<$BlogRSDURL$>
...tera di sesela gegas-gesa
Sunday, July 10, 2005

[esai] Tamara, Peramal, dan Sampah

"Tamara itu sering melakukan sesuatu dengan terburu-buru. Emosi akan merugikan mereka sendiri. Tapi, jika mereka mau introspeksi, mereka akan tetap dapat bersatu. Jodoh mereka panjang sekali. Tapi, ya seperti tadi, Tamara itu sering terburu-buru..." kata Madam Velly, dengan wajah serius.

Siapakah Madam Velly? Kalau menonton "Insert" Minggu (3/7), Anda pasti tahu siapa wanita muda berkulit putih ini. Ya, betul: dia seorang peramal. Dan komentarnya dalam acara infotainmen itu adalah untuk --seperti kata narator "Insert"-- "mengetahui lebih jelas apa yang sesungguhnya terjadi dalam kehidupan rumah tangga Tamara dan Rafly." Karena itulah, peramal ini dengan ringan berkata, "Ada pria lain ya, dalam kehidupan Tamara. Pria ini tidak selalu berada di sini, lebih sering di luar negeri. Tapi, pria ini juga menjadi salah satu penyebab..."

Kehadiran peramal atau paranormal dalam tayangan infotainmen memang bukan hal yang baru. Setiap akhir tahun, ramalan mereka selalu menjadi buah bibir infotainmen. Mama Laurent adalah peramal yang selalu punya dominasi untuk bersuara. Ia misalnya, pernah meramalkan karier Krisdayanti akan melorot, si A atau si B akan menikah atau bercerai, dan hal-hal tertentu yang harus dilakukan si artis agar kariernya tetap berada di atas. Meski, seingat saya, ramalannya tak pernah tepat, suara Mama Laurent tetap menjadi ikutan dan rujukan infotainmen di akhir tahun. Dan, selama ini, "fungsi" paranormal itu memang hanya ada di akhir tahun, kecuali sebulan terakhir ini.

Kini, infotainmen menempuh cara yang berbeda dalam menghadirkan peramal. Infotainmen tidak lagi merujuk ke paranormal untuk melihat kejadian yang akan datang, melainkan sebagai pengabsahan atas sesuatu yang terjadi. Dan, "strategi" ini dilakukan infotainmen ketika mereka tidak memiliki informasi yang kuat dan layak diberikan sebagai justifikasi atas sebuah kasus yang dialami seorang artis. Dengan menghadirkan paranormal, infotainmen jadi merasa memiliki semacam acuan untuk meneruskan atau membenarkan rumor yang telah beredar, meski seperti watak asali ramalan, semua informasi itu tak lebih seperti sampah.

Contoh paling tepat adalah seperti yang dilakukan "Silet" sewaktu menyilet kasus pernikahan Farhat Abbas dengan Anny Muryadi. Ketika presenter Dona Arsinta tak punya argumentasi yang valid untuk menjelaskan kenapa Farhat sampai menikahi Anny, sosok paranormal kondang Ki Joko Bodo pun dihadirkan. Dengan narasi yang menggiring pemirsa, Ki Joko Bodo pun memberikan penjelasan atas pernikahan itu dengan sangat meyakinkan. "Farhat menikahi Anny untuk kepentingan kariernya," kata Ki Joko. Cukup? Tidak, indikasi itu disertai argumen bahwa Farhat menjalankan suatu laku, yang mensyaratkan dirinya harus menikahi sampai 5 janda agar semua keinginannya tercapai. Nia Daniati adalah janda kedua, lalu Anny Muryadi. "Jadi, masih akan ada lagi yang lain..." terang Ki Joko Bodo, yang disambut dengan Dona Arsinta dengan justifikasi yang lebih tajam, setajam silet!

Nyaris semua infotainmen menempuh cara ini sebagai strategi baru. "Insert" bahkan juga meminta ustadz gaul Jefri al-Bukhori untuk menjelaskan kasus Tamara. Dan ustadz yang murah senyum ini pun dengan yakin berkata, "Jangan berzinah! Perlu hati untuk bicara, bawalah Kakbah ke dalam hati. Menikahlah karena Allah, hanya niat itu yang membuat kita terhindar dari sifat bosan terhadap pasangan."


Kekuatan citra

Bagaimana membaca fenomena di atas? Kenapa infotainmen yang acap memberitakan sesuatu hanya dari rumor atau gosip, yang bahkan bisa diciptakan kalangan infotainmen sendiri, masih butuh mendatangkan peramal atau paranormal? Apa dampaknya kepada penonton?

