window.location.href="http://rumahputih.net/" ..tera di sesela gegas-gesa <$BlogRSDURL$>
...tera di sesela gegas-gesa
Sunday, May 06, 2007

Citra dan Teror Para Pengacara

Bagi pengacara para artis, kebenaran harus diperjuangkan, terutama, di depan kamera.



"Dalam rekaman itu, Maia bilang kepada teman laki-lakinya seperti ini, 'Demi Allah, demi Allah, saya sudah making love dengan Bang.... Sampeyan jangan bilang siapa-siapa.' Begitu kata Maia. Rekaman itu sangat menyakitkan Dhani," jelas Syamsul Huda, pengacara Dhani, sambil mengacungkan DVD rekaman itu.

Itulah kalimat yang semingguan ini meramaikan infotainmen. Huda tampil mewakili Dhani untuk menangkis "serangan" Sheila Salomo, pengacara Maia. Tuduhan kekerasan dalam rumah tangga dibalas dengan bukti selingkuh. Keduanya siap bertarung membela klien masing-masing. Di teve, seperti bersahutan, mereka berpukul kata dan yakin memiliki data lebih meyakinkan.

Perdebatan seperti Sheila dan Huda bukan hal baru di infotainmen. Nyaris setiap ada permasalahan hukum, pengacara seorang artis akan bersuara di infotainmen. Pengacara Tommy Soeharto dan Tata, juga berperang kata. Tuduhan selingkuh dan memiliki anak di luar pernikahan selalu diungkapkan pencara Tommy untuk menjatuhkan citra Tata. Pengacara Tommy lupa, bahwa ketika di dalam penjara pun, kliennyalah yang telah terbukti menikahi perempuan lain.

Kadang, perdebatan para pengacara itu memasuki hal-hal di luar hukum, menyerang integritas pribadi, bahkan menyinggung SARA. Kasus perseteruan Hotman Paris Hutapea dan Hotma Sitompoel, contohnya. Kedua pengacara ini berseteru pribadi saat berhadapan dalam kasus pembunuhan Naek Gomgom yang melibatkan artis Lidya Pratiwi. Karena bersedia membela Lidya, Hotman Paris dinilai telah mengewakan orang Batak. Hotma bahkan mengecam pembelaan itu sebagai tindakan untuk mencari popularitas semata.

Hotman Paris tidak tinggal diam. Dia pun menyangsikan integritas Hotma karena masih membawa kesukuan dalam sikap profesionalitasnya. Hotman menilai tindakan kesukuan itu yang justru memperhinakan orang Batak. Perdebatan terus meruncing, saling membeberkan bukti-bukti yang meringankan kliennya, sekaligus tak lupa saling mengecam. Terakhir, keduanya saling melemparkan tuduhan tentang "pengacara hitam." Dalam "perang" itu, Ruhut Sitompul pun masuk gelanggang, dan ikut menyerang Hotman Paris. Namun, dengan senyum, Hotman Paris menilai Ruhut, "Bukan pengacara yang pantas saya layani. Dia bukan level saya."



Banyak yang mengira, setelah kasus Lidya Pratiwi mereda, "perang" antara dua pengacara ini akan berakhir. Nyatanya, mereka bertemu lagi dalam kasus Maia dan Mulan. Hotman membela Mulan, Hotma mewakili Maia. Keduanya perang bukti, saling yakin menang. Dan ketika Maia menandatangani kesepakatan yang diinginkan Mulan, Hotman pun tertawa. "Ini bukti mereka telah mengaku kalah. Bertekuk lutut menghadapi Hotman Paris."

Selasa kemarin, Dhani mendatangi Hotman Paris, minta nasihat tentang kasusnya. Usai dari kantor pengacara itu, Dhani mengatakan siap menggelar perang Badar jika Maia menginginkan hal itu. Mengapa Dhani mendatangi Hotman? Ternyata Sheila Salomo, pengacara Maia itu, adalah rekanan Hotma Sitompoel and Partners. Olala....


Dua Teror

Pengacara seharusnya beracara di ruang pengadilan. Di depan jaksa dan hakimlah mereka wajib membeberkan bukti, memanggil saksi, dan menunjukkan kepiawaian berargumentasi. Namun, kini semua proses itu sudah mereka lakukan di depan kamera. Hotman Paris misalnya, dengan lantang menunjukkan tiada bukti bahwa Lidya benar melakukan tindakan pembunuhan berencana. Ia juga meyakinkan pemirsa bahwa Lidya pasti bebas dari tuduhan itu, dan hanya tersangkut pembunuhan biasa. Farhat Abbas juga melakukan hal yang sama ketika membela Alda. Dia jelaskan kronologis pembunuhan itu, sampai kecurigaan ada "yang bermain" dan "orang kuat" yang melindungi Ferry.

Keyakinan, bukti, ataupun saksi yang pengacara tunjukkan kepada infotainmen sebenarnya adalah teror dengan dua arah. Pertama, mereka membidik lawan. Dengan paparan itu, mereka berharap "lawan" sudah kalah sebelum maju ke persidangan. Itulah yang terjadi dengan Maia, akhirnya menuruti kehendak Mulan. Teror Hotman Paris bahwa mereka punya banyak bukti dan pasti menang, berhasil.

