<$BlogRSDURL$>
...tera di sesela gegas-gesa
Thursday, August 02, 2007

Curhat Tubuh Tengah Malam

Di era ini, dapatkah kita lepas dari sensasi, dan tak mengimani tubuh-tubuh yang pamer diri?


"ANDO, sudah berapa lamakah Anda menjalani profesi ini? Apa alasannya? Adakah penyesalan di dalam diri Anda selama menjalani profesi ini? Bisakah hal itu Anda ceritakan kepada pemirsa Lativi?"

"Bagaimanakah sikap Mama Anda? Dan bagaimanakah juga sikap Anda terhadap Mama dan Rangga setelah kejadian tersebut? Atau mungkin ada pesan-pesan yang ingin Anda sampaikan kepada pemirsa atas pengalaman yang telah menimpa diri Anda tersebut?"

"Demikianlah pemirsa, sekelumit kisah Dian. Dia begitu terpukul dan sampai sekarang belum mampu untuk dapat kembali berbicara dengan Mamanya. Demikian pemirsa, terimakasih atas perhatian Anda, dan sampai berjumpa di lain waktu dengan kisah yang berbeda."

Anda ingin tahu siapa pewawancara yang bertanya sekaku itu? Namanya Linda Lasse. Ya, pasti Anda asing dengan nama presenter satu ini, seasing rentetan kalimat pertanyaannya. Tapi, jika menonton bagaimana dia merepresentasikan tubuhnya di depan kamera, Anda pasti tidak asing dengan tipikalitas gayanya.

Ya, gaya Linda sama persis seperti Rosiana Silalahi atau Ariana Herawati saat mewawancarai narasumber. Mata menatap narasumber, tubuh menyandar di kursi dan atau sesekali condong ke depan untuk menciptakan kesan situasi dari sebuah pertanyaan yang serius, menyimpan senyum dan tawa kecil untuk saat yang tepat, menghela napas panjang sebagai tanda kecewa, dan kadang membuka kedua telapak tangan di depan dada, menyatakan sikap kecewa kepada pemirsa. Linda Lasse paham semua gesture itu. Dia bahkan menambah "item" baru, persilangan kaki yang acap berganti. Pergantian silangan kaki itulah --selain kekakuan pertanyaannya-- yang menjadi "nilai lebih" Linda Lasse. Sebabnya satu, Linda memakai rok mini. Dan pahanya, ampun! mulus sekali. Tapi tentu, bukan kemulusan paha itu yang membuat pergantian silangan kaki menjadi satu adegan yang membuat "kaku" penonton lelaki. Melainkan, tiap kali dia berganti posisi kaki mana yang menjadi tumpuan, akan tercipta ruang atau sela di antara dua gading pahanya, dan menunjukkan sekelebat "zona akhir imajinasi lelaki".

Baiklah, saya tahu Anda pasti ingin juga dapat menyaksikan "zona imajinasi" tersebut. Dan jangan khawatir, Linda Lasse lewat Curhat pasti akan memenuhi fantasi Anda, melalui silangan kakinya, dan visualisasi jawaban narasumber dari kekakuan pertanyaannya.


Kelas Berat

Curhat yang hadir lewat tengah malam di Lativi, memang tak memiliki "kecerdasan" pertanyaan semacam "Fenomena" atau "Kupas Tuntas" di TransTV. Meski memasuki wilayah persoalan yang sama, Fenomena dan atau Kupas Tuntas berusaha menghadirkan sisi lain atau misteri dari sebuah persoalan. Penghadiran sisi lain itu membuat Fenomena dapat memaklumkan jalan hidup narasumber, sedangkan Kupas Tuntas acap membuat narasumber menjadi berada dalam posisi dipersalahkan. Curhat justru sebaliknya, memilih tidak bersikap atau berposisi. Kepentingan Curhat adalah menghadirkan visualisasi dari kisah narasumber.

Maka, bayangkanlah visualisasi dari kisah Curhat, "Terjebak jadi Gigolo" atau "Ibuku Maniak Seks" atau "Tubuhku Penebus Hutang Suami". Sebagaimana tayang Selasa (31/7), Ando yang menjadi gigolo, membuat pelanggannya seperti orang kesurupan. Visualisasinya, ahh- tak sanggup menceritakannya. Kalau cuma silangan kaki Linda Lasse, itu belum ada apa-apanya. Visualisasi Fenomena pun masih dua tingkat dibawahnya. Jika Fenomena masih berusaha menampilkan visualisasi yang indah dengan menentukan sudut pengambilan gambar dan jatuhnya cahaya, dibantu ritme tiap adegan, Curhat abai semuanya. Yang ada tayangan "banteng ketaton", grudag-grudug, grusah-grusuh, seperti sebuah perkosaan tapi bukan perkosaan, bak perempuan sekarat tapi bukan sekarat, laksana jerit kesakitan tapi kok mirip erang kenikmatan. Kacau deh! Yang lebih "mengerikan", jika Fenomena atau visualisasi sejenis seperti Gadis Pantai atau Komedi Nakal di TransTV pelakonnya perempuan muda, di Curhat justru perempuan setengah tua, dengan lengan dan perut bergelambir, dan sisi mata yang mulai ditumbuhi kerut.

Tapi, semua pengadeganan di Curhat itu masih tergolong kelas "menengah" jika dibandingkan dengan visual yang memenuhi tayangan Komedi Tengah Malam.

