...tera di sesela gegas-gesa
Monday, May 12, 2008

Tawa untuk Logika Janda

Susah sungguh bergelar janda, jadi rebutan dan caci-maki para tetangga


"Takut... takut... takut... Sama istri sendiri kok malah takuuuutttt.... Ciut.. ciut... ciut... Sama istri sendiri nyalinya ciuuuuuttttt...." Anda pasti akrab dengan potongan lagu di atas. Ya, itulah lagu yang menjadi pembuka tayangan sitkom "Suami-suami Takut Istri" setiap sore di TransTV. Dari lagu tersebut sudah jelas arah cerita komedi itu, tentang suami yang tak berdaya di depan istri.

Sitkom yang diproduseri Anjasmara dan disutradarai Sofyan de Surza itu memang populer. Selain cukup bagus dari sisi cerita, kekuatan karakter tokoh menjadi daya tarik utama, terutama karena bumbu kontradiksi di dalamnya. Tigor (Yanda Djaitov) yang berbadan binaraga misalnya, justru takluk sama istrinya, Welas (Asri Pramawati), yang lembut dan kurus. Lucu, apalagi jika mengaitkan kesukuan mereka, Tigor yang Batak dan Welas yang Jawa. Atau keluarga satu suku, Faisal (Ramdan Setia) dan Deswita (Melvy Noviza). Matrenalisme suku Padang diwujudkan secara ekstrim dalam ketaklukan suami dalam hal apa pun. Sesuatu yang hiperbolis, sebenarnya. Tapi, tanpa yang hiperbolis, komedi tentu akan kehilangan suara.

Konflik dalam sitkom ini tergolong biasa, khas permasalahan rumah tangga. Namun karena faktor ketertundukan suami, penyelesaian konflik tadi acap mengundang tawa. Apalagi, dikontraskan dengan kehadiran Dadang (Epy Kusnandar), satpam yang beristri tiga, dan satu-satunya lelaki yang tak takluk pada istrinya. Tak heran kalau akhirnya terjadi "ikatan" persamaan nasib di antara para suami itu. Pak RT (Otis Pamutih), Faisal, Tigor, dan Karyo (Irvan Penyok), jadi terbiasa ngudarasa, curhat, atau berbagi taktik mengelabui istri, meski selalu gagal. Namun, selain karena takut pada istri, ikatan sesama suami ini juga terjalin karena alasan yang sama, ketertarikan pada seorang janda. Pretty (Desy Novitasari) namanya. Bahkan, konflik akibat kejandaan Pretty nyaris menjadi menu utama sitkom ini.


Janda Omnivora

Pretty memang cantik. Kakinya panjang, dengan dada yang padat, dan acap berbusana terbuka, menantang. Bibirnya tipis, dan kalau bicara, mendesis-desis. Matanya pun bagus, terutama kalau berkedip-kedip ketika bicara. Kehadirannya menjadi magnit di komplek itu, bukan saja membuat para suami jadi punya kesamaan idola, melainkan juga menjadikan para istri punya musuh bersama. Pretty yang cantik, dan terutama janda, membuat para istri memandang dalam syak-wasangka. Karena tampaknya, sebagai kompensasi ketakutan pada istri, para suami jadi memiliki keberanian untuk menggoda sang janda.

Pretty bukan tidak menyadari ketertarikan para suami pada tubuhnya, dan kemarahan para istri akan kehadirannya. Tapi, bukannya menjaga diri, Pretty justru berlaku "jinak-jinak merpati". Akibatnya, para suami acap tertangkap basah tengah menggodanya, membantunya, atau terkunci di dalam rumahnya. Hanya Dadang yang tak begitu "memandang" Pretty. Satpam ini cuma bisa "goyang" oleh uang.

Sitkom ini memang melakukan mitos penguatan pada stigma janda. Pretty tampil dalam imaji janda yang memang bertugas menggoda. Dia memberi angin pada harapan para suami lewat lirikan, ajakan jari telunjuk, senyum, dan busana. Pretty mempersepsikan sebagai janda yang mau dan "bisa" digoda. Bahkan, ayah Tigor, Togar (Dorman Borisman) yang berkunjung, langsung melihat sinyal "kebisaan" Pretty. Dia berusaha mencuri kesempatan, namun ternyata, sama seperti anaknya, Batak tua ini pun takut pada istrinya. Hahaha...

Karena hadir dalam streotif "bisa" digoda, para istri pun memosisikan Pretty dalam stigma janda pada umumnya. Bu RT (Aty Fathiyah) terutama, sangat percaya bahwa Pretty selalu menginginkan suaminya. Meski hal itu dibantah anaknya, Sarmilila (Marissa), "Nyak, kenape sih selalu nyalahin Tante Pretty? Nggak mungkin juga Tante Pretty mau sama Babe." Tapi, bagi Bu RT, yang mewakili stigma umum itu, janda adalah omnivora, pemakan segala, tak punya kelas selera. Pria apa pun, jelek atau binaraga, lembut atau tak bekerja, akan dimamahnya.

"Suami-suami Takut Istri" tidak berusaha melakukan redefenisi pada stigma janda itu. Dalam satu seri, Pretty bahkan digambarkan begitu hausnya pada lelaki, dan berusaha menjebak Garry (Ady Irwandi), satu-satunya lajang di perumahan itu. Namun Garry menolak. Ia pun distigmakan sebagai lelaki yang lugu, yang tanpa pretensi apa pun, senang membantu. Kehadiran Garry sebagai lajang polos kian menegaskan keomnivoraan Pretty. Belum lagi posisi Dadang sebagai satpam, yang lebih banyak menjadi mata para istri, dengan imbalan uang, untuk mengawasi Pretty. Dadang hadir lebih sebagai personifikasi negara, menjadi pengawas akan status warganya.


Logika Janda

Sitkom "Suami-suami Takut Istri" adalah cermin stigmatisasi janda yang masih berlangsung dan diterima oleh warga. Keberterimaan itu dapat dilihat dari kehadiran Pretty yang tidak mendapat resistensi dari penonton. Artinya, sosok Pretty dilihat dan dinikmati bukan sebagai karakter yang terberi melainkan watak asali. Konflik dan kecemburuan karena Pretty dinikmati sebagai kewajaran dan bukan pengada-adaan. Akibatnya, jalinan cerita menjadi benar dalam "logika" janda.

