<$BlogRSDURL$>
...tera di sesela gegas-gesa
Monday, August 20, 2007

Jilbab-jilbab yang Disakiti

Dalam berbagai sinetron "berbau" hidayah, pemakai jilbab ditampilkan sebagai ibu kejahatan; melahirkan dan mengasuh, juga melindungi keberlangsungan kedurjanaan.



"IBUMU kritis? Malah bagus daripada sakit terus! Ini kan tinggal menghitung hari aja!" Pak Lurah melirik ke kasur, mencibir. Tak terpancar iba sedikitpun dari wajahnya saat melihat istrinya terbaring lemah. Dia pun abai pada tangis Ima, anaknya, yang berharap segera membawa ibunya ke rumah sakit.

"Ibu tersiksa, Pak. Kasihan...."

"Biar tidak tersiksa? Gampang! Bacain aja Yasin. Mau panjang, pendek, terserah! Gampang kan? Ngapain ke rumah sakit segala, ngabisin duit! Paling juga mati. Huh!" Meludah, menggerutu, gontai dia ke luar kamar.

Itulah sepotong adegan dalam sinetron Pintu Hidayah: Lurah Penjudi, yang tayang di RCTI (10/8). Kisahnya sederhana, tentang seorang lurah yang gila judi sampai menelantarkan kebutuhan keluarganya. Pak Lurah (Hendra Cipta) bahkan mengizinkan pendirian rumah judi di desanya, dan menjadi pelanggan di sana. Nasihat ulama dia bantah. Sindiran warga dia sergah. Semua penentangnya pun menyerah.

Sinetron ini menarik perhatian saya bukan karena sumpah, ludah, dan makian yang bertebaran dalam tubuh cerita, melainkan sosok istri dan anak Pak Lurah. Keduanya berjilbab. Jadi, Pak Lurah yang demikian durjana itu ternyata memiliki istri dan anak yang sabar dan taqwa, yang selalu menasihati ayahnya, meski pasti mendapatkan sumpah dan sergah.

"Penghadiran" sosok berjilbab dalam sinetron di atas mengingatkan saya pada puluhan sinetron lain dengan tipikalitas yang sama, sosok durjana penuh dosa tapi memiliki keluarga takwa, yang disimbolkan dengan pengenaan jilbab. Sinetron Dukun Santet di TransTV (6/7) contohnya, bercerita tentang dukun yang suka berjudi, berzina, dan menyantet, dan selalu murka dengan ulama di desanya. Di dalam rumah hadir ibunya yang selalu menasihati, dan anaknya yang tak lalai mengajak bertobat. Ibu dan anak si dukun seksi (Vicky Burki) itu mengenakan jilbab.

Sinetron Preman Bejat di TransTV juga menempuh cara sama. Preman yang suka membunuh, merampok dan aneka kemaksiatan lainnya, ternyata memiliki istri berjilbab. Juga mertua, adik ipar, dan anehnya, orang tua yang juga berjilbab. Bahkan tipekalitas anak bejat dengan orangtua taat (dan ibu berjilbab) ini sangat sering hadir dalam cerita. Terbaru, sinetron "Kisah Suami Beristri Empat" di TransTV (19/8), menampilkan suami yang sangat bejad, memiliki istri dan anak berjilbab, dan juga istri kedua, yang sangat jahat, juga berjilbab, demikian juga istri lainnya. Karena itulah, "penghadiran" jilbab ini saya kira bukan soal kebetulan belaka.


Jilbab Berdosa

Dalam keseluruhan cerita di atas, seakan ingin dikesankan ketidakberdayaan keimanan untuk meredam kemaksiatan. Bahkan, secara lebih ekstrim dapat dibaca bahwa kejahatan acap lahir justru dari lingkungan orang yang paling mengerti agama. Jilbab yang disimbolkan sebagai buhul atau ladang keimanan dan ketakwaan tak berdaya, dan dosa terus saja terjadi, terpampang di hadapannya. Mereka yang berjilbab memang diceritakan mencegah --tentu hanya dengan nasihat-- dan dipastikan tidak berdaya, tidak memberi dampak apa pun, bahkan kian menyalakan api kemaksiatan. Tokoh jahat yang mendapat nasihat pasti kian mengintensifkan kemaksiatannya. Itu simbol tentang kekalahan agama ketika berhadapan dengan durjana.

