<$BlogRSDURL$>
...tera di sesela gegas-gesa
Monday, August 20, 2007

Jilbab-jilbab yang Disakiti

Dalam berbagai sinetron "berbau" hidayah, pemakai jilbab ditampilkan sebagai ibu kejahatan; melahirkan dan mengasuh, juga melindungi keberlangsungan kedurjanaan.



"IBUMU kritis? Malah bagus daripada sakit terus! Ini kan tinggal menghitung hari aja!" Pak Lurah melirik ke kasur, mencibir. Tak terpancar iba sedikitpun dari wajahnya saat melihat istrinya terbaring lemah. Dia pun abai pada tangis Ima, anaknya, yang berharap segera membawa ibunya ke rumah sakit.

"Ibu tersiksa, Pak. Kasihan...."

"Biar tidak tersiksa? Gampang! Bacain aja Yasin. Mau panjang, pendek, terserah! Gampang kan? Ngapain ke rumah sakit segala, ngabisin duit! Paling juga mati. Huh!" Meludah, menggerutu, gontai dia ke luar kamar.

Itulah sepotong adegan dalam sinetron Pintu Hidayah: Lurah Penjudi, yang tayang di RCTI (10/8). Kisahnya sederhana, tentang seorang lurah yang gila judi sampai menelantarkan kebutuhan keluarganya. Pak Lurah (Hendra Cipta) bahkan mengizinkan pendirian rumah judi di desanya, dan menjadi pelanggan di sana. Nasihat ulama dia bantah. Sindiran warga dia sergah. Semua penentangnya pun menyerah.

Sinetron ini menarik perhatian saya bukan karena sumpah, ludah, dan makian yang bertebaran dalam tubuh cerita, melainkan sosok istri dan anak Pak Lurah. Keduanya berjilbab. Jadi, Pak Lurah yang demikian durjana itu ternyata memiliki istri dan anak yang sabar dan taqwa, yang selalu menasihati ayahnya, meski pasti mendapatkan sumpah dan sergah.

"Penghadiran" sosok berjilbab dalam sinetron di atas mengingatkan saya pada puluhan sinetron lain dengan tipikalitas yang sama, sosok durjana penuh dosa tapi memiliki keluarga takwa, yang disimbolkan dengan pengenaan jilbab. Sinetron Dukun Santet di TransTV (6/7) contohnya, bercerita tentang dukun yang suka berjudi, berzina, dan menyantet, dan selalu murka dengan ulama di desanya. Di dalam rumah hadir ibunya yang selalu menasihati, dan anaknya yang tak lalai mengajak bertobat. Ibu dan anak si dukun seksi (Vicky Burki) itu mengenakan jilbab.

Sinetron Preman Bejat di TransTV juga menempuh cara sama. Preman yang suka membunuh, merampok dan aneka kemaksiatan lainnya, ternyata memiliki istri berjilbab. Juga mertua, adik ipar, dan anehnya, orang tua yang juga berjilbab. Bahkan tipekalitas anak bejat dengan orangtua taat (dan ibu berjilbab) ini sangat sering hadir dalam cerita. Terbaru, sinetron "Kisah Suami Beristri Empat" di TransTV (19/8), menampilkan suami yang sangat bejad, memiliki istri dan anak berjilbab, dan juga istri kedua, yang sangat jahat, juga berjilbab, demikian juga istri lainnya. Karena itulah, "penghadiran" jilbab ini saya kira bukan soal kebetulan belaka.


Jilbab Berdosa

Dalam keseluruhan cerita di atas, seakan ingin dikesankan ketidakberdayaan keimanan untuk meredam kemaksiatan. Bahkan, secara lebih ekstrim dapat dibaca bahwa kejahatan acap lahir justru dari lingkungan orang yang paling mengerti agama. Jilbab yang disimbolkan sebagai buhul atau ladang keimanan dan ketakwaan tak berdaya, dan dosa terus saja terjadi, terpampang di hadapannya. Mereka yang berjilbab memang diceritakan mencegah --tentu hanya dengan nasihat-- dan dipastikan tidak berdaya, tidak memberi dampak apa pun, bahkan kian menyalakan api kemaksiatan. Tokoh jahat yang mendapat nasihat pasti kian mengintensifkan kemaksiatannya. Itu simbol tentang kekalahan agama ketika berhadapan dengan durjana.

Namun, kekalahan agama dihadapan durjana itu bukan pukulan paling telak dalam cerita sinetron kita. Di level selanjutnya, justru dikesankan agama dan atau keimananlah yang menjadi akar bahkan lumbung kedurjanaan. Caranya? Hadirkan perempuan berjilbab, dan kisahkan tentang kemaksiatan yang dia lakukan. Hasilnya? Sinetron Memakan Uang ONH di TransTV (8/7) sukses menampilkan hal itu. Seorang istri yang berjilbab bahkan sengaja membunuh suaminya untuk mendapatkan uang ONH. Ia bahkan memaksa anaknya mencopot jilbab agar dapat memikat lelaki kaya. Dia sendiri, menikmati selubung jilbabnya sebagai labirin untuk menyembunyikan kejahatannya dari intipan dan kecurigaan banyak orang.