Janda, "perempuan yang pernah menikmati seks", dipersepsikan sebagai ancaman rumah tangga. Karena pernah menikmati seks, janda dipercayai akan mencari lagi kenikmatan itu dengan cara apa pun. Logika inilah yang membuat, jika pun terjadi hubungan seks antara seorang lelaki dan janda, perempuan itu menjadi "tersangka" dan lelaki sebagai "korban". Anggapan yang sangat kejam, yang celakanya, justru mendapat afirmasi dari negara.

Negara "mengakui" stigmatisasi janda sebagai "ancaman" pada moralitas dan rumah tangga. Maka perempuan yang "pernah menikmati seks secara sah" itu perlu terus dilabeli. Labelisasi itu dilakukan negara lewat penyebutan di dalam KTP. Dengan pelabelan itu, seorang wanita didudukkan dalam sebuah akuarium besar, sehinnga khalayak dapat mengetahui statusnya. Dengan pelabelan itu, negara mengatakan bahwa "perempuan ini pernah menikmati seks secara resmi", dan warga harus hati-hati padanya. Label status yang menjadi "penjara" bagi si perempuan, agar dia terus tersadarkan tentang statusnya, dan menjaga sikap moralnya di depan warga.

Ironinya, pelabelan itu hanya menjerat perempuan yang pernah menikmati seks secara resmi alias menikah. Sedangkan perempuan yang pernah menikmati seks --tanpa harus menikah-- tidak masuk dalam labelisasi ini. Artinya, bui labelisasi itu justru diberikan pada perempuan yang mengikuti moralitas umum --mereka pernah menikah-- dan bukan mereka yang melawan moralitas umum --ngeseks tanpa menikah. Tanpa sadar, negara dan warga justru mengawasi perempuan yang "mengakui dan mengikuti" moralitas umum. Aneh kan?

Mengapa negara dan warga menghidupi terus stigma janda itu? Sebabnya satu, seks masih masuk ke wilayah tabu. Sebagai sesuatu yang tabu, seks hadir dan meluas secara tersembunyi, dan hidup dalam imajinasi banyak orang. Dan janda, --perempuan yang pernah menikmati seks-- adalah sebuah "wilayah kosong" yang memantik imajinasi. "Wilayah yang tak lagi tergarap" itu memancing imajinasi banyak perempuan dan lelaki, apalagi jika dia secantik dan seseksi Pretty. Karena itu, "Suami-suami Takut Istri" adalah cermin kebobrokan moral dan kesesatan pikir masyarakat ini. Kita menikmati, menertawai. Menggelikan sekali!


*)Thanks untuk Cahaya atas ide dasar tulisan ini

[Artikel ini telah dimuat di Harian Suara Merdeka, Minggu 11 Mei 2008]

( t.i.l.i.k ! )

     

Monday, May 05, 2008

Gosip Tamara dan Socrates

Untuk pemamah gosip, Socrates punya nasihat


"Selama dua tahun ini saya terus difitnah, dihina, dan bahkan semua itu sudah terlewat keji sehingga menyebabkan marah saya sudah sampai puncaknya. Saya benar-benar marah, dan mohon maaf atas kemarahan itu. Saya ini manusia biasa...." ujar Tamara, pelan.

Dalam jumpa pers di La Citra Cafe, Pondok Indah, Jakarta Selatan itu, Tamara hanya berbicara pendek. Itu pun terbata-bata, tertahan amarah. Selebihnya, keterangan diberikan oleh pengacaranya, Muhajir Sodruddin. Intinya, Tamara membantah gosip bahwa dia tengah hamil. Dia juga percaya, semua gosip atau fitnah yang menimpanya selama ini, bukan atas campur tangan Rafly, mantan suaminya. Dan karena berada di batas sabar, Tamara akan menempuh langkah hukum untuk setiap gosip atau fitnah yang ditujukan padanya. "Bila ada unsur-unsur tindak pidana, kami akan tempuh jalur hukum. Terutama kalau tahu siapa yang menyebar fitnah," tandas Muhajir.

Tamara Natalia Christina Mayawati Bleszynski memang berkali-kali tertepa gosip tak sedap, bahkan mengerikan. Dia pun acap menebarkan ancaman untuk memidanakan penyebar gosip tersebut. Tapi, seperti jumpa pers yang tayang di "Insert" tahun lalu itu, syarat "Terutama kalau tahu siapa yang menyebarkan fitnah" tak pernah mampu Tamara dapatkan. Pemidanaan tak pernah jadi kenyataan. Bahkan, atas "gosip" dia telah berhubungan intim dengan Mike Lewis pun, Tamara akhirnya cuma menangis.

Kini gosip yang lebih seru menderanya. Tamara diringkus polisi karena tertangkap tengah nyabu di Apartemen ITC Permata Hijau, Jakarta Selatan, Kamis (17/4), dini hari. Kabar itu bermula dari sebuah SMS yang kemudian menyebar ke seluruh pekerja infotainmen dan wartawan hiburan. Beberapa tayangan infotainmen memberitakan gosip itu. Tapi konfirmasi atau gambar penangkapan, tidak pernah dapat ditunjukkan. Bahkan keberadaan Tamara pun tak diketahui pasti, antara di Jakarta dan Malaysia. Tapi, gosip itu makin kencang berhembus karena Kanit II Narkoba Mabes Polri Kombes Pol Drs Siswandi mengatakan, "Belum, belum diperiksa." Entah siapa yang belum diperiksa.

Gosip itu kemudian tak dapat dibuktikan "kebenarannya" oleh infotainmen. Tapi, bukan berarti selesai. Gosip baru muncul, Tamara tak dijerat pidana dalam kasus nyabu itu karena membayar Rp 6 miliar kepada polisi. Tak ada konfirmasi atau bantahan dari Tamara, cuma ibunya, Farida Gasic, yang bersuara. "Enam miliar darimana? Emang penghasilannya sampai segitu?"