Namun, kekalahan agama dihadapan durjana itu bukan pukulan paling telak dalam cerita sinetron kita. Di level selanjutnya, justru dikesankan agama dan atau keimananlah yang menjadi akar bahkan lumbung kedurjanaan. Caranya? Hadirkan perempuan berjilbab, dan kisahkan tentang kemaksiatan yang dia lakukan. Hasilnya? Sinetron Memakan Uang ONH di TransTV (8/7) sukses menampilkan hal itu. Seorang istri yang berjilbab bahkan sengaja membunuh suaminya untuk mendapatkan uang ONH. Ia bahkan memaksa anaknya mencopot jilbab agar dapat memikat lelaki kaya. Dia sendiri, menikmati selubung jilbabnya sebagai labirin untuk menyembunyikan kejahatannya dari intipan dan kecurigaan banyak orang.

Sinetron Janda Matre juga menempuh cara yang sama. Ipah (Yurike Prastika) mengenakan jilbab agar dapat memikat duda kaya, dan dalam selubung jilbab itu dia merencanakan kejahatan yang di luar nalar. Jilbab melindunginya untuk dapat bebas melaksanakan semua kejahatan yang dia inginkan. Jilbab juga membuat dia bebas berkelit dari segala tuduhan dan prasangka. Jilbab menjadi inang kejahatan, melahirkan dan mengasuh, juga melindungi keberlangsungan kedurjanaan. Sinetron Ibu Tiri Mata Duitan, Perawan Tua, dan judul lainnya, kian menegaskan tipikalitas di atas.
Ada apa dengan jilbab? Mengapa jilbab tampil dalam glamoritas dosa? Mengapa terjadi begitu banyak cerita dengan kesamaan demikian? Adakah agenda tersembunyi (hidden agenda) dari semua cerita di atas? Atau, apakah memang seburuk itu makna jilbab di mata orang banyak? Atau memang ingin dikesankan buruk? Lalu, siapa yang berusaha mengesankan begitu?

Akan lahir berjuta pertanyaan, ratusan kecurigaan menyangkut cerita seperti yang terpapar di atas. Lalu, telisikan bisa langsung mengarah pada siapa pembuat cerita sinetron demikian? Siapa sutradaranya, produsernya, pemainnya? Mengapa mereka bahu-membahu membuat cerita semacam itu? Di mana sinetron itu ditayangkan? Siapa direktur dan pemilik televisi itu? Bagaimana rekam jejak mereka? Apa agama mereka semua?

Cukup? Belum. Kecurigaan bahkan bisa melebar pada sudut yang tidak terbayangkan. Misalnya, jam berapa semua tayangan sinetron bercerita demikian? Oh, ternyata prime time dan ulang tayang di hari Minggu. Ha? Mengapa di jam itu, dan mengapa tayang ulang? Berapa rating sinetron semacam itu? Siapa yang mengukur rating? Jujurkah, atau rating sengaja ditinggikan agar terkesan acara itu populer sehingga memancing semua teve menayangkan cerita sejenis? Apa saja iklan yang masuk dalam sinetron semacam itu? Apakah iklan yang masuk nyaris sama dalam setiap kisah semacam itu? Mengapa mereka mau beriklan? Siapa pemilik produk dari iklan itu? Siapa yang menganjurkan untuk beriklan di situ? Apakah ada hubungan pertemanan atau kekeluargaan antara pembuat cerita, produser, pemilik teve dan pengiklan? Apa agama mereka? Hihihi...


Ragam Tafsir

Kecurigaan di atas memang layak lahir jika kita meletakkan jilbab sebagai ukuran keimanan seseorang. Sebagai ukuran keimanan, maka semua cerita di atas terjalin dalam ketidakwajaran. Artinya, sangat tidak wajar seorang berjilbab bisa melakukan perbuatan durjana, atau dalam sebuah keluarga sakinah muncul sosok pendurhaka dan penzina. Karena tidak wajar, layaklah penceritaan jilbab itu dimaknai sebagai suatu usaha untuk "menggembosi" dan atau memurukkan Islam.
Namun, jika jilbab hanya kita pandang sebagai identitas muslimah, kecurigaan di atas tentu tidak terlalu beralasan. Sebagai identitas, jilbab hanya berfungsi sebagai KTP, tanda pengenal, dan tidak bersangkut-paut dengan kekuatan keimanan seseorang. Sebagai identitas, jilbab sama dengan chador di Iran, pardeh di India dan Pakistan, milayat di Libya, abaya di Irak, charshaf di Turki, hijab di beberapa negara Arab-Afrika seperti di Mesir, Sudan, dan Yaman. Karena hanya berfungsi sebagai identitas maka orang yang berjilbab pun tidak berbeda dengan yang memakai identitas lain. Ini soal pilihan, misalnya, antara membawa KTP, SIM, kartu pers, atau paspor.

