<$BlogRSDURL$>
...tera di sesela gegas-gesa
Friday, August 11, 2006

Gusti Randa dan Imajinasi Fakta

Ketika fakta dibekap citra penguasa, Gusti Randa memainkan "fiksi" untuk mengungkapkan semuanya.


Begitulah. Untuk kesekian kali, sinetron Selebriti Juga Manusia digugat. Gugatan yang kali ini tidak main-main. Barisan Muda PAN mendatangi TransTV dan menuntut penghentian tayangan sinetron itu. Alasan mereka gampang diduga, sinetron yang mengangkat kisah hidup Gusti Randa-Nia Paramitha dalam episode "Selingkuh, Politik, dan Penjahat Kelamin" itu menghina PAN, terutama mendiskreditkan Ketua Umum Sutrisno Bachir.

Tidak mengagetkan. Sejak tayang pertama, yang mengangkat kisah hidup Cut Memey, Selebriti Juga Manusia memang telah siap menghadapi masalah demikian. Sebelum tayang pun, pihak Indika menyatakan telah siap jika ada pihak yang keberatan. Namun, kesiapan Indika itu bukan berhadapan di pengadilan, melainkan membuatkan sinetron baru jika ada pihak yang keberatan dengan cerita yang ditayangkan. Maka, ketika Jackson Perangin-angin keberatan dengan cerita versi Cut Memey, Indika menawarinya Rp 50 juta, untuk cerita versinya. "Saya tolak. Saya tidak ingin menjelekkan siapa-siapa," ungkap Jackson.

Cerita berdasarkan satu versi memang menjadi kelemahan utama Selebriti Juga Manusia. Selain Jackson, Rhoma Irama, Yuma, dan Ferry juga pihak yang dirugikan oleh cerita yang hanya berdasarkan versi dari mantan istri mereka. Karena satu versi, acap cerita menjadi berbeda jika dibandingkan dengan "kisah" yang sebelumnya marak di infotainmen. Kisah Andara Early misalnya, yang selama ini dalam tiap infotainmen dikabarkan sebagai istri yang tak setia, berselingkuh, dan memiliki anak bukan dari benih suaminya, menunjukkan "fakta" berbeda. Ternyata, perselingkuhannya adalah wujud balas dendam dari perselingkuhan yang telah terlebih dahulu dilakukan suaminya, Ferry. "Itu kan Fitnah!" geram Ferry, yang urung melapor ke polisi, untuk menghindari masalah lagi. Angel Lelga menampilkan "fakta" yang lebih terang. Jika dalam infotainmen Angel adalah pihak yang diceraikan Rhoma, sehingga si cantik itu pingsan, dalam Selebriti Juga Manusia berlaku sebaliknya. Angel-lah yang memaksa Rhoma untuk menceraikannya, demi kebaikan semua orang. Dan karena paksaan Angel itulah, Rhoma sampai masuk rumah sakit karena tiba-tiba dadanya mengalami nyeri hebat.


Anomali Fiksi

Keberbedaan cerita dalam Selebriti Juga Manusia memang mengayakan pemirsa. Lepas apakah kisah itu benar nyata atau tidak, penonton mendapatkan perspektif yang berbeda. Ada hal-hal yang semula tidak dibayangkan, dan seolah telah finis diungkap infotainmen, tampil dan menjadi unsur penting. Ini karena, Selebriti Juga Manusia akhirnya memang menjadi medium bagi para artis untuk "membersihkan" dirinya dari segala kabur-kabar infotainmen. Karena itu, meski bukan hal yang mengagetkan, Ria Irawan lebih menceritakan derita batinnya ketika berumahtangga dengan Yuma. Dan derita batin, adalah "situasi" personal yang bisa lepas dari jerat kategori fakta dan fiksi. Ria Irawan seakan menegaskan bahwa, "Sesuatu yang aku alami, deritaku ini..." adalah fakta baginya, sungguh terjadi, tapi bisa menjadi fiksi, sesuatu yang khayali, di mata orang lain. Ria lebih menampilkan rasa sebagai fakta, sesuatu yang subjektif, dan karena itu, kisahnya menjadi pembersihan diri yang lebih dapat diterima.