*******


Gosip. Fitnah. Hal-hal semacam itulah yang berseliweran di televisi. Kabar yang bisa menjadi "headline" infotainmen, meski tak diketahui sumbernya, dan tak pernah ada peristiwanya, seperti "kasus" Tamara itu. Hebatnya, kabar semacam ini bisa muncul berhari-hari, dan tetap tanpa penjelasan yang berarti. Gosip Tyas Mirasih hamil bisa tayang sampai dua minggu, dan selama itu, tak ada kejelasan apa pun, selain gambar yang berputar seputar perut Tyas. Lalu Laudya Cintya Bella, juga dikabarkan hamil, karena tertangkap kamera tengah bersama Panji, memasuki klinik di Jakarta. Kabar ini membuat Bella "bingung", dan Panji memberi klarifikasi. Dan, seperti angin, gosip itu pun berhembus...

Ketidakjelasan gosip semacam itu, dan kegairahan infotainmen terus memberitakan, menimbulkan banyak pertanyaan, bahkan bagi artis sendiri. Ayu Azhari misalnya, berani menduga, gosip-gosip semacam itu adalah rekayasa infotainmen. Ayu secara jelas mengakui banyak infotainmen yang menawarkan diri untuk "mengelola" gosip pada artis tertentu, agar namanya dapat lagi naik atau diingat penonton. "Saya juga pernah mendapatkan tawaran semacam itu. Tapi untuk apa?" jelas Ayu.

Pengakuan Ayu itu mengejutkan. Sebab, selama ini beredar "gosip" di berbagai milis bahwa infotainmen memang dapat dipesan untuk "mengangkat" nama artis yang mulai tenggelam. Bahkan ditengarai, acara ulangtahun, bagi-bagi bingkisan ke tetangga sekitar rumah, yang selalu tayang dari artis "Gelas-gelas Kaca" adalah hasil "main-mata" pada infotainmen tertentu. Pengakuan dan penjelasan Ayu Azhari menegarkan kebenaran "gosip" itu.

Jadi, berangkat dari pengakuan Ayu, jika sumber kabar itu tidak jelas, datang dari artis yang namanya mulai jarang tayang di layar teve, dan kabar itu cukup mengundang sensasi, dapat dipastikan merupakan pekerjaan dari "the invisible hands", yang menangguk sejumlah bayaran. Tujuannya jelas, membuat objek gosip, si artis, namanya kembali diperbincangkan dan atau mendapat simpati publik. Gosip hubungan asmara Agnes Monika dan Dirly Idol misalnya, ternyata adalah "permainan terencana" sebagai pengantar sinetron mereka Jelita. Begitu sinetron tayang, gosip itu pun hilang, dan Dirly nampang dengan kekasih yang "asli". Di situ terjadi kerjasama yang matang antara stasiun teve yang akan menayangkan sinetron tersebut, dan infotainmen yang diproduksi teve itu sendiri. Sungguh rekayasa yang menyakiti penonton televisi.

*********


Gosip, fitnah, bagi penonton teve memang sudah diterima sebagai hal yang biasa. Setiap hari, selalu ada gosip baru dari aktris baru atau lama, yang indah atau keji. Dan karena bernama gosip, infotainmen tak ada beban untuk menayangkannya, bahkan mengulangnya. Sebagai kabar angin, psikologi pembuat dan penikmat seakan berada dalam kata sepakat, nanti akan hilang sendiri, lenyap.

Memang benar, gosip akan hilang sendiri. Ingatan penonton --bahkan sebagian besar masyarakat Indonesia-- memang pendek, terutama karena informasi yang mengepung dan menderas tanpa henti. Tapi, kekuatan --dan juga kejahatan-- gosip bukan pada kemampuannya untuk tinggal dalam kepala penonton, melainkan mengubah persepsi pemirsa di dalam memandang dan atau menganalisa sebuah peristiwa. Jalinan gosip yang kronologis, --Tamara diisukan nyabu, tertangkap, bebas karena nyuap, mengundang Roy Suryo untuk meneliti siapa penyebar SMS, ada rekayasa untuk memburukkan namanya sebagai sarana penghilangan haknya mengasuh Rasya-- membuat penonton berada dalam "ambang nanti" yang tak berkesudahan. Sesudah ini, pasti itu, pasti begini, lalu, dan, akhirnya, ternyata....

Jalinan "kronos" itu menimbulkan efek haus, dahaga, akan duga dan syak-wasangka. Pada akhirnya, gosip mengubah paradigma berpikir penonton yang selalu "melampaui" peristiwa. Yang terjadi adalah "B", tapi benak pemirsa sudah mengelola praduga dari "A" sampai "C" dan "E". Paradigma ini membuat substasi, isi, jadi sesuatu yang tak penting lagi. Yang utama adalah memenuhi rasa haus itu. Dan pemenuhan itu, tanpa disadari, adalah hasil "kreasi" sendiri, imajinasi yang dipanjang-panjangkan, lalu dibenarkan. Gosip memaksa pemirsa melakukan masturbasi pikiran. Dan di ujung dampak semua itu, gosip membuat rasa curiga tumbuh dengan demikian suburnya. Karena rasa curiga telah menjadi bagian dari kenikmatan.

*******


Berabad lalu, filsuf Yunani Socrates sudah mewanti-wanti akan dampak gosip. Meski pada akhirnya bersedia menjadi tumbal dari "gosip", Socrates memberikan cara menangkal gosip. Dia menyebutnya "Saringan Tiga Kali". Saringan itu merupakan metode yang selalu Socrates lakukan untuk menyaring mana kabar yang dia butuhkan mana yang harus dia buang.

Suatu pagi, seorang pria mendatangi Socrates, dan dia berkata, "Tahukah Anda apa yang baru saja saya dengar mengenai salah seorang teman Anda?"

"Tunggu sebentar," jawab Cocrates. "Sebelum memberitahukan saya sesuatu, saya ingin Anda melewati sebuah ujian kecil. ujian tersebut dinamakan saringan tiga kali."

"Saringan tiga kali?" tanya pria tersebut.

