<$BlogRSDURL$>
...tera di sesela gegas-gesa
Thursday, August 25, 2005

Pangeran Pewarta Kecemasan

JIKA ada satu sosok yang mampu mengubah ketakutan, nyeri dan sadis, juga pedih, menjadi candu ketagihan, memesona dan menghipnotis, jelas Stephen King orangnya. Puluhan novel "yang mencekam sampai ke mimpi Anda" lahir dari tangannya, dan antrean pembaca tetap saja ada, rela mengeluarkan uang membeli ketakutan tersebut. Kenyataan inilah yang membuat banyak pengamat cerita menjuluki Stephen sebagai raja kegelapan, pengeran kengerian di dekade ini.

Mei tiga tahun lalu, ketika ia meluncurkan Dreamcatcher, banyak yang tak yakin pesona misterinya masih menakjubkan. Tapi, begitu toko-toko buku meminta terus cetak ulang, tak ada lagi kesangsian bagi ahli bahasa ini, novel itu bahkan mencatatkan diri terlaris di New York Times.

Sebelum Dreamcatcher dibincangkan, Stephen sudah menggebrak, meluncurkan novel maya, electronic book, The Plant, di internet, sebagai cerita bersambung, di situs pribadinya. Ia meminta para pembaca yang men-download cerita itu hanya membayar US$ 1 saja. Hasilnya, sampai 6 bulan pertama, ia meraih US$ 463.832, sebuah hasil yang amat fantastis!

Namun, karena menilai karya itu lebih banyak dicuri daripada dibayar, King hanya menampilkannya selama 6 bulan itu, dan menarik dari situsnya. "Masih selalu ada orang yang keberatan membayar satu dolar untuk sebuah petualangan kecil yang amat memesona. Ini mengecewakan," katanya.

Sebelum The Plant, sebenarnya ia telah mencoba menjelajahi internet dengan karya magisnya, Riding the Bullets, dan sukses. Ini sekaligus juga menandai kiprah seorang penulis yang memakai media maya itu sebagai ajang distribusi dan "cetak". Sejak awal ia memang telah yakin, internet adalah masa depan yang dapat memecahkan masalah perbukuan, distribusi dan harga. Melalui dunia maya itu King bertekad memperluas bentangan pengaruh kemisteriusan dan ngeri, yang menjadi spesialisasinya.


Satu Rumah Satu Novel

King lahir di Portland, Maine, Amerika Serikat, 1947. Sejak kecil, ia telah tak lagi mengenal bapaknya, dan bersama kakaknya, David, ia diasuh oleh ibunya, sebagai orang tua tunggal. Sampai usia 1 tahun, ia mengikuti ibunya yang bertugas sebagai perawat di Fort Wayne, Indiana, serta di Stratford, Connecticut, AS. Selanjutnya, sampai dewasa, ia menetap di Maine, karena ibunya kembali ke rumah nenek dan kakeknya yang telah renta dan butuh perawatan.

Setelah kakek-neneknya meninggal, ibunya tetap memilih Maine sebagai tempat tinggal. King malah berangkat ke Durham, dan kemudian ke Lisbon Falls High School sampai tahun 1966, mempelajari tata bahasa.

"Di masa itu kepalaku mulai dipenuhi ledakan-ledakan kecil, sebuah arus cerita," kenangnya.

Memasuki tahun kedua di Universitas Maine, Orono, namanya mulai terkenal, karena aktif menulis di koran kampus, The Maine Campus.

Di kampus ia juga aktif berpolitik dan menjadi anggota senat. Dia juga bersuara keras saat Amerika berperang di Vietnam, menentangnya. "Itu perang yang tidak konstitusional," kecamnya.

Setelah lulus sebagai sarjana muda Bahasa Inggris tahun 1970, ia langsung mengajar di sekolah menengah atas, sebagai honorer. Setahun kemudian ia menikah, padahal pekerjaan sebagai guru tetap tak juga ia dapatkan. Untuk membiayai kehidupan keluarganya, tak ada jalan lain, ia menjadi binatu.

Masa itu dikenang King dengan penuh senyum karena ketika menjadi binatu itulah, saat kesulitan menghadang, ide-ide bepercikan, memijar di kepalanya. Ia pun menulis cerita pendek, semata-mata hanya untuk menambah penghasilan. Dengan malu, juga harap cemas, ia tawarkan cerita-cerita pendek itu ke belbagai majalah, dan kemudian diterbitkan dalam antologi Night Shift. Ini tangga awal perjalanan kariernya, yang King juga tak pernah duga.

Setahun kemudian, ia menjadi guru tetap di sekolah menengah di Hampden Academy, Maine. Sepulang mengajar, King selalu kembali ke kamar kerjanya, menulis sepanjang malam, membuat cerita pendek dan novel. Namun, baru pada tahun 1973, penerbit Doubleday & Co bersepakat menerbitkan novel perdananya, Carrie.

Membaca gaya bercerita yang dia kembangkan, penyunting buku King menganjurkan agar ia secepatnya keluar dari profesinya sebagai pengajar, berkonsentrasi penuh sebagai novelis. Dan King, tanpa ragu, patuh.

Sejak itulah, ia fokus. Tahun berikutnya lahir Second Coming dan Jerussalem's Lot, yang kemudian ia ubah menjadi Salem's Lot. Kedua novel ini ia kerjakan di garasi rumahnya!

Carrie dipublikasikan pada musim gugur 1974, dan ia segera berpindah dari Maine menuju Boulder, Colorado. Mereka tinggal di sini setidaknya satu tahun, dan begitu karyanya The Shinning terbit, ia pun pindah lagi, kembali ke Maine, membeli tanah dan rumah di Lakes Region, bagian barat Maine. Di sini kembali ia melahirkan The Stand dengan latar cerita di Boulder, dan novel mencekam lainnya, Dead Zone. Ia pun pindah rumah lagi.

Tahun berikutnya, 1980, ia melahirkan Firestarter, dan seterusnya untuk setiap tahun, Cujo, The Dark Tower, Cristine, Pet Sematari, The Talisman, IT, The Eyes of the Dragon and Misery (1987). Dan, untuk satu cerita, setidaknya ia akan pindah rumah satu kali. Karena itu, banyak yang mengatakan setiap tempat yang ia singgahi atau ia beli, akan selalu menjadi bagian dari ceritanya. Kegemarannya berpindah bahkan menjadi cerita tersendiri di mata penggemarnya, untuk menebak apa cerita yang akan ia buat dengan latar belakang daerah yang baru ia tinggali.

Kepiawaiannya itu bukan hanya menambah tebal pundi-pundinya, tapi juga melambungkan namanya. Naskahnya pun diminta produser Hollywood untuk difilmkan, dan hebatnya, juga meraih sukses!

Sejumlah novelnya yang diangkat ke layar perak adalah Carrie, The Dead Zone, dan The Shinning. Ia juga menulis skenario dua film, Knightriders dan Creepshow. Novelnya The Body diadaptasikan ke film sebagai Stand By Me. Ia malah menjadi seorang menteri untuk filmnya Pet Sematary, dan berkeliling universitas memberi kuliah proses kreatif dan jalan lahirnya ide.

Sampai kini, terhitung ada 60 novel dan cerita pendek yang telah lahir dari tangannya, dan semua mendapatkan tanggapan yang tak pernah mengecewakan, bahkan kian melambungkan namanya. Tak heran, setidaknya 10 buku pun telah dibuat orang lain untuk memaparkan pribadi, perjalanan karier dan proses kreatif, serta ide-ide dari pangeran kegelapan ini.