Komedi Tengah Malam pun terbagi dua. Pertama, edisi "Metropolitan" yang "berat ringan". Kedua, edisi "Seksi" yang masuk kategori kelas berat. Edisi "Metropolitan" sangat meniru Nah Ini Dia... yang pernah tayang di SCTV, baik itu cerita --tingkah manusia urban-- juga gaya tutur presenternya. Di edisi "Metropolitan", Tukul Arwana dan Wulan yang menjadi presenter, memberi prolog dan epilog dari kisah yang tersaji. Epilog biasanya berupa nasihat agar tidak melakukan hal yang tersaji di dalam cerita. Sayang sekali, penghadiran Tukul sangat tidak berhasil memberi warna dan arti untuk tayangan itu.

Edisi "Seksi" hadir tanpa presenter, dengan visualisasi yang amat sangat luar biasa berani. Tampaknya, edisi "Seksi" adalah reinkarnasi visualisasi tayangan Potret yang begitu berani, bahkan pernah menampilkan model telanjang yang bugil di layar Lativi. Sulit menceritakan keberanian Komedi Tengah Malam edisi "Seksi", meski label "lulus sensor" selalu ditampilkan di awal acara ini. Mungkin, beberapa foto "paling sopan" dari tayangan itu akan cukup menggambarkan "kevulgaran" acara itu.


Tubuh Sosial

Tubuh-tubuh semitelanjang, yang mempersiapkan diri untuk dilahapi mata, adalah "ideologi" tayangan Lativi tengah malam. Sudah lama anutan itu dipertahankan, mulai tayangan film Indonesia tempo dulu yang acap pamer aurat, Potret, sampai Curhat dan Komedi Tengah Malam. Yang tampil adalah tayangan dengan kepercayaan yang berlebihan pada tampilan fisik. Kelucuan cerita, latar, seting, semuanya hanya menjadi pelengkap dari "logika" badani. Tubuh sensual yang terpapar di kamera nyaris tanpa mendapatkan sentuhan "jiwa" dari keseluruhan unsur-unsur dalam sebuah tayangan. Logika badani itu seakan mengadopsi pemikiran Cyrenaic dari Yunani dulu bahwa kebahagiaan tubuh lebih baik daripada keindahan jiwa. Pengimanan pada kesempurnaan tubuh ini membuat seluruh tayangan hadir sebagai pancingan pada syahwat, makanan mata, dan tak memberi sepeser nilai pun untuk jiwa. Waktu lewat tengah malam, ketika jiwa seharusnya mendapatkan suplemen, justru dibenamkan ke dalam lautan syahwat, "pencerahan" badani. Seakan, Lativi mengamanatkan tayangannya menjadi kepanjangan tangan pemikiran Orpheus bahwa the body is the tomb of the soul, tubuh adalah kuburan untuk jiwa. Penonton digiring untuk merayakan kesementaraan fisik, dan menguburkan keabadian batin.

Antropolog Robert Herz percaya perlakuan suatu masyarakat pada tubuh menunjukkan pola pikir dan identitas masyarakat tersebut. Masalah agama, budaya, dan moralitas secara alamiah termanifestasi di dalam bagaimana tubuh diperlakukan. Herz yakin bahwa tubuh fisik, tubuh pribadi, selalu juga berarti tubuh sosial. Jadi, membaca bagaimana tubuh diperlakukan berarti mengeja bagaimana pola pikir, moralitas, agama dan kultur sebuah masyarakat. Dan jika tayangan sejenis Komedi Tengah Malam masih saja abadi di televisi, maka dapat kita baca bagaimana pola pikir, moralitas, kultur penontonnya, masyarakat yang mengabaikannya, watak stasiunnya, pengiklan, dan mereka yang "namanya tak boleh disebut".

Tentu, secara sederhana, dapat kita katakan bahwa perputaran kapital adalah hukum wajib bagi televisi. Apa pun akan mereka produksi dan atau tayangkan sepanjang ada jaminan modal kembali. Keyakinan pada kapital ini otomatis menguburkan keyakinan pada moralitas, agama, budaya, dan aspek sosial lainnya. Pelanggaran atau penerobosan pada tabu, agama dan moral adalah konsekuensi yang harus dibayar demi perputaran uang. Intinya adalah sensasi. Dan sensasi acap berada di sisi yang berseberangan dengan moralitas, agama, dan kultur. Sensualitas adalah sensasi yang paling imajinatif. Sensualitas selalu bernarasi dengan tubuh. Simplifikasinya, tubuh adalah uang. Mereka yang memuja tubuh adalah mereka yang juga menjadikan uang sebagai iman. Masyarakat yang digerakkan oleh persoalan tubuh juga berarti masyarakat yang digairahkan oleh uang, yang jiwanya berada di dalam kuburan.

Jika demikian, persoalan tubuh seharusnya tidak menjadi sesuatu yang perlu diributkan. Ketika tidak diramaikan, otomatis, seporno atau sesensual apa pun, tubuh kehilangan sensasi. Pendiaman pada fenomena ketubuhan justru meredam daya provokasinya. Tanpa sensasi, tanpa provokasi, tubuh adalah teritorial tanpa massa. Tubuh akan menggeliat sendiri dan mati dalam sepi. Tanpa sensasi dan provokasi, juga massa, tubuh dan semesta fenomenanya akan dilupakan televisi. Dan rating tak akan ada lagi.

Masalahnya, di masa ini, dapatkah kita hidup tanpa sensasi dan melupakan televisi?


[Artikel ini telah dimuat di Harian Suara Merdeka, Minggu 5 Agustus 2007]