Sinetron Janda Matre juga menempuh cara yang sama. Ipah (Yurike Prastika) mengenakan jilbab agar dapat memikat duda kaya, dan dalam selubung jilbab itu dia merencanakan kejahatan yang di luar nalar. Jilbab melindunginya untuk dapat bebas melaksanakan semua kejahatan yang dia inginkan. Jilbab juga membuat dia bebas berkelit dari segala tuduhan dan prasangka. Jilbab menjadi inang kejahatan, melahirkan dan mengasuh, juga melindungi keberlangsungan kedurjanaan. Sinetron Ibu Tiri Mata Duitan, Perawan Tua, dan judul lainnya, kian menegaskan tipikalitas di atas.
Ada apa dengan jilbab? Mengapa jilbab tampil dalam glamoritas dosa? Mengapa terjadi begitu banyak cerita dengan kesamaan demikian? Adakah agenda tersembunyi (hidden agenda) dari semua cerita di atas? Atau, apakah memang seburuk itu makna jilbab di mata orang banyak? Atau memang ingin dikesankan buruk? Lalu, siapa yang berusaha mengesankan begitu?

Akan lahir berjuta pertanyaan, ratusan kecurigaan menyangkut cerita seperti yang terpapar di atas. Lalu, telisikan bisa langsung mengarah pada siapa pembuat cerita sinetron demikian? Siapa sutradaranya, produsernya, pemainnya? Mengapa mereka bahu-membahu membuat cerita semacam itu? Di mana sinetron itu ditayangkan? Siapa direktur dan pemilik televisi itu? Bagaimana rekam jejak mereka? Apa agama mereka semua?

Cukup? Belum. Kecurigaan bahkan bisa melebar pada sudut yang tidak terbayangkan. Misalnya, jam berapa semua tayangan sinetron bercerita demikian? Oh, ternyata prime time dan ulang tayang di hari Minggu. Ha? Mengapa di jam itu, dan mengapa tayang ulang? Berapa rating sinetron semacam itu? Siapa yang mengukur rating? Jujurkah, atau rating sengaja ditinggikan agar terkesan acara itu populer sehingga memancing semua teve menayangkan cerita sejenis? Apa saja iklan yang masuk dalam sinetron semacam itu? Apakah iklan yang masuk nyaris sama dalam setiap kisah semacam itu? Mengapa mereka mau beriklan? Siapa pemilik produk dari iklan itu? Siapa yang menganjurkan untuk beriklan di situ? Apakah ada hubungan pertemanan atau kekeluargaan antara pembuat cerita, produser, pemilik teve dan pengiklan? Apa agama mereka? Hihihi...


Ragam Tafsir

Kecurigaan di atas memang layak lahir jika kita meletakkan jilbab sebagai ukuran keimanan seseorang. Sebagai ukuran keimanan, maka semua cerita di atas terjalin dalam ketidakwajaran. Artinya, sangat tidak wajar seorang berjilbab bisa melakukan perbuatan durjana, atau dalam sebuah keluarga sakinah muncul sosok pendurhaka dan penzina. Karena tidak wajar, layaklah penceritaan jilbab itu dimaknai sebagai suatu usaha untuk "menggembosi" dan atau memurukkan Islam.
Namun, jika jilbab hanya kita pandang sebagai identitas muslimah, kecurigaan di atas tentu tidak terlalu beralasan. Sebagai identitas, jilbab hanya berfungsi sebagai KTP, tanda pengenal, dan tidak bersangkut-paut dengan kekuatan keimanan seseorang. Sebagai identitas, jilbab sama dengan chador di Iran, pardeh di India dan Pakistan, milayat di Libya, abaya di Irak, charshaf di Turki, hijab di beberapa negara Arab-Afrika seperti di Mesir, Sudan, dan Yaman. Karena hanya berfungsi sebagai identitas maka orang yang berjilbab pun tidak berbeda dengan yang memakai identitas lain. Ini soal pilihan, misalnya, antara membawa KTP, SIM, kartu pers, atau paspor.