Berbeda dari Ria, Angel Lelga, Cut Memey, Andara Early, dan yang lainnya, lebih menampilkan fakta-fakta kasuistik, sesuatu yang kebenarannya dapat diperdebatkan. Karena itu, sebagai medium pembersihan diri, sinetron mereka tidak terlalu berbunyi, tak mampu menggugah simpati. Dan barangkali, inilah yang tidak diinginkan Gusti Randa. Ia tidak mengikuti cara tutur Angel Lelga atau Andhara, melainkan memodifikasi gaya Ria, dan memberi kejutan dengan menambahkan kehadiran Nia Paramitha. Gusti tidak hanya menawarkan "derita subjektifnya" tapi juga memberikan cerita yang "kebenarannya" disetujui pihak yang bersengketa dengannya, Nia Paramitha.

Di kepala penonton, kasus perceraian Gusti-Nia pasti masih terpatri. Di infotainmen, terungkap jelas dua versi sebab perceraian itu. Versi Gusti, Nia berselingkuh, hamil, dan digugurkan tanpa persetujuannya. Selingkuhan Nia adalah Mr X dan Mr Y, dua lelaki yang punya posisi tinggi di partai Z. Infotainmen menjelaskan kasus Gusti dengan memberi sosok pada Mr X sebagai Sutrisno Bachir, dan Mr Y dengan Andi Harun, serta partai Z dengan PAN. Gusti tidak mengiyakan, tapi tidak membantah. "Nanti akan terungkap semua di persidangan," katanya. Versi Nia adalah bantahan dari semua itu. Dia tidak berselingkuh. Kehamilan itu adalah buah persetubuhannya dengan Gusti. Dan dia tidak melindungi siapa pun. Dua-duanya kukuh dengan versi masing-masing. Tapi Gusti punya banyak bukti, juga saksi, bahkan dari orang-orang terdekat Nia sendiri. Mereka bercerai. Tapi, bagi Gusti, bukan perselingkuhan itu yang membuat dia menjatuhkan talak, melainkan karena, ".. Mitha telah berubah. Dia tidak lagi lagi membela kepentingan keluarga dan anak-anak. Dia lebih memilih menjadi pembela orang lain. Sebagai lelaki, sebagai suami, sebagai seorang ayah, habis saya. Habis..." katanya sembari mengembuskan asap rokok.

Itu cerita di "sinetron" infotainmen. Di Selebriti Juga Manusia justru terjadi pembalikan yang luar biasa. Jika versi infotainmen seluruh persangkaan terhadap Mr X dan Mr Y masih mendapat pembelaan dengan penyangkalan Nia Paramitha, dalam versi sinetron, Nia mengamininya. Dalam ""Selingkuh, Politik, dan Penjahat Kelamin" Nia yang menjadi Mia memainkan skenario yang "dulunya" adalah versi Gusti, yang dia bantah kebenarannya. Semua karakter jelas mengarah pada seluruh jalinan cerita yang terungkap di infotainmen, hanya nama saja yang diubah, Gusti jadi Gustaf, Mr X jadi Sutrisno Bahar dan PAN jadi PAM. Apakah dengan ikut berperan dalam sinetron itu berarti Nia membenarkan seluruh cerita berdasarkan versi Gusti? Tak ada jawaban pasti. Dalam "Expresso Prime Time" Rabu malam pun (9/8) Nia lebih banyak diam, dan, semoga pandangan mata saya salah, dia tampak tertekan. Berbeda dengan Gusti yang tetap tenang, dan cerdas memberikan jawaban-jawaban. Dan kepada wartawan, inilah jawaban Gusti, "Dia tertarik memerankan diri sendiri. Jadi, saya tidak mencari figur lain. Alasannya, dia juga ingin merehabilitasi kasus kemarin terhadap saya."

Jadi, sangat-sangat dapat dimengerti jika sampai Barisan Muda PAN marah atas tayangan itu. Apalagi, sebelum ini Nia diberitakan sebagai kader PAN yang cukup membantu partai dalam kapasitasnya sebagai artis. Jadi jika sampai dia berubah sikap, tentu.... Imajinasi penonton pun bergerak, berkelindan.


