oom bule yang pernah tidur dengan ibunya, Tamara Blezinsky, keyakinan suami Sarah Vi soal peralihan seksualitas istrinya, sampai cerita Rieke Dyah Pitaloka, meski setengah bercanda, tentang gaya seks yang dia dan suaminya, Donny Ardian, lakukan, untuk dapat segera memperoleh momongan.

Telah lama memang aktris tak lagi punya ruang pribadi. Mereka, suka atau tidak, harus membuka diri untuk menjadi akses publik. Sampai, Niki Astrea, setengah menangis berteriak, "Apa saya sudah tidak punya privacy?!" Niki terteror karena media televisi memaksanya harus buka suara. Mobilnya dipaksa berhenti, dia diwajibkan bercerita. Dia seakan tak punya hak untuk berahasia.

Televisi kini bukan saja menghadirkan hal-hal pribadi di ruang keluarga, melainkan sudah membuat yang pribadi menjadi tak ada. "Griya Unik" misalnya, menghadirkan rumah dari halaman depan sampai wc di kamar tidur. "Homes" juga sama, membuka ruang tidur seseorang ke mata publik. Puluhan tahun yang lalu, kamar tidur adalah wilayah yang tak terjamah oleh publik. Selain keluarga dekat, tak ada pihak lain yang dapat mengakses ruang intim itu. Tapi kini, dipamerkan! Bahkan, beberapa aktris, dengan ringan, di ruang tidurnya, membuka lemari dan laci yang menyimpan pakaian dalamnya. Lalu sembari tertawa, kepada pemirsa mengintipkan jenis celana dalam yang menjadi favoritnya.

Tak ada lagi rahasia. Maria Eva blak-blakan membuka aibnya kepada media. Aman Jagau bercerita tentang Rp 300 juta yang dia serahkan untuk dapat membuat Angel lelga mau "menikah tiga malam" dengannya. Atau Cut Memey yang memanterai celana dalam Jackson agar terus mau membiayai hidupnya.

Bisa "dimaklumi", sebenarnya. Karena mereka artis, yang tahu memanfaatkan aib dan hal yang pribadi untuk mendongkrak popularitas (baca: uang). Hanya dengan cara itulah, mereka dapat kekal berada dalam kamera. Yang mengerikan adalah perilaku artis ini mulai menghinggapi orang kebanyakan, ketika menjadikan wilayah pribadi sebagai konsumsi publik. Tak ada motif uang, tentu. Apalagi popularitas. Mereka membuka aib karena cinta. Dan kata orang, cinta itu buta. Makanya, yang berpacaran, di tempat terang pun, suka meraba-raba. Hahaha.


Open Society

Hilangnya "ruang" pribadi itu tak hanya berada di televisi. Dalam keseharian, hal-hal yang intim pun sudah dengan rileks dipublikasikan. Kita tahu, bertahun lalu, perempuan masih merahasiakan haidnya. Haid seakan aib, sehingga dibungkus dengan metafora yang lebih halus menjadi "datang bulan", "palang merah", atau "em". Kini, haid menjadi pembicaraan yang tawar, hadir di ruang publik tanpa metafora. Kondisi haid, pra dan sesudahnya, bahkan menjadi ladang bisnis, dari obat-obatan sampai pembalut. Dan televisi, dengan iklan mengenai produk itu, membuat kehaidan keluar dari wilayah tabu.

Beberapa tahun lalu, kita pasti ingat, tak ada remaja yang berani mengenakan baju terbuka. Atau, kalaupun berani terbuka, seperti busana yang dikenakan aktris pada umumnya, mereka tetap tak pede pamer tali bra. Tali bra adalah sesuatu yang pribadi, sehingga harus ditutupi dengan teliti, disamarkan dengan kaos dalam. Tapi kini, tali bra hanya menjadi aksesori, atau kalau tidak, identitas seksi. Membuka bahu dan memperlihatkan tali bra sudah jamak dan biasa. Bahkan, memamerkan bra, sampai tak mengenakannya pun mulai dianggap "napas zaman". Bertahun lalu, saya percaya, nyaris setiap lelaki akan menutupi tubuh terbuka kekasih atau istrinya. Kini, mereka barangkali akan membiarkannya dengan rasa bangga. Pembiaran itu bukan saja tanda "habisnya" kekuasaan lelaki atas tubuh pasangannya, tapi juga munculnya kesadaran bahwa perempuan punya hak yang sama dengan lelaki atas tubuhnya.

Tiga-empat tahun lalu, kita akan malu jika orang dapat melihat celana dalam kita. Tapi kini, hadirnya celana dalam di ruang publik sudah jadi hal biasa. Jeans model hipster membuat bokong perempuan menjadi indah justru karena memperlihatkan celana dalam plus "celengannya", dan tidak harus merasa malu. Lelaki juga, dengan celana jeans longgar, seperti yang acap dikenakan Arie K Untung, juga nyaman memamerkan celana dalamnya. Berbusana bukanlah merahasiakan bagian tubuh, melainkan memperindah bagian yang intim dengan cara memajangnya. Seluruh mode busana dikelola dalam rangka ekonomi narsistik.

Dalam asmara, hal yang pribadi pun telah tak ada. Kita tahu, bertahun lalu, adegan ciuman Rangga dan Cinta dalam film Ada Apa dengan Cinta?, menjadi pembicaraan di mana-mana. Majalah Times pun mengulasnya, sebagai indikator "sikap moral" orang muda di Indonesia. Tapi kini, kalau melihat kenyataan, Times pun akan segera meralat liputan itu. Ciuman sudah jadi biasa, bahkan bukan hanya di film. Termasuk menceritakan atau memamerkannya. Dengan teknologi ponsel sekarang, berkirim foto mesra bersama pacar baru, bukan hal tabu. BPara remaja dengan bangga merekam adegan intim, dan kemudian mengedarkannya. Di friendster, berjuta foto remaja Indonesia tersaji dengan "indahnya", mulai di kamar tidur, sampai kamar mandi, dari sekadar berbusana seksi, sampai polos sama sekali.

Apa yang sesungguhnya terjadi? Mengapa kini ruang pribadi telah lebur dan menjadi konsumsi sehari-hari? Atau, apakah kita telah masuk agenda George Soros dalam membangun open society, masyarakat yang memberi kebebasan luar biasa bagi individual, ketika nilai tidak punya simpul, dan hal-hal pribadi akan hilang sama sekali?

Sulit untuk menilainya. Tapi, barangkali Soros memang benar ketika berkata dalam On Soros: Staying Ahead of the Curve bahwa nilai-norma adalah soal pilihan, seperti orang memilih di tempat mana mau berinvestasi atau berspekulasi. Dan kita tahu, nilai dan ruang pribadi kini nyaris tak lagi, dan itu terjadi bukan hanya di televisi.



[Artikel ini telah dimuat di Harian Suara Merdeka, Minggu 9 Desember 2007]