"Betul," lanjut Socrates. "sebelum Anda mengatakan kepada saya mengenai teman saya, mungkin merupakan ide yang bagus untuk menyediakan waktu sejenak dan menyaring apa yang akan Anda katakan. Itulah kenapa saya sebut sebagai saringan tiga kali.

"Saringan yang pertama adalah kebenaran. Sudah pastikah Anda bahwa apa yang Anda akan katakan kepada saya adalah kepastian kebenaran?"

"Tidak," kata pria tersebut, "Sesungguhnya saya baru saja mendengarnya dan ingin memberitahukannya kepada Anda".
"Baiklah," kata Socrates. "Jadi Anda sungguh tidak tahu apakah hal itu benar atau tidak.

"Sekarang mari kita coba saringan kedua yaitu kebaikan. Apakah yang akan Anda katakan kepada saya mengenai teman saya adalah sesuatu yang baik?"

"Tidak, sebaliknya, mengenai hal yang buruk".

"Jadi," lanjut Socrates, "Anda ingin mengatakan kepada saya sesuatu yang buruk mengenai dia, tetapi Anda tidak yakin kalau itu benar. Hmmm...

"Oke, oke, Anda mungkin masih bisa lulus ujian selanjutnya, yaitu kegunaan. Apakah yang Anda ingin beritahukan kepada saya tentang teman saya tersebut akan berguna buat saya?"

"Tidak, sungguh tidak," jawab pria tersebut.

"Kalau begitu," simpul Socrates, "Jika apa yang Anda ingin beritahukan kepada saya... tidak benar, tidak juga baik, bahkan tidak berguna sama sekali, kenapa Anda ingin menceritakan kepada saya?!"

Teman Socrates itu pun ngacir, pergi.

Di tengah gosip yang menderas sampai ke ruang keluarga, suara Socrates barangkali harus sering digemakan lagi, sebagai tambat agar akal sehat, nalar, tetap berdiam di kepala banyak orang. Supaya penonton tidak menikmati infotainmen seperti orang yang tersesat di tengah padang, kehausan....

[Artikel ini sudah dimuat di Harian Suara Merdeka, Minggu 4 Mei 2008]

( t.i.l.i.k ! )

     

Monday, April 28, 2008

Cara Terhormat Melawan Dewi

Bagi Dewi Persik, panggung bukanlah ajang pamer suara, melainkan olah-senggama. Orgasme tujuannya.


Wajah Dewi Persik memerah. Duduk di samping Hj Endah Murnalita, penasihat hukumnya, dia tak dapat lagi menahan marah. "Kata-kata Dewi Persik telah merusak moral, itu yang saya tidak bisa terima," ketusnya seperti terlihat di "Selebrita" Global TV (23/4). "Saya sedih karena semua ini dibuat untuk kepentingan politik!" tambahnya.

Dewi memang tengah gundah. Walikota Tangerang, Wahidin Halim, melarang dia bergoyang. Walikota Bandung, Dada Rosana, juga melakukan hal yang sama. "Coba saja dia minta izin, pasti tidak saya izinkan. Kecuali dia mau mengubah goyangan dan penampilannya," ucap Dada. Namun Dewi dan penasihat hukumnya yakin, larangan itu hanya upaya untuk menarik simpati warga. Kedua walikota itu ternyata tengah bersiap ikut pilkada, dan mencalonkan diri untuk kali kedua.

"Memang kami tidak ingin ini jadi politis. Makanya, kamu tidak mau menanggapi lagi. Tujuannya pilkada," terang Murnalita.

Dada Rosada jelas membantah motif politik itu. "Saya cuma memenuhi permintaan warga," katanya sebagaimana ramai dikutip media.

Warga, masyarakat, memang acap dijadikan alat atau alasan untuk bertindak. Forum Pembela Islam pun, atas nama keresahan umat, membakar kaset dan CD Dewi Persik. Forum itu bahkan siap membubarkan panggung Dewi jika mantan istri Saipul Jamil itu tak juga mau berubah. Tapi, apakah yang dimaksud dengan warga, masyarakat atau umat, sebenarnya?


Ubah Persepsi

Goyang Dewi Persik memang sensual. Bahkan dalam beberapa penampilan, seperti yang acap ditunjukkan ragam infotainmen, sangat erotis. Dewi tak cukup hanya menggoyangkan pinggul seperti Nita Thalia, atau memutar pantat seperti Inul, tapi menggelepar-gelepar di panggung, kadang bergaya seolah bersanggama. Eskpresinya pun bukan seperti orang yang tengah bernyanyi, melainkan raut yang sedang bercinta. Bagi Dewi, panggung adalah arena dia untuk berolahasmara, dan dia selalu memperoleh orgasme karenanya. Yang ditampilkan Dewi pada intinya bukanlah pertunjukan suara tapi olah kamasutra. Karena itulah, tak terdengar suara yang mendukung Dewi ketika terjadi pelarangan dan pencekalan di Bandung dan Tangerang, atau pembakaran oleh Forum Umat Islam. Warga, umat, masyarakat, seperti berada di seberang dirinya. Dalam hal inilah, Dewi berbeda dari Inul.

Inul juga pernah seperti Dewi, dilarang dan dikecam, bahkan oleh pemilik "otoritas" Dangdut, Rhoma Irama. Tapi apa yang terjadi kemudian, Inul justru tak pernah merasa sendirian. Selalu ada bagian dari warga, umat, atau masyarakat, yang berdiri di sisinya, membelanya. Sebabnya, Inul bertindak lebih cerdas daripada Dewi.

Ketika larangan dan kecaman datang, Inul tidak mencoba melawan sendirian. Dia minta bantuan dan sowan ke berbagai banyak orang. Inul tahu, "fatwa" Rhoma bukanlah kebenaran satu-satunya. Dia ke Gus Dur, dan teryakinkah untuk tak boleh mundur. Inul memberi "agenda" bahwa yang dia perjuangkan bukanlah soal goyangan semata, melainkan haknya sebagai seorang wanita untuk mencari makan. Inul mengubah persepsi larangan itu jadi pencekalan atas keinginannya untuk menjadi tulang punggung keluarga, hak anak untuk membuat orangtuanya bahagia. "Saya hanya mencari makan dengan bergoyang. Apakah saya salah?" tanyanya.