Yang harus kita sadari setiap kali menonton infotainmen adalah keyakinan bahwa berita itu bukanlah cerminan atau hasil rangkaian realitas kehidupan artis. Mengikuti Schlesinger dalam Putting Reality Together, berita bukan kenyataan yang langsung, melainkan representasi yang terseleksi dan terkonstruksi yang menjadi bagian dan turut membentuk "realitas" baru. Pemilihan kata dan hal-hal yang dimasukkan dalam tayangan dan cara yang digunakan pasti sudah diseleksi, tidak netral, dan dengan demikian selalu merupakan sebuah versi. Yang tampil kemudian adalah bukan hal yang telah terjadi, melainkan sesuatu yang ingin dikatakan oleh sebuah infotainmen, sesuatu yang menjadi keyakinan infotainmen tersebut, kenyataan baru yang senapas dengan kepentingan infotainmen itu. Dan hal itu dilakukan dengan rekayasa kenyataan, menciptakan efek hiperbola informasi, meluaskan praduga-purbasangka. Tamara boleh diam seribu bahasa, tapi infotainmen punya sejuta cara untuk menjelaskan kasusnya. Tak ada yang boleh sepenuhnya misterius dan gelap.

Dalam kerangka kerja "harus ada gosip baru" inilah yang membuat infotainmen melakukan seperti apa yang dikatakan sosiolog Prancis Jean Baudrillard sebagai hiperealitas. Dalam buku In the Shadow of the Silent Majorities, dia mengatakan media telah menciptakan satu kondisi di mana kepalsuan, praduga, rumor, gosip, sas-sus, ramalan, menjadi sebuah kebenaran baru yang lebih diyakini. Kondisi yang membuat penonton tak lagi dapat membedakan kebenaran dan gosip, antara kenyataan dan rekayasa, antara makanan dan sampah!

Kehadiran paranormal tak lebih adalah strategi citra (the strategi of image) untuk menciptakan efek tertentu dari tayangan itu. Strategi citraan adalah sebuah cara untuk menarik massa atau penonton dengan mengedepankan mitos-mitos yang dimiliki seseorang. Jadi, strategi citra tidak mencari efek dari "apa yang dikatakan seseorang", melainkan "siapa yang mengatakannya". Ini juga cara yang biasa ditempuh partai politik dengan memasang artis dalam kampanyenya, dan kini ditempuh infotainmen dengan memasang paranormal.

Dengan mengusung Ki Joko Bodo dan atau Mama Laurent, paranormal dengan citra yang cukup ampuh, infotainmen ingin menanamkan sebuah kesadaran semu kepada para penonton bahwa "yang mengatakan itu bukanlah orang biasa", sehingga ucapannya layak dipercayai.

"Kehadiran" Ki Joko Bodo dalam kasus Farhat-Anny, dan Madam Velly dalam rumor keretakan rumah tangga Tamara-Fafly juga menjadi semacam topeng untuk menutupi informasi yang tidak infotainmen dapatkan. Keyakinan hadirnya orang ketiga dari Madam Velly, dan nasihat dari Jefry al-Bukhori memberi semacam sugesti kepada pemirsa seakan runyamnya rumahtangga Tamara sungguh-sungguh telah terjadi. "Bagaimanapun, kedudukan suami itu lebih tinggi daripada istri," nasihat Jefri.

Kehadiran paranormal juga kian menjelaskan watak ganda infotainmen. Dengan mengambil justifikasi dari peramal, infotainmen ingin menyatakan sesuatu telah terjadi dan atau akan terjadi, dan ingin penonton memercayainya. Tapi, di saat yang bersamaan, infotainmen juga siap lepas tangan jika sesuatu itu tak terjadi. "Paranormal kok dipercaya..." Menopengkan informasi pada paranormal membuat infotainmen kehilangan tanggungajawab atas sahihnya informasi itu. Dalam kaitan inilah, kehadiran paranormal dalam infotainmen tak lebih sebagai pelacur citraan (prostitution of image), citra yang hadir hanya untuk melayani kebenaran sebuah versi. Sebagai pelacur citraan, mereka memberikan kenikmatan berupa sensasi jungkir-balik praduga, rasa kasihan, dan amarah atas sebuah rumor. Yang tampil bukan apa yang ingin kita tonton, melainkan apa yang ingin infotainmen tunjukkan. Dan penonton nyaris tak punya ruang untuk menolak.

[Artikel ini telah dimuat di Harian Suara Merdeka, Minggu 10 Juli 2005]