Ahli tafsir Prof Nasaruddin Umar bahkan melihat jilbab sudah menjadi wacana dalam Code Bilalama (3.000 SM), kemudian berlanjut di dalam Code Hammurabi (2.000 SM) dan Code Asyiria (1.500 SM). Pemakaian jilbab sudah dikenal di beberapa kota tua seperti Mesopotamia, Babilonia, dan Asyiria. Jilbab menjadi pembeda antara kelas menengah dan kaum budak. Perempuan terhormat harus memakai jilbab dalam aktivitasnya di luar rumah.Perkembangan selanjutnya jilbab menjadi simbol kelas menengah atas masyarakat kawasan itu. Mengutip De Vaux dalam Sure le Voile des Femmes dans l'Orient Ancient, Umar yakin tradisi jilbab (veil) dan pemisahan perempuan (seclution of women) bukan tradisi orisinal bangsa Arab, bahkan bukan juga tradisi Talmud dan Bibel. Tokoh-tokoh penting di dalam Bibel, seperti Rebekah yang mengenakan jilbab berasal dari etnis Mesopotamia di mana jilbab merupakan pakaian adat di sana. Karena perdagangan dan pertikaian, perpindahan penduduk membuat tradisi jilbab menembus bagian utara dan timur Jazirah Arab seperti Damaskus dan Baghdad yang pernah menjadi ibu kota politik Islam zaman Dinasti Mu'awiyah dan Abbasiah. Pada periode inilah, jilbab yang tadinya merupakan pakaian pilihan (occasional costume) mendapatkan kepastian hukum (institutionalized), pakaian wajib bagi perempuan Islam.

Masih menurut Umar, Al Quran hanya menyebut dua kata untuk penutup kepala yaitu khumur dan jalabib, keduanya dalam bentuk jamak dan bersifat generik. Kata khumur (QS al-Nur/34:31) bentuk jamak dari khimar dan kata jalabib (QS al-Ahdzab/33:59) bentuk jamak kata jilbab. Dua ayat di atas merupakan tanggapan terhadap kasus tertentu yang terjadi pada masa Nabi. Akibatnya, timbul perbedaan pendapat di kalangan ulama Ushul Fikih; apakah yang dijadikan pegangan lafaznya yang bersifat umum, atau sebab turunnya yang bersifat khusus.

Ayat khimar, misalnya turun untuk menanggapi model pakaian perempuan yang ketika itu menggunakan penutup kepala (muqani'), tetapi tidak menjangkau bagian dada, sehingga bagian dada dan leher tetap kelihatan. Tafsir Muhammad Sa'id al-'Asymawi, QS al-Nur/24:31 turun untuk memberikan pembedaan antara perempuan mukmin dan perempuan selainnya, tidak dimaksudkan untuk menjadi format abadi (uridu fihi wadl' al-tamyiz, wa laisa hukman muabbadan). Sedangkan ayat jilbab juga turun berkenaan seorang perempuan terhormat yang bermaksud membuang hajat di belakang rumah di malam hari tanpa menggunakan jilbab, maka datanglah laki-laki iseng mengganggu karena dikira budak. Peristiwa ini menjadi sebab turunnya QS al-Ahdzab/33:33. Menurut Al-'Asymawi dan Muhammad Syahrur, terkait dengan alasan dan motivasi tertentu (illat) dan karenanya berlaku kaidah: suatu hukum terkait dengan illat, ketika ada illat di situ lahir hukum. Jika illat berubah, maka hukum pun berubah.

Turunnya ayat hijab, juga terkait dengan kondisi tempat tinggal Nabi bersama beberapa istrinya dan kepentingan sahabat yang akan selalu ingin menemui Nabi. Untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, terutama setelah kejadian tuduhan palsu/hadis al-ifk terhadap 'Aisyah, Umar bin Khattab mengusulkan agar dibuat sekat (hijab) antara ruang tamu dan ruang privat Nabi. Namun, kemudian turunlah ayat hijab di atas.

