<$BlogRSDURL$>
...tera di sesela gegas-gesa
Sunday, July 24, 2005

Jangan Kau Ulangi Lagi, Farhan!

SETELAH meninggal dan berkesempatan bertemu dengan Tuhan, Ford segera menyombongkan dirinya. Ia membanggakan mobil Ford ciptaannya, yang nyaman, berseni tinggi, dan diselalu dipuji para desainer. Ia lalu mencela Tuhan yang tidak berseni ketika menciptakan perempuan. "Desainnya tak kreatif, terlalu banyak tonjolan di sana-sini," katanya. "Jarak antara pemasukan dan pembuangan terlalu dekat. Terlalu ribet dan cerewet. Dan yang utama, susah dirawat," celanya sambil tertawa.

Tuhan tersenyum. Lalu, dengan santai Dia berkata, "Tapi ente harus mengakui, ciptakan Gue lebih banyak "dipakai" dibanding ciptaan ente."

Anda pernah mendengar lelucon semacam ini? Ya, betul, Farhan mengutip lelucon ini dalam acaranya "Lepas Malam" Rabu (13/7) lalu. Dan karena cara bertutur Farhan yang luar biasa kocak, penonton pun menyambut lelucon itu dengan tertawaaan. Dan, tampaknya, sesi lelucon di awal acara ini menjadi "daya jual" tersendiri. Tak heran jika terkadang Farhan sampai harus menyisipkan tiga-empat lelucon sebelum memanggil bintang tamunya.

Dalam penampilan Rabu kemarin (20/7), setelah mengkritik anggota DPR yang tetap ingin naik gaji, Fahran pun kembali mengeluarkan jurus lucunya. "Ini masih menyangkut anggota DPR," katanya. Ia lalu bercerita, ada seorang wanita cantik dan seksi yang sedang bermain golf. Sialnya, bola yang dia pukul mengenai seorang anggota DPR yang juga sedang bermain di situ. Menjerit-jeritlah anggota Dewan ini, mengaduh sambil mengempitkan tangannya di paha (Farhan memvisualkan cerita ini dengan baik, meletakkan tangannya di selangkangan, sambil mengaduh-aduh). Karena takut, si wanita pun bertanya. "Maaf, Pak. Bisa saya urut?"

"Boleh.." jawab anggota DPR.

"Saya buka celananya ya, Pak?"

"Jangan!"

Perempuan ini tetap memaksa, akhirnya anggota DPR itu pun menyerah. Maka, diurutlah oleh si cantik selangkangan si bapak.

"Gimana Pak, enak kan?"

"Iya, eh-eh.. enak. Tapi sebenarnya yang kena bola itu tangan saya kok Mbak, bukan...."

Penonton di studio pun tertawa terpingkal-pingkal. Sekali lagi, Farhan menunjukkan betapa dia telah berhasil membuka sebuah acara dan memaksa seluruh perhatian penonton untuk tetap fokus padanya. Kemampuan yang saya kira, sangat sedikit dimiliki oleh puluhan presenter yang acap nongol di televisi. Tapi, menonton acara ini sejak kali pertama tayang, terutama joke-joke yang dilemparkan Farhan, saya menemukan semacam "penghinaan" terhadap perempuan. Cara yang juga dilakukan hampir oleh semua tayangan lawakan, meski dengan kekasaran yang lebih kentara.


Cantik = Bodoh

Acara komedi terbaru TransTV, Konak atau Komedi Nakal yang tayang tiap Jumat tengah malam misalnya, secara kasar mengambil tubuh dan kebodohan perempuan sebagai lelucon. Episode "Score Girl" (15/7) menampilkan kamera yang mengumbar paha dan belahan dada, dan visualisasi fellatio dengan pisang, diiringi remasan di sana-sini. Tayangan yang sebenarnya tidak berbeda dari sejenis "lawakan" film-film Dono Kasino Indro ini agaknya ingin menyaingi komedi "Nah Ini Dia..." di SCTV, yang menjual tubuh perempuan dan aroma kemesuman.