Publik pun terbelah. Sebagian bahkan jadi berubah arah, mencoba memaklumi. Apalagi, media pun menaruh simpati pada istri Adam Suseno ini, dan memblow-up hal itu menjadi isu feminisme. Dangdut bahkan mendapat gugatan, moralitas, juga agama. Emha Ainun Najib sampai menulis "Pantat Inul adalah Wajah Kita Semua", dan KH Musthofa Bisri pun menjadikan Inul sebagai tema lukisan. Inul menjadi "gelombang" justru karena dia bisa mengajak orang untuk berpikir bahwa apa yang dia perjuangkan bukan semata soal goyang.

Dewi Persik tak mampu mengubah itu. Dewi terlalu angkuh untuk meminta bantuan dan melawan sendirian. Dia bahkan menantang, melawan, tanpa meminjam mulut orang. Dewi jadi terkesan arogan. Dewi tak mencitrakan diri sebagai sosok yang lemah dan terhina. Dan karena itulah, pembelaan pun tak datang dari "ibu semua artis", Titiek Puspa.

Secara sadar, Dewi Persik justru mencitrakan diri sebagai perempuan yang bebas menjual sensualitas. "Siapa yang tidak mau? Sudah enak, dapat duit lagi," katanya, ketika ditanya mengapa mau beradegan intim dalam film Tali Pocong Perawan. Dewi membuat orang tahu, bahwa sensualitas, goyangan syawat dan mimik orgasme itu, adalah pilihan sadarnya untuk mencari uang. Dewi melakukannya dengan riang.

Inul sebaliknya, mencitrakan diri sebagai perempuan yang terpaksa. "Hanya bernyanyi itu yang aku bisa," katanya dulu. Inul membuat orang berpikir bahwa dia, dengan latar belakang religiusitas keluarga, pun tak bangga menjual goyangannya. Untuk orang yang terpaksa, warga, masyarakat, umat, pasti gampang memberi maaf.


Uji Pasar

Dewi memang secara sadar menjual sensualitas goyangnya. Dia memang tak perlu dibela, dan tentu, tak usah juga dicekal atau dilarang. Pelarangan, pencekalan, atau pembubaran dan pembakaran, bagaimanapun adalah wujud dari sikap yang tidak dewasa. Dewi seharusnya dibiarkan saja. Masyarakat, warga, atau umat, harus terbiasa untuk terbuka pada perbedaan, keanekaragaman. Goyangan Dewi Persik bahkan penting untuk membuat beda antara mutiara dan sampah.

Dewi Persik adalah produk yang lahir dari mekanisme pasar. Dia tumbuh dan berkembang --lihatlah modifikasi goyang Dewi-- karena memenuhi hukum permintaan. Harus diakui, di luar umat atau warga yang menentang, ada juga warga dan umat yang lain justru memuja Dewi. Sebagian warga, umat, atau penonton, yang tidak suka harus bisa melihat Dewi bukan "bagian dari kita", bukan milik "kita", melainkan produk dan hak warga yang lain. Dan sangat tidak benar, apa pun alasannya, untuk melarang, atau menghakimi, sesuatu yang bukan menjadi bagian dari milik sendiri. Sebagai bagian dari "mereka", Dewi bebas melakukan hak-haknya. Dengan cara itulah warga jadi dewasa, menghargai heterogenitasnya.

Lalu pemerintah? Pemerintah harus berada di antara warga. Pemerintah atau pemda, harus menjamin warga menikmati kesetujuan dan ketidaksetujuannya, dan tidak menjadi "beking" salah satu di antaranya. Negara harus menjadi wasit, agar tidak terjadi pemaksaan selera dari satu warga kepada warga lainnya. Negara harus berdiri di tengah, agar antara warga yang berbeda tidak bertindak sendiri, menjauhkan anarki. Dengan kata lain, negara atau pemerintah, harus membiarkan proses pasar.

Dewi adalah produk pasar dan harus dilawan di pasar. Jika sebagian warga takut goyangan Dewi merusak moral, lawanlah hal itu dengan membuat dan memasuki pasar dengan produk yang berbeda. Juallah Dewi yang berbeda, yang tidak merusak sendi moral dan agama, Dewi dangdut yang tidak bergoyang erotis di panggungnya. Penganjur moral harus mulai dewasa untuk tidak melakukan larangan atau kecaman saja, melainkan membuat dan memasarkan produk yang memenuhi tuntunan moralitasnya. Biarkan pasar yang mengujinya.

Kini saatnya untuk belajar dari Ayat-ayat Cinta, bahwa kebaikan, bahkan "film khotbah" pun memiliki pasar jika dikemas dan dimanajemen secara benar. Bahwa pasar bukan saja menerima hantu, pocong atau perselingkuhan, tapi juga "malaikat" dalam bentuk Fahri, dan cinta dalam wajah poligami. Dan Dewi, bukankah tidak sendiri? Telah ada Ustad Jeffry yang berdangdut dalam barzanzi, melayani, melawan "pasar" Dewi. Dan itulah perlawanan terhormat dalam era liberalisasi.



[Artikel ini telah dimuat di Harian Suara Merdeka, Minggu 27 April 2008]


( t.i.l.i.k ! )

     

Friday, April 18, 2008

Pengkhianatan Indonesian Idol
atawa Kemenangan Air Mata Melawan Suara


Seperti Muhaimin Iskandar, juara "Indonesian Idol" pun, seharusnya, hanya dapat dijatuhkan dalam "muktamar".


"I belive you can fool," kata Indra Lesmana kepada salah seorang peserta ketika memimpin audisi di Salatiga, sebagaimana tayang di RCTI, Jumat (11/4). Peserta itu memang "menyedihkan", bernyanyi seperti ikan yang kehabisan oksigen, mangap-mangap tanpa suara. Dan ketika suaranya keluar, bernyanyi "i belive i can fly", penonton pasti tertawa, dan kemudian iba. Peserta ini barangkali adalah contoh orang yang tidak menyadari keterbatasan bakatnya. Ia hanya mencoba, siapa tahu nasib baik memihaknya. Cap tolol, terlalu kejam diterakan untuknya.

