<$BlogRSDURL$>
...tera di sesela gegas-gesa
Thursday, August 18, 2005

Indonesia tak Pernah Memilih

"INDONESIA memilih...." teriak Atta dan Irgi, lalu mereka diam, menyebarkan suasana tegang ke seluruh arena. Kamera mensyut wajah Mike, Judika, lalu menjauh, menyorot empat sosok itu. Sesaat kemudian, kamera menangkap ibu Mike, Yudhayani, yang menangkupkan tangan ke wajahnya, dengan bibir yang tersamar berdoa. Kamera kembali ke panggung, sesaat sebelum Atta dan Irgi meneriakkan nama Mike sebagai pemenang.

Ucapan "Indonesia memilih...." dari lengking Atta barangkali menjadi penanda yang paling berbeda dari acara sejenis di teve lain. "Indonesia Idol" memang punya pesaing semacam "AFI", "KDI", atau "KondangIn", yang juga memanfaatkan poling melalui SMS untuk menentukan pemenang. Tapi, meski memakai metode yang sama, hanya "Indonesia Idol" yang secara berani mengatakan "Dan Indonesia memilih...." Ucapan yang biasanya selalu menjadi akhir dari ajakan, "Anda yang memilih, Anda yang menentukan". Dan saya kira, ucapan ini sudah layak untuk ditelusuri validitasnya, apakah benar acara-acara di atas sungguh-sungguh memberikan kesempatan kepada Indonesia untuk bebas memilih.


Mike # Delon

Kita mulai dari kasus Mike. Sedari awal memang penampilannya sudah mengagumkan. Suaranya merdu, dan dengan tubuh gemuknya, dia masih mampu menjangkau nada-nada tinggi. Penampilannya di panggung santun, terkesan rendah hati, dan ini yang paling penting, sangat sayang pada ibunya. Saat 12 calon idola itu bertarung, Mike secara cerdas justru mempersembahkan lagu yang dia bawakan untuk ibunya. Cara yang tidak ditempuh oleh peserta lain. Dan, mulai dari sinilah kamera "melakukan" intervensinya atas citra Mike. Sejak malam perdana itu, sosok ibu Mike selalu mendapat porsi. Wajah Yudhayani yang tegang, tertawa, bangga, cemas, gugup, menangis, meletakkan tangan di dada, menangkupkan tangan di wajah, getar bibir berdoa, tangan yang cemas mencari pegangan dengan ibu di sebelahnya, mata yang selalu basah, selalu tersaji selama perhelatan itu. Puncak paling dramatis adalah di saat tiga besar, kala Mike menyanyikan lagu "Bunda" milik Melly. Kamera secara cerdas --dan juga memihak-- menunjukkan sesenggukan Yudhayani, dan hening arena yang terhisap dalam aura kasih-sayang Mike. Kamera juga memperlihatkan Titi DJ yang menangis, Indra yang tanpa sadar berdiri dengan mata berkaca, dan wajah-wajah para pendukung Judika yang seperti tersihir, terdiam. Ketika Mike terlihat menangis, kamera secara cepat menuju ke ibunya, yang juga menangis. Saya pun, ribuan kilo dari panggung itu, terhisap, airmata saya berloncatan.

Cara kerja kamera ini bukan hal yang biasa. Judika tidak mendapatkan "pembentukan" imaji yang sama sejak semula. Benar bahwa orangtua Judika tidak berada di atas panggung. Tapi "mempertontonkan" cinta Mike dan ibunya dalam sebuah tayangan yang memang berharap simpati dari penonton, tentu bukan sesuatu yang dapat diterima sebagai sebuah kewajaran.

Tidak hanya kamera, juri pun melakukan pembedaan. Di sinilah kita dapat melihat beda Mike dan Delon. Secara visual, "kelemahan" Mike adalah pada bentuk tubuhnya. Tapi sejak awal, "kelemahan" itu dianulir oleh para juri. Titi DJ mengatakan, "Mike, kamu jangan minder dengan bentuk tubuhmu. Kebesaran kamu menyimpan cinta dan kelembutan..." Indra Lesmana menghilangkan kegemukan itu dengan, "Mike, kamu bernyanyi dengan hati. Kerasa banget..." Dimas Jay membuat absen faktor gemuk itu, "Ternyata kamu juga lincah, bisa berjoged..."

Menyangkut visual, terutama di televisi, ketampanan dan kelangsingan, adalah nilai tambah, bahkan utama. Popularitas dan ketampanan selalu bersanding. Tapi Delon tidak mendapatkannya dari juri. Ketampanannya adalah kelemahannya, dan selalu menjadi bahan ejekan juri. "Indonesia Idol tak hanya butuh tampang!" kata Indra suatu kali. Titi DJ pun berkata, "Kamu hanya punya tampang!"