Ahli tafsir Prof Nasaruddin Umar bahkan melihat jilbab sudah menjadi wacana dalam Code Bilalama (3.000 SM), kemudian berlanjut di dalam Code Hammurabi (2.000 SM) dan Code Asyiria (1.500 SM). Pemakaian jilbab sudah dikenal di beberapa kota tua seperti Mesopotamia, Babilonia, dan Asyiria. Jilbab menjadi pembeda antara kelas menengah dan kaum budak. Perempuan terhormat harus memakai jilbab dalam aktivitasnya di luar rumah.Perkembangan selanjutnya jilbab menjadi simbol kelas menengah atas masyarakat kawasan itu. Mengutip De Vaux dalam Sure le Voile des Femmes dans l'Orient Ancient, Umar yakin tradisi jilbab (veil) dan pemisahan perempuan (seclution of women) bukan tradisi orisinal bangsa Arab, bahkan bukan juga tradisi Talmud dan Bibel. Tokoh-tokoh penting di dalam Bibel, seperti Rebekah yang mengenakan jilbab berasal dari etnis Mesopotamia di mana jilbab merupakan pakaian adat di sana. Karena perdagangan dan pertikaian, perpindahan penduduk membuat tradisi jilbab menembus bagian utara dan timur Jazirah Arab seperti Damaskus dan Baghdad yang pernah menjadi ibu kota politik Islam zaman Dinasti Mu'awiyah dan Abbasiah. Pada periode inilah, jilbab yang tadinya merupakan pakaian pilihan (occasional costume) mendapatkan kepastian hukum (institutionalized), pakaian wajib bagi perempuan Islam.

Masih menurut Umar, Al Quran hanya menyebut dua kata untuk penutup kepala yaitu khumur dan jalabib, keduanya dalam bentuk jamak dan bersifat generik. Kata khumur (QS al-Nur/34:31) bentuk jamak dari khimar dan kata jalabib (QS al-Ahdzab/33:59) bentuk jamak kata jilbab. Dua ayat di atas merupakan tanggapan terhadap kasus tertentu yang terjadi pada masa Nabi. Akibatnya, timbul perbedaan pendapat di kalangan ulama Ushul Fikih; apakah yang dijadikan pegangan lafaznya yang bersifat umum, atau sebab turunnya yang bersifat khusus.

Ayat khimar, misalnya turun untuk menanggapi model pakaian perempuan yang ketika itu menggunakan penutup kepala (muqani'), tetapi tidak menjangkau bagian dada, sehingga bagian dada dan leher tetap kelihatan. Tafsir Muhammad Sa'id al-'Asymawi, QS al-Nur/24:31 turun untuk memberikan pembedaan antara perempuan mukmin dan perempuan selainnya, tidak dimaksudkan untuk menjadi format abadi (uridu fihi wadl' al-tamyiz, wa laisa hukman muabbadan). Sedangkan ayat jilbab juga turun berkenaan seorang perempuan terhormat yang bermaksud membuang hajat di belakang rumah di malam hari tanpa menggunakan jilbab, maka datanglah laki-laki iseng mengganggu karena dikira budak. Peristiwa ini menjadi sebab turunnya QS al-Ahdzab/33:33. Menurut Al-'Asymawi dan Muhammad Syahrur, terkait dengan alasan dan motivasi tertentu (illat) dan karenanya berlaku kaidah: suatu hukum terkait dengan illat, ketika ada illat di situ lahir hukum. Jika illat berubah, maka hukum pun berubah.

Turunnya ayat hijab, juga terkait dengan kondisi tempat tinggal Nabi bersama beberapa istrinya dan kepentingan sahabat yang akan selalu ingin menemui Nabi. Untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, terutama setelah kejadian tuduhan palsu/hadis al-ifk terhadap 'Aisyah, Umar bin Khattab mengusulkan agar dibuat sekat (hijab) antara ruang tamu dan ruang privat Nabi. Namun, kemudian turunlah ayat hijab di atas.

Nah, dari argumentasi Umar di atas, dapatlah kita lihat bahwa memang jilbab sejak awalnya tidak menjadi ukuran tebal-tipisnya iman seseorang. Jilbab hanya pembeda, suatu identitas, dan tidak mewadahi keimanan dan atau keislaman secara umum atau general. Sebagai identitas, tak ubahnya KTP atau SIM, jilbab pun bisa dipalsukan. Dengan demikian, apa yang tampil dalam sinetron di atas, juga bukanlah gambaran umum dari wajah keimanan dan atau keislaman. Otomatis juga, tidak terjadi penghadapan vis a vis antara kekalahan keislaman (general) dan kemaksiatan. Yang kalah adalah orang islam yang kebetulan memakai jilbab, bukan islam secara umum. Dan orang Islam yang kalah menghadapi kemaksiatan bukanlah kabar baru. Karena itu, cerita sinetron demikian pun jelas tidak bermutu.

Memandang jilbab dengan cara demikian, membuat kita tidak emosi dan antipati ketika jilbab-jilbab disakiti. Juga tidak merasa rendah diri, karena keislaman sesungguhnya tidak cuma terkandung dalam jilbab, dan senyatanya tidaklah selalu kalah melawan kedurjanaan.

Masalahnya, tafsir tidak selalu berdiri sendiri, pasti memiliki kawan, pun lawan. Dan jika tafsir atas jilbab berbicara lain, maka sinetron di atas pun akan dibaca dengan cara yang berbeda. Karena itulah, ada yang tertawa, diam saja, bahkan mungkin meledakkan bom di daerah sana. Karena, bisa saja, sinetron itu jadi terasa begitu menghina!


[Artikel ini telah dimuat di Harian Suara Merdeka, Minggu 26 Agustus 2007]