Nah, dari argumentasi Umar di atas, dapatlah kita lihat bahwa memang jilbab sejak awalnya tidak menjadi ukuran tebal-tipisnya iman seseorang. Jilbab hanya pembeda, suatu identitas, dan tidak mewadahi keimanan dan atau keislaman secara umum atau general. Sebagai identitas, tak ubahnya KTP atau SIM, jilbab pun bisa dipalsukan. Dengan demikian, apa yang tampil dalam sinetron di atas, juga bukanlah gambaran umum dari wajah keimanan dan atau keislaman. Otomatis juga, tidak terjadi penghadapan vis a vis antara kekalahan keislaman (general) dan kemaksiatan. Yang kalah adalah orang islam yang kebetulan memakai jilbab, bukan islam secara umum. Dan orang Islam yang kalah menghadapi kemaksiatan bukanlah kabar baru. Karena itu, cerita sinetron demikian pun jelas tidak bermutu.

Memandang jilbab dengan cara demikian, membuat kita tidak emosi dan antipati ketika jilbab-jilbab disakiti. Juga tidak merasa rendah diri, karena keislaman sesungguhnya tidak cuma terkandung dalam jilbab, dan senyatanya tidaklah selalu kalah melawan kedurjanaan.

Masalahnya, tafsir tidak selalu berdiri sendiri, pasti memiliki kawan, pun lawan. Dan jika tafsir atas jilbab berbicara lain, maka sinetron di atas pun akan dibaca dengan cara yang berbeda. Karena itulah, ada yang tertawa, diam saja, bahkan mungkin meledakkan bom di daerah sana. Karena, bisa saja, sinetron itu jadi terasa begitu menghina!


[Artikel ini telah dimuat di Harian Suara Merdeka, Minggu 26 Agustus 2007]


( t.i.l.i.k ! )

     

Monday, August 13, 2007

Dan di Manakah Indonesia?

Keragaman suku bangsa dan budaya di Indonesia harus diakui bukan hanya sebagai kekayaan melainkan yang lebih utama sebagai kesederajatan.




MAT SOLAR bukan sopir bajaj. Tapi perannya dalam Bajaj Bajuri mengidentikannya dengan profesi tersebut. Popularitas itulah yang dirangkul tim kampanye Adang Daradjatun-Dani Anwar untuk mendongkrak suara. Maka, dua minggu lalu, dengan bajajnya, Mat Solar mengantar Adang-Dani ke DPRD Jakarta.

Saya melihat adegan itu sekilas. Kampanye Adang-Dani memang diliput dengan "kadar" yang berbeda dari gemebyar Fauzy Bowo. Namun, meski selintas, ucapan Mat Solar memberi nilai yang sangat tegas tentang keindonesiaan. "Insya Allah menang, 23% ude di tangan. Asal jangan jual-jual Betawi deh, nggak bakal laku. Ini kan buat calon Gubernur Jakarta. Emangnya Jakarta itu Betawi doang?"

Jakarta tentu bukan hanya milik Betawi. Tapi, berapa banyak yang punya kesadaran semacam Mat Solar, yang justru orang Betawi asli, itu. Kampanye Fauzy Bowo misalnya, seperti yang disindir Mat Solar, justru menjual kebetawiannya. Mandra, Atun, dan "keluarga" Si Doel lainnya selalu menekankan kewajiban memilih Fauzi Bowo karena kebetawiannya. "Orang Betawi ya pilih yang Betawi." Sentimen kesukuan dikuatkan sebagai penarik suara. "Kualitas" kebetawian Fauzi Bowo-lah yang dijadikan nilai kepantasannya untuk memimpin Jakarta, bukan rekam jejak kinerjanya selama ini, bukan kecakapannya secara pribadi.

Tipikalitas "putra daerah" seperti di atas memang sudah menjadi penyakit akut di Indonesia. Bukan hanya untuk memimpin negara, gubernur, bupati, walikota, camat, lurah, bahkan pemilihan ketua RT/RW pun memperhitungkan warga asli dan pendatang. Keindonesiaan --kekitaan-- cepat sekali memisah menjadi dua titik pijak, kami dan mereka. Betawi dan bukan Betawi, putra daerah dan warga pendatang. Lucunya, pengimaman pada kedaerahan ini kadang sampai melupakan akal sehat. Sepanjang seseorang itu berasal dari suatu daerah maka dia menjadi pantas dipilih dan atau dicalonkan, meskipun namanya tidak dikenal dan atau tidak pernah berada di daerah tersebut. Geovany misalnya, pernah dicalonkan PAN menjadi Gubernur Sumatra Barat. Padahal dia tak berdomisili, bahkan nyaris tak pernah dikenali oleh masyarakat Padang. Dia kalah, dan lalu menjadi pasangan Sarwono untuk pemilihan Jakarta, yang juga gagal. Kelak, "penyakit" semacam itu masih akan kita saksikan lagi.