Dalam dua kali penyelenggarakan Indonesia Idol kita dapat melihat bagaimana tubuh seseorang menjadi sorotan untuk sebuah ajang penilaian suara. Nilai tubuh yang justru didudukkan tidak dalam porsi yang adil, terutama jika dinilai dari kacamata ajang popularitas.

Masihkan kita berpikir Indonesia memang memilih?


Penonton = Objek

Contoh sama dari acara yang berbeda, AFI. Tayangan pertama dimulai dengan keterkejutan kita pada Very. Penyanyi yang hanya bisa berdangdut itu melejit. Selain permainan kamera, Veri juga memenuhi benak banyak orang karena rumor yang "diskenariokan" untuknya. "Percintaannya" dengan Mawar memenuhi "Diari AFI". Dan yang paling heboh adalah perjuangannya untuk bisa mengikuti ajang tersebut, dengan harus menjual cincin perkawinan ibunya. Media --terutama Indosiar dan tabloid Gaul-- mencitrakannya sebagai sosok yang paling pantas untuk didukung. Peserta lain, Kia, Mawar, Rini, dan Romi mendapat porsi di kamera justru berkaitan dengan kehadiran Very.

dan contoh yang paling parah ada pada AFI 2005. Sejak awal, porsi kamera dapat dilihat sebagai dukungan pada Bojes. Strategi seperti pada Very pun ditempuh. Bojes "dijodohkan" dengan Tiwi. Diary AFI dipenuhi gosip itu. Tapi berbeda dari Mawar, langkah Tiwi cuma sampai 6 besar. Ia tersingkir. Strategi itu tidak berjalan seperti yang diinginkan. Bukan hanya Tiwi, Bojes yang dijuluki sebagai "smart boy" pun juga terancam.

Pada eliminasi 5 besar Minggu (7/7), sedari awal acara, dukungan SMS untuk Bojes paling rendah. Dan 2 menit sebelum pengiriman SMS ditutup, di layar teve masih terlihat Bojes berada di bawah, dengan prosentasi yang cukup jauh dari peserta yang lain. Dan ketika di akhir acara, satu persatu kontestan diminta membuka amplop untuk melihat foto siapa yang tak ada. Hasilnya, dengan enteng Adi Nugroho mengatakan bahwa malam itu tidak ada eliminasi, semua hanya latihan saja. Sungguh mengagetkan. Bagaimana perasaan ribuan orang yang mengirimkan SMS dan berharap cemas, hanya dipatahkan dengan sebuah keputusan tak adanya eliminasi. Tidakkah Indosiar melakukan "kecurangan?" Tidakkah hal itu dilakukan hanya untuk menyelamatkan Bojes, yang sudah sejak awal terlihat memenuhi "standart" untuk dijadikan bintang? Jawaban Indosiar, tidak. Melalui Adi Nugroho, mereka menyatakan tak ada kecurangan, karena dukungan SMS digabungkan pada Minggu (14/7) lalu. Hasilnya, Luri yang dikorbankan. Padahal, di Minggu (7/7), dia berada dalam posisi aman.

Masihkan Indonesia sungguh-sungguh memilih?

Mike jelas, seperti kata Indra, sosok yang lahir memang sudah untuk menjadi bintang. Dan Mike memang layak memenangi "Indonesia Idol", sama layaknya dengan Judika, yang di empat minggu terakhir, menunjukkan pencapaian kualitas suara dan aksi panggung luar biasa. Masalahnya adalah penilaian layak ini --yang secara awal sudah dinilai dan dilihat oleh RCTI, Fremantle, dan para juri-- dijajahkan ke dalam benak penonton melalui mekanisme yang tidak adil bagi kontestan lain. Pihak-pihak yang berkepentingan dengan acara itu menghendaki sosok yang "bernilai jual" di panggung hiburan --dan kelak bisa menghasilkan kapital yang besar-- juga disukai dan dipilih oleh penonton, yang kelak dapat mereka mintai tanggungjawabnya. Dan satu cara untuk membuat semua itu menjadi nyata adalah dengan memilihkan untuk penonton sosok mana yang paling pantas dijadikan bintang. Kia lebih bagus dari Veri, tapi harus Very yang menang. Adek dan Indri lebih bagus dari Bojes, tapi Bojes harus dilindungi. Mike dan Judika sama bagusnya. Tapi ingat Mike punya nilai lebih, sentuhan sayangnya pada ibu. Dan semua ini harus dikawal, harus "paksakan" dipilih penonton. Dengan cara halus, seperti Mike, dengan cara cukup kasar seperti Very dan Bojes, semua menjadi legal. Dan penonton tak pernah menjadi subjek, karena kesadaran mereka selalu sulit untuk menghadapi canggihnya rekayasa rasa yang dimamahkan media. Dan beginilah, Indonesia sungguh tidak pernah memilih.

[Esai ini telah dimuat di Harian Suara Merdeka, Minggu 21 Agustus 2005]