Kedua, teror kepada hakim dan jaksa di peradilan. Keyakinan yang mereka ucapkan bahwa kliennya tidak bersalah dan pasti menang, dan tayang berulang-ulang di teve, diharapkan bergema juga dalam nalar para jaksa dan hakim. Itu semacam "pukulan yang tak kelihatan". Jadi, perang bukti dan pertengkaran di infotainmen itu mirip psy-war para pelatih di Liga Inggris sebelum bertanding. Mereka sangat yakin pertengkaran yang disorot media akan memengaruhi hasil di lapangan sepakbola, di ruang persidangan. Hotman Paris sukses juga melakukan hal ini ketika Lidya Pratiwi ternyata hanya dihukum 10 tahun penjara.

Namun, dengan menjadikan kamera sebagai "ruang sidang", dan penonton sebagai hakim dan jaksa, para pengacara sebenarnya telah melakukan "penghinaan" pada peradilan. Itu adalah wujud ketidakpercayaan mereka atau klien mereka kepada lembaga peradilan. Jadi, "persidangan kamera" itu bukan untuk mencari putusan, melainkan semacam unjuk-kuasa, bahwa peradilan pasti tidak akan dapat melihat fakta-fakta kebenaran lebih daripada infotainmen. Bahwa peradilan justru telah menjadi pusat ketidakadilan.


Hakim Kamera

Yatie Oktavia dan Pangki Suwito adalah contoh mereka yang "tidak percaya" pada peradilan. Mereka merasa lebih dapat mengasuh cucu mereka dibandingkan mantan menantunya, sebagaimana yang diputuskan pengadilan. Di infotainmen, melalui pengacara, mereka paparkan bukti, juga saksi. Sebuah paparan yang seakan berkata, "Inilah hal-hal yang tidak dilihat hakim." Akibatnya, mereka tidak patuh pada putusan hakim, membangkang. Dan sampai kini, kekuasaan peradilan tidak dapat menembus "pembangkangan" itu.

Tamara Bleszynski juga merasa keputusan Mahkamah Agung menyangkut hal asuh Rasya tidak adil. Elsya Syarif menyuarakan hal itu. Di infotainmen, mereka ragukan penilaian para psikolog menyangkut psikologis Rasya, yang merasa tak nyaman dengan Tamara, dan menjadi salah satu unsur penilaian mengapa Rafly yang berhak mengasuk anak mereka. Di depan kamera, mereka paparkan "bukti" manipulasi penilaian psikologis itu.

Jadi, sebenarnya, kamera dan penontonlah jaksa dan hakim di mata mereka. Dengan demikian, putusan pengadilan bukanlah tujuan utama. Sering sekali, para pengacara saling gugat, saling klaim kebenaran, namun akhirnya tidak sampai beracara di ruang pengadilan. Mereka "cukupkan" semua itu hanya sebagai persidangan di depan kamera, jika "putusan" yang mereka harapkan telah didapatkan, yakni pemihakan dari para penonton. Jika mereka yakin penonton telah dapat melihat semua "kebenaran", maka hasil apa pun di persidangan bukan sesuatu yang perlu dan penting.

Gusti Randa misalnya, hanya ramai ketika bersidang di depan kamera. Dia paparkan semua kronologis perselingkuhan istrinya, dia jelaskan karakter selingkuhan itu, dan menyebut mereka dengan Mr X dan Y. Dia ungkapkan kekuatan politik mereka, dia yakinkan penonton, bahwa yang dia lawan adalah orang yang sangat berkuasa. Gusti memegang bukti, dia pasti menang, jika akses politik sang lawan tidak menembus ruang pengadilan.

Dan begitulah, Gusti Randa hanya ramai di depan kamera. Dia dengan pengacaranya, telah melakukan persidangan "in absentia", tanpa kehadiran terdakwa. Dan ketika argumentasinya telah menjadi "kebenaran" di benak penonton, Gusti merasa cukup. Apalagi ketika mantan istrinya, Nia Paramitha, membenarkan perselingkuhan itu dengan mau membintangi sinetron "Selebriti Juga Manusia" berdasarkan versi Gusti. Akibatnya, Gusti tidak harus memperjuangkan "kebenaran" itu ke meja hijau. Sampai kini kasus itu tak jelas akhirnya.

Persidangan di depan kamera yang ditempuh para artis adalah suatu jalan untuk tetap mengukuhkan citra. Pengacara adalah penjaga gawang dan pemoles citra mereka. Jika citra berhasil ditegakkan, apa pun hasil pengadilan bukan sesuatu yang pantas dihiraukan. Meski citra adalah bayangan, dan persidangan di depan kamera adalah kesemuan, para artis sadar, dari situlah mereka dapat terus menjalani kehidupan. Hidup dalam citra, dalam bayangan, yang mereka maknai sebagai kebenaran....

[Artikel ini telah dimuat di Harian Suara Merdeka, Minggu 6 Mei 2007]