Indonesia yang Wangi

Bukan hanya iklan kampanye Fauzi Bowo, acara lain di televisi pun banyak yang sengaja melupakan "keindonesiaan", bahkan tayangan yang menggunakan nama Indonesia, seperti "Indonesian Idol". Tayangan ini pun memakai unsur kedaerahan sebagai cara menjaring suara melalui SMS. Rini yang asal Medan, "dijual" ke Medan. Wilson yang nyong Ambon, "dipasarkan" di Maluku, sebelum keduanya diadu. Sentimen kesukuan dikuatkan untuk saling mengalahkan. Dua daerah "dibenturkan" agar berlomba untuk menjadi yang paling pantas menyandang gelar "idola Indonesia". Acara itu memasarkan dan menyebarkan sikap bahwa idola Indonesia adalah orang Medan yang dipilih orang Medan atau nyong Ambon yang didukung warga asal Maluku. Dan karena penduduk di dan atau berasal dari Sumatra Utara lebih banyak dibandingkan Maluku, Wilson pun kalah. Tahun lalu, Dirly juga kalah melawan Ihsan yang asal Medan. Acara ini, tanpa sadar, mengerdilkan makna "Indonesia".

Tayangan sinetron apalagi, secara masif justru mengaburkan makna "Indonesia". Yang tampil adalah "Indonesia" yang bersih, menarik, tentram, dan cantik. Sekolah-sekolah dengan bangunan dan fasilitas lengkap, pelajar-pelajar wangi yang pergi-pulang naik mobil, dengan kepala hanya berisi intrik untuk mendapatkan idaman hati. Tak ada "Indonesia" yang kotor. Tak ada sekolah yang reyot berlantai tanah, tanpa fasilitas apa pun, dengan satu guru dan satu murid sebagaimana terdapat di Kepulauan Mapia, Papua. Tak pernah ada pelajar yang bangun jam 3 pagi, lalu dengan obor, berjalan kaki berangkat ke sekolah sejauh 10 KM, sebagaimana yang sudah belasan tahun terjadi di dusun Datarkupa, Desa Cimaskara, 120 KM dari Cianjur. Itulah sebabnya, dalam Festival Film Indonesia, yang menang adalah Ekskul, film dengan cerita remaja SMA yang sakit jiwa dan main senjata, dan bukan Denias, film tentang semangat untuk meraih cita-cita dari anak Papua.

Di sinetron yang tampil adalah derita para korban dukun, pelet, babi ngepet dan pesugihan lainnya, dan sampai kini belum ada cerita orang tua yang gila karena kehilangan anak-anaknya akibat bencana gempa dan tsunami, korban lumpur Lapindo, dan penggusuran. Di sinetron polisi selalu bersih, berwibawa, anti-korupsi, dan tak gampang main senjata. Tak pernah ada polisi yang suka main tembak sendiri, melawan atasan, pungli dan korupsi, dan mabuk-mabukan, sebagaimana yang terkadang menghiasi halaman koran dan media massa lainnya. Di sinetron, Indonesia adalah apa yang ingin kita imajinasikan, bukan Indonesia yang kita hidupi, bukan Indonesia yang tiap hari kita hadapi.

Indonesia, terkadang, juga berarti Jakarta. Teve nasional, yang artinya bukan teve daerah, justru tak pernah menayangkan azan magrib untuk wilayah nasional. Di mana pun kita menonton, azan magrib selalu milik Jakarta. Jakarta harus selalu lebih istimewa dari daerah mana pun. Itulah sebabnya, untuk Jakarta, pemilihan Putri Indonesia bisa diwakili 4-5 peserta, dan daerah lain cukup satu saja.