Namun, ibu dari semua lawakan pelecehan ini layak diberikan kepada Srimulat. Dalam tayangan yang pernah mendapat anugerah Panasonic Award ini, perempuan selalu menjadi objek pelecehan seksual, tidak hanya secara verbal, tapi juga fisik berupa remasan, lirikan, dan celotehan mesum. Dan bintang tamu yang biasanya selalu berpenampilan terbuka menerima itu sebagai bagian dari kesenangan dengan berteriak-teriak girang. Kini setelah bermetamorfosa menjadi "Ketawa Ala TransTV" dan "Srimulat in The City", resep ini tak juga lenyap. Tessa Kaunang bahkan menjadi artis yang acap mendapat porsi dilecehkan itu. Dan Tessy Kabul adalah pelawak yang paling sering menepuk pantat, meremas dan mencubit pinggang, tak hanya tubuh Tessa, tapi juga perempuan cantik pemeran pembantu, yang hanya bisa kaget dan menjerit-jerit. Sementara, ribuan penggemar Tessy yang menonton lewat teve pasti tertawa geli melihat aksinya yang selalu berimprovisasi dengan cara ngelaba seperti itu.

Anda masih mau contoh perempuan cantik yang pasti bodoh? Ini juga lelucon Farhan di "Lepas Malam".

Seorang perempuan cantik mendatangi dokter, dan mengeluhkan suhu tubuhnya yang panas. Si dokter yang tampan ini tersenyum, lalu menyelipkan termometer di mulut si cantik. Tapi ia kemudian menggeleng, "Hasilnya kurang pasti. Coba buka baju ibu, termometer ini harus diletakkan di ketiak," kata si dokter.

Setelah meletakkan di ketiak beberapa saat, kembali si dokter menggelengkan kepala. "Kayaknya harus di dalam anus, untuk mendapatkan tensi yang pasti, Bu." Dengan bodohnya si ibu cantik pun telanjang, dan mengikuti perintah si dokter untuk menungging. Tapi, betapa kagetnya si ibu, saat dia merasakan sesuatu yang aneh. "Dok, Dok, itu.. itu bukan lubang anus saya..." desisnya.

Dengan enteng si dokter pun menjawab, "Tenang Bu, ini juga bukan termometer saya, kok."

Farhan, Farhan....


Kontrol Pikiran

Fungsi lelucon memang sebagai pelipur lara. Atau, mengutip ahli lelucon James Dananjaya dalam buku Folklor Indonesia, lelucon adalah kisah-kisah yang dapat menggelikan hati sehingga menerbitkan ketawa bagi yang mendengar atau menceritakannya, meskipun yang menjadi bahan atau sasaran cerita dapat merasa sakit hati. Dan karena fungsinya sebagai hiburan, lelucon acap diletakkan di sela percakapan, rapat, dan talkshow seperti di "Lepas Malam". Namun, berbeda dari remasan dan aneka labakan ala Tessy, lelucon gaya Farhan memiliki watak pelecehan yang lebih tersamar, dan tanpa disadari, lebih sugestif. Dan karena itulah, lelucon lebih mampu menyembunyikan ideologi yang dibawanya untuk mendistribusikan imaji perempuan sebagai makhluk yang bodoh dan lemah. Hal itu sesuai dengan penelitian para pakar dalam American Psychoanalyst yang mengatakan bahwa lelucon atau humor lebih banyak menempatkan perempuan sebagai bahan dasar karena humor is a masculine trait, humor selalu berwatak maskulin. Humor selalu "dimiliki" lelaki.

Dengan dasar itu, dapatlah dikatakan humor selalu berhubungan dengan kekuasaan. Atau lebih spesifik lagi, seperti kata Susan Purdie dalam Comedy: The Master of Discourse, humor adalah sebuah alat kontrol pikiran untuk terus melanggengkan ide tentang superioritas lelaki dengan menempatkan inferioritas perempuan sebagai lawakan. Dan tahukah Anda apa akibat "terkecil" dari lelucon semacam itu? Psikolog Kanada Michelle Anderson dalam In the Price We Pay mengatakan bahwa lelaki yang suka mendengar, mengoleksi dan mendistribusikan materi humor seks semacam itu cenderung di dalam kehidupan sehari-harinya akan lebih mengamati tubuh perempuan yang menjadi lawan bicaranya daripada memperhatikan apa yang dikatakan perempuan tersebut. Hmmm....

Jadi Farhan, agar lelucon Anda pro seperti pro-nya iklan yang mensponsori acara Anda, cobalah untuk melucu di "Lepas Malam" tanpa harus meletakkan kebodohan dan kesialan perempuan sebagai bahan lawakan. Karena, meski kadang saya juga tertawa, tetap selalu ada yang terasa nyeri di dalam dada. Tolong, jangan lagi kau ulangi, Farhan!


[Artikel ini telah dimuat di Harian Suara Merdeka, Minggu 24 Juli 2005]