<$BlogRSDURL$>
...tera di sesela gegas-gesa
Monday, July 07, 2008

Isyarat dan Kematian


Benarkah kematian datang tanpa rencana, selalu tiba-tiba? Widyawati barangkali akan menjawab, tidak. Mengingat kembali semua sikap Sophan Sophiaan, dia pasti tahu, kematian telah lama mendekati suaminya, memberi isyarat kepadanya.

Isyarat itu, berupa sikap tak biasa Sophan, tak dapat dia baca sebagai tanda, sinyal dari maut. Widyawati menikmatinya, larut.

Selama konvoi misalnya, Widya merasa Sophan tambah mesra, acap menatapnya, dan memeluk erat. "Jauh lebih hangat dan sering," kenang Widya, Jumat (23/5) sore.

Dan ini yang paling tak dia lupa, di Rembang, isyarat itu lebih kuat terasa. Sophan memintanya mengenang saat pertama berjumpa, dalam film Pengantin Remadja. Sophan tak hanya menyanyikan soundtrack film itu, tapi juga membacakan surat cinta. "Juli sayang, suatu saat kita akan berjumpa lagi," ucap lelaki tampan itu sambil menatap Widyawati.

Itulah isyarat, dan Widya tak menyadari. Meski, "Saya bengong menatapnya. Dia bisa hapal lirik lagu Romi dan Juli, bahkan isi surat cintanya."

Isyarat itu juga datang dari alam. Sepanjang Jakarta-Tuban, dalam konvoi berboncengan, Widyawati selalu melihat sepasang burung terbang di depan mereka. Hanya dia yang melihat. Terbersit rasa tanya, "Kok aneh, selalu ada sepasang. Saya sampai berpikir, jangan-jangan ngikutin saya. Tapi setiap mau ngomong sama Sophan, saya lupa terus," ingatnya.

Kematian memang tidak datang tiba-tiba, dia memberi isyarat, yang kelak akan jadi kenangan. Widyawati pun melihat isyarat itu di dalam kenangan, sebuah jalur ingatan yang membuat seseorang yang telah pergi tetap dapat selalu datang. Isyarat itu, kenangan itu, adalah keabadian yang dititipkan sang maut, sebagai tanda, kematian tak pernah utuh menjemput. Ada yang tetap ditinggalkannya untuk yang hidup, sebagai kawan duka, bahwa memang ada yang pergi, tapi tidak selamanya. Ada yang berpulang, tapi bukan tidak kembali. Kenangan akan terus memanasi ingatan, membuat yang tiada kembali menjadi ada. "Saya sering lupa kalau Sophan sudah meninggal," bisiknya.

"Malam itu, saya mendengar langkah Bapak mendatangi kamar saya. Saya heran, kan Bapak di Surabaya. Saya pikir Bapak pasti sedang kangen," cerita Romi.

Sophan berada di Surabaya, tapi Romi merasakan langkahnya di Jakarta. Bagaimana menerangkan hal ini?

"Kematian itu tidak ada. Yang terjadi hanyalah perubahan energi. Jadi, sebagai energi, yang mati itu tetap dapat terhubung dengan kita kembali," terang Eckhart Tolle, penulis buku A New Earth, dalam acara "Oprah Winfrey Show".

"Langkah" Sophan itu juga isyarat, "energi" yang tak mau pergi. Energi yang bisa berpulang, bahkan dipanggil, melalui mekanisme ingatan.

Kematian, dengan demikian, bukanlah sesuatu yang jauh. Dia dekat, dan dapat diamati, dicatat, jika kita cermat menangkap isyarat. Kematian, meminjam Subagyo Sastrowardoyo, seakan kawan berkelakar yang mengajak tertawa -itu bahasa semesta yang dimengerti. Dan karena akrab, kematian tidak menjaraki yang hidup dan mati. Lihat, tak ada batas antara kita. Aku masih terikat kepada dunia/ karena janji/ karena kenangan// Kematian hanya selaput gagasan yang gampang diseberangi/ Tak ada yang hilang dalam perpisahan, semua pulih/ juga angan-angan dan selera keisengan.

Widyawati memang telah ditinggalkan, tapi dia tak akan pernah sendiri. Ada "energi" Sophan yang akan terus menemaninya. Karena, semua tahu, hanya cinta yang dapat mengalahkan, menyeberangi kematian. Dan soal cinta, untuk Widyawati dan Sophan, kita tak pantas lagi membicarakannya....

[Artikel di atas diterbitkan sebagai "Tajuk" di Tabloid Cempaka, Kamis 29 Mei 2008]