Memandang Indonesia

Lalu, di teve, di manakah Indonesia? Tentu ada dalam tayangan berita dan kuliner. Juga dalam "Jejak Petualang", "Si Bolang", "Surat Sahabat", dan "Arcipelago". Di ragam acara itu, tampil Indonesia yang "apa adanya", dengan keragaman budaya, wilayah, suku yang memiliki cara hidup dan pandangan dunia yang berbeda. Dalam "Surat Sahabat" kisah rekan dari Papua, Aceh, Kalimantan, bertemu dengan kisah anak-anak dari Jawa, dan saling mempertukarkan keragaman lingkungan, termasuk cara pandang terhadap diri dan dunia. Kisah anak-anak itu berdiri sederajat, dengan keunikan tersendiri, dan diterima sebagai sebuah kewajaran hidup dari sebuah komunitas tertentu, dan dalam esensinya, sama-sama memiliki keadiluhungan tersendiri. Anak Flores yang makan durilandak, Anak Batak yang memanggang babi, anak Blitar yang makan keong, dan anak Jakarta yang menguyah Burger, berdiri sama tinggi. Di acara itu, tak ada budaya yang dihakimi, direndahkan, semua dimartabatkan.

"Surat Sahabat" dalam kesederhanaannya justru mengajarkan bagaimana memandang Indonesia. Bahwa keragaman itu harus diakui bukan hanya sebagai kekayaan melainkan yang lebih utama sebagai kesederajatan. Kesederajatan itulah yang membuat satu suku, satu budaya, tidak merasa lebih baik, lebih beradab, lebih modern, dan lebih layak berada di atas suku dan atau budaya yang lain.

Melalui "Surat Sahabat", Indonesia kita temukan dalam wajahnya yang belum selesai didefenisikan. Indonesia yang masih dalam proses, bergerak liar dalam imajinasi banyak orang dengan ragam ras, etnik, agama, yang dengan demikian, menjadi sangat kaya warna. Itulah Indonesia yang tidak diringkus dalam pengertian esensial, yakni pendefenisian yang mementingkan kemurnian, keaslian, dan kepribumian. Melalui "Surat Sahabat" Indonesia tampil dalam semangat dan imajinasi yang bahkan memperkaya "keindonesiaan" di Taman Mini Indonesia, --yang tidak mengakui kesederajatan etnik India, Arab, Cina, dan Koja sebagai bagian integral dari keindonesiaan etnisitas.

Sebagai "identitas" yang belum selesai didefenisikan, Indonesia masih merdeka untuk merangkum banyak pengertian baru, yang dapat mewadahi semua mimpi dan imajinasi banyak orang. Sebuah pengertian yang dapat diterima tanpa keterpaksaan, perasaan terpinggirkan, dan dianaktirikan. Pengertian yang lahir dan diterima seperti dari surat sahabat.


[Artikel ini telah dimuat di Harian Suara Merdeka, Minggu 12 Agustus 2007]

( t.i.l.i.k ! )

     

Thursday, August 02, 2007

Curhat Tubuh Tengah Malam

Di era ini, dapatkah kita lepas dari sensasi, dan tak mengimani tubuh-tubuh yang pamer diri?


"ANDO, sudah berapa lamakah Anda menjalani profesi ini? Apa alasannya? Adakah penyesalan di dalam diri Anda selama menjalani profesi ini? Bisakah hal itu Anda ceritakan kepada pemirsa Lativi?"

"Bagaimanakah sikap Mama Anda? Dan bagaimanakah juga sikap Anda terhadap Mama dan Rangga setelah kejadian tersebut? Atau mungkin ada pesan-pesan yang ingin Anda sampaikan kepada pemirsa atas pengalaman yang telah menimpa diri Anda tersebut?"

"Demikianlah pemirsa, sekelumit kisah Dian. Dia begitu terpukul dan sampai sekarang belum mampu untuk dapat kembali berbicara dengan Mamanya. Demikian pemirsa, terimakasih atas perhatian Anda, dan sampai berjumpa di lain waktu dengan kisah yang berbeda."

Anda ingin tahu siapa pewawancara yang bertanya sekaku itu? Namanya Linda Lasse. Ya, pasti Anda asing dengan nama presenter satu ini, seasing rentetan kalimat pertanyaannya. Tapi, jika menonton bagaimana dia merepresentasikan tubuhnya di depan kamera, Anda pasti tidak asing dengan tipikalitas gayanya.