Peserta yang tak menyadari kualitas vokalnya bukan hanya tampil dari Salatiga. Di Brebes, Surabaya, Medan, dan Jakarta, peserta semacam itu selalu ada. Dan komentar pedas, menyakitkan, bahkan kadang bernada penghinaan, acap lahir dari bibir para juri. Anang Hermansyah terutama, yang paling kesulitan menemukan diksi untuk menghaluskan ucapannya. Tak heran, dia acap menjadi sasaran ketidakpuasan peserta, yang merasa terhina dengan penolakannya. Ekspresi ketidakpuasan pada Anang --tentu dengan alasan komersial-- bahkan ditunjukkan, mungkin diarahkan oleh pengarah acara, berupa cacimaki, menghancurkan properti, sampai menantang adu nyali di panggung nyanyi. Anang, tampaknya, ingin dicitrakan sebagai Simon Cowell, juri paling "tanpa basa-basi" "American Idol".

"Indonesian Idol" adalah acara reality show pencarian bakat untuk kualitas suara. Namun, memasuki tahun kelima ini, kian terasa penyimpangan dari tujuan semula. Kualitas suara tak lagi menjadi modus utama, terkalahkan oleh hal-hal lain, yang tujuannya cuma untuk meningkatkan aspek komersialitas acara. Jadi, kemungkinannya, penyimpangan itu memang disengaja.


Juri Cengeng

Indra Lesmana terdiam, menatap tanpa kedip pada peserta di depannya. Melalui kamera, matanya yang mulai berkaca-kaca, dan raut muka yang ikut menahan kesedihan. Di panggung berdiri peserta dari Palembang, yang berkisah dengan tangis. Ibunya saat ini di bui, terpenjara karena tertangkap membawa narkoba di diskotik. Ayahnya telah lama pergi entah ke mana, menelantarkan keluarganya. "Saya ingin ibu bangga pada saya, bahwa saya bisa, bisa membahagiakannya," isak peserta itu.

Kamera lalu menyanyikan semuanya, wajah tua dan kuyu, yang terhalang teralis, tengah mengisak-tangis. Di bui sempit itu, dia salat, bermunajat, untuk anaknya. Kamera berakhir dengan pelukan si ibu mengantarkan anaknya ke Jakarta.
Tentu, peserta itu lolos ke Jakarta, bertarung di babak berikutnya. Komentar semua juri menyenangkannya. Bahkan, "telinga saya tuli jika tidak dapat mendengarkan keindahan suaramu," puji Anang. Terpenjara pada kisah sedih itu, Anang ternyata menemukan "diksi" yang lumayan untuk mengungkapkan penilaiannya.

Di Brebes lahir kisah yang sama. Peserta yang belum apa-apa sudah menumpahkan airmata, dan berkisah tentang keluarganya. Kakaknya terpaksa masuk penjara karena tak kuat menghadapi kemiskinan keluarganya, jadi copet. Dan dia ikut acara itu demi membuktikan bahwa ada cara terhormat untuk lepas dari kemiskinan.

Di Surabaya, seorang peserta tak dapat bernyanyi karena desakan emosinya keluar demikian tiba-tiba. Dia, kata Melly Goeslaw, lebih seperti "curhat" daripada bernyanyi. Ternyata, lagu yang dia lantunkan adalah ungkapan dari kondisi yang dia alami. Berkali-kali, tangisnya saja yang tumpah. Sampai Titi DJ mendatanginya, memeluknya, dan memintanya untuk menenangkan diri, sebelum bernyanyi lagi. Peserta cantik itu sepertinya korban lelaki, dan kini sendiri, mengasuh bayi benih cintanya.

Di kota lain, kisah semacam ini terus saja tersaji. Dan juri, entah kenapa, selalu terbawa pada suasana. Indra jadi tampak cengeng di depan kisah semacam ini. Matanya selalu berkaca-kaca, dan kehilangan suara. Titi DJ pun sama, Anang juga. Mereka seperti terpesona, tersihir, tapi bukan pada suara. Dan biasanya, peserta dengan kisah semacam ini, selalu sampai ke Jakarta.

Apa yang terjadi sesungguhnya? Di tahun pertama, Indonesian Idol punya Delon. Tampan dan memiliki kesedihan yang sama, muncul dari keluarga tak berpunya. Tapi penonton ingat, rasa iba juri tak terlalu tampak menyengat. Mutia Kasim, juri saat itu, bahkan selalu menjatuhkan Delon, sebagai peserta yang hanya menjual tampang, tanpa kualitas suara. Di beberapa babak akhir, juri bahkan seakan bersepakat untuk tidak menjadikan Delon sebagai juara, dengan komentar dan mimik yang sangat menyangsikan Delon.

Tapi, sikap ini berubah di tahun ketiga, ketika mereka menemukan Ihsan. Lelaki satu ini menyita perhatian yang luar biasa bukan karena kemampuan vokalnya melainkan kisah keluarganya. Titi DJ bahkan ke mal hanya untuk membelikannya busana yang lebih pantas untuk tampil di pentas. Kisah keluarganya, terutama episode ibu Ihkan yang terpaksa menjual cincin kawin sebagai biaya dia ke Jakarta, menghipnosa juri dan penonton. Dan selanjutnya, jalan lempang tersdia untuk Ihsan. Sepanjang ajang, tak ada komentar pedas untuknya. Jika pun penampilannya buruk, diksi yang memaklumi selalu lahir dari bibir para juri. Ihsan akhirnya menang.

Di ajang keempat ada Sarah, single parent, cantik, dengan kisah yang membuat Titi pun acap terdiam. Pujian selalu lahir untuk penampilan "lady rocker" ini, meski penonton mencukupkannya di lima besar. Penonton, barangkali, mulai menyadari, juri tak bisa jadi acuan lagi. Kemenangan Ihsan karena kisah hidupnya, membuat penonton mulai tahu bagaimana memandang itu acara.