Imajinasi Publik


Ya, imajinasi publik. Menyaksikan episode "Selingkuh, Politik, dan Penjahat Kelamin" imajinasi publik dipaksa untuk bergerak liar, merangkai cerita, membentuk sebuah sketsa utuh dari seluruh cerita heboh perceraian Gusti-Nia. Dan pergerakan imajinasi publik inilah yang ditakuti Barisan Muda PAN.

Secara sederhana, imajinasi publik tersusun dari imajinasi personal yang memilik satu pandangan yang sama atas sebuah peristiwa. Dalam politik, muncul kesadaran baru bahwa kekuatan massa yang didasarkan pada mobilitas massalnya ternyata lebih digerakkan oleh kekuatan imaji komunal tersebut. Imajinasi komunal inilah yang kemudian menjadi pegangan tiap individu untuk memasuki dan mengalami realitas kehidupan. Secara politik juga, menguasai imajinasi publik berarti mendapatkan kekuatan atau kekuasaan atas publik. Karena itulah pembentukan imajinasi publik ini menjadi vital, dan media adalah mesin utama pembentuk imaji tersebut. Sekali sudah terbentuk, imajinasi publik ini akan dapat dimanfaatkan oleh orang atau kelompok tertentu untuk mendapatkan pengaruh atau mengindoktrinasi orang lain, menjadi sebuah imaji politis, yang identik dengan kekuasaan atas massa.

Tanpa disadari, imajinasi publik itu juga yang tengah berproses atas kasus perceraian Gusti-Mia, dan terlebih atas bersatunya mereka dalam sinetron di atas. Senaif apa pun pihak Indika mengatakan bahwa cerita itu hanya diilhami, dan mungkin bagian kecil saja yang merupakan fakta, imajinasi penonton tak lagi dapat dibendung. Apalagi, ini juga tanpa disadari, pengaburan nama-nama tokoh kian memberi energi pada imajinasi publik tersebut. Tak terbantahkan, dalam benak penonton PAM pasti terbaca PAN, Mia disamakan dengan Nia, dan Gustaf adalah Gusti. Jika pun yang memerankan tokoh itu bukan Nia dan Gusti, rangkaian imajinasi penonton akan tetap menisbatkan hal itu. Dan itulah yang terjadi pada Sutrisno Bahar. Berbeda dari Gustaf dan Mia, karakter ini tidak diperankan oleh sosok asli Sutrisno Bachir. Tapi, imajinasi siapa yang dapat mengatakan bahwa Bahar itu bukan personifikasi dari Bachir?

Di situlah dapat dilihat betapa "hebatnya" sinetron Gusti ini. Dia bukan saja menciptakan semesta ruang imajinasi penonton dengan kejutan pada seluruh cerita yang sama persis, dan sosok Nia yang hadir, melainkan juga menuntun ke arah mana imajinasi itu. "Untuk pihak yang berseberangan, dengan bersatunya kami adalah sebuah pukulan," ucapnya. Penonton tahu, siapa pihak yang berseberangan yang dia maksudkan itu. Apakah cukup? Belum, Gusti kian menggiring imajinasi tersebut, "Bagi saya, yang penting Mitha kembali. Minimal dia sudah menemukan kesadaran dan kembali ke jalan yang benar. Buat saya, yang kemarin itu bukan sikap Mitha sesungguhnya. Dia telah mengatakan kepada saya, telah melakukan hal terbodoh di dalam hidupnya."

Mitha telah sadar, dan kembali ke jalan yang benar. Sinetron itu telah menunjukkannya. Dan Gusti, dengan kecerdikannya, berhasil menggiring imajinasi publik untuk tahu seperti apa epos perkawinannya, justru ketika fakta yang dia ungkap diragukan kebenarannya. Gusti tahu bagaimana memanfaatkan media, untuk melawan kekuatan kuasa dan massa. Dia memberi "fiksi" yang mengubah dan menambah kuat semua fakta-fakta yang telah dia sodorkan, dia rangkul Nia sebagai picu utama. Dan yang istimewa, dia giring imajinasi penonton untuk dapat melihat hal-hal yang selama ini tersembunyi, kebenaran yang tak mendapat gema. Kini, Gusti melenggang....


[Artikel ini telah dimuat di Harian Suara Merdeka, Minggu 13 Agustus 2006]