Ya, gaya Linda sama persis seperti Rosiana Silalahi atau Ariana Herawati saat mewawancarai narasumber. Mata menatap narasumber, tubuh menyandar di kursi dan atau sesekali condong ke depan untuk menciptakan kesan situasi dari sebuah pertanyaan yang serius, menyimpan senyum dan tawa kecil untuk saat yang tepat, menghela napas panjang sebagai tanda kecewa, dan kadang membuka kedua telapak tangan di depan dada, menyatakan sikap kecewa kepada pemirsa. Linda Lasse paham semua gesture itu. Dia bahkan menambah "item" baru, persilangan kaki yang acap berganti. Pergantian silangan kaki itulah --selain kekakuan pertanyaannya-- yang menjadi "nilai lebih" Linda Lasse. Sebabnya satu, Linda memakai rok mini. Dan pahanya, ampun! mulus sekali. Tapi tentu, bukan kemulusan paha itu yang membuat pergantian silangan kaki menjadi satu adegan yang membuat "kaku" penonton lelaki. Melainkan, tiap kali dia berganti posisi kaki mana yang menjadi tumpuan, akan tercipta ruang atau sela di antara dua gading pahanya, dan menunjukkan sekelebat "zona akhir imajinasi lelaki".

Baiklah, saya tahu Anda pasti ingin juga dapat menyaksikan "zona imajinasi" tersebut. Dan jangan khawatir, Linda Lasse lewat Curhat pasti akan memenuhi fantasi Anda, melalui silangan kakinya, dan visualisasi jawaban narasumber dari kekakuan pertanyaannya.


Kelas Berat

Curhat yang hadir lewat tengah malam di Lativi, memang tak memiliki "kecerdasan" pertanyaan semacam "Fenomena" atau "Kupas Tuntas" di TransTV. Meski memasuki wilayah persoalan yang sama, Fenomena dan atau Kupas Tuntas berusaha menghadirkan sisi lain atau misteri dari sebuah persoalan. Penghadiran sisi lain itu membuat Fenomena dapat memaklumkan jalan hidup narasumber, sedangkan Kupas Tuntas acap membuat narasumber menjadi berada dalam posisi dipersalahkan. Curhat justru sebaliknya, memilih tidak bersikap atau berposisi. Kepentingan Curhat adalah menghadirkan visualisasi dari kisah narasumber.

Maka, bayangkanlah visualisasi dari kisah Curhat, "Terjebak jadi Gigolo" atau "Ibuku Maniak Seks" atau "Tubuhku Penebus Hutang Suami". Sebagaimana tayang Selasa (31/7), Ando yang menjadi gigolo, membuat pelanggannya seperti orang kesurupan. Visualisasinya, ahh- tak sanggup menceritakannya. Kalau cuma silangan kaki Linda Lasse, itu belum ada apa-apanya. Visualisasi Fenomena pun masih dua tingkat dibawahnya. Jika Fenomena masih berusaha menampilkan visualisasi yang indah dengan menentukan sudut pengambilan gambar dan jatuhnya cahaya, dibantu ritme tiap adegan, Curhat abai semuanya. Yang ada tayangan "banteng ketaton", grudag-grudug, grusah-grusuh, seperti sebuah perkosaan tapi bukan perkosaan, bak perempuan sekarat tapi bukan sekarat, laksana jerit kesakitan tapi kok mirip erang kenikmatan. Kacau deh! Yang lebih "mengerikan", jika Fenomena atau visualisasi sejenis seperti Gadis Pantai atau Komedi Nakal di TransTV pelakonnya perempuan muda, di Curhat justru perempuan setengah tua, dengan lengan dan perut bergelambir, dan sisi mata yang mulai ditumbuhi kerut.

Tapi, semua pengadeganan di Curhat itu masih tergolong kelas "menengah" jika dibandingkan dengan visual yang memenuhi tayangan Komedi Tengah Malam.

Komedi Tengah Malam pun terbagi dua. Pertama, edisi "Metropolitan" yang "berat ringan". Kedua, edisi "Seksi" yang masuk kategori kelas berat. Edisi "Metropolitan" sangat meniru Nah Ini Dia... yang pernah tayang di SCTV, baik itu cerita --tingkah manusia urban-- juga gaya tutur presenternya. Di edisi "Metropolitan", Tukul Arwana dan Wulan yang menjadi presenter, memberi prolog dan epilog dari kisah yang tersaji. Epilog biasanya berupa nasihat agar tidak melakukan hal yang tersaji di dalam cerita. Sayang sekali, penghadiran Tukul sangat tidak berhasil memberi warna dan arti untuk tayangan itu.

Edisi "Seksi" hadir tanpa presenter, dengan visualisasi yang amat sangat luar biasa berani. Tampaknya, edisi "Seksi" adalah reinkarnasi visualisasi tayangan Potret yang begitu berani, bahkan pernah menampilkan model telanjang yang bugil di layar Lativi. Sulit menceritakan keberanian Komedi Tengah Malam edisi "Seksi", meski label "lulus sensor" selalu ditampilkan di awal acara ini. Mungkin, beberapa foto "paling sopan" dari tayangan itu akan cukup menggambarkan "kevulgaran" acara itu.