Suara Muktamar

Tapi, pengkhianatan terbesar "Indonesian Idol" bukan pada kemenangan airmata melawan suara, melainkan hak penonton yang dikebiri. Dan masalah itu tak pernah jelas sampai kini, menyangkut "Indonesian Idol" pertama.

Di tahun pertama itu, penonton tahu juri begitu takut jika Delon, yang "hanya menjual tampang" jadi jawara. Maka seluruh komentar seperti berusaha menjatuhkannya. Kesinisan yang memancing iba, dan membuat penonton terus mendukungnya, sampai final. Delon memang tidak juara, dan juri tersenyum puas karenanya. Joy Tobing, yang memang bersuara luar biasa, meraih posisi pertama. Penonton memilihnya karena kualitas yang teruji, dan mendudukkan Delon pada posisi yang tak pantas jadi hinaan lagi.

Tapi, di mana Joy kini?

Ketika mencari wakil "Asian Idol", juara pertama "Indonesian Idol I" diakukan pada Delon, bukan Joy. Nama Joy bahkan tak pernah lagi disebutkan dalam penyelenggaraan acara ini, seperti dihindari, dilupakan. Apa yang terjadi?
Joy memang bersiteru dengan Fremantlemedia, pihak yang punya lisensi menyelenggarakan acara ini di Indonesia. Pokok perseteruannya sederhana, sebelum jadi jawara, Joy ternyata sudah punya kaset dengan label lain. Padahal, sebagai jawara, hanya BMG dan Fremantlemedia yang berhak menentukan kaset dan lagunya. Joy merasa dia tak melakukan kesalahan, karena semua yang dia lakukan sebelum ada kontrak. Tapi Frementlemedia kukuh, dan kemudian "membuang" Joy.
Masalahnya, apa hak Fremantlemedia membuang gelar Joy? Apa pun "kesalahan" Joy, Freemantlemedia tidak punya hak mencopot gelarnya karena posisi itu bukan mereka yang mendudukkannya. Joy menang melalui sebuah "pesta" langsung yang dipilih penonton. Dan seharunya, penonton juga yang berhak menjatuhkan atau membatalkan posisinya. Joy ibaratnya adalah Muhaimin Iskandar, yang hanya bisa dipecat atau mundur, atas persetujuan muktamar. Tapi, sampai kini, pernahkan penonton dilibatkan dalam persoalan Joy? Freemantlemedia, dan juga RCTI menganggap penonton tidak ada, dan jutaan SMS yang mendudukkan Joy sebagai jawara, yang juga merupakan sumber utama pendapatan Freemantlemedia, sebagai sampah belaka. Betapa naifnya.

"Indonesian Idol" seperti acara reality show lainnya memang tak pernah menunjukkan realitas yang sebenarnya. Selalu ada pengaburan, penghiperbolaan, untuk memberikan efek kejut bagi penonton. Penonton, tanpa sadar, adalah kawanan yang diarahkan, dipaksa, untuk menjatuhkan pilihan pada sosok yang menurut penyelenggara dapat diterima pasar. Namun, apa pun alasannya, ketika penonton sudah memilih, penyelenggara harus menghormatinya. Cukup Joy saja yang menjadi korban, cukup Ihsan saja yang dimenangkan karena airmata. Karena Freemantlemedia bukanlah dewan syura yang dapat membekukan atau melakukan apa saja....


[Artikel ini telah dimuat di Harian Suara Merdeka, Minggu 20 April 2008]

( t.i.l.i.k ! )

     

Thursday, April 10, 2008

Artis dan Diksi yang tak Bunyi

Dalam banyak acara non-gosip, para artis seperti keledai tersasar ke kota.

Putri Patricia tergelak. Sesekali dia mengangguk, tersenyum, atau menggeleng. Tangannya acap bergerak menurunkan tepi roknya yang kadang gagal menutupi lutut bersihnya, atau merapikan rambutnya. Matanya fokus mengikuti percakapan HS Dillon dan Wimar Witoelar yang duduk di depannya.

Di acara "Perspektif Wimar" yang tayang di Antv, Rabu pagi (9/4) itu, Putri pasti merasa sepi. Ia berada dalam lalu-lalang pertanyaan dan jawaban antara Wimar dan HS Dillon, tapi tak terlibat di dalamnya. Di beberapa menit terakhir, Wimar bahkan memborong semua pertanyaan, terkekeh-kekeh sendiri. Putri tak dia libatkan. Kamera pun bahkan menjauhi Putri, bergerak fokus untuk Wimar dan HS Dillon. Kehadiran Putri diingkari. Padahal, di acara itu, dia menjadi calon co-host, orang kedua setelah Wimar, yang bertugas mengulik, mendebat, bertanya, atau sekadar bergumam, untuk memancing reaksi atau tanggapan dari narasumber atas masalah yang mereka angkat. Rabu pagi itu, Putri pasti menggumam, betapa jauhnya dia dari tema yang Wimar dan HS Dillon bicarakan.

Putri tidak sendiri. Meski tidak terlalu "sunyi", Refalina S Temat pun tak banyak berbuat ketika menjadi calon co-host Wimar. Ia cuma menyumbang sepatah-dua kata, bagi kegesitan Wimar yang mengorek "perspektif" Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari. Untunglah, posisi duduk calon co-host yang menyampingi kamera dapat "menyembunyikan" kehadiran mereka, sehingga penonton tak merasa terlalu terganggu. Apalagi, kehadiran mereka ternyata "cuma" untuk mendekatkan acara itu pada khalayak yang lebih muda, seperti tertera di situs Wimar.


Saling Bertentangan

Kehadiran Putri Patriacia, Revalina S Temat, dan juga Wulan Guritno menjadi calon co-host dalam acara itu kian menegaskan posisi artis dalam permasalahan sosial negeri ini. Mereka tidak terlibat, dan jika pun dilibatkan, mereka sulit masuk. Memang harus diakui, posisi Wimar dan kecerdasannya melemparkan pertanyaan menjadi dilema sendiri bagi calon co-host-nya. Wimar tak menyisakan peluang atau jatah bagi mereka, karena "celetukan" yang ringan dan kecil pun, mungkin secara otomatis, terus keluar dari Wimar. Calon co-host kalah cepat, dan harus "mengejar" sebelum Wimar.

Terlepas dari acara "Perspektif", kalangan artis memang kesulitan mengungkapkan masalah yang berada di luar diri mereka. Ketika memasuki ranah yang bukan gosip, mereka acap kehilangan kata-kata. Kalaupun mampu mengungkapkan pendapat atau sanggahan, opini mereka terasa aneh, mengangkasa, dan tak sadar, saling bertentangan.

Dengar sergahan Dewi Persik ini, "Saya cuma takut pada Allah. Kalau Allah yang melarang, baru saya patuh. Bukan walikota atau yang lainnya...." Dewi dilarang untuk bergoyang di Tangerang, dan dia meradang. Dewi mengecam larangan itu, seperti yang berkali-kali tayang di infotainmen. Sanggahan Dewi, sekilas memang benar, "hanya Allah yang dia takuti." Tapi, argumentasi ini bukankah justru melawan dirinya sendiri, dan bukan membantu. Karena jika sungguh Dewi takut pada Allah, tentulah dia tak akan bergoyang aurat begitu. Bukankah bergoyang syahwat itu memang larangan dalam agama mana pun?

Artikulasi yang tak berbunyi semacam itu secara kentara juga tampil di "Silat Lidah" Anteve. Opini-opini yang terlontar dari Julia Perez, Aline, atau Djenar Maesa Ayu, lebih mengejar efek bombasme, kejutan, meski tanpa isi. Akibatnya, masalah yang serius hanya jadi tunggangan untuk menunjukkan betapa "berani" opini mereka, dan bukan nilai kemasukakalannya. Nalar seakan ditinggalkan.

Artikulasi semacam itu pun menjangkiti acara-acara reality show pencarian bakat. Para juri kerap menilai dengan opini yang membuat peserta mengerutkan kening, karena kesulitan menangkap esensi penilaian itu. Bahkan ketika memuji pun, kosa kata mereka berkelindan hanya dari itu ke itu. Juri "Indonesian Idol" beberapa tahun ini memberikan diksi, pilihan kata, yang nyaris sama. Artikulasi yang tak diperbaharui. Indra Lesmana, Titi DJ atau Anang, masih selalu tampak mengulang, tidak memberikan perspektif atau pilihan, apa yang pantas untuk dilakukan peserta di kelak hari. Mereka tidak banyak memberi inspirasi.

Bandingkan misalnya dengan juri "American Idol". Opini, kritik mereka, meskipun keras, tapi punya arah yang jelas. Bahkan jika pun memuji, artikulasi mereka demikian inspiratif, menggugah bukan hanya untuk peserta malainkan juga penonton. "Syukulah, ada beberapa hal yang membuat kamu bukan jadi makhluk khayalan. Kesalahan kecil tadi membuat dirimu tampak lebih manusiawi, lebih pantas berada di sini," kata Paula Abdul, yang terpukau pada kemampuan salah satu peserta. Paula menemukan artikulasi yang tepat dan mengagumkan, bahwa ketidaksempurnaan penampilan membuat seseorang jadi pantas dinilai.


Mekanisme Pasar

Acara talkshow mungkin dapat menunjukkan betapa parahnya artis kita mengartikulasikan pendapatnya. Di "Ceriwis" atau "Dorce Show" acap tampak artis yang kehilangan diksi untuk hal-hal yang sederhana. Ucapan mereka tak meyakinkan, bahkan untuk penjelasan karier mereka. "Saya sih mengalir saja, Bunda...." Ucapan ini menjadi pilihan mayoritas setelah "Semua kita serahkan pada kuasa Tuhan, Bunda..." Diksi semacam itu, entah mengapa, selalu mendapat tepuk tangan membahana. Padahal, ucapan itu tidak memberikan penjelasan apa pun tentang progres diri, rencana dan eksekusi, atau evaluasi. Bandingkan dengan artis yang hadir di "Oprah Winfrey Show". Artikulasi Jennifer Aniston begitu mengguncang, wacana diri dan kareir Julia Robert membuat penonton terhenyak dan takjub. Artis ini menemukan diksi yang luar biasa untuk menjelaskan apa yang dia raih dan dia impikan, bagian yang riang dan sakit, dan apa yang telah dia lakukan untuk orang banyak. Oprah sendiri menjadi bagian dari pertunjukan artikulasi dan diksi yang terpemanai.

Apa sebabnya artis kita acap kehilangan diksi? infotainmen menjawab, pendidikan. Tak heran, jika ada artis yang wisuda atau melanjutkan pendidikan, infotainmen melakukan liputan "mendalam". Dini Aminarti yang lulus S1, juga Andien, tayang nyaris satu minggu. Bahkan Acha yang berkuliah di Malaysia saja, mendapat porsi yang luar biasa. Dian Sastro apalagi, tamat kuliah filsafat, dan magang sebagai asisten dosen, di mata infotainmen, itu peristiwa yang dahsyat. Kadar liputan pun jadi berlipat-lipat. Infotainem barangkali tidak tahu, Judie Foster tamat magna cum laude dari Yale, dan dapat gelar doktor lebih dari dua universitas. Atau Mira Sorvino yang juga meraih magna cum laude dari Harvard, dan liputan atas mereka di sana, malah sunyi senyap.

Ya, bukan pendidikan yang jadi masalah melainkan "mekanisme pasar" yang membuat artis tak punya waktu dan tak perlu untuk terus membekali dirinya. Pasar tak meminta standar tinggi, hanya berorientasi pada wajah dan kontinuitas produksi. Akibatnya, artis hanya bergerak dari dan dalam kamera, dan abai pada hal lainnya. Dan ketika satu "peran" meminta mereka terlibat dalam globalitas persoalan bangsa, hanya senyum dan anggukan yang mereka bisa, tanpa kata-kata. Putri Patricia dan Revalina S Temat sudah menunjukkannya. Wimar Witoelar seharusnya bisa abai, tak memaksakan diri melibatkan mereka, dan tidak membuat penonton sakit mata.



[Artikel ini telah dimuat di Harian Suara Merdeka, Minggu 13 April 2008]

( t.i.l.i.k ! )