Tubuh Sosial

Tubuh-tubuh semitelanjang, yang mempersiapkan diri untuk dilahapi mata, adalah "ideologi" tayangan Lativi tengah malam. Sudah lama anutan itu dipertahankan, mulai tayangan film Indonesia tempo dulu yang acap pamer aurat, Potret, sampai Curhat dan Komedi Tengah Malam. Yang tampil adalah tayangan dengan kepercayaan yang berlebihan pada tampilan fisik. Kelucuan cerita, latar, seting, semuanya hanya menjadi pelengkap dari "logika" badani. Tubuh sensual yang terpapar di kamera nyaris tanpa mendapatkan sentuhan "jiwa" dari keseluruhan unsur-unsur dalam sebuah tayangan. Logika badani itu seakan mengadopsi pemikiran Cyrenaic dari Yunani dulu bahwa kebahagiaan tubuh lebih baik daripada keindahan jiwa. Pengimanan pada kesempurnaan tubuh ini membuat seluruh tayangan hadir sebagai pancingan pada syahwat, makanan mata, dan tak memberi sepeser nilai pun untuk jiwa. Waktu lewat tengah malam, ketika jiwa seharusnya mendapatkan suplemen, justru dibenamkan ke dalam lautan syahwat, "pencerahan" badani. Seakan, Lativi mengamanatkan tayangannya menjadi kepanjangan tangan pemikiran Orpheus bahwa the body is the tomb of the soul, tubuh adalah kuburan untuk jiwa. Penonton digiring untuk merayakan kesementaraan fisik, dan menguburkan keabadian batin.

Antropolog Robert Herz percaya perlakuan suatu masyarakat pada tubuh menunjukkan pola pikir dan identitas masyarakat tersebut. Masalah agama, budaya, dan moralitas secara alamiah termanifestasi di dalam bagaimana tubuh diperlakukan. Herz yakin bahwa tubuh fisik, tubuh pribadi, selalu juga berarti tubuh sosial. Jadi, membaca bagaimana tubuh diperlakukan berarti mengeja bagaimana pola pikir, moralitas, agama dan kultur sebuah masyarakat. Dan jika tayangan sejenis Komedi Tengah Malam masih saja abadi di televisi, maka dapat kita baca bagaimana pola pikir, moralitas, kultur penontonnya, masyarakat yang mengabaikannya, watak stasiunnya, pengiklan, dan mereka yang "namanya tak boleh disebut".

Tentu, secara sederhana, dapat kita katakan bahwa perputaran kapital adalah hukum wajib bagi televisi. Apa pun akan mereka produksi dan atau tayangkan sepanjang ada jaminan modal kembali. Keyakinan pada kapital ini otomatis menguburkan keyakinan pada moralitas, agama, budaya, dan aspek sosial lainnya. Pelanggaran atau penerobosan pada tabu, agama dan moral adalah konsekuensi yang harus dibayar demi perputaran uang. Intinya adalah sensasi. Dan sensasi acap berada di sisi yang berseberangan dengan moralitas, agama, dan kultur. Sensualitas adalah sensasi yang paling imajinatif. Sensualitas selalu bernarasi dengan tubuh. Simplifikasinya, tubuh adalah uang. Mereka yang memuja tubuh adalah mereka yang juga menjadikan uang sebagai iman. Masyarakat yang digerakkan oleh persoalan tubuh juga berarti masyarakat yang digairahkan oleh uang, yang jiwanya berada di dalam kuburan.

Jika demikian, persoalan tubuh seharusnya tidak menjadi sesuatu yang perlu diributkan. Ketika tidak diramaikan, otomatis, seporno atau sesensual apa pun, tubuh kehilangan sensasi. Pendiaman pada fenomena ketubuhan justru meredam daya provokasinya. Tanpa sensasi, tanpa provokasi, tubuh adalah teritorial tanpa massa. Tubuh akan menggeliat sendiri dan mati dalam sepi. Tanpa sensasi dan provokasi, juga massa, tubuh dan semesta fenomenanya akan dilupakan televisi. Dan rating tak akan ada lagi.

Masalahnya, di masa ini, dapatkah kita hidup tanpa sensasi dan melupakan televisi?


[Artikel ini telah dimuat di Harian Suara Merdeka, Minggu 5 Agustus 2007]

( t.i.l.i.k ! )